header image
 

SEJARAH GONG KEBYAR BANJAR PALAK SUKAWATI

foto0491Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh Gong tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 10cengceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkandengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya. Fungsi gong kebyar pada awalnya sebagai pengiring suatu upacaraa agama namun dalam perkembanganya sudah di jadikan sebgai suatu seni pertunjukan, terlihat dari diciptakannya gending-gending kekebyaran baik itu tabuh atau sebagai pengiring tari. Dalam fungsi gong kebyar tersebut sama halnya di pergunakan pada fungsi gong kebyar yang ada di banjar Palak Sukawati. dimana keberadaan gamelan ini di fungsikan sebagai pengiring upacara dan sebagai pertunjukan. Dalam Laporan ini mencoba untuk mengklarifikasi data yang ada baik itu secara sejarah ataupun tokoh yang memprakasai gamelan tersebut.

SEJARAH GONG KEBYAR BR PALAK SUKAWATI

          Dalam sejarah gamelan yang ada di Br Palak, Sukawati, Gianyar. Pada awal berdirinya gamelan di Br palak terlibat 2 tempekan yaitu tempekan munjing dan wangbung. Di tempekan munjing terdapat suatu sekehe yang bernama Sekehe Manyi, Sekehe Manyi ini adalah perkumpulan dari orang-orang yang bekerja di sawah yang terdiri dari 8 orang. Setelah mengalami proses, sekehe manyi ini membeli gamelan sebagai tujuan utama mereka. Awal gamelan yang di beli berupa barungan Baleganjur dan proses pembelian inipun dilakukan secara berangsur-angsur dengan membeli beberapa instrument. setelah melalui proses pembelian barungan tersebut mereka malakukan aktifitas seperti ngayah, dimana ada orang yang bisa megadakan upacara di rumahnya sendiri maka mereka akan dusuruh ngayah disana dan mereka akan di beri upah, dari sekian kegiatan yang mereka lakukan timbulnya suatu rasa iri hati dari orang-orang tempekan wangbung sehingga waktu zaman itu terjadinya perang besar, antara tempekan munjing dan wangbung. Setelah kejadian itu tempek munjing yang beranggotakan sekehe manyi ini trus mengalami penambahan anggota menjadi 17 orang kegiatan manyi yang mereka lakukan juga mengalami peningkatan seiring dengan penambahan anggota tersebut hal itu berdampak dengan hasil yang mereka dapat. Untuk menjaga kesolidaritasan, mereka membuat “patus gae” (perjanjian kerja) pada saat adanya upacara adat di salah satu anggota, mereka harus dating dari pertama awalnya upacara tersebut dan membawa 10 kg beras, minyak 1 botol, kelabang (daun kelapa yang di anyam), bambu  3 buah, ayam 1 ekor. Dari sekian lama kegiatan tersebut berjalan mereka berkeinginan membeli 1 barung gong kebyar, namun proses pembelian ini sama halnya dengan pembelian gamelan balaganjur yang proses pembeliannya di lakukan secara bertahap dengan membeli sedikit demi sedikit instrument gong kebyar.

 TOKOH YANG MEMPRAKASAI

Tokoh-tokoh Yang Memprakasai Gamelan di Br. Palak Sukawati Gianyar dari sumber yang masih ada (I Ketut Sukaidep) menyatakan bahwa gamelan yang ada di Br. Palak Sukawati dibeli oleh Sekehe Manyi dari tempekan Munjing yang awalnya terdiri dari 8 orang diantaranya:

  1. Sukaidep
  2. Budi (Alm)
  3. Neka (Alm)
  4. Lamun (Alm)
  5. Muja (Alm)
  6. Sukaja
  7. Logog (Alm)
  8. Suteja

Setelah terjadinya konflik antar tempek, peningkatan jumlah anggota menjadi 17 orang, anggota baru yang terdaftar masuk menurut sumber yang di dapat yaitu:

  1. Budiasa
  2. Sanglah
  3. Regreg
  4. Sulaya
  5. Adit
  6. Sukanti
  7. Ki Rusa
  8. Kabar
  9. Karmi

Dari sekian tokoh ini terwujudnya sebuah gamelan gong kebyar yang ada di Br. Palak Sukawati. Yang dimana gamelan ini difungsikan oleh generasi penerus Br. Tersebut.

 SISTEM ORGANISASI ATAU SEKEHE

             Terbentuk sebagai sebuah komunitas berkesenian sekitar + tahun 1920-an awalnya adalah sekaa “Manyi” dikondisikan pada zamannya sebagai lingkungan wilayah agraris. Atmosfir gotong royong sebuah peradaban kurun waktu sebagai karakter manusia Bali yang cerdas, lugu, beretika, santun, berbudaya, religius dan spiritual. Aktivitas pertanian menumbuhkan rasa kebersamaan menghibur diri selepas lelah menggarap sawah, menumpahkan kebahagiaan dimasa panen. Akumulasi persamaan dinamika suasana kehidupan menyatukan pikiran menumbuhkan daya kreasi berkesenian di samping tuntutan adat dan budaya. Implementasi dari kesatuan pikiran-pikiran mereka, dibentuklah seka gong “mini”.

Awalnya disepakati membuat beberapa instrument gamelan oleh sekelompok sekaa ‘manyi’ di lingkungan Banjar Palak. Dana untuk mewujudkan kehendak mereka, didapatkan dari ‘upah sekaa manyi’ yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit hasil dari kerja bersama mereka. Akhirnya keinginan mereka terwujud walaupun seperangkat gamelan belum lengkap. Seiring berjalannya waktu, aktivitas seni di lingkungan tersebut berlangsung suntuk hingga dekade 60-an. Kurun waktu tersebut dengan keseriusan berkesenian pihak-pihak Puri Ageng Sukawati yang memang peduli terhadap seni dan budaya banyak memberi tuntunan sehingga di Br. Palak banyak bermunculan seniman besar pada zamannya seperti I Wayan Gelebag seniman topeng yang juga salah seorang penggubah tari baris. Wayan Puden seorang penari arja muani spesialis penari condong kemudian lahir seorang seniman pembuat kendang I Wayan Tugeg, hasil karyanya sudah dikenal di seluruh Bali.

Kemudian pesatnya aktivitas berkesenian di Banjar Palak, seperangkat gamelan yang awalnya milik sekelompok orang sekaa ‘manyi’ dihaturkan ke Banjar Palak sebagai bentuk solidaritas untuk menjaga persatuan dan kesatuan karena tahun-tahun tersebut adanya suasana perpolitikan di Negara kita yang tidak sehat.

Gejolak suhu politik dekade 60-an berimbas terhadap aktivitas berkesenian karena keterampilan seseorang atau kelompok dari seni, terkadang dimanfaatkan sebagai media propaganda partai tertentu untuk kepentingan penggulungan massa.

Eksistensi yang sedemikian kukuh, idealism berkesenian yang murni dan tulus untuk persembahan yadnya, kelompok-kelompok seni di Banjar Palak tetap eksis, regenerasi berjalan bagus.

Di tengah gempuran-gempuran suasana ‘zaman revolusi’ tersebut ketulusan berkesenian tetap mereka lakukan sebagai sebuah ‘swadharma’ seniman yang mesti dilakukan untuk kepentingan peradaban manusia Bali punya kewajiban adat dan budaya sekaligus sebagai media hiburan yang penuh tuntutan kehidupan.

Sebagai bentuk kesabaran dan ketekunan mereka mengawali eksistensi aktivitas bekersenian pada zaman tersebut sepakatlah mereka di Banjar Palak membentuk sebuah sekaa gong untuk lebih mempererat rasa kebersamaan berkesenian dan menjaga persatuan dan kesatuan dengan tema: SEKAA GONG ‘SILA PERTIPA’

                            SILA  = Dasar, Pondamen

                     PERTIPA  = Nama seorang prabu,  ayahnda     Prabu Sentanu Prabu Pertipa terkenal sebagai seorang Pertapa yang tekun dan sabar

Jadi kelahiran sekaa ini diibaratkan sebagai seorang pertapa, menjalankan sebuah swadharma kemanusiaan, kewajiban menyelesaikan pelayanan umat dari kultur budaya melalui seni dan kesenian, di tengah bermacam godaan lahir dan bathin, sehingga perlu kesabaran dan ketekunan

Puncak kejayaan sekaa ini bersinar dan mengalami kejayaan di tahun 1960-an dengan dinakhodai seorang tokoh kemanusiaan ‘I Wayan Mura’ sekaa ini begitu dikenal karena punya cara bermain gong kebyar dengan ‘tetekep’ yang khas dengan kotekan gangsa dengan kecepatan tinggi. Dibina seorang maestro karawitan dari Desa Peliatan I Wayan Gandra sekaan ini banyak mengambil style karawitan Bali Utara dengan menelorkan beberapa tabuh antara lain:

  1. Bima Kroda
  2. Sekar Jepun
  3. Merak Angelo
  4. Subali – Sugriwa, dan sebagainya

Pada tahun keemasan Sekaa Gong Sila Pertipa, sekaa ini secara kualitas disejajarkan dengan Sekaa Gong Peliatan, Sekaa Gong  Pinda, Sekaa Gong Gladag. Karena minimnya keinginan untuk tampil secara popularitas ditambah latar belakang kebanyakan petani yang berkarakter polos, lugu sehingga sekaa ini kurang diekspose dan propaganda ditambah latar belakang filosofi sekaa ini yang bersifat ‘ngayah’.

Keberlangsungan regenerasi kreativitas menabuh kekebyaran sampai sekarang masih tetap terjaga dan pada tahun 2012 dipercaya sebagai duta Gianyar dalam Parade Gong Kebyar Anak-anak Dalam PKB.

~ by putusuwarsa on .

Leave a Reply