Tari Gambuh

This post was written by ptsuardana on Maret 20, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

Sejarah Tari Gambuh

 

 

Istilah Gambuh pertama-tama dijumpai dalam lontar Candra Sengkala yang di dalamnya ada menyebutkan : “Sri Udayana suka angetoni wang Jawaa mengigal, sira anunggalaken sasolahan Jawa mwang Bali, angabungaken ngaran Gambuh, kala iḉaka lawangngapit lawang”. Kalimat berbahasa Kawi diatas berarti : Sri Udayana suka melihat orang-orang Jawa menari yang mempersatukan tari Jawa dengan tari Bali, menggabungkan yang kemudian disebuh Gambuh, pada tahun ḉaka 929 atau tahun 1007 Masehi. Sumber lain yang juga ada mengungkapkan masalah Gambuh ini yakni Babad Dalem (Babad Samprangan) yang didalamnya ada kalimat yang berbunyi : “Puput kedaton ring Samprangan, kedatwanira Dalem Wawu Rawuh, wangun Gambuh paara aryeng Majapahit ring Bali, sunia buta segara bumi”. Kalimat tersebut artinya : setelah selesainya kraton di Samprangan yang merupakan kraton dari Dalem Wawu Rawuh, disusun (dibentuk) sebuah Gambuh oleh para arya-arya dari Majapahit yang ada di Bali pada tahun ḉaka 1350 atau tahun 1428 Masehi. Kalau kita melihat pada cerita baku dari dramatari Gambuh yaitu cerita Panji, tokoh-tokoh yang ditampilkan dan Gambuh juga memakai nama-nama tokoh dari cerita Panji seperti : Rangkesari, Panji, Prabangsa, Kadean-Kadean, Demang Tumenggung, Gunung Sari dan lain sebagainya.  Struktur Pertunjukan Gambuh Berbicara tentang Pegambuhan kita tidak cukup hanya membicarakan tentang asal mulanya saja, akan tetapi dari segi-segi lainnya, seperti : pepeson, gambelan pengiring, pelaku, busana, dialog dan lain-lainnya juga perlu diungkapkan oleh karena hal-hal tersebut di atas sangat penting artinya di dalam Pegambuhan.

Pelaku

Sebagai dramatari yang tertua di Bali, Gambuh masih mempergunakan nama tokoh dari kaum bangsawan dari kerajaan Jawa Timur pada abad ke XII – XIV seperti : Demang Tumenggung, Patih Rangga Toh Jiwa, Arya Kebo Tan Mundur, Arya Kebo Angun-Angun, Ken Bayan, Ken Sangit, Pangunengan, Pasiran, Panji Kuda Narawangsa, Maisa Prabangsa dan lain sebagainya. Pada mulanya dramatari Gambuh di Bali dibawakan oleh para penari yang terdiri dari kaum laki-laki namun dalam perkembangannya kemudian bahkan hingga sekarang bagian-bagian tertentu diperankan oleh pelaku wanita.

Papeson

Sebagaimana biasanya yang terdapat dalam suatu pementasaan Gambuh, bahwa papeson keseluruhan peran-peran yang ditampilkan adalah sebagai dibawah ini :

– Condong yg diiringi dengan tabuh Subandar.

– Kakan-kakan yang diiringi dengan tabuh Sumambang.

– Arya-arya dengan tabuh pengiringnya Sekar Gadung atau yang lainnya.

– Demang Tumenggung yang diiringi dengan tabuh Bapang Gede.

– Patih Manis (Rangga) diiringi dengan tabuh Godeg Miring, Tunjur.

– Panji dengan iringan tabuh Lengker, Sumeradas, Bapang selisir atau yang lain.

– Panasar dengan iringan tabuh Bapang.

– Prabu keras dengan iringan tabuh Godeg Miring, Biakalang atau tabuh lainnya.

Papeson diatas seringkali berubah tergantung dari jalannya cerita yang hendak dilakonkan.

Gambelan

Gambelan Pegambuhan yang lengkap terdiri dari instrument-instrumen seperti :

– Rebab (satu atau dua buah).

– Suling Pagambuhan (suling besar) dua atau tiga buah.

– Sepasang kendang (kendang kakrumpungan).

– Sebuah kajar.

– Sebuah Klenang.

– Setungguh ricik (cengceng kecil).

– Kenyir (satu tungguh).

– Gentorag (satu pancer).

– Gumanak

– Kangsi.

Diantara instrument-instrumen diatas, gumanak dan Kangsi kini sudah semakin jarang dipergunakan.

 

Perkembangan Gerak

Dari jenis-jenis gerak tari yang biasa dipergunakan dalam tari Gambuh, terdiri dari :

– Mungkah Lawang : gerakan seperti membuka langse yang biasanya dipakai untuk memulai suatu tarian condong.

– Ngeseh : gerakan sendi untuk menghubungkan agem kanan ke agem kiri.

– Ngalih pajeng : gerakan pencari pajeng (paying) yang merupakan salah satu property dari tempat pementasan (kalangan).

– Nayog : berjalan dengan ayunan tangan agak datar ke samping.

– Nyambir : mengambil ujung (sisi) kampuh kanan dengan tangan kiri dan kanan kemudian diangkat bersama-sama setinggi dada (di muka dada).

– Butangawasari : posisi berdiri dengan mengangkat sebelah kaki (nengkleng) dengan tangan kanan ditekuk diatas kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk ke samping.

– Gelatik nuut papah : meloncat kecil seperti burung gelatik baik ke kanan maupun ke kiri, sementara ditekuk datar ke samping kanan maupun kiri.

– Nepuk : mengambil (menyentuh) kampuh pada pertengahan dada, baik oleh tangan kanan maupun tangan kiri.

– Ngelangsut.

– Ngerajeg : gerakan mencari rajeg yang biasanya berfungsi sebagai dekorasi di sudut-sudut arena tari.

– Nyeleyog : gerak perpindahan yang disertai dengan perputaran bahu dadn kemudian dilakukan bersama-sama dengan memindahkan arah hadap.

– Anadab gelung : gerakan tangan untuk menyentuh bagian samping dari gelungan.

– Anadab karna : gerakan tangan untuk menyentuh telinga bagian atasnya.

– Anadah oncer : gerakan mengambil oncer.

– Tayungan ngotes (kotes) : ayunan tangan tepat ke muka dan ke belakang.

– Nakep dada : menutup dada dengan posisi tangan menyilang.

– Milpil : berjalan cepat.

– Malpal : berjalan cepat dengan langkah agak lebar dan berat.

– Ngulah : sejenis ngangsel namun dilakukan dengan melangkah ke depan.

– Ngeger : semacam ngangsel namun dilakukan dalam batas lagu yang lebih panjang. Ngeger ini juga disebut (ngopak lantang).

– Kirig udang : gerakan semacam ngangsel yang dilakukan dengan menarik salah satu kaki dengan tolehan stakato ke bawah.

Lakon

Sebagai lakon utama Gambuh lebih banyak melakonkan cerita-cerita dari cerita Panji. Beberapa cerita lain yang juga dapat dijadikan lakon Gambuh dan sudah biasa dilakonkan yakni :

– Cerita Ranggalawe

– Cerita DamarWulan

– Cerita Amad Muhamad

Busana

Secara umum bahwa semua peran-peran yang ditampilkan dalam Pagambuhan tata busananya terdiri dari busana “Kakampuhan” untuk peran putra dan busana putrid dengan segala variasi untuk peran-peran putrid (wanita), sebagai berikut :

– Untuk busana putra terdiri dari :

– Jaler : celana panjang berwarna putih ataupun loreng-loreng.

– Stewel : hiasan untuk membalut jaler dari bawah lutut sampai ke pergelangan kaki.

– Kain putih kekancutan : kain yang dipakai secara melilitkannya di badan setinggi dada (dipasang sebelum saput).

– Saput : semacam sarung yang dipegang pada satu sisinya, digambari dengan bermacam-macam ornament dari motif prada, atau dibuat dari kain loreng.

– Angkeb bullet (angkeb kancut) : hiasan kecil yang juga diprada, dipasang sesudah saput untuk menutup bagian punggung atau menutup ikatan kain putih kalau ujungnya dicawatkan di punggung.

– Bapang : hiasan pada leher (neckband).

– Baju.

– Gelangkana : hiasan kecil untuk menutup ujung baju pada pergelangan tangan.

– Awiran : hiasan kecil bermotifkan prada yang dipasang diatas (menutupi) angkeb atau digantungkan di bawah keris.

– Angkep pala : hiasan semacam angkeb kancut namun lebih kecil yang dipasang untuk menutupi pundak baik kiri maupun kanan.

– Sabuk : terdiri dari sabuk kancing yang dipasang di pinggang dan sabuk stagen untuk mengikat kain putih maupun saput.

– Untuk busana putrid terdiri dari :

– Kain : jenisnya ada yang memakai lancingan (kancut) ada juga yang tanpa kancut.

– Sabuk : sabuk stagen dan sabuk prada (semacam sabuk stagen yang dihiasi dengan motif-motif prada).

– Lamak : hiasan penutup badan bagian depan yang dipasang bergantungan dari atas susu hingga diatas lutut.

– Baju.

– Gelangkana : hiasan penutup ujung baju pada pergelangan tangan dan ada juga yang dipasang di lengan atas (hanya untuk peran putri raja).

– Ampok-ampok : hiasan dari kulit yang dipasang di pinggang.

– Bapang : hiasan pada leher yang dipasang membidang melingkari pundak dan dada.

Disamping busana diatas, baik peran putra maupun putrid masing-masing mengenakan hiasan kepala yang berupa udeng-udengan (destar) untuk para punakawan dan hiasan kepala berupa gelungan untuk peran-peran lainnya. Jenis-jenis gelungan yang dipergunakan dalam Pagambuhan dan Patih – Rangga :

– Gelungan Jajempongan dikenakan oleh Kadean-kadean.

– Gelungan Papudakan : dikenakan oleh Putri dan Kakan-kakan. Untuk Kakan-kakan bentuk papudakannya lebih kecil.

– Gelungan Papusungan : dikenakan oleh condong.

– Gelungan lengar dan Sobrat masing-masing dikenakan oleh Demang dan Tumenggung.

Dialog

Dialog Pagambuhan memakai bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Bali halus maupun bahasa Bali lumrah (kasar). Dialog ini bisa berupa pocapan biasa, tandak, dan palawakia sesuai dengan corak dialog Gambuh.

Tata rias

Tata rias dalam Pagambuhan dapat dikatakan tatarias biasa sebagaimana yang terdapat dalam dramatari Bali lainnya. Rias putri hanya memperjelas bentuk-bentuk alis, lekuk mata dan lipstick serta bedak. Di pelipis kiri kanan dan di sela-sela alis dibuat titik-titik putih yang disebut cundangan. Rias peran putra terutama putra manis tidak jauh berbeda. Bagi peran putra keras dan panakawan biasanya merias mukanya dengan memperbesar dan mempertebal alis, kumis dan kadang kala kalesnya. Hanya peran Demang Tumenggung yang menambahkan hiasan mukanya dengan beberapa garis putih dan titik-titik putih sehingga menimbulkan kesan “aeng” (menyeramkan) dan lucu. Dengan tidak menghendaki luas arena tari yang tertentu Gambuh bisa dipentaskan di malam hari maupun di siang hari tergantung pelaksanaan upacara ataupun tergantung waktu yang tersedia.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Next Post: