Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali mempunyai kedudukan yang sangat mendasar, karena tidak dapat dipisahkan dari relegius masyarakat Hindu di Bali. Upacara di pura-pura (tempat suci) juga tidak lepas dari kesenian seperti seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa, dan sastra. Candi-candi, pura-pura dan lain-lainya dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika, dan sikap relegius dari para umat penganut Hindu di Bali. Pregina atau penari dalam semangat ngayah atau bekerja tanpa pamerih mempersembahkan kesenian tersebut sebagai wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Di dalamnya ada rasa bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri dan seniman ingin sekali menjadi satu dengan seni itu karena sesungguhnya tiap-tiap insan di dunia ini adalah percikan seni

Dengan sifat religius masyarakat dan juga ajaran agama Hindu yang universal dan semua penganut dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang Maha Kuasa, maka banyaklah timbul berbagai kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan. Banyak tumbuh suatu kesenian yang memang ditujukan untuk suatu pemujaan tertentu, atau juga sebagai pelengkap dari pemujaan tersebut. Selain itu pula berkembang suatu seni pertunjukkan yang sifatnya menghibur. Dari kebebasan berekspresi dalam rangka pemujaan maupun sebagai pendukung dari suatu ritual tertentu, maka di Bali ada digolongkan menjadi dua buah sifat pertunjukkan atau seni. Yakni seni wali yang disakralkan dan juga seni yang tidak sakral atau disebut profan yang hanya berfungsi sebagai tontonan atau hiburan belaka

                  Tari sakral atau tari wali adalah tari yang dipentaskan dalam rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut biasanya disucikan. Kesucian dari tarian tersebut dapat pada peralatan yang dipergunakan seperti tari pendet yakni pada canang sari, pasepan, dan tetabuhan yang dibawa. Pada tari Rejang misalnya pada gelungannya serta benang penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus rejang renteng). Topeng Sidakarya yakni pada bentuk tapel, kekereb, beras sekarura, dan lain-lainnya. Jadi semua itu tidak dapat digunakan sembarangan. Atau kesakralannya dapat juga pada si penari itu sendiri, misalnya seorang penari rejang atau penari sanghyang yang mengharuskan menggunakan penari yang masih muda dan belum pernah kawin atau belum haid. Atau dapat juga seorang penari dapat menarikan tarian sakral sebelumnya harus dilakukan pewintenan (upacara penyucian diri) terlebih dahulu. Salah satu contoh tarian sakral adalah Tari Mabuang. Disini penulis akan membahas tentang Tari Mabuang Mulan Daha yang ada di desa Tenganan Pagringsingan.

 

Asal Mula

            Tari Mabuang Mulan Daha adalah tarian sakral yang ditarikan oleh gadis-gadis yang sudah melalui proses upacara menjadi daha. Tarian ini di pertunjukan pada sasih sambah (sasih kelima), sesuai dengan perhitungan kalender di Tenganan Pagringsingan. Menurut kepercsyssn masyarakat setempat, bahwa tarian ini disebut tarian Dewa sebagai tanda kehormatan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Kata “mabuang” itu adalah menuangkan air nira (tuak), “mulan” asal dan kata “daha” berati gadis (dalam hal ini gadis yang sudah di buatkan upacara). Sedangkan “Ngusaba Sabah” berarti upacara besar yang terjadi setiap tahun sekali

Tari Mabuang adalah tarian sakral yang ditarikan oleh orang-orang desa, sedangkan Mulan itu berarti asal dan Daha berarti gadis. Dan ngusaba Sabah adalah upacara Dewa Yadnya.

Dalam buku “Kamus Bali Indonesia” oleh Panitia Penyusun Kamus Bali Indonesia, disebutkan Mabuang berarti nama tarian upacara untuk menuangkan air nira sebagai sajen persembahan, sedangkan kata “Mulan” berarti “menang” dan Daha berarti daa. Ngusaba Sambah adalah upacara Dewa Yadnya di Tenganan Pagringsingan.

Menurut Dewa Gede Raka, dalam bukunya yang berjudul : “Karangasem Dengan Desa-desa Adatnya’’ disebutkan dua jenis tari Abuang (Mabuang), yakni : tari Mabuang dan Mabuang Kala. Tari Mabuang adalah tari yang ditarikan oleh para daha pada sasih kasa (bulan satu) di de[pan Bale Agung dan pada upacara Sambah di subak-subak daha. Dan tari Mabuang Kala adalah tari yang ditarikan oleh para teruna pada waktu upacara Sabah di bulan ke lima (sasih kelima) bertemat di depan Bale Patemu pada waktu malm hari.

Berdasarkan dari keterangan di atas penulis mendapat suatu ksimpulan bahwa Tati Mabuang Mulan Daha adalah tarian upacara dengan menuangkan air nira (tuak). Tari Mabuang ini di bawakan oleh gadis-gadis yang sudah medaha sebagai tanda kehormatan atau kesetiaan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa yang hanya dipentaskan setiap tahun  sekali, yaitu pada upacaca Ngusaba Sambah sesuai dengan perhitungan kalender setempat.

 Fungsi

Adapun fungsi tari Mabuang Mulan Daha ini dapat digolongkan dalam seni tari Wali. Sebab tari ini berfungsi sebagai pelaksana upacara agama, seperti upacara Dewa Yadnya. Tari ini hanya dipertunukan pada upacara Ngusaba Sabah. Menurut kepercayaan masyarakat bahwa dalam  upacara tersebur merupakan hari wafatnya Bhatara Indra dan tari Mabuang Mulan Dana dipersembahkan sebagai pengiring Beliau pergi ke-Sorga. Tanpa tarian ini dipentaskan, maka upacara belum bisa dianggap selesai. Kalau ada halangan atau kematian dari masyatrakat setempat, upacara inipun tetap berlangsung seperti sediakala, dan hanya dipertunjukan setahun sekali serta tidak membawakan lakon.

 

 Tata Rias dan Busana

Pengungkapan tentang tata rias dan busana yang di pergunakan dalam tari Mabuang Mulan Daha pada upacara Ngusaba Sambah (ssih kalima) diantaranya:

v  Hiasan Kepala

Memakai pusungan Blesot (cara memakainya seperti pusung Gonyer, pada bagian tengah rambut diangkat kemudian dimasukkan ke kiri di bawah rambut yang telah diangkat tadi sehingga rambut itu seperti terurai dibawa ke depan bahu, tetapi pada bagianpangkal rambut masih melekat pada bagian tengah rambut yang terangkat tadi) Memakai hiasan satu tangkai bunga emas, porosan base dan subeng emas.

v  Hiasan Muka

Tari ini mempergunakan hiasan muka dengan sangat sederhana, seperti bedak dan lipstik bahkan bahkan ada yang sama sekali tidak memakainya dan cukup dengan mencuci muka saja. Disini make up tidak mutlak harus dipakai, yang diutamakan adalah rasa pengabdian kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

v  Busana

Adapun busana yang dipergunakan adalah: tapih (kain dalam berwarna bebas), kain sutra, anteng gringsing, sabuk dan gelang daha.

Perlengkapan ini semuanya dibebankan dibebankan kepada masing-masing penari. Busana tersebut disimpan dengan baik dan dapat dipergunakan lagi setiap upacara Ngusaba Sambah se-tahun sekali.

 

  Tempat Pementasan Dan Susunannya

v  Tempat pementasan

Pementasa tari Mabuang Mulan Daha di Desa Tenganan Pagringsingan dipentaskan pada sore hari di empat tempat yaitu di halaman depan Bale Petemu Kaja, Petemu Tengah, Petemu Kelod dengan diiringi seperangkat Gambelan Selonding. Terakhir pementasan dilakukan di halaman depan Bale Agung dengan iringan Gambelan Gambang di tempat terbuka. Karena keadaan tempat pertujukan diantara dua bangunan, maka arena pertunjukan berbentuk segi empat panjang. Di setiap tempat pementasan ditancapkan ayunan yang terbuat dari kayu cempaka, dimana ayunan tersebut merupakan warisan leluhurnya. Ayunan itu berisi delapan tempat duduk. Empat tempat duduk terdapat di bawah dan empat lagi berada di atasnya.

v  Susunan Pementasan

Sebelum pementasan di mulai krama daha terlebih dahulu berkumpul di rumah subak daha masing-masing, untuk kemudian bersama-sama menuju Bale Petemu Kaja. Dan para penabuh mengambil tempat di Bale Petemu Kaja dimana gambelan-gambelan itu disimpan. Pada waktu akan memula tari Mabuang Mulan Daha, terlebih dahulu Gambelan Selonding dibunyikan dengan irama gending Sekar Gadung yang disebut tabuh. Setelah Tabuh ini selesai dilanjutkan lagi dengan gending Geguron sebagai tanda pembukaan upacara. Gending ini oleh masyarakat setempat dianggap gending sakral sehingga tidak berani merekam ataupun menulis dalam notasi. Langkah pertama diadakan Mabuang Tuak yang dilakukan oleh dua orang Teruna Temu Kaja.Teruna menuangkan tuak dari tempatnya yang terbuat dari bambu dan kemudian dan kemudian para daha “Ngatagang” dengan menggunakan tempat yang terbuat dari perak yang menyerupai tempurung kelapa dengan sikap seolah-olah dimunum sebanya tiga kali kemudian dibuang.

Setelah semuanya selesai,salah seorang dari teruna tersebut membagikan porosan base satu persatu kepada daha. Selanjutnya barulah tari Mabuang itu dimulai, semua penari berdiri menghadap ketimur secara berurutan dari gantih yang tertua. Mereka menari satupersatu dengan diiringi gambelan Selonding dengan gending Ijang-ijang Kesumba.

Para daha yang telah selesai menari tari Mabuang dipersilahkan untuk maayunan. Disebelah kiri dan kanan dari ayunan itu berdiri dua orang teruna temu kaja yang bertugas untuk memutar ayunan, kemudian ayunan diputar sampai mereka mrasa puas. Setelah ketiga gantih selesai meayunan kesemuanya menuju bale Petemu Tengah. Apa yang nantinya dilakukan di Bale Tengah dan Kelod sama halnya dengan yang dilakukan di Bale Petemu Kaja. Akantetapi lain halnya dengan di Bale Agung, dimana tari ini dilakukan secara masal dari ketiga gantih. Dengan diiringi gambelan Gambang dangan gending Panji Marga. Tari ini dilakukan pada sore hari hari sampai malam hari setiap tahun sekali.

Setelah para daha selesai menari Mabuang di Bale Agung, selanjutnya berbaris menuju Bale Petemu Tengah. Bersamaan dengan upacara tersebut, teruna Temu Tengah dan Temu Kajamelakukan “ Nyanjangan” (perjalanan keliing desa Tenganan). Para daha pulang  kerumahnya masing-masing untuk berganti pakean dan dapat menyaksikan pertunjukan tersebut. Akhirnya teruna Temu Tengah dan teruna Temu Kaja bertemu maka terjadilah upacara “meejuk-ejukan’’.

  Komposisi dan Perbendaharaan Gerak

v  Komposisi

Beberapa tarian di Bali dalam komposisi tarinya sangat erat hubungannya dengan faktor iringan. Dimana dalam pementasan Tari Mabuang Mulan Daha mengalami beberapa frasa yaitu:  frasa pertama dimulai dengan gending petegak pertanda berkumpulnya para daha. Frasa kedua dilanjutkan dengan gending Geguron daha-daha tersebut natagang, medauhan base. Dan pada frasa yang ketiga gending Ijang-ijang Kesumba dimulai, para daha satu-persatu berdiri membelakangi Bale Petemu menghadap ke Timur dan maju selangkah dengan merentangkan kedua tangannya. Dan langkah terakhir dari para daha tersebut adalah meayunan.

v  Perbendaharaan Gerak

Gerak yang terdapat dalam tari Mabuang Mulan Daha ini adalah sangat sederhana. Hal ini merupakan ciri khas dari tarian kuna yang penuh dengan rasa pengabdian kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Adapun gerak tarinya sebagai berikut:

Kedua tangan direntangkan kesamping kanan,kiri sejajar dengan posisi badan menghadap ke depan. Badan diputar seperempat lingkaran ke samping kiri diikuti dengan gerakan tangan merentang, dimana tangan kiri dibawa kebelakang, tangan kanan kedepan, arah badan kesamping kiri membentuk sudut seperempat lingkaran diikuti dengan kaki kiri silang di belakang kaki kanan.

Badan diputar seperempat lingkaran menghadap ke samping kanan, dimana tangan kiri di bawa kedepan dan tangan kanan di bawa kebelakang diikuti dengan kaki kanan silang di belakang kaki kiri, dilakukan berulang-ulang sampai gending itu selesai.

 Iringan

Gambelan yang dipakai mengiringi tari Mabuan Mulan Daha ini adalah Gambelan Selonding dan Gambang. Kedu gambelan ini dikeluarkan pada upacara-upacara tertentu, yang mana diletakkan di bale Petemu Kajam, Tengah dan Kelod diirigi dengan gambelan Selonding. Gambelan ini memakai tiga gending yaitu: Gending Pategak (gending untuk menyemarakan suasana), Gending Geguron (gending pembukaan upacara), dan Gending-gending untuk mengiringi tarian. Sedangkan di Bale Agung dengan Gambelan Gambang, memakai gending Panji Marga. Setelah selesai gambelan itu disimpan kembali.

Dalam buku Panitithalaning Pegambuhan disebutkan Gambelan Bali dapat dibagi atas tiga golongan yaitu:

Pertama: Golongan Tua yang terdiri dari gambelan Gambang, Saron, Selonding Kayu, Gong Beri, Gong Luang, Selonding Besi, Gender Wayang dll.

Kedua: Golongan Madya diantaranya Pegambuhan, Semarpegulingan, Pelegongan, Bebarongan, Joged Pingitan, Gong Gangsa Jongkok,Bebonangan, Rindik, gandrung.

Ketiga: Golongan Baru, diantaranya Pengarjaan, Gong Kebyar, Pejangeran, Angklung Bilah Tujuh, Jooged Bumbung dan Gong Suling.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka gambelan yang dipakai mengiringi tari Mabuang Mulan Daha ini termasuk pada Golongan Tua.

Jenis-jenis instrumen yang mengiringi tari Mauang Mukan Daha terdiri dari:

–          Gong dua buah, masing-masing terdiri dari empat bilah jadi jumlahnya ada delapan

–          Kempul, masing-masing terdiri dua buah terdiri dari empat bilah jadi jumlahnya delapan

–          Peenem satu buah yang terdiri dari empat bilah

–          Peteduh satu buah yang tyerdiri dari empat bilah

–          Nyangnyang alit satui buah yang bterdiri dari delapan bilah

–          Nyangnyag ageng satu bilah yang terdiri dari delapan bilah dan satu buah ceng-ceng.

 

  Kesimpulan

 

Dari sekian uraian mengenai tari Mabuang Mulan Daha di Desa Tenganan Pagringsingan, maka dapat disimpulkan bahwa:

Tari Mabuan Mulan Daha adalah tarian upacara untuk menuangkan air nira yang dibawakan oleh gadis-gadis yang sudah medaha sebagai tanda kehormatan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Para daha yang menarikan tari Mabuang Mulan Daha ini berasal dari tiga gantih, yaitu: gantih wayan, gantih nengah dan gantih nyoman.

Tari ini tergolonh dalam seni tari wali, karna sampai sekarang masih tetap dipertunjukkan dan harus ada dalam upacara Ngusaba Sambah. Kalau tarian ini tidak dipertunjukkan, berarti upacara tersebut di anggap belum selesai, serta umumnya tidak memakai lakon. Upacara ngusaba Sambah di adakan setiap setahun sekali yang dirayakan selama satu bulan penuh, tepatnya jatu pada sasih Kalima sesuai dengan perhitungan kalender setempat Tari Mabuang Mulan Daha di pentasakan pada sore hari di empat tempat dengan menggunakan iringan Gambelan Selonding dan terakhir di Bale Agung dengan diiringi Gambelan Gambang.

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku “Kaja Kelod’’

Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa, Monografi Desa Tenganan. Tahun 1985

Perpustakaan ISI Denpasar

Raka I Dewa Gede, Karangasem dengan Desa-Desa Adatnya.Proyek Sasana Budaya Bali Denpasar , 1979/1977.

Tusan, Pande Wayan. 2001. “ Selonding, Tinjauan Gamelan Bali Abad X-XIV”.

Januari 23rd, 2013 at 8:00 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Pande Wayan Tusan, yang sering dipanggil I Wayan Tusan, dan kini beliau sudah menjadi orang suci (sri mpu Dharma Phala) lahir dan dibesarkan dalam lingkunuan keluarga miskin, dari pasangan Guru Komang Gede dan Ni Nengah Wage. di Banjar Tunggak, Dusun Pandesari, Bebandem. tahun 1943.

Karena tekanan-tekanan ekonomi, ia hanya sempat mengenyam pendidikan formal SR (Sekolah Rakyat ) 6 tahun. Pada sekolah Rakyat No. 1 Bebandem. dengan i.jazah tahun 1959. Bakat “’Nyastra” rupanya diwarisi dari akar budaya sang ayah, yang mengabdikan diri sebagai “Balian Usada’’ yang cukup dikenal pada masanya dan kini mewariskan sejumlah lontar dan pengrupak, yang mengilhaminya untuk melanjutkan belajar secara tradisional (1967) di Geria – geria di Budhakelino, Sibetan, Bungaya dan Sidemen, mendalami “guna dusun” yaitu kesusastraan Tradisional dan Kesenian daerah Bali lainnya.

Dengan berbekalkan semangat yang membaja dan disertai dengan ketekunan serta kerja keras, akhirnya secara otodidak pada tahun 1990 ia berhasil masuk dalam barisan Sastrawan Tradisional, dengan Pengarang Tradisional Bali dan bcrbasil pula mempcrsembabkan Piala Utsawa Dharma gita, kepada Pemda Tk. II Kabupaten Karangasem (1990) sebagai Juara 1 Palawakya Dewasa Putra dalam rangka Utsawa Dharma Gita XIII Tingkat Propinsi Bali yang diselen;ggarakan dari tanggal 28 Pebruari s/d 2 Maret 1990 di Denpasar.

Beberapa hal sebagai aktivitasnya adalah :

Menulis Kakawin Eka Dasa Rudra (1979), Kidung Wargasari Catur Mar,a (1992), Gaguritan Rasmi Sancaya (1992). Gaguritan Bhasengsari turida (1993), Kathanaka Udayana Rasmi Lalangon (1994), Kakawin Putru Saji, (1997). Kidung Cacantungan Karya Panca Bali Krama (1999), dan Gita Mahapitayana, (2000)

Kecintnannya terhadap seni mcmano tidak bisa dihisahkan dengan kehidupan kesehariannya, yang sampai saat ini masih aktif sebagai penulis prasasti (Citra Lekha), pada lempiran lontar, lempengan, tembaga, perunggu, perak, maupun emas. Disamping itu juga sering menulis di Media Massa tentang Sastra dan Budaya. Karya tulis yang lain, seperti : Buku Deskripsi Seni Daerah Bali Gambelan Selonding (1998), Buku Selonding Tinjauan Gamelan Bali Kuna, Abad X – XIV (Suatu Kajian Berdasarkan Data Prasasti, Karya Sastra dan Artefak).

Pengabdiannya sebagai seorang Ketua BPPLA Kecamatan, menyebabkan kesempatannya bertemu dengan Tokoh Masyarakat, Seniman dan Budayawan menambah pengalamannya dalam berkesenian.        Sehingga  keterlibatannya dapat dilihat dalam bebagai kegiatan Seni Sastra, memberikan kesempatan untuk mengabdikan dirinya dalam Pembina dan juri Utsawa Dharma Gita baik di Tingkat Kabupaten maupun di Tingkat Propinsi Bali, dari tahun 1993 sampai dengan 2001.

Disamping menekuni Seni Sastra Tradisional, satu hal yang juga tak kalah pentingnya, sebagai seorang seninam tradisional, sempat meneliti kesenian kuna yang hampir punah, yaitau Gambelan Selonding. Sebagai kepeduliannya, pernah merekonstruksi beberapa Gambelan Selonding yaitu :

  • Gambelan Selonding Besakih, Karangasem (1993),
  • Pasar Agung, Selat, Karangasem (1994),
  • Gambelan Gambang Desa Bebandem, Karangasem (1994),
  • Desa/Banjar Tunggak, Karangasem (1994)
  • Desa Prasi, Karangasem (1998)
  • Desa Seraya, Karangasem  (2001),
  • Pura Batur, Bangli (2004)
  • Pura Tuluk Biyu,Bangli (2004)
  • Pure Kehen, Bangli (2005)
  • Pura Penataran Pande Desa Peliatan, Ubud (2006)
  • Desa Macang, Karangaem (2007)
  • Pura Baturaya, Desa Tumbu,Karangasemn (2010)
  • Desa Pekraman Tumbu, Karangasem (2011)

 

Bilah-bilah yang terdapat di Pura Besakih yang di rekontruksi menggunakan model Selonding Bugbug dan Selat, yaitu dua tempat diantaranya yang masih melestarikan praktek penabuhan Gamelan Selonding. Sebagai ketua tim, dengan dorongan kagamaannya yang mendalam, Beliau meminpin rekontruksi sehingga set Gamelan Selonding Pura Besakih itu dapat disusun dan kemudian dibunyikan(ditabuh) pada Karya Agung Tri Buana pada tahun 1993, setelah segala persyaratan ritualnya dipenuhi. Demikian halnya dengan pemugaran Gamelan Selonding Desa Seraya yang dilakukan pada tahun 2001. Tentulah hal itu benar-benar sebuah siddhakarya. Jadi usaha yang dilakukan beliau hapir dari setengah perjalanan hidupnya untuk mengungkap tinggalan-tinggalan yang selama ini  tidak dikenal untuk dapat terungkap, artinya akan menambah kekayaan budaya dan kekayaan spritual warga, yang berarti pula menambah kedalaman kehidupan budaya dan religius, tetapi itu untuk secara Nasional juga punya makna, karena buat sesama Bangsa Indonesia, ini juga suatu pnemuan khasanah warisan budaya, jadi sudah tentu sangat bermanfaat.

 

Hasil penelitian prihal Gamelan Selonding yang diterbitkan dalam buku yang berjudul ”SELONDING, TINJAUAN GAMBELAN BALI KUNA ABAD X-XIV”  yaitu :

Kabupaten Karangasem

  • Pura Merajan Selonding Besakih
  • Desa Adat Bugbug Kecamatan Karangasem
  • Desa Adat Asak Kecamatan Karangasem
  • Desa Adat Bungaya Kecamatan Bebandem
  • Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem
  • Desa Adat Timbrah, Kecamatan Karangasem
  • Desa Adat Tenganan Pagringsingan, Kecamatan Manggis
  • Desa Adat Ngis, Kecamatan Manggis
  • Desa Adat Datah, Abang
  • Desa Adat Ababi, Abang
  • Desa Adat Duda, Selat
  • Desa Geliang, Besakih
  • Di Pura Pasar Agung, Selat
  • Desa Adat Kedampal, Abang
  • Desa Adat Tista, Abang
  • Desa Adat Tumbu, Karangasem
  • Desa Adat Muncan
  • Desa Pemuteran, Rendang
  • Desa Telengan, Antiga, Manggis
  • Desa Adat Perasi, Karangasem
  • Desa Adat Seraya, Karangasem
  • Desa Adat Selat, Selat

Kabupaten Bangli

  • Desa Adat Terunyan, Batur, Kintamani
  • Desa Adat Kedisan Batur, Kintamani
  • Desa Adat Buahan, Batur, Kintamani
  • Di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani
  • Desa Campetan, Bantang, Kintamani
  • Desa Adat Serai, Kintamani
  • Desa Adat Awan, Kintamani
  • Desa Panida Kaja, Bangli
  • Desa Campaga, Bangli
  • Di Pura Kehen, Bangli
  • Desa Adat Pengotan, Bangli
  • Desa Bayung Gede, Bangli
  • Blancang, Bangli
  • Bunutin, Bangli
  • Kintamani, Bangli
  • Songan, Bangli
  • Suluhan, Bangli
  • Selulung, Bangli
  • Pura Dalem Balingkang, Kintamani

Kabupaten Klungkung

  • Gamelan Selonding yang disimpan di Pura Penataran Pujung Sari Kayubii, Bangli konon “disambut” oleh Krama Desa Pujung Sari di Pantai Batu Klotok, Kabupaten Klungkung. (I Dewa Poetoe Boekian, TBG. 76/1936)

Kabupaten Buleleng

  • Desa Adat Sembiran
  • Desa Adat Tigawangsa
  • Desa Jagaraga
  • Desa Bulian
  • Desa Kubutambahan
  • Desa Sinabun
  • Desa Pedawa
  • Desa Tejakula

Kabupaten Jembrana

  • Temuan Cagak  Selonding di Tukad Aya, Melaya. (Pameran Kepubakalaan Bali, 1981 : 40). Benda temuan ini tersimpan di Museum Bali, Denpasar

Kabupaten Tabanan

  • Temuan 106 bilah Gamelan Selonding yang tergali di tengah sawah di Banjar Carik, Tista, Tabanan (Widya : 1978)
  • Temuan Gambelan Selonding di Padanagn, tergali di tegalan sekitar tahun 1920. Kini tempat tersebut terkenal dengan nama Tegal Selonding. Gambelan Selonding ini tersimpan di Pura Puseh. Gambelan Selonding tercatat juga dalam Prasasti Timpag(Jayapangus 1103 S)

Kabupaten Badung

  • Di daerah ini terdapat nama lokasi : Goa Selonding dan Pura Dalem Selonding di Pecatu Badung.
  • Di Desa Sibang terdapat Gamelan Selonding (A.A. Gde Putra Agung, 2001)

Kabupaten Gianyar

  • Menurut catatan Jaap Kunts (1925) di Daerah Kengetan terdapat Gamelan Selonding
  • Di Daerah Payangan, menurut laporan juga ada Gamelan Selonding  (D. Schaareman, 1997)
  • Gamelan Selonding juga tercatat dalam prasasti Teba Kauh  (D. Schaareman, 1997)
  • Di Desa Bona, Blahbatuh terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Dalem Selonding.
  • Desa Sangkadwan dekat Desa Taro terdapat Gamelan Selonding (I Putu Budiastra, Museum Bali)

 

Beliau juga membangun satu barung Gambelan Selonding untuk Pengkaderan dan Penelitian, tahun 1994, dengan bantuan I Wayan Widia yaitu seorang Pande Besi dari Banjar Pande Tunggak  salah satu ahli pembuat Gambelan Selonding yang setia menemani setiap perjalanan I Wayan Tusan dalam membantu proses rekontruksi Gambelan Selonding di setiap daerah yang pernah direkontruksi

Anugrah Penghargaan Seni “Wija Kusuma” dari Pemerintah daerah Tingkat II Kabupaten Karangasem, diterima tahun 1997, dan anugerah penghargaan Seni “Dharma Kusuma” dari pemerintah propinsi Bali diterimanya tangal 14 Agustus 2001.

 

Demikian tentang Biografi Pande Wayan Tusan Salah Satu orang yang mengabdikan dirinya untuk sebuah penelitian Gamelan Selonding hasil dari cipta,rasa dan karsa nenek moyang kita pada zamannya yang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentan waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai univesal yang terkandu didalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya. Apabila ada kesalahan yang kurang berkenan di hati para pembaca, saya minta maaf sebesar-besarnya. Sekian dan Terimakasih.

Oktober 9th, 2012 at 12:01 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

SEJARAH GAMELAN SELONDING BANJAR PANDE TUNGGAK, DESA BEBANDEM, KARANGASEM

Saya tertarik meneliti tentang Sejarah Gamelan ini karena Gamelan Selonding memiliki sandaran sejarah yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Karawitan Bali. Gamelan Selonding sebagai “puncak-puncak budaya’’, sekaligus merupakan arsip dari kegiatan bermusik nenek monyang dimasa lampau yang diciptakan pada saat jiwanya dalam keadaan damai, indah dan agung, yang dilandasi dengan kesucian dan ketulusan hati yang mendalam sebagai wujud persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai luhur kehidupan nenek moyang di masa lalu perlu digali kembali dan dikembangkan demi memelihara dan menegakan citra serta martabat dan untuk menapak langkah selanjutnya di masa depan.

Gamelan Selonding sudah cukup lama dan telah begitu panjang berdialog dalam khasanah kebudayaan Bali di tengah-tengah peradaban Kebudayaan Nusantara. Sampai saat ini di Bali masih sanggup bertahan dalam identitas alam tradisionalnya, serta masih mampu mengendalikan alamnya sendiri. Memang demikian, karena justru di khasanah musiknya sendiri terkandung nilai-nilai universal seperti keluhuran budaya, norma-norma peradaban, adat istiadat, dan aspek filosofinya yang religius magis, sehingga menjalani kedamaian serta kerukunan hidup dengan masyarakat pendukungnya.

Gamelan Selonding adalah suatu karawitan yang monumental, sebagai karawitan septatonis yang paling sakral diantara gamelan kuna lainya di Bali. Itu terbukti dengan adanya Pura Merajan Selonding di setiap desa kuna dan pura-pura besar di Bali seperti; di Pura Besakih, Pura Batur, Desa Seraya, Tenganan,  Desa Ngis, Desa Asak, Desa Timbrah, Selat, ada Pura Dalem Selonding di Desa Kapal Kabupaten Badung, dan ada salah satu desa kuna yang bernama Desa Bungaya sangat mensakralkan gamelan tersebut dan dipuja sebagai seswunan desa tersebut yang diberi sebutan  Bhathara Ratu Bagus Selonding.

Keberadaan Gamelan Selonding yang ada di Banjar Pande Tunggak, Desa Bebandem yang diprakarsai oleh I Wayan Pande Tusan, yaitu salah satu sastrawan yang meneliti tentang Gamelan yang sudah ada sejak zaman Bali kuna. Gamelan Selonding tersebut di rencanakan dari tahun 1993 dan di buat juga pada tahun tersebut, pada awal pembuatany, juru pande (si pembuat) masih mengalami beberapa hambatan karena pada waktu itu si pembuat yaitu I Wayan Widia salah seorang pande besi yang menekuni Gamelan Selonding belum tahu betul tentang bagai mana wujud, tata nada dan instrumentasi  gamelan tersebut.

Setelah diadakanya rekontruksi bilah-bilahan (119 bilah daun dan puluhan cagak naga) selonding  yang ditemukan pada sebuah gedong penyimpenan yang bertempat di Pura Merajan Selonding yang berada di areal Pura Besakih menjelang akan diadakannya Karya Agung Tri Buana dan Candi Narmada pada tahun 1993 tersebut, jadilah seperangkat Gamelan Selonding Besakih yang dirangkai berdasarkan hasil penelitian dari Pande Wayan Tusan mengenai Gamelan Selonding.

Dari keberhasilan rekontruksi tersutlah akhirnya I Wayan Widia selaku Pande Besi yang ikut dalam rekontruksi tersebut akhirnya tahu bagaimana wujud, tata nada, dan instrumentasi Gamelan Selonding yang ada di Pura Besakih. Dari pengalaman tersebut akhirnya Gamelan Selonding Banjar Pande Tunggak mulai dibuat dan selesai pada tahun 1994 yang sekaligus sebagai duplikat dari Gamelan Selonding Besakih.

Fungsi Gamelan Selonding Banjar Pande Tunggak

Fungsi awal dari Gamelan Selonding yang ada di Banjar Pande Tunggak Desa Bebandem ialah sebagai media penggalian gending-gending Selonding yang hampir mengalami kepunahan karena Gamelan Selonding yang khususnya ada di desa-desa kuna di Bali sangatlah di sakralkan masyarakatnya. Kesakralan gamelan tersebut juga menimbulkan dampak yang negatif seperti; minimnya regenerasi dari seka-seka penabuh selonding karena gamelan tersebut saking disakralkannya hingga tidak  boleh dipakai latihan dan hanya ditabuh (dimainkan) pada saat ada upacara keagaaman yang bekaitan dengan gamelan tersebut. Gamelan Selonding yang disakralkan pada suatu desa tidak boleh di mainkan oleh orang sembarangan, hanya orang yang sudah bersih (mewinten) yang boleh memainkannya. Bahkan ada di suatu desa yaitu Desa Bungaya, pada saat Gamelan Selonding itu ditabuh tidak ada orang yang boleh melihatnya kecuali para penabuh dan orang-orang tertentu. Gamelan Selonding yang ada di Desa Bungaya ditabuh/dimainkan oleh para pemangku setempat dan ditabuh di dalam sebuah gedong besar(pelinggih meru) sehingga tidak ada orang sembarangan yang boleh melihatnya.

Dari keadaan tersebutlah Pande Wayan Tusan merasa terketuk hatinya dan berusaha untuk melestarikan gending-gending selonding dari ancaman kepunahan dengan cara belajar ke desa-desa, dan merekam secara diam-diam demi mendapatkan rekaman gending-gending selonding tersebut dan di tuangkan pada Seka Gamelan Selonding Banjar Pande Tunggak yang bernaung di bawah Yayasan Selonding Bali.

Fungsi umum Gamelan Selonding yang ada di Banjar Pande Tunggak ialah sebagai sarana pelengkap upacara keagamaan dengan melakukan ngayah setiap odalan di Pura Penataran Pande Tunggak dan pura-pura lainya yang ada di Bali maupun luar Bali.

Adapun instrumen yang terdapat pada barungan Gamelan Selonding Banjar Pande Tunggak yaitu terdiri dari :

  • 2 tungguh Jegog yang daunya pada tiap tungguh masing-masing berjumlah 8 bilah.
  • 2 tungguh Penyagcag yang daunya pada tiap tungguh masing-masing berjumlah 8 bilah.
  • 2 tungguh Menanga yang daunnya pada tiap tungguh masing-masing  berjumlah 8 bilah.
  • 1 Kebyok yang daunnya berjumlah 4 bilah.
  • 2 Nying-nying yang daunnya pada tiap tungguh masing-masing berjumlah 8 bilah.

Jumlah bilah keseluruhan yaitu 68 bilah Selonding.

Gending-gending selonding yang berhasil di gali diantaranya :

Gending Rarawangi           (dari Desa Bugbug, Karangasem)
Gending Dukuh Dayang    (dari Desa Bugbug, Karangasem)
Gending Panji Marga         (dari Desa Bugbug, Karangasem)
Gending Geguron Rangga tating(dari Desa Tenganan,Karangasem)
Gending Geguron  ——-     ( dari Desa Tenganan, Karangasem)
Gending Deha Malong       (dari Desa Ngis Manggis, Karangasem)
Gending Landung-Loncog(dari Desa Bungaya, Bebandem, Karangasem)
Gending ding Capung Gandok (dari Desa Adat Kedisan, Batur, Kintamani, Bangli)
Gending Tinjo Katak             ( dari Batur,Bangli)
Gending Kung-kang               ( dari Desa Bebandem, Karangasem)
Gending Rejang Manda         ( dari Desa Bebandem, Karangasem)

Beriku grafik nadanya

No INS I.. O.. A.. E.. U.. o.. a.. I. O. A. E. U. o. a. I O A E U o a .I .O .A .E .U .o .a ..I ..O ..A
1 Pc I O A E U o a I
2 Mn I O A E U a o I
3 Jg I O A E U o a I
4 Kb A E U o
5 Ny I O A E U o a I

 

Keterangan :

I    =   (                                 Pc      =      Penyacag (jumblahnya sepasang)

O   =   o                               Mn     =     Menanga (jumbablahnya sepasang)

A   =    −                               Jg        =     Jegog (jumblahnya sepasang)

E   =    e                               Kb       =    Kebyok (jumblahnya satu)

U   =    u                                Ny      =     Nying-nying (jumblahnya sepasang)

a    =     ;

o    =    o

Demikianlah sejarah Gamelan Selonding Banjar Pande Tunggak yang saya peroleh dari hasil diskusi dan wawancara langsung pada  hari sabtu tanggal 20 oktrober 2012, dengan narasumber pembuat Gamelan Selonding tersebut yang bernama I Wayan Widia dan peneliti Gamelan Selonding yang bernama Pande Wayan Tusan (Sri Mpu Dharma Phala).  Sekian dan termima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Bandem,I Made.1986. Prakempa Sebuah Lontar Gambelan Bali. ASTI Denpasar

Tusan, Pande Wayan. 2001. “ Selonding, Tinjauan Gamelan Bali Abad X-XIV”.

LAMPIRAN FOTO-FOTO

Proses pembuatan Gamelan Selonding

 

Oktober 5th, 2012 at 3:11 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

YouTube Preview Image

 

Judul                                                      : Gender Romantis

Komposer                                               : I Made Subandi

Ivent                                                        : PKB tahun 2008

Instrumentasi                                      : Gender wayang 5 tungguh

Gender saih pitu(gender rambat) : 4 tungguh

Gong, kepur

Simbal

Gong cina

 

Coment

Garapan ini memiliki tingkat kerumitan yang tinggi, tentu para penabuhnya memiliki tehnik permainan gender yang sangat bagus. Koposisi garapan ini juga memiliki permainan melodi, ritme yang rumit dan saling bersahutan atara intrumen gender wayang dan gender saih pitu yang menjadi ciri khas seorang komposernya sendiri.

Laigting

Tata cayaha pada panggung ini kurang memuaskan, penabuhnya karena pada penabuh yang berada di belakang kurang kelihatan. Saran saya agar laigtingnya diperbayak terutama pada bagian penabuhnya agar penabuh yang di belakang dapat kelihatan.

Panggung

Panggung yang dipakai pada pementasan ini kurang mendukung. Saran saya klo bisa di pentaskan di Ksirarnawa agar penmentasanya lebih berkesan mewah.

Komposisi barungan

Tata letak instrumen kurang bagus karena tidak semua penabuh kelihatan, terutama penabuh pada instrumen gong,, saran saya mungkin pemakaian trap disini harus di fungsikan sesuai dengan kebutuhan. Misalnnya pada instrumen gong harus memakai trap karena posisinya diblakang, dengan pemkaian trap bisa kelihatan dan menjadi lebih rapi dan tersusun.

Pengambilan vedio

Pengambilan vedionya sangatlah kurang memuaskan karena pengambilan gambarnya monoton. Sran saya agar pengambilan gambarnya tidak hanya fokus pada satu titik, mungkin pengambilan gambarnya sesaat terpokus pada anksen-aksen yang menonjol pada setiap penabuh agar  penikmatnya lebih tertarik menontonnya.

 

Saund

Pengambilan suara disini mungkin kurang memuaskan karena yang lebih menojol suaranya pada instrumen Gender pemade saja. Saran saya agar mikroponnya di tabah pada intrumen gender barangan agar suara yang dihasilkan lebih merata dan jelas.

Sekian analisa saya tentang Garapan yang berjudul Gernder Romatis jika ada kata-kata yang kurang berkenan mohon saya maaf .

 

Mei 28th, 2012 at 1:12 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

  Bali merupakan salah satu pulau yang sangat indah dan memiliki aneka ragam seni budaya yang masih sangat kental di lingkungan masyarakatnya hingga membawa Bali sampai terkenal ke mancanegara. Salah satu budaya seni yang ada di Bali ialah pada seni gambelannya. Gambelan bali memiliki beraneka ragam betuk barungan (ensamble) salah satunya gambelan Selonding yang kuna dan klasik di banding barungan gambelan lainnya seperti barungan gong kebyar yang sudah sangat populer di bali bahkan hingga ke mancanegara dengan ciri khas tehnik perminannya yang rumit dan berkembang, sedangkan jauh berbeda dengan tehnik pemainan pada Gambelan Selonding yang sangat sederhana.Selonding merupaka gambelan yang tergolong dalam Gambelan Golongan Tua seperti Gambelan Gender, Gambang Gong Luang,dan lain-lainnya.
Selonding merupakan gamelan Bali yang usianya lebih tua dari gamelan-gamelan yang kini populer dipakai dalam kesenian maupun dalam upacara adat dan agama. Tidak semua desa di Bali memiliki budaya yang dekat dengan jenis gamelan ini, kecuali beberapa desa tua di belahan selatan dan timur pulau Bali, seperti Bugbug, Tenganan, Bungaya dan Timbrah dan Asak, Ngis.
Tidak seperti gamelan lainnya yang bilah-bilah perunggu digantung dengan tali sapi pada badan gamelan, pada salonding bilah-bilah perunggu bahkan yang lebih tua bilah bilah besi diletakkan dengan pengunci secukupnya di atas badan gamelan tanpa bilah resonan (bambu resonan) seperti jenis gamelan saat ini. Dengan suara yang khas, salonding dengan nada klasiknya mengiringi penari rejang dalam “mesolah” persembahan tari dalam upacara yadnya di desa desa tua seperti Tenganan, Bugbug, Asak dan beberapa desa di belahan timur pulau Bali.
Pada saat ini selonding yang sedang popuper di lingkungan masyarakat bali adalah barungan Selonding Tenganan yang berkabupaten di Karangasem. Perlu diketahui selonding bukan haya terdapat di Desa Tenganan saja namun masih banyak selonding yang ada di desa kuna di Kabupaten Karangasem yang memiliki cirikasnya tersendiri, salah satunya Barungan Gambelan Selonding di Desa Bugbug.

GAMBELAN SELONDING BUGBUG

Desa Bugbug adalah sebuah Desa Adat Kuna yang terletak di Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Tempat pemujaan utama Krama Dsa Adat Bugbug adalah Pura Gumang yang terletak di puncak Bukit Gumang, yang di hadiri serta di muliakan Krama Desa Bebandem, Jasi, Ngis ( Manggis),dan Datah.
Di Desa Bugbug kini masih tersimpan satu barungan Gambelan Selonding yang terbuat dari besi yang sangat di sakralkan oleh masyarakatnya. Penggunaan utama Gambean Selonding tersebut adalah pada Puja Wali Pura Gumang, Pura Kahyangan Tiga dan Pura-pura lainnya di desa tersebut.

DESKRIPSI GAMBELAN SELONDING BUGBUG
Istrumentasi, Bahan dan Barungan (komposisi)
• Gambelan Selonding di Desa Bubug,seluruhnya terdiri dari instrumen bebilah.
• Bahannya tebuat dari lempeng-lempeng besi, terbentuk segi empat panjang yang mempunyai ukuran panjang,lebar dan tebal yang berbeda-beda, dengan bangunannya ada yang pipih, dan ada yang trapesium.
• Pada tiap-tiap bilah terdapat empat buah lobang kecil, yang terletak di dekat ujung-ujung bilah masing-masing dua buah lobang, untuk menjalin tali penggantungnya yang terbuat dari kulit binatang yang disebut jangat.
• Pelawahnya terbuat dari kayu berbentuk balok utuh, segi empat panjang dengan di beri lubang pada atasnya yang berfungsi sebagai resonator.
• Cagak/ penyangga bilah-bilah daun selonding yang utama terbuat dari perunggu dengan ukiran naga,hanya tinggal 1 buah saja yang terpasang pada Gangsa Menanga.Cagak yang lain terbuat dari uyung jaka
• Jumlah daun Selonding Bugbug sebanyak 46 bilah yang terpasang menjadi 10 tungguh/pelawah. Masing-masing pelawah dapat diuraikan sebagai berikut:

Telawah A = Penyacag Wadon atau Penyambut Gending berdaun 7 bilah dalam 1 tungguh/telawah. Model gegebug kekenyongan seperti nabuh Gangsa Gambang. Kaping 1 sebagai kawitan, kaping 2 sebagai pengawak gending, dengan pengulangn-pengulangan sampai “mada”.
Telawah B = Penyacag Lanang, berdaun 7 bilah menjadi 1 tungguh/telawah. Ditabuh oleh 1 orang. Berfungsi sebagai penegteg gending mengikuti pukulan gangsa A. Model gegebug sam dengan gangsa A. Penabuh telawah A dan B menggunakan satu atau dua panggul.
Telawah C1 dan C2 = Menanga Lanang. Tersusun dalam satu rangkain nada
Telawah D1 dan d2 = Menanga lanang. Tersusun dalam satu rangkaian nada. Gangsa Menanga : pengoncang, berfungsi sebagai pemegang irama yaitu isen-isen atau mengisi dan menjalin jarak-jrak pukulan. Pada saat mengiringi tari rejang di mainkan seperti sistem rereyongan
Telawah E1 dan E2 = Gangsa Ageng Wadon(jegog). Tersusun dalam satu rangkaian nada
Telawah F1 dan F2 = Gangsa Ageng Lanang(jegog). Tersusun dalam satu rangkaian nada. Gangsa Ageng Lanang Wadon berfungsi sebagai pemangku irama. Pukulannya jarang dan lambat, mendekati pukulan kempul dan gong pada tabuh ketug-gumi.

LARAS, SAIH, GENDING DAN NOTASI

Gambelan Selonding Bugbug adalah salah satu perangkat Gambeln Kuna, yang hanya terdiri dari bilah-bilah besi(metallophone) saja. Dengan demikian, sumber bunyi gambelan ini dapat digolongkan ke dalam kelompok sumber bunyi yang disebut ; Idiophone, yaitu sumber bunyi yang dihasilkan oleh getaran instrumen itu sendiri.
Dari tujuh bilah daun Selonding yang di”cangcang” dalam satu telawah pada gangsa penyambut gending, dapat diketahui bahwa Gambelan Selonding Bugbug adalah Berlaras Pelog Sapta Nada, yang pada prinsipnya serupa dengan Gambelan Gambang, Caruk, Gong Luang dan Semar Pegulingan
Seandainya ada pebedaan, mungkin persoalannya terletak pada masalah ”embat” atau ’’interval” pada sruti-srutinya, karena pada Pande Gong di Bali tidak menerapkan standardtoon/setandarnada yang baku, dilihat dari adanya istilah-istilah ”saih gedenan” atau ”saih cerikan”
NAMA-NAMA SAIH GAMBELAN SELONDING BUGBUG

Nama-Nama Saih
Saih Pitu ( Pabelan)

Saih Nem (Mabwang)

Saih Lima (Parerejangan)

Saih Warga Sari

aih Tunjung-biru

Saih Rarawangi

Saih Sinom-bali

Saih Malat

Saih Cupak

 

KOMPOSISI BARUNGAN (ENSAMBLE)

• Tata letak instrumen embentuk formasi U, penabuh saling berhadap-hadapan untuk memudahkan penabuh berkmunukasi.
• Penabuh Penyacag terdiridari dua orang. Masing-masing menabuh satu tunguh instrumen berhadap-hadapan dengan penabuh Jegog.
• Penabuh Menanga terdiri dari dua orang sebagai pengoncang.
• Tiap-tiap orang menabuh tungguhan instrumen dengan menggunakan 1 atau 2 panggul masing-masing penabuh.
• Posisi menghadap kedalam diantara penabuh Penyacag gending dan penabuh Jegog

GENDING – GENDING SELODING BUGBUG

Sama halnya seperti juga yang terdappat di Desa Kuna yang lain, gending-gending Gambang ditabuhkan pula pada Gambelan Selonding. Pokok gendingnya sama, hanya cara menabuhnya yang berbeda, seperti tabuh Ganbelan Selonding di Desa Asak, Timbrah, Ngis, Tenganan, Selat, dan lain-lain.
Untuk di Desa Bugug, hampir semua Gending-gending Selonding menabuhkan kawitan gending-gending Gambang.Struktur Gending-gending Selonding Bugbug terdiri dari Kawitan, Pengawak, dan Pemada/nyarik.
Nama-nama Gending Selonding Bubug antara lain:
Gending Kawitan Tunjung Biru/Manukaba. Menggunakan saih Mayura
Gending Wargasari.Menggunakan saih Tunjung Biru.
Gending Rarawangi. Menggunakan saih Rarawangi.
Gending Pangkur. Menggunakan saih Sinom.
Gending Malat. Menggunakan sai Malat Bugbug.
Gending Puh Wasih. Menggunakan saih Panji Marga.
Gending Cupak. Menggunakan saih Cupak.
Gending Canggu.Menggunakan saih Warga-sari
Gending Parerejangan.Menggunakan saih Panji Marga.
Tabuh Selonding Pengiring Tari Abuang. Menggunakan saih Nem.dan lain-lain

Maret 30th, 2012 at 11:05 am | Comments & Trackbacks (3) | Permalink