TARI BARIS DI SAKRAL

This post was written by putrasanjaya on Juli 11, 2014
Posted Under: Tak Berkategori

    fghjk Para penari Baris Sakral yang ada di Desa Adat Penglipuran, yang terdiri dari penari Baris Jojor berjumlah enam belas orang, mereka adalah anggota masyarakat yang belum kawin yang bergabung dalam organisasi Sekha Teruna Teruni. Penari Baris Presi berjumlah 4 orang, sedangkan keanggotaan Sekha penari Baris Presi ini berjumlah 12 orang dan mereka adalah yang sudah berkeluarga, tetati bersetatus pengayah pengerob. Penari Baris Bedil berjumlah 16 orang, dan keanggotaan Sekha Baris Bedil ini berjumlah dua puluh orang. Mereka adalah sudah berkeluarga, tetapi bersetatus pengayah pengerob. Disamping pengayah pengerob untuk Penari Baris Presi dan Baris Bedil dapat juga ditarikan oleh “pengayah pengarep” yang memang mempunyai bakat sebagai penari Baris tersebut. Para penabuh juga dilakukan oleh masyarakat itu sendiri baik pengayah pengerob maupun penggarep yang memang mempunyai bakat atau kehalian sebagai penabuh yang jumlahnya 40 orang yang biasanya disesuaikan dengan jumlah perangkat gambelan yang ada. Adapun jenis tari-tarian sakral yang ada di Desa Adat Penglipuran: 1) Tari Baris Jojor adalah tari Baris yang di tarikan oleh sekha Teruna atau mereka yang belum berkeluarga atau belum kawin dengan bersenjataan jojor atau tombak dan biasanya si tarikan oleh 16 orang. 2) Tari Baris Bedil adalah tari Baris yang di tarikan oleh orang yang sudah berkeluarga atau sudah kawin yang bersenjataan bedil yang terbuar dari kayu yang menyerupai bedil. Tari Baris Bedil biasanya ditarikan oleh 16 orang Penari Baris Bedil. 3) Tari Baris Presi adalah tari Baris yang ditarikan oleh orang yang sudah berkeluarga atau sudah kawin, Tari Baris Presi ini para penarinya menggunakan Presi sebagai senjata, yang ditarikan oleh 4 orang penari Baris Presi. Jenis tarian Baris tersebut di atas adalah merupakan tari-tarian sakral yang hanya dapat ditarikan oelh orang laki-laki saja, yang dalam pementasannya diiringi dengan gambelan gong gede oleh Sekha gong Desa Adat Penglipuran.

   Adapun upaya pelestarian melalui sistem regenerasi ekspresi seni dimaksud dilakukan oleh Desa Adat Penglipuran sebagai sebuah pementasan nilai spiritualitas masyarakatnya adalah melalui: 1) Membentuk Sekha-Sekha tari Baris sakral yang keanggotaannya diambil dari Tari Baris sakral. Di samping itu, penari Baris dapat juga diambil dari pengayah pengerob, bagi mereka yang mempunyai bakat sebagai penari Baris. 2) Dengan membentuk sekha gong sebagai pendukung pementasan tari sakral, keanggotaannya diambil dari pengayah pengayah pengerob yang memang wajib untuk menjadi anggota sekha gong. Di samping itu, juga dapat diambil dari pengayah yang menekuni seni tabuh atau gambelan gong gede.

   Di samping membentuk sekha-sekha tari Baris dan sekha gong pementasan tari-tarian sakral tersebut, di beberapa tempat lainnya sebagai desa bebanuan, Desa Adat Penglipuran, yaitu di Desa Bayung Gede Kecamatan Kintamani dan Desa Adat Sulahan, Kecamatan Susut. Pementasan ini sebagai bentuk ekspresi seni keagamaan (seni sakral) agar keberlanjutannya dapat tetap dipertahankan hingga saat ini. Ini berarti sistem regenerasinnya memalui jalur informal dan non-informal khususnya melalui ranah tradisi adat Desa Penglipuran. Awig-awig adat telah memberikan rambu-rambu tranformasi nilai seni keagamaan ini secara hukum adat, sehingga memiliki kekuatan dalam pembinaan generasi muda untuk menekuni seni keagamaan ini. Dalam konteks teori estetika Hindu Bali, maka transformasi nilai seni keagamaan akan sampai pada kepuasan estetik jika telah terjadi keselarasan antara irama,gambelan,tenaga,penghayatan atas peran,dialog dan ekspresi atau karakter tokoh yang diperankan. Sebagai penumbuh kekuatan semua itu di landasi oleh konsep tiga wisesa, yakni satyam,siwam,sundaram; sebuah keindahan yang suci (penghayatan kepada kepada yang Maha Pencipta) dan secara etika benar atau mengandung kebenaran (pesan). Ketika konsep ini merupakan totalitas estetika yang tidak hanya menyentuh aspek estetika ragawi (fisik) namun juga estetika metafisik. Di situlah seni sebagai sarana pemujaan kepada dewa keindahan yang abadi (Tuhan) untuk mencapai hubungan yang seimbang secara kosmologi. Sang seniman melakukan kontemplasi estetik untuk dapat memohon kekuatan atas peran yang dimainkan, sehingga karakter tokoh yang dimainkan menjadi lengut,adung,pangus,serta mataksu. Inilah konsep sistem transformasi nilai seni keagamaaan yang sesungguhnya penting untuk ditularkan malaui tradisi adat khususnya awig-awig sebagaimana yang terjadi di Desa Adat Penglipuran itu. Tari Baris Sakral yang ada di Desa Adat Penglipuran ada tiga jenis, yaitu Tari Baris Jojor,Tari Baris Presi dan Tari Baris Bedil. Ketiga tari Baris tersebu adalah berfungsi sebagai tari penyelenggaraan upacara dewa yadnya.Pementasan Tari Baris Sakral yersebut disamping memperlihatkan unsur seni tari, juga tidak kalah pentingnya bahwa semua jenis tari Baris sakral itu dalam pungsinya sebagai tari penyelenggara upacagra dewa yadnya adalah pempunyai nilai-nilai spiritual yang sangat dalam, bahwa antara pementasan tari baris sakral dengan plaksanaan upacara dewa yadnya sebagai satu kesatuan yang utuh. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu pungsi musik dan tari dari deretan fungsi itu dapat ditegaskan , yakni fungsi persembaha simbolis dan fungsi upacara tampaknya tepat sekali untuk menyimak fungsi Baris sakral di Desa Adat Penglipuran. Funsi ini tetap di perhatika sekarang ini, meskipun penglipuran telah menjadi daerah tujuan wisata. Untuk meneskan pendapat Soedarsono ( 1985:18)yang mengatakan bahwa di Bali perkembangan rittual seni pertunjukan terjadi perubahan, seperti tari pendet dan tari abor yang fungsi aslinya adalah tari yang agak sakral untuk para dewa dan dipertunjukan dibagianpaling dalam dan suci, karena pengaruh pariwisata tambah fungsinya menjadi tari penyambutan untuk tamu-tamu agung. Sekali lagi dapat digarisbawahi bahwa kusus tari Baris sakral ini ternyata tidak demikian, sebab fungsinya semula masih dipertahankan sampai sekarang. Setiap anggota masyarakat yang sebagai pendukung pementasan Tari Baris Sakral, adalah juga tidak dapat dipisahkan dengan sakaa tubuh atau mereka yang memainkan gambelan sebagai pengiring setiap jenis tari Baris yang akan di dipentaskan.Setiap pendukung pementas tari Baris Sakraltersebut mempunyai sati keinginan untuk ngaturangayah sebagai perwujudan rasa bakti ke pada Tuhan Yang Maha Esa dalam kaitannya dengan pelaksanaan upacara Dewa Yadnya, sehingga baik penari maupun penabuh dengan sendirinya mereka terlibat dalam proses upacara melestarikan nilai-nilai spiriyual dari Tari Baris Sakral yang ada. Ini berarti fungsi tari Baris Sakral tersebut sebagai wahana pemujaan kepada Tuhan, khususnya pada waktu upacara piodalan.Fungsi sosiaal Baris sakral penekanannya ada beberapa aspek di luar struktur intrinsik, namun menjadi inti dari karya seni. Oleh karena Baris sakral ;itu di pentaskan, maka pementasan tentu melibatkan beberapa aspek sosial diluar seni. Sebagai sebuah kesenian Bali secara fungsional dapat olongkan menjadi tiga kelompok, yaitu, (1)tari wali(sacred religius dance.).(2)tari bebeli(ceremonical dance),dan (3)tari balih-balihan (secular dance Untuk itu Anthony Shay sebagaimana dikutip Bandem(1996:28)menyebutkan enam fungsi tari, yakni pertama, tari sibagai refleksi dan validasi organisasi sosial.

sumber : Buku sejarah tari baris

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address