Mei
07
2013
0

Resensi Buku : Tetabuhan Bali I, Pande Made Sukerta

Resensi Buku    : Tetabuhan Bali I, Pande Made Sukerta

 

Musik atau karawitan Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara (Batak), Kalimantan, Papua, Sulawesi, Bali, vocal menjadi bagian dari karawitan. Di Bali, vocal selalu dihadirkan dalam konteks upacara agama ( upacara panca yadnya ). Kehadiran vocal dalam kontek upacara agama membuat kehidupan vocal (tembang) di Bali sangat subur, hamper setiap banjar memiliki satu kelompok pesantian.

Keberadaan vocal dalam upacara panca yadnya didasari oleh konsep panca gita yaitu lima unsur suara dalam pelengkap jalannya suatu upacara. Bagian-bagiannya adalah Swara atau dentingan bajra, Puja merupakan bacaan pujaan mantra Weda, Gong yaitu suara gamelan, Kidung yaitu lagu-lagu keagamaan, Kentongan yaitu bunyi-bunyian yang dapat menimbulkan suara magis. Maka dari itu vocal dalam pelaksanaan upacara agama bukan hanya sebagai pelengkap tapi merupakan bagian dari upacara tersebut.

 

Jenis-jenis vocal ( tembang ) yang ada di Bali, yaitu

  1. Gegendingan atau tembang rare atau sekar rare

Sekar Rare merupakan vocal atau tembang dimana menyangkut suatu permainan anak-anak.

 

  1. Pupuh atau tembang alit atau sekar alit atau macapat

Dalam buku Wrttasancaya Gutasancaya Kumpulan Wirame dan Pupuh disusun oleh IGB Agastia disebutkan bahwa jenis tembang macepat ada 42 macam yang akan dipaparkan sebagian saja, yaitu :

–          Dandanggula ( 10a, 10i, 8e, 7u, 91, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a )

–          Mijil ( 10i, 6o, 10o, 10i, 6i, 6u )

–          Semarandana ( 8i, 8a, 8o, 8a, 8a, 8u, 8a )

–          Ginanti ( 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i )

–          Pucung ( 12u, 6a, 8a, 12a ), dll.

 

  1. 3.      Kidung atau tembang madya atau sekar madya

Di Bali ada beberapa jenis kidung diantaranya : Mayura, Jayendra, Manjangan Slawang, Palu Gangsa, Silih Asih, Sih tan pegat, Gebang Lontas, Bremara sang utpati, Singa Indra, Slopag, Basung dan Jagul Anom.

 

  1. Kekawin atau tembang ageng atau sekar ageng

Sekar Ageng meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu, pada umumnya dinyanyikan dalam upacara agama. Kekawin merupakan puisi Bali klasik berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuno. Penggunaan bahasanya banyak mengambil dasar dari puisi Sansekerta yang kemudian diterjemahkan sehingga mempunyai kekhasan sendiri. Diperkirakan Kekawin diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI. Dalam Kekawin ada empat bagian yaitu : Pengawit (penyemak), Penampi (pengisep), Pangumbang, Pemalet Kekawin. Contoh beberapa kekawin yang ada di Bali yaitu : Aswalalita, Wasantatilaka, Tanukerti, dll.

 

Vocal dalam Upacara

Penggunaan vocal atau tembang dalam upacara, selain terkait dengan lagu atau melodinya juga terkait dengan cakepan atau syairnya. Dalam pelaksanaan upacara, ada tiga bentuk sajian vocal, yaitu :

  1. Bentuk sajian tunggal

Vocal dalam bentuk sajian tunggal adalah vocal yang disajikan pada saat pelaksanaan upacara oleh seorang diri. Bentuk sajian ini dapat diiringi berupa tetabuhan atau gending. Dalam kesempatan ini penyaji mendapt ruang yang sangat bebas untuk memberikan tafsir garap, karena tidak terkait dengan gending atau tabuhan, dimana penyajiannya akan mewujudkan suasana religius.

 

  1. Bentuk sajian bersama

Vocal dalm bentuk sajian bersama adalah vocal yang disajikan oleh lebih dari seorang penyaji, dengan sajian yang sama. Sajiannya tidak terkait dengan tabuhan atau gending. Sajian vocal ataupun tabuhannya akan membentuk suasana religius.

 

  1. Bentuk sajian Mabebasan

Dalam buku Seni Mabebasan Sebagai Sumber Inspirasi Seni Budaya Bali dan Pemakaian Bahasanya (2002) menyebutkan bahwa, Mabebasan sering disebut dengan Makekawin atau Mapepaosan, Mabebasn yang mempunyai pengertian yang hamper sama. Dalam kontekstualnya Makekawin mempunyai dua pengertian yaitu : melagukan puisi atau sloka Bahasa Kawi beserta terjemahannya, pengertian yang kedua adalah melagukan sloka Bahasa Kawi disertai dengan terjemahannya dan kadang-kadang disertai dengan ulasan tergantung situasi konstektualnya. Sumber-sumber materi mebebasan antaralain dari Ramayana, Bratayudha, Arjunawiwaha, Nitisastra, Sarascamuscaya, Lawe, Tantri, Adiparwa, Bomakawya, Phartayadnya, Sutasoma, dan Gatotkacasraya.

 

Berdasarkan hasil analisis peranan vocal dapat diklarifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu :

  1. Vocal sebagai media ungkap penari

Dalam peranannya ini terdapat pada kesenian Arja dan Pegambuhan. Dimana tidak hanya terkait dengan musical saja, melainkan dapat sebagai sarana ungkap cerita yang disajikan.

 

  1. Vocal sebagai media pokok

Vocal sebagai media ungkap diantaranya terdapat pada Pejangeran dan Gong Kebyar. Dalam peranan penyajiannya, vocal merupakan satu kesatuan dengan gending atau msik yang disajikan.

 

  1. Vocal sebagai “pelengkap”

Vocal sebagai “pelengkap” diantaranya terdapat pada sajian repertoar gending Semar Pegulingan Saih Lima (pada jenis gending Pelegongan) dan Gong Kebyar. Peranan vocal yaitu mempertegas suasana yang diungkapkan, jenis vocal yang disajikan berbentuk sendon atau tandak.

 

Written by in: Tulisan |
Okt
08
2012
0

AWAL MULA GAMELAN GONG KEBYAR DI BANJAR BANGKIANGSIDEM BANGLI

AWAL MULA GAMELAN GONG KEBYAR

DI BANJAR BANGKIANGSIDEM

BANGLI

Awal mula munculnya gamelan gong kebyar dibanjar Bangkiangsidem yaitu, bermula dari pengalaman seorang seniman alam yaitu I Dewa Ketut Tegal yang ketertarikan beliau terhadap gamelan gong kebyar. Beliau merupakan seniman alam yang tidak bersekolah seperti di Kokar ataupun di ISI Denpasar yang dulunya disebut ASTI, beliau hanya bersekolah sampai jenjang tingkat SD saja. Pada waktu itu beliau mendapatkan tawaran akan diberikan gamelan gong kebyar dari puri bangli, yang bernama Anak Agung Oko, kemudian Bapak I Dewa Ketut Tegal menerima tawaran dari Anak Agung Oko tersebut, akan tetapi Bapak Anak Agung Oko itu memberikan himbawan kepada Bapak I Dewa Ketut Tegal untuk mendirikan skha atau mencari penabuh guna dipakai di banjar bangkiangsidem dan di banjar lainya yang akan memerlukan kedepannya. Beliau pun sanggup mengemban tugas yang diberikan oleh Bapak Anak Agung Oko, demi mendapatkan gamelan gong kebyar yang di tawarkan tersebut.

Gamelan Gong Kebyar di Banjar Bangkiangsidem diberikan sekitar tahun 1957. Sejak munculnya gamelan gong kebyar pada tahun 1957 yang sudah berada di banjar bangkiangsidem, Beliau langsung membentuk skha gong dengan mengajak teman- temannya di desa, setelah semuanya terkumpul, beliau mencari hari baik untuk memulai latihan menabuh, istilah balinya “Nuasen”. Hingga pada waktu itu setelah beliau menemukan hari yang baik, beliau langsung mencari gending atau tabuh yang dulunya cuma ada tabuh lelambatan klasik, beliau terus berusaha mengajar teman-temannya itu menabuh, dan pada saat itu alat untuk memukul gamelan tidak seperti panggul dijaman sekarang ini, beliau hanya memakai kayu-kayu biasa untuk memain gamelan tersebut. Hari pertama beliau mengajar nabuh, beliau memberikan tabuh telu, yang diajarkan kurang lebih selama 2 bulan , kemudian setelah gending tabuh itu selesai, beliau kembali memberikan gending atau tabuh lelambatan galang kangin, para skha gong pun mulai paham terhadap gamelan gong kebyar itu sendiri. Beliau_pun semakin mudah memberikan tabuh tersbut kurang lebih selama 1 bulan. Dan tabuh yang diberikan berikutnya yaitu tabuh selisiran, hingga dari mulai adanya gamelan gong kebyar itu sampai sekarang ini masih tetep keberadaanya di banjar bangkiangsidem. Akan tetapi gamelan gong kebyar itu yang dulunya memakai pelawah polos tanpa memakai ukiran, tetapi sekitar tahun 1985 gamelan gong kebyar tersebut diganti pelawahnya (tungguh gamelan) dengan menggunakan pelawah yang berisi ukiran yang masih sampai sekarang ini. Tidak itu pula, gending-gending atau tabuh seperti galang kangin, Tabuh Telu, dan tabuh selisiran masih dilestarikan keberadannya sampai sekarang ini. Karena  saking kerasnya kemauan beliau untuk mendirikan skha gong dan melestarikan kesenian guna untuk dipakai dalam upacara keagaman di Bali, istilah balinya, dipakai untuk ngaturang ngayah, hakirnya beliau Bapak I Dewa Ketut Tegal berhasil dan bisa tetap berkembang, terjaga dan dilestarikan sampai sekaran ini.

Adapan jenis-jenis instrumen yang terdapat pada Gamelan Gong Kebyar di Banjar Bangkiangsidem Bangli, yang terdiri dari:

  1. 10 (sepuluh) buah gangsa berbilah (terdiri dari 2 giying/ugal, 4 pemade dan 4  kantilan)
  2. 2 (dua) buah jegoan berbilah 5
  3. 2 (dua) buah jublag atau calung berbilah 5
  4. 2 (dua) buah penyacah berbilah 7
  5. 1 (satu) tungguh reyong berpencon 12
  6. 1 (satu) tungguh terompong berpecon 10
  7. 2 (dua) buah kendang besar (lanang dan wadon)
  8. 1 (satu) buah ceng ceng ricik
  9. 8 (delapan) buah ceng ceng kopyak
  10. 2 (dua) buah gong besar (lanang dan wadon)
  11. 1 (satu) buah kempur
  12. 1 (satu) buah babende (gong kecil bermoncong pipih)
  13. 1 (satu) buah kempli (semacam kajar)
  14. 6 (Enam) buah suling bambu (suling kecil 1 dan suling besar 5)
  15. 1(satu) buah kemong

 

Written by in: Tulisan |
Okt
08
2012
2

BIOGRAFI SENIMAN I DEWA GEDE DARMAYASA.S.S.Kar.,M.Fil.H

Biografi

Seniman

I Dewa Gede Darmayasa,S.S.Kar.,M.Fil.H

Bapak I Dewa Gede Darmayasa merupakan tokoh seniman yang menggelututi bidang Karawitan, dimana beliau berasal dari keluarga kurang mampu. Sejak SD sampai perguruan tinggi biaya pendidikan di upayakan sendiri. Saat SD setiap pulang sekolah beliau selalu ke sungai mencari pasir atau batu untuk dijual dan hasilnya dipakai keperluan sekolah. Ketika SMP beliau memelihara bebek dan jika liburan ikut orang tuanya bekerja sebagai buruh bangunan. Kemudian beliau melanjutkan sekolah ke SMKI disana beliau tidak lagi bisa mencari uang sendiri, tetapi beliau beruntung bisa tinggal bersama salah seorang tokoh masyarakat dari Bangbang yang peduli dengan pendidikan sehingga segala pendidikan sekolah diberikan oleh beliau dan kebetulan juga mulai semester  1 s/d terakir tidak bayar SPP karena mempunyai orang tua Veteran.  Mulai tahun 1986 beliau kuliah di STSI, kebetulan beliau juga mendapatkan Biasiswa Supersemar. Hampir setiap malam jika tidak ada pegelaran dikampus, beliau mencari tambahan penghasilan dengan megambel rindik dan gender wayang di hotel daerah kuta dan sanur.

PENDIDIKAN

NO        PENDIDIKAN         JURUSAN        TEMPAT     NO. IJASAH/TAHUN
12

3

4

5

6

 

7

SDSMP

SMKI

STSI (S1)

IKIP (AKTA IV)

DIKLATPRAJAB

 

IHDN (S2)

Karawitan

Karawitan

Karawitan

Brahmawidya

Bangbang

Tembuku

Denpasar

Denpasar

Singaraja

Denpasar

Denpasar

XIV.A.a.27684/1971XIXOB ob 0372171/1982

19 OC op 0000024/1986

302/STSI/A.09/XXI/1990

163/K.16.9./PP/AM/2003

32006/DIKLAT PRAJAB/III/1.22/LAN/2010

Inh.01.11/1/PP.00.9/S.2/1/0149/2010

 

 

Beberapa pengalaman Bapak I Dewa Gede Darmayasa sebagai seniman Karawitan:

I.  PEKERJAAN

  1. Tahun 1991 s/d 2005, Guru tidaK di SMP Sila Candra Batubulan Giayar
  2. Tahun 1991 s/d 2010, Guru tidak tetap di SMK N 3 Sukawati
  3. Tahun 2003 s/d 2004, Guru tidak tetap di SMK N 5 Denpasar
  4.  Tahun 2006 s/d 2010, Guru tidak tetap di SMK N Kubu Bangli
  5.  Tahun 2005, CPNS di Disbudpar Bangli
  6.  Tahun 2006, PNS di Disbudpar Bangli
  7.  Tahun 2009, Guru di SMK N 2 Bangli.

II.  KUNJUNGAN ( Misi Kesenian Bali ) Keluar Negeri

  1. Tahun 1987 Ke India bersama STSI Denpasar
  2. Tahun 1993 ke Korea bersama STSI Denpasar
  3. Tahun 2001 ke Taiwan bersama dalang sukawati
  4. Tahun 2003 ke Jepang bersama Sanggar Lingga Asri Giayar
  5. Tahun 2006 ke Malaysia bersama Sanggar Pelangi Budaya Nusantara Denpasar
  6. Tahun 2007 ke Korea bersama Pemda Bangli
  7. Tahun 2007 ke Portugal dan Spayol bersama disbud Provensi Bali
  8. Tahun 2010 ke Cina bersama Disbud Provensi Bali

III.  SURAT KETERANGAN/SERTIFIKAT/PENGHARGAAN

  1. Piagam penghargaan Dapertemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dalam penyusunan standar Kopetensi nasional Karawitan Bali, tahun 2004
  2. Surat Keterangan Majelis Pendidikan Kejujuran Nasional dalam rangka penyeragaman Standar Kopetensi Nasional Program Keahlian Karawitan Bali,2005
  3. Sertifikat Majelis Pendidikan Kejujuran Nasional Sebagai teknisi bidang lomba Seni Pedalangan, Promosi Kopetensi Siswa SMKTingkat Nasional III, Tahun 2005
  4. Sertifikat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai Peserta dalam rangka Sosialisasi Internasional Standard Book Number Internasional Standard Music Number, tahun 2005
  5. Piagam Penghargaan sebagai Peserta Sarasehan Nasional wayang Kulit PKB XV, Tahun 1993
  6. Piagam Penghargaan sebagai Peserta Sarasehan Sastra daerah Dalam Rangka bulan Bahasa, Tahun 1994
  7. Sertifikat sebagai Peserta dalam Lokakarya Pembangunan Berlanjut Kabupaten Bangli, Tahun 2005
  8. Piagam Penghargaan sebagai Peserta Seminar dengan tema Galungan Naramangsa Dalam Perspektif Tattwa dan Wariga, 2005
  9. Penghargaan sebagai Peserta Dalam Rangka Kongres Kebudayaan Bali I, Tahun 2008
  10. Certificate Rejigius Ninistry R.I. post Graduate Program Of Denpasar State Hindu Dharma Institute Brahmawijaya studi program, Participan in a International seminar with the theme of “Bali as place of the spritual cultural conservation” 2010
  11. Penghargaan Panitia Penyelenggara Pesta Kesenian Bali XXXII, Tahun 2010, sebagai Peserta Sarasehan Diplomasi Budaya dan menimbang Langkah Bijak
  12. Tanda Penghargaan Sebagai Penata Tabuh Kreasi dan Sandya Gita PKB, Tahun 1991
  13. Tanda Penghargaan Sebagai Penata Tabuh Lelambatan, Sandya Gita PKB, Tahun 1992
  14. Tanda Penghargaan Sebagai Pembina Gong Kebyar wanita, Tahun 1993
  15. Tanda Penghargaan Sebagai Pembina Sendratari Gatot Kaca Makrangkeng, Tahun 1993
  16. Tanda Penghargaan Sebagai Pembina Sendratari Watugangga, Tahun 1993
  17. Tanda Penghargaan Sebagai Pembina Gong Kebyar dan Sandya Gita, Tahun 1993
  18. Tanda Penghargaan Sebagai Pembina Gong Kebyar, Tahun 1994
  19. Tanda Penghargaan sebagai Penggarapan Sendratari  Dempu Awang, Tahun 1995
  20. Tanda Penghargaan Sebagai Penggarapan Sendratari Ni Dukun Sakti dan Lahirnya Hanoman, Tahun 1996
  21. Tanda Penghargaan Penggarapan Tabuh Kontemporer, Tahun 1997
  22. Tanda Penghargaan Sebagai Penata Tabuh dalam Sendratari Dalem Samprangan, Tahun 2000
  23. Penghargaan Sebagai Penata Tabuh Dalam Rangka Pembukaan PKB XXIV, Tahun 2002
  24. Piagam Penghargaan sebagai Penata Musik Unggulan Parade Tari Nusantara Taman Mini Indonesia Indah, Tahun 2007
  25. Piagam Penghargaan sebagai Penata Tabuh Worshop Tari Sekar Sandat, Tahun 2008
  26. Piagam Penghargaan sebagi Juri Bangli Festival se-Bali ke 3, Tahun 2008
  27. Piagam Penghargaan sebagai Juri Bangli Barong Festival, Tahun 2009
  28. Piagam Penghargaan sebagai Juri Festival Mapang Barong Dewaswa Melampahan se-Bali dan Anak-anak se-Bali, Tahun 2010

 

IV.  Karya Seni (Hasil Ciptaan Sebagai Penata Karawitan)

  1. Tabuh Iringan Pragmen tari Tantri, PKB 1986
  2. Sandya Gita Bali Lestari, PKB 1986
  3. Tabuh Pat Lelambatan Nawa Ratih, PKB 1987
  4.  Gegitaan Demung Agor, PKB 1988
  5. Sandya Gita Sapta Pesona, PKB 1989
  6. Tabuh Kreasi Serdah, PKB 1990
  7. Tabuh Kembang Pegringsingan, STSI 1990
  8. Tabuh Kreasi Bajra Kasturi, PKB 1991
  9. Sandya Gita Jayanti, PKB 1992
  10. Tabuh Iringan Sendratari Gatotkaca Mekrangkeng, PKB 1993
  11. Tabuh Iringan Sendratari Watugangga, PKB 1993
  12. Tabuh Iringan Sendratari Dempu Awang, PKB 1995
  13. Tabuh Iringan Sendratari Lahirnya Gatotkaca, PKB 1995
  14. Tabuh Iringan Sendratari Ni Dukun Sakti, PKB 1996
  15. Tabuh Iringan Sendratari Lahirnya Hanoman, PKB 1996
  16. Tabuh Kontemporer, PKB 1997
  17. Gegitaan Rampe Wangi, PKB 1997
  18. Tabuh Lelambatan Suduk Maru, PKB 1998
  19. Pragmen Tari Ki Sliksik Kinarantaka, PKB 1998
  20. Gegitaan Caruk, PKB 1998
  21. Tabuh Iringan Sendratari Dalem Samprangan, PKB 2000
  22. Pesantian, PKB 2001
  23. Tabuh Iringan Tari Masatya, Parade Tari Nusantara TMII 2001
  24. Tabuh Kreasi Agor Semaya, PKB 2002
  25. Tabuh Telu Lelambatan Kedongdong Madu, PKB 2002
  26. Dolanan Megayung Tagor, PKB 2002
  27. Tabuh Iringan Tari Legong Calonarang, PKB 2003
  28. Tabuh Iringan Tari Baris Kincang-kincung, PKB 2003
  29. Taman Penasar Trompong Beruk, PKB 2005
  30. Tabuh Iringan Tari Sekar Sandat, HUT Bangli 2006
  31. Tabuh Iringan Tari Kang Cing Wi, Parade Tari Daerah TMII 2007
  32. Dolanan Mebebean, PKB 2007
  33. Tabuh Iringan Tari Merak Angelo, Taman Budaya 2007
  34. Tabuh Iringan Tari Kantawali Madu, PKB 2008
  35. Dolanan Metaluh-taluhan, PKB 2009
  36. Tabuh Iringan Tari Angsa Umiber, PKB 2010
  37. Tabuh Iringan Tari Ardanareswari, Parade Tari daerah TMII 2010
  38. Gegitaan Ciwa Lingga PKB 2011
  39. Dolanan Mebuncul-bunculan PKB 2011
  40. Iringan Tari Kreasi PKB 2011
  41. Iringan Tari Kreasi Pelegongan PKB 2012
  42. Dolanan Ngunda Batu PKB 2012

 

Eksistensi Beliau sebagai seoarang pembina masih sampai sekarang, dimana Beliau merupakan seorang seniman yang sangat dihormati, karena Beliau merupakan salah satu seoarang tokoh seniman yang membawa atau mengajegkan seni khususnya di Kabupaten Bangli. Dewasa ini Beliau sedang menekuni gamelan  slonding, gender wayang, dan Gambang yaitu bertujuan untuk upacara yadnya atau istilah Balinya ngayah. Karena menurut Beliau, sebagai seorang seniman setidaknya bisa ngaturang ayah kepada Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, supaya kita sebagai seorang seniman dikaruniai keselamatan, kedamain hati, dan ketenangan lahir bathin.

 

Written by in: Tulisan |
Mei
22
2012
0

Komentar video Kumara Bhakti Budaya Br.Teba, Jimbaran

YouTube Preview Image

Komentar  video Kumara Bhakti Budaya Br.Teba, Jimbaran

 

Setelah saya amati video ini dari mulai awal sampai selesai, dalam pementasan tabuh tersebut yang pertama yaitu, Kostumnya terlalu menjolok,Tata cahayanya kurang baik begitu pula gerakan atau gayanya kurang kompak dan masih juga ada yang tidak menjiwai dalam mementaskan tabuh tersebut, dalam artian kurang ekpresi. Begitu pula dalam barungan yang di gunakan suara jublag, jegogan,kempur,kempli dan melodinya tidak seimbang suaranya dengan pemade,kantilan dan reongnya.Tetapi setelah saya amati itu tidak terlalu menjadi kendala karna tidak terlalu menjolok tidak kedengaran. Tetapi dalam pementasan tabuh ini yang paling patal yaitu suara Rebabnya sama sekali tidak terdengar, apa gunanya kalau seperti itu, mendingan tidak usah memakai rebab, karna setiap semua  pementasan gong kebyar selalu rebab itu tidak kedengaran. Tetapi dari teknik permainanya penabuh anak-anak ini sudah sangat bagus dan layak di beri penghargaan.

Sekian komentar dari saya, Terimakasih.

 

Written by in: Tak Berkategori |
Apr
24
2012
0

GAMELAN GAMBANG DEWA YUDHA

GAMELAN GAMBANG

 

 

 

Gamelan gambang beserta gending-gendingnya termasuk golongan tua, yang pada dasarnya merupakan perwujudan ekspresi yang diimplementasikan melalui bentuk jalinan-jalinan nada yang dijiwai nilai-nilai estetis, religius dan sosial. Di samping itu gamelan ini juga merupakan media komunikasi dari umat Hindu kepada Tuhan. Sejak awal pertumbuhannya sampai pada tingkat perkembangan dewasa ini, gambang selalu dimainkan dalam suatu proses ritual sebagai media persembahan dan sarana upacara di dalam kehidupan keagamaan masyarakat Hindu di  Bali. Untuk itu sangatlah penting untuk diketahui dan diteliti mengenai keberadaan gamelan gambang tersebut. Penelitian ini membahas mengenai: (1) Bagaimanakah Bentuk Gamelan Gambang dalam upacara Pegingsiran Ratu Pingit di Desa Pakraman Pengotan?, (2) Bagaimanakah Nilai Estetis Gamelan Gambang dalam upacara Pegingsiran Ratu Pingit di Desa Pakraman Pengotan?, dan (3) Aspek Teologis apakah yang tertuang dalam Gamelan Gambang dalam kaitannya dengan upacara Pegingsiran Ratu Pingit di Desa Pakraman Pengotan Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli ?

Permasalahan tersebut di atas dibedah dengan mempergunakan: (1) teori fungsionalisme-struktural, (2) teori estetika, dan (3) teori simbol. Penelitian ini yang mendeskripsikan tentang gamelan gambang dalam upacara pegingsiran ratu pingit, digali dengan studi lapangan dan studi kepustakaan. Sumber data  yang di pergunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data tersebut dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, studi dokumen, dan studi kepustakaan, kemudian diolah secara kualitatif dan dekonstruksi dengan menggunakan pendekatan konstruktivis.

Secara ringkas hasil analisis yang diperoleh dapat disimpulkan ke dalam beberapa pokok pikiran sebagai berikut: bentuk gamelan gambang, terbuat dari dua jenis bahan yaitu: kerawang dan bambu. Instrumen saron terbuat dari perunggu sedangkan instrumen rindik gambang terbuat dari bambu. Semua instrumen berbentuk bilah dengan pelawah dari kayu berbentuk peti dan menggunakan laras pelog tujuh nada. Komposisi lagunya terdiri dari palet I, II, III dan IV yang dituangkan kedalam beberapa saih.

Nilai estetis gamelan gambang meliputi pengalaman estetis yang dirasakan oleh umat Hindu warga Desa Pengotan ke dalam irama gamelan gambang dalam upacara pegingsiran Ratu Pingit. Pengalaman estetis meliputi memproyeksikan perasaan ke dalam gamelan gambang, mengimajinasikannya bahwa melalui gamelan tersebut dapat menghubungan diri dengan Tuhan, sehingga masyarakat mengalami rasa kesenangan dan kebahagiaan.

Aspek teologis gamelan gambang merupakan aspek yang dapat dilihat ketika seorang juru Gambel mendemontrasikan permainan lagunya “Magambel” dihayati sebagai kebaktian (Sembahyang), secara empiris komunikasi trasendental dapat dirasakan pada dunia immanent. Seorang Penikmat menerima getaran spiritual dapat menikmati kebahagiaan tertinggi. Fenomena ini dimungkinkan terjadi karena adanya paradigma komunikasi vertikal  antara seorang Juru Gambel dengan Sang Pencipta. Komunikasi ini terjadi dengan adanya instumentalia Gamelan Saih Pitu sebagai media Suaraning Genta Pinara Pitu yang merupakan sumber bermusik. Dalam hal ini gamelan gambang adalah sebagai Nyasa dari suara Suaraning Sapta Omkara.  Gamelan gambang  yang berlaras Pelog Sapta Nada, dapat melakukan tugas-tugas nada dalam instumen tersebut seperti laras Pelog dan Selendro. Pelog Panca Nada melambangkan Sang Hyang Panca Tirtha, Selendro Panca Nada melambangkan Sang Hyang Panca Geni. Sang Hyang Panca tirtha melambangkan dari purusa (I Bapa, Smara) Sang Hyang Panca Geni melambangkan Prakerti (I Meme, Ratih). Am  dan Ah melambangkan Sang Hyang Rwa Bhineda. Panunggalan Sang Hyang Rwa Bhineda menjadi Om. Seluruh barungan ini sebagai Nyasa dari Panunggalan seluruh suara itu yang menjadi OM.

 

 

Written by in: Tulisan |

Powered by WordPress | Theme: Aeros 2.0 by TheBuckmaker.com