SEJARAH GAMBELAN GAMBUH DI DESA BATUAN

 

KEKHASAN GAMBELAN GAMBUH

Gamelan Gambuh adalah sebuah Gamelan Bali yang dipergunakan untuk mengiringi dramatari Gambuh. Oleh karena tradisi Gamelan Gambuh pernah mengalami kejayaanya pada zaman raja-raja Bali Hindu , maka Gambuh di golongkan sebagai gamelan madya.

Sebagai iringan tari (gending-gending Gambuh lebih bersifat gending-gending yang dtarikan daripada bersifat unstrumental), Gambelan Gambuh bisa mengungkapkan bermacam-macam jenis gending sesuai dengan karakter atau perwatakan tari yang diiringi. Sebagaian besar penyesuaian ini tercapai lewat sistem tetekep ( disebut juga patutan, saih , atau peatet), di mana lima jenis deretan nada , yakni selisir , sunaren , tembung ,Baro dan leben dapat dibentuk melalui perubahan tutup lubang suling ( bahasa Bali : tekep). Sistem Tetekep memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan karawitan dan pelarasan gamelan Bali.

Selain sistem tetekep tersebut, faktor lain seperti melodi, struktur, dan dinamika (keras-lirih; cepat lambat-lambat, aksen-aksen, dan sebagainya) juga disesuaikan dengan perwatakan masing-masing tari yang diiringi, sehingga kaitan di antara gending dan tari sangat erat.

Gamelan Gambuh menduduki posisi yang unik  hal instrument. Yang paling menonjol adalah pengunaan suling yang berukuran besar , dengan panjang 75 – 100 cm. untuk memainkan suling ini diperlukan kemampuan ngunjal angkian (tiupan yang tidak putus) yang sebaik-baiknya dan tehnik khusus untuk memegangnya. karena suling jenis ini tidak ditemukan pada gamelan lain,maka di namakan suling Gambuh ,dan merupakan instrument yang paling khas dalam gamelan Gambuh. Di samping suling Gambuh , instrument lain seperti gumanak,kangsi,rincik,gentorag,klenang,dan kenyir juga menentukan ke khasan dari gamelan Gambuh. Tiga diantaranya (kenyir,gumanak,dan,kangsi) tidak ditemukan pada gamelan lain di Bali Zaman kini satu lagi (gentorag) sangat jarang. Instrument terpenting adalah Rebab. Walaupun gamelan lain mempergunakan suling dan rebab , namun pada gamelan lain tidak merupakan suatu hal yang mutlak harus ada.

Seperti disebut di atas, intrumentasi gambelan gambuh menduduki posisi yang unik di dunia karawitan Bali. Misalnya, walaupun batang (pokok) gending pada gambelan lainnya biasanya dibawa oleh intrumen tertentu (seperti jegogan,jublag dan panyacah pada gamelan Gong), gamelan Gambuh tidak menggunakan alat serupa. Melodi dibawa sepenuhnya oleh beberapa suling yang sangat panjang, diiringi satu atau buah rebab; tidak ada lapisan melodi lain.itu berarti, semua unsur melodi – pokok, hiasan, dan segala variasi – terkandung dalam melodi suling dan rebab.

 

Intrumentasi Gambuh dalam Aji Ghurnita

Di dalam lontal Aji Ghurnita juga didaftarkan intrumentasi gamelan Gambuh, yang disebut Gamelan Meladprana (Rembang 1973 :2-3) Kutipannya adalah sebagai berikut :

Kunang purwakaning gegambelan, denya meladprana

tiniladan sakeng Smaralaya denya rum amanis karungu,

 yogya huni hunyanira sang natha ratu amangun restha ing

Karaton ira. Kalanya pinalusthananya radagading para basyanira

sang prabbu ring Yawa…

 

Asal mula gambelan ditiru menurut meladprana dari Smaralaya

yang enak didengar dan menyebabkan perasaan sang penguasa

senang di hati di keratonnya; tatkala menghibur para raja di jawa…

Kunang bebarungan :

  1. 1.      Kempul asiki pasawur paketutan ding pelok sinarungandenining

Pasawur salendro salendro.

  1. 2.      Rebab sawiji.
  2. 3.      Suling pagabab, wangunya lwih ageng dening suling pengageng sawiji,

Pasawurnya angumbang.

  1. 4.      Suling paangageng sepasang, pasawurnya ngumbang ngisep.
  2. 5.      Suling babarangan sepasang, pasawurnya ngumbang ngisep
  3. 6.      Mwah suling panitir wangunya lwih alit dening suling babarangan

Sawiji,pasawurnya ngisep alit.

  1. 7.      Kenyior satungguh, pawaangunya sekadi gangsa, dawunya katrini,

Sama pateb swara ndeng, pasawur pelok kaselendroan.

  1. 8.      Kenang sawiji sawurnya ndong pelok kasalendroan.
  2. 9.      Kajir sawiji sawurnya ndung pelok kasalendroan.
  3. 10.  Gupek apasang lanang wadon.
  4. 11.  Gumanak tigang wiji alit.
  5. 12.  Kangsi kalih tungguh alit-alit.
  6. 13.  Ricik petang tungguh alit-alit.

 

Kelompoknya terdiri dari :

  1. Satu kempul berbunyi ding slendro
  2. 2.      Satu rebab
  3. 3.      Satu suling pangabah dengan bentuk lebih besar dari suling pangageng,

Berbunyi ngumbang

  1. Satu pasang suling pengageng, berbunyi ngumbang isep
  2. Satu pasang suling babarangan, ngumbang isep
  3. 6.      Satu suling panitir, bentuknya lebih kecil dari suling babarangan, berbunyi ngisep alit
  4. 7.      Satu kenyior, bentuk seperti gangsa, daunnya teratur, semua bersuara ndeng, berbunyi pelog-slendro
  5. 8.      Satu kenong, berbunyi ndong, pelog-slendro
  6. 9.      Satu kajar, berbunyi ndung, pelog-slendro
  7. 10.  Satu pasang gupek, lanang wadon
  8. 11.  Tiga gumanak kecil
  9. 12.  Dua kangsi kecil
  10. 13.  Empat ricik kecil

 

Masih banyak lagi yang tercantum di dalam lontar Aji Ghurnita. Jadi gamelan Gambuh yang di lukiskan dalam tulisan Aji Ghurnita menggunakan suara suling yang warnanya berbeda dengan suling zaman kini.pertama, bahwa bukan hanya satu jenis tetapi empat jenis suling di sebutkan, dari yang paling besar (“suling pagabah”) sampai yang paling kecil (“suling panitir”). Sedangkan di dalam gamelan gambuh yang sekarang terdapat hanya satu jenis saja. Lebih lanjut,masing-masing jenis terdiri dari satu pasang suling, yaitu pangumbang dan pangisep. Sedangkan semua suling Gambuh yang masa kini di dalam satu barungan gamelan di harapkan sama (tidak dibedakan pangumbang pangisep).

 

Sejarah Gamelan Gambuh

Menurut seniman alam Imade Djimat selaku seniman tari di desa batuan, berdirinya gambuh di desa batuan pada tahun 993 menurut buku yang berjudul Usana jawa dan sejarah bali  yang waktu itu beliau dapat membaca di rumah bapak I Nyoman Rinda (alm) di Desa Blahbatuh. Sejarahnya pada zaman dulu ada kisah kebo taruna atau bisa di sebut dengan kebo iwo yang menyabit pepohona di Batuan atau dulunya di sebut Desa Bebaturan sampaik bersih dari Pura Yhang Tibah yang ada di Desa Cangi sampai di Desa Bebaturan.sampai sekarang pura yang ada di Desa Cangi dan di Desa Batuan itu menjadi Sejarah Purba Kala yang terlihat di dalam buku tersebut. Dan tentang perbedaannya dengan Gambuh Desa Pedungan  adalah dari segi tarian sudah berbeda antara gerak, pakem-pakem dan  dari segi ucap-ucap (dialog) yang ada di Desa Pedungan sangat berbeda dengan yang ada di Desa Batuan.

Bapak Iwayan Naka pemain sebagi pemain suling di Desa Batuan, Beliau mempelajari gambelan gambuh pada Tahun 1971 Di Batuan. Menurut beliau sejarah Gambelan Gambuh di Batuan dulunya sudah ada sejak tahun 30an. Nama dari grup atau seke Gambuh itu yaitu Gambuh Tri Wangsa dan Sila Mukti saat masih bersatu pada saat dulu masyarakat yang ada di Desa Batuan belum pecah belah, magzudnya adalah dulu di batuan msyarakatnya ada yang biasa(soroh jaba atau braya) dan berdrajat (soroh dewa, idabagus). Pada saat itu tabuh Pegambuhan di pegang oleh msyarakat yang berdrajat(soroh dewa, dan idabagus) dan dari segi tarian di pegang oleh msyarakat biasa( soroh jaba atau braya) yang kebanyakan para senimannya dari Banjar Pekandelan, yang ada di Desa Batuan seperti I Made Djimat, Kak Kakul(alm), I Nyoman Sadeg(alm) DLL. Pada tahun 1966 masyarakat di batuan pecah menjadi dua soroh. Mereka yang soroh berdrajat tidak mao satu pura dengan yang soroh biasa di pura pusah batuan, sejak itu mereka membangun  pura baru di sebelah perempatan di desa batuan. Sejak itu di Desa Batuan tidak pernah ada pementasan gambuh karena intrumentnya sudah di ambil oleh semeto atau masyarakat yang berdrajat yang pada masa itu Sekaanya yang bernama Gambuh Tri Wangsa, mereka tidak mao meminjamkan apa pun terhadaap msyarakat biasa (soroh jaba atau braya). Pada tahun 1971 ada karya agung di Pura Dalem Sukaluwih yang ada di batuan itu harus mementaskan Gambuh karya, dan pada saat itu msyarakat yang mengayomi pura itu kebanyakan dari Banjar Pekandelan, pada saat itu masyarakat Banjar Pekandelan mengundang Seka Gambuh dari para semeton itu, tetapi terlalu banyak perhitungan dan masalah biaya, Tujuanya tidak mau , makanya mereka terlalu berlika liku. Sejak itulah banjar pekandelan membuat gambuh bernama Gambuh Maya Sari yang masih menjadi toko pada saat itu adalah pak Mangku Budi yang sampai sekarang gambuh maya sari masih berjalan dan di kramatkan. Dan di Batuan Gambuh ini berdiri sejak tahun 1993, itu di latar belakangi oleh seorang seniman dari delmark yang bernaman Nyonya Kristina(alm) beliau meninggal di italia pada tahun 2008 dan beliau yang membuat Yayasan Gambuh Desa Batuan pada saat itu. Sebenarnya yayasan ini mau di serahkan ke Seka Gambuh, tetapi seka gambuh menolak karena kalau di seka di serahkan yayasannya maka yayasan itu akan hancur, karean di desa lebih kuat pertanggung jawabannya makanya di sekarang yayasan itu di kelola oleh Desa Batuan yang bernama Yayasan Gambuh Desa Pakraman Batuan.

 

Pada awalnya, teater total Gambuh adalah kesenian istana kaum bangsawan Bali tempo dulu. Pada masa kejayaan Dalem Waturenggong di abad ke 16, seni pertunjukan Gambuh adalah tontonan kesayangan seisi kraton dan masyarakat umum. Begitu tingginya gengsi kesenian ini hingga hampir setiap puri di Bali saat itu memiliki tempat khusus untuk menggelarnya yang disebut dengan bale pagambuhan.

 

Para seniman Gambuh yang menonjol direkrut menjadi seniman istana dan diberi status sosial yang terhormat. Akan tetapi seiring dengan terkikisnya era feodalisme ikut pula menggerus keberadaan seni pentas yang diduga sudah muncul di Bali pada abad ke- 10 ini,yang lakonnya bersumber pada cerita Panji.Gambuh berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama & tari, seni rupa,

 

seni sastra, dan lainnya. Kini hampir tak ada bekas pusat kerajaan yang masih memiliki bale pagambuhan. Para seniman yang terwadahi dalam sebuah sekaa yang khusus menggeluti teater Gambuh pun belakangan makin susut. Seni pertunjukan ini bahkan sudah masuk dalam katagori kesenian langka. Pementasannya hanya mungkin bisa dipergoki dalam upacara berskala besar,Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya.

Memasuki zaman kemerdekaan seni pertunjukan Gambuh memang beralih fungsi dari kesenian istana menjadi seni pentas ritual keagamaan. Penampilan Gambuh selain dimaknai sebagai presentasi estetik namun juga menjadi kelengkapan upacara keagamaan penting tersebut. Dalam suasana yang komunal dan atmosfir yang religius, generasi tua dan muda para partisipan upacara keagamaan itu menyaksikan teater tradisi yang amat jarang dipentaskan itu.( http://hindhuartalles.blogspot.com/2012/01/tari-gambuh.html)

Pertimbangan Ethno-historis

Sejak lahirnya Gambuh pada zaman kerajaan Bali, pengaruhnya Nampak terutama pada dua bidang karawitan Bali , yaitu Wayang dan Gamelan kerrawang Semar pagulingan. Untuk wayang Gambuh , yang menarik perhatian adalah pergunaan laras pelog tujuh nada ( dengan bermacam-macam patutan atau suasana). Mengenai gamelan semar pagulingan , pengaruh dari Gambuh.

Data yang lebih nyata baru muncul pada abad ke-19. Seperti disinggung pada bab-bab lain di atas, fakta-fakta dari berbagai sumber tertulis( termasuk penyaksian beberapa orang asing) menyebut keberadaan Gambuh di sekitar dua puluh tempat di Bali. Selain itu juga ada ikonografi mengenai pemakaian instrumen Gambuh (Vickers 1985). Foto yang pertama adalah sebuah grup Gambuh adalah pada bukunya Jacops (1883) , seorang Dokter yang ditugaskan ke Bali oleh pemerintah Belanda. Foto ini memperlihatkan grup yang terdiri dari dua suling panjang , sebuah kajar , sepasang kendang , dan sebuah kempur , yaitu instrumentasi yang kurang lngkap menurut kebiasaan zaman sekarang    ( Vickers 1985: 152) setelah itu ada foto sebuah Gamelan di Klungkung , yang dibuat pada tahun 1922 oleh Jaap Kunst. Tetapi instrument grup ini pun kurang , khususnya Suling dan Rebab ( yang sekarang ada di Moseum Nasional Jakarta) tidak keliatan pada foto itu. Hal ini mungkin disebabkan puputan Klungkung yang terjadi pada tahun 1908, di mana grup yang sebelumnya dilindungi puri Klungkung mengalami kemerosotan yang cepat.

Pada tahun 1930an , beberapa budayawan masih sempat menyaksikan pertunjukan Gambuh dengan rombongan besar ( seperti tindakan pada sebuah upacara untuk Raja Karangasem). Tetapi secara umum pertunjukan Gambuh semakin jarang karena Kerajaan Bali sebagai pengayomnya yang hamper punah , seperti dibahas secara mendetail di bab “ Tinjauan Seni Gambuh”

Jadi sistem laras saih pitu di duga sudah ada di bali sebelum munculnya Gambuh (dan masih terdapat utuh pada gamelan kuno seperti gambang, luang,dll); bahwa perbatasan historis pada kerajaan majapahit telah di akui sebagai perbatasan penting di dalam perkembangan-perkembangan gambelan yang ada di bali; bahwa musik Gambuh adalah contoh kebudayaan Majapahit yang paling penting dalam bidang karawitan bali. (baca: mencerminkan kebudayaan kerajaan, dan mempengaruhi gambelan-gambelan lain)

Menurut Sinti (1996:1) Pemilihan istilah tergantung gamelan yang mana di bicarakan. Biasanya istilah saih di pakai dalam gambelan gambang ,luang,slunding, dan vokal kidung; patutan dipakai dalam gambelan Semara Pagulingan,Palegongan,Gong,angklung dan Gender Wayang; dan istilah tetekep di pakai dalam gamelan Gambuh. Sedangkan istilah patet atau pathet di pakai dalam jawa. Walaupun masing-masing istilah mempunyai arti yang sedikit berbeda, dalaam naskah ini dianggap sama.

 

‘’Intrument Gambuh yang ada di Desa Pakraman Batuan’’

 

Suling

Suling Gambuh adalah yang ukuranya paling panjang dan besar disbandingkan dengan jenis suling lainya. Suling di Gambuh di Pedungan 75-80 cm garis tengahnya 4-5 cm. ujung bagian atasnya tertutup sedangkan ujung bawahnya terbuka. Suling dilengkapi dengan dua jenis lubang , yaitu lubang pengatur nada dan lubang pengatur udara. Lubang pengatur nada sebanyak enam buah terletak pada bagian depan , dan lubang tiup biasa disebut lubang pemanis terletak pada ujung atas bagian belakang. Lubang nada dalam suling mempunyai dua jenis jarak , yaitu jarak yang sama dan tidak sama. Jarak yang tidak sama adalah diantara lubang ketiga dengan keempat. Suling Gambuh ditiup pada ujungnya , pada bagian suling , menggunakan siver yang dibuat dari irisan bamboo atau daun lountar.

Rebab

Rebab terbuat dari kayu yang terdiri dari beberapa bagian , yaitu menur,kupingan, irung-irung ,bantang, batok,batis dan pengaradan.

Kendang

Kendang Gambuh di Pedungan menggunakan kendang krumpungan. Karena ,suara krumpung (yaitu suara nyaring yang dihasilkan dari pinggir muka kecil) merupakan cirri khas kendang ini, dan mengambil peran yang penting dalam mengatur dinamika sebuah gending”. jenis kndang krumpungan ada dua buah , yaitu satu kendang lanang dan kendang wadon. Kedua jenis suara kendang tersebut dibedakan dalam hal tinggi redahnya suara kendang , yakni suara kendang lanang relative lebih kecil daripada kendang wadon.

Kajar 

Kajar pada pegambuhan moncolnya pesek yang terbuat dari perunggu yang dipukul dengan panggul kayu.

Rincik (ricik)

Ricik dalam Gamelan Gambuh berfungsi juga untuk memperkaya ritme. Dalam hal ini tidak jauh beda dengan salah satu fungsi kajar , yaitu mengikuti pukulan kajar , yaitu mengikuti pukulan kendang.

Klenang

Klenang adalah instrument yang bermoncol (bagian yang menonjol) bahanya dari l perunggu, klenang pegambuhan di Pedungan ditempatkan pada tatakan kayu , dan dipukul dengan sebuah panggul kayu.

Kenyir

Kenyir adalah instrument yang punya hubungan erat dengan klenang karena pukulannya terus bergantian. Tetapi dari segi fisiknya sangat berbeda klenang tergolong sebagai instrument bermoncol ,sedangkan kenyir termasuk instrument bentuk bilah seperti pemade , kantilan ,dll.

Gumanak

Gumanak adalah instrument yang hanya terdapat pada gamelan Gambuh saja. Bentuknya adalah selinder kecil yang terbelah dan bahannya perunggu. Di pedungan hanya dua buah Gumanak dipakai.

 

Kangsi

Kangsi adalah sepasang ceng-ceng kecil yang bahannya dari perunggu dan diisi tangkai bambu. Tangkai itu bercabang dua sehingga kedua piringan ceng-ceng saling berhadapan.

Gentorag

Gentorag adalah sebuah instrument yang terdiri dari kumpulan genta-genta kecil bahannya terbuat dari perunggu. Gentora di Pura Puseh Pedungan berjumlah 25 buah , digantung dirangkai pada tiga lingkaran , yang lebih besar dibagian bawah dan yang lebih kecil di bagian atas , sehingga bentuk keseluruhannya seperti kerucut.

Kempur

Kempur pada Gambelan Gambuh adalh instrumen yang fungsinya menandai peredaran struktur dan khususnya menunjukan akhir siklus (finalis) .

keterangan

Gamelan yang lengkap memerlukan tenaga kurang lebih 17 orang.Instrumentasi Gamelan Gambuh menduduki posisi yang unik di dunia karawitan Bali. Selain kelompok pembawa melodi, gamelan Gambuh terdiri dari berbagai instrumen perkusi , yaitu alat-alat yang dipukul dengan tangan atau panggul. Jika di analisa satu per satu jelas bahwa masing-masing alat perkusi ini mempunyai fungsi musikal yang berbeda.

 

 

Gending-gending yang ada di Gambuh Desa Batuan

 

 

Tetekep Selisir                                                       Tetekep Sunaren                 

Gending Gineman                                                        Gending Gineman                                                                                                                                                     

Gending Tabuh Gari                                                   Gending Gadung Melati                                            

Gending Subandar                                                      Gending Tembang Uyung

Gending Lasem                                                           Gending Gabor

Gending Sekar Eled                                                    Gending  Brahmana

Gending Batel Selisir                                                 

Gending Ginanti

Gending Geguntangan

Gending Pelayon

 

 

 

Tetekep Baro                                                           Tetekep Lebeng

Gending sekar gadung                                                  Gending Gineman Sumeradas

Gending Kunjur                                                              Gending Sumeradas                                      

Gending Batel Baro                                                       Gending Kumambang                                                           

Gending Bapang Gede                                                  Gending Lengker                              

Gending Jaran sirig                                                      Gending Biakalang                                       

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

1  .Gambuh Drama Tari bali, Tinjauan seni, Makna Emosional dan Mistik, Kata-kata Teks,       Musik Gambuh Desa Batuan Dan Desa Pedungan.

2 .( http://hindhuartalles.blogspot.com/2012/01/tari-gambuh.html)

 

 

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*