Pura Pucak Tedung

This post was written by putraaryasa on Juni 20, 2014
Posted Under: Tak Berkategori

PURA PUCAK TEDUNG

ysdsPura Pucak Tedung terletak di siatu dataran tinggi yang berada di wilayah Desa Adat Kerta, Desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Oleh karena dataran pegunungan ini sangat tinggi maka di sebut “pucak” pada bagian yang tertinggi. Dari Denpasar, lokasi pura Pucak Tedung berjarak kurang lebih 30 km ke arah utara. Apabila kita berada di halaman pura, kita akan menikmati keindahan panorama berupa pemandangan yang sangat indah di sekeliling pura Pucak Tedung tersebut, baik di sebelah timur, barat, selatan, maupaun dari sebelah utara. Di sebelah barat akan terlihat kendaraan lalu lalang dari arah Denpasar menuju Singaraja lewat Bedugul, demikian juga sebaliknya. Dan kalau kita menoleh ke arah selatan aka  kelihatan membentang suatu pemandangan sangat indah dan di malam hari akan kelihatan gemerlap lampu-lampu hatel besar antara lain Bali Beach, Sanur Beach maupun hotel-hotel berbintang yang ada di kawasan Nusa Dua. Demikian juga di sebelah timur dan utara pura kelihatan lekuk-lekuk pegunungan yang memukau hati. Pura Puncak Tedung sampai saat ini belum di kelilingi oleh tembokpenyengker, hanya di batasi oleh pepohonan yang di tata rapi dan indah. Ada suatu kepercayaan masyarakat pengemong pura tidak berani membangun tembok penyengker, karena tanpa di tembok pura tersebut dianggap sudah sangat suci dan luhur karena berada di dataran tinggi. Lokasi pura terdiri dari tiga halaman atau disebut juga Tri Mandala yaitu adanya Utama Mandala atau Jeroan Pura, adanya Madya Mandala atau Jaba Tengah Pura, dan terakhir adanya Nista Mandala yang disebut juga Jaba Sisi Pura.  Adapun luas lokasi pada Utama Mandala 730,77 m2 dengan ukuran panjang dari timur ke barat 27,37 meter dan lebar dari utara ke selatan26,70 meter. Pada Madya Mandala terdapat tiga bangunan yaitu Bale Ketongan atau Bale Kulkul, Bale Pengubengan atau Bale Panggung dan Bale Sakapat Kecil. Di lokasi Nista Mandala atau Jaba Pura hanya terdapat sebuah Bale Sakakutus.

SEJARAH PURA

Secara harfiah “pucak” berarti ujung tertinggi dari sebuah dataran tinggi, “Tebung” adalah semacam “payung”. Jadi kata “Pucak Tedung” berarti “Ujung Payung”. Entah kenapa Pura ini diberi nama demikian. Sumber-sumber yang lengkap dan pati belum di temukan untuk mengungkap sejarah pura ini. Namun secara mithilogi dalam Lontar Dwijendra Tattwa ada disebut sebagai berikut: Sekitar tahun 1460-1550 Masehi pada saat pemerintahan Dalem Waturenggong yang Berkeraton di Gelgel Klungkung, keadaan Pulau Bali sangat subur, aman, rukum. Hmpir tidak pernah ada masalah atau kasus yang berarti di kalangan orang-orang Bali berkat kepemimpinan Dalem Waturenggong yang arif bijaksana. Dalam hubungan inilah sekitar tahun 1489 Masehi, Isaka 1411 datanglah ke Pulau Bali seorang Pandita, sastrawan dan rohaniawan yang bernama Danghyang Dwijendra. Beliau adalah seorang pandita Hindu kalahiran Kediri Jawa Timur. Pada saat walaka, beliau bernama Danghyang Niratha. Setelah menikah dengan istri pertamanya dari Daha Jawa Timur serta bernabe dan diniksan oleh mertuanya di Daha, Danghyang Niratha dianugerahkan bhiseka kawikon engan nama Danghyang Dwijendra.  Setelah diniksan oleh mertuanya, Danghyang Dwijendra ditugaskan melaksanakan “dharma-yatra” sebagai salah satu syarat kawikon Hindu. Dharma-yatra ini harus di laksanakan di Pulau Bali. Selain itu, Danghyang Dwijendra dibebani tugas oleh mertua beliau di Daha, yaitu untuk menata kembali kembali kehidupan beragama Hindudengan adat-istiadatnya, khususnya di pulau Bali. Apabila mungkin, tugas itu juga di teruskan ke Pulau Sasak, Sumbawa dan semampunya ke kawasan timur. Sebagaimmna di ketahui bahwa sebelum kedatangan Danghyang Dwijendra ke Pulau Bali kehidupan agama dan adat istiadatnya ditata oleh Empu Kuturan dengan konsep Rwa-Bhineda. Ini masih terdapat sampai sekrang pada desa-desa kuno di Bali. Suatu contoh pada ujung luwanan desa terdapat Pura Penataran dan di ujung tebenan desa terdapat Pura dalem yang berkaitan dengan Prajapati dan Setra atau Tunon. Semenjak kedatangan Danghyang Dwijendra ke Pulau Bali, konsep Rwa-Bhineda ini dikembangkan menjadi konsep Tri Purusa atau Tri Sakti. Setelah adanya integrasi dari desa-desa kuno, berkambanglah konsep Tri Purusa itu pada desa-desa Apanasa sebagai mana yang kita saksikan saat ini. Yang dimaksud Tri Purusa adalah penjabaran atau dimanifestasikannya Hyang Widhi pada tiga kekuatan yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Secara horisontaldan vertikal disebut Siwa, Sada Siwa,  dan Prama Siwa. Mulai dari sinilah timbulnya Pura Kahyangan Tiga atau kalau dijabarkan menjadi Pura Desa, PuraPuseh, dan Pura Dalem Kahyangan Wisesa dengan Mrajapati dan Setranya. Kalau meneliti pada desa-desa kuno, kita tidak akan menemui Pura Desa, Pura Puseh. Yang ada adalah Pura Penataran yang disebut juga Pura Penataran Agung atau Pura Bale Agung. Pada Pura Penataran inilah sekarang difungsikan juga sebagai pura Desa dan pura Puseh, bagi desa-desa kuno yang telah berintegrasi dengan desa-desa Apanasa. Sebab pada desa-desa kuno menganut sistem pra Japahit diterapkan di Pulau Bali oleh Danghyang Dwijendra di bidang spiritual. Danghyang Dwijendra datang ke Bali, untuk untuk pertama kali menginjakan kakinya di pinggiran barat daya Pulau Bali. Di daerah itu terdapat hutan yang luas, karena hutannya luas kawasan itu disebutkan “Jimbar Wana”. Dalam bahasa Bali “Jimbar” artinya luas dan “Wana” berarti hutan  atau alas. Kata “Jimbar Wana” inilah, yang lamban laun menjadi Jembrana. Di daerah inilah Dabfhyang Dwijendra beristirahat sejenak turun dari Blambangan sebelum melakukan dharma yatra di Pulau Bali. Setelah beristirahat, beliau melanjutkan perjalanannya. Di tempat bekas beristirahat itu, “lancep” (pisang pemutik-Bahasa Bali) tertinggal di situ. Pisau kecil itu bertangkai “kayu ancak”. Lambat laun tangkai pemutik itu tumbuh menjadi pohon ancak, sejak itulah daerah tersebut disebut “Perancak”. Lalu, berdirilah sebuah pura sebagai penghormatan dan stana Danghyang Dwijendra samapai sekarang. Mungkin berdasarkan peristiwa tersebut, sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai salah satu perlengkapan tetandingan banten di Bali.

MENUJU PUNCAK GUNUNG

Alkisah diceritakan dari Perancak Jembrana Danghyang Dwijendra yang juga mebhiseka Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh  melnjutkan perjalanan dharma-yatranya. Tujuan utamanya adalah menelusuri pelosok Pulau Bali. Dari kawasan Yeh Poh Bali baratyang lebih terkenal dengan kawasan Pulaki, perjalanan beliau menuju Desa Gading Wani. Disana beliau memberikan bantuan pengobatan kepada anak Ki Bendesa Gading Wani yang sedang sakit keras. Setelah anak itu sembuh, Ki Bendesa berguru kebatinan kepada Danghyang Dwijendra. Sang pendeta menganugrahkan sebuah lontar “suksma” kepada Ki Bendesa yang bernama lontar “Kutal Katil Sebun Bangkung”. Lontar itu memuat tentang ajaran kedyatmikan dan keparamarthan. Dari Desa Gading Wani Dahhyang Dwijendra melanjutkan perjalanan dharma-yatranya ke pucak gunung yang berada di wilayah Desa Adat Kerta, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Di daerah pucak gunung inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beristirahat sejenak sambil mengunyah sirih (nginang-bahasa Bali). Pada lokasi ini berdiri sebuah stana atau pelinggih yang disebut “Pemamoran” (asal kata pamor-bahasa Bali), oleh karena tempat inilah tertinggal pecanangan (pabuan, pemamoran-bahasa  Bali) dari Danghyang Dwijendra. Selanjutnya Danghyang Dwijendra menuju lokasi lainnya di seputaran lokasi tersebut untuk menyucikan diri dan menghias gelung (prucut-bahasa Bali). Sampai sekarang di tempat ini berdiri sebuah pura yang bernama Pura Gelungkuri atau disebut juga pura Pucak alit. Selanjutnya setelah menghias diri serta menata gelung kawikonnya Danghyang Dwijendra menghias dirinya dengan bunga (sumpang-bahasa Bali). Pada gelung rambutnya, dimana pada tempat tersebut berdiri sebuah pelinggih bernama Pura Sekar Taji. Beliau juga beranjangsana ke tempat lainya d seputaran lokasi itu untuk melakukan swadharma seorang pandita yaitu mengadakan pemujaan Surya Sewana. Sampai sekarang bekas tempat pemujaan Surya Sewana itu berdiri sebuah pura yang disebut Pura Pagametan (gamet,kapas-bahasa Bali). Setelah selesai pemujaan, kipas sigi padamaran itu dibuang di tempat itu dan api pemujaan masih tetap menyala. Karena itu, walau beliau meninggalkan tempat itu, hampir setiap malam ada nyala api disana. Oleh karena itu Pura Pagametan juga disebut Pura Pucak Pagametan. Setelah selesai Danghyang Dwijendra mathirta-raga, beliau melangkah lagi ke tenpat lainnya di seputar pegunungan itu untuk merencanakan tujuan dharma-yatra selanjunya. Beliau beristirahat sejenak, teringatlah beliau dengan peyunjuk-petunjuk yang diberikan oleh seekor kare besar waktu berada di Pulaki. Kemudian beliau segera melanjutkan perjalan dharma-yatra berikutnya.   Waktu inilah “payung” beliau ketinggalan di tempat itu. Oleh karena itu, di trmpat itu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Pucak Tedung.

HUBUNGAN DENGAN KERAJAAN MENGWI

Sekitar tahun 1627 Masehi atau Icaka 1549, Raja Mengwi I, yaitu Ida Cokorde Sakti Blambangan, saat itu juga menguasai antara lain daerah Badung bagian utara sampai ke daerah pegunungan termasuk lokasi Pura Pucak Tedung, Pura Pucak Mangu di daerah Tinggan, dab Pura Pucak Bon di daerah Belok. Alkisah, tatkala Raja Mengwi mengadakan anjangsana ke daerah-daerah pegunungan sambil mengadakan pemujaan di Pura Beratan, tersesatlah beliau di Pura Pucak Tedung. Oleh karena Raja Mengwi sangat sakti dan “tasaking yoga semadhi” maka beliau tahu bahwa di Pura Pucak Tedung itu sangat angker. Oleh karena itu, bersimpuhlah Raja Mengwi disana serta memohan agar di samping stana Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh di perkenankan membuat stana pesimpangan Bhatara di Baruna untuk memudahkan pemujaannya. Maka dibuatlah oleh Raja Mengwi  Pelinggih Meru Tumpang Tujuh di sebelah kanan stana Danghyang Dwijendra brupa Pelinggih (Meru Tumpang Tujuh), sampai sekarang. Dengan demikian Kerajaan Mengwiraja mengempon tiga buah Pura di daerah pegununganutara yaitu Pura Pucak Tedung, Pura Pucak mangu, dan Pura Pucak Bon.

Sumber : Buku . Mengenal Pura Sad Kayangan dan Kayangan Jagat. Denpasar

 

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: