Pura Pucak Tedung

PURA PUCAK TEDUNG

ysdsPura Pucak Tedung terletak di siatu dataran tinggi yang berada di wilayah Desa Adat Kerta, Desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Oleh karena dataran pegunungan ini sangat tinggi maka di sebut “pucak” pada bagian yang tertinggi. Dari Denpasar, lokasi pura Pucak Tedung berjarak kurang lebih 30 km ke arah utara. Apabila kita berada di halaman pura, kita akan menikmati keindahan panorama berupa pemandangan yang sangat indah di sekeliling pura Pucak Tedung tersebut, baik di sebelah timur, barat, selatan, maupaun dari sebelah utara. Di sebelah barat akan terlihat kendaraan lalu lalang dari arah Denpasar menuju Singaraja lewat Bedugul, demikian juga sebaliknya. Dan kalau kita menoleh ke arah selatan aka  kelihatan membentang suatu pemandangan sangat indah dan di malam hari akan kelihatan gemerlap lampu-lampu hatel besar antara lain Bali Beach, Sanur Beach maupun hotel-hotel berbintang yang ada di kawasan Nusa Dua. Demikian juga di sebelah timur dan utara pura kelihatan lekuk-lekuk pegunungan yang memukau hati. Pura Puncak Tedung sampai saat ini belum di kelilingi oleh tembokpenyengker, hanya di batasi oleh pepohonan yang di tata rapi dan indah. Ada suatu kepercayaan masyarakat pengemong pura tidak berani membangun tembok penyengker, karena tanpa di tembok pura tersebut dianggap sudah sangat suci dan luhur karena berada di dataran tinggi. Lokasi pura terdiri dari tiga halaman atau disebut juga Tri Mandala yaitu adanya Utama Mandala atau Jeroan Pura, adanya Madya Mandala atau Jaba Tengah Pura, dan terakhir adanya Nista Mandala yang disebut juga Jaba Sisi Pura.  Adapun luas lokasi pada Utama Mandala 730,77 m2 dengan ukuran panjang dari timur ke barat 27,37 meter dan lebar dari utara ke selatan26,70 meter. Pada Madya Mandala terdapat tiga bangunan yaitu Bale Ketongan atau Bale Kulkul, Bale Pengubengan atau Bale Panggung dan Bale Sakapat Kecil. Di lokasi Nista Mandala atau Jaba Pura hanya terdapat sebuah Bale Sakakutus.

SEJARAH PURA

Secara harfiah “pucak” berarti ujung tertinggi dari sebuah dataran tinggi, “Tebung” adalah semacam “payung”. Jadi kata “Pucak Tedung” berarti “Ujung Payung”. Entah kenapa Pura ini diberi nama demikian. Sumber-sumber yang lengkap dan pati belum di temukan untuk mengungkap sejarah pura ini. Namun secara mithilogi dalam Lontar Dwijendra Tattwa ada disebut sebagai berikut: Sekitar tahun 1460-1550 Masehi pada saat pemerintahan Dalem Waturenggong yang Berkeraton di Gelgel Klungkung, keadaan Pulau Bali sangat subur, aman, rukum. Hmpir tidak pernah ada masalah atau kasus yang berarti di kalangan orang-orang Bali berkat kepemimpinan Dalem Waturenggong yang arif bijaksana. Dalam hubungan inilah sekitar tahun 1489 Masehi, Isaka 1411 datanglah ke Pulau Bali seorang Pandita, sastrawan dan rohaniawan yang bernama Danghyang Dwijendra. Beliau adalah seorang pandita Hindu kalahiran Kediri Jawa Timur. Pada saat walaka, beliau bernama Danghyang Niratha. Setelah menikah dengan istri pertamanya dari Daha Jawa Timur serta bernabe dan diniksan oleh mertuanya di Daha, Danghyang Niratha dianugerahkan bhiseka kawikon engan nama Danghyang Dwijendra.  Setelah diniksan oleh mertuanya, Danghyang Dwijendra ditugaskan melaksanakan “dharma-yatra” sebagai salah satu syarat kawikon Hindu. Dharma-yatra ini harus di laksanakan di Pulau Bali. Selain itu, Danghyang Dwijendra dibebani tugas oleh mertua beliau di Daha, yaitu untuk menata kembali kembali kehidupan beragama Hindudengan adat-istiadatnya, khususnya di pulau Bali. Apabila mungkin, tugas itu juga di teruskan ke Pulau Sasak, Sumbawa dan semampunya ke kawasan timur. Sebagaimmna di ketahui bahwa sebelum kedatangan Danghyang Dwijendra ke Pulau Bali kehidupan agama dan adat istiadatnya ditata oleh Empu Kuturan dengan konsep Rwa-Bhineda. Ini masih terdapat sampai sekrang pada desa-desa kuno di Bali. Suatu contoh pada ujung luwanan desa terdapat Pura Penataran dan di ujung tebenan desa terdapat Pura dalem yang berkaitan dengan Prajapati dan Setra atau Tunon. Semenjak kedatangan Danghyang Dwijendra ke Pulau Bali, konsep Rwa-Bhineda ini dikembangkan menjadi konsep Tri Purusa atau Tri Sakti. Setelah adanya integrasi dari desa-desa kuno, berkambanglah konsep Tri Purusa itu pada desa-desa Apanasa sebagai mana yang kita saksikan saat ini. Yang dimaksud Tri Purusa adalah penjabaran atau dimanifestasikannya Hyang Widhi pada tiga kekuatan yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Secara horisontaldan vertikal disebut Siwa, Sada Siwa,  dan Prama Siwa. Mulai dari sinilah timbulnya Pura Kahyangan Tiga atau kalau dijabarkan menjadi Pura Desa, PuraPuseh, dan Pura Dalem Kahyangan Wisesa dengan Mrajapati dan Setranya. Kalau meneliti pada desa-desa kuno, kita tidak akan menemui Pura Desa, Pura Puseh. Yang ada adalah Pura Penataran yang disebut juga Pura Penataran Agung atau Pura Bale Agung. Pada Pura Penataran inilah sekarang difungsikan juga sebagai pura Desa dan pura Puseh, bagi desa-desa kuno yang telah berintegrasi dengan desa-desa Apanasa. Sebab pada desa-desa kuno menganut sistem pra Japahit diterapkan di Pulau Bali oleh Danghyang Dwijendra di bidang spiritual. Danghyang Dwijendra datang ke Bali, untuk untuk pertama kali menginjakan kakinya di pinggiran barat daya Pulau Bali. Di daerah itu terdapat hutan yang luas, karena hutannya luas kawasan itu disebutkan “Jimbar Wana”. Dalam bahasa Bali “Jimbar” artinya luas dan “Wana” berarti hutan  atau alas. Kata “Jimbar Wana” inilah, yang lamban laun menjadi Jembrana. Di daerah inilah Dabfhyang Dwijendra beristirahat sejenak turun dari Blambangan sebelum melakukan dharma yatra di Pulau Bali. Setelah beristirahat, beliau melanjutkan perjalanannya. Di tempat bekas beristirahat itu, “lancep” (pisang pemutik-Bahasa Bali) tertinggal di situ. Pisau kecil itu bertangkai “kayu ancak”. Lambat laun tangkai pemutik itu tumbuh menjadi pohon ancak, sejak itulah daerah tersebut disebut “Perancak”. Lalu, berdirilah sebuah pura sebagai penghormatan dan stana Danghyang Dwijendra samapai sekarang. Mungkin berdasarkan peristiwa tersebut, sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai salah satu perlengkapan tetandingan banten di Bali.

MENUJU PUNCAK GUNUNG

Alkisah diceritakan dari Perancak Jembrana Danghyang Dwijendra yang juga mebhiseka Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh  melnjutkan perjalanan dharma-yatranya. Tujuan utamanya adalah menelusuri pelosok Pulau Bali. Dari kawasan Yeh Poh Bali baratyang lebih terkenal dengan kawasan Pulaki, perjalanan beliau menuju Desa Gading Wani. Disana beliau memberikan bantuan pengobatan kepada anak Ki Bendesa Gading Wani yang sedang sakit keras. Setelah anak itu sembuh, Ki Bendesa berguru kebatinan kepada Danghyang Dwijendra. Sang pendeta menganugrahkan sebuah lontar “suksma” kepada Ki Bendesa yang bernama lontar “Kutal Katil Sebun Bangkung”. Lontar itu memuat tentang ajaran kedyatmikan dan keparamarthan. Dari Desa Gading Wani Dahhyang Dwijendra melanjutkan perjalanan dharma-yatranya ke pucak gunung yang berada di wilayah Desa Adat Kerta, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Di daerah pucak gunung inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beristirahat sejenak sambil mengunyah sirih (nginang-bahasa Bali). Pada lokasi ini berdiri sebuah stana atau pelinggih yang disebut “Pemamoran” (asal kata pamor-bahasa Bali), oleh karena tempat inilah tertinggal pecanangan (pabuan, pemamoran-bahasa  Bali) dari Danghyang Dwijendra. Selanjutnya Danghyang Dwijendra menuju lokasi lainnya di seputaran lokasi tersebut untuk menyucikan diri dan menghias gelung (prucut-bahasa Bali). Sampai sekarang di tempat ini berdiri sebuah pura yang bernama Pura Gelungkuri atau disebut juga pura Pucak alit. Selanjutnya setelah menghias diri serta menata gelung kawikonnya Danghyang Dwijendra menghias dirinya dengan bunga (sumpang-bahasa Bali). Pada gelung rambutnya, dimana pada tempat tersebut berdiri sebuah pelinggih bernama Pura Sekar Taji. Beliau juga beranjangsana ke tempat lainya d seputaran lokasi itu untuk melakukan swadharma seorang pandita yaitu mengadakan pemujaan Surya Sewana. Sampai sekarang bekas tempat pemujaan Surya Sewana itu berdiri sebuah pura yang disebut Pura Pagametan (gamet,kapas-bahasa Bali). Setelah selesai pemujaan, kipas sigi padamaran itu dibuang di tempat itu dan api pemujaan masih tetap menyala. Karena itu, walau beliau meninggalkan tempat itu, hampir setiap malam ada nyala api disana. Oleh karena itu Pura Pagametan juga disebut Pura Pucak Pagametan. Setelah selesai Danghyang Dwijendra mathirta-raga, beliau melangkah lagi ke tenpat lainnya di seputar pegunungan itu untuk merencanakan tujuan dharma-yatra selanjunya. Beliau beristirahat sejenak, teringatlah beliau dengan peyunjuk-petunjuk yang diberikan oleh seekor kare besar waktu berada di Pulaki. Kemudian beliau segera melanjutkan perjalan dharma-yatra berikutnya.   Waktu inilah “payung” beliau ketinggalan di tempat itu. Oleh karena itu, di trmpat itu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Pucak Tedung.

HUBUNGAN DENGAN KERAJAAN MENGWI

Sekitar tahun 1627 Masehi atau Icaka 1549, Raja Mengwi I, yaitu Ida Cokorde Sakti Blambangan, saat itu juga menguasai antara lain daerah Badung bagian utara sampai ke daerah pegunungan termasuk lokasi Pura Pucak Tedung, Pura Pucak Mangu di daerah Tinggan, dab Pura Pucak Bon di daerah Belok. Alkisah, tatkala Raja Mengwi mengadakan anjangsana ke daerah-daerah pegunungan sambil mengadakan pemujaan di Pura Beratan, tersesatlah beliau di Pura Pucak Tedung. Oleh karena Raja Mengwi sangat sakti dan “tasaking yoga semadhi” maka beliau tahu bahwa di Pura Pucak Tedung itu sangat angker. Oleh karena itu, bersimpuhlah Raja Mengwi disana serta memohan agar di samping stana Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh di perkenankan membuat stana pesimpangan Bhatara di Baruna untuk memudahkan pemujaannya. Maka dibuatlah oleh Raja Mengwi  Pelinggih Meru Tumpang Tujuh di sebelah kanan stana Danghyang Dwijendra brupa Pelinggih (Meru Tumpang Tujuh), sampai sekarang. Dengan demikian Kerajaan Mengwiraja mengempon tiga buah Pura di daerah pegununganutara yaitu Pura Pucak Tedung, Pura Pucak mangu, dan Pura Pucak Bon.

Sumber : Buku . Mengenal Pura Sad Kayangan dan Kayangan Jagat. Denpasar

 

Gamelan Slonding

GAMELAN SLONDING DI PURA DALEM SALUNDING

 

IMG00861-20140604-1758 Sejarah Gamelan Salonding

Sudah amat jelas tidak banyak yang tahu tentang keberadaan Gambelan Selonding di Pura Dalem Salunding. Menurut cerita Pemangku pura, Kelian Pura, serta Pengurus Pura Dalem Salunding yang diduga bahwa setelah kerajaan Bali dikalahkan oleh Majapahit yang dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada dan di Desa Kapal ditaruhlah seorang pemimpin (penguasa) dari Majapahit yang bernama Arya Dalancang sebagai penguasa mewakili kerajaan majapahit di wilayah Desa kapal. Menurut lontar Arya Dalancang milik Ketut Sudarsana selengkapnya di tulis pada purana Pura Dalem Salunding.dalam tulisan lontar ini menguraikan tentang Gambelan Salunding, sebagai berikut: Pada tahun caka 1255 (tahun 1333 masehi) Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada menyerang kerajaan Bali. Gajah Mada yang dibantu Oleh Arya Dhamar. Raja Bali saat itu bernama Asta Sura Ratna Bhumi Banten. Setelah gugurnya Raja Asta Sura Bhumi Banten, Bali dikuasai oleh Gajah Mada dan Arya Dhamar pada tahun caka 1265 (tahun 1343 masehi). Bali kemudian dipimpin oleh Arya Dhamar. Arya Dhamar memiliki tiga orang putra yaitu Arya Kenceng, Arya Dalancang, dan Arya Tan Wikan (Arya Belog). Tidak beberapa lama Arya Dhamar memimpin Bali, beliau kemudian menugaskan putranya yang bernama Arya Dalancang memimpin Jagat Kapal. Setelah beberapa lama memimpin Jagat Kapal, beliau ingin membuat gambelan salunding. Keinginannya ini didukung oleh para kerabat dan keluarga kerajaan. Namun, beliau juga memohon petunjuk dari Ida Bhatara. Pada hari yang baik Arya Dalancang bersama para kerabat dan rakyat bawahan beliau memohon waranugraha Ida Bhatara Dhalem Gelgel dan Hyang Upasadana (Ida Bhatara ring Pura Desa). Setelah itu juga beliau memohon panugrahan Ida Bhatara ring Pura Purusadha. Saat itu beliau mendengar sabda agar beliau mewujudkan keinginnannya untuk membuat gambelan selonding dengan memohon panugrahan ida Hyang Upasadana dan Ida Hyang Dhalem Gelgel. Setelah beberapa bulan, akhirnya gambelan selonding selesai dibuat Arya Dalancang bersama rakyat Kapal hidup bahagia. Akan tetapi, setelah beberapa tahun kemudian Gambelan Selonding ini tidak diperhatikan, maka munculah bencana rakyat Kapal saat itu kena marabahaya, semua rakyat kena sakit menular. Dalam mengatasi masalah ini, Arya Dalancang bersama rakyat Kapal kembali memohon petunjuk kepada Ida Bhatara Hyang Upasadana dan Ida Hyang Dalem Gelgel. Saat itu di dengar Sabda Hyang Dalem Gelgel “ Wahai, Manusia semuanya ! Jika kamu ingin seperti dulu, kamu harus membangun palinggih Aku yang bernama Salunding yang letaknya di barat daya palinggih ini. Jika engkau menghaturkan upakara, upakara dan yang dipersembahkan di tempat ini boleh digunakan palinggih disana sebab Aku berstana di sana. Demikianlah petunjuk-ku kepadamu semuanya. Jangan lupa ! oleh karena daerah pelinggih itu rawa-rawa, namakanlah daerah itu Tambak’’. Berdasarkan sabda itulah 66 orang krama, membangun pura. Pura tersebut diupakarai pada tahun Caka 1393 (tahun 1471 masehi) dan dinamai palinggih Salunding (sekarang menjadi Pura Dalem Salunding). Dalam pengertiannya, Salu artinya tempat dalam bahasa Balinya genah dan Nding yang berarti seni. Jadi, Salunding adalah tempat Seni atau genah Seni yang ada di Desa Kapal. Daerah ini kemudian bernama banjar Tambak. Tahun 1963 kata “Tambak” ditambahkan dengan kata “Sari”, sehingga banjar ini menjadi ‘’Tambak Sari’’ sampai sekarang. Gambelan Selonding ini kembali dibangun tahun 2009 karena tokoh-tokoh masyarakat resah dengan masyarakat yang terus terkena penyakit. Akan Tetapi gambelan Selonding yang dulu tidak ditemukan karena tidak ada yang tahu entah tertanam dimana. Sampai saat ini tidaklah banyak masyarakat tahu tentang keberadaan penguasa Majapahit di Desa Kapal pada masa dahulu, sehingga sejarah dan peninggalan-peninggalannya sepertinya tidak terhiraukan dan tidak terdata yang masih terpendam dan tercecer di sepanjang wilayah Desa Adat Kapal.

Akibat Gambelan Selonding Tidak Dilestarikan

Kalau dilihat dari sejarah gambelan selonding yang sangatlah sakral, sudah barang tentu gambelan ini harus dilestarikan, karena kalau bukan kita sebagai generasi muda yang melestarikannya lalu siapa lagi yang harus melestarikan kesenian gambelan selonding ini. Mengingat anak- anak muda sekarang yang lebih banyak waktu luangnya untuk kumpul-kumpul untuk tujuan yang tidak positif , maka sudah barang tentu generasi-generasi penerus kita akan lupa dengan kesenian serta adat istiadat kita. Jadi kita sebagai generasi penerus utamanya yang senang berkesenian marilah kita menjaga dan melestarikan gambelan-gembelan apapun termasuk yang sacral, supaya dapat diturunkan kepada anak cucu kita.

Penggunaan Gamelan Selonding Dalam Upacara Keagamaan di Pura Dalem Salunding

Gambelan Selonding dalam konteks parahyangan memiliki arti sangat penting dan berfungsi mengiringi ritual Hindu. Di pura Dalem Salunding gambelan selonding adalah gambelan yang begitu keramat dan disucikan. Sebelum gambelan ini diupakarai tidak boleh ada yang berani memainkan gambelan ini, karena sekha atau penabuhnya harus disucikan sebelum menabuh. Saat menabuh sekha selonding ini mengelilingi upakara atau banten. Pada saat Ida Bhatara tedun, ngaturang piodalan, dan penyamblehan pada akhir piodalan (ngelebar), gambelan ini iharus dimainkan (tabuh). Selain sekha selonding yang ada di pura Dalem Salunding, tidak boleh ada orang luar yang memainkan karena sekha tersebut sudah di sucikan dalam istilah Bali mewinten. Gambelan selonding ini tidak boleh di bawa ke pura-pura lain, kecuali pura Purusadha dan pura Desa Adat Kapal, karena gambelan selonding ini berstana di sana juga. (sumber: Drs. Putu sukabrata, M.pd , penyarikan Pura Dalem Salunding, umur: 57 tahun, I ketut Arka, kelian Pura Dalem Salunding, umur: 54 tahun, Pemangku Pura Dalem Salunding, umur: 75 tahun.)

Instrumen Trompong

TROMPONG

 peuf_20140618_695Trompong adalah suatu instrument yang bentuknya memanjang. Instrumen ini pada umumnya mempunyai jumlah moncol/pencon sebanyak 10 (sepuluh) buah yang di awali dengan nada ndang dan di akhiri dengan nada ndung. Di samping itu ada juga instrument trompong yang bermoncol 11 (sebelas) buah. Instrumen trompong pada umumnya dimainkan dengan satu orang dengan memakai dua buah panggul yang dipegang oleh tangan kiri satu buah dan tangan kanan satu buah. Trompong dalam permainannya memberikan kesan indah, agung yang mempengaruhi suasana maupun karakter dalam penyajiannya. Trompong tidak saja memiliki keunikan dalam penampilan atau bentuknya, tapi juga mempunyai keunikan dalam pembuatan dan pelarasannya yang belum begitu diketahui oleh masyarakat luas. Cara pembuatan dan pelarasan yang dilakukan oleh pande gamelan. Pembuatan Trompong dengan mengamati hal-hal yang berhubungan erat dengan proses tersebut diatas seperti bahan pembuatan trompong dengan memakai krawang, dari segi teknik pembuatan dan pelarasan  memakai cara tradisional maupun cara modern, serta adanya bentuk trompong yang bermacam-macam, dimana dari bentuk yang beragam tersebut akan menghasilkan karakteristik suara yang beragam pula. Dalam hal ini akan dibahas juga fungsi instrumen tersebut, beserta teknik permainannya.

TEHNIK PERMAINAN

  1. Pukulan Ngeluluk adalah pukulan trompong yang merupakan pengembangan dari pukulan Nyilih Asih. Pukulan ini dapat dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri yanga memakai satu nada atau satu moncol sebanyak 2 ( dua ) kali
  2. Pukulan Ngembat atau Ngangkep adalah nama pukulan trompong yang dilakukan dengan cara memukul bersma dua buah nada yang sama dengan jarak empat nada.
  3. Pukulan Ngempyung atau Ngero adalah pukulan trompong yang dilkukan dengan cara memukul bersama dua buah nada yang berbeda dengan jarak dua nada yang nantinya kedengaran jadi satu nada.
  4. Pukulan Neliti adalah memukul pokok gendingnya saja.
  5. Pukulan Nyele adalah pukulan yang menjelaskan lagu yang dimainkan
  6. Pukulan Nyintud adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kiri atau tangan kanan memukul dua buah nada yang berbeda. Satu diantara nada tersebut dipukul dua kali secara berturut–turut kemudian diikuti oleh satu pukulan instrument jegogan. Pukulan Nyintud sebelumnya disertai dengan pukulan Niltil untuk menuju tekanan lagu. Pukulan ini biasanya terdapat pada bagian gending perangrang untuk memberi tanda saat akan jatuhnya pukulan jegogan.
  7. Pukulan Nyilih Asih adalah salah satu pukulan trompong yang memukul beberapa nada satu persatu. Baik dilakukan satu tangan atau dua tangan secara berurutan atau berjauhan.
  8. Pukulan Ngumad/Ngalad (membelakangi) adalah pukulan instrument trompong dimana tangan kanan atau tangan kiri yang memukul dengan membelakangi melodi pokok gendingnya yang biasanya dilakukan pada pukulan Ngembat/Ngangakep dan Nyilih Asih yang jatuhnya di bagian tengah–tengah dan bagian akhir lagu.
  9. Pukulan Nguluin (mendahului) adalah pukulan instrument trompong yang dilakukan oleh tangan kanan atau tangan kiri yang memukul dengan mendahului lakukan melodi pokok gendingnya yang biasanya dilakukan pada pukulan Ngembat/Ngangkep dan Nyilih Asih yang jatuhnya di bagian tengah – tengah dan akhir lagu.
  10. Pukulan Nerumpuk adalah pukulan instrument trompong yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri yang memukul satu nada atau satu moncol yang beruntun silih berganti dalam tempo yang agak cepat.
  11. Pukulan Ngoret adalah memukul tiga buah nada yang ditarik dari besar ke kecil.
  12. Pukulan Ngoret Nyilih Asih adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada yang berbeda dan berurutan yang arah nadanya ke arah yang lebih tinggi/kecil.
  13. Pukulan Ngoret Ngembat/ Ngangkep adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada atau moncol yang berbeda dan berurutan, Di pi hak tangan kanan memukul dua buah nada dan tangan kiri memukul dua buah nada juga. Satu diantaranya tiga buah nada yang dipukul oleh tangan kiri sama dengan tangan kanan.
  14. Pukulan Ngoret Ngempyung adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada atau moncol yang berbeda. Tangan kanan memukul dua buah nada dan tangan kiri memukul satu buah nada. Satu diantaranya tiga buah nadayang dipukul oleh tangan kiri berbeda dengan yang dipukul oleh tangan kanan.
  15. Pukulan Netdet adalah pukulan trompong yang merupakan perkembangan dari pukulan Nyilih Asih yang artinya pukulan dua buah nada yang jejer yang saling berganti. Nada yang lebih kecil dipukul dan ditutup oleh tangan kanan dan tangan kiri memukul nada yang lebih besar atau rendah. Pukulan ini biasanya dipakai pada lagu/gending perangrang.
  16. Pukulan Ngandet adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri bergantian memukul dua moncol yang nadanya berurutan. Pukulan pencon tangan kanan ditutup dan pukulan tangan kiri dibuka ( tidak ditutup ).
  17. Pukulan Niltil adalah pukulan satu nada dengan tangan kanan atau tangan kiri yang temponya atau layanya makin lama makin cepat. Pukulan ini biasanya digunakan diantaranya pada salah satu bagian gending “Pengalihan” atau Perangrang.
  18. Pukulan Makaad adalah pukulan instrument trompong yang memukul tiga buah nada yang arahnya ke kiri atau ke nada yang yang lebih besar yang dilakukan oleh tangan kanan 2 ( dua ) nada dan tangan kiri 1 ( satu ) nada. Instrument Trompong

 

CIRI-CIRI dan FUNGSI

            Ciri-cirinya yaitu berbentuk bulat berpencon, mempunyai terampo atau penyangga panjang berfungsi untuk  menyangga  bilah-bilah terompong, bernada pelog dan mempunyai dua oktap yang berurutan. Dan fungsinya yaitu sebagai pembawa atau memainkan melodin pokok, memulai suatu lagu atau gending sebagai intro lagu, membuat pariasi dan memperjelas melodi pokok gending. Sikap yang baik dalam memainkan instrument teromong yaitu amangang jatah seperti orang bali bilang orang yang memegang tusuk sate ketika sedang memangga sate/nunu sate dan sikap duduk yang benar adalah ninggar pada atau duduk bersila.

Sumber : Buku Mudra

Karawitan Bali

KARAWITAN

 

peuf_20121114_148Pengertian Karawitan

            Kata karawitan berasal dari suku kata “rawit” yang artinya kecil, rumit, indah. Jadi kata karawitan berarti seni musik daerah yang terdapat diseluruh nusantara dengan berlaraskan pelog dan selendro. Apabila kita amati salah satu media utama dari seni karawitan adalah suara, sehingga pengertian awal dari seni karawitan tersebut adalah seni suara. Dari pengertian awal ini selanjutnya dapat dikembangkan menjadi pengertian yang lebih spesifik, seperti:

  1. Seni Karawitan adalah seni suara yang disajikan menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi dan sifat nada dan mempunyai aturan garap dalam sajian instrumental, vokal, dan ampuran.
  2. Seni Karawitan adalah ukapan jiwa manusia yang dilahirkan melalui nada-nada yang diatur berirama, berbentuk, selaras enak di dengar baik secara vokal, instrumental maupun campuran.
  3. Seni Karawitan adalah seni suara (vokal), instrumental, maupun campuran yang menggunakan nada-nada yang sudah teratur tinggi rendahnya, serta berirama.

Berbicara musik daerah (seni karawitan) yang ada di Indonesia sangat beragam bentuk, cirinya, dan masih terasa sulit untuk menyebutkan secara pasti jumlahnya, oleh karena begitu banyak beraneka ragam bentuk-bentuk yang ada di masing-masing daerah. Berdasarkan beberapa pengertian karawitan di atas, maka dapat disumpulkan sebagai unsur pokok/utamanya adalah suara atau bunyi. Selain unsur utama karawitan itu bunyi, terdapat juga unsur-unsur yang lain seperti:  Nada, Melodi, Harmoni, Warna nada, Interval, Dinamika, Tangga nada, Tempo,  Irama,  Intonasi. Melodi adalah rangkaian atau susunan nada-nada menurut tinggi rendah yang teratur dan berirama. Harmoni merupakan kesesuaian nada yang satu dengan nada yang lainnya dimana dalam memadukan dua buah nada dalam ilmu karawitan ada yang dinamakan ngepat dan ngempyung. Warna Nada atau Timbre artinya sumber dari suatu bunyi yang berbeda tetapi dapat menimbulkan tinggi suara yang sama. Interval dakam istilah karawiran disebut suarantara atau seruti, yang artinya jarak dari satu nada ke nada yang lainnya baik naik maupun turun. Dinamika artinya, keras lembutnya suatu bunyi yang dihasilkan. Tangga Nada artinya, susunan nada atau urutan nada-nada yang teratur naik turunnya dalam satu gembyangan/oktaf. Tempo artinya, cepat lambatnya lagu/gending yang dimainkan. Irama artinya, keras lembutnya dan cepat lambatnya suatu lagu/gending yang dimainkan. Intonasi artinya, ketepatan nada.

Kelompok Karawitan

Adapun kelompok karawitan dapat dibagi menjadi tiga, diantaranya:

1.Karawitan Instrumental: karawitan yang disajikan/dihasilkan dengan menggunakan alat-alat musik.

2.Karawitan Vokal: karawitan yang disajikan/dihasilkan menggunakan suara manusia.

3.Karawitan Campuran: karawitan yang disajikan/dihasilkan menggunakan gabungan antara vokal dengan instrumental.

1.Seni Karawitan Instrumental

Di Bali hingga kini ada sekitar 30 jenis barungan gamelan yang masih aktif dimainkan oleh warga masyarakat. Barungan ini didominir oleh alat-alat musik pukul, tiup, dan beberapa intrumen petik. Instrumen ini ada yang terbuat dari bambu, kayu, kulit, besi, dan perunggu (kerawang). Gamelan tersebut sebagian besar miliki kelompok masyarakat, hanya beberapa saja diantaranya miliki pribadi/perorangan. Berdasarkan jumlah pemain atau penabuh, gamelan bali dapat dikelompokan menjadi: barungan kecil (alit) dimainkan oleh 4-10 orang, barungan menengah atau sedang (madya) dimainkan oleh 11-25 orang, barungan besar (ageng) melibatkan di atas 25 orang. Dilihat dari usia barungan dan latar belakang sejarahnya, para pakar karawitan Bali menggolongkan jenis-jenis gamelan yang ada di daerah Bali ini ke dalam tiga kelompok, yaitu: Gamelan zaman tua, diperkir akan telah ada sebelum abad 15, pada umumnya didominir oleh alat-alat yang berbentuk bilahan, memakai dua buah panggul, dan tidak mempergunakan kendang. Contoh: Gamelan Gambang, Gamelan Selonding, Gamelan Gender Wayang, dll. Gamelan zaman madya, diperkirakan telah ada sekitar abad 16-19, merupakan barungan yang sudah mempergunakan kendang dan bermoncol (pencon). Dalam hal ini kendang sudah memiliki peran yang penting. Contoh: Gamelan Pegambuhan, Gamelan Joged Pingitanamelan , Gamelan Gong Gede, dll. Gamelan zaman baru, jenia-jenia barungan gamelan yang muncul pada abad 20, barungan yang sudah menonjolkan tehnik-tehnik permainan yang rumit dan diwarnai dengan permainan yang bersifat sektoral dan individual. Contoh:  Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Semarandana, Gamelan Gomg Suling, dll.

2.Seni Karawitan Vokal

Masyarakat Bali pada umunya mengenal  empat jenis seni suara vokal tradisional, diantaranya:

1.Sekar Rare/Tembang Rare atau Dolanan: jenis lagu anak-anak yang suasananya penuh kegembiraan serta dinyanyikan sambil bermain. Bentuk tembang ini sangat sederhana, mengandung makna yang sangat mendalam, dan tidak terikat oleh hukum (uger-uger). Contoh: Meong-meong, Juru pencar, Ongkek-ongkek Ongke, dll.

2.Sekar Alit/Tembang Macepat, Geguritan: mencakup berbagai jenis pupuh yang diikat oleh hukum pada lingsa yang terdiri dari “guru wilangam dan guru ding dong”. Contoh: Pupuh Pucung, Pupuh Maskumambang, Pupuh Durma, dll.

3.Sekar Madya atau Kidung/Malat: jenis lagu pemujaan yang pada umumnya menggunakan bahsa Jawa Tengah dan tidak terikat oleh guru lagu maupun pada lingsa. Bagian-bagian yang ada didalamnya seperti: pengawit yaitu kawitan bawak atau kawitan dawa dan pengawak.  Tembang ini diduga datang dari Jawa Tengah pada abad 16-19. Contoh: Kidung Dewa Yadnya, Kidung Bhuta Yadnya, Kidung Pitra Yadnya, Kidung Manusa Yadnya, dll.

4.Sekar Agung atau Kekawin: jenis lagu yang memakai bahasa kawi serta diikat oleh hukum guru lagu. Kekawin biasanya dilakukan dengan aktivitas “mebebasan”, artinya setelah lagunya dinyanyikan kemudian diselingi dengan terjemahannya. Dapat diduga bahwa kekawin ini diciptakan di Jawa pada abad 9-14. Contoh: Geguritan Ramayana, Geguritan Dukuh Siladri, Geguritan Sampik Ingtai, dll.

Untuk dapat menyanyikan tembang-tembang di atas dengan baik, seorang penembang (penyanyi) harus memiliki: Suara harus bagus dan tahu cara pengolahannya, Nafas panjang dan tahu pengaturannya, Mengerti masalah laras, baik selendro maupun pelog, Mengerti tetabuhan dan menguasai tentang mantra, Tahu hukum/uger-uger yang ada pada masing-masing tembang, Memahami seni sastra.

Sumber : Buku Karawitan Bali

Banjar Tambak Sari

BANJAR TAMBAK SARIUntitled 

            Banjar Tambak Sari adalah balai Banjar yang terletak di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Nama Tambak Sari di ambil dari daerah dimana di sekitarnya yang seperti rawa-rawa, karena letaknya yang di dataran rendah. Banjar ini memiliki struktur bangunan yang strategis, mempunyai tanah yang cukup luas, dan bertingkat pada bagian belakangnya (lantai 2). Banjar ini juga sering di pakai untuk tempat parkir mobil, dimana pemilik mobil tersebut tidak memiliki garase di rumahnya dan pemilik mobil tersebut tentunya warga dari Banjar Tambak Sari. Banjar ini di renofasi dan di bangun pada tahun 2002. Tahun 2003 Banjar Tambak Sari memiliki satu barungan gamelan Angklung, dan sebelum gamelan Angklung itu ada, satu barungan gamelan baleganjur sudah ada di Banjar tersebut. Di Banjar Tambak Sari ada beberapa sekha, yaitu diantarinya : Sekha Kidung, Sekha Angklung, dan Sekha Baleganjur. Diantara sekha-sekha yang tercantum di atas, sekha yang paling menonjol saat ini adalah sekha Angklung dan sekha Kidung. Kenapa saya katakan demikian, karena kedua sekha ini aktif di masyarkat, dimana sekha ini salalu menyempatkan diri untuk ngayah di Pura-Pura yang ada di seputaran Desa Kapal, dan wajib ngayah di Khayangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem). Sekha Baleganjur juga tidak kalah populer di masyarakat, karena dahulu pernah mendapatkan juara I (pertama) dalam ajang lomba Baleganjur se-Kabupaten Badung. Namun pada saat ini sekha Baleganjur perlu di bentuk kembali, karena sekha yang dahulu sudah lanjut usia. Selain sekha-sekha yang ada di Banjar, di lingkungan Banjar pun ada beberapa sekha. Sekha yang saya maksud yaitu diantaranya ada Sekha Gong Pura Dalem Salunding, Sekha Baleganjur Pura Dalem Salunding, Sekha Salonding Pura Dalem Salunding, Sekha Kidung Pura Dalem Salunding dan Sekha Semarpegulingan Lingga Jati. Sekha Gong Pura Dalem Salunding, Sekha Baleganjur Pura Dalem Salunding, Sekha Salonding Pura Dalem Salunding, dan Sekha Kidung Pura Dalem Salunding yaitu bertempat di Pura Dalem Salunding, Desa Kapal, tepatnya di lingkunga Banjar Tambak Sari, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Diantara  Sekha Gong Pura Dalem Salunding, Sekha Baleganjur Pura Dalem Salunding, Sekha Salonding Pura Dalem Salunding, dan Sekha Kidung Pura Dalem Salunding ini yang paling menonjol yaitu sekha Beleganjur Pura Dalem Salunding, dimana sekha Baleganjur ini pernah mendapatkan juara I (pertama) berturut-turut tiga kali. Pertama kalinya mendapat juara I (pertama) yaitu di ajang lomba Baleganjur se-Bali dalam rangka Festival Seni Budaya Kabupaten Badung, yang ke dua yaitu mendapatkan juara I (pertama) di ajang Lomba Baleganjur se-Bali di Kabupaten Klungkung, dan yang terakhir yaitu mendapatkan juara I (pertama) dalam Lomba Baleganjur antar Kabupaten se-Bali dalam rangka Pesta Kesenian Bali. Sekha Semarpegulingan Lingga Jati ini adalah sekha yang bertempat di rumah Andi Pastika Putra, tentunya di lingkungan Banjar Tambak Sari dan warga Banjar Tambak Sari. Disebuah Banjar, ada yang dinamakan Banjar Adat dan Banjar Dinas. Di Banjar Adat ada seorang ketua atau Kelian Adat dan di Banjar Dinas juga ada seorang ketua atau Kelihan Dinas, untuk saat ini yang masih menjabat menjadi Kelihan Adat yaitu I Made Suka Adnya dan yang menjadi Kelian Dinas yaitu I Made Wartika. Banjar Adat adalah Banjar yang mengatur tentang upacara adat, dimana adat terbut harus di patuhi, seperti upacara Pengabenan, Pernikahan, Ngayah di Pura Khayangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem). Sedangkan Banjar Dinas adalah Banjar yang mengatur tentang Kependudukan, seperti jumlah penduduk pendatang yang tinggal di seputaran Banjar Tambak Sari, mengurus KTP, dan mengurus tentang jumlah kelahiran yang ada di Banjar Tambak Sari. Jumlah kepala keluarga di Banjar Tambak Sari adalah 152 kepala keluarga. Di Banjar Tambak Sari juga ada yang dinamakan Sekretariat PKK, dimana anggota tersebut seluruhnya wanita. Jumlah PKK di Balai Banjar Tambak Sari yaitu 152 orang. Banjar Tambak Sari memiliki kegiatan rutin stiap tanggal 9 yaitu mengadakan imunisasi yang dinamakan POSYANDU, baik untuk memeriksa berat badan, dan kesehatannya. Kegiatan ini di selenggarai oleh Sekretariat PKK Bnjar Tambak Sari dan kegiatan ini dilaksanakan di Balai Bnajar Tambak Sari. Di sebuah banjar ada juga perkumpulan pemuda dan pemudi yang sering dinamakan Sekretariat STT (Sekha Truna Truni) dimana anggotanya berjumlah 82 orang, Pemudanya berjumlah 50 orang dan Pemudinya berjumlah 32 orang. Nama Sekretariat STT (Sekha Truna Truni) di Banjar Tambak Sari yaitu Truna Jaya, yang berarti kepemudaan yang selalu jaya didalam masyarakat. Sekretariat STT ini juga miliki kegiatan rutin setiap bulan yaitu rapat arkhir bulan, dimana rapat tersebut membahas tentang kegiatan setiap bulannya dan bagaimana caranya untuk di bulan yang akan datang supaya lebih baik dari bulan sebelumnya. Di samping itu Banjar Tambak Sari juga memiliki sebuah sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang dinamakan Graha Kumara. Dimana yang mengikuti sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ini dari yang berumur 04 – 06 tahun. Untuk saat banyak murid di PAUD Graha Kumara yaitu 30 orang dan jumlah Guru yang mengajar PAUD ini ialah tiga orang wanita. PAUD ini memiliki tiga kelas, diantaranya ada yang dinamakan Kelompok Bermain, TK A, dan TK B. Dari umur 02 – 04 tahun, mereka tergolong kelas Kelompok Bermain, dari umur 04 – 05 tergolong kelas TK A, dan dari umur 05 – 06 tergong kelas TK B. PAUD Graha Kumara ini juga diberikan pelajaran Seni Budaya, yaitu di ajarakan menari Bali. Penanaman Seni Budaya hrus dilaksanakan sejak dini, seperti yang dilakukan para Guru PAUD Graha Kumara kepada anak didiknya. Supaya Seni dan Budaya Bali tetap ajeg dan bisa di wariskan kepada generasi berikutnya. Demikian sekelumit tentang Banjar Tambak Sari, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dan tidak lupa saya mengucapkan terimakasih.