KENANG MEBARUNG CIRI KHAS JEMBRANA

Dewasa ini pulau Bali kendang mebarungmerupakan salah satu dari kepulauan Indonesia yang amat terkenal diseluruh Indonesia kemasuran pulau bali disebabkan oleh kehidpan masyarakat pulau bali yang memiliki kebudayaan yang tinggi yang dikagumi tidak saja oleh wisatawan yang semakin banyak dating ke Bali, tetapi juga oleh para sarjana yang telah melakukan penelitian disini.

Berbagai buku dan karangan-karangan singkat telah berhasil diterbitkan hinnga sekarang. Kecujali kebudayaan, pulau bali juga memiliki unsur-unsur penarik lainnya seperti keindahan alam dan keramah tamahan

penduduknya.

Seorang sarjana asing yang bernama colin Mcphee dalam bukunya music In Bali mengatakan bahwa pulau bali telah terkenal keseluruh pelosok dunia, hal ini tidak hanya disebabkan oleh factor keindahan alamnya, tetapi lebih dari itu bali banyak menarik perhatian dunia karena seni budayanya.

Bali pulau yang penuh dengan kebahagiaan dimana music tari dan drama tidak hanya dicintai oleh semua orang, tetapi merupakan sesuatu yang memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh amat banyak kesenian-kesenian yng hidup dan berkembang di pulau bali baik kesenian wali, bebali, maupun balih-balihan, sehinnga ba li banyak diju,luki orang dengan pulau dewata, pulau kahyangan dll. Ini merupakan julukan yang membawa harumnya bangsa dan tanah air kita Indonesia.

Dalam rangka ikut berpartisipasi untuk membangun bangsa Indonesia seutuhnya maka pembinaan kepribadian bangsa melalui penghayatan nilai-nilai budaya bangsa adalah suatu lankah yang amat perlu. Berkenaan dengan hal tersebut maka pemberian informasi tentang jenis-jenis kebudayaan atau kesenian merupakan salah satu langkah dan sarana untuki bergerak kearah pembinaan tersebut. Dengan demikian dimaksudkan sebagai salah satu usaha agar nilai-nilai budaya itu dapat lebih dihayati sehinngaga dapatlah mempertebal ketahanan mental bangsa.

Kendang mebarung merupakan kesenian khas kabupaten jembrana sebagai salah satu kekayaan kesenian daerah bali, kesenian tersebut belum banyak dikenal orang hbal itu sangat menarik perhatian penulis dalam mengadakn penelitian atas dasar itulah penulis meneliti sampai sejauh mana kesenian kendang mebarung itu mengalami perkembangan.

Berdasarkan pertimbangaan-pertimbangan penulis maka dalam hal ini penulis memilih kendang mebarung sebagai obyek penelitian, obyek ini perlu diteliti karena hanya terdapat di kabupaten Jembrana khususnya di Banjar dauh Pasar, Desa Pergung.

Jegog Mebarung Kesenian Khas Kabupaten Jembrana Keunikan Bali.

 

Kabupaten Jembrana di Bali Barat dengan ibu kotanya Negara, 100 km arah ke barat dari kota Denpasar menyuguhkan penampila gambelan bambu (musik dari pohon bambu) lebih dominan.

Kabupaten Jembrana di Pintu Gerbang Bali Barat ini, memiliki kesenian khasnya yang diberi nama “Jegog”, gambelan yang terbuat dari bambu berukuran besar yang telah begitu populer baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga Kabupaten Jembrana diberi julukan sebagai “Tanah Jegog” (Home of Jegog).

 

Kesenian ini diciptakan oleh seniman yang bernama Kiyang Geliduh dari Dusun Sebual Desa Dangintukadaya pada tahun 1912, kata jegog diambil dari instrumen Kesenian Gong Kebyar yang paling besar.

 

Awalnya, tabuh-tabuh jegog hanyalah berupa tabuh (barung tabuh) yang fungsi awalnya sebagai hiburan para pekerja bergotong royong membuat atap rumah dari daun pohon rumbia (nyucuk), dalam kegiatan ini beberapa orang lagi menabuh gambelan jegog. Dalam perkembangan selanjutnya gambelan jegog juga dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan, resepsi pernikahan, jamuan kenegaraan, dan kini sudah dilengkapi dengan drama tarian-tarian yang mengambil inspirasi alam dan budaya lokal seperti yang namanya Tabuh Trungtungan, Tabuh Goak Ngolol, Tabuh Macan Putih dengan tari-tariannya seperti Tari Makepung, Tari Cangak Lemodang, sebagai seni pertunjukan wisata.

 

Penampilan gambelan jegog begitu menohok, para penabuh menari-nari di atas gambelan, suara jegog begitu gemuruh, rancak, riuh, bergaung dan sering menggelegar menembus ruang batas yang bisa didengar dari jarak jauh apalagi dibunyikan pada waktu malam hari suaranya bisa menjangkau jarak sampai tiga 3 Km.

 

Kesenian jegog ini bisa dipakai sebagai atraksi perlombaan jegog. Perlombaan jegog dalam bahasa Bali disebut “Jegog Mebarung”, yaitu pementasan seni jegog dengan tabuh mebarung. Mebarung artinya bertarung antara dua jegog atau bisa juga bertarung antara tiga jegog, dalam bahasa bali disebut jegog barung dua atau jegog barung tiga. Jegog mebarung ini biasanya dipertontonkan pada acara-acara syukuran yaitu pada acara suka ria di Desa.

 

Untuk di ketahui bagimana penampilan jegog mebarung, dapat dijelaskan sebagai berikut : Dua perangkat gambelan jegog atau tiga perangkat gambelan jegog ditaruh pada satu areal yang cukup untuk dua atau tiga perangkat gambelan jegog. Masing-masing Kru jegog ini membawa penabuh 20 orang. Pada saat mebarung masing-masing jegog mengawali dengan menampilkan tabuh yang namanya Tabuh Trungtungan yaitu suatu tabuh sebagai ungkapan rasa terima kasih dan hormat kepada para penonton dan penggemar seni jegog, dengan durasi waktu masing-masing 10 menit. Tabuh terungtungan ini adalah tabuh yang suaranya lembut dan kedegarannya sangat merdu karena melantunkan lagu-lagu dengan irama yang sangat mempesona sebagai inspirasi keindahan alam bali.

 

Setelah penampilan Tabuh Terungtungan baru dilanjutkan dengan atraksi jegog mebarung yaitu masing-masing penabuh memukul gambelan jegog secara bersamaan antara Kru jegog yang satu dengan kru jegog lawan mebarung. Penabuh memukul gambelan jegog (musik jegog) dengan sangat keras sehingga kedegarannya musik jegog tersebut sangat riuh dan sangat gaduh dan kadang-kadang para penonton sangat sulit membedakan suara lagu musik jegog yang satu dengan yang lainnya.Karena saking kerasnya dipukul oleh penabuh, maka tidak jarang sampai gambelan jegognya pecah dan suaranya pesek (serak).

 

Tepuk tangan dari para penonton sangat rame begitu juga sepirit dari masing-masing Kru jegog sangat riuh saling ejek dan saling soraki, apalagi gambelan jegognya sampai pecah dipukul oleh penabuh, maka sepirit dari kru jegog lawannya menyoraki sangat riuh dan mengejek dengan melakukan tari-tarian sambil berteriak-teriak yang bisa kadang-kadang menimbulkan emosi bagi sipenabuh jegog.

 

Penentuan kalah dan menang jegog mebarung ini adalah para penonton karena jegog mebarung ini tidak ada tim juri khusus jadi tergantung penilaian para penonton saat itu yaitu apabila suara salah satu gambelan jegog kedegarannya oleh sipenonton lebih dominan dan teratur suara lagu-lagunya, maka jegog tersebut dinyatakan sebagai pemenang mebarung.

 

Sedangkan hadiahnya bagi sipemenang adalah berupa suatu kebanggaan saja bagi kru jegog tersebut, karena jegog mebarung adalah pertunjukan kesenian yang tujuannya untuk menghibur para penonton dan para penggemarnya. Jadi pertunjukan jegog mebarung adalah pertunjukan hiburan. Kesenian jegog ini sudah melanglang buana karena sudah sering melawat ke luar negeri dan telah menembus 3 bunoa seperti Eropa, Afrika dan Asia, sedangkan intensitas lawaran ke Jepang yang paling menonjol sejak tahun 1971 di kota Saporo, Pulau Hokaido oleh almarhum Nyoman Jayus hingga tahun 2003 di Kota Okayama.

 

Demikian adanya Kesenian jegog di Kabupaten Jembrana yang terus berkembang dan tidak pernah surut oleh perkembangan jaman dan apabila ingin menikmati keindahan kesenian musik jegog bisa ditampilkan setiap saat di Kabupaten Jembrana.

SEJARAH OGOH OGOH DIBALI

 

Ogoh-ogoh merupakan salah satu tradisi Umat Hindu khususnya di Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tradisi mengarak ogoh-ogoh di Bali biasa disebut dengan “pengerupukan”. Pengerupukan biasanya dilakukan tepat sehari sebelum hari raya nyepi.

Sejarah asal muasal dari ogoh-ogoh khususnya di Bali ada beberapa versi yang berbeda. Ada yang mengatakan ogoh-ogoh dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara pitra yadnya. Ada pula yang berpendapat bahwa ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Informasi lain menyebutkan bahwa ogoh-ogoh muncul sekitar tahun 70an.

Apapun pendapat tentang sejarah asal muasal ogoh-ogoh di Bali, dewasa ini meski Jaman semakin berkembang, teknologi semakin maju tapi ogoh -ogoh juga semakin dikenal bahkan menjadi salah satu tradisi yang ditunggu-tunggu oleh warga Bali bahkan wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Ogoh-ogoh adalah tradisi yang akan terus ada dari masa ke masa, karena merupakan sebuah seni dan kreatifitas tanpa batas oleh anak muda warga Bali.

Ogoh Ogoh merupakan sejenis patung yang melambangkan makhluk Bhuta Kala dalam kebudayaan Bali. Mengikut ajaran agama Hindu di Bali, Bhuta Kala melambangkan kekuatan (Bhu) alam semesta dan masa (Kala) yang tak terukur dan tak terhingga. Bhuta Kala digambarkan sebagai puaka atau raksasa yang besar dan menakutkan.

Selain berbentuk raksasa, Ogoh-ogoh juga digambarkan dalam bentuk makhluk-makhluk yang hidup di alam fana, surga mahupun neraka, seperti naga, gajah, garuda,  Widyadari, ataupun dewa. Kebelakangan ini, ada ogoh-ogoh yang dibuat menyerupai tokoh terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbaur politik atau diskriminasi walaupun tidak selaras dengan prinsip asas ogoh-ogoh, misalnya ogoh-ogoh yang menyerupai seorang pengganas

Tujuan utama ogoh-ogoh adalah sebagai lambang Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa lalu akhirnya dibakar hingga hangus pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Menurut para cendekiawan dan penganut agama Hindu Bali, upacara ngrupuk ini melambangkan kesedaran insan terhadap kehebatan alam semesta dan peredaran masa. Kehebatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat menentukan sama ada makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju ke arah kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini bergantung pada kemuliaan manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seluruh dunia.

cek vidio ogoh ogoh berikut.

GENDER WAYANG

1 DEFINISI GENDER WAYANG
Gender adalah nama dari sebuah tungguhan gamelan yang berbentuk bilah (metalophone). Kata gender biasanya dirangkaikan dengan kata rambat dan wayang yang mempunyai bentuk,laras,dan fungsi yang berbeda.gender wayang adalah nama dari salah satu tungguhan gender yang berbilah sepuluh dan berlaras selendro. Spesipikasi gender wayang adalah sebuah tungguhan gender yang dipakai untuk mengiringi pertunjukan wayang.
Gender wayang merupakan sebuah gamelan yang masuk pada klasifikasi golongan gamelan tua. Di bali gamelan gender wayang di duga telah ada pada abad ke 14. Tungguhan gender atau yang lebih di kenal dengan gamelan gender wayang keberadaanya menyebar hampir di seluruh penjuru pulau bali.gender wayang adalah sebuah instrument yang digunakan untuk mengiringi upacara keagamaan di bali seperti pada upacara dewa yadnya untuk mengiringi pertunjukan wayang gedog (wayang lemah),dan pada upacara manusa yadnya mengiringi proses potong gigi (mepandes). Begitu luas mamfaat dan fungsi dari keberadaan gamelan gender wayang tersebut bagi kehidupan ritual religious dari masyarakat bali,namun semua itu masih terbatas dari segi konteks fungsi dari unsur musikalnya,apabila di lihat dari tinjauan etnomusikologi banyak elemen-elemen yang belum terungkap yang memberikan dampak dan pengaruh dalam perkembangan gamelan gender wayang khususnya .di sini pendekatan etnomusikologi di gunakan bukan hanya untuk mengulas unsur musikal. Seperti bagaimana hubunganya dengan lingkungan masyarakat pendukung.letak geografis,bentuk topografi,bahasa,kebudayaan,dan agama dari sebuah tempat hidup berkembangnya gamelan gender wayang.
Sumber;www.babadbali.com
Google ensiklopedia-mengenai instrumental gender wayang

2  KERANGKA GENDER WAYANG
Gender wayang salah satu esambel musik paling kuno yang ada di bali,menyertai wayang serta pengajuan,kremasi,dan upacara keagaaman lainnya.
kedua instrument gender dasar wayang masing-masing dibangun dari kerangka kayu dan sepuluh persegi panjang,kunci perunggu ditangguhkan oleh string dan menyembunyikan komposit dan jembatan kayu lebih tegak,,resonator bambu di setel.sebuah set lengkap memiliki dua pasang gender,pasangan tambahan dua kali
lipat satu oktaf lebih tinggi.sebuah instrument mencakup dua oktaf dengan skala lima nada pentatonic.setiap pasangan terdiri dari instrument pria dan wanita, perempuan yang sedikit lebih besar dan sedikit lebih rendah di lapangan.Palu yang ramping dan radial simetris dengan kepala disc kayu dan manik –kerucut seperti mainan kerincingan tanduk. Bentuknya memungkinkan pemain untuk menyesuaikan perlu antara jari kedua dan ketiga dari tangan longgar terbuka dan menyerang dan meredam tombol secara bersamaan dengan menit,memutar gerkan lengan bawah. Karena teknik ini,paparan relative dari dua bagian instrumental,dan pelaksanaan sinkopasi,komposisi dinamis dalam sinkronisitas yang tepat,gamelan wayang gender di anggap sebagai sakah satu genre yang paling kompleks music bali.seperti gamelan bali lainya,gender wayang hanya sekitar standar di lapangan relative,meskipun instrument masing-masing kelompok yang tepat disetel dengan pasangan lapangan ahli dan mendaftar peregangan. Lapangan mutlak bervariasi sesuai dengan prepensi bronzesmith itu. Akibatnya, masing-masing instrument jarang ditukarkan dengan orang-orang dari klompok lain selain aslinya.salah satu instrument register masing-masing pitch,pengisep,disetel lebih tinggi dari pasangan mereka.pengumban (goyah);karena pengertian kita logaritmis skala pendengaran,catatan terendah perlu dipasangkan lebih lanjut selain di lapangan mutlak dari pada tertinggi untuk mencapai tingkat,sama ideal”shimmer” di serempak. Selanjutnya interval oktaf yang membujur menjadi sedikit lebih dari dua kali lipat hertz untuk mencapai”shimmer” serupa di oktaf. Gender wayang berada di tuning pentatonic slendor,sekitar C.D.E.G.A pada skala berat.
Sumber; Buku wayan loceng tentang gender wayang
www.babadbali.com

3. Fungsi Gamelan Gender Wayang sebagai karawitan berdiri sendiri
Sebagai karawitan berdiri sendiri Gender Wayang lebih banyak berfungsi sebagai penunjang pelaksanaan upacara. Dalam fungsinya sebagai penunjang upacara , Gender Wayang dipergunakan untuk upacara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada saat pelaksanaan upacara Pitra Yadnya Gender Wayang itu biasanya berfungsi untuk mengiringi mayat ke tempat pembakaran/kuburan . Hal ini terjadi apabila upacara itu dilakukan secara besar-besaran dan mempergunakan “Bade” sebagai tempat mayat , sementara dibawahnya diapit oleh dua orang bermain gender yang duduk di atas sandangan bambu (penyangga dari bade tersebut) ,maka Gender Wayang dapat disimpulkan sebagai gamelan sakral bagi umat Hindu.
Selain itu Gender wayang ini juga berfungsi untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi)

4. Fungsi Gamelan Gender Wayang dalam mengiringi pertunjukkan wayang
Seperti yang dijelaskan tadi bahwa gender dan pertunjukan wayang yang diiringi mempunyai hubungan erat satu sama lainnya . Dalam pertunjukkan keduannya merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan . Suatu pementasan wayang dapat berfungsi sebagai Wali (sacral) sebagai bebali (ritual) dan sebagai Balih-balihan (skuler) , menurut jenis dari upacara yang dilakukan .
Sumber:adipartha-mengenai gender wayang

5. TEKNIK PERMAINAN GENDER WAYANG

1. Nada
Perbedaan laras. Laras Gender Wayang disebut slendro. Secara teoritis laras slendro memiliki lima nada. Perbedaan laras gender wayang Sukawati yang dilihat dari perbedaan frekuensi, interval dan getarannya menunjukkan pada kita adanya sistem dipersifikasi dalam pembuatan gender wayang dan sistem ini menjadi lebih rumit jika dikaitkan dengan aspek komposisi dan teknik permainan.

2. Ritme
Ritme yang dimaksud adalah teknik-teknik pukulan Gender Wayang Sukawati yang mempunyai berbagai macam teknik pukulan dalam memainkannya. Contoh teknik pukulan yang dimaksud antara lain :

Noret :
Tangan Kiri : – 6 – 3 – 6 – 3
Tangan Kanan : 3.5 6 6.5 3 3.5 6 6.5 3

Ubit-ubitan :
Tangan Kiri : 6 3 5 3 3 6 5 3
Tangan Kanan : 2 3 – 3 2 3 2 3 – 2 – 3 2

Omang :
Tangan Kiri : 5 – 3 – 5 – 3 –
Tangan Kanan : – 6 1 – 1 – 6 1 – 6 1 – 1 – 6 1

Cecandetan :
Tangan Kiri : 5 3 2 3 3 2 3 – 2 3 2 3 5 3
Tangan Kanan : – 2 3 – 3 – 2 3 – 2 3 – 2 3 5 3

Nyangsih :
Tangan Kiri : – – 6 – 5 – 6 –
Tangan Kanan : – 6 3 – 6 – 3 – – 6 3 – 6 – 1 6

Gegedig Polos :
Tangan Kiri : 3 6 5 3 6 1 2 – – –
Tangan Kanan : 6 2 1 6 5 6 1 – – –

OKOKAN


Ritual erat kaitannya dengan budaya, Pulau Bali terkenal akan berbagai
macam ritual dan budayanya, dan merupakan daya tarik bagi para wisatawan
domestik maupun mancanegara. Salah satu atraksi budaya yang sudah dikenal di
mancanegara adalah okokan.

Okokan adalah salah suatu alat musik bunyi-bunyian yang pada umumnya
terbuat dari bahan kayu yang dilobangi hampir menyerupai kentongan, tetapi
didalamnya diisi pemukul yang disebut palit. Alat bunyi-bunyian ini umumnya
dipasang pada binatang piaraan seperti sapi atau kerbau, yang berfungsi sebagai
penghias atau tanda hewan tersebut, okokan ini akan mengeluarkan irama tertentu jika
diayun-ayunkan, okokan seperti ini ukurannya relative kecil.
Sebagai suatu kelompok masyarakat yang agraris yang selalu dekat dengan
tradisi bercocok tanam, okokan juga dipakai sebagai sarana hiburan ataupun acara
ritual yang berbau magis.

Banjar Belong, Desa Baturiti Kerambitan,Tabanan, 2km kearah utara dari
Pasar Kerambitan. Desa yang masih asri dengan berbagai tanamannya, jauh dari
kesan polusi, disinilah lahir okokan pertama yang lahir dikecamatan Kerambitan.
Berawal dari tradisi agraris secara turun temurun dari para tetua atau para leluhur,
maka alat musik ini sudah merupakan bagian dari kehidupan petani tradisional di
Banjar Belong. Untuk mengisi waktu saat menunggu musim panen, para tetua
terdahulu membuat alat musik okokan dalam ukuran yang cukup besar.
Okokan ini tidak dipasang pada binatang piaraan, tetapi dikalungkan langsung
pada leher orang dan di ayun-ayunkan, kegiatan ini biasanya diperagakan untuk
upacara tertentu dan menghibur diri sambil menunggu musim panen tiba.
“Menurut penuturan tetua Banjar Belong, bermula dari wabah, okokan ini
dimainkan untuk mengusir wabah, sesuia kepercayaan bahwa wabah yang menyerang
itu disebabkan oleh mahluk halus, maka harus diusir dengan membunyikan alat-alat
yang menghasilkan bunyi, maka digunakanlah okokan dengan dimainkan oleh
beberapa orang untuk mengusir wabah,” ungkap I Ketut Sudiarsa, mekel kesenian
sekaligus ketua okokan.

