Tugas CV

Perkenalkan nama saya I KADEK PRIMA ADITYA PUTRA , bisa dipanggil PRIMA. saya kelahiran dari klungkung, 23 maret 1995. Saya anak kedua dari pasangan I Made Arta dan I Wayan Sudarti. Saya punya kakak perempuan namanya Ni Putu Nita Purnama Sari. Dimana dengan dengan keluarga yang sederhana ini atas kerja keras bapak dan ibu, saya bisa melaksanakan pendidikan dari SD hingga sampe sekarang ini melanjutkan perguruan tinggi di Institut Seni Indonesia Denpasar. begitu pula dengan kakak saya dia bisa melakukan pendidikan dari SD hingga sampai sekarang yang bulan Agustus ini lagi di wisuda oleh pendidikan tinggi ilmu keperawatan di stikes wira medika PPNI Bali. Perjuangan orang tua saya sangat dikagumi bisa menyekolahkan anaknya di bidang tertentu. Saya bersekolah di SD Negeri 1 Kutampi, Nusa Penida, Klungkung. Dari SD memang keseharian saya di asat bapak ada latian di banjar saya selalu ikut bukannya ikut menggambel tapi hanya memdengarkan lagunya saja. Dari inilah saya bisa cepat nangkap lagu karena keseharian saya mengikuti bapak latian walaupun tidak ikut menggambel tapi hanya mendengarkan sampai ngantuk dan sampai tertidur di banjar. Hingga sampai saya SMP selalu tidak terlepas dari namanya menggambel. Dulu saya setelah SD saya melanjutkan pendidikan di SMP negeri 1 Nusa Penida. Saya pernah ikut lomba baleganjur tingkat SMP, pernah dapat juara 2 dari delapan (8) peserta. Saya pun senang dengan kerja keras saya dengan teman – teman akhirnya mendapat hasil yang cukup memuaskan. Tidak sia – sia kami latian setiap hari karena sudah mendapatkan hasil yang memuaskan untuk sekolah, teman – teman, saya, dan penikmat seni yang ada di masyarakat khususnya. Kemudian setelah saya tamat SMP, saya melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Nusa Penida, Klungkung. Dimana di SMA ini saya pernah ikut serta dalam Organisasi Siswa Intar Sekolah (OSIS). Di samping menjadi anggota OSIS saya juga aktif dalam extra kulikuler Tabuh. Bahkan pernah membina Tabuh di SMA saya sendiri pada saat mengikuti pawai (karnaval) tingkat SD sampai SMA. Di SMA kami pernah dapat juara 1 lomba baleganjur tingkat SD sampai SMA se-kecamatan nusa penida, klungkung. Disinilah saya dengan kawan-kawan kami merasa bangga dengan usaha yang begitu luar biasa dan akhirnya membawa hasil yang sangat memuaskan bahkan dari masyarakat juga yang menilai kita bahwa SMA kami sangat luar biasa. Disamping itu, saya juga punya hobby. Hobby saya adalah mendengarkan dan memainkan music Bali khususnya seni music karawitan yaitu menggambel. Dimana dengan hobby saya ini, saya bisa menuangkan inspirasi atau imajinasi saya untuk berkarya dalam bidang seni karawitan instrumental. Dimana karawitan instrumental ini sendiri merupakan music tradisi yang menggunakan alat sebagai sumber bunyi. Dengan membandingkan hobby ini, setelah tamat SMA saya melanjutkan pendidikan di ISI Denpasar. kenapa saya lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di ISI Denpasar ini ? karena bukan hanya praktek saja yang kita harus ketahui tetapi teori juga yang perlu saya ketahui untuk mendukung sarana untuk saya melakukan praktek. Tanpa teori kita tidak bisa melakukan praktek. Maka dari itu, saya lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di ISI Denpasar supaya saya tahu banyak tentang teori dan praktek karawitan Bali khususnya. Disamping hobby ini, saya juga punya pengalaman. Pada tahun 2007 saya di cari oleh panitia pelaksana lomba Gong Kebyar Anak-anak untuk mewakili kecamatan nusa penida di Balai Budaya Semarapura, Klungkung. Waktu ini saya masih kelas 1 SMP. Dimana dengan dicarinya saya ini, saya memiliki kesempatan untuk menuangkan inspirasi dan exspresi saya dalam menabuh. Latian pun telah dimulai dari bulan april sampai dengan bulan juli menjelang lomba. Hari pertama saya malu dan grogi karena satu pun saya belum kenal dengan teman-teman yang diajak ikut latian. Setelah beberapa hari berlalu saya akhirnya banyak kenal dengan teman-teman di sana walaupun ada yang masih belum kenal asal usulnya dari mana. Latian pun berlanjut hingga sudah lewat beberapa bulan. Saya sangat senang dengan mengikuti lantian ini, di samping ini saya juga banyak punya teman dan kenal juga dengan Pembina-pembina yang ada di nusa penida. Keseharian saya sangat tersalur dengan hobby saya. Di sini saya merasa senang, bangga dengan diri sendiri karena telah berhasil menyalurkan keseharian saya dengan hobby saya sebagai  penabuh Gong Kebyar anak-anak tahun 2007. Tempat saya latian dari rumah lumayan jauh kira-kira 5kilo perjalanan dari rumah. Saya latian diantar sama bapak karena waktu itu saya belum bisa bawa motor sendiri dan pulangnya diantar sama teman yang saya ajak latian. Ini pun terus berlanjut sampai bulan juli menjelang lomba. Setelah beberapa hari kemudian lomba sudah dekat di ambang mata saya sangat rajin dan berusaha untuk menmyelesaikan lagu yang sudah diberikan oleh pembinannya. Adapun materi yang di perlombakan yaitu :

  1. Tabuh telu batur sari.
  2. Tari wirayuda serta tabuhnya.
  3. Tabuh kreasi jagra parwata. Dan
  4. Tari margapati serta tabuhnya.

Itulah beberapa materi yang diperlombakan di tingkat kecamatan. Pembina kami sangat berusaha dimana caranya supaya kami mendapat juara pertama dari empat (4) kecamatan yang ada di Klungkung termasuk kecamatan nusa penida. Saya dengan teman-teman sangat berusaha sehingga empat materi tersebut sudah kami kuasai hingga pembinanya memberikan  gerak-gerakan (exspresi) dalam menabuh pada saat lagunya sebelum dan sesudah mulai. Hari lomba pun telah tiba. Satu minggu menjelang lomba, kami mengadakan uji coba Gong Kebyar di br.Gelagah, Kutampi atas, Nusa Penida, Klungkung yang akan dibawakan lomba di Balai Budaya Semarapura, Klungkung. Uji coba pun berlangsung beberapa jam. Setelah itu besoknya menjelang kami berangkat ke klungkung kami, Pembina, serta panitia mengadakan persembahyangan bersama. Adapun pura-pura di Nusa Penida yang kami tuju yaitu : pura penataran dalem Ped, pura puseh, pura puncak mundi, pura persinggahan dan terakhir di pura dalem br.Gelagah. itulah beberapa pura yang kami

tuju. Esok harinya kami kumpul bersama dib r.Gelagah dan berangkat bersama naik truk dan ada naik pick_up. Sampain di pelabuhan kami naik perahu dengan senang hati sama teman-teman sambil melihat pemandangan di laut. Setelah beberapa menit kami sampai di pelabuhan kusamba dan langsung naik bus menuju ke sanggraha dekat balai budaya klungkung. Walaupun kondisi sedikit sakit tapi saya sangat berusaha demi Nusa Penida. Hari hanya (H) pun sudah tiba. Dari jam 3 sore kami sudah siap-siap berhias untuk lomba karena jam 8 malam acara lomba Gong Kebyar Anak-anak sudah mulai sampai selesai. Musuh yang kami lawan adalah br.jumpai, kecamatan banjarangkan, klungkung. Sekaa Gong kami memiliki nama yaitu “GITHA KUMARA SANTHI” githa itu adalah nyanyian, kumara itu adalah anak-anak, dan santhi itu adalah perdamaian. Sesudah kami berhias kami langsung menuju balai budaya. Setelah perlombaan di mulai kami beserta Pembina melakukan doa bersama agar perlombaan berjalan sesuai dengan harapan. Saya sendiri merasa sangat senang, tenang dalam lomba waktu itu menghadapi banjarangkan. Sesudah berlangsung saya sendiri merasa senang karena telah berhasil menyajikan empat (4) materi tersebut dengan sukses dan lancar. Kami semua berteriak dan mengeluarkan air mata kebahagiaan. Dengan susah payah kami latian selama beberapa bulan akhirnya bisa membawakan hasil yang sangat memuaskan, bisa membanggakan masyarakat Nusa Penida kami juga merasa bangga dan orang tua kami kushusnya. Akhirnya sekaa Gong “Githa Kumara Santhi” mendapat juara pertama (1) di tingkat kecamatan yang ada di Klungkung. Kami semua merasa senang. Dan akhirnya bisa mewakili duta kabupaten Klungkung sebagai penabuh Gong Kebyar Anak-anak di PKB ke-XXX tahun 2008. Itulah pengalaman tentang saya sebagai penabuh Gong Kebyar Anak-anak yang mewakili kecamatan Nusa Penida dan mewakili duta kebaupaten Klungkung. Pengalaman ini tidak akan saya lupakan melainkan saya akan mengenangnya seumur hidup saya karena dengan pengalaman ini saya bisa menjadi yang sekarang ini yang bisa melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang tercinta ini.

Tugas banjar

Banjar saya namanya banjar Celuk. Banjar saya sudah berdiri dari tahun 1870-an hingga sekarang masih belum ada rehabilitasi. Banjar saya bagian dari desa kutampi kaler, dusun telaga, kecamatan nusa penida, kabupaten klungkung. Banjar saya ini mayoritas ber agama Hindu tidak ada satupun agama lain yang berada di sekitar banjar saya ini. Banjar saya ini terdiri dari 50 KK, dimana dengan 50 kk ini terdiri dari dua padharman (kawitan) yaitu Arya Nyuhaya dan Tangkas Kori Agung serta pura Dalem yang dimiliki oleh masyarakat banjar saya. Dari masing-masing kepala keluarga terdiri dari bapak,ibu,anak-anak dan lansia yang tinggal dalam 1 pekarangan rumah.banjar saya ini pekerjaan mayoritas penduduknya yang laki-laki tukang ukir batu paras dan yang perempuan membuat minyak dari dari kelapa dan peternak babi dan  Lansia disana pekerjaannya kebayakan petani. Banjar saya sudah mulai berkembang dari segi pendidikan, dulunya mereka kebanyakan sekolah sampai SD, sekarang berlomba-lomba sekolah sampai ke perguruan tinggi. Penghasilan dari tiap-tiap kepala keluarga perharinya yaitu Rp100.000.00 perharinya. Penduduk banjar saya ini 10% dari penduduknya tinggal merantau ( transmigrasi) ke pulau Sumatra dan Sulawesi, ada juga yang tinggal di daerah Denpasar. Namun ada acara seperti piodalan dan acara ngaben semua pulang berbondong-bondong.  Banjar saya ini sudah  memiliki Gong kebyar  tetapi belum lengkap seperti gong cuman ada satu , untuk sementara gangsa dan kantilan cuman ada masing-masing dua dan yang satunya lagi penyacang sampai sekarang masih belum direncanakan untuk membelinya karena jumblah sekaa yang ada di banjar saya belum mencapai perlengkapan untuk mengisi semua jumblah instrument gamelan Gong Kebyar, penduduk disana antosias ingin belajar megambel dari orang dewasa hingga anak-anak. Salah satunya saya sekarang sebagai penduduk banjar celuk bangga menjadi mahasiswa di institute seni indonesia jurusan karawitan yang sekarang mengajarkan menggambel penduduk disana dari yang dewasa hingga anak-anak tanpa membutuhkan imbalan yang di berikan. saya sangat senang karena dapat berbagi ilmu saya dapat dikampus maupun di luar kampus  ke mereka yang membutuhkan. Di banjar saya juga terbentuk perkumpulan sekaa truna-truni yang dimana perkumpulan atau sekaa di banjar saya memiliki nama JATAYU yang artinya jati luwih ( rahayu ). Jumblah sekaa truna-truni di banjar saya ada 30 orang. Sekaa truna-truni saya memiliki sedikit peraturan (awig-awig) yaitu bahwa setiap penampahan Galungan kami semua kumpul di banjar untuk melakukan kerja bakti di pura-pura yang ada di banjar kami dan melakukan persembahyangan bersama serta mengumpulkan uang