SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Resensi Buku “Upacara Pasupati Sebagai Media Sakralisasi”
Apr 23rd, 2013 by pradnyanaputra

RESENSI BUKU

“UPACARA PASUPATI SEBAGAI MEDIA SAKRALISASI”

Judul buku : Upacara Pasipati Sebagai Media Sakralisasi

Pengarang   : Dra. S Swarsi Geriya M.si

Penerbit      : Paramita Surabaya

Tebal           : 106 halaman

 

Upacara Pasupati merupakan bagian suatu upacara keagamaan di Bali yang masih ditradisikan oleh masyarakat pendukungnya. Upacara Pasupati suatu benda keagamaan maupun benda budaya lainnya merupakan suatu upacara yang unik, untuk memberikan kekuatan gaib pada benda agar benda tersebut memiliki kesan “tenget/keramat” suci. Setelah pelaksanan upacara tersebut, benda yang sudah dipasupati ditempatkan pada suatu tempat yang khusus sebagai suatu wahana untuk memohon perlindungan masyarakat maupun untuk menangkal mara bahaya/gerubug. Kepercayaan tersebut dilatar belakangi oleh ajaran “Tat Twam Asi” dengan pengertian bahwa Sang Hyang Widhi ada dimana-mana. Hyang Widhi menciptakan benda dan juga memberikan jiwa pada benda ciptaannya. Sebaliknya manusia sebagai ciptaan beliau yang paling sempurna, wajib memelihara dan menghargai benda-benda yang ada di sekelilingnya. Adapun tahapan-tahapan dan hal-hal lain yang menyangkut tentang Upacara Pasupati, sudah dijelaskan dalam buku karangan Dra. S Swarsi Geriya M.si.

Isi buku tersebut terfokus pada fungsi Upacara Pasupati, namun selain itu juga disinggung beberapa hal tentang fungsi upacara sebagai ketahanan budaya dan sistem pengendalian sosial masyarakat yang berkaitan dengan Upacara Pasupati. Selain itu, dalam buku tersebut juga dipaparkan tahapan-tahapan dan rentetan Upacara Pasupati mulai dari tahapan pembuatan benda yang dipasupati, hari baik upacara, dan sarana upacara. Pedoman yang berkaitan dengan buku tersebut juga dipaparkan dalam, baik itu buku-buku penunjang dan lontar-lontar yang terkait dengan Upacara Pasupati.

Menurut saya, buku karangan Dra. S Swarsi tersebut memiliki banyak kelebihan. Dengan membaca buku itu, pembaca akan lebih mengetahiu tenteng fungsi, makna, tujuan dan tahapan Upacara Pasupati. Secara tidak langsung pembaca juga akan lebih menumbuhkan dan memantapkan tradisi memuja dan menghormati serta meyakini kekuatan kekuatan magic dan kesucian dari suatu benda setelah dipasupati sebagai media yang diberkahi oleh Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa) sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hal tersebut mengandung arti bahwa semakin tebal dan mantap kepercayaan masyarakat berkat upacara Pasupati, benda tersebut menjadi sakral.

Dari sekian banyak materi yang dibahas dalam buku tersebut terdapat juga kekurangan. Dalam buku tersebut, penulis tidak membahas tentang sejarah munculnya benda-benda magis yang dapat dipasupati, misalnya sejarah munculnya Rangda, Barong dan Keris. Penulis juga tidak menjelaskan benda apa saja yang dapat/layak dipasupati dan benda apa yang tidak dapat dipasupati, dalam buku itu penulis hanya menyebutkan tiga benda yang dipasupati yaitu Barong, Rangda, dan Keris, padahal dalam masyarakat ada yang melaksanakan upacara Pasupati untuk Pretima dan Lontar.

Dari analisa dan resensi yang saya lakukan pada buku itu dapat disimpulkan bahwa setiap karangan atau buku memiliki fungsi dan tujuan masing-masing, masing-masing juga memiliki manfaat dan kelebihan, namun dibalik kelebihan pastilah ada kekurangan. Buku tersebut menurut saya sudah bagus dan menarik, khususnya bagi orang-orang yang teretarik dengan hal-hal magis dan keagamaan.

Biografi I Nyoman Sutama, SSKar
Nov 5th, 2012 by pradnyanaputra

           I Nyoman Sutama,SSKar lahir di Jembrana pada tanggal 3 Januari 1965. Nyoman Sutama menikah pada tahun 1992 dan dikaruniai 2 orang anak. Pengaruh Nyoman Sutama sangat besar dalam perkembangan Jegog di Jembrana.

           Kegemaran Sutama di bidang seni sudah ada sejak beliau duduk di bangku Sekolah Dasar namun Sutama kecil belum bisa memainkan gamelan. Kemudian setelah tamat SD ia melanjutkan ke SMP N  1 Mendoyo. Disanalah ia mulai belajar bermain gamelan sedikit-demi sedikit. Ilmu yang ia dapat di SMP dirasanya belum cukup akan tetapi sialnya ia melanjutkan sekolah ke SMK Pariwisata yang sama sekali bukan minatnya. Di sekolah SMK ia sama sekali tidak mendapat ilmu yang berkaitan dengan hobinya. Setelah lulus SMK, beliau bertekat untuk melanjutkan kuliah di ASTI Denpasar. Tetapi ia masih ragu karena kemampuannya dirasa sangat kurang,namun karena besarnya keinginan untuk lebih memahami bidang karawitan ia memberanikan diri untuk melanjutkan kuliah di ASTI Denpasar. Pada saat tes praktek ia hanya bisa sedikit memainkan gender wayang dan gangsa,itupun belum sangat bagus. Tetapi ia tidak berkecil hati, pada saat tes interview ia sangat memohon kepada penguji agar ia diluluskan menjadi mahasiswa di ASTI Denpasar, ia berjanji untuk belajar bersungguh-sungguh. Akhirnya setelah diumumkan hasilnya, Nyoman Sutama dinyatakan lulus namun namanya ditulis paling bawah dan ditulis tangan. Walaupun begitu,ia merasa senang dan sejak itupun semangatnya untuk belajar megambel dan membuat lagu semakin besar. Saat ia mulai kuliah, Nyoman Sutama giat belajar bermain kendang dari almarhum Pak Lempig yang merupakan waker di ASTI Denpasar. Setiap pagi sebelum dimulai perkuliahan, Nyoman Sutama sudah tiba di kampus agar dapat berlatih bermain kendang. Tak jarang iapun pernah membantu Pak Lempig untuk bersih-bersih. Iapun sering diejek oleh temannya sebagai wakil waker di kampus. Selain kepada Pak Lempig, Nyoman Sutama juga sering berlatih pada dosen-dosennya. Penampilan Nyoman Sutama yang urakan disertai warna kulit yang hitam pada saat itu sering dijadikan bahan tertawaan oleh teman-teman dekatnya sampai ia diberi nama “Man Klau” namun karena watak Nyoman Sutama yang juga humoris,ia tidak mempermasalahkan hal ita, ia malah ikut menertawakan dirinya sendiri  dan sampai sekarang Nyoman Sutama lebih akrab dengan nama “Man Klau”. Nyoman Sutama lulus dari ASTI pada tahun 1986 dengan garapan yang berjudul “Utsaha” dan iringan sendratari yang berjudul “Men Brayut”. Sutama sangat bangga karena karyanya masuk dalam kaset ASTI Vol.16.

          Sejak lulus dari ASTI Denpasar, Nyoman sutama menitih karir dengan karya-karya gamelan Jegog yang dimulai dari sanggar Suar Agung pada tahun 1988 sampai tahun 2002. Kemudian Sutama melanjutkan karirnya di sanggar Jimbarwana pada tahun 2002 sampai tahun 2005. Menurur saya, tokoh Man Klau merupakan seniman yang cukup hebat karena beliau berhasil menyelesaikan tujuh buah garapan dalam waktu tiga bulan yang terdiri dari empat tabuh instrumental dan tiga buah tabuh iringan tari. Setelah itu sejak tahun 2006 sampai sekarang, Man Klau aktif sebagai pelatih dan komposer di sanggar Jegog Yudistira dan sanggar Grantang Pelog yang diberi nama Swar Dwi Stri. Sanggar Swar Dwi Stri merupakan seka Grantang Pelog yang terdiri dari kumpulan ibu-ibu dari Jepang yang ingin belajar seni dan ingin ikut melestarikan kesenian Bali. Selain sebagai pelatih dan komposer di dua sanggar tersebut, Man Klau juga aktif sebagai komposer di ajang PKB sejak tahun 2000 sampai sekarang.

Sejarah Barungan Gamelan Jegog di Kelurahan Tegalcangkring
Okt 9th, 2012 by pradnyanaputra

Barungan Jegog merupakan jenis gamelan golongan madya yang terdapat hanya didaerah Kabupaten Jembrana. Jegog adalah barungan gamelan berlaras pelog (empat nada) yang terdiri dari bilah berbentuk tabung bambu. Dari segi bentuk, keseluruhan instrument jegog berbentuk sama yaitu berbentuk memanjang dengan delapan buah bilah yang terbuat dari bambu berbentuk tabung dan dengan empat kaki-kaki untuk menopang bilah-bilah tersebut.  Perbedaan antara instrument-innstrumen tersebut hanya terletak dari segi ukuran besar kecilnya setiap instrumen dan dari segi nada, pada instrument barangan, kancil, dan suwir nadanya dua oktaf dalam empat nada, sedangkan pada instrument cluluk/kuntung,undir dan jegogan nadanya hanya satu oktaf dalam empat nada yang berjumlah delapan bilah.

 

Sejarah Keberadaan Gamelan Jegog :

Barungan gamelan Jegog diperkirakan ada sejak tahun 1912 di Desa Sebual. Kiyang Gliduh adalah pencipta gamelan Jegog, setelah itu Jegog berkembang di Desa Delod Berawah pada tahun 1920, dan kemudian dilanjutkan oleh sekehe Jegog di Desa Pohsanten bersamaan dengan Desa Mendoyo Dangin Tukad dan di Desa Tegal Cangkring pada tahun 1940. Kurangnya penyebaran gamelan Jegog ini membuat gamelan ini kurang dikenal oleh masyarakat Bali dan hanya berkembang di Kabupaten Jembrana.

Gamelan Jegog ditemukan ketika Kiyang Gliduh pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sesampainya di hutan beliau mulai mengumpulkan kayu bakar. Setelah  mendapatkan kayu bakar, maka dalam perjalanan pulang beliau merasa agak payah. Kemudian beliau beristirahat sambil  berteduh  di bawah pohon yang rindang. Alangkah kagetnya Kiyang Gliduh ketika beliau mendengarkan suara yang aneh tetapi indah. Lama sekali beliau tertegun mendengarkannya, suara itu makin lama makin menjadi-jadi, dan kedengarannya mirip dengan wirama Acwalalita yaitu satu dari sekian banyak wirama yang dikuasainya. Karena begitu besar hasratnya untuk mengetahui suara itu,maka beliau terus menelusuri ke arah yang dianggap sebagai sumber bunyi itu. Kemudian beliau mengetahui bahwa suara itu dating dari arah timur, lalu beliau pun menelusurinya kea rah datangnya suara itu. Alangkah kagetnya Kiyang Gliduh ketika sampai di timur karena suara itu datangnya dari arah yang lain. Susul-menyusul arah pun terjadi hingga akhrinya Kiyang Gliduh menjadi bingung karena tidak berhasil menemukan sumber yang sebenarnya. Akhirnya, beliau kembali ke pohon tempatnya berteduh semula. Sambil melepas lelah beliau mencoba untuk mengingat suara yang ternyata merupakan rangkaian nada-nada. Ditirukanlah nada-nada tersebut dengan menggunakan bilah-bilahan kayu apai yang berhasil dikumpulkannya tersebut dan menghasilkan suara yang bagus. Setibanya di rumah, Kiyang Gliduh mencari jenis kayu yang lain yaitu kayu bayur dan panggal buaya untuk bahan bilah serta dikerjakannya dengan lebih baik Meskipun demikian, beliau belum merasa puas karena suara yang dihasilkan tidak keras. Untuk itu maka bilah-bilah tadi ditambahkan dengan resonator yang terbuat dari bambu sehingga menghasilkan suara yang sangat bagus.

Sifat seorang seniman yang tidak mau cepat puas membuat Kiyang Gliduh untuk terus mencoba membuat tiruan nada itu menggunakan bahan yang lain. Dari usaha mencoba dan mencoba secara terus menerus, akhirnya ditemukan bahwa bamboo adalah bahan yang paling baik untuk membuat tiruan nada tersebut. Berbagai jenis bambu dari ukuran yang kecil hingga besar dipilihnya sebagai bahan instrumen. Hasilnya pun sangat membanggakan, meggelegar seolah-olahmembelah bumi. Oleh karena suaranya demikian hebat dan menakjubkan maka instrumen atau gamelan itu diberi nama gamelan Jegog.

 

Teknik Permainan :

Cara memainkan gamelan jegog adalah dengan dipukul dengan menggunakan dua buah alat pemukul/panggul yang terbuat dari kayu dengan bentuk memanjang dan pada ujungnya berbentuk bundar menyerupai roda. Khusus pada instrument jegogan, undir, dan barangan yang dipegang oleh tangan kiri, ujung pemukulnya terbuat dari bahan karet.

 

Instrumentasi :

Satu Satu barungan gamelan Jegog terdiri dari 14 buah instrumen. Adapun nama dan fungsi instrumen tersebut adalah:

  1. satu buah Patus Barangan, berfungsi untuk memulai gending, memberi aba-aba atau memimpin seluruh penabuh, pukulannya mengikuti matra.

2. dua buah Pengapit Barangan, berfungsi untuk nyandetin Patus Barangan.

3. satu buah Patus Kancil, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan,bermain polos.

4. dua buah Pengapit Kancil, berfungsi untuk nyandetin Patus Kancil.

5. satu buah Patus Swir, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan, bermain polos, menguatkan suasana gending karena

nadanya tinggi

6. dua buah Pengapit Swir, berfungsi untuk nyandetin Patus Swir.

7. dua buah Celuluk/Kuntung, berfungsi sebagai pembawa melodi.

8. dua buah Undir, berfungsi sebagai pembawa melodi, tetapi pukulannya lebih jarang dari Kuntung.

9. satu buah Jegog, berfungsi sebagai pembawa melodi hanya saja pukulannya lebih jarang dari Undir dan dimaninkan oleh dua

orang penabuh.

Sistem Pelarasan :

Apabila kita perhatikan laras Jegog itu maka kita akan mendapatkan hal yang sangat unik. Jegog memiliki empat nada dalam satu oktafnya, yaitu dong, deng, dung, ding. Apabila kita bertitik tolak pada laras pelog maka akan didapatkan sruti sebagai berikut.

1.Dong ke deng adalah pendek.

2.Deng ke dung adalah panjang, karena melewati satu pamero.

3.Dung ke daing panjang, karena melewati nada dang.

Dong, deng, dung, ding merupakan urutan nada Jegog yang biasa diucapkan di Jembrana. Karena keunikannya inilah laras Jegog cenderung disebut laras Pelog.

 

Jenis Gending

Gending-gending yang dapat dimainkan dalam gamelan Jegog adalah Tabuh Teruntungan, Tabuh Pategak, Tari-tarian, dan Joged. Tabuh Terungtungan ini adalah tabuh yang suaranya lembut dan kedengarannya sangat merdu karena melantunkan lagu-lagu dengan irama yang sangat mempesona sebagai inspirasi keindahan alam Bali. Tapi pada saat ini Tabuh Teruntungan sudah dimodifikasi sehingga menjadi seperti tabuh kreasi, akan tetapi masih berpedoman pada pakem-pakem tabuh teruntungan yang ada.

Selain gending klasik, gending-gending yang ditransfer dari Gong Kebyar juga sering ditampilkan, yaitu gending Bhakti Marga, Gopala, Belibis, dan lain-lain. Selain itu, gending-gending kreasi juga sering dipentaskan oleh sanggar-sanggar Jegog seperti Suar Agung, Jimbarwana, dan Yudistira.

 

Sejarah Keberadaan Gamelan Jegog Di Kelurahan Tegalcangkring :

Barungan Gamelan Jegog diperkirakan muncul di Tegalcangkring pada tahun 1951.Berawal dari kesenangan masysarakat Kelurahan Tegalcangkring menonton pementasan Jegog/jegog mebarung kemudian muncul ide dari para pemuda untuk membuat tiruan gamelan jegog dari bahan kayu dan bambu seadanya. Saking besarnya keinginan untuk cepat memiliki gamelan jegog, para pemuda samapai nekat mencuri kayu bakar dari rumah mereka masing-masing. Dengan kegigihan para pemuda Tegalcangkring akhirnya terbentuk sebuah barungan mini Gamelan Jegog karena kurangnya dana. Karena kurang layaknya barungan yang dimiliki, maka seke Jogog ini tidak berani untuk dipentaskan di tempat umum, tetapi hanya dipergunakan untuk latihan saja. Setelah satu tahun bertahan dengan barungan yang kurang lengkap tersebut, akhirnya pemuda Kelurahan Tegalcangkring berinisiatif memberanikan diri untuk meminta sumbangan dari  aparat kelurahan maupun dari setiap warga. Setelah dana terkumpul, kemudian seke Jegog tersubut mulai membuat Barungan Jegog yang lengkap dan layak tampil dengan dibantu oleh salah seorang pembuat Gamelan Jegog yang juga berasal dari Kelurahan Tegalcangkring yang kebetulan pernah belajar membuat Jegog. Akhirnya pada tahun 1951 terbentuklah seke Jogog resmi yang diberi nama “Loka Swara”. Kemudian Barungan Gamelan Jegog semakin berkembang di masing-masing banjar di Kelurahan Tegalcangkring.

Seiring berkembangnya jaman, kemudian Gamelan Jegog mengalami perkembangan baik dari segi bahan,cara memainkan dan jenis gending terutama pada gending teruntungan. Awalnya gamelan Jegog dibuat dari kayu , kemudian berkembang menjadi bambu dengan ukuran yang sama. Lama-kelamaan bentuk gamelan Jegog tersebut dikembangkan lagi dengan menggunakan bahan dari bambu yang ukurannya lebih besar. Dengan adanya perubahan ukuran bambu, maka pelawah atau wadah yang digunakan juga lebig besar.

Selain dalam hal bahan, perkembangan gamelan Jegog juga terjadi dalam hal memainkannya. Dulunya gamelan Jegog dimainkan dengan cara duduk, tentu saja dengan pelawah yang kaki-kakinya agak pendek. Sekarang permainan gamelan Jegog dimainkan dengan cara berdiri dengan menggunakan pelawah yang kakinya panjang. Hal ini digagas pertama oleh I Nyoman Sutama, SSKar.

Selain itu, perkembangan juga dialam oleh gamelan Jegog dalam hal repertoar gending. Dulunya gamelan Jegog hanya memainkan gending-gending klasik saja, namun akibat perkembangan gamelan Gong Kebyar, gamelan Jegog memainkan gending-gending yang ditransfer dari gending-gending Gong Kebyar. Berkat inisiatif dari I Nyoman Sutama, SSKar, gamelan Jegog kini bisa memiliki gending-gending kreasi yang pertama kalinya dipelopori oleh sanggar Suar Agung. Dengan adanya hal ini gamelan Jegog semakin di kenal oleh masyarakat di Bali, di Indonesia dan di dunia terutama di Jepang. Gamelan Jegog kini sering dipentaskan, selain ke luar negeri, Jegog juga sering tampil dalam acara PKB.

Gamelan Jegog ini hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, di Bali mungkin penyebarannya hanya ada di Ubud dan di kampus ISI Denpasar saja (sepengetahuan penulis). Selain di Bali, gamelan Jegog juga ada di negeri sakura, yaitu di Jepang.

Komentar Vidio Tabuh Kreasi Pepanggulan Wana Giri
Jun 1st, 2012 by pradnyanaputra

YouTube Preview Image

 

Tabuh kreasi Wana Giri merupakan tabuh kreasi pepanggulan dengan menggunakan media gong kebyar dengan ditambah dengan instrumen pendukung berupa ceng-ceng kopyak yang dibawakan oleh duta dari kabupaten Badung pada PKB tahun 2004.

 

Komentar:

Saya menganalisa video tersebut dengan menggunakan dua media yaitu dengan dengan headset nokia dan speaker dari sony. Dari kedua media yang saya gunakan untuk menganalisa video tersebut terdapat perbedaan khususnya dalam hal audio. Kalau dalam analisa menggunakan headset dari nokia, antara suara bas dan treblenya sudah cukup seimbang hanya saja suara dari tepuk tangan penonton sangat jelas terdengan mungkin dikarenakan penempatan microphonenya agak terarah ke penonton sehingga microphone yang sensitif juga menangkap suara dari tepuk tangan penonton. Sedangkan dalam analisa saya menggunakan speaker dari sony, antara suara bas dan treblenya masih kurang seimbang, suara bas (jublag, jegogan, kempur, dan gong) kurang jelas kedengarannya dan suara instrumen lainnya kedengaran jelas hanya saja suaranya masih terpantul dan suara tepuk tangan penonton juga masih terdengar hanya saja tidak terlalu jelas.

Pada menit ke 00:19, suara tepuk tangan dan sorak sorai penonton masih terdengar jelas,dan menurut saya hal tersebut menggangu subuah pertunjukan. Pada menit ke 01:00 yang munonjolkan suara kantil, yang terdengar hanya pukulan kantil yang bermain polos saja, mungkin disebabkan karena kurangnya jumlah microphone yang digunakan atau penempatannya kurang tepat dengan sumber suara kantil yang bermain sangsih. Pada menit ke 01:40 pada penonjolan permainan reong, yang terdengar hanya reong bagian penyelah dan pemetit. Dari awal hingga akhir pementasan sya tidak mendengar adanya permainan terompong padahal dalam video tersebut terdapat instrumen terompong. Pada menit ke 08:30 yaitu menit-menit akhir dalam video tersebut tepatnya saat permainan ceng-ceng kopyak, antara suara ceng-ceng kopyak dan instrumen lain kurang seimbang, mungkin disebabkan oleh sumber suara (ceng-ceng kopyak) dimainkan terlalu dekat dengan microphone sehingga instrumen lain kurang jelas terdengar.Dari awal hingga akhir video tersebut, saya tidak mendengar adanya suara rebab, padahal dalam video terdapat adanya penggunaan rebab. Keseluruhan dari video yang saya analisa dari awal sampai akhir, antara suara kendang lanang dan wadon terdengar kurang seimbang, suara kendang wadon terdengar lebih keras dibandingkan suara kendang lanang, dan suara suling hanya terdengar beberapa saja mungkin dua atau tiga, padahal dalam video terlihat ada delapan suling.

Dari segi visual, lightingnya terkesan monoton karena hanya menggunakan satu jenis lampu.Pada menit ke 09:11, dalam hal pengambilan gambar menurut saya kurang tepat sehingga fokosnya kurang jelas,apakah fokus pada satu pemain atau dua pemain sehingga dalam video terlihat hanya setengah dari badan kedua pemain tersebut.

BARUNGAN GAMELAN JEGOG
Mar 18th, 2012 by pradnyanaputra

Barungan Jegog merupakan jenis gamelan golongan madya yang terdapat hanya didaerah Kabupaten Jembrana. Jegog adalah barungan gamelan berlaras pelog (empat nada) yang terdiri dari bilah berbentuk tabung bambu. Dari segi bentuk, keseluruhan instrument jegog berbentuk sama yaitu berbentuk memanjang dengan delapan buah bilah yang terbuat dari bambu berbentuk tabung dan dengan empat kaki-kaki untuk menopang bilah-bilah tersebut.  Perbedaan antara instrument-innstrumen tersebut hanya terletak dari segi ukuran besar kecilnya setiap instrumen dan dari segi nada, pada instrument barangan, kancil, dan suwir nadanya dua oktaf dalam empat nada, sedangkan pada instrument cluluk/kuntung,undir dan jegogan nadanya hanya satu oktaf dalam empat nada yang berjumlah delapan bilah.

 

Cara memainkan gamelan jegog adalah dengan dipukul dengan menggunakan dua buah alat pemukul/panggul yang terbuat dari kayu dengan bentuk memanjang dan pada ujungnya berbentuk bundar menyerupai roda. Khusus pada instrument jegogan, undir, dan barangan yang dipegang oleh tangan kiri, ujung pemukulnya terbuat dari bahan karet.

 

Kata “Jegog” diambil dari instrumen Kesenian Gong Kebyar yang paling besar.
Kesenian Jegog hanyalah berupa tabuh (barung tabuh) yang fungsi awalnya sebagai hiburan para pekerja bergotong royong membuat atap rumah dari daun pohon rumbia, dalam istilah bali bekerja bergotong royong membuat atap dari daun pohon rumbia disebut “nyucuk”, dalam kegiatan ini beberapa orang lagi menabuh gambelan jegog. Dalam perkembangan selanjutnya Gambelan Jegog juga dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan, resepsi pernikahan, jamuan kenegaraan, dan kini sudah dilengkapi dengan drama tarian-tarian yang mengambil inspirasi alam dan budaya lokal seperti yang namanya Tabuh Trungtungan, Tabuh Goak Ngolol, Tabuh Macan Putih dengan tari-tariannya seperti Tari Makepung, Tari Cangak Lemodang, Tari Bambu, sebagai seni pertunjukan wisata.

 

Dari segi bentuk tabuh, semula gamelan ini hanya dipakai untuk memainkan musik-musik instrumental dan pengiring pencak silat. Belakangan ini jegog juga dipakai untuk mengiringi tari-tarian Kebyar dan Drama Gong. Bagi masyarakat Jembrana pertunjukan Jegog yang paling berkesan adalah Jegog yang dilakukan pada hari-hari raya tertentu atau sehabis musim panen.

 

Satu Satu barungan gamelan Jegog terdiri dari 14 buah instrumen. Adapun nama dan fungsi instrumen tersebut adalah:

  1. satu buah Patus Barangan, berfungsi untuk memulai gending, memberi aba-aba atau memimpin seluruh penabuh, pukulannya mengikuti matra.

2. dua buah Pengapit Barangan, berfungsi untuk nyandetin Patus Barangan.

3. satu buah Patus Kancil, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan,bermain polos.

4. dua buah Pengapit Kancil, berfungsi untuk nyandetin Patus Kancil.

5. satu buah Patus Swir, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan, bermain polos, menguatkan suasana gending karena

nadanya tinggi.

  1. dua buah Pengapit Swir, berfungsi untuk nyandetin Patus Swir.
  2. dua buah Celuluk/Kuntung, berfungsi sebagai pembawa melodi.
  3. dua buah Undir, berfungsi sebagai pembawa melodi, tetapi pukulannya lebih jarang dari Kuntung.
  4. satu buah Jegog, berfungsi sebagai pembawa melodi hanya saja pukulannya lebih jarang dari Undir dan dimaninkan oleh dua orang penabuh.

 

Apabila kita perhatikan laras Jegog itu maka kita akan mendapatkan hal yang sangat unik. Jegog memiliki empat nada dalam satu oktafnya, yaitu dong, deng, dung, ding. Apabila kita bertitik tolak pada laras pelog maka akan didapatkan sruti sebagai berikut.

1.Dong ke deng adalah pendek.

2.Deng ke dung adalah panjang, karena melewati satu pamero.

3.Dung ke ding paling panjang, karena melewati nada dang dan pamero.

Dong, deng, dung, ding merupakan urutan nada Jegog yang biasa diucapkan di Jembrana. Karena keunikannya inilah laras Jegog cenderung disebut laras Pelog.

 

Gamelan Jegog yang diamati sekarang ini telah mengalami tiga perkembangan dalam hal bahan, yaitu pada awalnya gamelan Jegog dibuat dari kayu, kemudian berkembang menjadi bambu dengan ukuran yang sama. Lama-kelamaan bentuk gamelan Jegog tersebut dikembangkan lagi dengan menggunakan bahan dari bambu yang ukurannya lebih besar. Dengan adanya perubahan ukuran bambu, maka pelawah atau wadah yang digunakan juga lebig besar.

Selain dalam hal bahan, perkembangan gamelan Jegog juga terjadi dalam hal memainkannya. Dulunya gamelan Jegog dimainkan dengan cara duduk, tentu saja dengan pelawah yang kaki-kakinya agak pendek. Sekarang permainan gamelan Jegog dimainkan dengan cara berdiri dengan menggunakan pelawah yang kakinya panjang.

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa