SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Permainan Elektronik (Game) sebagai alternative media pembelajaran
February 4th, 2010 by Arya Pageh Wibawa

Permainan Elektronik (Game) sebagai alternative media pembelajaran

Oleh :
Arya Pageh Wibawa, ST

Abstract

The growth of media in information technology era give students to have opportunity to chose the method of learning. It is possible that game will become an alternative media to study. Visual element, audio and interaction in gaming are becoming an attractive media to encourage students to study. AI (Artificial Inteligence) element has been added in gaming that students can be interaction directly with gaming in which they can evaluate themselves to appraise their lesson of studying and also it become distinguishing among other media of studying.

I. Pendahuluan

Permainan atau game sebagai salah satu unsur pengembangan dari desain, dimana diharapkan adanya interaksi dari user. Dalam sebuah game terdapat elemen – elemen seperti visual, audio, dan AI (Artificial Inteligent) sehingga pengembangan suatu game, diperlukan integrasi dari bermacam – macam disiplin keilmuan seperti : Game Mechanic, Visual Arts, Programming, Proses Produksi, Audio dan Narasi. Pada awal pengembangan game, seorang programmer dapat melakukan sendiri. Tetapi pada tahap pengembangan secara modern, maka sangat diperlukan kemampuan (skill) yang cukup luas dan dukungan dari masing – masing komponen. Dalam mengembangkan game modern, sebuah proyek mengerjakan game diperlukan tim pengembang seperti :

  • Produser, sebagai pengatur dan pengawas produksi
  • Perancang (designer)
  • Artist
  • Programmer
  • Komposer, sebagai pembuat sound effect dan voice acting
  • Penguji game

Tidak menutup juga, masing – masing anggota team dapat merangkap tugas atau memiliki kemampuan atau skill lebih dari satu, misalnya produser dapat juga menjadi designer, atau programmer menjadi produser dan sebagainya. Bahkan pada sebuah perusahaan besar, sebuah tim pembuat game diawasi oleh banyak manajer seperti art director, technical director dan design director.

Pentingnya pengembangan game ini sebagai media pembelajaran disebabkan adanya elemen – elemen dalam game yang bisa memenuhi unsur sebagai media pendidikan. Visual, audio dan interaksi sebagai elemen game, membuat media ini begitu digemari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi semua golongan masyarakat. Dari sisi metode pembelajarannya pun tidak jauh berbeda dengan metode pembelajaran pada umumnya. Yang membedakan hanyalah media perantaranya yaitu komputer. Dengan semakin berkembangnya perangkat lunak pembuat game, menjadikan game semakin interaktif dan profesional dimana sudah dimasukkan unsur tambahan yaitu AI (Artificial Inteligence) yang membuat game semakin cerdas dan memiliki tingkat kesulitan yang semakin beragam.

II. Jenis – Jenis Game

Jenis – jenis game yang umum dikenal dengan istilah genre game. Genre juga berarti format atau gaya dari sebuah game. Format dari sebuah game bisa murni sebuah genre atau bisa merupakan campuran (hybrid) dari beberapa genre lainnya. Beberapa genre game tersebut adalah   :

1. Maze Game

Jenis game ini adalah game yang paling awal muncul. Contoh yang paling dikenal di Indonesia adalah game pacman dan digger. Konsep dasar dari genre ini adalah mengitari maze (lorong – lorong yang berhubungan) dan memakan beberapa item untuk menambah tenaga atau kekebalan misalnya. Tentunya dalam permainan ini ada musuh yang mengejar, tetapi dengan kekebalan yang dimiliki kita dapat mengejar balik.

2. Board Game

Jenis game ini sama dengan game board tradisional seperti Monopoly. Tidak ada variasi yang memunculkan gameplay ataupun perubahan desain dari versi tradisional ke versi elektronik. Versi elektronik benar – benar hanya memindahkan versi tradisional ke layar komputer. Umumnya game ini lebih menekankan pada kemampuan komputer menjadi lawan tanding dari pemain. Ini melibatkan AI (Artificial Inteligence) atau kecerdasan buatan yang andal untuk bisa menjadikan game ini menantang pemain dengan baik.

3. Card Game

Game ini hamper sama dengan board game dan tidak memberikan perubahan yang berarti dari game versi tradisional yang sejenisnya. Variasi yang diberikan adalah kemampuan multiplayer dan tampilan yang lebih bervariasi dari versi tradisional. Contoh dari jenis game ini adalah solitaire dan Hearts.

4. Battle Card Game

Jenis game ini jarang masuk ke Indonesia. Versi game ini sangat digemari di luar negeri dimana kita bisa membeli card untuk dikoleksi dan dipertarungkan dengan pemain lain. Contoh dari game ini adalah battle card pokemon.

5. Quiz Game

Salah satu yang umum dikenal adalah game kuis “Who wants to be a millioner”, sebuah game dengan nama yang sama dari acara kuis televise. Game ini sederhana dalam cara bermain yaitu hanya memilih jawaban benar dari beberapa pilihan jawaban. Biasanya pertanyaan yang diberikan memang memiliki topik tertentu.

6. Puzzle Game

Game jenis ini memberikan tantangan kepada pemainnya dengan menjatuhkan sesuatu dari sisi sebelah atas ke bawah. Pemain harus menyusun sedemikian rupa dan tidak ada yang tersisa ketika susunan diatasnya sudah akan dibuat. Susunan ini dilakukan secepat dan sebaik mungkin. Semakin lama akan semakin cepat dan semakin banyak objek yang jatuh. Contoh yang terkenal adalah tetris

7. Shooting Game

Jenis ini banyak diminati karena mudah dimainkan. Biasanya musuh kita adalah berbentuk pesawat maupun jenis lain. Datang dari sebelah atas dengan jumlah yang banyak dan tugas kita adalah menembaki dan menghancurkannya secepat dan sebanyak mungkin.

8. Side Scrolling Game

Pemain bergerak sepanjang alur permainan ke satu arah dan menyelesaikan tugasnya. Ada yang meloncat, berlari, mengendap, dan menghindari halangan seperti proyektil, jurang dan sebagainya. Contoh dari game ini adalah Prince of Persia, Sonic the Hedgehog dan sebagainya.

9. Fighting Game

Game ini memberikan kesempatan kepada pemain untuk bertarung dengan menggunakan berbagai kombinasi gerakan dalam pertarungan. Ada yang mengadopsi gerakan bela diri, ada yang sama sekali tidak bisa dikategorikan alias gerakan liar. Terkadang musuh berbentuk bukan manusia melainkan mahluk yang tak masuk akal sama sekali. Contoh dari game ini adalah Street Fighter, Samurai Showdown, Virtual Fighter dan sebagainya.

10. Racing Game

Game ini memberikan permainan lomba kecepatan dari kendaraan yang dimainkan pemain. Terkadang didalam arena, terkadang diluar arena balap. Contoh dari game ini adalah Need for Speed Underground dan Toca Race Driver.

11. Simulation

Merupakan jenis game yang menggunakan simulasi seperti keadaan sebenarnya, terkadang kita diajak untuk menciptakan suasana lingkungan yang diinginkan. Contoh dari game ini adalah Sim City, Flight Simulation, dan sebagainya.

12. Strategy Game

Game ini terbagi menjadi dua yaitu Turn-Based Strategy Game dan Real-Time Strategy Game. Perbedaannya adalah Turn-Based Strategy Game jika diilustrasikan sama dengan permainan catur, jadi terjadi saling pergantian antar pemain, sedangkan Real-Time Strategy Game tidak perlu menunggu, jadi kecepatan pemain akan sangat memungkinkan untuk menang.

13. Role Playing Game (RPG)

Pada game ini, pemain memiliki peran tertentu seperti kesehatan, mata – mata, kekuatan, dan keahlian. Contoh dari game ini adalah Legacy of  Kain, Blade of Sword, dan Beyond Divinity.

14. Adventure Game

Game ini merupakan game petualangan dimana dalam perjalanan, pemain akan menemukan banyak hal dan peralatan yang akan disimpan. Peralatan itu akan digunakan selama dalam perjalanan, baik untuk membantu dan menjadi petunjuk. Contoh dari game ini adalah Beyond Good and Evil

15. Full Motion Video Games (FMV)

Game ini meminta pemain memecahkan misteri. Pemain hanya memilih beberapa objek dari layar dan animasi atau film akan muncul. Mutu tampilan grafis dan animasinya biasanya sangat bagus karena game ini nyaris tidak ada fitur lain selain kedua hal itu. Contoh dari game ini adalah Myst dan Riven.

16. Edutainment Game

Game ini bertujuan lebih untuk memancing minat belajar anak sambil bermain. Contoh Boby Bola.

III. Konsep Perancangan Game

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan sebuah game yaitu :

1. Interaksi dengan disiplin ilmu design yang lain

Perancangan game melibatkan kerjasama dari berbagai disiplin ilmu lain yang berbeda seperti :

  • Game Mechanic

Game mechanic adalah sebuah konsep aturan yang bertujuan untuk membuat sebuah game yang dapat dinikmati atau game yang dapat dimainkan.

  • Visual Artist

Visual Artist adalah seorang seniman yang merancang seni untuk satu atau lebih bentuk game

  • Programming

Game programming, sebuah bagian kecil dari pengembangan game, adalah pemrograman komputer, perangkat tambahan atau membuat aturan – aturan dalam permainan game.

  • Proses Produksi

Proses produksi ini meliputi pra-produksi dan produksi, dimana pra-produksi merupakan pengembangan awal atau prototype dari sebuah game. Produksi merupakan hasil akhir dari keseluruhan proses pembuatan game.

  • Sound dan Audio

Sound dan Audio memberikan efek nuansa yang lain dalam pembuatan game yang dapat memberikan pengaruh permainan dan hiburan pada game

  • Narasi

Narasi merupakan urutan cerita pada sebuah game. Ini bagian pokok dari game

2. Metode Perancangan

Perlu adanya sebuah dokumen perancangan sebagai salah satu cara pengembangan dari sebuah game walaupun saat ini hal tersebut sudah tidak diperlukan lagi dimana sudah digantikan dengan teknologi. Pembuatan prototype adalah langkah awal dari perancangan game yang kemudian dikombinasikan dengan teknik pemrograman yang secara bersamaan dimasukkan kedalam game tersebut.

3. Elemen – Elemen Cerita

Game biasanya sudah mempunyai elemen – elemen cerita yang memberikan sebuah gambaran permainan pada sebuah game. Elemen – elemen cerita ini terkadang muncul secara tidak jelas atau dimunculkan secara keseluruhan. Contoh yang bisa diambil adalah game tetris yang tidak menggunakan elemen cerita. Elemen – elemen cerita yang secara langsung berhubungan dengan perancangan game adalah subject, tema, dan cerita.

4. Aktivitas atau Kegiatan

Game selalu melibatkan aktivitas dimana seorang pemain terlibat, biasanya untuk tujuan hiburan, pendidikan atau latihan.

5. Gameplay

Gameplay adalah bentuk yang umum biasanya menggambarkan aspek interaksi pada perancangan game. Nama lain dari gameplay yang sesuai dalam lingkungan akademis adalah game mechanic walaupun ada perbedaan konsep keduanya. Konsep dalam perancangan gameplay adalah :

  • Lingkungan
  • Objek yang mungkin mengubah keadaan lingkungan
  • Ketentuan atau aturan yang mengubah keadaan objek seperti posisi, yang merupakan tanggapan dari perubahan terhadap objek yang lain dan atau keputusan yang dibuat oleh pemain
  • Penghargaan dan hukuman yang diberikan kepada pemain yang merupakan hasil perubahan dari keadaan game

IV. Proses Perancangan Game

Setiap proses perancangan game akan berbeda antar designer dan perusahaan baik secara formal proses maupun filosofi. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian sebelum proses perancangan game adalah sebagai berikut.

IV. 1. Elemen Dari Sebuah Game

Elemen – elemen dari sebuah game terdiri dari elemen – elemen pokok dan elemen – elemen tambahan. Elemen – elemen pokok adalah elemen – elemen utama yang selalu ada dalam sebuah game walaupun genre satu sama lain berbeda. Elemen – elemen itu terdiri dari title, title screen, credits, intro, control panel, user interface, help screen, mouse cursor, music and sound, art, storyline, playability, levels, demo mode, god mode, exit screen, documentations, copyright, setup program. Sedangkan elemen tambahan adalah elemen – elemen yang bisa ada ataupun tidak dalam sebuah game. Biasanya elemen – elemen tambahan ini ada pada game bertipe shareware. Elemen – elemen tambahan tersebut adalah readme.txt, file description, license agreement, order form.

IV. 2. Membuat Design Document

Design document adalah dokumen yang merupakan panduan semua perencanaan dan bahasan yang ada dalam sebuah game, bisa pendek dan bisa panjang tergantung seberapa detail informasi yang diberikan. Secara umum tidak ada aturan baku untuk penulisan sebuah design document. Sebuah design document sebaiknya menerangkan hal – hal sebagai berikut :

  1. Keterangan umum dari game tersebut
  2. Jalan cerita dari game
  3. Gaya, Genre, dan penampilan umum dari game
  4. Deskripsi dari masing – masing karakter
  5. Deskripsi dari gameplay
  6. Kebutuhan minimum untuk peralatan PC pemain
  7. Deskripsi special efek yang ada
  8. Deskripsi dari AI yang digunakan
  9. Desain gambar dari karakter atau scene yang digunakan
  10. Daftar peralatan, item, grafik yang akan digunakan

IV. 3. Membuat Prototipe

Prototipe merupakan bentuk perancangan sederhana dari sebuah game yang konsepnya diambil dari design document. Perancangan ini sebagai bagian uji coba dan menyeleksi tentang game yang telah dirancang dalam design document dan biasanya sebagai bentuk awal yang ditunjukkan oleh perancang ke producer game

V. Game ditinjau dari Media Pendidikan

V.1. Media Pendidikan Menurut Pendapat Ahli

Dalam sebuah game terdapat unsur grafis. Supaya lebih menarik, biasanya sebuah game diberikan unsur tambahan yaitu audio. Selain itu game terdapat juga unsur gerak sehingga game dapat juga dikategorikan sebagai media interaktif karena dalam game terjadi interaksi antara pemain dan program game dengan komputer sebagai media perantaranya.

Gagne (1965) membuat 7 macam pengelompokan media, yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media ini kemudian dikaitkan dengan kemampuan memenuhi fungsi menurut tingkatan hierarki belajar yang dikembangkannya yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh perilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih-ilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik.

Tabel 1. Taksonomi Menurut Fungsi Pembelajaran Beberapa Jenis Media dari Gagne

Fungsi Media
Demonstrasi Penyampaian lisan Media cetak Gambar diam Gambar gerak Film dengan suara Mesin pembelajaran
StimulusPengarahan perhatian/kegiatanContoh kemampuan terbatas
yang diharapkan

Isyarat eksternal

Tuntunan cara berpikir

Alih kemampuan

Penilaian hasil

Umpan balik

YaTidakTerbatas

Terbatas

Tidak

Terbatas

Tidak

Terbatas

TerbatasYaYa

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

TerbatasYaYa

Ya

Ya

Terbatas

Ya

Ya

YaTidakTerbatas

Terbatas

Tidak

Terbatas

Tidak

Tidak

YaTidakTerbatas

Terbatas

Tidak

Terbatas

Tidak

Terbatas

YaYaYa

Ya

Ya

Terbatas

Ya

Ya

YaYaYa

Ya

Ya

Terbatas

Ya

Ya

Bretz (1971) membagi media menjadi tiga macam yaitu suara, visual dan gerak. Media bentuk visual dibedakan menjadi tiga pula yaitu gambar visual, garis (grafis), dan simbol verbal. Selain dari itu Bretz juga membedakan antara media transmisi (telekomunikasi) dan media rekaman.

Menurut Wilbur Schram dalam bukunya Big Media Little Media; tools and technologies for instruction (1977) memberikan sebuah kesimpulan bahwa media interaktif tak tersaingi kemampuannya memberi umpan balik selama belajar, kecuali mungkin dengan komunikasi tatap muka (1977:103). Begitu juga dalam memilih media dengan melihat kesesuaian media dengan tingkat kesulitan pengendalian oleh pemakaian disajikan dalam bentuk matriks yang ditambah dan diadaptasi oleh Yusufhadi Miarso disajikan dalam table dibawah ini :
Tabel 2. Pemilihan Media Menurut Kontrol Pemakai

KONTROL/MEDIA
Portable Untuk di rumah Siap setiap saat Terkendali Mandiri Umpan balik
TelevisiRadioFilm

Video kaset

Slide

Film strip

Audio kaset

Piringan hitam

Buku

Teks program

Komputer

Permainan

TidakYaYa

Tidak

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

YaYaYa

Sulit

Ya

Ya

Ya

?

Ya

Ya

Tidak

Ya

TidakTidakYa

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

TidakTidakSulit

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

YaYaSulit

Ya

Ya

Ya

Ya

Sulit

Ya

Ya

Sulit

Tidak

TidakTidakTidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Ya

Selain itu, media juga dapat dibagi – bagi menurut tujuan belajar yang dapat dicapai. Tabel 3 berikut menunjukkan bahwa ada media yang baik jika dipakai untuk mencapai tujuan yang bersifat “pengenalan visual” (jenis visual diam). Tapi jenis media ini kurang baik digunakan untuk mengajarkan keterampilan psikomotorik atau sikap (afektif).

Tabel 3. Klasifikasi Media Menurut Tujuan Belajar

TUJUAN BELAJAR / MEDIA
Info Faktual Pengenalan Visual Prinsip Konsep Prosedur Umpan Balik Sikap
Visual DiamFilmTelevisi

Obyek 3D

Rekaman Video

Pelajaran terprogram

Demonstrasi

Buku Teks Cetak

SedangSedangSedang

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

TinggiTinggiSedang

Tinggi

Rendah

Sedang

Sedang

Rendah

SedangTinggiTinggi

Rendah

Rendah

Sedang

Rendah

Sedang

SedangTinggiSedang

Rendah

Sedang

Tinggi

Tinggi

Sedang

RendahRendahRendah

Rendah

Rendah

Rendah

Sedang

Rendah

RendahSedangSedang

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Dari jenis – jenis media yang telah disebutkan, yang paling lengkap adalah audio-visual gerak (ada gambar, suara dan juga gerak). Media ini menyandang predikat media “paling lengkap” inipun sebenarnya masih relatif, contohnya media TV masih kurang lengkap jika dibandingkan dengan video interaktif yang digabungkan dengan program komputer.  Program TV tidak “berinteraksi” secara aktif dengan siswa, sedangkan video interaktif bisa berinteraksi.

V.2. Game dalam Komunikasi dan Pendidikan

a. Game dalam komunikasi

Komunikasi adalah terjadinya penyampaian informasi dari sumber ke penerima informasi. Dalam komunikasi ada dua komponen utama yaitu komunikator dan komunikan. Komunikator adalah orang yang menyampaikan informasi sedangkan komunikan adalah orang yang menerima informasi. Dalam menyampaikan informasi perlu adanya media sebagai perangkat untuk menyalurkan informasi. Seperti terlihat dalam  gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1. Konsep dalam Berkomunikasi

Dalam pembelajaran, konsepsi komunikasi mengandung pengertian memberitahukan pesan, pengetahuan, dan fikiran – fikiran dengan maksud mengikutsertakan peran siswa dalam proses pembelajaran, sehingga persoalan – persoalan yang dibicarakan milik bersama, dan tanggung jawab bersama.

David Berlo, seorang pakar komunikasi, menyatakan bahwa dalam pengajaran kompetensi dipakai model dinamik dimana siswa, mahasiswa, guru dan dosen ataupun buku teks sebagai bagian integral dalam kompetensi bila dilihat dari kontek komunikasi atau interaksi.

Menurut Harold Lasswell, cara terbaik untuk berkomunikasi ialah menjawab pertanyaan berikut : Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect ?. Paradigma Lasswell diatas ini menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsure yaitu :

  • Komunikator (Communicator, Source, Sender)
  • Pesan (Message)
  • Media (Channel, Media)
  • Komunikan (Communicant, Communicate, Receiver, Recipient)
  • Efek (Effect, Impact, Influence)

Model proses komunikasi dari paradigma Lasswell ini ditampilkan oleh Philip Kotler dalam bukunya, Marketing Management, sebagai berikut :

Gambar 2. Model Proses Komunikasi dari Lasswell

Dimana unsur – unsur dalam proses komunikasi diatas adalah sebagai berikut (Effendi, 1984: 18-19):

  • Sender : Komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang
  • Encoding : Penyandian, yakni proses pengalihan fikiran ke dalam bentuk lambang
  • Message : Pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.
  • Media : Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan
  • Decoding : Proses dimana komunikan menetapkan makna pada lambang yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.
  • Receiver : Komunikan yang menerima pesan dari komunikator.
  • Response : Tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah menerima pesan
  • Feedback : Umpan Balik, yakni tanggapan komunikan apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator.
  • Noice : Gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator

Sedangkan dalam game maka unsur – unsur dalam proses komunikasi dapat digambarkan adalah sama seperti diatas, pembedanya adalah tidak adanya feedback dan noise dikarenakan media yang digunakan adalah komputer. Noise sangat jarang terjadi bahkan tidak ada, karena perangkat komputer saat ini begitu canggih sehingga jika digambarkan proses komunikasi pada media game secara lengkap dapat dilihat pada gambar 3 dibawah ini.

Gambar 3. Model Proses Komunikasi pada Game

Sender adalah pembuat game yang membuat pesan melalui pemrograman  komputer dengan memasukkan unsur – unsur visual dan audio sebagai encodingnya dan melewatkan pesan atau messagenya melalui komputer. Encoding disini dibentuk dari bahasa – bahasa pemrograman komputer seperti C++, Java, HTML, PHP dan sebagainya yang kemudian diubah ke dalam bentuk kode binary dimana hanya komputer yang memahami kode – kode ini. Dan komputer jugalah yang menerjemahkan (decoding) kode – kode ini menjadi pesan – pesan yang diterima oleh komunikan. Komunikan hanya memberikan response saja kepada pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui media komputer. Respon yang diberikan dapat berupa jawaban dari pertanyaan atau seperangkat perintah lain yang harus dilakukan dengan menekan tombol – tombol yang ada pada komputer. Dan proses komunikasi ini terus berlangsung sampai usainya permainan atau pertanyaan yang diberikan. Dan komunikan dapat melihat langsung nilai yang diberikan sebagai hasil response melalui layar komputer.

b. Game dalam Pendidikan

Pada prinsipnya konsep komunikasi media dalam dunia pendidikan tidak jauh berbeda dengan komunikasi pada umumnya kecuali pada sisi kontek berlangsungnya komunikasi. Dalam proses pembelajaran, sumber informasi adalah guru, siswa, dosen, mahasiswa, bahan bacaan, dan lain sebagainya. Sedangkan penerima informasi mungkin juga dosen, guru, mahasiswa, siswa dan orang lain. Sehingga media mendapat definisi lebih khusus, yakni “Teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran” (Schramm, 1977), atau sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran (Briggs, 1977).

Satu komponen lain yang perlu mendapat perhatian adalah metode dimana menurut Heinich et al (1989), metode adalah prosedur yang sengaja dirancang untuk membantu siswa, mahasiswa belajar lebih baik dan mencapai tujuan – tujuan  pembelajaran. Sehingga komunikasi yang terjadi dalam dunia pendidikan adalah sebagai berikut :

Gambar 4. Proses komunikasi dalam dunia pendidikan

Metode pembelajaran disini dapat berupa diskusi, tanya jawab, ceramah dan seminar.

Sedangkan metode pembelajaran dalam game adalah berbentuk tanya jawab dan simulasi. Untuk metode pembelajaran tanya jawab, game biasanya merupakan pemrograman komputer berbasis database dimana pertanyaan dan jawaban sudah semua tersimpan dalam database yang bisa diperbaharui dengan meng-unduh dari internet atau membeli langsung dari provider pembuat game. Dan untuk simulasi, game biasanya dilengkapi dengan AI (Artificial Inteligence) atau kecerdasan buatan dimana menggunakan tingkat kesulitan yang berbeda – beda. Contoh dari game yang menggunakan metode pembelajaran tanya jawab adalah Who wants to be a millioner, sedangkan yang berbentuk simulasi misalnya adalah Sim City.

c. Game sebagai Media Interaksi

Menurut Suardi (dalam Sardiman, 1992:15) lebih lanjut menjelaskan ciri – ciri interaksi dalam pembelajaran, yaitu :

  1. Interaksi dalam pembelajaran memiliki tujuan, yaitu untuk membantu anak dalam perkembangan tertentu dimana menempatkan anak sebagai pusat perhatian.
  2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Interaksi pembelajaran ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini, materi harus didesain sedemikian rupa sehingga cocok untuk mecapai tujuan.
  4. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa sehingga siswa sebagai sentral dan menjadi syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar.
  5. Dalam interaksi pembelajaran, guru sebagai fasilitator dan pembimbing.
  6. Interaksi pembelajaran membutuhkan disiplin. Disiplin dalam interaksi pembelajaran diartikan sebagai suatu pola perilaku sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh semua pihak secara sadar.
  7. Ada batas waktu.

Dengan melihat ciri – ciri yang dikemukakan diatas, jelaslah kiranya bahwa game memiliki hampir secara keseluruhan ciri – ciri tersebut. Yang membedakan disini adalah game mempunyai keterbatasan dalam materi. Karena tidak semua materi dapat dibuatkan game karena keterbatasan perangkat keras maupun perangkat lunak. Seperti misalnya bahasa asing. Secara kebetulan, komputer sebagian besar menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar, tetapi jika seseorang ingin belajar bahasa jepang, maka sangat sulit kiranya hal ini menjadi sebuah game yang dapat dibuat oleh semua orang akibat keterbatasan perangkat keras maupun perangkat lunak. Tetapi untuk materi yang lain, game masih mempunyai peran serta yang cukup baik seperti bidang matematika, fisika, kimia, bahasa inggris, ekonomi dan sebagainya. Bahkan beberapa siswa – siswa taman kanak – kanak saat ini sudah menggunakan media game sebagai media pengantar dalam pembelajaran seperti yang dilakukan oleh beberapa playgroup yang bertaraf internasional.

 

V.3. Manfaat Game dalam Kegiatan Belajar

Menurut Kemp dan Dayton (1985), mengidentifikasikan tidak dari delapan manfaat media dalam kegiatan pembelajaran. Bila media game dimasukkan ke dalam kedelapan manfaat media pembelajaran menurut Kemp dan Dayton, maka media game dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk media pembelajaran. Kedelapan manfaat itu adalah :

  1. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan

Dengan menggunakan media game dalam kegiatan belajar, maka akan ada penyeragaman penafsiran dari guru mata pelajaran terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan kepada para siswa.

  1. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik

Media game terdiri dari unsur visual (dapat dilihat), audio (dapat didengar) dan gerak (dapat berinteraksi). Jadi media game ini dapat membangkitkan keingintahuan siswa, merangsang reaksi mereka terhadap penjelasan guru, memungkinkan siswa menyentuh objek kajian pelajaran, membantu mereka mengkonkretkan sesuatu yang abstrak dan sebagainya.

  1. Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif

Adanya unsur AI (artificial Inteligence) atau kecerdasan buatan pada media game, maka akan terjadi komunikasi dua arah dimana pertanyaan muncul secara acak pada layar komputer dan siswa menjawab pertanyaan tersebut. Dengan semakin tingginya pemrograman komputer pada AI, maka game yang dibuat dapat semakin komplek disesuaikan dengan tingkat kemampuan dari siswa itu sendiri. Contohnya adalah game simulasi.

  1. Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi

Dengan media game, maka guru tidak perlu menghabiskan waktu banyak untuk menjelaskan materi. Dengan media game, siswa dapat melatih dirinya dengan cara berinteraksi dengan media game mengenai suatu materi yang mereka ingin pelajari. Seperti yang terjadi pada beberapa sekolah – sekolah setingkat kursus, dimana waktu yang diperlukan untuk belajar cukup sedikit tetapi dituntut untuk memahami materi dengan sesegera mungkin. Biasanya mereka menggunakan media game dalam bentuk simulasi ataupun quiz untuk memudahkan dan mempercepat penyerapan materi yang digunakan.

  1. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan

Selain lebih efisien dalam proses belajar-mengajar seperti diuraikan diatas, media game dapat membantu siswa menyerap materi pelajaran secara lebih mendalam dan utuh. Hal ini disebabkan media game lebih menarik karena ada unsur visual dan audio tetapi juga interaktif yang membuat siswa bisa ber-interaksi dengan program game tentang suatu mata pelajaran. Contohnya adalah Quiz game.

  1. Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, memungkinkan siswa saat ini dapat memiliki laptop dengan harga yang murah. Perangkat ini mempunyai kelebihan dapat dibawa kemana – mana dan dapat digunakan kapan saja. Media game biasanya berbentuk CD interaktif yang dapat dipergunakan kapan saja. Sehingga media game sebagai media pembelajaran dapat dipergunakan kapan saja dan dimana saja.

  1. Sikap positif siswa terhadap bahan pelajaran maupun terhadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan

Dengan media, proses belajar mengajar menjadi lebih menarik. Hal ini dapat meningkatkan kecintaan dan apresiasi siswa terhadap ilmu pengetahuan dan proses pencarian ilmu itu sendiri.

  1. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif

Pertama, guru tidak perlu mengulang – ulang penjelasan mereka bila media digunakan dalam pembelajaran. Kedua, dengan mengurangi uraian verbal (lisan), guru dapat memberi perhatian lebih banyak kepada aspek – aspek lain dalam pembelajaran. Ketiga, peran guru tidak lagi sekedar “pengajar”, tetapi juga konsultan, penasihat, atau manajer pembelajaran.

Simpulan

Game sebagai akibat perkembangan teknologi yang pesat, memungkinkan siswa untuk memilih media pembelajarannya. Elemen visual, audio dan interaktif membuat media game menjadi salah satu alternatif media pembelajaran. Sebagai perbandingan dengan media lain dalam pembelajaran menunjukkan bahwa media game memberikan pengaruh yang cukup besar dalam tingkat keberhasilan pembelajaran. Ketertarikan terhadap media ini disebabkan media ini merupakan media interaktif, dimana siswa sebagai sentral yang merupakan ciri dari pembelajaran interaktif. Begitu juga dengan pemanfaatan game dalam kegiatan pembelajaran. Ternyata keseluruhan unsur dari manfaat media dalam kegiatan pembelajaran terpenuhi. Ini sekali lagi memberikan bukti bahwa game layak menjadi media alternatif dalam kegiatan pembelajaran.


Comments are closed

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa