Baleganjur Bebarongan

Juli 18th, 2018

Sejarah Baleganjur

Gamelan Baleganjur pada awalnya difungsikan sebagai pengiring upacara ngaben atau pawai adat dan agama.Tapi dalam perkembangannya,sekarang peranan gamelan ini makin melebar.Kini gamelan baleganjur dipakai untuk mengiringi pawai kesenian,ikut dalam iringan pawai olah raga,mengiringi lomba laying-layang,dan ada juga yang dilombakan.
Baleganjur adalah sebuah ensamble yang merupakan perkembangan dari gamelan bonang atau bebonangan.Baik dari segi instrumentasinya maupun komposisi lagu-lagunya.
Bonang atau bebonangan adalah sebuah barungan yang terdiri dari berbagai instrument pukul(percussive) yang memakai pencon seperti reong,trompong kajar,kempli,kempur,dan gong. Gamelan bonang memakai dua buah kendang yang dimainkan memakai panggul cedugan. Dalam lontar Prakempa disebutkan bahwa gamelan bonang dipakai untuk mengiringi upacara ngaben.Sama kasusnya dengan gamelan baleganjur yang pada umumnya dipakai untuk mengiringi upacara ngaben.  Disamping itu gamelan baleganjur juga bisa digunakan untuk upacara dewa yadnya dan buta yadnya.

Sejarah Gamelan Semara Pegulingan Banjar Sanding Bitra

Juli 18th, 2018

Gamelan semar pegulingan di banjar Sanding Bitra ini terlahir dari gagasan seorang donatur yang ingin memberikan seperangkat gamelan semar pegulingan pada tahun 2000. Maka pengurus banjar pun bergegas segera berangkat ke seorang pande yang berada di  desa Tiingan tepatnya di kabupaten Klumgkung. Selama enam bulan proses pembuatan akhirnya gamelanpun datang dan hanya berupa bilah dan pencon saja. Pelawah dan yang lainnya dibuatkan di sebuah gudang yang diukir oleh salah satu seniman yang berada di banjar sanding bitra. Proses pembuatan pelawahnya pun cukup lama yaitu sekitar tiga bulan dengan proses yang berat dan membutuhkan banyak bahan berupa kayu dan lainnya. Setelah pelawahnya selesai barulah bilah dan pencon dirakit. Karena krama banjar tidak mengerti dengan nada dan laras gamelan, maka dicarilah seorang pelatih. Setelah datangmya pelatih diketahui bahwa nada dan laras gamelan berbeda dengan pakem gamelan semar pegulingan pada umumnya, maka pelatih menyarankan untuk dilaraskan kembali kesalah satu pande yang berada di Blahbatuh.

Sejarah Gamelan Semara Pegulingan Banjar Sanding Bitra

Juli 18th, 2018

Gamelan semar pegulingan di banjar Sanding Bitra ini terlahir dari gagasan seorang donatur yang ingin memberikan seperangkat gamelan semar pegulingan pada tahun 1995. Maka pengurus banjar pun segera berangkat ke seorang pande yang berada di  desa Tiingan tepatnya di kabupaten Klumgkung. Selama enam bulan proses pembuatan akhirnya gamelanpun datang dan hanya berupa bilah dan pencon saja. Pelawah dan yang lainnya dibuatkan di sebuah gudang yang diukir oleh salah satu seniman yang berada di banjar sanding bitra. Proses pembuatan pelawahnya pun cukup lama yaitu sekitar tiga bulan dengan proses yang berat dan membutuhkan banyak bahan berupa kayu dan lainnya. Setelah pelawahnya selesai barulah bilah dan pencon dirakit. Karena krama banjar tidak mengerti dengan nada dan laras gamelan, maka dicarilah seorang pelatih. Setelah datangmya pelatih diketahui bahwa nada dan laras gamelan berbeda dengan pakem gamelan semar pegulingan pada umumnya, maka pelatih menyarankan untuk dilaraskan kembali kesalah satu pande yang berada di Blahbatuh. Setelah selesai melaraskan gamelan, gamelan pun segera diserahkan oleh bapak Made Nuja (alm) selaku donatur pembuatan gamelan. Dan mulai saat itu krama banjar Sanding Bitra mulai berlatih gamelan semara pegulingan yang dilatih oleh seniman yang berasal dari Ubud.

 

GENJEK RENGGANIS

Juli 17th, 2018

Menurut saya rengganis adalah susunan vocal-vocal yang saling beraturan dengan berbagai kata-kata yang akan menimbulkan vocal yang sangat kuat. Yang saya ketahui dari kesenian rengganis, pada satu orang dengan orang yang lain nya olahan vocal nya berbeda beda dan juga masing masing orang memiliki karakter vocal yang berbeda-beda. Dalam kesinian rengganis ini, tidak alat music lainnya yang masuk kedalam kesenian rengganis ini. Lain sama hal nya dengan kesenian tradisi yang lainnya seperti genjek dan cekepung yang menggunakan alat instrument sebagai pembantu. Selain itu yang saya ketahui tentang kesenian rengganis adalah kesenian rengganis ini berasal dari desa pengelatan kabupaten buleleng. Dan juga dalam kesenian rengganis ada yang nama nya pupuh, pupuh yang saya ketahui dalam kesenian renganis yaitu pupuh dangdang gendis yang menjadi pupuh religius masyarakat bali. Kesenian rengganis ini muncul pada tahun 1940 yang biasanya di pentaskan saat musim panen.

2. CEKEPUNG
Menurut saya cekepung adalah sebuah teater bertutur bali yang berasal dari daerah bali dan Lombok. Yang saya ketahui dari kesenian cekepung ini adalah dalam kesenian cekepung ini instrument yang masuk kedalam kesenian cekepung ini yaitu suling dan rebab. Cekepung juga memiliki olahan vocal yang beraturan dan kuat. Dalam kesenian cekepung ini salah satu pemain nya membacakan buku suci atau yang di sebut lontar dengan cara bacanya yang di sebut wirama. Vocal dalam kesenian cekepung saling bersahutan meniru suara gamelan seperti kendang ketuk dan gong sambari menggerakan tangan. Yang saya ketahui tentang kesenian cekepung adalah cekepung berasal dari daerah karengasem.

3. GENJEK
Meurut saya genjek adalah olahan vocal yang menjadi sumber bunyi utama yang diringi dengan instrument yang berasal dari daerah karangasem yaitu instrument penting dan instrument suling dan kecek cenik dan ada juga instrument seperti tawa-tawa/kajar yang bunyi nya “tuk”. Olahan vocal genjek menjalin suara ritmis yaitu “ sak, pak, byong ces, cut” seperti yang di bawakan oleh “ sekaa genjek stress ” dari desa jasri kabupaten karangasem.

SEJARAH BARIS SAKRAL

Juli 17th, 2018

Tari Baris adalah tari Bali yang menggambarkan ketangkasan pasukan. Sebagai tarian upacara, sesuai dengan namanya “Baris” yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Hal yang unik dari tari Baris Keraras adalah iringannya dengan menggunakan musik vokal dan kostummnya (celana, baju, dan gelungan) terbuat dari pelepah pisang, dihiasi dengan satai lilit dan kekuwung dari kulit babi, awir dari keraras, badong dan gelang kana dari urutan babi, dan hiasan muka dari kapur yang dibasahi.
Dahulu timbul suatu permasalahan , yakni bendungan/tanggul telaga Taman Ayun, mengalami jebol, setelah diperbaiki jebol kembali, maka itulah Raja Mengwi Cokorda Nyohman Mayun memohon kehadapan Bhatara di pucak Bukit Pangelengan, dengan melakukan tapa brata yang sangat teguh, maka dalam yoganya datang orang-orang laki yang berpakaian serba aneh, yakni memakai daun pisang kering “keraras“. Lalu salah seorang berkata, ” Ai, cucuku Raja Mengwi, apa tujuan cucuku, datang menghadap ke tempat ini? katakanlah dengan kesungguhan dan kejujuran”.