GAMELAN GEGUNTANGAN

This post was written by raipurnayasa on April 9, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Berbicara masalah perkembangan, perkembangan karawitan Bali saat ini sangat luar biasa. Ini dapat dilihat dari kreativitas yang dilakukan oleh seniman Bali dalam upaya menciptakan, melestarikan dan mengembangkan segala bentuk kesenian Bali maupun yang bergerak di bidang pembuatan gamelan Bali. Melihat perkembangan gamelan Bali saat ini, banyak masyarakat yang menginginkan suatu yang baru yang timbul dari beberapa bentuk ensambel maupun dari repertoar lagu yang disajikan.
Dengan melihat perkembangannya ini, tentu saja membawa pengaruh yang sangat besar dalam karawitan Bali baik secara kuantitas yang meliputi instrumentasi (jumlah barungan/instrumennya bertambah) dan secara kualitas yang meliputi mutu dan musikalitas yang didalamnya mengandung unsur-unsur musik seperti melodi, warna suara, ritme, dinamika dan tempo.
Secara kuantitas, gamelan Bali sangat berkembang di beberapa daerah-darah di Bali bahkan di luar Bali. Salah satu gamelan yang berkembang dan diminati oleh masyarakat Bali yakni gamelan Geguntangan. Gamelan Geguntangan merupakan salah satu barungan gamelan yang tergolong baru. Ciri khas gamelan baru terletak pada penggunaan kendang, pembendaharaan pukulan kendang yang lebih dominant.
Pada awalnya, gamelan Geguntangan diciptakan untuk mengiringi dramatari Arja, sehingga gamelan Geguntangan sering juga disebut oleh kalayak umum dengan gamelan Arja. Tetapi dengan perkembangnnya, gamelan Geguntangan saat ini mengalami perkembangan baik secara kuantitas, kualitas, bentuk instrumennya maupun fungsi gamelan Geguntangan itu sendiri.
Secara kuantitas perkembangan gamelan Geguntangan dapat dilihat dari semakin banyaknya gamelan ini yang tersebar di masyarakat dan dari dalam barungannya yang dilihat dari segi penambahan instrumen atau masuknya instrumen lain diluar barungan gamelan Geguntangan itu sendiri. Dilihat dari segi kualitasnya, gamelan ini juga mengalami perkembangan baik dari musikalitasnya yang meliputi unsur-unsur musik maupun tata penyajiannya yang meliputi fungsi, diantaranya sebagai pengiring upacara adat, sosial dan yang sifatnya presentasi estetis.
Dalam kehidupan masyarakat Bali gamelan ini sedang “naik daun” yang sangat di gemari oleh masyarakat Bali khususnya pengemar pesantian (geguritan,pupuh dan yang lainnya). Hampir disetiap desa atau banjar memiliki gamelan ini. Pesatnya perkembangan media elektronik yang menyiarkan gamelan Geguntangan yang digunakan untuk mengiringi pesantian maupun dramatari Arja dalam penyajiannya, dapat memotifasi masyarakat untuk memiliki gamelan ini. Melalui penyajiannya lewat siaran ataupun rekaman audio-visual, gamelan Geguntangan yang disajikan untuk mengiringi pesantian atau geguritan dapat disaksikan oleh masyarakat umum, sehingga melalui siaran tersebut dalam kenyataanya mampu menarik perhatian masyarakat umum khususnya penggemar seni.
Dibalik perkembangan yang terjadi dalam gamelan Geguntangan, dalam instrumentasinya telah terjadi perubahan yang cukup signifikan. Perubahan tersebut dapat kita lihat dari intrumen guntang itu sendiri yang merupakan instrumen pembawa identitas dalam barungannya. Intrumen guntang saat ini telah diganti dengan intrumen timbung yang berfungsi sebagai pembawa tempo dan intrumen guntang gong digantikan dengan intrumen gong pulu. Hilangnya intrumen guntang berarti hilang pila jadi diri gamelan Geguntangan, karena yang menamai dia adalah gamelan Geguntangan adalah instrumen guntang itu sendiri. Dengan melihat perkembangan yang terjadi dalam gamelan Geguntangan, nanpaknya memberikan dampak yang cukup mengkawatirkan dalam barungannya maupun dalam seni pertunjukan Bali. Adanya beberapa perubahan ensambel Geguntangan menyebabkan hilangnya jati diri barungan Gamelan Geguntangan itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Sebagai salah satu penelitian, maka perlu adanya batasan masalah yang dilakukan untuk membatasi segala yang dilakukan dalam penelitian ini. Adapun masalah-masalah yang menjadi fokus penelitian ini, di antaranya :
1. Bagaiaman sistim akustik yang dimiliki oleh instrumen guntang?
2. Tidak adanya instrumen guntang dalam barungan gamelan Geguntangan saat ini.
3. Gamelan Geguntangan yang berkembang saat ini, apakah masih boleh di bilang Gamelan Geguntangan? Kalau dia disebutkan gamelan Geguntangan, lalu dimana instrumen Guntangnya?
4. Dalam konteks perkembangannya secara kuantitas, apakah menjamin perkembangannya secara kualitas?
5. Kenapa instrumen Guntang yang masing-masing berfungsi sebagai gong dan tempo diganti dengan Instrumen Timbung?

1.3 Tujuan Analisis
Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Di antaranya:
1. Memberikan insformasi kepada masyarakat mengenai bagaiaman sebenarnya bentuk instrumen guntang dalam gamelan Geguntangan dan sistim akustika yang dimiliki.
2. Memberikan informasi bagi masyarakat mengenai perubahan yang terjadi dalam instrumentasi dari gamelan Geguntangan.
3. Mengembalikan jati diri dari Gamelan Geguntangan.

1.4 Manfaat Analisis
Penelitian ini merupakan salah satu hasil interprestasi yang dilakukan dan merupakaan hasil dari pengamatan-pengamatan yang dilakukan dibeberapa daerah mengenai gamelan Geguntangan yang dilihat dari sudut instrumentasi dan eksistensi, sehingga memberikan manfaat bagi penulis, di antaranya :
1. Memeberikan pemahaman mengenai teknik permainan instrumen guntang yakni dengan pengaturan telapak tangan kiri yang dapat memberikan warna suara dan sistim akustika dari instrumen guntang.
2. Memberikan perbedaan karakteristik dari gamelan Geguntangan.
3. Mengetahui asal mula terjadinya perubahan instrumen guntang dalam Gamelan Geguntangan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Identifikasi Instrumen
Gamelan Geguntangan merupakan salah satu barungan gamelan yang tergolong baru. Ciri khas gamelan baru terletak pada penggunaan kendang, pembendaharaan pukulan kendang yang lebih dominan.

2.2 Identifikasi Suara/ bunyi Menurut Bahan, Bentuk, dan Cara
Memainkan
Dewasa ini gamelan Geguntangan amat menarik perhatian masyarakat. Ini dapat dibuktikan dengan kwantitas gamelan Geguntangan yang tersebar di beberapa wilayah di Bali. Perkembangan gamelan ini menyebabkan adanya beberapa perubahan dalam instrumentasinya, namun masih ada juga instruemn lama yang masih tetap digunakan. Dalam gamelan Geguntangan terdapat dua jenis tungguhan guntang yang mempunyai ukuran dan fungsi yang berbeda. Di mana masing-masing tungguhan guntang tersebut berfungsi sebagai gong atau finalis sebuah lagu, dan satunya lagi berfungsi sebagai kajar atau penentu cepat lambat jalannya tempo dalam memainkan sebuah repertuar lagu. Instrumen guntang dalam gamelan Geguntangan mempunyai ciri khas tersendiri, disamping sebagai identitas pada barungannya, instrumen guntang juga mempunayi perbedaan estetik bila diihat dari perkembangan instrumen yang terjadi sekarang dalam barungannya. Dilihat dari perbedaan akustik yang dimiliki oleh gamelan Geguntangan, instrumen guntang memiliki keunikan tersendiri baik dari segi bentuk resonator maupun teknik memainkannya. Dilihat dari segi bentuk instrumennya, instrumen ini berbentuk persegi panjang dengan bahan instrumen terbuat dari potongan bambu yang berukuran panjang sekitar 48-62 cm dan berdiameter sekitar 8-12 cm. Apabila instrumen ini difungsikan sebagai gong, instrumen ini dibuat lebih panjang dari instrumen guntang yang difungsikan sebagai kajar. Ini dimaksudkan agar ada perbedaan proyeksi suara yang dihasilkan pada saat kedua instrumen ini dimainkan dapat terdengar dengan jelas antara suara guntang gong dengan guntang kajar. Sehingga suara ombakan terdengar dengan jelas. Memainkan instrumen ini cukup sulit, karena perlu latihan yang cukup karena dalam memainkan instrumen guntang ini perlu keseimbangan antara tangan kanan dengan tangan kiri. Maka tidak sembarangan orang dapat memainkan instrumen ini. Mungkin inilah salah satu alasan orang menggantikan instrumen guntang ini dengan Gong Pulu sebagai finalis reportuar lagu dan instrumen guntang kajar digantikan dengan instrumen Timbung, disamping alasan-alasan lain diantaranya mungkin disebabkan oleh masyarakat yang ingin mendapatkan proyeksi suara yang besar dari guntang sebagai finalis sebuah lagu dan tempo.

2.3 Identifikasi Intensitas dan Kualitas Bunyi Yang Dihasilkan
Pada gamelan Geguntangan dahulu, ada dua jenis instrumen guntang yang masing- masing dipakai sebagai tempo dan difungsikan sebagai gong (finalis sebuah lagu). Apabila dia difungsikan sebagai pembawa tempo, maka guntang tersebut berukuran kecil dan intensitas suara yang dihasilkannyapun akan lebuh kecil dari guntang yang dipaki sebagai gong.

2.4 Identifikasi Sistim Resonator
Disamping itu, dilihat dari bentuk dan resonatornya instrumen ini memiliki keunikan tersendiri, dimana instrumen ini terbuat dari bambu yang dikupas pada bagian luarnya. Kupasan bambu tersebut akan diisi pelayah yang akan difungsikan sebagai daun instrumennya. Untuk resonatornya pada bagian bawah pelayah itu dibuatkan lubang resonator untuk menyaring bunyi yang dihasilkan saat instrumen dimainkan. Sedangakan pada ruas sebelah kiri terdapat juga lubang kecil yang berfungsi sebagai pembuat ombakan suara pada waktu instrumen ini dipukul dengan menggunakan tangan kiri.

2.5 Uraian Konsep Dasar dari Pembuatan Instrumen dalam Konteks
Estetik, Sosial, dan Budaya
Berbicara mengenai perkembangan, dalam gambelan Bali ada dua aspek utama yang perlu di perhatikan yaitu perkembangan secara kwantitas yang meliputi instrumentasi yang mencakup : pertambahan instrumen / jumlahnya bertambah dan secara kwalitas yang meliputi musikalitas yang di dalamnya mengandung unsur – unsur musik seperti melodi, warna suara, ritme, dinamika, tempo dan lain-lain dan tata penyajian di dalamnya menyangkut tentang fungsi baik untuk upacara, sosial, maupun hiburan yang lebih mengarah pada presentasi estetis.
• Perkembangan Instrumen Guntang
Dari informasi yang penulis dapatkan dari sebuah buku, instrumen gong yang menggantikan instrumen guntang ini diduga masuk pertama kali pada tahun 1968 yang pertama dimulai oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Studio Denpasar. Namun ide semacam ini sudah dipraktekan sebelumnya oleh sekaa gong Gianyar tiap mengiringi tari-tarian sejenis Arja dari Puri Gianyar namun penggunaan instrumen ini kemudian dipopulerkan oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar, dengan drama tari Arja yang mempergunakan lakon godogan, pakang laras dan lain-lain.
Dengan perkembangan yang terjadi sekarang ini, telah menjadikan suatu perubahan dalam ensamble Geguntangan. Dimana gong Pulu telah menggantikan posisi guntang ini sebagai finalis lagi sehingga sekarang ini tinggal nama saja dalam barungan Geguntangan. Begitu juga dengan yang terjadi pada instrumen guntang kecil sebagai tempo. Guntang kecil mulanya digunakan dalam barungan gamelan Geguntangan bertugas untuk menentukan tempo. Melihat perkembangannya sampai saat ini instrumen guntang sebagai tempo telah digantikan dengan instrumen Timbung yang menyerupai Guntang tapi dibuat dengan bambu yang berbentuk bilahan, dimana proyeksi suara yang dihasilkan Timbung ini lebih keras, sehingga dalam perkembangan yang terjadi saat ini telah menggantikan instrumen guntang kecil.
Dilihat dari sejarahnya pada mulanya instrumen Timbung ini digunakan pada barungan gamelan Gegandrungan. Pada gamelan Gegandrungan instrumen Timbung ini juga difungsikan sebagai penentu tempo namun daun bilahan Timbung pada gamelan ini terdiri dari dua buah bilahan bambu sebagai daun instrumennya yang masing-masing daun instrumen tersebut mempunyai nada yang berbeda yaitu nada ( dong ) dan ( deng ). Kedua daun instrumen ini diletakan pada sebuah pelawah yang terbuat dari kayu. Tungguhan Timbung pada gamelan ini merupakan tungguhan instrumen yang mempunyai irama yang dipukul oleh satu orang penabuh dengan menggunakan dua buah panggul sehingga suara yang dihasilkan waktu Timbung ini dipukul dapat terdengar dengan keras. Adanya proyeksi suara yang dihasilkan oleh instrumen Timbung ini memberikan pengaruh bagi peminat gamelan Geguntangan yang sama-sama difungsikan sebagai tempo sewaktu memainkan repotuar sebuah lagu.
Pada gamelan Geguntangan sekarang ini instrumen Timbung telah banyak kita jumpai. Namun sekarang instruen Timbung yang digunkan dalam gamelan Geguntangan hanya terdiri dari satu buah bilahan bambu saja sebagai daun instrumennya yang diletakan pada sebuah pelawah yang sama-sama terbuat dari bambu. Sebagai resonatornya dibawah daun instrumennya dibuatkan lubang yang berfungsi sebagai resonator. Dilihat dari akustikanya, instrumen Timbung ini dalam memainkannya jauh lebih mudah dibandingkan dengan memainkan instrumen guntang, disamping suara yang dihasilkan lebih keras dari instrumen Guntang.
Dilihat kwalitas dan estetikanya, gamelan Guguntangan yang dulu (asli) jauh lebih baik kwalitas dan keindahannya yang dapat dilihat dari bentuk barungan instrumen secara keseluruhan maupun dari reportuar lagunya. Dengan perkembangan gamelan Geguntangan saat ini dalam suatu pementasan telah mulai diselipkan instrumen– instrumen lain diluar barungan gamelan Geguntangan misalnya dalam suatu pertujukan Geguntangan tersebut disertai dengan instrumen lain misalnya instrumen gender rambat, baik yang oleh dua orang ataupun empat orang. Disatu sisi dengan masuknya instrumen dapat menambah keharmonisan dalam suatu pementasan, namun disisi lain dengan masuknya instrumen ini dapat menghilangkan nilai rasa gamelan Geguntangan aslinya.
• Perkembangan Secara Kwalitas
Secara kwalitas, perkembangan gamelan Geguntangan dapat kita lihat dari musikalitasnya. Perkembangan kwalitas dalam musikalitas gamelan Geguntangan terjadi dalam tata penyajian yang menyangkut tentang fungsi.
Dalam musikalitas gamelan Geguntangan, ada beberapa perubahan yang menyangkut tentang perkembangannya yaitu dari warna suara yang dihasilkan oleh Timbung dan Gong Pulu yang menggantikan instrumen guntang itu sendiri sebagai pembawa tempo dan finalis sebuah lagu. Instrumen Timbung dalam gamelan Geguntangan telah memberikan warna suara yang lebih keras yang berbeda dengan instrumen guntang. Dilihat dari melodinya, secara kwlitas tentu saja berbeda antara daerah yang satu dengan derah yang lain, itu menyangkut kemampuan seseorang dalam memainkan gamelan Geguntangan . Dilihat dari temponya, dalam memainkan instrumen Geguntngan tentu saja harus disesuaikan dengan jenis dan karakter lagunya, apabila karakter lagunya marah pasti temponya cepat dengan memakai sistim tabuh 2, dan apabila sedih temponya lambat dengan memakai sistim tabuh 4. untuk memperkaya ritme digunakan kekrentengan ( kajar palegongan ).
Perkembangan fungsi Gamelan Geguntangan dapat dilihat dari tata penyajian yang dilakuakan dalam masyarakat Bali. Dalam kesenian Bali ada 3 jenis pengelompokan fungsi kesenian khususnya dalam seni pertunjukan, diantaranya bersifat Bali, Bebali dan Bali-balihan. Seperti apa yang disebut di atas pada mulanya gamelan ini diciptakan untuk mengiringi drama tari Arja yang dalam pengelompokan fungsi di atas termasuk Bebali yang dalam pertujukannya diiringi dengan gamelan Geguntangan yang berlangsung sampai saat ini. Seiring perkembangannya, Gamelan Geguntangan kini lebih banyak digunakan untuk mengiringi pesantian misalnya geguritan, pupuh, ataupun jenis tembang yang lainnya. Dengan masuknya gamelan Geguntangan dalam mengiringi pesantian, memberi pengaruh khususnya bagi pecinta geguritan yang ada di Bali. Dengan perkembangan fungsi gamelan Geguntangan secara kwalitas saat ini lebih banyak sebagai hiburan atau yang sifatnya presentasi estetis. Ini disebabkan karena pertunjukan gamelan Geguntangan yang digunakan untuk mengiringi pesantian telah di rekam dan disiarkan melalui media elektronik seperti televisi dan radio. Ini menyebabkan semakin banyak masyarakat mengetahui hubungan antara musik iringannya dengan musik vokal atau tembang tersebut disamping sebagai hiburan.
Dengan perkembangan yang terjadi pada barungan gamelan Geguntangan tersebut, menyebabkan perubahan bentuk barungannya, artinya dengan masuknya instrumen Timbung dan Gong Pulu otomatis menggantikan instrumen Guntang dan menimbulkan bentuk barungan gamelan yang baru tetapi masyarakat sampai saat ini masih menyebutnya dengan barungan gamelan geguntangan padahal kalau dilihat dari barungannya sama sekali tidak ada instrumen Guntangnya atau dengan kata lain kondisi gamelan yang dilihatnya sekarang itulah yang dikatakan gamelan Geguntangan. Kalau dilihat yang menamai atau menyebutkan itu adalah gamelan Geguntangan adalah instrumen Guntang itu sendiri.

2.6 Instrumen dari Gambelan Guntangan
1. Kendang
Kendang bali berbentuk truncated/bulat panjang dan memakai hourblass atau pakelit . kendang itu dibuat dari kayu nangka , jati , atau seseh yang dibungkus dengan kulit pada kedua ujung dan dicancang dengan jangat.
Fungsi kendang adalah sebagai pemurba irama , mengatur cepat lambat dan perubahan dynamio.

2. Gong pulu
Gong pulu berfungsi sebagai sebagai gong dan bermain imbalan dengan tawa-tawa.
3. Guntang
berfungsi sebagai kajar atau penentu cepat lambat jalannya tempo dalam memainkan sebuah repertuar lagu.
4. Klenang
Klenang bermain imbalan/alternating dengan instrument guntang.
5. Krenet
Pukulan krenet mngikuti pukulan kendang.
6. Cenceng Ricik
Rincik yaitu cengceng kecil yang berfungsi untuk memperkaya rythme.
7. Tawa-tawa
Tawa-tawa bermain imbalan dengan gong pulu.
10. Suling
Suling berfungsi untuk mengiringi pupuh yg di nyanyikan.

2.7 Laras dan tetekep
Dalam gamelan geguntangan yang menetukan laras adalah instrumen suling. Dimana instrument suling menyusaikan dengan pupuh yg di nyanyikan dan setiap pupuh memakai tetekep yang berbeda sehingga harus memakai suling dengan beragam ukuran.

2.8 Gending- Gending Geguntang
Didalam Gamelan Geguntangan ada beberapa gending petegak yang biasa di gunakan untuk mengawali pementasan, di antaranya:
1. Lenngker
2. Godeg miring
3. Sinom ladrang
4. Selisir

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Melihat perkembangan gamelan Geguntangan yang terjadi saat ini (yang bekembang dalam masyarakat saat ini), sebaiknya diberikan nama baru dalam barungannya karena bila dilihat dari instrumentasinya sama sekali tidak ada instrumen guntangnya sebab yang menamai itu adalah barungan gamelan Geguntangan instrumen guntang itu sendiri. Jadi sesuai dengan perkembanganya di masyarakat berikanlah ia nama barungan gamelan yang baru sesuai dengan instrumentasinya yang sekarang. Apabila gamelan itu disebut gamelan Geguntangan harus pakai instrumen guntang agar tidak adanya kerancuan nama atau kehancuran dari instrumentasinya. Apabila instrumen guntangnya dihilangkan maka jati diri gamelan Geguntangan itu akan hilang pula baik secara kuantitas maupun kualitas. Ini juga nantinya berpengaruh pada perkembangannya selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Dana, I Wayan. 2003. “Barong Keket Sebagai seni Wisata” dalam Kembang Setaman Persembanhan Untuk Sang Mahaguru. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

Dibia, I Wayan. 1977. Pengantar Karawitan Bali. Denpasar. Proyek Peningkatan dan Pengembangan ASTI Denpasar

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Next Post: