Archive for Oktober, 2013

biografi seniman

Tulisan | Posted by putudyantara
Okt 18 2013

I Wayan Kalam Seniman Drama Tari Klasik Sejati

(Tugas sejarah karawitan semester)

Putu Dyantara

201202038

 

I Wayan Kalam Seniman Drama Tari Klasik Sejati

Arja merupakan drama tari klasik yang merupakan salah satu bentuk perkembangan dari drama tari Gambuh yang dalam pementasanya diiringi oleh Gambelan Geguntangan, Semar Pagulingan ataupun gamelan Gong Kebyar. Dalam pementasan tari arja si penari banyak melantunkan lagu-lagu yang telah di sesuaikan dengan karakter tokoh yang dibawakan oleh masing-masing penari serta jalan cerita yang di pentaskan. Drama tari arja inilah yang menjadi bagian hidup seorang putra Bali bernama I Wayan Kalam. Lahir bertepatan dengan di ploklamirkannya kemerdekaan RI 17 agustus 1945 di desa gabloban kecamatan selemadeg tabanan. Pertama kali belajar menari pada umur sepuluh tahun beliau mengatakan bahwa tari yang pertama ia pelajari waktu itu adalah tari dasar putra yaitu tari baris tunggal dengan pelatihnya yang bernama I Ketut Rideng (alm) dan pentas pada pertama kalinya di desanya sendiri desa gablogan. Sejak kecil beliau memang sangat gemar menari, selain itu dapat menerima materi-materi yang diberikan  oleh gurunya lebih cepat dari pada teman-teman sebayanya. Beliau menegaskan bahwa tari merupakan suatu cara untuk mengekspresikan jiwa yang kuat karakter manusia yang budiman serta mempunyai perasaan yang lemah-lembut.

Karena bakat dan ketekunan yang ia miliki maka di usianya yang masih belia itu ia diangkat sebagai salah satu murid dari seniman besar I ketut Mario. Seorang pengabih Puri Tabanan yang terkenal dengan tari Oleg Tamulilingannya. I Wayan Kalam diajari oleh gurunya tersebut tari Kebyar Duduk, Kebyar Terompong dan Oleg Tamulilingan. Karena sangat mencintai dunia tari sampai-sampai beliau tidak melanjutkan sekolah dan tidak tamat sekolah dasar yang pada waktu itu bernama sekolah rakyat bajera yang terletak di sebelah barat desa gablogan sebab sering tidak naik kelas karena mengikuti guru tari nya dalam pentas tari di berbagai tempat. Jadi I Wayan Kalam tidak tamat sekolah rakyat tersebut apalagi melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu ia juga sempat belajar tari teruna jaya pada seniman asal Jaga Raga , Buleleng yang bernama I Gede Manik pada tahun 1956. Dapat dididik oleh kedua guru tari sekaligus pencipta tari seperti I ketut Mario dan I Gede Manik merupakan pengalaman yang luar biasa dan tak pernah bisa terlupakan, “tak semua orang dapat menjadi murid yang sangat disayang oleh mereka berdua” jelasnya.

Pada tahun 1960 saat berusia lima belas tahun beliau bergabung bersama Sekaa Arja Gablogan dan mendapat peran sebagai penasar kartala yaitu tokoh bawahan atau pendamping seorang kesatria didalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, penasar berarti dasar yang memiliki makna mendasari atau menterjemahkan dan memperjelas kembali kata-kata atau wacana yang diucapkan oleh atasannya tersebut. Dari sinilah bakat serta kecintaan beliau terhadap dunia seni drama tari klasik di mulai. Kemampuannya dalam mengolah bahasa dan reraosan di dalam dialog antar tokoh langsung mendapat sorotan khusus dari pelatih arja tersebut ia lah Nang Loji berasal dari Kutuh Kaja, tabanan. I Wayan Kalam dibekali olehnya tata aturan, santunan, karakter tiap pemain drama tari arja, lagu-lagu yang dibawakan oleh setiap karakter tokoh serta beberapa contoh cerita lakon yang biasa di bawakan pada saat pementasan arja. Apa yang didapat oleh gurunya tersebut ia resap, pelajari dan ia catat dengan baik. Sekaa Arja Gablogan yang diikutinya pentas pada hari-hari piodalan di desanya sendiri ataupun bisa juga di desa-desa lain yang masih dalam wilayah selemadeg. Seiring berjalannya waktu I Wayan Kalam makin menjadi sosok pemain drama tari yang matang karena cukup lama menjadi pemain arja Gablogan. Banyak pengalaman pentas di berbagai tempat, terinspirasi dari seniman tari yang lebih senior darinya, menjadikannya paham dan semakin tahu karakter dari semua tokoh arja yang dipentaskan. Setelah berperan sebagai kartala I Wayan Kalam lalu memerankan tokoh raja yang sering disebut dengan Mantri. Begitu juga dengan tokoh Putri, dan tokoh lainnya contohnya saja Inyo, Biang Agung dan Galuh.

 

Kemudian pada tahun 1965 I Wayan Kalam ikut bergabung bersama Lembaga Kesenian Nasional (LKN). Karena selain gemar dan pandai dalam hal menari beliau juga aktif dalam partai, yaitu PNI (partai nasional Indonesia) yang dipimpin oleh ir.Soekarno. LKN ini bertujuan untuk memeriahkan acara-acara seperti pertemuan dan undangan, yang diadakan oleh presiden Soekarno. Keikutsertaan I Wayan Kalam dalam LKN ini membawanya pentas ke Jakarta untuk pertama kalinya. Bersama teman-temannya I Wayan Kalam mementaskan tari jangger yaitu tarian berkelompok dan berpasang-pasangan yang dalam tarian ini mempertunjukan gerak gerak yang enerjik dan lagu-lagu atau gegendingan ala remaja. Tema jangger yang ia bawakan pada waktu itu adalah ajakan ataupun gertakan untuk mengganjang Malaysia agar mau masuk dalam NKRI pada pemerintahan presiden soekarno, namun itu akhirnya hanya sebatas pementasan saja karena Malaysia tidak berhasil di dapatkan. I Wayan Kalam beserta teman temannya yaitu Made Jelada (alm) berasal dari desa bantiran, Made Netra (alm) berasal dari desa Timpag, Nengah Degdeg (alm) dari desa payuk bangkas, dan  ida Bagus Botan dari desa Kesiut, sangat gembira dapat menari dihadapan presiden dan di depan tamu-tamu negara.

            Berbekal pengalaman serta ide dan imajinasi untuk mengembangkan sekaligus menuangkan kreatifitas seni suaranya pada tiap karakter/tokoh pemain arja dalam berbagai lakon cerita arja serta kemampuan untuk menciptakan sendiri cerita fiksi yang dijadikan sebagai lakon cerita arja menjadikan I Wayan Kalam siap untuk melatih dan membina gerakan tari maupun gending-gending atau pupuh yang di bawakan dalam drama tari Arja. Ia pertama melatih di desanya sendiri pada tahun 1966 yaitu Desa Gablogan, karena arja yang dulu yang ia pernah ikuti telah bubar. Membina dan mengajari beberapa calon penari di banjarnya itu dengan cerita Jaya Prana. Selain itu pada tahun yang sama ia juga pernah melatih dan membina arja di beberapa desa seperti di desa Payuk Bangkah dengan judul I wayan Buyar, di desa Kebon Jero Dengan judul Sipta Lara. Di desa Mambang dengan judul Pakang laras, dan di desa-desa lainnya. Pada tahun 1970 I Wayan Kalam kembali melatih arja di desanya yang kali ini dengan judul Sampik Ingtai. Dalam pentas Arja Sampik Ingtai ini I Wayan Kalam sendiri ikut menari, menjadi tokoh sampik. Pada tahun 1971 dan 1972 ia melatih Arja di desa Penataran, Selemadeg Barat, dengan judul Pamurut Mini. Sebagian besar pertunjukan arja yang ia latih di berbagai desa tadi yang utama adalah demi kepentingan keagamaan yaitu dalam hal mengiringi tari topeng sakral seperti barong dan rangda sebagai kisah dan cerita mengapa barong dan rangda tersebut bisa bermusuhan dan berperang jadi lakon cerita arja yang beliau berikan dan ajarkan umumnya menggunakan konsep istana sentries dan cerita yang diakhiri dengan kisah peperangan antara pihak yang benar dan yang salah.

kkkkkkkk

Selain melatih drama tari arja, I Wayan Kalam juga mampu untuk membina dan mengembangkan Drama Gong. Drama Gong juga merupakan drama tari klasik yang mementaskan adegan drama dan peristiwa yang dialami tokoh dalam cerita, diiringi oleh gamelan gong kebyar hanya saja tidak menggunakan gerak tari serta nyanyian seperti halnya Arja. Tahun 1972 Untuk pertama kalinya I Wayan Kalam melatih Drama Gong di desa Suraberata, Selemadeg Barat dengan judul Guna Wangsa, setelah itu di desa Cekik dengan judul Lara Pati, di desa Serampingan dengan judul Kama Jaya, lalu di desa Bebali dengan judul Jaya Kumara. Selanjutnya pada tahun 1973 I Wayan kalam membina Drama Gong di banjar Antap kaja dengan judul Renteng Reges. ia mengatakan bahwa saat itu selain membina juga ikut menjadi pemain yaitu menjadi tokoh Raja Muda. Selain Renteng Reges di tempat yang sama I Wayan Kalam juga memberikan cerita Drama Gong lainnya yaitu Larantaka, Guna Wangsa, Nara Kesuma. Tahun 1975 beliau mengikuti festival Arja bersama sekaa Arja Bakti suci dengan kisah Boja Negara. Kemudian pada tahun 1989 I Wayan kalam tergabung dalam sekaa Arja Printing dari denpasar Mas berperan menjadi Mantri Buduh hingga sepuluh tahun. Itulah sedikit dari beberapa pengalaman awalnya mengajar drama tari dan drama gong selain yang tersebut diatas banyak lagi berbagai wilayah khususnya di kabupaten Tabanan yang pernah ia singgahi untuk mengajar tari serta drama tari.

Kesungguhan dan kegigihan dalam mengembangkan kesenian setidaknya bisa menjadi cermin bagi generasi muda dalam mengasah talenta seni. I Wayan Kalam menikah dengan istri tercintanya Ni Putu Puji yang juga seorang penari pada tahun 1971 dan dikaruniai dua orang anak. Berkat kesungguhan ayah dari I Wayan Widiantara dan Komang Wida Purnama Sari itu mampu mengembangkan seni teater khas Bali yang mendapat dukungan dari masyarakat setempat.  Ayah dua putra-putri itu sukses mengembangkan kesenian arja hingga mendapat pesanan pentas ke sejumlah pelosok pedesaan di Kabupaten Tabanan dan daerah lainnya di Pulau Dewata. Ketika tampil di panggung, sosok Wayan Kalam tidak pernah merasa canggung, bahkan selalu menjadi idola penonton. Tidak mengherankan jika tari arja membuatnya jadi dikenal masyarakat luas. Dengan keterampilan dan ketenarannya bidang tari arja, I Wayan Kalam yang bergabung dalam sekaa kesenian arja itu pernah pentas menghiburkan masyarakat di pelosok pedesaan Pulau Dewata. Bahkan pernah pentas ke luar Bali antara lain ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Berkat prestasi, dedikasi dan pengabdiannya yang terus menerus terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali, Pemerintah Provinsi Bali menganugrahkan Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni dari Pemerintah Provinsi Bali pada puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-54 Pemprov Bali 14 Agustus 2012. Ia merupakan salah seorang dari 14 seniman yang berasal dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali yang mendapat perhargaan tertinggi yang diserahkan Wakil Gubernur Bali Drs Anak Agung Ngurah Puspayoga. Selain penghargaan itu juga memperoleh satya lencana. Selain itu I Wayan banyak menerima penghargaan seni lainnya di tingkat kabupaten tabanan, yang sayangnya piagam-piagam itu tidak ada dirumahnya untuk di perlihatkan kepada saya ia menjelaskan bahwa piagam-piagam penghargaan tersebut ia serahkan ke kabupaten lagi untuk di simpan karena tidak ingin itu semua hilang dan rusak.

Meskipun tergolong lanjut usia, namun sosok pria berpenampilan sederhana itu hingga kini masih aktif dalam dunia pentas. Sambil melatih dan membina sekaa kesenian, juga tak henti-hentinya belajar mendalami sastra agama yang sanggup memberikan tuntunan, kesenangan dan ketenangan batin. I Wayan Kalam yang sehari-harinya sebagai wiraswasta yaitu penjual banten dan  menyewakan pakaian Tari Bali.

Dalam hal menari serta menurunkan ilmunya kepada siapa saja terlihat tidak ada rasa ragu maupun rasa lelah yang terlihat di benak I Wayan Kalam. Ia menari dengan setulus hati dan selalu berusaha menampilkan performanya yang terbaik di atas panggung. Ia menjelaskan bahwa itulah yang disebut taksu. Tak didapat secara Cuma-Cuma namun dari ketekunan dan dari belajar. Dari belajar yang dimaksud adalah kita sebagai seorang seniman hendaknya jangan pernah melupakan siapa-siapa saja yang ikut berjuang bersama, siapa-siapa saja yang membantu memberikan jalan kesuksesan terutama pada guru yang telah memberikan ajaran dan tuntunan kepada kita. Dalam bahasanya “ iraga do pesan nyen engsap ken guru, ken dija iraga nunas taksu, dija pado raga nunas tirta simalu, nyen gen pedo ajak, sing dadi” artinya ia berpesan kepada semua seniman khusunya seniman tari bahwa kita tidak boleh melupakan jasa-jasa yang pernah orang lain berikan kepada kita sehingga kita bisa seperti sekarang, tidak boleh sama sekali melupakan guru dan pelatih, serta yang terpenting adalah di Pura mana saja kia pernah nunas taksu dan dengan siapa saja kita pernah belajar bersama-sama. Selain itu ia juga menambahkan bahwa kita dalam berkesenian mulailah dari rumah atau tempat tinggal kita sendiri dan dengan orang-orang disekitar kita jangan terlalu jauh dulu, tujuannya adalah agar kita lebih dekat kepada masyarakat di tempat kita sendiri dan memulai sesuatu dari yang paling mendasar paling sederhana lantas baru menginjak ke hal yang lebih besar, Itu lah pesan I Wayan Kalam ketika saya usai mewawancarai beliau.

 

sumber : wawancara langsung dengan I Wayan Kalam dan istri, Ni Putu Puji