Archive for Mei, 2014

Gamelan Slonding

Minggu, Mei 4th, 2014

GAMELAN SLONDING DI PURA DALEM SALUNDING

 

IMG00861-20140604-1758 Sejarah Gamelan Salonding

Sudah amat jelas tidak banyak yang tahu tentang keberadaan Gambelan Selonding di Pura Dalem Salunding. Menurut cerita Pemangku pura, Kelian Pura, serta Pengurus Pura Dalem Salunding yang diduga bahwa setelah kerajaan Bali dikalahkan oleh Majapahit yang dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada dan di Desa Kapal ditaruhlah seorang pemimpin (penguasa) dari Majapahit yang bernama Arya Dalancang sebagai penguasa mewakili kerajaan majapahit di wilayah Desa kapal. Menurut lontar Arya Dalancang milik Ketut Sudarsana selengkapnya di tulis pada purana Pura Dalem Salunding.dalam tulisan lontar ini menguraikan tentang Gambelan Salunding, sebagai berikut: Pada tahun caka 1255 (tahun 1333 masehi) Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada menyerang kerajaan Bali. Gajah Mada yang dibantu Oleh Arya Dhamar. Raja Bali saat itu bernama Asta Sura Ratna Bhumi Banten. Setelah gugurnya Raja Asta Sura Bhumi Banten, Bali dikuasai oleh Gajah Mada dan Arya Dhamar pada tahun caka 1265 (tahun 1343 masehi). Bali kemudian dipimpin oleh Arya Dhamar. Arya Dhamar memiliki tiga orang putra yaitu Arya Kenceng, Arya Dalancang, dan Arya Tan Wikan (Arya Belog). Tidak beberapa lama Arya Dhamar memimpin Bali, beliau kemudian menugaskan putranya yang bernama Arya Dalancang memimpin Jagat Kapal. Setelah beberapa lama memimpin Jagat Kapal, beliau ingin membuat gambelan salunding. Keinginannya ini didukung oleh para kerabat dan keluarga kerajaan. Namun, beliau juga memohon petunjuk dari Ida Bhatara. Pada hari yang baik Arya Dalancang bersama para kerabat dan rakyat bawahan beliau memohon waranugraha Ida Bhatara Dhalem Gelgel dan Hyang Upasadana (Ida Bhatara ring Pura Desa). Setelah itu juga beliau memohon panugrahan Ida Bhatara ring Pura Purusadha. Saat itu beliau mendengar sabda agar beliau mewujudkan keinginnannya untuk membuat gambelan selonding dengan memohon panugrahan ida Hyang Upasadana dan Ida Hyang Dhalem Gelgel. Setelah beberapa bulan, akhirnya gambelan selonding selesai dibuat Arya Dalancang bersama rakyat Kapal hidup bahagia. Akan tetapi, setelah beberapa tahun kemudian Gambelan Selonding ini tidak diperhatikan, maka munculah bencana rakyat Kapal saat itu kena marabahaya, semua rakyat kena sakit menular. Dalam mengatasi masalah ini, Arya Dalancang bersama rakyat Kapal kembali memohon petunjuk kepada Ida Bhatara Hyang Upasadana dan Ida Hyang Dalem Gelgel. Saat itu di dengar Sabda Hyang Dalem Gelgel “ Wahai, Manusia semuanya ! Jika kamu ingin seperti dulu, kamu harus membangun palinggih Aku yang bernama Salunding yang letaknya di barat daya palinggih ini. Jika engkau menghaturkan upakara, upakara dan yang dipersembahkan di tempat ini boleh digunakan palinggih disana sebab Aku berstana di sana. Demikianlah petunjuk-ku kepadamu semuanya. Jangan lupa ! oleh karena daerah pelinggih itu rawa-rawa, namakanlah daerah itu Tambak’’. Berdasarkan sabda itulah 66 orang krama, membangun pura. Pura tersebut diupakarai pada tahun Caka 1393 (tahun 1471 masehi) dan dinamai palinggih Salunding (sekarang menjadi Pura Dalem Salunding). Dalam pengertiannya, Salu artinya tempat dalam bahasa Balinya genah dan Nding yang berarti seni. Jadi, Salunding adalah tempat Seni atau genah Seni yang ada di Desa Kapal. Daerah ini kemudian bernama banjar Tambak. Tahun 1963 kata “Tambak” ditambahkan dengan kata “Sari”, sehingga banjar ini menjadi ‘’Tambak Sari’’ sampai sekarang. Gambelan Selonding ini kembali dibangun tahun 2009 karena tokoh-tokoh masyarakat resah dengan masyarakat yang terus terkena penyakit. Akan Tetapi gambelan Selonding yang dulu tidak ditemukan karena tidak ada yang tahu entah tertanam dimana. Sampai saat ini tidaklah banyak masyarakat tahu tentang keberadaan penguasa Majapahit di Desa Kapal pada masa dahulu, sehingga sejarah dan peninggalan-peninggalannya sepertinya tidak terhiraukan dan tidak terdata yang masih terpendam dan tercecer di sepanjang wilayah Desa Adat Kapal.

