7 UNSUR KEBUDAYAAN DALAM KARAWITAN BALI

Maret 6th, 2018

1.Bahasa

Bahasa sebagai sarana komunikasi juga terdapat pada dunia karawitan Bali. Secara fungsi dalam pementasan bahasa dalam karawitan Bali dibedakan menjadi 2 yaitu (a) bahasa tubuh, (b) bahasa sebagai bagian komposisi karawitan. Selain kedua jenis bahasa tersebut, terdapat fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam perkembangan seni karawitan Bali.

 

A. Bahasa tubuh.

            Bahasa tubuh yang dimaksud disini adalah suatu tanda atau kode dalam suatu pementasan ataupun proses latihan karya seni karawitan. Kode tersebut meliputi kode saat suatu gending atau lagu akan dimulai, kode keras atau lirihnya gending atau lagu, dan kode gending atau lagu tersebut akan berhenti sejenak atau berakhir. Pada umumnya yang memberikan kode adalah pemimpin dalam barungan gamelan tersebut, misalanya kode yang diberikan oleh pemain ugal (giying), kendang, Atau pemain instrument lainnya yang diberi tugas untuk memimpin suatu gending atau lagu yang akan dipentaskan.

B.Bahasa sebagai bagian komposisi karawitan

            Dalam suatu komposisi karya seni karawitan baik yang tertuang dalam bentuk karawitan vokal maupun instrumental terdapat beberapa komposisi yang menggunakan lirik lagu atau gending. Lirik tersebut merupakan bagian dari komposisi gending atau lagu yang sengaja dibuat oleh komposer. Lirik-lirik tersebut pada umumnya menggunakan bahasa Bali, bahasa Jawa kuna dan ada juga yang menggunakan bahasa Sansekerta.

C.Bahasa sebagai sarana komunikasi dalam perkembangan seni karawitan Bali   

Selain bahasa sebagai bagian komposisi lagu dan pementasan, Bahasa juga berfungsi dalam perkembangan karawitan. Dalam hal ini bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi yang sangat penting untuk perkembangan seni karawitan Bali. Minimal menguasai 2 (dua) bahasa bagi seniman karawitan Bali, yaitu bahasa indonesia, dan bahasa Inggris untuk dapat mengembangkan seni karawitan Bali di tingkat Nasional maupun Internasional.

2.Teknologi

Dewasa ini seni karawitan Bali sudah berkembang cukup pesat dan dibuktikan dengan mulai masuknya teknologi dalam berbagai bidang pementasan karawitan Bali. Teknologi tersebut memiliki peran yang cukup penting dalam suatu pementasan karawitan Bali. Berikut adalah teknologi yang umumnya digunakan dalam pementasan atau pergelaran karya seni karawitan:

 

  • Sound sistem

Suara atau bunyi merupakan unsur utama dalam suatu pementasan karya seni karawitan. Pementasan karawitan yang dilakukan di pura dengan tujuan persembahan kepada Tuhan (ngayah) memposisikan sound sistem sebagai teknologi pendukung.

Namun dalam ajang bergengsi seperti Pesta Kesennian Bali (PKB) atau pementasan karawitan yang berfungsi sebagai pertunjukan atau tontonan, sound sistem wajib atau harus ada untuk mensukseskan pementasan tersebut.

  • Lighting (pencahayaan)

Sama halnya dengan sound sistem, lighting merupakan teknologi yang membawa dampak positif dalam suatu pementasan karawitan Bali. Lighting dapat berfungsi sebagai pembentuk suasana yang dapat memperjelas atau mempertegas maksud dari sebuah karya yang dipentaskan.

3.Ekonomi

Dalam orientasi nilai budaya terdapat beberapa masalah dasar dalam hidup, salah satunya yaitu hakikat karya yang mengatakan bahwa karya itu untuk nafkah hidup, karya itu untuk kedudukan, kehormatan dan karya itu untuk menambah karya. Dalam perkemangan karawitan dewasa ini dapat kita lihat orientasi nilai budaya tentang ‘karya itu untuk hidup’. Dapat kita ketahui bahwa tidak dapat dipungkiri di era globalisasi ini seni pertunjukan karawitan Bali pun menjadi ladang penghidupan untuk menghasilkan pundi-pundi uang bagi para seniman karawitan untuk menggerakkan roda perekonomian mereka.

Contohnya sebagai pengisi acara di berbagai sektor pariwisata di Bali. Acap kali suatu karaya seni karawitan dibuat untuk kepuasan sang komposer dan juga untuk kepentingan ekonomi dengan cara merekam karya tersebut dan mencetak dalam bentuk kepingan cd yang kemudian dipasarkan di berbagai tempat di Bali bahkan hingga di luar Bali.

4.Organisasi sosial

Di Bali banyak terdapat organisasi sosial khususnya yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat. Organisasi tersebut terdapat di masing-masing Banjar (dusun) dengan sebutan sekaa. Banyak jenis sekaa yang terdapat di Bali, namun yang menaungi bidang karawitan disebut sekha gong. Sekaa gong memiliki struktur yang hampir sama dari organisasi lainnya namun dengan lingkup yang lebih kecil. Sekaa gong memiliki peran yang sangat penting dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat Bali yang tak lepas dari upacara agama Hindu, dan bahkan dalam kegiatan penting lainnya yang melibatkan atau memerlukan karya seni karawitan Bali tersebut.

Selain sekaa gong, di Bali juga banyak organisasi sosial karawitan Bali yang bertujuan untuk melestarikan seni karawitan Bali, diantaranya adalah: sanggar, dan juga komunitas seni karawitan. Selain untuk melestarikan seni budaya Bali, sanggar atau komunitas seni tersebut berfungsi sebagai wadah kreatifitas bagi seniman-seniman Bali dari berbagai usia, baik anak-anak, remaja maupun yang sudah berkeluarga. Sanggar dan komunitas memiliki lingkup wilayah yang lebih luas (tak terbatas) bagi anggotanya dibandingkan sekaa gong yang pada umumnya hanya beranggotakan masyarakat Banjar (dusun) tersebut.

5.Pengetahuan

Kebanyakan dari masyarakat Bali mengetahui lembaga pendidikan Nasional di bidang seni khususnya jurusan seni karawitan seperti SMK Negeri 3 Sukawati (KOKAR BALI), SMK Negeri 5 Denpasar, Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar), dan lembaga pendidikan nasional di bidang karawitan lainnya hanya memberi pengetahuan dalam bidang praktek. Namun faktanya tidaklah demikian, karena lembaga pendidikan tersebut juga memberikan pendidikan atau pengetahuan secara terori baik tentang karawitan itu sendiri maupun pendidikan teori umum lainnya.

Dengan demikian pengetahuan praktek dan teori siswa atau mahasiswa memiliki kemampuan yang seimbang. Siswa/mahasiswa yang memilih pendidikan di lembaga pendidikan Nasional dalam bidang seni khususnya seni karawitan diharapkan menjadi seniman karawitan yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, sehingga di era globalisasi ini mampu bersaing, dan berkarya kemudian mampu mempertanggung jawabkan karya yang di buat di semua kalangan masyarakat.

6.Agama

Gamelan adalah salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dari seni karawitan. Gamelan merujuk pada seperangkat atau instrumen alat, sedangkan karawitan lebih kepada komposisi lagu atau gending. Sebagaimana keberadaan seni didalam masyarakat Bali, gamelan tidak dapat dipisahkan dari konsep keseimbangan hidup orang Bali yangi meliputi keseimbangan hidup manusia dengan tuhan, dan memiliki nilai atau peran yang sangat penting dalam kaitannya dengan upacara Agama Hindu di Bali.

Seperti yang dijelaskan dalam buku Prakempa (lontar gamelan Bali) bahwa bunyi, suara, nada dan ritme diciptakan oleh Sang Hyang Tri Wisesa dimana nada-nada tersebut diwujudkan dengan simbol penganggening aksara, seperti bisah, taleng dan cecek. Bunyi dengan warnanya masing-masing menyebar ke seluruh penjuru bumi dan akhirnya membentuk lingkaran yang disebut lingkaran pengider bhvana.

Dalam kaitannya dengan upacara seni karawitan Balli jika dilihat dari segi fungsi dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:

  • Wali, yaitu menjadi bagian yang harus ada dari suatu upacara.
  • Bebali, yaitu berfungsi sebagai pendukung upacara.
  • Balih-balihan, yaitu berfungsi sebagai hiburan atau tontonan.

 

Keberadaan gamelan dalam sebuah upacara mampu mengangkat religiusitas sebuah upacara keagamaan. Gamelan yang digunakan dalam prosesi ritual Hindu memiliki andil yang sangat besar dalam menciptakan suasana hati. Dalam filsafat hindu musik memiliki tempat yang istimewa terkait dengan ritual keagamaan. Sebagaimana yang tercatat dalam Rgveda VIII 69.9 diuraikan bahwa:

Ava svarati gargaro

godhapari sanisvanat

pinga paricaniskadad

indra ya brahma-udyatam

Artinya:

“Kelompok orang-orang yang bersembahyang mempersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan alat-alat musik (gamelan) yang menyertainya yang dinamakan oleh pengatur tinggi nada. Kecapi dan seruling”(dalam Donder, 2005:43).

Berdasarkan keterangan-keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa seni karawitan Bali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan beragama (Hindu) di Bali.

7.Kesenian

Kesenian adalah segala ekspresi hasrat manusia akan keindahan. Dan Karawitan merupakan bagian dari kesenian, yang juga bagian dari kebudayaan. Jadi jika ditinjau dari sekala atau lingkup bahasan, kebudayaan memiliki sekala atau lingkupnya besar, kesenian merupakan substansi dari kebudayaan sehingga kesenian memiliki ukuran atau skala yang yang sedang, kemudian karawitan adalah bagian dari kesenian yang skala atau lingkupnya lebih kecil. Semua yang terdapat dalam seni pertunjukan karawitan memiliki unsur estetika atau keindahan khususnya bagi penikmatnya.

Selain seni suara, seni rupa adalah seni yang yang tidak dapat dipisahkan dalam seni pertunjukan Bali. Hal tersebut dapat dilihat khususnya dari bentuk gamelan, dan dalam penampilan suatu pergelaran seni karawitan Bali. Contohnya adalah bentuk dan ukiran pada pelawah gamelan, hiasan-hiasan dalam suatu pergelaran, tata rias, tata busana, dan juga properti dalam suatu pementasan karya seni karawitan Bali.

KEPUSTAKAAN

Ariasa, I WM. 1984 / 1985. Pengetahuan Karawitan Bali, Denpasar: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali.

Bandem, I Made. 1986. Prakempa Sebuah Lontar Gamelan Bali, Denpasar: Akademi Seni Tari      Indonesia Denpasar.

Koentjaraningrat. Edisi revisi 2009. Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta.

Yudarta, I Gede. 2016. Gamelan Gambang Dalam Prosesi Pitra Yadnya Di Bali, Denpasar: Jurnal.ISI-dps.ac.id.

 

Leave a Reply