Ritual ini disebut Ngerebeg, “Untuk menambah sakrak ngerebeg, maka
okokan ini diiringi dua buah kendang, yang disebut kendang gede, dibuat kira-kira
tahun 1917 selanjutnya kendang gede inilah yang dipercaya warga Banjar Belong
diyakini memiliki kekuatan magis, “ tambah Sudiarsa.
Lebih lanjut Sudiarsa menambahkan, setiap ada wabah yang melanda
masyarakat seperti cacar, kolera dan sebaginya, maka tetua desa akan mengambil
tindakan demi keselamatan warga dengan upacara pecaruan diiringi dengan
gegerebegan, selain itu juga dilaksanakan sehabis melakukan upacara tawur kesanga
dengan mengelilingi desa.

Lambat laun tradisi ngerebeg inin bukan hanya dilakukan berkaitan dengan
acara ritual, tetapi juga pada kegiatan-kegiatan seperti acara keramain, lomba desa,
17agustusan, penyambutan pejabat serta pertunjukan untuk wisatawan. “berawal dari
ide tokoh pariwisata,AA Ngurah Oka Silagunada, untuk menampilkan okokan ini
sebagai atraksi kesenian, maka warga Banjar Belong, membentuk sekaa okokan yang
diiringi dua buah kendang gede, yang melibatkan seluruh anggota banjar yang
berjumlah 45 kepala keluarga maka terbentuklah Sekaa Okokan Mekar Sari pada
tahun 1991,” tambah Sudiarsa

“Pertama kalinya okokan ini ditampilkan secara komersial pada bulan Juni
1991, di Hotel Putri Bali di Nusa Dua, pementasan pertama kalinya ini mendapat
sambutan yang sangat meriah dari wisatawan mancanegara, bahkan saking tertariknya
beberapa wisatawan meminjam okokan yang sedang dimainkan untuk sekedar
mencoba memainkannya sendiri,”ungkap Sudiarsa.
Setelah pementasan yang pertama itu, tidak berselang lama Sekaa Okokan

Mekar sari mulai mendapat tawaran untuk pentas dibeberapa hotel di Nusa Dua dan
sekitarnya. “Saking seringnya pentas,okokan peninggalan tetua kami sudah mulai
rusak. Dengan kondisi seperti itu, maka hasil musyawarah warga banjar yang
sekaligus anggota sekaa okokan bertekad memperbarui okokan dengan jalan membuat
yang baru, kayu yang kami gunakan adalah Kayu Sane, sebelum proses
pembuatannya diadakan upacara nunas raos dan mohon petunjuk dari leluhur di pura
sesuhunan yang ada di banjar adat kami, “tambah bapak dengan kumis tebal ini.
Untuk mengembalikan kemagisan okokan yang baru dibuat,maka diadakanlah
upacara Pemelaspasan dan Masupati pada tanggal 20 November 1991 yang dihadiri
oleh seluruh anggota Sekaa Okokan Mekar Sari dan langsung dipentaskan dihalaman
balai banjar yang tetap dipandu dengan dua buah Kendang Gede.

Dalam perjalannya Sekaa Okokan Mekar Sari selalu kebanjiran tawaran untuk
pentas ”Dulu sebelum ada bom bali, kami hampir setiap hari tampil, bahkan dalam
satu hari kami pernah tampil dua kali, selalu ada saja hotel, maupun acara
penyambutan yang menyewa kami untuk pentas, namun setelah bom bali, intensitas
pementasan kami berkurang, yang dulu dalam seminggu minimal tiga kali pentas,
sekarang sebulan dua sampai tiga kali pentas, tetapi tetap dalam sebulan selalu ada
saja yang tawaran untuk pentas, dan pementasan rutin kami di puri anyar kerambitan
untuk menyambut wisatawan macanegara, “ ungkap Sudiarsa.
Lebih lanjut Sudiarsa mengatakan, Okokan Mekar Sari sudah dikenal di mancanegara,
para menteri dari dalam maupun luar negeri,presiden dari luar negeri, para pejabat dan
pengusaha dan banyak lagi sudah kita sambut dengan Okokan Mekar Sari.
Selain itu juga Sekaa Okokan Mekar Sari pernah tampil di ajang Pesta
Kesenian Bali (PKB) pada tahun 1996 dan 1997, tampil dalam acara gembyar remaja
di TVRI, tampil dalam acara seremonial yang diadakan pemda Tabanan, dan Pemprop
Bali. Dalam sekali pementasannya, Sekaa Okokan Mekar Sari biasanya berdurasi 15
sampai 30 menit dengan berat okokan berkisar antara 10 samapi 15 kg, “dalam
pementasannya sekaa kami tidak pernah merasa berat karena bagi kami ini adalah
ngayah untuk banjar, “ ungkap salah satu Sekaa Okokan Mekar Sari.
Sekali pentas, Sekaa Okokan Mekar Sari memasang tarif 1.2 sampai 1.5 juta,
dan pendapatan itu dikumpulkan sebagai kas banjar, dari hasil ka situ, Desa Belong
sudah bias membeli seperangkat alat gong untuk desa, membangun pura, membangun
balai banjar, medana punia di pura dan setiap hari raya galungan, kas diambil bebrapa
untuk dibagikan ke Sekaa yang juga anggota banjar untuk membeli keperluan
upacara. “Dari hasil itu kami sudah bisa membangun desa ini, mungkin dari pertama
okokan ini berdiri hasil yang sudah kami capai diatas 1 milyar dan sudah banyak
pembangunan yang kami sudah buat untuk desa ini, “ ungkap salah satu sekaa
okokan.

Jumlah instrument dari barungan okokan yaitu ada 30 buah,1 kendang dan 1
kajar.Personil dari barungan okokan tergantung dari barungan instrument itu
sendiri.Repertoar lagu yang sering dimainkan seperti gamelan baleganjur.
Okokan adalah salah satu kesenian tradisional yang berada di lereng daerah
wisata Bedugul, yaitu di Desa Adat Mayungan, dengan ketinggian daerah 800 meter
di atas permukaan laut. Desa ini merupakan desa tua, yang berdiri pada zaman
kerajaan Raja Jaya Pangus.
Dahulu oleh penduduk desa, Okokan diberi nama Bandungan. Alat ini dipakai
oleh petani untuk mengalungi ternaknya (sapi), lebih-lebih setelah para petani habis
membajak tanahnya, dan kegiatan di lading sudah tidak ada, maka diselenggarakanlah
balapan sapi yang memakai Bandungan. Secara religious alat ini juga dipakai untuk
mengusir roh-roh jahat, terbukti setiap sehari sebelum Hari Raya Nyepi alat ini
dipakai untuk ngerebeg keliling desa. Sehingga sampai sekarang alat ini selalu dipakai
untuk sarana pengerebegan baik saat-saat ada upacara mecaru agung seperti mebalik
sumpah maupun acara agama lainnya.

Kesenian Okokan terdiri dari beberapa alat musik tradisi yang diambil dari
alat-alat yang dipakai para petani seperti :
1. Okokan yaitu kalong keroncongan sapi
2. Teng – teng yaitu bekas cangkul petani
3. Kulkul yaitu alat yang dipakai untuk menghalau burung atau tetengeran di ladang
oleh petani.

Gambelan Okokan juga dilengkapi alat-alat musik Bali lainnya untuk menambah
indah dan uniknya suara Okokan, antara lain gong, kendang, tawa-tawa, dan lainlainya.
Disamping pada acara-acara religius Okokan juga dipentaskan saat-saat ada
event-event di tingkat Provinsi maupun Kabupaten seperti Pesta Kesenian Bali,
Parade senja dan lain-lain. Bahkan sering juga dipentaskan di Hotel untuk menghibur
para tamu yang ingin menikmati kesenian tradisi. Dalam pementasan kesenian okokan
mengambil cerita Cupak, dimana diceritakan di suatu wilayah terkena bencana gering
karena ulahnya Garuda. Okokan dipakai warga untuk ngerebeg, dan berkat bantuan
Cupak, Garuda bisa dikalahkan sehingga wilayah itu menjadi aman dan tentram.