Akibat Gambelan Selonding Tidak Dilestarikan

Kalau dilihat dari sejarah gambelan selonding yang sangatlah sakral, sudah barang tentu gambelan ini harus dilestarikan, karena kalau bukan kita sebagai generasi muda yang melestarikannya lalu siapa lagi yang harus melestarikan kesenian gambelan selonding ini. Mengingat anak- anak muda sekarang yang lebih banyak waktu luangnya untuk kumpul-kumpul untuk tujuan yang tidak positif , maka sudah barang tentu generasi-generasi penerus kita akan lupa dengan kesenian serta adat istiadat kita. Jadi kita sebagai generasi penerus utamanya yang senang berkesenian marilah kita menjaga dan melestarikan gambelan-gembelan apapun termasuk yang sacral, supaya dapat diturunkan kepada anak cucu kita.

Penggunaan Gamelan Selonding Dalam Upacara Keagamaan di Pura Dalem Salunding

Gambelan Selonding dalam konteks parahyangan memiliki arti sangat penting dan berfungsi mengiringi ritual Hindu. Di pura Dalem Salunding gambelan selonding adalah gambelan yang begitu keramat dan disucikan. Sebelum gambelan ini diupakarai tidak boleh ada yang berani memainkan gambelan ini, karena sekha atau penabuhnya harus disucikan sebelum menabuh. Saat menabuh sekha selonding ini mengelilingi upakara atau banten. Pada saat Ida Bhatara tedun, ngaturang piodalan, dan penyamblehan pada akhir piodalan (ngelebar), gambelan ini iharus dimainkan (tabuh). Selain sekha selonding yang ada di pura Dalem Salunding, tidak boleh ada orang luar yang memainkan karena sekha tersebut sudah di sucikan dalam istilah Bali mewinten. Gambelan selonding ini tidak boleh di bawa ke pura-pura lain, kecuali pura Purusadha dan pura Desa Adat Kapal, karena gambelan selonding ini berstana di sana juga. (sumber: Drs. Putu sukabrata, M.pd , penyarikan Pura Dalem Salunding, umur: 57 tahun, I ketut Arka, kelian Pura Dalem Salunding, umur: 54 tahun, Pemangku Pura Dalem Salunding, umur: 75 tahun.)

Instrumen Trompong

Minggu, Mei 4th, 2014

TROMPONG

 peuf_20140618_695Trompong adalah suatu instrument yang bentuknya memanjang. Instrumen ini pada umumnya mempunyai jumlah moncol/pencon sebanyak 10 (sepuluh) buah yang di awali dengan nada ndang dan di akhiri dengan nada ndung. Di samping itu ada juga instrument trompong yang bermoncol 11 (sebelas) buah. Instrumen trompong pada umumnya dimainkan dengan satu orang dengan memakai dua buah panggul yang dipegang oleh tangan kiri satu buah dan tangan kanan satu buah. Trompong dalam permainannya memberikan kesan indah, agung yang mempengaruhi suasana maupun karakter dalam penyajiannya. Trompong tidak saja memiliki keunikan dalam penampilan atau bentuknya, tapi juga mempunyai keunikan dalam pembuatan dan pelarasannya yang belum begitu diketahui oleh masyarakat luas. Cara pembuatan dan pelarasan yang dilakukan oleh pande gamelan. Pembuatan Trompong dengan mengamati hal-hal yang berhubungan erat dengan proses tersebut diatas seperti bahan pembuatan trompong dengan memakai krawang, dari segi teknik pembuatan dan pelarasan  memakai cara tradisional maupun cara modern, serta adanya bentuk trompong yang bermacam-macam, dimana dari bentuk yang beragam tersebut akan menghasilkan karakteristik suara yang beragam pula. Dalam hal ini akan dibahas juga fungsi instrumen tersebut, beserta teknik permainannya.

TEHNIK PERMAINAN

  1. Pukulan Ngeluluk adalah pukulan trompong yang merupakan pengembangan dari pukulan Nyilih Asih. Pukulan ini dapat dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri yanga memakai satu nada atau satu moncol sebanyak 2 ( dua ) kali
  2. Pukulan Ngembat atau Ngangkep adalah nama pukulan trompong yang dilakukan dengan cara memukul bersma dua buah nada yang sama dengan jarak empat nada.
  3. Pukulan Ngempyung atau Ngero adalah pukulan trompong yang dilkukan dengan cara memukul bersama dua buah nada yang berbeda dengan jarak dua nada yang nantinya kedengaran jadi satu nada.
  4. Pukulan Neliti adalah memukul pokok gendingnya saja.
  5. Pukulan Nyele adalah pukulan yang menjelaskan lagu yang dimainkan
  6. Pukulan Nyintud adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kiri atau tangan kanan memukul dua buah nada yang berbeda. Satu diantara nada tersebut dipukul dua kali secara berturut–turut kemudian diikuti oleh satu pukulan instrument jegogan. Pukulan Nyintud sebelumnya disertai dengan pukulan Niltil untuk menuju tekanan lagu. Pukulan ini biasanya terdapat pada bagian gending perangrang untuk memberi tanda saat akan jatuhnya pukulan jegogan.
  7. Pukulan Nyilih Asih adalah salah satu pukulan trompong yang memukul beberapa nada satu persatu. Baik dilakukan satu tangan atau dua tangan secara berurutan atau berjauhan.
  8. Pukulan Ngumad/Ngalad (membelakangi) adalah pukulan instrument trompong dimana tangan kanan atau tangan kiri yang memukul dengan membelakangi melodi pokok gendingnya yang biasanya dilakukan pada pukulan Ngembat/Ngangakep dan Nyilih Asih yang jatuhnya di bagian tengah–tengah dan bagian akhir lagu.
  9. Pukulan Nguluin (mendahului) adalah pukulan instrument trompong yang dilakukan oleh tangan kanan atau tangan kiri yang memukul dengan mendahului lakukan melodi pokok gendingnya yang biasanya dilakukan pada pukulan Ngembat/Ngangkep dan Nyilih Asih yang jatuhnya di bagian tengah – tengah dan akhir lagu.
  10. Pukulan Nerumpuk adalah pukulan instrument trompong yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri yang memukul satu nada atau satu moncol yang beruntun silih berganti dalam tempo yang agak cepat.
  11. Pukulan Ngoret adalah memukul tiga buah nada yang ditarik dari besar ke kecil.
  12. Pukulan Ngoret Nyilih Asih adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada yang berbeda dan berurutan yang arah nadanya ke arah yang lebih tinggi/kecil.
  13. Pukulan Ngoret Ngembat/ Ngangkep adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada atau moncol yang berbeda dan berurutan, Di pi hak tangan kanan memukul dua buah nada dan tangan kiri memukul dua buah nada juga. Satu diantaranya tiga buah nada yang dipukul oleh tangan kiri sama dengan tangan kanan.
  14. Pukulan Ngoret Ngempyung adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada atau moncol yang berbeda. Tangan kanan memukul dua buah nada dan tangan kiri memukul satu buah nada. Satu diantaranya tiga buah nadayang dipukul oleh tangan kiri berbeda dengan yang dipukul oleh tangan kanan.
  15. Pukulan Netdet adalah pukulan trompong yang merupakan perkembangan dari pukulan Nyilih Asih yang artinya pukulan dua buah nada yang jejer yang saling berganti. Nada yang lebih kecil dipukul dan ditutup oleh tangan kanan dan tangan kiri memukul nada yang lebih besar atau rendah. Pukulan ini biasanya dipakai pada lagu/gending perangrang.
  16. Pukulan Ngandet adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri bergantian memukul dua moncol yang nadanya berurutan. Pukulan pencon tangan kanan ditutup dan pukulan tangan kiri dibuka ( tidak ditutup ).
  17. Pukulan Niltil adalah pukulan satu nada dengan tangan kanan atau tangan kiri yang temponya atau layanya makin lama makin cepat. Pukulan ini biasanya digunakan diantaranya pada salah satu bagian gending “Pengalihan” atau Perangrang.
  18. Pukulan Makaad adalah pukulan instrument trompong yang memukul tiga buah nada yang arahnya ke kiri atau ke nada yang yang lebih besar yang dilakukan oleh tangan kanan 2 ( dua ) nada dan tangan kiri 1 ( satu ) nada. Instrument Trompong

 

CIRI-CIRI dan FUNGSI

            Ciri-cirinya yaitu berbentuk bulat berpencon, mempunyai terampo atau penyangga panjang berfungsi untuk  menyangga  bilah-bilah terompong, bernada pelog dan mempunyai dua oktap yang berurutan. Dan fungsinya yaitu sebagai pembawa atau memainkan melodin pokok, memulai suatu lagu atau gending sebagai intro lagu, membuat pariasi dan memperjelas melodi pokok gending. Sikap yang baik dalam memainkan instrument teromong yaitu amangang jatah seperti orang bali bilang orang yang memegang tusuk sate ketika sedang memangga sate/nunu sate dan sikap duduk yang benar adalah ninggar pada atau duduk bersila.

Sumber : Buku Mudra

Karawitan Bali

Minggu, Mei 4th, 2014

KARAWITAN

 

peuf_20121114_148Pengertian Karawitan

            Kata karawitan berasal dari suku kata “rawit” yang artinya kecil, rumit, indah. Jadi kata karawitan berarti seni musik daerah yang terdapat diseluruh nusantara dengan berlaraskan pelog dan selendro. Apabila kita amati salah satu media utama dari seni karawitan adalah suara, sehingga pengertian awal dari seni karawitan tersebut adalah seni suara. Dari pengertian awal ini selanjutnya dapat dikembangkan menjadi pengertian yang lebih spesifik, seperti:

  1. Seni Karawitan adalah seni suara yang disajikan menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi dan sifat nada dan mempunyai aturan garap dalam sajian instrumental, vokal, dan ampuran.
  2. Seni Karawitan adalah ukapan jiwa manusia yang dilahirkan melalui nada-nada yang diatur berirama, berbentuk, selaras enak di dengar baik secara vokal, instrumental maupun campuran.
  3. Seni Karawitan adalah seni suara (vokal), instrumental, maupun campuran yang menggunakan nada-nada yang sudah teratur tinggi rendahnya, serta berirama.

Berbicara musik daerah (seni karawitan) yang ada di Indonesia sangat beragam bentuk, cirinya, dan masih terasa sulit untuk menyebutkan secara pasti jumlahnya, oleh karena begitu banyak beraneka ragam bentuk-bentuk yang ada di masing-masing daerah. Berdasarkan beberapa pengertian karawitan di atas, maka dapat disumpulkan sebagai unsur pokok/utamanya adalah suara atau bunyi. Selain unsur utama karawitan itu bunyi, terdapat juga unsur-unsur yang lain seperti:  Nada, Melodi, Harmoni, Warna nada, Interval, Dinamika, Tangga nada, Tempo,  Irama,  Intonasi. Melodi adalah rangkaian atau susunan nada-nada menurut tinggi rendah yang teratur dan berirama. Harmoni merupakan kesesuaian nada yang satu dengan nada yang lainnya dimana dalam memadukan dua buah nada dalam ilmu karawitan ada yang dinamakan ngepat dan ngempyung. Warna Nada atau Timbre artinya sumber dari suatu bunyi yang berbeda tetapi dapat menimbulkan tinggi suara yang sama. Interval dakam istilah karawiran disebut suarantara atau seruti, yang artinya jarak dari satu nada ke nada yang lainnya baik naik maupun turun. Dinamika artinya, keras lembutnya suatu bunyi yang dihasilkan. Tangga Nada artinya, susunan nada atau urutan nada-nada yang teratur naik turunnya dalam satu gembyangan/oktaf. Tempo artinya, cepat lambatnya lagu/gending yang dimainkan. Irama artinya, keras lembutnya dan cepat lambatnya suatu lagu/gending yang dimainkan. Intonasi artinya, ketepatan nada.

Kelompok Karawitan

Adapun kelompok karawitan dapat dibagi menjadi tiga, diantaranya:

1.Karawitan Instrumental: karawitan yang disajikan/dihasilkan dengan menggunakan alat-alat musik.

2.Karawitan Vokal: karawitan yang disajikan/dihasilkan menggunakan suara manusia.

3.Karawitan Campuran: karawitan yang disajikan/dihasilkan menggunakan gabungan antara vokal dengan instrumental.

1.Seni Karawitan Instrumental

Di Bali hingga kini ada sekitar 30 jenis barungan gamelan yang masih aktif dimainkan oleh warga masyarakat. Barungan ini didominir oleh alat-alat musik pukul, tiup, dan beberapa intrumen petik. Instrumen ini ada yang terbuat dari bambu, kayu, kulit, besi, dan perunggu (kerawang). Gamelan tersebut sebagian besar miliki kelompok masyarakat, hanya beberapa saja diantaranya miliki pribadi/perorangan. Berdasarkan jumlah pemain atau penabuh, gamelan bali dapat dikelompokan menjadi: barungan kecil (alit) dimainkan oleh 4-10 orang, barungan menengah atau sedang (madya) dimainkan oleh 11-25 orang, barungan besar (ageng) melibatkan di atas 25 orang. Dilihat dari usia barungan dan latar belakang sejarahnya, para pakar karawitan Bali menggolongkan jenis-jenis gamelan yang ada di daerah Bali ini ke dalam tiga kelompok, yaitu: Gamelan zaman tua, diperkir akan telah ada sebelum abad 15, pada umumnya didominir oleh alat-alat yang berbentuk bilahan, memakai dua buah panggul, dan tidak mempergunakan kendang. Contoh: Gamelan Gambang, Gamelan Selonding, Gamelan Gender Wayang, dll. Gamelan zaman madya, diperkirakan telah ada sekitar abad 16-19, merupakan barungan yang sudah mempergunakan kendang dan bermoncol (pencon). Dalam hal ini kendang sudah memiliki peran yang penting. Contoh: Gamelan Pegambuhan, Gamelan Joged Pingitanamelan , Gamelan Gong Gede, dll. Gamelan zaman baru, jenia-jenia barungan gamelan yang muncul pada abad 20, barungan yang sudah menonjolkan tehnik-tehnik permainan yang rumit dan diwarnai dengan permainan yang bersifat sektoral dan individual. Contoh:  Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Semarandana, Gamelan Gomg Suling, dll.

2.Seni Karawitan Vokal

Masyarakat Bali pada umunya mengenal  empat jenis seni suara vokal tradisional, diantaranya:

1.Sekar Rare/Tembang Rare atau Dolanan: jenis lagu anak-anak yang suasananya penuh kegembiraan serta dinyanyikan sambil bermain. Bentuk tembang ini sangat sederhana, mengandung makna yang sangat mendalam, dan tidak terikat oleh hukum (uger-uger). Contoh: Meong-meong, Juru pencar, Ongkek-ongkek Ongke, dll.

2.Sekar Alit/Tembang Macepat, Geguritan: mencakup berbagai jenis pupuh yang diikat oleh hukum pada lingsa yang terdiri dari “guru wilangam dan guru ding dong”. Contoh: Pupuh Pucung, Pupuh Maskumambang, Pupuh Durma, dll.

3.Sekar Madya atau Kidung/Malat: jenis lagu pemujaan yang pada umumnya menggunakan bahsa Jawa Tengah dan tidak terikat oleh guru lagu maupun pada lingsa. Bagian-bagian yang ada didalamnya seperti: pengawit yaitu kawitan bawak atau kawitan dawa dan pengawak.  Tembang ini diduga datang dari Jawa Tengah pada abad 16-19. Contoh: Kidung Dewa Yadnya, Kidung Bhuta Yadnya, Kidung Pitra Yadnya, Kidung Manusa Yadnya, dll.

4.Sekar Agung atau Kekawin: jenis lagu yang memakai bahasa kawi serta diikat oleh hukum guru lagu. Kekawin biasanya dilakukan dengan aktivitas “mebebasan”, artinya setelah lagunya dinyanyikan kemudian diselingi dengan terjemahannya. Dapat diduga bahwa kekawin ini diciptakan di Jawa pada abad 9-14. Contoh: Geguritan Ramayana, Geguritan Dukuh Siladri, Geguritan Sampik Ingtai, dll.

Untuk dapat menyanyikan tembang-tembang di atas dengan baik, seorang penembang (penyanyi) harus memiliki: Suara harus bagus dan tahu cara pengolahannya, Nafas panjang dan tahu pengaturannya, Mengerti masalah laras, baik selendro maupun pelog, Mengerti tetabuhan dan menguasai tentang mantra, Tahu hukum/uger-uger yang ada pada masing-masing tembang, Memahami seni sastra.

Sumber : Buku Karawitan Bali