atau kenan-kenan sebesar 30 ribu setiap 6bulan sekali tepat pada hari raya Galungan. Pada rahina purnama sekaa truna-truni kami juga melakukan persembahyangan bersama khusus hanya di pura dalem saja dan pada rahina tilem sekaa truna-truni kami melakukan kerja bakti khusus hanya di banjar dan di perempatan pura melanting. Sekaa truna-truni khususnya di banjar saya bahwa anak-anak yang sudah SMP atau sudah mencapai umur 14-15 tahun itu wajib masuk sekaa truna-truni. Mengapa demikian? Karena mungkin di banjar saya jumblah penduduknya terlalu sedikit oleh karena itu maka anak-anak yang sudah SMP atau sudah mencapai umur 14-15 tahun itu diwajibkan masuk sekaa truna-truni supaya jumblah sekaa truna-truni kami menjadi lumayan bertambah banyak karena di saat awal membentuk sekaa truna-truni kami itu jumblahnya agak sedikit makanya supaya bertambah banyak maka didirikan peraturan atau awig-awig yang sudah ditentukan hingga berlaku sampai sekarang. Di  samping itu di banjar saya juga memiliki kekreatifaan sekaa truna-truni dibidang membuat ogoh-ogoh dan pernah ikut lomba ogoh-ogoh tingkat Desa khususnya di Desa kutampi kaler. Di banjar saya pernah mendapat juara pertama (1) pada lomba ogoh-ogoh dari 10 banjar yang ada di Desa Kutampi kaler. Saya dan seluruh masyarakat di banjar saya sangat merasa bangga karena telah bisa mengalahkan perlombaan ogoh-ogoh ini walaupun jumblah penduduk di banjar saya begitu sedikit di bandingkan banjar-banjar lainnya. Di samping ini di banjar saya juga memiliki pura untuk persembahyangan. Pura-pura tersebut yaitu pura Dalem, pura dalem di banjar saya sudah berdiri sejak tahun 1869 dimana semua bangunan pelinggih di pura dalem hanya terbuat dari batu putih, atap ijuk atau ambungan, dan latainya belum di beton untuk sementara dulu lantainya masih keadaan tanah dengan berisi batu-batu seperti bukit. Kemudian di banjar saya juga ada dua (2) pura merajan dimana kedua pura ini masing-masing padarmannya berbeda satu adalah Arya Nyuhaya dan satunya lagi adalah Tangkas Kori Agung. Semua pura-pura yang ada di banjar saya pada awalnya terbuat dari batu putih yang atapnya dari ijuk dan ambungan dengan lantai tanah tanpa beton dan sekarang sudah ada rehabilitas. Semua pura-pura yang ada di banjar saya sudah di rehabilitas dari tahun 2004 hingga sekarang sudah menggunakan batu kapur (paras putih), dulu menggunakan atap ijuk dan ambungan dan sekarang sudah menggunakan atap genteng dan hanya beberapa masih menggunakan atap ijuk seperti di pura dalem yaitu pelinggih meru sampai saat ini masih menggunakan atap ijuk, mengapa begitu itu saya belum tahu. Di samping itu penduduk di banjar saya dulu belum mengenal alat komunikasi seperti Hp dan televisi. Sebagian besar dulu penduduk di banjar saya belum ada yang punya Hp bahkan televise juga jarang yang punya. Pada tahun 2001 penduduk di banjar saya hanya bisa memanfaatkan bukit untuk menaruh antena guna agar siaran tv bisa lebih jelas tetapi hanya beberapa siaran aja yang dapat terjangkau. Itupun belum sebrapa tapi hanya satu antena bisa digunakan untuk semua penduduk yang ada di banjar saya karena waktu itu belum ada parabola makanya hanya bisa memanfaatkan antenna satu untuk semua. Hingga sampai sekarang khususnya di banjar saya sudah ada perkembangan seperti pendidikan, ekonomi, dan budaya. Dulu pendidikan di banjar saya hanya sampai tamat SD-SMA bahkan ada juga yang tidak sekolah karena ekonomi di banjar saya sangat kurang. Tetapi pendidikan di banjar saya sekarang sudah mulai berkembang dulu hanya sampai tamat SD-SMA dan sekarang sudah berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya sampai ke pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan kehidupan ekonomi di banjar saya pun sekarang sudah merata penghasilannya kurang lebih 2.000.000 per bulan. Sungguh luar biasa penduduk di banjar saya begitu giatnya bekerja keras demi melakukan perubahan pada diri sendiri, keluarga, dan seluruh penduduk yang ada di banjar Celuk yang tercinta ini. Begitu juga budaya di banjar saya sampai saat ini masih meneruskan budaya pewaris dari leluhur. Tetapi sekarang ada sedikit perubahan dulu sebelum terbentuknya sekaa truna-truni di banjar saya tidak mengenal setiap hari raya nyepi membuat ogoh-ogoh, tetapi setelah terbentuknya sekaa truna-truni setiap hari raya nyepi rutin setiap tahunnya membuat ogoh-ogoh itu karena perkembangan budaya di banjar saya sudah mulai berkembang. Bukan hanya membuat ogoh-ogoh saja melainkan setiap hari raya galungan semua penduduk di banjar saya wajib membuat dan memasang penjor di depan rumahnya masing-masih karena dulu belum ada yang membuat penjor pada hari raya galungan. Inilah perkembangan yang ada di banjar saya yang tempatnya di banjar Celuk, dusun telaga, Desa Kutampi Kaler, Nusa Penida, Klungkung, Bali.

TARI JOGED BUMBUNG

Bali merupakan wilayah pemeluk agama Hindu terbesar di Indonesia. Agama Hindu identik dengan berbagai macam ritual. Lazimnya berbagai ritual maupun kegiatan lainnya yang non ritual tidak terlepas dengan kesenian, khususnya seni pertunjukan. Kesenian seni pertunjukan penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Salah satu tarian yang menarik bagi masyarakat maupun pengunjung Bali ialah tari jogged bumbung.  Jogged bumbung adalah semacam tari pergaulan muda-mudi, yang di diiringin dengan gamelan yang terbuat dari bambu kayu. Penari jogged tersebut pada awal penampilannya menari sendiri yang disebut nglembur. Setelah bagian tarian tersebut dilakukan , si penari mencari seorang pasangannya seorang laki-laki (pengibing). Jogged bumbung tersebut ditonton oleh semua kalangan , mulai dari anak-anak , remaja , sampai dewasa. Adegan-adegan yang termasuk “panas” dilakukan penari dengan pasangannyaa tersebut juga dilihat oleh anak-anak dan para remaja. Hal tersebut mungkin dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan kedewasaan si penonton muda. Gerakan bergoyang dengan saling berhadapan secaraa dekat, serta sekali melakukan adegan memeluk, dan gerakan lainnya yang berbau seksualitas, tentunya tidak menutup kemungkinan membuat penonton khususnya remaja dan anak-anak mendapat pengetahuan seksual dari sajian jogged tersebut. Melakukan aktivitas menonton jogged bumbung secara continue oleh anak-anak dan remaja dapat mempengaruhi psikis mereka terutama menambah pengalaman dalam fikiran mereka hal- hal yang bersifat dewasa. Hal ini mungkin saja merupakan salah satu media pendidikan seksual yang dilakukan masyarakat Bali kepada anak-anak dan remaja melalui media kesenian. Jogged bumbung telah berkembang di Bali sejak tahun 1950. Diawali oleh pengaruh tarian gandrung dari banyuwangi yang kala itu masuk ke Bali karena dibawa oleh hulu baling kerajaan mengwi yang konon menguasai kerajaan di bagian timur itu. Di bali tari gandrung tidak melibatkan penari perempuan tapi penari pria. Selama lebih 20 tahun sejak tahun 1930 tari gandrung itu merajai seluruh tanah hiburan di Bali kala itu, sampai seniman di Bali menciptakan tari jogged bumbung yang kostunnya mirip penari gandrung tapi melibatkan penari wanita. Jogged bumbung adalah semacam tari pergaulan muda – mudi , yang diiringi dengan gamelan yang terbuat dari bambu kayu. Penari jogged tersebut pada awalnya penampilannya menari sendiri yang disebut ( ngalembur). Setelah bagian tarian tersebut dilakukan, si penari mencari seorang pasangannya seorang laki – laki. Salah seorang penonton laki – laki dihampiri oleh si penari, dan laki – laki itu kemudian mengajak menari bersama – sama atau( ngibing). Si penari beganti – ganti pasangan yang dia ambil dari penonton yang dipilihnya , terus – menerus seperti itu sampai batas yang di sepakati. Bahkan dewasa ini pegelaran jogged bumbung dikomersilkan dengan system “kupon”, jadi yang ingin mendapat giliran menari harus mengantri sesuai urutan kupon yang telah dibeli. Jogged bumbung ini biasanya digelar pada acara – acara pernikahan, perayaan hari besar Hindu, hari besar Nasional, nyambut gawe, di tempat – yempat pariwisata dan sebagainya. Tari jogged bumbung ini sangatlah popular di masyarakat Bali, bisa dikatakan jogged bumbung merupakan tarian yang merakyat, semua golongan bisa menonton pertunjukan tersebut tanpa memandang kedudukan atau status social. Ketika di wilayah pura pun jogged bumbung di pertunjukkan di jaba, dimana semua kegiatan bisa dilakukanj di tempat tersebut. Tentunya orang – orang dari kalangan apapun dapat beraktifitas disana, termasuk remaja dan anak – anak pun dengan bebas dapat menonton pertunjukan di jaba2 khususnya pertunjukan jogged bumbung.Jogged bumbung begitu melekat pada masyarakat Bali karena memiliki aspek hiburan yang sangat tinggi. Antusiasme masyarakat terhadap kesenian ini sangatlah besar khususnya para remaja yang sedang masuk masa pubertas. Masyarakat berbondong – bonding jika ada suatu pertunjukan jogged bumbung di sekitar tempat tinggal mereka. Oleh karena itu pegelaran jogged bumbung tidak pernah sepi dengan penonton. Hampir semua orang di Bali pernah ikut memeriahkan perhelatan jogged bumbung tersebut. Tari jogged bumbung, biasanya diiringi oleh instrument  atau gamelan dari bambu, di Bali, gamelan tersebut dinamakan Gerantang  atau Gegerantangan. Tarian ini membutuhkan kelincahan dan gerak tubuh sang penari yang lincah dan berpengalaman melainkan tariannya tidak beraturan tetapi hanya pada saat pengawitnya saja si penari melakukan gerak tari yang sesuai dengan tabuh yang sudah dimainkan. Seiring dengan teknologi yang semakin maju, tarian ini semakin jarang dipentaskan, karenma masyarakat saat ini sudah disungguhkan dengan hiburan yang berasal dari kemajuan teknologi, misalnya : televise, dvd, parabola, dan lain – lain. Belakangan ini, tari jogged bumbung hanya dipentaskan di hotel – hotel, untuk menghibur dan memperkenalkan tarian di Bali kepada para tamu yang menginap di hotel tersebut.Gamelan Grantang berlaras slendro dan kendang Bali yang dimainkan oleh para penabuh memiliki peran penting dalam membangun agresifitas serta menstimula gerakan – gerakan atraktif dan “menantang” dari si penari. Penari memakai pakaian khas jogged bumbung, hiasan (ikat) kepala, kipas yang di pegang tangan, pakaian tari bali dengan bawahanm seperti rok dengan tujuan untuk memudahkan si penari memamerkan tubuh yang dapat menarik perhatian, serta semacam kain putih panjang yang di berikan kepada penonton sebelun ngibing. Pertama penari ngibing tanpa pasangan, melakukan gerakan – gerakan erotis, bergoyang “ngebor”, menaik – naikan rok memampangkan paha bahkan bergoyang sampai pakaian dalam bagian bawah si penari terlihat. Setelah beberapa waktu penari berjoged sendiri, kemudian ia mengajak salah seorang penonton laki – laki dengan memainkan kain putih di pinggang penonton yang dipilih. Music bumbung terus dimainkan , penari dan pasangannya mulai melakukan gerakan paibing ibing. Gerakan paibing ibing yang dilakukan pasangan tersebut selalu dilakukan dengan bermesraan. Setiap penonton yang ditarik untuk ngibing pasti mendapatkan perlakuan yang dianggap “panas” oleh si penari. Adegan – adegan “panas” tersebut seperti memeluk sambil melakukan gerakan suami istri (senggama) walaupun dilakukan sambil berdiri, si penonton yang lepas control biasanya mencium penarinya, kadang pula pasangan ngibing saling mencolek bagian vital satu sama lain, bahkan ada pula penonton yang terlentang kemudian si penari bergoyang di atasnya. Itulah jogged bumbung ketika adegan erotis berlangsung penonton bersorak – sorai dan tertawa terhibur dengan hal tersebut, mungkin juga para penonton laki – laki baik dewasa atau remaja perasaannya bergejolak ketika adegan tersebut mereka lihat. Paibing ibing adalah bagian yang paling menarik , karena dari sini muncul asumsi pendidikan seksual untuk para penonton muda dari perhelatan jogged bumbung. Jadi, Bali ini merupakan wilayah dengan pemeluk agama Hindu terbesar di Indonesia. Agama hindu ini identik dengan berbagai macam ritual dibandingkan agama – agama lainnya. Lazimnya berbagai macam ritual maupuin kegiatan lainnya yang non ritual tidak terlepas dengan kesenian, khususnya seni pertunjukan. Seni pertunjukan yang paling digemari oleh masyarakat Bali ialah tari jogged bumbung. Tari jogged bumbung ini adalah tari pergaulan berpasangan laki – laki dan wanita dengan diiringi oleh perangkat music yang terbuat dari bambu (tingklik) yang berlaras slendro 5 nada, dimana jogged bumbung ini selalu dinikmati penonton dan sangat popular di Bali. Oleh karena itu,  tari jogged bumbung ini perlu dilestarikan, karena jogged bumbung ini banyak digemari oleh masyarakat Bali khususnya dan orang asing yang berkunjung di Bali.

 Sumber : Salzman dalam (Yusuf, 2005 : 184) dan Team Survey ASTI

GONG SEMARANDHANA

Pada awalnya di banjar jurang pahit hanya memiliki 1(satu) barungan gong kebyar saja. Kemudian pada tahun 2007 seorang tokoh karawitan yang bernama I Ketut Arta dwita berinisiatif untuk membeli barungan gong semarandana. Tujuan dari beliau untuk membeli gong semaradana karena beliau menganggap barungan ini masih langka khususnya untuk daerah nusa penida bahkan klungkung. Selain itu barungan gong semarandana juga multi fungsi yakni bisa dipakai untuk gong kebyar dan angklung. Kemudian pada pertengahan tahun 2007 beliau mengemukakan pendapatnya dihadapan sekaa krama banjar Jurang Pahit. Akan tetapi warga masyarakat banjar Jurang Pahit tidak setuju dengan pendapat beliau. Warga menganggap hal tersebut hanya menghambur-hamburkan uang saja dan satu barungan gong kebyar dianggap sudah cukup. Setelah berselang beberapa bulan akhirnya beliau mencoba untuk mengemukakan pendapatnya dihadapan salah satu krama paibon yang terdapat di banjar jurang pahit yakni paibon kawitan tutuan. Beliau menganggap krama tutuan mampu untuk membeli sebuah barungan gong semarandana karena jumlah krama atau warganya yang berkisar 90 orang yakni 65 % dari jumlah penduduk banjar Jurang Pahit. Dengan segala pertimbangan akhirnya krama paibon tutuan menyetujui pendapat beliau dan dibentuklah panitia khusus untuk menangani hal tersebut. Kemudian pada awal tahun 2008 krama paibon tutuan resmi membeli satu barungan gong semarandana. Semenjak itu krama paibon tutuan membentuk sekaa gong yang dberi nama gita semarandana. Adapun personil sekaa gong gita semarandana tidak hanya dari kaum laki- laki saja akan tetapi ada juga dari kaum ibu-ibu yang juga pernah ikut pentas diajang parade gong kebyar wanita pada pesta kesenian bali tahun 2007.selain itu juga dbentuk sekaa angklung dimana personilnya merupakan sekaa gong kebyar yang ada di banjar jurangpahit.Selain untuk mengiringi upacara keagamaan di pura paibon,gong semarandana juga dipergunakan ngayah di pura pura puseh Mastulan yang merupakan pura puseh banjar jurang pahit. Menurut wawancara yang saya lakukan, beliau bercerita banyak hal tentang perjalanannya dalam menekuni kesenian khususnya karawitan. I nyoman swasta, itu biasa panggilan beliau di rumah, selain itu beliau juga biasa dipanggil pekak bali. I nyoman swasta berasal dari keluarga yang sederhana. kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani. hal itu tidak menyurutkan niat beliau untuk menuntut ilmu. Beliau mengatakan pada saat itu sama sekali belum ada sekolah TK,sekolah dasar saja masih sangat sederhana “maklum pada saat itu masih jaman penjajahan” ujar beliau. Pada saat beliau masih duduk dibangku sekolah dasar, di banjar jurang pahit belum memiliki gamelan,akan tetapi di banjar jurang pahit telah ada angklug yang instrumennya masih sangat sederhana (sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya). Pada saat beliau berumur 18 tahun beliau melanjutkan di SPG. Pada saat itulah beliau mulai belajar memainkan alat musik gamelan. Karena ketekunan dan semangat beliau,akhirnya beliau pun berhasil memainkan gamelan. Akan tetapi belum selesai sampai disitu,beliau juga berguru belajar gamelan sampai ke desa pikat klungkung. Pada saat beliau menyempatkan diri pulang ke kmpung halaman beliau selalu mengajar gamelan drumah. Setelah tamat dari SPG beliau kemudian menjadi guru di sekolah dasar di banjar jurang pahit. Pada saat itu beliau kemudian ditunjuk menjadi seksi kesenian. Beliau selalu bersemangat untuk mengembangkan dan mencari bakat-bakat seniman lainnya. Pada saat itu beliau mengajar megambel dengan menggunakan suatu teknik putar,artinya setiap personil tidak diam disatu tempat saja. Selain gong kebyar beliau juga membentuk sekaa rindik yang langsung dibikin sendiri bersama teman-temannya. Pada tahun 1967 beliau mengakhiri masa lajangnya. Beliau mempunyai 4 (empat) orang anak yakni 2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. saat anak-anaknya masih kecil beliau selalu mengajarkan seni kepada empat orang anaknya. Dari ke empat anaknya hanya satu yang berminat untuk melanjutkan ke sekolah seni yaitu anaknya yang pertama yang bernama I Wayan Andra. I Wayan Andra ini merupakan tamatan ASTI dan sekarang bekerja di taman budaya Art Center. Sampai umur 54 tahun I nyoman swasta masih tetap eksis menjadi anggota sekaa gong Di banjar jurang pahit. Selain itu beliau juga ikut menjadi anggota sekaa gong disebuah sanggar yang dibentuk oleh para seniman yang bisa meluangkan waktunya untuk megambel di banjar jurang pahit yang diberi nama sanggar “padaliang”. Pada tahun 1995 beliau mengundurkan diri menjadi anggota sekaa gong di banjar dan di sanggar karena beliau sakit. Di sanggar beliau digantikan oleh anak laki-lakinya yang terakhir yang bernama Iketut diftasada yang sekarang menjadi tukang kendang lanang dibanjar jurangpahit. Pada saat pembelian gong semarandana di banjar paibon tutuan di banjar jurang pahit akhirnya beliau dipanggil lagi untuk menjadi anggota sekaa gong semarandana dan sekaa anggklung sampai sekarang. Kemudian terus berlanjut saya juga sempat mewawancarai seniman karawitan bapak wayan kumba. Bapak wayan kumba ini Lahir ; di Desa Tihingan Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung pada tahun 1938. Beliau adalah seniman karawitan yang serba bisa yang telah mampu mengharumkan desa adat Tihingan Klungkung khususnya dalam bidang seni yaitu seni tabuh atau karawitan. Beliau adalah orang yang penyabar dan banyak disukai banyak orang karena kesabaran dan ketekunan beliau dalam melatih menabuh di masyarakat . Beliau adalah seniman yang tidak pernah sekolah, sejak kecil beliau sudah mewarisi bidang seni atau yang di istilahkan dengan seniman alam tanpa ada yang melatih oleh guru . I Wayan Kumba adalah anak pertama dari lima bersaudara putra alm I wayan Rayeg. Beliau sudah menekuni bidang seni sejak masih kecil sehingga dengan keahliannya ini maka timbullah ide dari leluhur-leluhur kami, maka dibentuklah kelompok atau sekaa-sekaa gong utamanya sekaa angklung di desa adat Tihingan. Beliau adalah angkatan pertama saat sekaa angklung di desa adat Tihingan di bentuk. Saat di terbentuk kelompok atau sekaa gong atau angklung ini, para penabuhnya umurnya masih relatip muda boleh digolongkan masih tergolong anak-anak. Dengan rasa sabar dan percaya diri para pembina tabuh sekaa ini ,akhirnya lambat laun sekaa ini bisa berjalan dengan lancar. Sehingga hal inipun tersebar sampai ke puri Klungkung yang waktu itu bertahta sebagai raja adalah Ide Idewa Agung bahwa didesa adat Tihingan ada sekaa angklung anak-anak. Pada akhirnya timbullah ide dari raja Klungkung untuk mengadakan perlombaan seperti istilah sekarang lomba angklung di Kabupaten Klungkung. Dengan adanya perlobaan seperti istilah sekarang Festival angklung maka , rakyat Klungkung menyambut dengan sangat gembira. Dalam hal ini terbukti sekaa gong/ angklung desa adat Tihingan lah pertama kali ditunjuk oleh raja Klungkung untuk dilombakan atau di festipalkan melawan sekaa angklung dari desa adat Kamasan Klungkung. Dari hasil perlombaan atau festipal ini maka sekaa angklung desa adat Tihingan lah yang sebagai pemenangnya. Dengan kemenangan ini , sekaa angklung menjadi terkenal di kabupaten Klungkung dan sekaligus usia para penabuhnya semakin dewasa. Dengan bertambah dewasanya usia para penabuh ini terutama I Wayan Kumba akhirnya banyak datang tokoh-tokoh masyarakat dari luar desa Tihingan untuk mencari pembina gong atau angklung kedesa adat Tihingan yang tujuannya untuk membina di tempat mereka. Akhirnya beliau ( I Wayan Kumba ) memberanikan diri keluar untuk membina tabuh. Hal ini terbukti beliau pernah membina di kabupaten Tabanan di banjar Gempinis desa Gempinis Kecamatan Selemadeg Kabupaten Tabanan tahun 1956 . Selanjutnya di banjar Dukuh Pulu Kelodan Kecamatan Selemadeg kurang lebih tahun 1958.Setelah itu beliau membina di banjar Dukuh Pulu Kajanan Kecamatan Selemadag tahun 1960 yaitu membina tabuh Pelegongan. Dari Kabupaten Tabanan, dan pada akhirnya sampailah di Klungkung tepatnya di Kecamatan Nusa penida Tepatnya di Banjar Sompang. Di banjar Sompang inilah beliau membina tabuh pearjaan. Dari Nusa Penida pindah lagi ke Nusa Tenggara Barat (Lombok) tepatnya di banjar Tanah Met Danginan Kecamatan Gunung Sari Kabuapaten Lombok Barat. Disana Beliau juga membina Gong Kebyar. Tahun 1962. Di Lombok pun banyak beliau pernah membina gamabelan tetapi kami tidak tahu tempatnya. Akhirnya beliau kembali ke Nusa Penida untuk membina pada tahun 1962 tepatnya di Banjar Semaya . Disana Beliau juga membina Tabuh Pearjaan. Setelah dari banjar Semaya kembali lagi kebanjar Sompang untuk membina tabuh pearjaan dan gong Kebyar. Disanalah beliau membina dengan waktu agak lama dengan membina tabuh pearjaan dan gong Kebyar. Mungkin Jodoh sudah ditentukan oleh tuhan, pembina yang namanya I Wayan Kumba ini sampai mendapat jodoh disana yaitu mantan penari Arja. Dari hasil Perkawinan ini beliau mempunyai tujuh orang anak diantaranya dua laki-laki dan lima perempuan. Dari tujuh anak yang dimiliki ada tiga anak yang mewarisi bakat orang tuanya diantaranya dua laki –laki dan satu perempuan. Karena terlalu memporsir tenaga untuk membina tabuh di beberapa desa dari tahun 1956 , disampaing usia juga sudah lanjut akhirnya beliau kena serangan penyakit yang menyebabkan beliau sampai meninggal pada tahun 1996 dan kini sudah diupacarakan atau diaben pada tahun 1998. Demikianlah Kisah perjalanan hidup dari I Wayan Kumba (Seniman) yang tak segan –segan mengabdikan ilmu yang dimilki untuk kepentingan orang banyak khususnya seni karawitan.

Sumber : wawancara oleh tokoh seni I Wayan Kumba sebagai seniman karawitan Desa Adat Tihingan Kabupaten Klungkung Tahun 2014.

GENDER WAYANG

Gender wayang adalah merupakan sebuah tungguhan berbilah dengan terampayang terbuat dari kayu, sebagai alas dari resonator berbentuk silinder dari bahan bambu atauyang lebih dikenal dengan sebutan bumbung sebagai tempat menggantung bilah. Bentuktungguhan dari segi bilah gamelan Gender Wayang di sebutkan berbentuk bulig yaitu bilah yangterbuat dari perunggu atau bilah kalor adalah bilah yang permukannya menggunakan garislinggir (kalor) dan disebutkan bilah ini biasa digunakan pada jenis-jenis tungguhan gangsaseperti halnya gamelan Gender Wayang. Bilah bulig adalah bentuk bilah yang digunakan digamelan Gender Wayang secara umum di Bali. Kemudian terampa ataupun pelawah darigamelan Gender Wayang di Bali memiliki model atau bentuk yang sama, yaitu 2 (dua) buahadeg-adeg yang terbuat dari kayu berfungsi sebagai penyangga gantungan bilah dan tempatresonator atau bumbung. Meskipun secara umum model dan bentuknya sama, faktanya darisetiap daerah memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing sesuai dengan budaya seni dankreativitas seniman di daerah setempat. Hal ini terletak pada ornamentasi yang berarti hiasanatau pepayasan. Unsur arsitektur yang merupakan induk dari ornamentasi dan pepayasan jugahadir sebagai bagian dari alat musik, yang berkaitan dengan bidang tertentu. Khususnya dalamgamelan Gender Wayang terlatak pada bidang terampa atau tungguhan. Setiap daerah di Balimemiliki sebuah persepsi yang tidak sama, walaupun berakar dari satu konsep steyl atau modellagu (gending) di masyarakat Bali khususnya. Gender wayang adalah barungan alit yangmerupakan gamelan Pewayangan (Wayang kulit dan wayang wong) dengan instrumen pokoknyayang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri darisepasang gender pemade (nada agak besar) dan sepasang gender kantilan (nada agak kecil).Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh bilah yang dimainkan denganmempergunakan 2 panggul, Gambelan ini merupakan gambelan yang tergolong dalamgambelan golongan tua. Gender wayang juga memiliki fungsi dalam ritual hindu di Bali. Baliadalah salah satu pulau di Indonesia yang sangat terkenal. Sebagai satu-satunya daerah diNusantara, tempat sisa-sisa Kebudayaan Hindu tampak jelas, seperti balai-balai pemujaan telahbanyak dipotret, upacara-upacara keagamaannya telah banyak dianalisa, cara berpikir rakyatnyatelah banyak dikupas secara mendalam, kecantikan wanita-wanitanya telah banyak dipuji olehpara ahli etnografi (Clifford Geertz, 1984: 246).Peryataan di atas menunjukkan, bahwa paling tidak ada dua unsur fokus kebudayaan yangmenjadikan Bali sangat terkenal, yaitu kesenian dan upacara keagamaannya. Masyarakat Bali didalam hidup kesehariannya, di samping mencari nafkah dengan berbagai profesi misalnya buruhtani, buruh bangunan, pedagang, penjahit, pengrajin, pegawai negeri sipil (PNS), polisi, tentara,karayawan swasta, pemandu wisata dan lain sebagainya, juga melakukan kegiatan upacara adatmaupun keagamaan. Upacara keagamaan itu disebut Panca Yadnya, yaitu Dewa, Resi, Manusa,Pitra, dan Bhuta Yadnya. Hampir semua upacara tersebut melibatkan kesenian dalam berbagaibentuk cabang seni: rupa, tari, karawitan, pakeliran, dan sastra.Cabang seni karawitan dalam penyajiannya didukung oleh kurang lebih 30 (tiga puluh) jenisbarung (perangkat) gamelan Bali yang masing-masing memiliki fungsi, instrumen, tangga nada,repertoar maupun kharakter gending, warna suara, dan masyarakat pendukung yang berbeda- beda. Dari 30 jenis perangkat tersebut, satu diantaranya adalah gender wayang. Perangkatgamelan ini terdiri dari satu sampai dua pasang instrumen gender wayang, dengan menggunakan sepuluh bilah (juga disebut dengan istilah gender dasa), dan lima nada berlaras slendro. Masing- masing instrumen ditabuh (dimainkan) oleh seorang penabuh dengan mengunakan dua alat pukulyang disebut panggul. Dengan demikian para penabuh (pemain) menabuh (memukul) danmemitet (menutup) sekaligus.Gender wayang oleh masyarakat (Hindu) di Bali digunakan dalam Yadnya antara lain: DewaYadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya. Dewa Yadnya adalah upacara yang ditujukankepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta manifestasinya. Upacara-upacara yang tergolong dalam Dewa Yadnya diantaranyapiodalan,memungkah (ngenteg linggih) diPura-pura dan atau di Sanggah (Mrajan). Upacara ini biasanya dilakukan bertepatan denganbulan purnama, dan tidak jarang pula dilaksanakan bertepatan hari-hari raya umat Hindu sepertiSaraswati, Pagerwesi, Galungan, Pamacekan, Kuningan dan lain sebagainya.Gender wayang dalam Dewa Yadnya digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemahyang diselenggarakan bertepatan dengan pendeta menghaturkan puja wali pada saat upacaraberlangsung. Pertunjukan wayang lemah wajib dilakukan pada upacara tingkatan tertentu,misalnya memungkah atau ngenteg linggih. Hal ini diwajibkan karena pertunjukan wayanglemah bersifat seni wali, yaitu kesenian berfungsi sebagai sarana dalam upacara. Tanpa ada seniwali ini, maka upacara dianggap kurang lengkap, kurang sempurna. Oleh karena itu pertunjukanwayanglemah selalu hadir dalam piodalan tingkat tertentu.Selanjutnya, Pitra Yadnya dikonsepsikan sebagai upacara yang ditujukan kepada roh leluhuryang belum disucikan. Dalam proses penyucian inilah diadakan upacara ngaben dan nyekah.Upacara ngaben yang dikenal dengan sebutan cremation, merupakan upacara pensucian rohleluhur pada tingkat awal (masih bersifat kasar), karena akan dilanjutkan dengan tingkatan yanglebih halus yang dikenal dengan nyekah atau memukur.Kegunaan karawitan gender wayang dalam Pitra Yadnya biasanya pada upacara ngaben padatingkat utama (besar-besaran). Seperti dimaklumi bahwa setiap pelaksanaan upacara di Baliselalu menggunakan tingkatan. Tingkatan tersebut secara garis besarnya dapat dibagi tiga, yaitu,(1) utama (besar/mewah), (2) madya (sedang) dan (3) nista (sederhana). Dikatakan secara garisbesar, karena tingkatan-tingkatan tersebut di atas dapat dibagi lagi menjadi misalnya yangtingkat utama dapat dibagi lagi menjadi utaming utama, utaming madya dan utaming nista.Begitu pula tingkatan madya dapat dibagi lagi menjadi madyaning utama, madyaning madya danmadyaning nista dan seterusnya.Pada upacara ngaben besar-besaran, biasanya menggunakan wadah/ bade sebagai tempat jenazahyang di bawahnya (pangkal wadah yang berhubungan dengan rangkaian bambu (Bali: sanan)sebagai penyangga atau sarana pengusung), diapit sepasang gender wayang lengkap denganpenabuhnya. Karawitan gender wayang ini disajikan sepanjang rute (prosesi) dari rumah dukamenuju ke tempat pembakaran.Kemudian Manusa Yadnya merupakan korban suci untuk memelihara dan membersihkan lahir- bathin manusia, mulai dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.Dari sejumlah upacara dalam Manusa Yadnya , gender wayang selalu digunakan dalam upacaramesangih. Selain digunakan dalam upacara dewa yadnya, pitra yadnya,dan manusa yadnya,gender wayang ini juga bisa untuk mengiringi puja trisandya/ kidung yang terdapat dalamtelevisi maupun radio. Jadi , Gender wayang merupakan gamelan yang tergolong dalam gamelangolongan tua. Gender wayang merupakan gamelan yang multi fungsi, selain di gunakan dalamupacara dewa yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, gender wayang bisa juga di gunakan untukmengiringi puja trisandya atau kidung.

Sumber : (buku tehnik permainan gender wayang, 1984 : 264)

GAMELAN ANGKLUNG

 Gamelan angklung adalah gamelan berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrument berbilah dan pencon dari krawang, kadang – kadang ditambah angklung bambu kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat – alat gamelan yang relative kecil dan ringan (sehingga mudah dimainkan sambil berprosesi). Permainan gamelan angklung biasanya dilakukan saat upacara – upacara yadnya di Bali. Gamelan angklung bagi masyarakat Bali memiliki arti yang sentimental dan tidak dapat tergantikan untuk member arti pada upacara adat Bali. Kata angklung sendiri untuk menyebutalat berupa bambu yang digunakan sebagai media keluarnya sumber bunyi – bunyian. Di era belakangan ini gamelan angklung mengalami perubahan yang bukan saja dari bentuk fisik instrumentasi, tetapi juga terjadi perkembangan repertoar dan fungsi, di dalam konteks kehidupan social masyarakat di Bali. Dan saat ini gamelan angklung telah diangkat untuk ajang sebuah kreativitas, lahan seni artistic bagi seniman – seniman kreatif dengan tampil sebagai angklung kebyar dan angklung dengan kreativitas seni modern. Dan di beberapa Daerah di Bali baik organisasi, maupun pemaksan dadya dan sebagainya tidak jarang gamelan angklung juga mengiringi tari – tarian untuk menggantikan gamelan lainnya dalam rangka upacara Dewa Yadnya termasuk juga gamelan kekebyaran yang dewasa ini sedang digemari di Bali.  Sekhe angklung sekar emas merupakan salah satu sekhe yang ada di kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan. Menurut, Bapak I Wayan Semur selaku ketua sekhe Angklung sekar emas sejarah gamelan angklung yang ada di kabupaten Tabanan, angklung tersebut pertama kalinya muncul di sanggar seni mas putra baru sekitar tahun 2002. Awalnya sekitar tahun 1980, sanggar seni mas putra baru hanyalah sekhr tarian saja. Setelah berselang beberapa tahun kemudian permintaan masyarakat atau pengupah mencari tarian langsung penabuh untuk melaksanakan upacara panca yadnya, supaya gamelan tersebut  bisa digunakan pada semua upacara yadnya, untuk mengiringi tari – tarian tersebut maka, sanggar – sanggar seni mas putra baru berinisiatip membeli angklung kebyar. Mengapa sanggar mas putra baru memilih angklung kebyar, karena angklung kebyar bisa digunakan untuk mengiringi tarian walau lebih sulit, dapat digunakan di pura dan juga dapat digunakan di tempat orang yang sedang melaksanakan upacara pitra yadnya atau manusa yadnya. Gamelan angklung adalah gamelan berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrument berbilah dan pencon dari krawang, kadang – kadang ditambah angklung bambu kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat – alat gamelan yang relative kecil dan ringan (sehingga mudah dimainkan sambil berprosesi). Permainan gamelan angklung biasanya dilakukan saat upacara – upacara yadnya di Bali. Gamelan angklung bagi masyarakat Bali memiliki arti yang sentimental dan tidak dapat tergantikan untuk member arti pada upacara adat Bali. Kata angklung sendiri untuk menyebutalat berupa bambu yang digunakan sebagai media keluarnya sumber bunyi – bunyian. Di era belakangan ini gamelan angklung mengalami perubahan yang bukan saja dari bentuk fisik instrumentasi, tetapi juga terjadi perkembangan repertoar dan fungsi, di dalam konteks kehidupan social masyarakat di Bali. Dan saat ini gamelan angklung telah diangkat untuk ajang sebuah kreativitas, lahan seni artistic bagi seniman – seniman kreatif dengan tampil sebagai angklung kebyar dan angklung dengan kreativitas seni modern. Dan di beberapa Daerah di Bali baik organisasi, maupun pemaksan dadya dan sebagainya tidak jarang gamelan angklung juga mengiringi tari – tarian untuk menggantikan gamelan lainnya dalam rangka upacara Dewa Yadnya termasuk juga gamelan kekebyaran yang dewasa ini sedang digemari di Bali.  Sekhe angklung sekar emas merupakan salah satu sekhe yang ada di kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan. Menurut, Bapak I Wayan Semur selaku ketua sekhe Angklung sekar emas sejarah gamelan angklung yang ada di kabupaten Tabanan, angklung tersebut pertama kalinya muncul di sanggar seni mas putra baru sekitar tahun 2002. Awalnya sekitar tahun 1980, sanggar seni mas putra baru hanyalah sekhr tarian saja. Setelah berselang beberapa tahun kemudian permintaan masyarakat atau pengupah mencari tarian langsung penabuh untuk melaksanakan upacara panca yadnya, supaya gamelan tersebut  bisa digunakan pada semua upacara yadnya, untuk mengiringi tari – tarian tersebut maka, sanggar – sanggar seni mas putra baru berinisiatip membeli angklung kebyar. Mengapa sanggar mas putra baru memilih angklung kebyar, karena angklung kebyar bisa digunakan untuk mengiringi tarian walau lebih sulit, dapat digunakan di pura dan juga dapat digunakan di tempat orang yang sedang melaksanakan upacara pitra yadnya atau manusa yadnya. Gambelan angklung adalah gamelan khas bali yang sering digunakan dalam prosesi atau upacara kematian. Gambelan angklung menggunakan laras slendro dan tergolong barungan madya yang di bentuk oleh insrtumen berbilah dan berpencon dari krawang, kadang – kadang ditambah dengan angklung kocok (yang ukuran kecil). Di Bali selatan gambelan ini hanya menggunakan 4 (empat) nada, sedangkan di Bali utara menggunakan 5 (lima) nada. Berdasarkan konteks penggunaan gambelan ini serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi yaitu ada Angklung klasik dan ada juga angklung kebyar. Angklung klasik di mainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari – tarian) contohnya seperti hanya mengiringi upacara pitra yadnya atau disebut dengan istilah Bali (ngaben). Dan Angklung kebyar di mainkan untuk mengiringi pegelaran tari atau drama. Satu barung gambelan angklung bisa berperan sebagai keduanya, karena sering kali menggunakan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat yang luas gambelan ini dikenal sebagai pengiring upacara Pitra Yadnya (ngaben). Di sekitar Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan mayat diiringi dengan gambelan angklung yang menggantikan fungsi gambelan gong gede, gong kebyar, semarandhana, semarpagulingan dan yang lainnya yang dipakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya (odalan) atau juga upacara lainnya. Karena tradisi di Bali khususnya sangat ikdentik dengan ritual, makanya Bali tidak terlepas dari bunyi gamelan seperti angklung, gong kebyar dan yang lainnya karena fungsi gamelan itu sendiri adalah untuk mengiringi upacara.Sekhe angklung sekar emas selain menampilkan tabuh – tabuh juga menampilkan tari – tarian. Adapun tarian- tarian yang dipentaskan dengan iringan angklung kebyar  sekhe mas antara lain, Tari Barong, Baris Tunggal, Jauk manis, Panyembrahma, dan Tari calonarang dll. Respon masyarakat pendukung dan penikmatsini cukup besar dalam pentas kesenian tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran penonton yang membludak. Selain itu angklung ditemukan pula sering digunakan untuk mengiringi wayang kulit di beberapa Daerah di Bali. Jadi kesenian angklung sampai saat ini memiliki arti penting baik dalam konteks kebutuhan masyarakat yang menunjang atau berfungsi upacara maupun social ekonomi dan hiburan. Adapun bagian dari dari gamelan angklung.

. Adapun tarian- tarian yang dipentaskan dengan iringan angklung kebyar  sekhe mas antara lain, Tari Barong, Baris Tunggal, Jauk manis, Panyembrahma, dan Tari calonarang dll. Respon masyarakat pendukung dan penikmatsini cukup besar dalam pentas kesenian tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran penonton yang membludak. Selain itu angklung ditemukan pula sering digunakan untuk mengiringi wayang kulit di beberapa Daerah di Bali. Jadi kesenian angklung sampai saat ini memiliki arti penting baik dalam konteks kebutuhan masyarakat yang menunjang atau berfungsi upacara maupun social ekonomi dan hiburan. Adapun bagian dari dari gamelan angklung.Kantilan ini berfungsi sebagai pemanis dalam permainan atau gending angklung tersebut. Instrument ini juga menggunakan alat pukul panggul atau juga menggunakan panggul gender. Jublag angklung adalah instrument yang juga mempunyai 4 (empat) bilah nada yang terdiri dari nada (ndeng, ndung, ndang, nding) tetapi nadanya lebih rendah dengan gaya selendro. Jublag ini berfungsi sebagai penanda dalam gending angklung itu sendiri. Instrument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi ukurannya lebih besar dan di bawah panggul itu menggunakan karet agar suara jublag terdengar lebih merdu. Reong angklung adalah instrument yang berpencon dengan nada selendro dan dimainkan oleh 4 (empat) orang pemain atau penabuh. Instrument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi panggul ini dililit dengan benang dengan tujuan agar suara reong tersebut bisa lebih merdu. Kendang angklung, biasanya kalau untuk mengiringi upacara kematian kendang angklung yang digunakan adalah kendang yang berukuran kecil karena lagu yang dimainkan adalah lagu yang bersifat sedih tetapi dalam angklung kebyar biasanya menggunakan kendang yang ukurannya lebih besar karena bentuk lagunya lebih bersemangat dan juga berbentuk kekebyaran. Instrument ini dimainkan oleh 2 (dua) pemain atau orang penabuh. Kalau menggunakan kendang berukuran kecil cara memainkannya hanya memukul bagian samping kanan yang diameternya lebih besar atau mukaknya saja, tetapi kalau menggunakan kendang besar cara memainkannya menggunakan 2 (dua) tangan dengan memukul bagian samping kendang dengan motif pukulan seperti gegilak, dll. Tawa – tawa angklung merupakan alat sebagai tempo yang membawa lagu itu cepat atau pelan. Kempur angklung merupakan suatu alat untuk menunjukkan lagu itu sudah habis, tetapi kalau angklung kebyar biasanya menggunakan gong, karena jenis lagunya berbentuk kekebyaran. Ada juga instrument kecek dan suling yang menjadi bagian dari gamelan angklung tersebut.

 

 

 

 

 

Sumber : wawancara dari bapak I Wayan Semur selaku ketua sekhe angklung sekar emas kabupaten tabanan : 2014.