SEJARAH OGOH OGOH DIBALI

This post was written by ptsuardana on April 3, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

 

Ogoh-ogoh merupakan salah satu tradisi Umat Hindu khususnya di Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tradisi mengarak ogoh-ogoh di Bali biasa disebut dengan “pengerupukan”. Pengerupukan biasanya dilakukan tepat sehari sebelum hari raya nyepi.

Sejarah asal muasal dari ogoh-ogoh khususnya di Bali ada beberapa versi yang berbeda. Ada yang mengatakan ogoh-ogoh dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara pitra yadnya. Ada pula yang berpendapat bahwa ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Informasi lain menyebutkan bahwa ogoh-ogoh muncul sekitar tahun 70an.

Apapun pendapat tentang sejarah asal muasal ogoh-ogoh di Bali, dewasa ini meski Jaman semakin berkembang, teknologi semakin maju tapi ogoh -ogoh juga semakin dikenal bahkan menjadi salah satu tradisi yang ditunggu-tunggu oleh warga Bali bahkan wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Ogoh-ogoh adalah tradisi yang akan terus ada dari masa ke masa, karena merupakan sebuah seni dan kreatifitas tanpa batas oleh anak muda warga Bali.

Ogoh Ogoh merupakan sejenis patung yang melambangkan makhluk Bhuta Kala dalam kebudayaan Bali. Mengikut ajaran agama Hindu di Bali, Bhuta Kala melambangkan kekuatan (Bhu) alam semesta dan masa (Kala) yang tak terukur dan tak terhingga. Bhuta Kala digambarkan sebagai puaka atau raksasa yang besar dan menakutkan.

Selain berbentuk raksasa, Ogoh-ogoh juga digambarkan dalam bentuk makhluk-makhluk yang hidup di alam fana, surga mahupun neraka, seperti naga, gajah, garuda,  Widyadari, ataupun dewa. Kebelakangan ini, ada ogoh-ogoh yang dibuat menyerupai tokoh terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbaur politik atau diskriminasi walaupun tidak selaras dengan prinsip asas ogoh-ogoh, misalnya ogoh-ogoh yang menyerupai seorang pengganas

Tujuan utama ogoh-ogoh adalah sebagai lambang Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa lalu akhirnya dibakar hingga hangus pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Menurut para cendekiawan dan penganut agama Hindu Bali, upacara ngrupuk ini melambangkan kesedaran insan terhadap kehebatan alam semesta dan peredaran masa. Kehebatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat menentukan sama ada makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju ke arah kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini bergantung pada kemuliaan manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seluruh dunia.

cek vidio ogoh ogoh berikut.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: