“DALEM BALINGKANG” sebagai bukti akulturasi budaya Bali dan Cina.

This post was written by rakaadnyana on April 12, 2019
Posted Under: Tak Berkategori

3.1. Sejarah Pura Dalem Balingkang
Pura Dalem Balingkang berdiri megah pada lahan seluas 15 hektar di wilayah desa pakraman Pinggan, kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli. Untuk menuju Pura Dalem Balingkang, harus turun dari Pura Pucak Penulisan menuju banjar Paketan di desa pakraman Sukawana. Dari banjar Paketan menuruni jalan berliku dengan panorama indah deretan gunung Batur, gunung Abang dan gunung Agung menuju Pura Dalem Balingkang. Pura Pucak Penulisan merupakan hulunya Pura Dalem Balingkang, karena Pura Dalem Balingkang tepat menghadap ke Pura pucak penulisan.
Pura Dalem Balingkang seolah – olah dikelilingi tembok yang terdiri dari bubungan berupa perbukitan yang melingkari kawah gunung Batur terletak di timur, barat, utara dan selatan. Disamping itu juga dikelilingi oleh sungai melilit yang merupakan sumber mata air bagi masyarakat sekitarnya. Pura Dalem Balingkang terletak di sebelah barat kurang lebih 2,5 kilometer dari pemukiman atau perumahan masyaraka desa pekraman Pinggan. Sejarah Pura Dalem Balingkang akan dibahas melalui berbagai sudut pandang, diantaranya:

  1. Purana Pura Dalem Balingkang (2009).
    Purana Pura Dalem Balingkang menyebutkan bahwa maharaja Sri Haji Jayapangus Beristana di Gunung Panarajon. Pada masa pemerintahannya maharaja Sri Haji Jayapangus yang didampingi oleh Permaisuri beliau yang bergelar Sri Prameswari Induja Ketana. Beliau disebut sebagai putri utama yang sangat baik dan Bijak.Beliau berasal dari danau Batur yang merupakan keturunan Bali mula atau Bali asli. Pada masa pemerintahan waktu itu yang menjabat sebagai senapati kuturan adalah Mpu nirjamna. beliau mempunyai dua penasehat yang bergelar Mpu Siwa Gandhu dan Mpu Lim. Mpu Lim mempunyai dayang berwajah cantik bernama Kang Cing We, putri dari I Subandar yang memperistri jangir yaitu wanita Bali. Setelah sekian lama Kang Cing We menjadi dayang dari Mpu Lim, ada keinginan dari Sri Haji Jayapangus untuk memperistri Kang Cing We sekaligus diupacarai. Oleh karena demikian keinginan beliau, segeralah Mpu Siwa Gandhu menghadap dan memberikan saran kepada baginda raja. Bawha kehendak baginda rajauntuk memperistri putri dari I Subandar yaitu Kang Cing We tidak tepat, karena baginda raja beragama Hindu, sedangkan Kang Cing We beragama Buddha. Namun, nasehat sang Dwija tidak diindahkan oleh baginda raja. Marahlah baginda raja kepada bhagawantanya. Oleh karena itu, Mpu Siwa Gandhu tidak lagi menjadi penasehat di kerajaan panarajon. Segeralah baginda raja melakukan pernikahan, yang disaksikan oleh para rohaniawan dari agama Hindu maupun agama Buddha, para pejabat seperti sang Pamegat, para pejabat desa dan para karaman. Setelah beberapa lama upacara pernikahan berlalu, I Subandar mempersembahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong untuk bekal putrinya mengabdi kepada baginda raja. Selanjutnya dikemudian hari agar baginda raja menganugerahkan dua keping uang kepeng tersebut kepada rakyat beliau yang ada diseluruh Bali. yang digunakan sebagai persembahan atau sarana upacara yadnya.
    Bedasarkan kesepakatan antara Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We tersebut, marahlah Mpu Siwa Gandhu terhadap sikap baginda raja. Beliau melaksanakan tapa brata memohon anugerah kepada dewa agar terjadi angin rebut dan hujan lebat selama satu bulan tujuh hari. Karena memang benar – benar khusuk melakukan tapa brata, maka angin rebut disertai hujan lebatpun benar – benar terjadi. Alhasil, keraton kerajaan panarajon musnah seketika. Sri Haji Jayapangus dengan diiringi sisa – sisa abdi dari kerajaannya, mengungsi ketengah hutan, yakni ke wilayah desa Jong Les. Disana beliau dengan cepat merebas semak belukar dan hutan lebat, juga dilengkapi dengan upacara dan upakara yadnya. Bangunan suci kerajaan baginda raja sekarang bernama Pura Dalem Balingkang. Kata “Dalem” diambil dari kata tempat tersebut yang disebut Kuta Dalem Jong Les. Adapun kata “Balingkang” yang diambil dari kata “Bali”, yaitu baginda raja sebagai penguasa jagat Bali Dwipa, sedangkan kata “Kang” sebenarnya diambil dari nama istri dari Sri Haji Jayapangus yaitu Kang Cing We. Ada lagi disebutkan, pada saat baginda raja mengungsi dari panarajon ke tengah hutan yang disebut Kuta Dalem, disana beliau berhasil memusatkan pikirannya sampai pikiran yang paling dalam atau daleming cita memuja ida sang hyang widhi wasa. Beliau berhsil membangun keraton dan tempat suci di Kuta Dalem. Setelah beliau memerintah di Balingkang kembali sejahteralah seluruh kerajaan Bali Dwipa. Lebih lagi saat didampingi oleh kedua permaisuri beliau yang selalu duduk di kiri dan kanan dari singgasana baginda raja. Adapun yang mendampingi atau mengabih dari kanan yakni yang bergelar Sri Prameswari Induja Ketana, sedangkan disebelah kiri didampingi oleh permaisuri bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We. Serta pejabat –pejabat keraton dan para abdi atau Rakyat beliau seluruhnya.
  2. Bedasarkan mitos dari masyarakat sekitar Dalem Balingkang.
    Bedasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang, diceritakan bahwa pada jaman dahulu ada seorang raja yang bernama Sri Jayapangus. Beliau beristana di bukit Panarajon, serta keraton beliau di Kuta Dalem. Mulanya saat beliau memerintah di Panarajon beliau mempunyai seorang permaisuri bernama Dewi mandul atau seorang permaisuri yag tidak bisa melahirkan. Sri Jayapangus berkeinginan mempunyai seorang putra untuk meneruskan tahta atau kedudukannya di Panarajon. Namun, keinginan beliau tidak terkabul karena permaisuri tidak bisa melahirkan seorang putra. Suatu ketika beliau berjalan – jalan di pasar Kuta Dalem, beliau bertemu seorang wanita berwajah cantik yang merupakan putri dari saudagar Cina. Karena melihat kecantikan putri tersebut, maka ada keinginan beliau untuk mengawininya secara diam – diam tanpa melaksanakan suatu upacara yang disaksikan oleh pejabat kerajaan, maupun tanpa sepengetahuan permaisuri bernama Dewi Mandul tersebut.
    Perkawinan antara Sri Jayapangus dengan Putro Cina tersebut ternyata diketahui oleh Bhatara Siwa. Akhirnya Bhatara Siwa mengusir Sri Jayapangus dari tanah Panarajon karena kesalahan yang dilakukannya yaitu melakukan perkawinn tanpa melaksanakan upacara, yang dimana tindakan tersebut tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang raja. Sri Jayapangus yang diiringi oleh dua permaisurinya menuruni bukit Panarajon, menelusuri hutan menuju kearah timur laut pada saat hujan deras yang disertai angin putting beliung. Beliau tanpa mengenal lelah terus melanjutkan perjalanan menuruni perbukitan, dan akhirnya sampai di suatu tempat yang bernama Gunung Lebih. Di sana beliau beristirahat dan melakukan pemujaan terhadap para dewa, memohon petunjuk serta meminta perlindungan-Nya. Ketika melakukan pemujaan, beliau mendapat sabda atau pawisik dari para dewa agar terus melanjutkan perjalanan sampai hujan dan angin reda. Apabila hujan dan angin mulai reda, maka disanalah beliau diperintahkan untuk memasang sebuah tanda dan membangun sebuah Keraton. Pada saat beliau turun dari panarajon dikenal sebagai Kuta Dalem Jong Les.
    Mengingat sabda atau pawisik dari para dewa tersebut, beliau terus melanjutkan perjalanan menuruni bukit panarajon yang diiringi oleh kedua permaisurinya. Akhirnya beliau sampai di suatu tempat yang bernama Dharma Anyar, yaitu tempat pertapaan bagi orang suci baik Mpu, Maha Rsi, atau yang lainnya. Setibanya beliau di Dharma Anyar, hujan dan angin pun mulai reda, pada akhirnya di Dharma Anyar lah beliau membangun sebuah Keraton yang dikenal dengan nama Balingkang. Di sana beliau kembali menata kerajaan seperti di panarajon dahulu. serta didampingi oleh pejabat kerajaan, senapati kuturan dan kedua permaisurinya. Pernikahan Sri Jaya pangus dengan Putri Cina yang disebut – sebut sebagai Dewi Danuh, melahikan seorang putra yang bernama Mayadanawa. Mayadanawa dikenal dengan gelar Dalem Bedahulu yang beristana di Pejeng. Beliau berhasil dikalahkan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Lama – kelamaan bekas keraton Sri Jayapangus di Balingkang dijadikan tempat pemujaan atau tempat suci untuk memuja Sri Jayapangus dan kedua permaisurinya yang telah disucikan melalui upacara yadnya. hingga saat ini tempat suci tersebut dikenal dengan nama Pura Dalem Balingkang.
  3. Bedasarkan Kekawin (geguritan) Barong Landung.
    Keberadaan Pura Dalem Balingkang juga termuat dalam Geguritan Barong Landung yang ditulis oleh I Nyoman Suprapta (dalam tesis Juta Nigrat, 2010), sebagai berikut:
    Diceritakan seorang raja yang tersohor, bijaksana dan banyak menulis prasasti – prasasti yang memuat tentang pelaksanaan upacara keagamaan. Beliau bernama Sri Haji Jayapangus, yang beristana di bukit Panarajon. Dalam pemerintahannya didampingi oleh permaisuri yang bernama Dewi Danu, yaitu putri dari keturunan Bali Mula. Lama – kelamaan datanglah seorang pedagang dari negeri Cina yang bernama Dewi Ayu Subandar bersama seorang putri cantik berkulit putih dan bermata sipit yang dikenal dengan nama Kang Cing We. Kang Cing We kemudian diangkat menjadi pelayan Mpu Lim. Karena Kang Cing We sering berada di keraton dan memiliki wajah yag sangat cantik, terpikatlah hati sang raja untuk memperistrinya. Dengan demikian sang raja mengumumkan kepada penggawa kerajaan dan rakyatnya untuk mempersiapkan upacara perkawinan. Mendengar kabar sedemikian rupa, maka menghadaplah salah satu Bhagawanta raja yakni Mpu Siwa Gandhu. Sang Bhagawanta raja menyarankan sang raja untuk tidak menikahi Kang Cing We, karena raja tidak boleh memiliki permaisuri lebih dari satu, selain itu pula Kang Cing We memiliki keyakinan agama yang berbeda yaitu agama Buddha, sedangkan Sri Haji Jayapangus beragama Siwa atau Hindu. Namun Sang raja tidak mendengarkan nasehat dari Bhagawanta raja tersebut dan tetap bersikukuh untuk tetap melangsungkan pernikahan sehingga terselenggaralah upacara pernikahan tersebut. Karena Bhagawanta merasa bahwa nasehatnya tidak diindahkan, maka marahlah sang bhagawanta dan melakukan tapa brata menciptakan bencana, hujan lebat, gempa dan bencana lainnya hingga hancurlah kerajaan beliau. Dengan hancurnya kerajaan beliau, maka dipindahkanlah kerajaan tersebut ke Jong Les atau Dalem Balingkang.
    Perkawinan dengan Dewi Danu memiliki seorang putra yang bernama Mayadenawa dan diangkat menjadi raja di Bedahulu. Sedangkan Perkawinan dengan Kang Cing We tidak mempunyai keturunan. Karena terlalu lama tidak mempunyai keturunan untuk melanjutkan pemerintahannya di Balingkang dan Dewi Danuh sudah Moksa, maka sang raja meminta ijin kepada Kang Cing we untuk Bertapa di Puncak Gunung Batur, seraya meminta permohonan agar dikaruniai seorang putra.
    Sesampainnya di Puncak gunung, bertemulah sang raja dengan seorang putri yang sangat cantik, sehingga sang raja pun kembali jatuh cinta terhadap wanita tersebut. Karena sang raja terlalu lama tidak mengirim kabar ke kerajaan Balingkang, Kang Cing We pun cemas akan keselamatan sang baginda raja. Lantas disusullah oleh Kang Cing We ke tempat Pertapaan. Sesampainya ke tempat pertapaan, betapa terkejutnya Kang Cing we ketika melihat sang raja sedang berkasih – kasihan dengan seorang wanita cantik. Melihat kejadian itu, maka marahlah Kang Cing We dan memaki – maki wanita tersebut yang tiada lain merupakan penjelmaan dari Dewi Dan untuk menggoda petapaan sang raja. Karna tidak terima dirinya di maki – maki, oleh seorang manusia atau Kang Cing We, maka Dewi tersebut tidak tinggal diam. Dengan secepat kilat dahi-Nya mengeluarkan api dan mengejar Kang Cing We dan membakarnya, sehingga wafatlah Kang Cing We. Dengan kematian Kang Cing We, sang raja pun menjadi sedih dan berduka sehingga tapanya pun disudahi. Karena sang raja sebelumnya mengaku belum mempunyai istri kepada sang Dewi, maka sang Dewi memutuskan sang raja untuk diberi hukuman yang setimpal, dan akhirnya sang raja bernasib sama.
    Atas meninggalnya beliau berdua yaitu Sri Haji Jayapangus dan Kang Cing We, maka rakyatnya pun ikut menyusul ke tempat pertapaan, dan menemukan jasat dari junjunganna yang telah wafat. Rakyat Dalem Balingkang menjadi sedih dan memohon kepada jelmaan Dewi Danu tersebut untuk menghidupkan kembali kedua junjungannya. melihat ketulusan hati rakyat Dalem Balingkang memohon kepada sang Dewi, maka sang Dewi mengabulkan permohonannya, Tetapi dalam bentuk Lingga berupa Barong Landung Lanang – Istri. kemudian sang Dewi memerintahkan rakyat tersebut untuk membawa kedua Lingga tersebut ke Dalem Balingkang dan diberikan anugerah bahwa kedua Lingga tersebut bisa memberikan perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. sehingga dibuatkanlah upacara agama yang turun setiap rahina Redite Umanis Warigadean atau setiap Hari minggu umanis wuku Warigadean dan masih dilaksanakan sebagai upacara piodalan Pura Dalem Balingkang hingga saat ini. Dari berbagai sudut pandang cerita mengenai sejarah Pura Dalem Balingkang menggambarkan bahwa pada masa pemerintahan Sri Haji Jayapangus, sudah terjadi hubungan yang erat antara Siwa dan Buddha. Bahkan kedua tokoh agama dimaksud sudah dijadikan penasehat kerajaan, yaitu Mpu Siwa Gandhu sebagai tokoh ajaran Siwa, dan Mpu Lim sebagai tokoh ajaran Buddha. Hubungan agama juga terlihat dari pernikahan Sri Haji Jayapangus dan Kang Cing We yang pada akhirnya terbentuk dua unsur yang berbeda yaitu Purusa dan Pradana atau Siwa – Buddha.
    Mitologi – mitologi yang berkembang di masyarakat dapat memperkuat sistem kepercayaan bagi umat Hindu – Buddha Bedasarkan pada peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi pada jaman dahulu, seperti halnya seorang raja yang mampu memberikan perlindungan pada rakyatnya. Sehingga setelah beliau wafat lalu disucikan melalui upacara yadnya, serta dipuja atau disungsung oleh pengikutnya yang kemudian beliau disebut Bhatara. Pura Dalem Balingkang adalah tempat bersthananya Ida Bhatara Dalem Balingkang atau Sri Haji Jayapangus, beserta leluhur raja – raja di Panarajon yang pernah berkuasa di Bali. Setelah disucikan dengan Upacara Yadnya, maka Sri Haji Jayapangus disertakan dengan Dewa Surya atau Dewa Siwa oleh para pemuja – Nya.
  4. 2. Struktur Bangunan Pura Dalem Balingkang.
    Struktur Pura Dalem Balingkang termasuk unik, karena konon dijadikan istana raja yang menghindari serangan raja lainnya. Dalam beberapa pustaka ada disebut, Pura Dalem Balingkang sebagai istana Raja Maya Denawa. Raja ini dikalahkan oleh Bhatara indra di Tampaksiring.
    Dalam struktur Pura Dalem Balingkang, di awal adalah kompleks Pura Tanggun Titi (ujung Jembatan) dan ada sumber mata air. Di sumber air ini kerbau disucikan sebelum mepepada. Di klompleks Pura Tanggun Titi ada pemujaan Ratu Ngurah Sakti Tanggun Titi, Ratu Mas Melanting, Ratu Sakti Gede Penyarikan dan Sang Hyang Haji Saraswati. Kompleks kedua setelah melewati tanah lapang yang dulu difungsikan membangun tempat penginapan, ada bangunan Cangapit, yakni pintu masuk yang dilengkapi dempat duduk raja saat menyaksikan jro gede mepada mengelilingi pura.
    Di jaba tengah, tak banyak bangunan, hanya ada paruman agung, stana Ida Bhatara Sami, serta palinggih Ratu Ayu mas Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Cing We dan amat diyakini oleh masyarakat Cina membawa Berkah. Di kompleks utama atau Jeroan, dibangun pemujaan Puri Agung Petak dengan meru 11 dan meru 9. Juga dibangun pemujaan Dalem Balingkang dengan Gedong Bata dan meru 7 (ini mengingatka pada Sapta Dewata). Ada pula bangunan balai panjang bertiang 24, bertiang 20 dan balai mundar – mundar bertiang 16 (dibagi empat sisi, masing – masing bertiang 4).
  5. 3. Bukti – bukti masuknya Budaya Cina ke Dalem Balingkang.
    Bedasarkan sumber prasasti, dapat memperkuat dugaan bahwa abad ke 9 masehi daerah Kintamani merupakan pusat pemerintahan pada masa Bali kuno. Prasasti tertua dari tahun 882 Masehi menyebutkan nama tempat Bukit Cintamani mmal, uraian di atas dapat memperkuat dugaan bahwa sekitar abad ke 8 – 9 Masehi pusat pemerintahan terletak di sekitar Kintamani atau mungkin di sekitar Pura Dalem Balingkang di desa Pinggan. Dilihat dari kisah Sri Haji Jayapangus di kerajaan Dalem Balingkang, dapat dibuktikan bahwa memang benar adanya pengaruh kebudayaan Cina yang masuk ke Bali dan terjadi proses akulturasi yang dapat dibuktikan dari adanya bukti – bukti peninggalan baik itu kesenian maupun bentuk hasil karya seni rupa dan bangunannya.
    Di Pura Dalem Balingkang terdapat juga pengaruh kebudayaan Cina, beberapa unsur pengaruh kebudayaan Cine di Bali, tampak dalam bberapa hal, yaitu seni tari, karya seni dan bangunan, Serta uang sebagai alat pembayaran pada masa itu. Peninggalan yang muncul akibat Pengaruh kebudayaan Cina adalah sebagai berikut:
  6. Baris Cina.
    Baris Cina merupakan salah satu jenis tari baris yang tergolong asing, jika dibandingkan dengan baris tombak, presi, jojor, panah, dapdap dan berbagai jenis lainnya. Tari baris ini tergolong tarian sakral yang berkaitan dengan upacara keagamaan. Penari – penari Baris Cina membawa senjata pedang, penarinya terdiri dari 9 orang penari, pimpinan penari menunjukkan tipe tarian semacam bela diri Cina yang disebut Unto. Pakaian penari berwarna hitam dan putih serta berbentuk pakaian Cina, baik bentuk bajunya, seluar, penyambungan dan peci. Baris Cina diiringi dengan gamelan Gong Beri, yaitu semacam Gong damun tidak berpencon atau datar.
  7. Barong Landung.
    Barong Landung merupakan cerita tentang perkawinan Raja Bali dengan Putri Cina yang bernama Kang Cing We kemudian disimboliskan kedalam tarian Barong Landung. Barong Landung yang laki – laki berpakaian dan berkulit hitam adalah gambaran dari Raja Bali, sedangkan Barong Landung wanita yang sering disebut Jero Luh menggambarkan Putri Cina yang berkulit putih, berparas Cantik dengan mata sipit.
  8. Uang Kepeng.
    Tersebarnya uang kepeng di Bali diduga bersamaan dengan datangnya pengaruh Cina melalui perdagangan. Bersamaan dengan beredarnya uang kepeng, terbawa ke pulau Bali barang – barang porselin, kain sutra dan lain – lainnya. Akhirnya uang kepeng menjadi terkenal dan merupakan alat pembayaran yang sah pada zaman kerajaan. untuk perkembangan selanjutnya uang kepeng juga difungsikan sebagai sarana upacara. Berdasarkan bukti prasasti kuno diduga pada awal abad ke 9 Masehi, pemakaian uang kepeng sudah terkenal di Bali.
  9. Patra Cina.
    Patra Cina merupakan sebuah karya seni rupa yang muncul akibat pengaruh Cina. Patra Cina sedikit berbeda dengan patra – patra pada umumnya, hal yang membedakan adalah teknik goresan pada kelopak bunga nya, goresan tangkai dan bentuk bunga yang berbeda. Patra Cina kini sering digunakan sebagai ornamen pada bangunan, seperi pada pintu gebyog, jendela atau pada tiang balai.
    Selain Beberapa bukti diatas, adapun salah satu peninggalan yang membuktikan adanya pengaruh budaya Cina di Bali, yang disebut Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar. Menurut kepercayaan dan keyakinan masyarakat setempat, Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar merupakan tempat suci untuk memuja arwah Putri Cina ( Kang Cing We) istri raja Jayapangus. Dilihat dari segi nama dengan adanya sebutan Subandar kemungkinan yang dimaksud adalah Syahbandar.Kata Syahbandar berasal dari bahasa Parsi, yang terdiri dari kata Syah dan Bandar. Syah berarti yang dipertuakan atau raja, sedangkan Bandar berarti pusat perdagangan di pelabuhan yang berhubungan dengan perdagangan di pelabuhan melalui laut, danau dan sungai (Poebatjaraka, 1975: 71).
    Beberapa Pulau di Bali yang memiliki pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar adalah Pura Ulun Danu Batur, Pura Dalem Balingkang, Pura Pucak Penulisan (Kintamani, Bangli), Pura Negara Gambar Anglayang (Kubutambahan, Buleleng), Pura Besakih dan pura Silayukti (Karangasem). Menurut Tradisi, pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar Pada beberapa pura diatas dianggap sebagai symbol laut atau air dalam lintasan perdagangan, sedangkan symbol perdagangan melalui daratan disebut Ratu Ulang Alu demikian pula halnya Ratu Subandar di Pura Dalem Balingkang dianggap sebagai lambang Putri Cina yang Kawin dengan Raja Balingkang sebagai symbol Daratan (Wardha, 1983: 627).
    Lebih lanjut kalau ditelusuri tentang fungsi Syahbandar kiranya ketujuh buah prasasti yang bertipe yumu pakatahu yang telah dicatat oleh Dr. Goris cukup memberi bukti – bukti tentang fungsi Syahbandar yaitu: 1) Membentuk Peraturan, 2) Kekuasaan Mengadili, 3) Polisional dan 4) Administrasi. (Poebatjaraka, 1975: 74).

DAFTAR PUSTAKA
 Atmojo, Sukarto K., 1975. Prasasti Cempaga. Gianyar: Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.
 Kayam, Umar, 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat., Jakarta: Sinar Harapan.
 Ningrat, I nengah Asmara Juta, 2010. Pemujaan Bhatara Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Multikulturalisme). Tesis. Denpasar: IHDN.
 Prof. Dr. Koentjaraningrat, 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: