Sejarah tari barong di bali

Tari Barong Bali

Tari Barong Bali menggambarkan pertarungan antara kebajikan (Barong) melawan kebatilan (Rangda). Menurut umat Hindu Bali, barong adalah binatang purbakala yang menjadi simbol kebajikan. Sedangkan Rangda adalah binatang purbakala mahadahsyat yang menggambarkan kebatilan.

Tari Barong Bali yang dipentaskan oleh Sekehe Barong Sila Budaya, menurut saya, bukanlah rangkaian tari, tetapi pertunjukan drama dengan bumbu tari dan komedi dengan iringan musik gamelan Bali. Pementasan ini menyerupai wayang orang di Jawa.

Pertunjukkan Tari Barong Bali ini juga mempertunjukkan adegan-adegan yang seru yaitu adegan debus dimana terdapat bebrapa orang yang telah di ciprati air suci dan dikuasai oleh makhluk halus mensukkan kerisnya didada.

tari barong bali

 Di Pulau Bali ada beberapa jenis tarian barong yang dimainkan, yaitu diantaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Landung. Akan tetapi, di antara beberapa jenis tarian barong yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang mempunyai kostum dan tarian cukup lengkap.
Kostum dalam tarian Barong Ket pada umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Pada badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan.
Tarian Barong Bali ini dimainkan oleh dua orang penari (juru saluk/juru bapang): satu orang penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada tidak jauh di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.

Lokasi Pertunjukan Tari Barong Bali

tari barong bali

menonton seni pertunjukan ini, wisatawan dapat menuju Desa Batu bulan melalui Kota Denpasar, Ibu Kota Provinsi Bali. Dari Kota Denpasar, Batubulan berjarak sekitar 10 km atau membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum (taksi/mobil carteran). Sementara, jika wisatawan memulai perjalanan dari Pantai Kuta atau kawasan Nusa Dua, dibutuhkan waktu sekitar +45 menit.

Untuk menyaksikan pertunjukan Tari Barong Bali , wisatawan domestik maupun mancanegara dikenakan biaya sebesar Rp 50.000 per orang. Dengan membayar tiket sejumlah itu, wisatawan juga akan memperoleh panduan cerita pementasan dalam bentuk cetak dengan berbagai pilihan bahasa, antara lain bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Italia, Jepang, dan Mandarin.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan juga dapat menyewa jasa travel untuk menonton tarian ini. Penyedia jasa Paket Tour Bali  umumnya telah memiliki jadwal tetap pertunjukan Tari Barong Bali di Desa Batubulan. Namun, apabila ingin lebih leluasa dengan agenda wisata yang diinginkan, wisatawan dapat menyewa mobil carteran dengan biaya sewa yang dihitung per hari.

Sejarah Tari Barong Bali

istilah “barong” dipercaya muncul menurut istilah bahrwang yg secara bebas dapat diartikan menjadi beruang. Beruang ini dianggap menjadi sebuah kekuatan mistis, fauna mitos yg mempunyai kekuatan mistik tinggi sebagai akibatnya dipuja menjadi pelindung.

Beberapa asal menyampaikan bahwa sejarah Tari Barong Bali adalah saduran menurut cerita masyarakat Tiongkok adalah Barongsai, sementara beberapa orang lainnya menganggap ada perbedaan yang sangat jelas antara Barongsai serta Barong di mana menurut mereka tarian Barong memiliki nilai cerita yang baik serta tidak jarang diselingi sang humor yg segar sehingga dapat menjaga penonton agar nir bosan.

Tari Barong Bali ini menceritakan mengenai kisah yg paling tak jarang diceritakan dalam cerita masyarakat manapun adalah tentang pertempuran diantara pihak baik melawan pihak jahat. Sepanjang sejarah tari Barong Bali, pihak yg baik selalu digambarkan dengan sosok Barong, makhluk buas berkaki empat yang di dalamnya dikendalikan sang dua orang penari. Pihak jahat jua selalu digambarkan beserta sama, merupakan Rangda, sebuah sosok seperti perempuan menakutkan yang memiliki dua butir taring akbar pada mulutnya.

Terdapat pandangan yang berbeda mengenai sejarah tari Barong Bali ini, dimana keliru satu pandangan menyatakan bahwa tari Barong adalah sebuah seni yg sudah sejak lama ada pada Indonesia, sebuah kesenian bawaan berdasarkan rakyat Austronesia.

Pandangan ini juga memberitakan bahwa kisah yg dimainkan pada tari Barong merupakan kisah mengenai Bhatara Pancering Jagat dan istrinya yg bernama Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Pandangan lainnya mengenai Barong timbul menurut itihasa Bali di mana tari Barong muncul dari cerita suci serta tidak dongeng. Dianggap kisah tentang Barong dan Rangda ini berkaitan beserta cerita saat Siwa sedang mencari Dewi Uma.

Kali pertama pada sejarahnya tari Barong Bali dijadikan pertunjukkan adalah dalam abad ke-19 di mana dalam ketika itu Raja Kelungkung yang memiliki nama atau julukan Ida I Dewi Agung Sakti meminta diadakannya pertunjukkan yang bentuknya adalah wayang orang dengan total penari kurang lebih 36 orang dimana sebagian menurut penari tersebut harus berperan menjadi pasukan berdasarkan seekor raja simpanse dan sebagian lagi berperan sebagai pasukan rahwana.

Para penari ini lalu diharuskan mengenakan topeng serta busana  yang terbuat menurut serat yg bernama braksok. Saking populernya, pertunjukkan tersebut lalu diberi nama Barong Kadingkling atau Barong Blasblasan yang apabila berkunjung ke suatu desa, diyakini pohon kelapa yang terdapat pada desa tadi sebagai amat sangat fertile.

Jeni Jenis Tari Barong Bali

Barong Ket :

Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak tersedia di Bali dan paling sering dipentaskan dan memiliki pebendaharaan laju tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma.

Badan Barong ini dilengkapi dengan ukiran terbuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun mirip tanaman tanaman), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.

Barong Bangkal :

Bangkal berarti babi besar yang dilakukan tua, oleh sebab itu Barong ini mirip dengan bangkangan, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang disebut keramat atau saat yang disebut wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan

Barong Landung

Barong Landung adalah satu wujud susuhunan yg berwujud manusia tinggi mencapai 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan barong ket yang sudah dikomersialisasikan. Barong Landung lebih sakral dan kekuatannya sebagai pelindung dan pemberi daya. Barong Landung banyak dijumpai penginapan Bali Selatan, spt Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan.

Barong Macan

Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan dramatari semacam Arja dan diiringi dengan gamelan batel.

Rangda

Rangda adalah ratu dari para kebocoran dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memanggil anak-anak kecil dan juga yang menggunakan pasukan nenek sihir melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.

SEJARAH PURA TAMAN AYUN

 SEJARAH TAMAN AYUN

Pura Taman Ayun yang terletak di Desa Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar 18 km ke arah barat dari Denpasar. Pura ini sangat indah, sesuai dengan namanya yang berarti pura di taman yang indah. Selain indah, Pura Taman Ayun juga dinilai memiliki nilai sejarah, sehingga pada tahun 2002 Pemda Bali mengusulkan kepada UNESCO agar pura ini dimasukkan dalam World Heritage List.

Pura Taman Ayun merupakan Pura lbu (Paibon) bagi kerajaan Mengwi. Pura ini dibangun oleh Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu, pada tahun 1556 Saka (1634 M). Pada mulanya, I Gusti Agung Putu membangun sebuah pura di utara Desa Mengwi untuk tempat pemujaan leluhurnya. Pura tersebut dinamakan Taman Genter. Ketika Mengwi telah berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, I Gusti Agung Putu memindahkan Taman Genter ke arah timur dan memperluas bangunan tersebut. Pura yang telah diperluas tersebut diresmikan sebagai Pura Taman Ayun pada hari Selasa Kliwon-Medangsia bulan keempat tahun 1556 Saka. Sampai sekarang, setiap hari Selasa Kliwon wuku Medangsia menurut pananggalan Saka, di pura ini diselenggarakan piodalan (upacara) untuk merayakan ulang tahun berdirinya pura.

Pura Taman Ayun telah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan secara besar-besaran dilaksanakan tahun 1937. Pada tahun 1949 dilaksanakan perbaikan terhadap kori agung, gapura bentar, dan pembuatan wantilan yang besar. Perbaikan ketiga tahun 1972 dan yang terakhir tahun 1976.

Kompleks Pura Taman Ayun menempati lahan seluas 100 x 250 m2, tersusun atas pelataran luar dan tiga pelataran dalam, yang makin ke dalam makin tinggi letaknya. Pelataran luar yang disebut Jaba, terletak di sisi luar kolam. Dari pelataran luar terdapat sebuah jembatan melintasi kolam, menuju ke sebuah pintu gerbang berupa gapura bentar.

Gapura tersebut merupakan jalan masuk ke pelataran dalam yang dikelilingi oleh pagar batu. Di jalan masuk menuju jembatan dan di depan gapura terdapat sepasang arca raksasa. Di sebelah kiri jalan masuk, tidak jauh dari gerbang, terdapat bangunan semacam gardu kecil untuk penjaga. Di halaman pertama ini tersebut terdapat sebuah wantilan (semacam pendapa) yang digunakan untuk pelaksanaan upacara dan juga sebagai tempat penyabungan ayam yang dilaksanakan dalam kaitan dengan penyelenggaraan upacara di pura.

Pelataran dalam pertama seolah dibelah oleh jalan menuju gapura yang merupakan pintu masuk ke pelataran dalam kedua. Di sisi barat daya terdapat bale bundar, yang merupakan tempat beristirahat sambil menikmati keindahan pura. Di sebelah bale bundar terdapat sebuah kolam yang dipenuhi dengan teratai dan di tengahnya berdiri sebuah tugu yang memancarkan air ke sembilan arah mata angin. Di timur terdapat sekumpulan pura kecil yang disebut Pura Luhuring Purnama.

Di ujung jalan yang membelah pelataran pertama terdapat gerbang ke pelataran kedua. Pelataran ini posisinya lebih tinggi dari pelataran pertama. Tepat berseberangan dengan gerbang terdapat sebuah bangunan pembatas, yang dihiasi dengan relief menggambarkan 9 dewa penjaga arah mata angin. Di sebelah timur terdapat sebuah pura kecil yang disebut Pura Dalem Bekak. Di sudut barat terdapat balai Kulkul yang atapnya menjulang tinggi.

Pelataran dalam ketiga atau yang terdalam merupakan pelataran yang paling tinggi letaknya dan dianggap paling suci. Pintu utama yang disebut pintu gelung terletak di tengah dan hanya dibuka pada saat diselenggarakannya upacara. Di kiri dan kanan pintu utama terdapat gerbang yang digunakan untuk keluar masuk dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari di pura tersebut. Di pelataran ini terdapat sejumlah Meru, Candi, Gedong, Padmasana, Padma Rong Telu, dan bangunan-bangunan keagamaan lainnya.

 

2.2 FUNGSI TAMAN AYUN

           Pura Taman Ayun dibangun dengan tiga fungsi, yaitu :
1. Sebagai Pura penyawangan (Pengawatan) sehingga masyarakat Mengwi yang ingin         sembahyang ke pura-pura besar seperti Pura Besakih, Pura Uluwatu, Pura Batur, Pura Batukaru, Ulundanu, dan lainnya, cukup datang ke Pura Taman Ayun ini.
2. Sebagai pemersatu dari masyarakat dengan beberapa garis keturunan yang sama-sama beribadah di tempat ini.
3. Pura ini memiliki fungsi ekonomi, karena kolam yang mengelilingi juga dipakai sebagai air irigasi untuk mengairi sawah-sawah disekitar pura.Taman Ayun ini juga dipakai sebagai tempat berkumpulnya para anggota kerajaan. Keberadaan pura ini, oleh masyarakat dan pemerintah setempat dianjurkan ke The World Heritage Center atau UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) untuk dijadikan salah satu world heritage (warisan dunia).
Para pengunjung bisa menikmati areal sekeliling pura dari ketinggian dengan menaiki bale kulkul yang berada di sebelah kiri pintu gerbang. Bagi yang gemar berfoto-foto, kori agung (gapura utama) yang berdiri megah adalah objek yang sangat cocok untuk dijadikan latar.

Sedangkan bagi yang gemar berbelanja, di seberang pura terdapat beberapa pedagang yang mnjual makanan-makanan ataupun cendramata. Biasanya setiap malam minggu dan minggu siang, pura ini sering dipakai oleh orang untuk berpacaran.

 

 KEINDAHAN TAMAN AYUN

            Dalam bahasa Bali, Taman Ayun berarti “taman yang indah”. Sebagai salah satu pura Bali yang dibuat oleh Kerajaan Mengwi kuno, Pura Taman Ayun ini juga dimaksudkan sebagai tempat wisata keluarga kerajaan, sehingga pada bagian dari pura Hindu ini sangat indah.

Pura Taman Ayun merupakan salah satu pura Bali yang dijadikan sebagai tempat untuk beribadah serta untuk tujuan wisata terkenal di Bali Indonesia. Pura ini terletak di desa Mengwi, Kabupaten Badung, Bali ,Indonesia. Lokasinya berjarak sekitar 18 km dari kota Denpasar yang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Akses ke pura ini sangat mudah, karena didukung oleh ruas jalan raya yang baik. Pura ini dibangun pada tahun 1634 oleh raja Mengwi pertama, bernama Tjokerda Sakti Blambangan. Pura ini awalnya dibangun untuk masyarakat Mengwi pada saat itu, karena pura yang ada sebelumnya terlalu jauh untuk dijangkau. Pura ini dibangun dengan beberapa tujuan, seperti tempat untuk menyembah Tuhan, sama seperti pura utama lainnya yaitu Pura Besakih atau Ulun Danu Batur.

Selain itu, pura ini memiliki mata air yang berada di halaman pura. Mata air ini digunakan sebagai irigasi ke ladang pertanian masyarakat sekitar. Sebagai daerah tujuan wisata dan nilai-nilai keaagamaannya, pura Taman Ayun juga terkenal dengan arsitekturnya. Desain pura khusus didatangkan dari Cina. Jadi, Anda akan melihat kombinasi yang menakjubkan antara gaya arsitektur Cina dengan arsitektur tradisional Bali pada umumnya.

Pura Taman Ayun dibagi menjadi 3 daerah. Daerah pertama yang disebut “Nista Mandala” atau “Jaba Pisan“. Di sisi kanan, ada sebuah bangunan besar yang disebut Wantilan. Tempat ini sering digunakan untuk pertemuan dan pertunjukan seni. Ada juga air mancur yang mengarah ke 9 penjuru mata angin.

 

  PERKEMBANGAN BUDAYA TAMAN AYUN

            Kerajaan Mengwi kini masuk wilayah kabupaten Badung, pernah menguasai hampir seluruh daratan Pulau Bali, bahkan sampai Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Namun, kejayaan dinasti Mengwi itu sirna, tatkala Raja Mengwi kesepuluh, I Gusti Made Agung, kalah dan gugur ketika berhadapan dengan raja Badung tahun 1890 masehi.
Meskipun kerajaan Mengwi jatuh di bawah kekuasaan Raja Badung (Pamecutan kini di wilayah kota Denpasar), hingga akhirnya Indonesia merdeka, namun sisa-sisa kejayaan itu masih kokoh dan tegar hingga sekarang. Salah satu saksi bisu kejayaan kerajaan Mengwi yang kini berubah nama menjadi Puri Agung Mengwi, 18 km barat laut Denpasar adalah Pura Taman Ayun, yang dulunya adalah tempat suci khusus anggota keluarga besar kerajaan Mengwi.
Sejarah asal-usul Pura Taman Ayun erat kaitan dengan berdirinya kerajaan Mengwi pada tahun 1627. Pura besar itu dibangun waktu pemerintahan Raja Mengwi yang pertama, I Gusti Agung Ngurah Made Agung yang kemudian bergelar Ida Tjokorda Sakti Blambangan. Pura “Paibon” atau Pedarman dari keluarga raja Mengwi untuk memuja roh leluhur yang tetap kokoh hingga sekarang, meskipun beberapa kali pernah mengalami perbaikan, kini disungsung oleh 37 desa adat (Pekraman) sekecamatan Mengwi. Kawasan Pura Taman Ayun, Mengwi, kabupaten Badung bersama dua kawasan lainnya di Bali masing-masing Catur Angga Batukaru Kabupaten Tabanan dan kawasan daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan, Kabupaten Gianyar yang merupakan satu kesatuan telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia. Bupati Badung Anak Agung Gede Agung yang juga keturunan dari Puri Mengwi (yang dulunya kerajaan Mengwi) bersama  Bupati Gianyar Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati dan delegasi Indonesia menghadiri langsung sidang pleno UNESCO tersebut. Ia mengatakan delegasi  Indonesia merasa bangga karena saat situs budaya Bali dipresentasikan para peserta sidang menyimaknya dengan serius dan delegasi peserta negara lain memberikan apresiasi yang luar biasa pada sistem pengairan subak yang sudah teruji keberhasilannya sejak abad ke-12.
Tim UNESCO setelah mendengarkan penjelasan tentang sistem pengairan tradisional Pulau Dewata itu, langsung memutuskan dan mengukuhkan hamparan lahan sawah yang menghijau, dengan lokasi berundag-undang kawasan Catur Angga Batukaru Kabupaten Tabanan bersama Taman Ayun (Badung) dan Pakerisan (Gianyar) sebagai warisan budaya dunia.
Penetapan UNESCO merupakan bentuk apresiasi sebagai representasi masyarakat dunia atas nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali yang telah mengimplementasikan Tri Hita Karana, hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan baik, salah satunya tercermin pada situs Pura Taman Ayun.
Pura Taman Ayun yang juga menjadi salah satu objek wisata menarik karena setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri itu, selain kawasannya tertata rapi tetap menjaga keaslianya seperti zaman kerajaan dulu. Warisan kejayaan zaman kerajaan Mengwi itu hingga sekarang masih lestari dan kokoh antara lain berupa puluhan tempat suci dan meru (bangunan suci) bertingkat tiga, lima, tujuh, sembilan dan sebelas, disamping bangunan kuna dengan ukiran dan arsitektur tradisional Bali.Sedikitnya ada 50 buah pelinggih dan bangunan suci di kawasan suci Pura Taman Ayun, yang hingga sekarang kondisinya terglong baik, yang berlokasi sekitar 17 km utara Kota Denpasar.
Situs Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO terdapat pada kelompok situs budaya satu-satunya diwakili oleh Provinsi Bali, dengan tema “Cultural Landscape of Bali Province: The Subak System as a  Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy”. Tim UNESCO sebelumnya telah beberapa kali melakukan  kunjungan ke Bali yang meliputi Kawasan Pura Taman Ayun, Kabupaten Badung,  Catur Angga Batukaru Kabupaten Tabanan dan kawasan daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan, Kabupaten Gianyar. Ketiga kawasan itu mengusung tema sistem subak sebagai implementasi filosofi Tri Hita Karana, Menurut Humas Pemkab Badung Anak Agung Raka Raka Yuda, penetapan Taman Ayun sebagai WBD bukan sekadar untuk kepentingan kepariwisataan. Nilai  strategisnya adalah pengakuan UNESCO sebagai representasi negara-negara di dunia terhadap nilai-nilai kearifan lokal Bali, yakni  Tri Hita Karana, yang salah satunya diwujudkan melalui sistem subak.
Dengan adanya pengakuan dunia terhadap WBD di Bali akan semakin menggugah kepedulian semua pihak untuk benar-benar melestarikan danmengimplementasikan nilai-nilai warisan leluhur. Kawasan suci Pura Taman Ayun merefleksikan nilai-nilai Tri Hita Karana, dengan fungsi sosial ekonomi dan religius.  Dari aspek sosial ekonomi berfungsi sebagai estuari dam, sehingga pada saat musim kemarau kebutuhan air irigasi persawahan dapat disuplai dari lokasi itu. Kawasan Pura Taman Ayun dengan didukung 12 subak dengan ratusan ribu hektare hamparan sawah di kawasan  daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan, Kabupaten Gianyar dan  subak di kawasan Catur Angga Batukaru Kabupaten Tabanan menjadi satu kesatuan sebagai warisan budaya dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.5 DENAH  PURA TAMAN AYUN

 

 

1 Candi Padmasana : Pelinggih Hyang Siwa Raditya
2 Meru tumpang 11 : Pelinggih Hyang Gunung Batukau
3 Tugu : Pelinggih Batara Dugul – dewata bagi padi di sawah
4 Gedong : Pelinggih Batara Puncak Padangdawa
5 Gedong : Pelinggih Dewan Gusti
6 Meru tumpang 11 : Pelinggih Batari Ulunsuwi (Dewi Sri)
7 Candi Kuning : Pelinggih Dewi Ciligading
8 Meru tumpang 11
9 Bale Saka 9 : Bale Gong, balai tempat menabuh gambelan
10 Candi : Pelinggih Hyang Pura Sada
11 Gedong Pelinggih Ibu : Pelinggih Paibon leluhur penguasa puri Mengwi
12 Bale Panggungan
13 Bale Pepelik
14 Meru Tumpang 9 : Pelinggih Hyang Gunung Batur
15 Meru Tumpang 11 : Pelinggih Hyang Gunung Agung
16 Meru Tumpang 9 : Pelinggih Hyang Pengelengan Pucak Mangu
17 Gedong : Pelinggih Batara Wawu Rauh
18 Bale Pawedan : Tempat Sulinggih memimpin upacara
19 Bale Saka 8
20 Bale Saka 9 : Bale Gong
21 Meru Tumpang 7 : Pelinggih Ida Betara Kawitan
22 Meru Tumpang 5 : Pelinggih Batu Ngaus
23 Meru Tumpang 3 : Pelinggih Sang Hyang Pasurungan
24 Meru Tumpang 2 : Pelinggih Ratu Pasek Badak
25 Bale Piyasan : Tempat menghias pratima
26 Bale Murda : Tempat untuk para sesepuh
27 Gedong : Gedong Pesimpenan
28 Kori Agung
29 Segaran

 

 

 

SEJARAH GAMBELAN SLONDING

  1. Pembahasan

            Menurut Pande Wayan Tusan terbacanya istilah Salonding yang kemudian terkenal dengan nama Selonding di Bali, berdasarkan temuan dalam sebuah lontar kuno yaitu BABAD USANA BALI, ada menyebutkan bahwa seorang raja besar di zaman dahulu yang bergelar Sri Dalem Wira Kesari bertahta di lereng Gunung Tolangkir ( Gunung Agung), dan Pemerajan Selonding adalah tempat pemujaan beliau. Lontar tersebut antara lain menyebutkan :

…Walwi ikang katha, ingkuna hana rakwa bhumi natha apuspata sira Sri Dalem Wira Kesari, ri lambunging giri Tolangkir sthananira. Atyanta prabhawanireng rat, sira purwakaning ratu lwih dharma jnana. Atur sanghyang jina angawatara. Sira tegegingtapa bratha Samadhi, sewanire haneng kahuripan, Kahyangan salonding pamuja nira haji. Matangyan Dalem Salonding kalokeng rat. Sira tamangun ikang sad kahyangan haneng bangsul… ganta gumanti anyakradhala anak, putu, kumpi,ratu ing singa duala

Yang artinya lebih kurang :

Kembali di ceritakan, konon pada jaman dahulu ada seorang raja, yang bergelar Sri Dalem Wira Kesari, beristana di lereng Gunung Agung, amat berwibawa di dunia ( karena ) beliau lah sebagai seorang raja terkemuka yang menegakkan Dharma Jnana, bagaikan bhatara Buddha menjelma, ( terkenal ) taat dalam melaksanakan tapa brata dan Samadhi. Beliau adalah Dynastie Koripan ( di Bali ) dan Pura ( Merajan ) Selonding adalah tempat pemujaan beliau, itulah sebabnya beliau terkenal juga dengan gelar Dalem Selonding. Beliau lah yang membangun ( Pura ) Sad Kahyangan di Bali… Anak, cucu, kumpi, ( beliau ) berganti- ganti menjadi raja di singadwala.

            Sebagaimana seperti yang tersirat dalam Lontar Babad Usana Bali ini, rupa-rupanya masih perlu dikaji bukti historinya. Dari beberapa definisi para ahli , Pande Wayan Tusan menganggap defenisi mereka masih menurut sudut pandang mereka masing-masing dan dari beberapa defenisi itu masing-masing mempunyai makna untuk saling melengkapi satu sama lain. Pande Wayan Tusan menurut pandangannya sendiri, mengatakan bahwa kosa kata Salunding yang kini berubah menjadi Selonding itu sudah baku, tidak usah diuraikan atau diberikan tafsiran lain. Kosa kata Salunding itu sudah ada pada zaman Kediri Jawa Timur pada abad XI, tercantum pada lontar Kakawin Bharatayuddha.

            Asal usul pemberian nama “Salunding” pada gamelan itu, bermula dari sebagaimana asal usul pemberian nama secara lokal dari sesuatu benda yang biasanya memakai bahasa domestik pula yang diambil dari unsure-unsur yang paling dominan dari benda tersebut, misalnya dari: bunyi, ciri-ciri, rupa, dan sifat-sifat yang sejenisnya.

            Contoh yang paling dekat dengan lingkungan kehidupan sehari-hari, seperti: binatang piaraan yang kita namakan “kucing” itu yang dalam bahasa lokal (Bali) dinamakan “Meong”atau”Meng”. Karena yang memberikan identitas pada binatang jenis itu adalah bunyinya yang khas: “meong-meong” dan ada juga yang mendengar “meeng-meeng”. Dalam ilmu pengetahuan disebut Felis Domestikus.

            Demikian pula halnya dengan instrumen yang dinamakan “SALUNDING” itu. Bunyi yang khas dan dominan dari instrumen ini, menurut pendengaran orang Bali berbunyi “Dlung-nding, dlung-nding”. Orang yang nabuh sering dikatakan “ny’lunding” karena dalam sistem pukulannya mempergunakan dua buah panggul (alat pukul), yang kerap terdengar “Dlung-nding, dlung-nding”. Kata “Selonding” timbul dari gejala onomatope, yaitu pemberian nama lokal yang timbul dari gejala peniruan bunyi, dari benda bersangkutan.

            Dengan uraian ini dapat kita simpulkan, bahwa kosa kata “Salonding”, untuk nama seperangkat gamelan ini sudah baku, karena secara tekstual telah terpakai sejak 846 tahun lalu dalam Prasasti Campetan (1071 S).

            Tidak usah terlalu jauh “menggugat” kosa kata “Salonding” itu, sampai terpeleset beranjak mengikuti jalur Sophiisme, hanyut dalam folk etimologi nyasar, yang mungkin bisa mengaburkan makna yang sebenarnya. ( 2002 : 12-18 ).

2.2 Gamelan Selonding di Tenganan Pegringsingan

            Legenda selonding di Tenganan Pegringisingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem diyakini sebagai piturun. Mnurut cerita yang di yakini oleh masyarakat pendukungnya, bahwa cerita itu memang benar- benar terjadi, mengenai adanya tiga bilah Gambelan Selonding yang amat di sakralkan, dan di keluarkan pada waktu upacara- upacara tertentu. Gambelan itu berfungsi sebagai lambing suci dan di beri gelar Bagus Selonding.

            Turunnya gambelan ini menurut cerita orang- orang tua di Tenganan Pegringsingan, konon di dahului dengan suara gemuruh menderu- deru di atas desa Tenganan. Suara gemuruh itu datangnya bergelombang- gelombang. Gelombang pertama mendekat ke bumi dan akhirnya turun di Desa Bunghaya, yaitu sebuah desa yang terletak di arah timur laut Desa Tenganan. Setelah suara itu sampai di bumi ternyata di tempat tersebut di ketemukan tiga bilah Gambelan Selonding, yang kini di sungsung di Tenganan Pegringsingan sebagai lambing suci.

2.3 Gambelan Selonding Piturun di Tigawasa Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng

            Adanya Selonding di tigawasa rupanya tidak jauh berbeda dengan legenda selonding piturun di Tenganan. Menurut ceritanya rakyat di desa itu asal-usul Selonding yang ada di Tigawasa bermula dari adanya suara dari angkasa di atas desa Sidatapa dan Sepang. Lalu para pemangku dan tertua di desa Sidatapa dan Sepang melakukan suatu upacara mengharapkan supaya “Bhatara” berkenan turun tetapi suara- suara itu terus bergerak menuju desa Tigawasa. Di desa Tigawasa ini juga diadakan upacara pemendak oleh tetua desa dan pemangku. Akhirnya suara di angkasa itu berkenan turun metapakan Selonding yang sampai kini amat di sucikan oleh masyarakat di desa Tigawasa.

2.4 Gamelan slonding menurut I Wayan Dibia

            Dalam bukunya yang berjudul “ Pengantar Karawitan Bali “, Wayan Dibia menyebutkan gamelan slonding merupakan gamelan sacral yang terbuat dari besi yang hanya terdapat di daerah Karangasem yaitu di desa Tenganan Pegringsingan dan di desa Bongaya. Di duga juga ada gamelan slonding yang di buat dari kayu, namun sampai saat ini instrumen itu belum dijumpai. Nama lengkap dari slonding besi di Tenganan pegringsingan ialah Bhatara Bagus Slonding yang berarti Slonding adalah leluhur yang Maha Kuasa.

            Kata slonding diduga berasal dari kata Salon dan Ning yang berarti tempat suci. Dilihat dari fungsinya bahwa slonding adalah sebuah gamelan yang dikramatkan atau disucikan. Pendapat lain yang menyebutkan bahwa slonding berasal dari kata saron dan ding yang berarti bilah-bilah gamelan dengan nada terendah yaitu ada ding. Pendapat terakhir belum bisa diterima oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan, namun kenyataannya gamelan itu terdiri dari bilah-bilah besi yang panjang dan besar, dibandingkan dengan gamelan lainnya di Bali dan dimulai dengan nada nding.

            Mengenai sejarah gamelan slonding ini belum diketahui orang, ada sebuah mythology yang menyebutkan bahwa pada zaman dulu orang-orang Tenganan mendengar suara gemuruh dari angkasa dan suara itu datangnya bergelombang. Pada gelombang pertama suara itu turun di Bongaya ( sebelah timur laut tenganan) dan pada gelombang kedua suara itu turun di Tenganan Pegringsingan. Setelah suara itu samapi di Bumi ternyata diketemukan gamelan Slonding yang berjumlah tiga bilah. Bilah-bilah itu diturunkan lagi dan kini gamelan Slonding di Tenganan terdiri dari 8 (delapan ) tungguh yang berisi 40 (empat puluh) bilah, 6(enam) tungguh masing-masing berisi 4 (empat) bilah dan yang 2 ( dua ) tungguh berisi 8 ( delapan ) bilah. ( 1977/1978 : 12-13 )

            Adapun nama-nama tungguhnya ialah :

  1. Gong ( 2 buah ) masing-masing 4 bilah = 8 bilah
  2. Kempul ( 2 buah ) masing-masing 4 bilah = 8 bilah
  3. Pe-enem ( 1 buah ) = 4 bilah
  4. Petuduh ( 1 buah ) =  4 bilah
  5. Nyongnyong alit ( 1 buah ) = 8 bilah
  6. Nyongnyong ageng ( 1 buah ) = 8 bilah

Sehingga jumlah bilah seluruhnya adalah 40 ( empat puluh ) bilah.

            Laras yang dipakai ialah laras pelog 7 nada, yaitu terdiri lima nada pokok dan dua nada pamero. Namun demikian tiap-tiapada juga bisa berfungsi sebagai nada pokok, tergantug dari patet yang dipergunakan.

            Dalam gamelan slonding terdapat enam patet yaitu :

  1. Patet Panji Marga
  2. Patet Sondong
  3. Patet Puja Semara
  4. Patet Kesumba
  5. Patet Sadi
  6. Patet Salah

Mengenai repertoire dari gamelan Slonding terdiri dari :

  1. Gending-gending Geguron :
  2. Ranggatating
  3. Kulkul Badung
  4. Darimpog
  5. Kebogerit
  6. Gending-gending Petegak ( sebelum upacara dimulai ) :
  7. Sekar gadung
  8. Nyangyangan
  9. Rejang Gucek
  10. Rejan ileh
  11. Gending-gending untuk mengiring tari :
  12. Gending rejang
  13. Rejang Dauh Tukad
  14. Duren ijo

SEJARAH, MAKNA DAN RANGKAIAN PELAKSANAAN DARI HARI RAYA NYEPI

SEJARAH, MAKNA DAN RANGKAIAN PELAKSANAAN

DARIHARI RAYA NYEPI

Sejarah Nyepi

Kondisi India sebelum Masehi, diwarnai dengan pertikaian yang panjang antara suku bangsa yang memperebutkan kekuasaan sehingga penguasa (Raja) yang menguasai India silih berganti dari berbagai suku, yaitu: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa, dan Saka. Diantara suku-suku itu yang paling tinggi tingkat kebudayaanya adalah suku Saka. Ketika suku Yuehchi di bawah Raja Kaniska berhasil mempersatukan India maka secara resmi kerajaan menggunakan sistem kalender suku Saka. Keputusan penting ini terjadi pada tahun 78 Masehi. Pada tahun 456 M (atau Tahun 378 S), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka asal dari Gujarat, India. Beliau mendarat di pantai Rembang (Jawa Tengah) dan mengembangkan Agama Hindu di Jawa. Ketika Majapahit berkuasa, (abad ke-13 M) sistem kalender Tahun Saka dicantumkan dalam Kitab Nagara Kartagama. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia. Masuknya Agama Hindu ke Bali kemudian disusul oleh penaklukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga sekarang. Perpaduan budaya (akulturasi) Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Caka inilah yang menjadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi seperti saat ini.

 

 

Pengertian Nyepi

Nyepi berasal dari kata “sepi”, “sipeng” yang berarti sepi, hening, sunyi,  senyap. Seperti namanya perayaan tahun baru caka bagi umat hindu di Indonesia ini dirayakan sangat berbeda dengan perayaan Tahun Baru lainnya, dimana perayaan umumnya identik dengan gemerlapnya pesta dan kemeriahan, dan euforia dan hura-hura tetapi umat Hindu dalam merayakan Nyepi malah dilaksanakan dengan Menyepi, “Sepi”, “Hening”,”Sunyi”,”Senyap”.

Makna Nyepi

Jika kita renungi secara mendalam perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia. Seluruh rangkaian Nyepi merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud.Sehingga melalui Perayaan Nyepi, dalam hening sepi kita kembai ke jati diri (mulat sarira) dan menjaga keseimbangan/keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan (Butha) dan sesama sehingga Ketenangan dan Kedamaian hidup bisa terwujud.

 

Pelaksanaan Nyepi di Bali

Pelaksanaan Nyepi di Bali memang unik dan istimewa,  konsep“mulat sarira” dengan “Catur Brata Penyepian” nya memang sangat relevan dengan kondisi dunia sekarang ini. Saat ini bumi kita sedang menghadapi berbagai masalah seperti global warming, alam yang rusak karena polusi dan eksploitasi besar-besaran, krisis energi dan permasalahan lainnya yang disebabkan oleh kemerosotan moral.Perayaan Nyepi dengan Catur Brata Penyepiannya membuat Bali sebagaisatu-satunya pulau di dunia yang mampu mengistirahatkan seisi pulau secara total sehari penuh dari berbagai aktivitas.

Rangkaian Pelaksanaan Nyepi

Perayaan Nyepi terdiri dari beberapa rangkaian upacara yaitu :

  1. Melasti berasal dari kata  Mala= kotoran/ leteh, dan Asti = membuang/memusnahkan.Melasti merupakan rangkaian upacara Nyepi yang bertujuan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran (buana alit), dan juga alat upacara (buana agung) serta memohon air suci kehidupan (tirta amertha) bagi kesejahteraan manusia.  Pelaksanaan melasti ini biasanya dilakukan dengan membawa arca,pretima, barong yang merupakan simbolis untuk memuja manifestasi Tuhan Ida Sang Hyang Widi Wasa diarak oleh umat menuju laut atau sumber air untuk memohon permbersihan dan tirta amertha (air suci kehidupan).
  1. Tawur Agung/Tawur Kesanga atau Pengerupukan dilaksanakan sehari menjelang Nyepi yang jatuh tepat pada Tilem Sasih Sesanga. Pecaruan atau Tawur dilaksanakan di catuspata pada waktu tepat tengah hari. Filosofi Tawur adalah sebagai berikut tawur artinya membayar atau mengembalikan. Apa yang dibayar dan dikembalikan? Adalah sari-sari alam yang telah dihisap atau digunakan manusia. Sehingga terjadi keseimbangan maka sari-sari alam itu dikembalikan dengan upacara Tawur/Pecaruan yang dipersembahkan kepada Bhuta sehingga tidak menggangu manusia melainkan bisa hidup secara harmonis (butha somya.  Setelah tawur pada catus pata diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Pada malam pengerupukan ini, di bali biasanya tiap desa dimeriahkan dengan adanya ogoh-ogoh yang diarak keliling desa disertai dengan berbagai suara mulai dari kulkul, petasan dan juga “keplug-keplugan” yaitu sebuah bom khas bali yang mengeluarkan suara keras dan menggelagar seperti suara bom, yang dihasilkan dari proses gas dari karbit dan air yang dibakar mengeluarkan suara ledakan yang mengelegar.
  2. Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi jatuh pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa . Umat Hindu merayakan Nyepi selama 24 jam, dari matahari terbit (jam 6 pagi) sampai jam 6 pagi besoknya. Umat diharapkan bisa melaksanakan “Catur Brata Penyepian” yaitu : Amati Geni artinya tidak boleh berapi-api baik api secara fisik maupun api didalam diri (nafsu). Amati Karya  artinya tidak boleh beraktivitas/bekerja. Amati Lelungan, dari kata lelunga yang artinya bepergian, artinya tidak boleh bepergian keluar rumah. Amati Lelanguan artinya tidak boleh bersenang-senang/ menyalakan TV/radio yang bersifat hiburan. Dengan adanya Catur Brata Penyepian ini, mengingatkan kita agar belajar pendalian diri dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian sehingga kita bisa fokus dan berkonsentrasi dengan baik untuk mulat sarira (kembali ke jati diri) melalui perenungan dan meditasi.

  1. Ngembak Geni

Ngembak geni berasal dari kata ngembak yang berarti mengalir dan geni yang berarti api yang merupakan symbol dari Brahma (Dewa Pencipta) maknanya pada hari ini tapa brata yang kita laksanakan selama 24 Jam (Nyepi) hari ini bisa diakhiri  dan kembali bisa beraktivitas seperti biasa, memulai hari yang baru untuk berkarya dan mencipta alias berkreativitas kembali sesuai swadharma/kewajiban masing-masing. Ngembak geni biasanya diisi dengan kegiatan mengunjungi kerabat dan saudara untuk mesima krama, bertegur sapa sambil mengucapkan selamat hari raya dan bermaaf-maafan.

GONG DALAM KERAWITAN BALI

 

  1. Pembahasan

Sebagaimana kita ketahui, gong merupakan sebuah alat atau instrumen dalam sebuah barungan gamelan yang bentuk dari instrumen gong itu adalah bundar  dan mempunyai titik di tengahnya sebagai pusat resonasi dengan yang lebih menonjol dimana bahannya dari kerawang ( perunggu ) yang diameternya antara 75 sampai dengan 90 cm. Instrumen tergolong ke dalam instrumen berpencon atau bermoncol yang memiliki satu muka/mua. Gong biasanya digantung dengan dua buah tiang yang berbahan kayu yang biasanya disebut tungguh gong. Instrumen gong adalah instrumen yang terdapat hampir di sebagian besar barungan gamelan yang ada di Bali, seperti pada barungan gamelan gong gede, gong kebyar, gong luang dan lain-lain. Cara memainkan instrumen gong yaitu dengan cara dipukul tepat pada moncolnya dengan panggul khusus yang di Bali disebut dengan panggul gong, semakin keras pukulan gong maka semakin keras juga bunyi yang dihasilkan.

Dari buku yang saya baca, saya menemukan beberapa filosofi mengenai gong. Jika dihubungkan dengan pola rasional yang terdapat dalam instrumen gong bentuk lingkaran tersebut mencerminkan sebuah nilai tertinggi dari kehidupan, kosong, tanpa awal tanpa akhir, yang berarti moksa atau ngahiyang, selain bentuknya yang bulat berupa lingkaran dengan tengahnya yang sedikit menonjol, gong pun mempunyai peran yang melingkar dan bersatu dengan instrumen gamelan lainnya ( Jakob Sumardjo).

Jika di tinjau dari aspek multikultural, kekuatan gong sebenarnya sudah dikenal dan mempengaruhi permainan musik di luar nusantara termasuk karya-karya baru yang khusus diciptakan untuk instrumen gong. Secara garis besar musik barat itu cerdas dan punya arah yang jelas, seperti suratan takdir yang sudah terbaca ( ada perkembangan dan solusi yang tak bisa dihindari ), sedangkan gamelan hanya berputar-putar yang tidak peduli waktu (Slamet Abdul Sjukur. Game – Land No.5).

Kata gong di Bali kebanyakan dipakai sebagai nama awal sebuah barungan, seperti gong gede, gong kebyar, gong luang, gong suling, dan lain-lain.  Alasan digunakannya kata gong di awalan sebuah barungan mungkin menurut saya dikarenakan peranan gong sangatlah penting dalam sebuah barungan gamelan tersebut. Gong berperan sebagai bagian dar  kerangka utama dalam sebuah rangkaian lagu. Gong di dalam permainan gamelan, baik itu dalam karya baru yang dibuat untuk kebutuhan ritual maupun karya baru untuk hiburan, memiliki peran yang sangat penting, dimana gong dipakai sebagai penanda awalan mulainya sebuah gending dan akhiran sebuah gending  tersebut dan memberikan rasa keseimbangan setelah berlalunya kalimat lagu. Selain sebagai penanda awalan dan akhiran sebuah gending atau lagu gong juga menentukan jatuhnya tekanan-tekanan lagu sesuai dengan tujuan dari lagu atau gending itu sendiri. Gong bisa di katakan sebagai penanda siklus gending yang artinya penanda pengulangan gending yang di mainkan setelah berlalunya kalimat lagu dan lagu tersebut di ulang-ulang.

Gong di dalam masyarakat Bali sering dikatakan sebagai hal yang di wingitkan/di sakralkan . Dimana sakral merupakan seni atau benda yang dikeramatkan. Dalam masyarakat Bali sakral identik dengan kata “tenget” atau angker. Tenget yang dimaksud bukan berarti hal yang negatif, melainkan tenget yang dimaksud adalah menempatkan sebuah benda tidak disembarangan tempat dan biasanya gong yang disakralkan di dalamnya berstana para dewa, bhatara, dan roh leluhur yang diyakini oleh masyarakat yang bisa membawa kedamaian di wilayah tersebut. Bukti nyata dari pernyataan itu adalah  jika gong yang disakralkan disalahgunakan  penyungsung dari gong tersebuat akan mengalami kerauhan dan penyungsung dilanda bahaya tanpa ada sebab yang pasti. Selain itu bukti nyata yang pernah saya lihat di daerah saya adalah gong yang ada di pura berbunyi sendiri tanpa ada yang memukulnya, saya melihat dengan nyata kejadian itu dari mata dan mendengar bunyi gong itu dari telinga saya sendiri.

Selain itu sekarang gong sering digunakan dalam acara-acara peresmian untuk pembukaan atau penutupan suatu acara resmi tersebut. Contohnya dalam peresmian pembukaan pesta kesenian Bali, pembukaan wisuda dalam sebuah Universitas dan acara resmi lainnya. Namun dari banyaknya fungsi dan kegunaan gong ,tidak sepenuhnya gong bisa digunakan di berbagai jenis acara. Misalnya saja di Jawa, gong tidak dibolehkan untuk dibunyikan saat upacara kematian seseorang atau kerajaan, namun di Bali gong bisa dimainkan pada acara apapun termasuk acara kematian begitu juga di daerah lain. Dan sekarang gong juga digunakan sebagai penyatu  negara-negara di dunia yang disebut dengan Gong Perdamaian , dimana letak Gong Perdamaian itu berada di Bali.

Dari pembahasan  mengenai pengertian, filosofi, dan fungsi gong saya mendapatkan pengetahuan mengenai nilai estetika yang terkandung di dalam instrumen gong tersebut, yaitu nilai estetika intrinsic yang di paparkan oleh The Liang Gie dalam bukunya yang berjudul Filsafat Keindahan. Yang isinya adalah :

Gong memiliki nilai estetika atau nilai keindahan intrinsik. Dimana nilai intrinsik itu meliputi nilai keberhargaan, keunggulan, dan kebaikan yang melekat pada nilai yang terkandung dalam instrumen gong itu sendiri. Nilai itu dapat di indra dengan mata, telinga, atau keduanya.