Prosesi Pembukaan PKB XXXV Tahun 2013

Prosesi pawai Pesta Kesenian Bali ke XXXV Tahun 2013 akan diramaikan oleh banyak tim kesenian dari 9 Kabupaten kota se Bali dan luar Bali dengan diawali oleh pentas Siwa Natya Raja yang dibawakan oleh SMKN 5 Denpasar

Siwa Natyaraja adalah sinar suci Ciwa (Tuhan) sebagai raja-dirajanya seni. Dengan gerakan-gerakan tangan gaibnya, menari-nari di atas Nandi wahana kecintaannya, melahirkan ritme dan keharmonisan baik di alam makro (bhuana agung) maupun alam mikro (bhuana alit). Semua Gerakan yang tampak, merupakan pancaran kekuatan suci, yang kemudian menyatu sehingga terciptalah alam semesta ini.

Siwa dengan kekuatan sinar sucinya, yang memancar ke seluruh penjuru dunia, dalam wujud yang berbeda, sebagai dewata nawasanga. Ketika kekuatan sucinya memberi spirit kepada seluruh dewa mata angin, melahirkan aneka ragam suara, sebagai sumber dari seni musik; dan gerak tangan (mudra) yang berbeda, melahirkan berbagai gerak tari. Semua kekuatan tersebut bersinergi, menyatu, membangun keharmonisan di jagat raya ini.

Berikut tim kesenian dari Papua, dan disambung dari Kb, Karangasem yang menampilkan barisan 1 terdiri dari kelompok identitas 11. Barisan ke 11 (dua) Kreasi Gebogan, Barisan lll (tiga) kreasi jajan sarad dan pertunjukan pragmen tari Bodhi Satwa, di barisan IV (empat).  Selanjutnya tim kesenian dari Kb Jembrana. Yang membawa papan nama dan umbul umbul lambang daerah,  baleganjur dan jajan sarad.  Gebogan bunga , gebogan janur dan gebogan buah. Bandrangan, Tedung, Mobil hias serta profil seniman tua. Disusul kemudian Kab, Buleleng dengan  mengawali pawai ini ada seorang putri membawa plang nama Kabupaten Buleleng, diapit oleh sepasang Teruna-Teruni mengenakan pakaian khas Deeng. Pakaian jenis ini, kerap dikenakan saat upacara Ngaben di Buleleng. Berikutnya kreasi “Jajan Sarad”. mobil hias yang mengisyaratkan proses pembelajaran tentang tari ini, dikelilingi oleh Barisan pengaman Tradisional Bali”Pecalang”.  Semua prosesi, diiringi dengan Gamelan Angklung khas Buleleng, yang dibawakan oleh Sekaa Angklung Desa Ambengan Buleleng.

Disusul dari Kab, Gianyar denagn membawa plakat Kabupaten Gianyar dan Lambangnya. Iringan Gong Beri, Uparengga, tampilan busana adat Bali barisan kreasi gebogan, iringan tabuh semara pagulingan, mobil hias denagn profil seniman tua, dan kreasi jajan sarad. Muncul kemudian tim kesenian Kota Denpasar dengan khas patung Catur Muka. Tampilnya para remaja putri dengan balutan rias modifikasi. Panji – panji ciri khas budaya yang ada dalam tatanan adat dan agama tersaji sebagai sebuah prosesi oleh tarian Baris brending Kota Denpasar. Mobil hias tertata dengan memuat tokoh – tokoh, seniman budayawan yang telah menjadikan Denpasar ini ajeg dengan budaya dan gerakan berkeseniannya, maestro yang ditampilkan adalah juga empunya kerawitan Bali Bapak I Wayan Berata, demikian juga dengan seniman dan budaya lainnya.

Sebagai penutup ditampilkan barungan gambelan Baleganjur dalam bentuk Orkestra Adi Mredangga. Berikutnya tampil partisipan kesenian dari Sumenep. Disusul dari Kabupaten Bangli. Tari Kreasi Kang Ci-Wie (putri Cina) dengan Raja Jaya Pangus. Namun, fenomena cinta kasih yang dianggap terlarang itu diketahui oleh permaisuri raja, dan tidak direstui. Kemudian sang permisuri mengutuk kedua pasangan tersebut menjadi Barong Landung, sebagaimana diwarisi sampai saat sekarang ini dan sajian menarik lainnya. Muncul di belakangnya dari kabupaten klungkung. Sajian menarik antara lain Pragmentari Panca Datu.

Panca Datu, adalah lima unsur logam mulia yang kini dijadikan material dalam upacara mapedagingan. Upacara penanaman “panca datu” untuk pertama kali dilaksanakan di Besakih (Basukian), setelah Rsi Markandya gagal melakukan kegiatan membuka hutan untuk pamukiman dan pasraman. Untuk tidak terulang lagi, maka pada kedatangan yang kedua kalinya, beliau melaksanakan upacara keselamatan di lereng gunung To Langkir (Gunung Agung), Tempat yang bersejarah tersebut, diberi nama Besukian (Besakih), yang berarti keselamatan, dengan inti upacara yaitu penanaman “Panca Datu”, dengan menggunakan lima jenis logam mulia, yaitu: emas, perak, perunggu, besi dan tembaga. Setelah kegiatan upacara keselamatan dilaksanakan, kegiatan merabas hutan dilanjutkan kembali. Tempat di mana kegiatan tersebut dilaksanakan, kini diberi nama Desa Taro, yang berasal dari kata taru yang berarti pohon.

Disusul dari Lampung Barat dan Kabupaten Badung. Menarik dari sajiannya antara lain, Tari sekar Jepun yang digagas oleh Ketua Tim Penggerak PKK (Ny. Ratna Gde Agung), sebagai transformasi dari “Sekar Jepun” sebagai mascot Kab. Badung. Nyeraye Kanti adalah jalan yang sangat mulia demi sebuah penyelamatan dan kesejahteraan rakyat. Nyeraya Kanti antara Baginda raja Mengwi dengan Baginda Raja Semarapura adalah untuk memohon pusaka “Kinarantaka memimis Ki Seliksik “untuk memerangi Ki Balian Batur yang telah menyebabkan rakyat Mengwi ditimpa musibah/Gering/Grubug. Dengan Pusaka “Ki Narantaka Memimis Ki Seliksik”, pasukan Mengwi dipimpin langsung oleh Baginda Raja Mengwi beserta punggawa kerajaan menuju Teledu Nginyah, untuk menggempur kekuatan Ki Balian Batur.

Kekuatan dan kesaktian Ki Balian Batur memang teruji. Namun, berkat anugerah Hyang Dewi Danu, dengan menggunakan “Ki Narantaka”, Balian Batur dapat ditundukkan. Pragmentari, Nyeraye Kanti adalah jalan yang sangat mulia demi sebuah penyelamatan dan kesejahteraan rakyat. Nyeraya Kanti antara Baginda raja Mengwi dengan Baginda Raja Semarapura adalah untuk memohon pusaka “Kinarantaka memimis Ki Seliksik “untuk memerangi Ki Balian Batur yang telah menyebabkan rakyat Mengwi ditimpa musibah/Gering/Grubug. Dengan Pusaka “Ki Narantaka Memimis Ki Seliksik”, pasukan Mengwi dipimpin langsung oleh Baginda Raja Mengwi beserta punggawa kerajaan menuju Teledu Nginyah, untuk menggempur kekuatan Ki Balian Batur. Kekuatan dan kesaktian Ki Balian Batur memang teruji. Namun, berkat anugerah Hyang Dewi Danu, dengan menggunakan “Ki Narantaka”, Balian Batur dapat ditundukkan. Disusul Kab Tabanan. Suguhannya antara lain, Tektekkan: adalah alat musik tradisional terbuat dari bambu yang dimainkan dengan cara dipukul. Tektekkan dulunya dipakai sebagai sarana untuk mengusir bencana, tetapi seiring perkembangan jaman, tektekkan Penarukan Kerambitan dikemas dalam bentuk seni pertunjukan dengan lakon calonarang. Dikhir pawai akan ditutup dengan tampilan dari tim kesenian negara Timor Leste dan dari STIKOM Bali serta Universitas Udayana.

Leave a Reply