Sejarah perkembangan desa Sidembunut sebagai desa penyaji seni


Sidembunut adalah desa tua. Ada sedari tahun 833 Saka (911 M). Demikian tertera pada prasasti Kehen A yang dikeluarkan oleh Kerajaan Singamandawa. Isi prasasti itu, pemberian izin pada para bhiksu dan orang-orang di Simpat bunut (sebelum bernama Sidembunut) dibawah pemerintahan Hulukayu dengan Kuil Hyang Api dan Kuil Hyang Tanda. Pada prasasti tersebut juga disebutkan batas kuil tersebut. I Nyoman Singgin Wikarman dalam Bangli Tempo Doeloe (Dalam Kajian Sejarah) (2013, 21-22) menuliskan, ketiga kuil itu mungkin saja ada hubungannya dengan Pura Penataran Sidembunut yang disebut dalam prasasti Hyang Karimana. Sedangkan Hyang Api adalah Pura Kehen dan Hyang Tanda Pura Pucak Bukit Bangli yang disebut sebagai Pura Pucak Bangli.
Kerajaan Singamandawa sendiri adalah Kerajaan Bali Kuno tertua, tercatat sejak 804 Saka. Para ahli sejarah memperkirakan Singa Mandawa kelanjutan Kerajaan Sanjayawasma di Jawa Tengah dan Kerajaan Dinoyo di Jawa Timur.Kerajaan in nampaknya hanya bertahan hingga 888 (966 M) Saka karena didesak dan dikalahkan oleh Kerajaan Warmadewa. Menurut cerita orang-orang tua di Sidembunut,di Masa Kerajaan Singamandawa para penduduk Sidembunut bertugas sebagai Penyedia Seni,seperti seni pertunjukan, patung, rupa, undagi (desain Bangunan) dan ukir-ukiran dari kayu hingga cangkang telur dan gading gajah. Sampai sekarang, jejak kesenian masih kuat di Sidembunut. Masih Banyak warga desa yang termasuk wilayah adminstratif Kelurahan Cempaga ini menggeluti kerajinan seni ukir (cangkang telur, gading, logam, kayu, emas, perak, tembaga,kuningan,dan lainnya), anyam-anyaman , paying tradisional dan lainnya. Dalam senyap publikasi, warga Sidembunut bekerja sebagai pekerja seni.
Dalam sejarah itulah terdapat juga peninggalan berupa prasasti dan arca yag ada kaitannya dengan terbentuknya desa Sidembunut yang kini dikenal sebagai desa Penyedia seni khususnya di daerah Bangli. Berikut ini adalah arca-arca peninggalan sejarah terbentuknya desa Sidembunut yang terletak di beberapa pura di desa Sidembunut.

  1. di Pura Pucak Cemeng Sidembunut
    Pura Pucak Cemeng Sidembunut terletak di atas Bukit Bangli di sebelah timur Pura Pucak Hyang Ukir. Pura ini disungsung oleh Krama desa Sidembunut. Pujawali dilaksanakan pada Anggara Kasih (Anggara Kliwon) limolas Galungan. Di pura ini terdapat dua gedong dan 1 meru gedong. Yang paling barat adalah gedong Ida Betara Pucak Cemeng dan yang di tengah adalah gedong Betara Pucak Sari, sedangkan yang paling timur adalah gedong Betara Pucak Penida.
  2. Pura Jaka Tebel Sidembunut
    Pura ini terletak tepat dibawah Pura Pucak Cemeng. Pura ini juga disungsung oleh krama desa Sidembunut. di Pura ini Terdapat sebuah pohon beringin tua Besar yang terletak di tengah-tengah Pura. pada Saat melaksanakan upacara Pitra yadnya (meperoras), krama desa Sidembunut nunas atau meminta daun beringin tersebut untuk dipakai dalam rangkaian upacara peroras. dari cerita terdahulu, di dalam pohon beringin tersebut terdapat juga sebuah Taru Jaka (pohon jaka atau enau) yang berbatang tebal dan kokoh yang tumbuh di dalam pohon beringin tersebut. dari peristiwa itulah Pura tersebut dikenal dengan nama Pura Jaka Tebel Sidembunut.
  3. Pura Batu Tangkep Sidembunut.
    Pura Batu Tangkep Terletak di timur laut desa Sidembunut, kira-kira empat kilometer dart pusat Kota Bangli. Pura ini Disebut sebagai perampian Pura Penataran Agung Sidembunut. Di pura ini terdapat tiga Pohon beringin tua yang terdapat sebelah timur wilayah penyengker pura. Pujawali di pura ini dilaksanakan pada anggara kasih prangbakat. terdapat arca unik dipura ini. Arca ini berbentuk sebuah patung dengan ukuran kurang lebih sekitar 40 cm dan dibuatkan sebuah linggih berupa Pelinggih diantara Peinggih lainnya. sampai saat ini, sebagian krama desa masih belum bisa menyimpulkan makna simbolis dari arca tersebut. hal itu disebabkan karena krama desa memiliki pandangan yang berbeda terhadap wujud arca tersebut. Ada yang mengatakan bahwa arca tersebut memiliki wujud seperti parasurama (pendeta kuil), serta ada juga yang mengatakan memiliki wujud seperti pendeta agama Buddha (biksu). konon dahulu terdapat batu besar yang seperti tempurung yang tertanam di tanah dibawah wilayah pura tersebut dengan posisi mengurung ( metangkep). Itu sebabnya pura ini dinamakan Pura Batu Tangkep.
  4. Pura Dalem Buncit dan Pegendangan.
    Pura ini terletak di tengah sawah di desa SIdembunut. Pura ini tidak Ditegakkan upacara atau pujawali. Namun pada saat hari-hari tertentu seperti Purnama-Tilem, Kajeng Kliwon, Galungan dan Kuningan, sebagian krama desa Sidembunut khususnya krama desa yang bermata pencaharian sebagai petani di sawah menghaturkan sesajen di pura ini. Pura ini memiliki keunikan diantaranya adalah terdapat pohon kamboja tua yang berusia ratusan tahun. Pohon ini pernah tumbang, namun pohon ini hidup dan tumbuh kembali sampai saat ini. bagi Krama desa yang memelihara ternak bangkung (babi betina) diharapkan untuk menghaturkan sesajen di pura Dalem Buncit setiap hari raya Galungan atau Kuningan dengan tujuan agar mencapai kesuksesan dalam berternak.
    Dari beberapa pura diataslah arca-arca tersebut di linggihkan dan disungsung oleh seluruh masyarakat desa Sidembunut. Dan dari arca tersebut, krama desa Sidembunut mempercayai bahwa desa Sidembunut memiliki kisah yang bersejarah yang erat kaitannya dengan kerajaan Singamandawa menunjuk desa Sidembunut sebagai desa penyaji seni atau desa yang sebagian besar masyarakatnya menggeluti di dalam kebudayaan dan seni, baik itu seni Pertunjukan maupun Seni rupa atau keterampilan. Dan sampai saat ini nama Desa sidembunut masih harum sebagai desa kerajinan dan desa pelestari seni di kalangan masyarakat seluruh daerah Bangli.
    Desa Sidembunut ditunjuk sebagai desa penyaji seni dapat terlihat dari adanya tradisi – tradisi yang dilaksanakan. dari tradisi yang sudah punah dan ada juga tradisi yang masih dilestarikan sampai sekarang. Dan adapun kesenian yang yang disajikan oleh masyarakat sidembunut dari awal terbentuknya desa Sidembunut hingga saat ini. tradisi yang dulu pernah dilaksanakan oleh masyarakat Sidembunut antara lain:
  5. Tradisi Megandu.
    Tradisi Megandu adalah sebuah tradisi yang ada sejak awal terbentuknya desa Sidembunut. Tradisi ini serupa dengan tradisi perang tipat. masyarakat jaman dulu melaksanakan tradisi ini setiap hari Raya pengerupukan atau pada rahina tilem kesanga. Dan tradisi ini dilaksanakan seiring dengan upacara tawur agung kesanga. Masyarakat terlebih dahulu melaksanakan upacara caru atau mecaru di perempatan desa Sidembunut atau catus pata yeng letaknya di jaba pura Puseh Sidembunut. Setelah upacara caru selesai, pada prosesi akhir masyarakat sidembunut mengeluarkan tipat atau ketupat yang disebut ketupat Bagia atau tipat Bagia yang dikeluarkan dari wadah sesajen atau Sokasi yang telah dihaturkan atau di sembahyangkan terlebih dahulu. lalu ketupat tersebut dilemparkan oleh masyarakat Sidembunut kepada semeton sesama masyarakat desa sidembunut.
    Salah satu Masyarakat Sidembunut menjelaskan bahwa tradisi megandu tersebut masih dilaksanakan, namun terjadi perubahan dari prosesi dan pelaksanaanya, dan kini prosesinya lebih sederhana. sehingga tradisi megandu pun hanya dikenal oleh sedikit masyarakat Sidembunut saja.
    Tradisi megandu ini memiliki fungsi sebagai rasa syukur terhadap tuhan atas kelimpahan anugrah yang didapatkan oleh Masyarakat desa tersebut. dan Tipat Bagia tersebut mencerminkan kebahagiaan yang besar. sedangkan prosesi saling lempar ketupat tersebut bertujuan untuk berbagi kebahagiaan kepada seluruh masyarakat Sidembunut. Namun seiring berjalannya waktu tradisi Megandu ini terjadi perubahan. sehingga tradisi megandu pada jaman dahulu jauh berbeda dengan tradisi megandu saat ini. terlihat dari tradisi megandu jaman dulu yang khas dengan adegan saling lempar ketupat, kini masyarakat Sidembunut hanya melemparakan ketupat tersebut ke atas atau ke udara sembari bersorak keras ( mesuryak). oleh karena itu, sebagian besar masyarakat Sidembunut menganggap bahwa tradisi Megandu sudah punah dan tidak dilaksanakan lagi. Namun sebenarnya tradisi ini masih dilaksanakan hanya saja berbeda dengan yang dilaksanakan pada jaman dulu.
  6. Tradisi Mejagongan.
    Tradisi Mejagongan adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan pada saat tali pusar seorang bayi terlepas. Tradisi mejagongan diambil dari kata Mejaga atau mejagengan, yaitu berarti melek atau berjaga atau begadang. Tradisi mejagongan hanya terdapat di beberapa daerah di Bangli, dan salah satu tempat yang melaksanakan tradisi ini hingga sekarang adalah desa Sidembunut. Ketika dalam satu keluarga yang memiliki seorang bayi yang baru lahir dan tali pusarnya sudah terlepas, keluarga tersebut akan melaksanakan tradisi ini. dimana kepala keluarga atau ayah dari bayi tersebut mengundang seluruh rekan dan masyarakat desa setempat untuk berkunjung ke kediaman si bayi untuk megadang atau bergadang.
    Pada tradisi ini tentu juga dilaksanakan suatu upacara atau ritual dimana si bayi sudah di beri nama. Namun pemberian nama tidak boleh sembarangan. nama dari bayi harus sesuai dengan prtiti atau urip kelahiran si bayi. Selain itu nama si bayi harus menyesuaikan dengan inisial atau singkatan yang sesuai. Jika nama yang diberi tidak sesuai, si bayi akan mengalami sakit secara berkesinambungan. Ari – ari atau tali pusar si bayi ditanam dan di sengker atau dipagari dengan kelabang (rajutan dari daun kelapa), lalu diletakan banten khusus atau sesajen dan di sinari dengan sundih, yaitu setangkai kapas dilumuri minyak kelapa lalu dibakar sehingga menyerupai sebuah lilin. Pagar dari daun kelapa yang memagari ari – ari tersebut bertujuan untuk menjaga ari – ari agar tidak ada energi negatif yang mempengaruhi keselamatan si bayi. sebab itulah masyarakat setempat datang ke rumah si bayi dan ikut begadang untuk menjaga keselamatan si bayi.
    Dalam tradisi Mejagongan ini, si bayi yang baru lahir tidak boleh menempati tempat tidur selama satu malam penuh. Oleh karena itu, si bayi harus tetap berada di pangkuan orang tua atau rekan – rekan yang berkunjung kerumah si bayi. Agar masyarakat Sidembunut tetap bisa terjaga pada malam itu, pihak rumah mengadakan sebuah hiburan kecil seperti permainan khas daerah Bali seperti permainan ceki dan domino. Hal ini bertujuan agar masyarakat desa tidak bosan dalam berjaga.
  7. Tradisi Mesayut Tipat.
    Tradisi Mesayut Tipat merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat Sidembunut. Namun tradisi ini juga terdapat pada beberapa daerah di Bangli. Tradisi mesayut diambil dari kata Sesayut atau Sayut, yang berarti natab. Tradisi ini dilaksanakan rutin setiap rahina tilem kaulu.
    Mesayut tipat dilaksanakan dimana dalam satu keluarga melaksanakan natab seperti halnya dengan prosesi bayuh oton atau otonan yang dikenal oleh masyarakat Bali sebagai peringatan hari lahir sesuai dengan perhitungan pawukon dan wewaran kelahirannya. Namun sebelum tradisi ini dilaksanakan, salah satu perwakilan dari keluarga (biasanya diwakili oleh ibu/istri), untuk melaksanakan persembahyangan dulu di pura desa Sidembunut. Persembahyangan tersebut dilakanakan serentak oleh seluruh masyarakat Sidembunut diawali bunyi kentongan atau kulkul sebagai tanda diperkenankannya melakukan persembahyangan di pura desa Sidembunut. persembahyangan tersebut dilaksanakan untuk meminta tirta atau anugerah dan tirta tersebutlah yang akan dipakai dalam tradisi mesayut tipat ini.
    Setelah melaksanakan persembahyangan di Pura desa, masyrakat pun pulang kerumah dan melaksanakan persembahyangan di merajan atau sanggah masing – masing serta diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Setiap anggota keluarga mendapatkan suatu media berupa banten sesayut yang didalamnya berisi: Tipat atau Ketupat, Buah – buahan, Buah Boni, Daging Ayam yang sudah dimasak, Terlur ayam (boleh telur dadar atau telur rebus), kacang, dan camilan kecil atau jajanan. Ketupat yang digunakan pada Banten sesayut ini menggunakan Tipat sirikan yang jumlah tipat sesuai dengan urip kelahiran setiap anggota keluarga. Namun apabila keluarga tidak memahami atau tidak ingat jumlah uripnya, maka jumlah tipat yang digunakan dibulatkan menjadi 9 ketupat.
    Setelah melakukan persembahyangan di merajan, seluruh anggota keluarga mengambil atau ngelungsur banten sesayut masing – masing anggota dan berkumpul dengan duduk secara melingkar di dalam rumah. Pada posisi inilah Tradisi mesayut tipat itu dimulai. seluruh anggota memulai prosesi natab bersama sesuai dengan petunjuk diarahkan oleh kepala keluarga. lalu setiap anggota meminta atau nunas tirta yang diperoleh daripersembahyangan di Pura Desa. sebagai prosesi terakhir dari Tradisi ini, seluruh anggota Keluarga melungsur atau mengambil banten sesayut dan dimakan secara serentak bersama keluarga. Dari prosesi makan bersama keluarga tersebut, tradisi Mesayut Tipat memiliki fungsi sebagai simbol keharmonisan dan kebersamaan suatu keluarga.
  8. Ngejot Punjung.
    Seluruh masyarakat Bali tentu tidak asing lagi dengan Tradisi Ngejot. Tradisi Ngejot merupakan sebuah tradisi yang umum bagi masyarakat Bali yang masih dilestarikan secara turun temurun hingga saat ini. Bahkan dalam melaksanakan yadnya pun terdapat istilah Ngejot. Tradisi Ngejot adalah sebuah tradisi diamana seorang atau sekelompok masyarakat yang sehabis melaksanakan sebuah kegiatan atau karya, atau bahkan kegiatan yang lain, masyarakat tersebut hendak membagikan sebagian rejeki yang didapatkan kepada krama desa setempat atau sanak saudara dan keluarga yang berada diluar desa. Rejeki yang dibagikan dapat dalam bentuk sembako atau dalam bentuk yang lainnya. Hal itu bertujuan Untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama umat beragama atau sesame krama desa setempat.
    Tradisi ngejot punjung disini adalah sebuah tradisi dimana masyarakat desa setempat melaksanakan Ngejot kepada Masyarakat yang baru saja resmi menikah. namun pada upacara pernikahan yang dilaksanakan paling dekat dengan perayaan hari raya Galungan. Banten yang dipergunakan dalam tradisi ngejot punjung adalah sesajen upacara biasa namun dilengkapi dengan tumpeng berbentuk kerucut. Dari adanya tumpeng inilah yang disebut Banten Punjung. Namun ada jenis tradisi ngejot punjung yang khas di desa Sidembunut namun menggunakan banten yang serupa yang dikenal dengan Banten Kumara. Banten kumara adalah banten punjung yang ditujukan kepada kerabat yang baru saja melahirkan seorang anak dimana hari kelahirannya berdekatan dengan perayaan hari raya Galungan. Namun masyarakat yang melaksanakan tradisi ngejot Banten Kumara hanya sebatas keluarga besar atau satu dadia atau klannya.
    Tradisi ngejot punjung ini dilaksanakan pada hari raya Galungan. Dimana masyarakat desa Sidembunut yang seusai melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura di desa setempat, masyarakat desa beramai – ramai melaksanakan ngejot ke rumah orang yang baru menikah. Tradisi ini bertujuan untuk menjaga ikatan antar sesama masyarakat desa dan hingga kini masih tetap dilestarikan oleh seluruh masyarakat Sidembunut.

Selain dilestarikannya tradisi – tradisi tersebut, ada juga kebudayaan berupa kerajinan masyarakat desa Sidembunut yang membuktikan bahwa dulu masyarakat desa Sidembunut ditunjuk sebagai desa penyaji seni. Salah satu kerajinan yang masih di geluti oleh masyarakat desa Sidembunut adalah kerajinan Telur Ukir.
Telur ukir adalah sebuah kerajinan dimana menggunakan media telur yang dipahat atau di ukir dan menjadi sebuah karya seni rupa yang indah. kerajinan Telur ukir sudah ada dari sejak pertama adanya desa Sidembunut. Saat ini hanya ada satu pengerajin telur ukir yang hingga saat ini masih menggeluti seni kerajinan telur ukir ini. Telur yang digunakan dalam kerajinan ini adalah telur Kasuari dan diukir dengan alat khusus yang disebut dengan pemutik. membuat telur ukir ini cenderung sangat sulit, karena membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Oleh karena itu, karya seni telur ukir sangat mahal jika dipasarkan. Dan saat ini telur ukir sudah tersebar dan laris dipasarkan hingga keluar daerah Sidembunut.
Seiring Perkembangan jaman kini Di Daerah Bangli, PemasaranTelur Ukir sudah semakin jarang. dominannya adalah di luar daerah bangli. Namun kini kebanyakan seniman mengkreasikan sebuah telur Kasuari dalam bentuk lukisan namun tak kalah indah dengan Telur Kasuari yang di ukir. Biasanya ornament pada telur ukir tersebut adalah Kisah – kisah pewayangan seperti Ramayana, Mahabharata, atau cerita – cerita tetantrian seperti Tantrikamandaka.
I Nengah Padet merupakan salah satu contoh pria lanjut usia ang tetap kreatif di usia senja. Meski sudah terhitung renta, Padet tidak mau hanya berdiam diri dalam mengisi hari tuanya. Di rumah sekaligus bengkel kerjanya di desa Sidembunut, setiap harinya Padet berkutat dengan aktivitas mengukir telur. Dengan alat pahat khusus untuk telur, Nengah Padet tampak serius menggarap seni Telur Ukir. Telur yang diukir Padet bukan sembarang telur, tapi telur burung kasuari atau burung unta yang berukuran lebih besar dari telur ayam atau bebek. Telur – telur ini dibeli dari pemasok telur kasuari atau unta seharga Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per butirnya. Tak jarang, Padet mendapatkan telur langsung dar pemesan telur ukir yang datang kerumahnya.

Untuk menyelesaikan satu ukiran telur burung Kasuari atau burun Unta bertema pewayangan, Padet membutuhkan waktu hingga 2 bulan. Waktu pengerjaan telur ukir ini relative lama karena butuh kesabaran dan ketelitian yang tinggi. Nengah Padet mulai menekuni seni ukir sejak zaman penjajahan jepang. Awalnya ia belajar mengukir dengan menggunakan tempurung kelapa. Satu telur ukir karya Nengah Padet dijual antara Rp 3,5 hingga Rp 10 juta Rupiah. Harga jual ini berbeda – beda tergantung tingkat kesulitan ukuran dan juga pembeliannya. Sudah berbagai penghargaan yang diraih Padet, salah satunya penghargaan dari Gubernur Bali sebagai salah satu seniman tua yang berjasa bagi dunia seni Bali. Di usia senjanya, Padet boleh berbangga karena karyanya sudah dikoleksi para pecinta seni baik dari dalam maupun luar negeri.
Dan saat ini, desa Sidembunut masih harum dikenal. Baik melalui budaya, sejarah, tradisi, religi, dan kerajinan. sehingga desa Sidembunut mampu mengharumpkan dunia kesenian Bali hingga ke luar daerah.

PENUTUP
Kesimpulan
Dari ulasan mengenai sejarah terbentuknya desa Sidembunut Bangli, tentu dapat disimpulkan bahwa terbentuknya suatu daerah tentunya terdapat sejarah atau latar belakang dibaliknya. Mulai dari terdapatnya peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada kaitannya dengan daerah yang dimaksud. Dan peninggalan tersebut dapat berbentuk arca, prasasti, atau peninggalan-peninggalan lainnya yang dapat membuktikan bahwa memang betul ada kehidupan bersejarah yang masih di lestarikan dan di dokumentasikan kisahnya. Ada juga dokumen atau arsip berupa buku babad yang ditulis oleh tokoh masyarakat di daerah tersebut dengan tujuan agar masyarakat bisa mengetahui dan mempelajari sejarah yang ada di daerahnya.
Seperti halnya di desa Sidembunut, seorang tokoh masyarakat Sidembunut menuliskan terbentuknya desa Sidembunut melalui dokumen tertulis dengan tujuan agar masyarakat Sidembunut betul-betul memahami sejarah terbentuknya desa Sidembunut yang terkuak pada kisah kerajaan Singamandawa pada ratusan tahun yang lalu. Dengan melestarikan atau menyungsung peninggalan-peninggalan yang terdapat di beberapa pura di desa Sidembunut, serta bertujuan agar sejarah kebudayaan yang ada di sidembunut tetap harum di kalangan masyarkat Bangli khususnya Desa Sidembunut.

DAFTAR INFORMAN

  1. Nama : I Nyoman Tirtayasa, S.sn
    Pekerjaan : Jro Mangku Setempat
    Alamat : Lingk. Br. Sidembunut, Cempaga, Bangli
  2. Nama : I Nyoman Budiasa
    Pekerjaan : Wiraswasta
    Alamat : Lingk. Br. Sidembunut, Cempaga, Bangli

DAFTAR PUSTAKA
http://mytkjsmkn1bangli.blogspot.com/2015/10/kata-pengantar-puji-syukur-saya.html?m=1
https://www.scibd.com/doc/162401164/Kerajaan-Singhamandawa

“DALEM BALINGKANG” sebagai bukti akulturasi budaya Bali dan Cina.

3.1. Sejarah Pura Dalem Balingkang
Pura Dalem Balingkang berdiri megah pada lahan seluas 15 hektar di wilayah desa pakraman Pinggan, kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli. Untuk menuju Pura Dalem Balingkang, harus turun dari Pura Pucak Penulisan menuju banjar Paketan di desa pakraman Sukawana. Dari banjar Paketan menuruni jalan berliku dengan panorama indah deretan gunung Batur, gunung Abang dan gunung Agung menuju Pura Dalem Balingkang. Pura Pucak Penulisan merupakan hulunya Pura Dalem Balingkang, karena Pura Dalem Balingkang tepat menghadap ke Pura pucak penulisan.
Pura Dalem Balingkang seolah – olah dikelilingi tembok yang terdiri dari bubungan berupa perbukitan yang melingkari kawah gunung Batur terletak di timur, barat, utara dan selatan. Disamping itu juga dikelilingi oleh sungai melilit yang merupakan sumber mata air bagi masyarakat sekitarnya. Pura Dalem Balingkang terletak di sebelah barat kurang lebih 2,5 kilometer dari pemukiman atau perumahan masyaraka desa pekraman Pinggan. Sejarah Pura Dalem Balingkang akan dibahas melalui berbagai sudut pandang, diantaranya:

  1. Purana Pura Dalem Balingkang (2009).
    Purana Pura Dalem Balingkang menyebutkan bahwa maharaja Sri Haji Jayapangus Beristana di Gunung Panarajon. Pada masa pemerintahannya maharaja Sri Haji Jayapangus yang didampingi oleh Permaisuri beliau yang bergelar Sri Prameswari Induja Ketana. Beliau disebut sebagai putri utama yang sangat baik dan Bijak.Beliau berasal dari danau Batur yang merupakan keturunan Bali mula atau Bali asli. Pada masa pemerintahan waktu itu yang menjabat sebagai senapati kuturan adalah Mpu nirjamna. beliau mempunyai dua penasehat yang bergelar Mpu Siwa Gandhu dan Mpu Lim. Mpu Lim mempunyai dayang berwajah cantik bernama Kang Cing We, putri dari I Subandar yang memperistri jangir yaitu wanita Bali. Setelah sekian lama Kang Cing We menjadi dayang dari Mpu Lim, ada keinginan dari Sri Haji Jayapangus untuk memperistri Kang Cing We sekaligus diupacarai. Oleh karena demikian keinginan beliau, segeralah Mpu Siwa Gandhu menghadap dan memberikan saran kepada baginda raja. Bawha kehendak baginda rajauntuk memperistri putri dari I Subandar yaitu Kang Cing We tidak tepat, karena baginda raja beragama Hindu, sedangkan Kang Cing We beragama Buddha. Namun, nasehat sang Dwija tidak diindahkan oleh baginda raja. Marahlah baginda raja kepada bhagawantanya. Oleh karena itu, Mpu Siwa Gandhu tidak lagi menjadi penasehat di kerajaan panarajon. Segeralah baginda raja melakukan pernikahan, yang disaksikan oleh para rohaniawan dari agama Hindu maupun agama Buddha, para pejabat seperti sang Pamegat, para pejabat desa dan para karaman. Setelah beberapa lama upacara pernikahan berlalu, I Subandar mempersembahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong untuk bekal putrinya mengabdi kepada baginda raja. Selanjutnya dikemudian hari agar baginda raja menganugerahkan dua keping uang kepeng tersebut kepada rakyat beliau yang ada diseluruh Bali. yang digunakan sebagai persembahan atau sarana upacara yadnya.
    Bedasarkan kesepakatan antara Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We tersebut, marahlah Mpu Siwa Gandhu terhadap sikap baginda raja. Beliau melaksanakan tapa brata memohon anugerah kepada dewa agar terjadi angin rebut dan hujan lebat selama satu bulan tujuh hari. Karena memang benar – benar khusuk melakukan tapa brata, maka angin rebut disertai hujan lebatpun benar – benar terjadi. Alhasil, keraton kerajaan panarajon musnah seketika. Sri Haji Jayapangus dengan diiringi sisa – sisa abdi dari kerajaannya, mengungsi ketengah hutan, yakni ke wilayah desa Jong Les. Disana beliau dengan cepat merebas semak belukar dan hutan lebat, juga dilengkapi dengan upacara dan upakara yadnya. Bangunan suci kerajaan baginda raja sekarang bernama Pura Dalem Balingkang. Kata “Dalem” diambil dari kata tempat tersebut yang disebut Kuta Dalem Jong Les. Adapun kata “Balingkang” yang diambil dari kata “Bali”, yaitu baginda raja sebagai penguasa jagat Bali Dwipa, sedangkan kata “Kang” sebenarnya diambil dari nama istri dari Sri Haji Jayapangus yaitu Kang Cing We. Ada lagi disebutkan, pada saat baginda raja mengungsi dari panarajon ke tengah hutan yang disebut Kuta Dalem, disana beliau berhasil memusatkan pikirannya sampai pikiran yang paling dalam atau daleming cita memuja ida sang hyang widhi wasa. Beliau berhsil membangun keraton dan tempat suci di Kuta Dalem. Setelah beliau memerintah di Balingkang kembali sejahteralah seluruh kerajaan Bali Dwipa. Lebih lagi saat didampingi oleh kedua permaisuri beliau yang selalu duduk di kiri dan kanan dari singgasana baginda raja. Adapun yang mendampingi atau mengabih dari kanan yakni yang bergelar Sri Prameswari Induja Ketana, sedangkan disebelah kiri didampingi oleh permaisuri bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We. Serta pejabat –pejabat keraton dan para abdi atau Rakyat beliau seluruhnya.
  2. Bedasarkan mitos dari masyarakat sekitar Dalem Balingkang.
    Bedasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang, diceritakan bahwa pada jaman dahulu ada seorang raja yang bernama Sri Jayapangus. Beliau beristana di bukit Panarajon, serta keraton beliau di Kuta Dalem. Mulanya saat beliau memerintah di Panarajon beliau mempunyai seorang permaisuri bernama Dewi mandul atau seorang permaisuri yag tidak bisa melahirkan. Sri Jayapangus berkeinginan mempunyai seorang putra untuk meneruskan tahta atau kedudukannya di Panarajon. Namun, keinginan beliau tidak terkabul karena permaisuri tidak bisa melahirkan seorang putra. Suatu ketika beliau berjalan – jalan di pasar Kuta Dalem, beliau bertemu seorang wanita berwajah cantik yang merupakan putri dari saudagar Cina. Karena melihat kecantikan putri tersebut, maka ada keinginan beliau untuk mengawininya secara diam – diam tanpa melaksanakan suatu upacara yang disaksikan oleh pejabat kerajaan, maupun tanpa sepengetahuan permaisuri bernama Dewi Mandul tersebut.
    Perkawinan antara Sri Jayapangus dengan Putro Cina tersebut ternyata diketahui oleh Bhatara Siwa. Akhirnya Bhatara Siwa mengusir Sri Jayapangus dari tanah Panarajon karena kesalahan yang dilakukannya yaitu melakukan perkawinn tanpa melaksanakan upacara, yang dimana tindakan tersebut tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang raja. Sri Jayapangus yang diiringi oleh dua permaisurinya menuruni bukit Panarajon, menelusuri hutan menuju kearah timur laut pada saat hujan deras yang disertai angin putting beliung. Beliau tanpa mengenal lelah terus melanjutkan perjalanan menuruni perbukitan, dan akhirnya sampai di suatu tempat yang bernama Gunung Lebih. Di sana beliau beristirahat dan melakukan pemujaan terhadap para dewa, memohon petunjuk serta meminta perlindungan-Nya. Ketika melakukan pemujaan, beliau mendapat sabda atau pawisik dari para dewa agar terus melanjutkan perjalanan sampai hujan dan angin reda. Apabila hujan dan angin mulai reda, maka disanalah beliau diperintahkan untuk memasang sebuah tanda dan membangun sebuah Keraton. Pada saat beliau turun dari panarajon dikenal sebagai Kuta Dalem Jong Les.
    Mengingat sabda atau pawisik dari para dewa tersebut, beliau terus melanjutkan perjalanan menuruni bukit panarajon yang diiringi oleh kedua permaisurinya. Akhirnya beliau sampai di suatu tempat yang bernama Dharma Anyar, yaitu tempat pertapaan bagi orang suci baik Mpu, Maha Rsi, atau yang lainnya. Setibanya beliau di Dharma Anyar, hujan dan angin pun mulai reda, pada akhirnya di Dharma Anyar lah beliau membangun sebuah Keraton yang dikenal dengan nama Balingkang. Di sana beliau kembali menata kerajaan seperti di panarajon dahulu. serta didampingi oleh pejabat kerajaan, senapati kuturan dan kedua permaisurinya. Pernikahan Sri Jaya pangus dengan Putri Cina yang disebut – sebut sebagai Dewi Danuh, melahikan seorang putra yang bernama Mayadanawa. Mayadanawa dikenal dengan gelar Dalem Bedahulu yang beristana di Pejeng. Beliau berhasil dikalahkan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Lama – kelamaan bekas keraton Sri Jayapangus di Balingkang dijadikan tempat pemujaan atau tempat suci untuk memuja Sri Jayapangus dan kedua permaisurinya yang telah disucikan melalui upacara yadnya. hingga saat ini tempat suci tersebut dikenal dengan nama Pura Dalem Balingkang.
  3. Bedasarkan Kekawin (geguritan) Barong Landung.
    Keberadaan Pura Dalem Balingkang juga termuat dalam Geguritan Barong Landung yang ditulis oleh I Nyoman Suprapta (dalam tesis Juta Nigrat, 2010), sebagai berikut:
    Diceritakan seorang raja yang tersohor, bijaksana dan banyak menulis prasasti – prasasti yang memuat tentang pelaksanaan upacara keagamaan. Beliau bernama Sri Haji Jayapangus, yang beristana di bukit Panarajon. Dalam pemerintahannya didampingi oleh permaisuri yang bernama Dewi Danu, yaitu putri dari keturunan Bali Mula. Lama – kelamaan datanglah seorang pedagang dari negeri Cina yang bernama Dewi Ayu Subandar bersama seorang putri cantik berkulit putih dan bermata sipit yang dikenal dengan nama Kang Cing We. Kang Cing We kemudian diangkat menjadi pelayan Mpu Lim. Karena Kang Cing We sering berada di keraton dan memiliki wajah yag sangat cantik, terpikatlah hati sang raja untuk memperistrinya. Dengan demikian sang raja mengumumkan kepada penggawa kerajaan dan rakyatnya untuk mempersiapkan upacara perkawinan. Mendengar kabar sedemikian rupa, maka menghadaplah salah satu Bhagawanta raja yakni Mpu Siwa Gandhu. Sang Bhagawanta raja menyarankan sang raja untuk tidak menikahi Kang Cing We, karena raja tidak boleh memiliki permaisuri lebih dari satu, selain itu pula Kang Cing We memiliki keyakinan agama yang berbeda yaitu agama Buddha, sedangkan Sri Haji Jayapangus beragama Siwa atau Hindu. Namun Sang raja tidak mendengarkan nasehat dari Bhagawanta raja tersebut dan tetap bersikukuh untuk tetap melangsungkan pernikahan sehingga terselenggaralah upacara pernikahan tersebut. Karena Bhagawanta merasa bahwa nasehatnya tidak diindahkan, maka marahlah sang bhagawanta dan melakukan tapa brata menciptakan bencana, hujan lebat, gempa dan bencana lainnya hingga hancurlah kerajaan beliau. Dengan hancurnya kerajaan beliau, maka dipindahkanlah kerajaan tersebut ke Jong Les atau Dalem Balingkang.
    Perkawinan dengan Dewi Danu memiliki seorang putra yang bernama Mayadenawa dan diangkat menjadi raja di Bedahulu. Sedangkan Perkawinan dengan Kang Cing We tidak mempunyai keturunan. Karena terlalu lama tidak mempunyai keturunan untuk melanjutkan pemerintahannya di Balingkang dan Dewi Danuh sudah Moksa, maka sang raja meminta ijin kepada Kang Cing we untuk Bertapa di Puncak Gunung Batur, seraya meminta permohonan agar dikaruniai seorang putra.
    Sesampainnya di Puncak gunung, bertemulah sang raja dengan seorang putri yang sangat cantik, sehingga sang raja pun kembali jatuh cinta terhadap wanita tersebut. Karena sang raja terlalu lama tidak mengirim kabar ke kerajaan Balingkang, Kang Cing We pun cemas akan keselamatan sang baginda raja. Lantas disusullah oleh Kang Cing We ke tempat Pertapaan. Sesampainya ke tempat pertapaan, betapa terkejutnya Kang Cing we ketika melihat sang raja sedang berkasih – kasihan dengan seorang wanita cantik. Melihat kejadian itu, maka marahlah Kang Cing We dan memaki – maki wanita tersebut yang tiada lain merupakan penjelmaan dari Dewi Dan untuk menggoda petapaan sang raja. Karna tidak terima dirinya di maki – maki, oleh seorang manusia atau Kang Cing We, maka Dewi tersebut tidak tinggal diam. Dengan secepat kilat dahi-Nya mengeluarkan api dan mengejar Kang Cing We dan membakarnya, sehingga wafatlah Kang Cing We. Dengan kematian Kang Cing We, sang raja pun menjadi sedih dan berduka sehingga tapanya pun disudahi. Karena sang raja sebelumnya mengaku belum mempunyai istri kepada sang Dewi, maka sang Dewi memutuskan sang raja untuk diberi hukuman yang setimpal, dan akhirnya sang raja bernasib sama.
    Atas meninggalnya beliau berdua yaitu Sri Haji Jayapangus dan Kang Cing We, maka rakyatnya pun ikut menyusul ke tempat pertapaan, dan menemukan jasat dari junjunganna yang telah wafat. Rakyat Dalem Balingkang menjadi sedih dan memohon kepada jelmaan Dewi Danu tersebut untuk menghidupkan kembali kedua junjungannya. melihat ketulusan hati rakyat Dalem Balingkang memohon kepada sang Dewi, maka sang Dewi mengabulkan permohonannya, Tetapi dalam bentuk Lingga berupa Barong Landung Lanang – Istri. kemudian sang Dewi memerintahkan rakyat tersebut untuk membawa kedua Lingga tersebut ke Dalem Balingkang dan diberikan anugerah bahwa kedua Lingga tersebut bisa memberikan perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. sehingga dibuatkanlah upacara agama yang turun setiap rahina Redite Umanis Warigadean atau setiap Hari minggu umanis wuku Warigadean dan masih dilaksanakan sebagai upacara piodalan Pura Dalem Balingkang hingga saat ini. Dari berbagai sudut pandang cerita mengenai sejarah Pura Dalem Balingkang menggambarkan bahwa pada masa pemerintahan Sri Haji Jayapangus, sudah terjadi hubungan yang erat antara Siwa dan Buddha. Bahkan kedua tokoh agama dimaksud sudah dijadikan penasehat kerajaan, yaitu Mpu Siwa Gandhu sebagai tokoh ajaran Siwa, dan Mpu Lim sebagai tokoh ajaran Buddha. Hubungan agama juga terlihat dari pernikahan Sri Haji Jayapangus dan Kang Cing We yang pada akhirnya terbentuk dua unsur yang berbeda yaitu Purusa dan Pradana atau Siwa – Buddha.
    Mitologi – mitologi yang berkembang di masyarakat dapat memperkuat sistem kepercayaan bagi umat Hindu – Buddha Bedasarkan pada peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi pada jaman dahulu, seperti halnya seorang raja yang mampu memberikan perlindungan pada rakyatnya. Sehingga setelah beliau wafat lalu disucikan melalui upacara yadnya, serta dipuja atau disungsung oleh pengikutnya yang kemudian beliau disebut Bhatara. Pura Dalem Balingkang adalah tempat bersthananya Ida Bhatara Dalem Balingkang atau Sri Haji Jayapangus, beserta leluhur raja – raja di Panarajon yang pernah berkuasa di Bali. Setelah disucikan dengan Upacara Yadnya, maka Sri Haji Jayapangus disertakan dengan Dewa Surya atau Dewa Siwa oleh para pemuja – Nya.
  4. 2. Struktur Bangunan Pura Dalem Balingkang.
    Struktur Pura Dalem Balingkang termasuk unik, karena konon dijadikan istana raja yang menghindari serangan raja lainnya. Dalam beberapa pustaka ada disebut, Pura Dalem Balingkang sebagai istana Raja Maya Denawa. Raja ini dikalahkan oleh Bhatara indra di Tampaksiring.
    Dalam struktur Pura Dalem Balingkang, di awal adalah kompleks Pura Tanggun Titi (ujung Jembatan) dan ada sumber mata air. Di sumber air ini kerbau disucikan sebelum mepepada. Di klompleks Pura Tanggun Titi ada pemujaan Ratu Ngurah Sakti Tanggun Titi, Ratu Mas Melanting, Ratu Sakti Gede Penyarikan dan Sang Hyang Haji Saraswati. Kompleks kedua setelah melewati tanah lapang yang dulu difungsikan membangun tempat penginapan, ada bangunan Cangapit, yakni pintu masuk yang dilengkapi dempat duduk raja saat menyaksikan jro gede mepada mengelilingi pura.
    Di jaba tengah, tak banyak bangunan, hanya ada paruman agung, stana Ida Bhatara Sami, serta palinggih Ratu Ayu mas Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Cing We dan amat diyakini oleh masyarakat Cina membawa Berkah. Di kompleks utama atau Jeroan, dibangun pemujaan Puri Agung Petak dengan meru 11 dan meru 9. Juga dibangun pemujaan Dalem Balingkang dengan Gedong Bata dan meru 7 (ini mengingatka pada Sapta Dewata). Ada pula bangunan balai panjang bertiang 24, bertiang 20 dan balai mundar – mundar bertiang 16 (dibagi empat sisi, masing – masing bertiang 4).
  5. 3. Bukti – bukti masuknya Budaya Cina ke Dalem Balingkang.
    Bedasarkan sumber prasasti, dapat memperkuat dugaan bahwa abad ke 9 masehi daerah Kintamani merupakan pusat pemerintahan pada masa Bali kuno. Prasasti tertua dari tahun 882 Masehi menyebutkan nama tempat Bukit Cintamani mmal, uraian di atas dapat memperkuat dugaan bahwa sekitar abad ke 8 – 9 Masehi pusat pemerintahan terletak di sekitar Kintamani atau mungkin di sekitar Pura Dalem Balingkang di desa Pinggan. Dilihat dari kisah Sri Haji Jayapangus di kerajaan Dalem Balingkang, dapat dibuktikan bahwa memang benar adanya pengaruh kebudayaan Cina yang masuk ke Bali dan terjadi proses akulturasi yang dapat dibuktikan dari adanya bukti – bukti peninggalan baik itu kesenian maupun bentuk hasil karya seni rupa dan bangunannya.
    Di Pura Dalem Balingkang terdapat juga pengaruh kebudayaan Cina, beberapa unsur pengaruh kebudayaan Cine di Bali, tampak dalam bberapa hal, yaitu seni tari, karya seni dan bangunan, Serta uang sebagai alat pembayaran pada masa itu. Peninggalan yang muncul akibat Pengaruh kebudayaan Cina adalah sebagai berikut:
  6. Baris Cina.
    Baris Cina merupakan salah satu jenis tari baris yang tergolong asing, jika dibandingkan dengan baris tombak, presi, jojor, panah, dapdap dan berbagai jenis lainnya. Tari baris ini tergolong tarian sakral yang berkaitan dengan upacara keagamaan. Penari – penari Baris Cina membawa senjata pedang, penarinya terdiri dari 9 orang penari, pimpinan penari menunjukkan tipe tarian semacam bela diri Cina yang disebut Unto. Pakaian penari berwarna hitam dan putih serta berbentuk pakaian Cina, baik bentuk bajunya, seluar, penyambungan dan peci. Baris Cina diiringi dengan gamelan Gong Beri, yaitu semacam Gong damun tidak berpencon atau datar.
  7. Barong Landung.
    Barong Landung merupakan cerita tentang perkawinan Raja Bali dengan Putri Cina yang bernama Kang Cing We kemudian disimboliskan kedalam tarian Barong Landung. Barong Landung yang laki – laki berpakaian dan berkulit hitam adalah gambaran dari Raja Bali, sedangkan Barong Landung wanita yang sering disebut Jero Luh menggambarkan Putri Cina yang berkulit putih, berparas Cantik dengan mata sipit.
  8. Uang Kepeng.
    Tersebarnya uang kepeng di Bali diduga bersamaan dengan datangnya pengaruh Cina melalui perdagangan. Bersamaan dengan beredarnya uang kepeng, terbawa ke pulau Bali barang – barang porselin, kain sutra dan lain – lainnya. Akhirnya uang kepeng menjadi terkenal dan merupakan alat pembayaran yang sah pada zaman kerajaan. untuk perkembangan selanjutnya uang kepeng juga difungsikan sebagai sarana upacara. Berdasarkan bukti prasasti kuno diduga pada awal abad ke 9 Masehi, pemakaian uang kepeng sudah terkenal di Bali.
  9. Patra Cina.
    Patra Cina merupakan sebuah karya seni rupa yang muncul akibat pengaruh Cina. Patra Cina sedikit berbeda dengan patra – patra pada umumnya, hal yang membedakan adalah teknik goresan pada kelopak bunga nya, goresan tangkai dan bentuk bunga yang berbeda. Patra Cina kini sering digunakan sebagai ornamen pada bangunan, seperi pada pintu gebyog, jendela atau pada tiang balai.
    Selain Beberapa bukti diatas, adapun salah satu peninggalan yang membuktikan adanya pengaruh budaya Cina di Bali, yang disebut Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar. Menurut kepercayaan dan keyakinan masyarakat setempat, Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar merupakan tempat suci untuk memuja arwah Putri Cina ( Kang Cing We) istri raja Jayapangus. Dilihat dari segi nama dengan adanya sebutan Subandar kemungkinan yang dimaksud adalah Syahbandar.Kata Syahbandar berasal dari bahasa Parsi, yang terdiri dari kata Syah dan Bandar. Syah berarti yang dipertuakan atau raja, sedangkan Bandar berarti pusat perdagangan di pelabuhan yang berhubungan dengan perdagangan di pelabuhan melalui laut, danau dan sungai (Poebatjaraka, 1975: 71).
    Beberapa Pulau di Bali yang memiliki pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar adalah Pura Ulun Danu Batur, Pura Dalem Balingkang, Pura Pucak Penulisan (Kintamani, Bangli), Pura Negara Gambar Anglayang (Kubutambahan, Buleleng), Pura Besakih dan pura Silayukti (Karangasem). Menurut Tradisi, pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar Pada beberapa pura diatas dianggap sebagai symbol laut atau air dalam lintasan perdagangan, sedangkan symbol perdagangan melalui daratan disebut Ratu Ulang Alu demikian pula halnya Ratu Subandar di Pura Dalem Balingkang dianggap sebagai lambang Putri Cina yang Kawin dengan Raja Balingkang sebagai symbol Daratan (Wardha, 1983: 627).
    Lebih lanjut kalau ditelusuri tentang fungsi Syahbandar kiranya ketujuh buah prasasti yang bertipe yumu pakatahu yang telah dicatat oleh Dr. Goris cukup memberi bukti – bukti tentang fungsi Syahbandar yaitu: 1) Membentuk Peraturan, 2) Kekuasaan Mengadili, 3) Polisional dan 4) Administrasi. (Poebatjaraka, 1975: 74).

DAFTAR PUSTAKA
 Atmojo, Sukarto K., 1975. Prasasti Cempaga. Gianyar: Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.
 Kayam, Umar, 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat., Jakarta: Sinar Harapan.
 Ningrat, I nengah Asmara Juta, 2010. Pemujaan Bhatara Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Multikulturalisme). Tesis. Denpasar: IHDN.
 Prof. Dr. Koentjaraningrat, 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!