Sampik Ing Tai

Sampik Ingtai adalah salah satu cerita yang cukup populer di Bali. Tersebutlah seorang pemuda bernama sampik dan seorang gadis bernama ingtai. Kedua sejoli ini bertemu di sebuah sekolah untuk anak laki – laki di Kota Anciu. Kenapa Ingtai bisa masuk sekolah laki-laki? ya jawabnya simpel saja, karena Ingtai menyamar menjadi laki-laki.

Sampik dan Ingtai berteman akrab di sekolah tersebut, mereka sering ngobrol bersama, makan bersama, hal ini membuat Ingtai jatuh cinta kepada Sampik sehingga Ingtai membuka rahasia dirinya ke Sampik yaitu bahwa Ingtai adalah seorang wanita. Ini membuat Sampik juga jatuh cinta kepada Ingtai.

Dengan berakhirnya masa menuntut ilmu di kota Anciu, Sampik dan Ingtai kembali ke kampungnya mereka masing-masing, namun cinta mereka tetap membara dihati masing-masing, mereka berdua telah berjanji untuk sehidup semati. Sebelum berpisah Ingtai berkata kepada sampik, jika sampik mencintai dirinya, datanglah ke rumah nya dan lamar dia. Sampik pun berjanji akan meminang Ingtai suatu saat nanti.

Sampik dengan cinta membara dihati, bekerja keras dikampungnya mengumpulkan uang untuk menabung membuat rumah, membeli pakaian dan untuk biaya perjalanan, untuk menemui Ingtai.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, setelah sampik merasa cukup dan percaya diri, akhirnya sampik memberanikan diri datang mencari Ingtai sang pujaan hatinya. Setelah bertanya kesana kemari, melewati perjalanan yang jauh, akhirnya Sampik bisa bertemu Ingtai, namun Sampik shock mengetahui karena Ingtai sudah menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya.

Luka hati yang mendalam si sampik membuat dirinya menderita, dan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, dia tidak bisa move on. Lama kelamaan kondisi sampik memburuk sampai akhirnya dia jatuh sakit dan meninggal dunia.

Berselang beberapa lama, terdengar kabar ke telinga Ingtai bahwa sampik telah meninggal karena menderita kehilangan pujaan hatinya. Ingtai yang sudah berjanji untuk sehidup semati dan masih memendam cinta dihatinya untuk sampik, lalau mencari alasan untuk melihat kuburan Sampik. Ingtai menangis terisak – isak di kuburan Sampik, Ingtai juga mengalami sedih yang mendalam, akhirnya dia berdoa memohon agar diijinkan bersatu bersama Sampik. Para dewa yang mendengar doa dari Ingtai mengabulkan doanya, seketika kuburan Sampik terbuka dan Ingtai pun melompat kedalamnya untuk tidur disisi Sampik dan kuburan tertutup kembali. Akhirnya Sampik dan Ingtai bersatu dalam keabadian.

SEJARAH GAMBELAN ANGKLUNG DI DESA MUNGGU,MENGWI BADUNG

                 SEJARAH GAMBELAN ANGKLUNG                     

br.pengayahan desa munggu,mengwi,badung

ANGKLUNG KEBYAR SATYA BUDAYA

 

Awal mulanya 4 orang pendiri gambelan seke angklung,yaitu :

  1. I made puja
  2. Pekak anik
  3. Rai darsana
  4. Made madya

Ke 4 orang ini pertama mendirikan seke angklung tersebut.dan mengenai gambelan angklung ini mulanya terbuat dari besi. Proses pembuatan pertama kali dilakukan dengan cara bergotong royong. Berangkat dari niat dan kesungguhan, bahan dan beralatan seadanya, bilah demi bilah tercipta oleh tangan terampil atau pembuat gambelan itu, akhirnya jadi 4 tungguh gangsa, yang masing-masing terdiri dari 4bilah, 1 tawa-tawa, 1 buah kempur dan 1 buah gong. Semuanya terbuat dari besi.

Setelah adanya seperangkat gambelan seadanya tersebut, munculah keinginan untuk mengupulkan sekhe. Ternyata banyak dari keluarga yang satu darah berminat bergabung menjadi sekhe angklung, akhirnya terciptalah sekhe demen pada waktu itu

Setelah adanya sekhe mereka memulai latihan,akan tetapi pada waktu itu sangat sulit mencari pelatih tabuh, sehingga latihan dilakukan dengan kemampuan sendiri. Beberapa gending-gending sederhana, yang dipergunakan dlm upacara ke agamaan,

Ternyata keberadaan skhe ini mendapat dukungan yang sangat antusias dari masyarakat sekitar, hal ini dibuktikan dengan seringnya mereka kupah untuk menabuh jika ada suatu upacara baik Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya.

Mulai bertambahnya wawasan dan tau akan pentingnya keberadaan angklung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, akhirnya muncul keinginan untuk membeli seperangkat gambelan angklung yang terbuat dari bahan kerawang.

Menurut bukti yang tertulis diatas daun lontar yang menggunakan tulisan Bali/aksara Bali, disana disebutkan bahwa keempat orang ini yang membeli dan sekaligus sebagai pendiri atau perintis sekhe pada tahun 1950, tetapi tanggal dan bulannya tidak tertulis

Barungan angklung dibeli seharga 400 ringgit, pada waktu itu belum ada uang rupiah, bisa dikatakan cukup mahal  pada jaman itu. Sumber dananya adalah dari ketujuh pendiri tersebut dengan cara patungan. Instrument yang dibeli antara lain : 4 tungguh gangsa, 4 tungguh kantilan ( masing-masing tungguh terdiri dari 4 bilah ), 2 tungguh gangsa pemetit, 2 tungguh jegog, 1 buah kempur, 1 buah tawa-tawa,

Setelah sarana lengkap, sekhe ini sudah ada, tetapi pada waktu itu belum adanya sistim kepeggurusan sekhe, hanya berpedoman kepada para pendirinya. Tetapi pada waktu itu sudah memiliki aturan-aturan/ awig-awig bagi sekhe angklung dan pendirinya yang terlihat pada bukti tertulis ada 5 aturan, diantaranya :

  1. Barang siapa yang ingin masuk sebagai sekhe ini, boleh menjadi sekhe angklung, asalkan taat dengan awig-awig, istilah balinya bani ngutang gae, sing madengang payuk jakan jumah atau dengan kata lain skhe ini adalah cenderung pada kegiatan social.
  2. kalau ingin berhenti boleh, dan tidak ada unsur paksa. Dengan terus terang dihadapan sekhe.
  3. kalau ada hasil uang, ia dapat bagian, dari jumbelah hasil yang dibagi rata, bagi anggota yang berhenti.
  4. Setelah berhenti dengan terus terang, tidak boleh memperhitungkan barang angklung yang ada, sebab yang membeli barang angklung itu terdiri dari 4 orang
  1. Bagi anggota 3 kali berturut-turut tidak hadir tanpa alasan, diadakan pendekatan.Bagi pemilik angklung yang berhenti sama sekali tidak boleh meminta bagian berupa barang angklung yang ada, maupun uang yang ada, walaupun mereka yang ikut membelinya.

Begitulah aturan menurut bukti tertulis tersebut.

Dan setelah seke ini meremug dan seke ini menamakan seke agklung satya budaya.

Tahun 2000 seke ini pernah di panggil ke kuta untuk megambel upacara ngaben ngerit.mungkin di mata masyarakat seke ini sangat aktif,beberapa orang ingin masuk dalam seke ini,dan bertambahlah seke ini,

Setelah lama kmudian dengan perkembangan zaman,kira-kira tahun 2002 seke mengubah yang dulunya angklung keklentangan,seke ini mengubah menjadi angklung kebyar,,seke ini membeli 1 buah gong,2 buah kendang,yaitu kendang lanang dan kendang wadon dan 1 buah kendang cetutan,,sebelum menemukan pelatih angklung, seke ini pada awalnya mencari gending-gending tarian dari kaset dan dituangkan di angklung.namun tidak lama ,karena sangangt sulit mnuangkan gending tarian di angklung,dan akhirnya seke ini mencari pelatih dan akhirnya ditemukanlah pelatih yang handal dalam menuangkan gending tarian di dalam angklung,,pelatih ini bernama I ketut ramug.beliau aslinya dari dawas,mengwi badung

Beliau melatih dari tahun 2002 beliau pertama menuangkan gending-gending petegak.dan berapa hari kemudian ada seorang pengusaha dari kuta mnyuruh seke ini menampilkan tari-tarian dari gambelan angklung,dan akirnya seke ini latian mencari gambelan tari-tarian yang di tuangkan oleh I ketut ramug tersebut,

Pada tgl 21 agustus 2002 seke ini pentas pertama kali mengiringi tarian dengan gambelan angklung,pada waktu itu tarian yang ditampilkan adalah tari puspanjali,panyembrahma dan gopala. Tarian itu berjalan dengan lancar meskipun ada yang hampir putus.tp bisa berjalan,

Pada tahun 2011 seke ini lagi disuruh ke kuta yaitu tepatnya di hotel masaiin,disuruh mepadu dengan seke angklung yang dari kuta, akhirnya mepadulah gambelan angklung kebyar tersebut dengan membawakan 1 gambelan kreasi dan tarian legong kraton,sekar jepun,margapati,

Tahun 2011 seke angklung ini sangat jaya,seke ini kemana-mana disuruh megmbel tarian,dan akhirnya nama angklung itu di tambah nama kebyar yaitu menjadi

seke angklung kebyar satya budaya

Sejarang Barong

 Tari Barong adalah tarian khas Bali yang berasal dari khazanah kebudayaan Pra-Hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.

Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Landung. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.

Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.

Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.

Macam-macam Tari Barong

  • Barong Ket 

Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.

  • Barong Bangkal

Bangkal artinya babi besar yang berumur tua, oleh sebab itu Barong ini menyerupai seekor bangkal atau bangkung, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Umumnya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat atau saat terjadinya wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan

  • Barong Landung

Barong Landung adalah satu wujud susuhunan yg berwujud manusia tinggi mencapai 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan barong ket yg sudah dikomersialisasikan. Barong Landung lebih sakral dan diyakini kekuatannya sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan umat. Barong Landung banyak dijumpai disekitar Bali Selatan, spt Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan.

  • Barong Macan

Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai seekor macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu dramatari semacam Arja serta diiringi dengan gamelan batel.

  • Rangda

Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!