sejarah rindik

Januari 9th, 2014

Latar belakang

 

Pada tahun 1994 keluarga besar saya sebagian memang memiliki pekerjaan bertani,terutama kakek saya yang sekarang usianya sudah mencapi 87 tahun,tetapi masih kuat dan sehat untuk menjalankan kegiatan bertani di sawah. Selain bertani,kakek saya juga menekuni bidang menjahit pakaian,itu sudah di tekunni semenjak ia berusia 30 tahun.

Di dalam keluarga ayah saya,memang tidak ada sama sekali keturunan seni,walaupun ada,itu hanya sedikit,dan juga tidak di tekuni. Jadi pada waktu itu tidak ada yang tau nama dan jenis gambelan yang ada di desa saya. Keluarga saya hanya menyebutkan kata “gong” bila melihat/mendengar gambelan,mungkin juga di keluarga saya dulu kalau melihat gambelan rindik,mungkin mereka akan menyebutkan gong. Karena mereka tidak tau.

Di desa saya,pada zaman dahulu memang hanya ada 1 barungan gambelan saya yaitu gong kebyar. Untuk gambelan rindik tersebut juga memang tidak ada,dan tidak ada juga yang bisa memainkannya. Jadi keluarga saya awalnya memang sama sekali tidak ada unsur seninya. Dan pada awal tahun 1999 baru lah ada 1 pasang gambelan rindik di rumah saya,dengan kondisi yang bagus,sangat sederhana,dan juga tidak ada yang sama sekali bisa memainkannya.

Permasalahan

Tujuan saja mengangkat judul ini “SEJARAH RINDIK’KU” yaitu untuk mengetahui sejak kapan keluarga besar saya memiliki gambelan rindik,dan kenapa bisa memiliki gambelan rindik ? apakah awalnya memang membeli/membuat/bagai mana?. Saya slalu bertanya seperti itu,karena di dalam keluarga saja tidak satupun ada yang bisa memainkannya.

Sejarah.

Pada awal tahun 2000,saya baru ber usia 7 tahun. Pada waktu itu kakek saya yaitu Ketut Sandi masih aktif dalam pekerjaannya sebagai tukang jarit,dan bliau juga masih aktif dengan kegiatan kesawah untuk bertani. Saya dan kluarga besar saya berasal dari desa mengwitani,kecamatan mengwi,kabupaten badung.

Awal mula saya melihat gambelan rindik yaitu di rumah saya sendiri,tetapi tidak di rawat dengan baik dan juga tidak ada seorang pun yang ahli memainkan gambelan rindik tersebut,saya berfkir itu pasti susah memainkannya karena tidak ada yang pernah mencoba memainkannya. Tetapi saya juga bingung,dan slalu bertanya “kenapa ada gambelan rindik ini di rumah.?”

 

Lalu kakek saya bercerita,pada tahun 1999, awalnya ada seorang yang datang kerumah saya bernama I Kompyang sarka,bliau selaku ketua skha gong dari banjar dajan peken,beliau memberikan kain kepada kakek saya untuk dijarit,kain itu akan digunakan untuk bahan membuat baju yang akan digunakan oleh skha gong tersebut,kebetulan juga skha gong itu satu desa dengan kakek saya.Pada tahun 1999 Kebetulan juga hanya kakek saya yang masih menjadi tukang jarit di desa mengwitani,pada waktu itu belum banyak generasi penerus yang menjadi tukang jarit, Lalu kakek saya mau menerima pekerjaan itu,dan di buatkanlah kostum untuk sekha gong itu.

Sekitar 2 bulan berlalu,akhirnya kostum itu sudah jadi, lalu ketua dari sekha gong tersebut datang untuk mengambil kostumnya, tetapi mereka baru membayar upah menjarit hanya separuh harga, jadi masih kurang upahnya. Mereka pun menawarkan rindik satu pasang kepada kakek saya, sebagai pengganti kekurangan upah yang di berikan,kakek saya pun menerimanya dengan alasan supaya memiliki gambelan rindik. Pada waktu itu gambelan rindik yang di berikan tidaklah mewah bentuknya,melainkan sangat sederhana,Dengan bahan serba dari bambu termasuk wadah rindiknya/pelawah rindiknya juga masih dari bambu,tidak seperti rindik di zaman sekarang yang pelawahnya sudah berbahan dari kayu.

Tahun 2005,saya sudah bersekolah SD kelas 4,tetapi rindik itu masih utuh dan suaranya masih bagus. Orang tua saya berencana membawanya ke Denpasar untuk saya berlatih. saya pada waktu itu sudah bertempat tinggal di denpasar dengan orang tua. Sesampainya rindik itu di denpasar,lalu saya belajar memainkannya dengan di iringi kaset tape.Setelah lama saya berlatih,saya dan teman-teman saya sempat menonton gambelan jegog, dan saya terinspirasi dengan gaya para pemain jegog yang selalu energik dengan duduk di atas gambelan jegog tersebut.Saya pun berfkir,bahwa jegog itu sama dengan rindik,dan juga rindik sama dengan jegog. Jadi saya dengan teman saya menduduki gambelan rindik saya,dengan niat seperti pemain jegog.teman saya juga ingin mencobanya,tetapi mereka mencoba dengan rindik saya,karena pada waktu itu Cuma di rumah saya ada gambelan rindik. Tetapi setelah saya naik ke atas rindik,pelawah rindik itu langsung patah dan hancur. Cuma untungnya daun rindiknya tidak hancur. Saya heran,daun rindik itu sangat kuat,tidak mudah pecah sekalipun di jemur di bawah sinar matahari.

Setelah itu orang tua saya berfikir untuk menggantinya dengan pelawah baru, kejadian ini pada tahun 2007. Kebetulan juga ada pengrajin rindik di dekat rumah saya yaitu,I Wayan Winada yang berasal dari kabupaten tabanan, desa meliling. beliau lah yang saya cari untuk minta tolong membuatkan pelawah rindik baru dengan bahan kayu yang kualitas rendah dan tanpa ukiran di pelawah rindik tersebut, Waktu itu juga hanya memperbaiki dan tidak mengganti daun rindik yang dulu karena menurut saya masih bisa di gunakan dan masih bagus.

Pada tahun 2009, rindik itu saya kembalikan ke kampung halaman saya dengan alasan,saya ingin memiliki rindik yang baru dengan bentuk fisik yang lebih bagus dan modern. Kebetulan juga pada waktu itu saya akan mengikuti lomba rindik berpasangan tingkat SMA, jadi saya ingin memiliki rindik yang bentuknya lebih mewah dibandingkan dengan bentuk fisik rindik saya yang dulu,karena itu terlalu kecil karena rindik itu berbahan dari jenis bambu tabah/tiying tabah,ukuran bambu itu juga kecil-kecil dan panjang. Pada waktu itu orang tua saya berencana untuk menjualnya,karena pelawahnya sudah di perbaiki,tetapi kakek saya marah,dia tidak mengijinkan untuk menjualnya. Kakek saya menyarankan beli saja yang baru,jangan menjual ini untuk membeli rindik yang baru,kakek saya sangat cinta dengan barang-barang yang ia miliki,dan juga rindik ini suatu bentuk tanda trimakasi yang di terima oleh kakek saya dari I Kompyang Sarka,walaupun rindik itu awalnya sangat sederhana,tetapi kakek saya bisa menerima karena ia berfkir bahwa rindik ini bsa bermanfaat bagi kluarga dalam bentuk berkesenian, saya pun juga bisa bermain rindik berkat rindik yang di berikan oleh I Kompyang sarka. Rindik itu sangatlah berguna bagi saya,sehingga saya dapat mempelajarinya,dan juga rindik itu sempat saya gunakan untuk bekerja mencari uang.

Setelah lama kemudian,orang tua saya mendapatkan rejeki di tempat kerjanya berupa uang bonus sebesar 1000.000 Rp. Uang Itu rencananya akan di pakai untuk membeli gambelan rindik untuk saya,tetapi masih kurang. Saya pun berusaha menabung dengan uang hasil kerja di sebuah resepsi pernikahan dengan adik-adik saya itu pun saya masih menggunakan rindik yang lama dalam bekerja demi mendapatkan uang untuk dapat membeli rindik yang baru. Pada waktu itu saya masih bekerja dengan bayaran seharga 100.000 Rp per-3 jam di setiap acara.Setelah terkumpulnya uang yang saya tabung, saya langsung memberikan kepada orang tua saya untuk menambahkan sisa kekurangannya. Dan akhirnya,orang tua saya memesan rindik baru untuk saya dan adik-adik agar dapat berlatih dan juga saya digunakan untuk bekerja/mengikuti iven-iven yang ada.

Dan pada akhirnya di rumah saya,memiliki 2 pasang gambelan rindik,yaitu rindik yang lama,yang bentuk fisiknya masih polos dan rindik yang baru dengan bentuk fisik lebih baik dan bagus dari pada rindik yang lama. Rindik yang lama masih saya simpan di rumah di mengwi,sekarang rindik itu hanya bisa saya pakai latihan bila saya pulang ke kampung halaman.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar rindik yang baru:

 

 

 

Kesimpulan ,

Pada waktu tahun 2000, gambelan rindik saya masih sangat sederhana dan itu pun hasil dari pengganti bayaran yang masih kurang itu terjadi pada tahun 1999. Pada saat itu juga saya baru mengetahui bentuk fisik dari gambelan rindik,saya juga belum mengerti cara memainkan.Pada tahun 2005,gambelan rindik itu hancur karena saya dan teman-teman mendudukinya dengan terobsesi oleh gambelan jegog. Dan pada tahun 2007,kebetulan ada pengrajin rindik dari tabanan yang bisa memperbaikinya sehinga kembali bisa di pakai dengan gaya wadah/tempat rindik yang lebih bagus dari pada sebelumnya,tetapi blum teriisi ukiran/variasi.

Akhirnya pada tahun 2009 rindik yang lama,saya kembalikan ke kampung halaman saya, dan saya menabung uang saya untuk membeli rindik yang baru, tabungan itu berasal dari uang jerih payah saya dengan di bantu oleh orang tua untuk membeli rindik yang baru dengan bentuk fisik yang modern dan penuh hiasan/ukiran. Pesan saya dalam sejarah rindik ini yaitu,slalu berusaha agar cita-cita kita tercapai, selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki dan juga berusaha untuk menjaganya.

 

belajarlah dari sesuatu yang sangat sederhana.

 

 

 

 

 

Narasumber

 

 

I Ketut Sandi

I Kompyang sarka

 

Leave a Reply