Archive for Desember, 2011

SAAT TERAKHIR by: ST 12

Desember 29th, 2011
  • ST 12 adalah grup band indonesia yang didirikan di bandung, jawa barat pada tahun 2004. Grup ini didirikan oleh Ilham Febry alias pepep (drum), Dedy Sudrajat alias pepeng (gitar), Muhammad Charly VanHouten alias Carly (vokalis), dan Iman Rush (gitaris). Nama ST 12 sendiri merupakan kepanjangan dari jl. Stasiun Timur no. 12 yang merupakan markas berkumpulnya band ini. Sampai saat ini ST 12 telah menghasilkan 5 album musik.

Adapun beberapa hal yang perlu saya komentari

  • Backrond dalam video
  • Penggunaan alat musik
  • kostum
  1. backround dalam video ini menggunakan latar sebuah taman. Menurut saya, latar atau backround yang cocok untuk video ini adalah backround yang berhubungan dengan sesuatu tempat yang membuat kita mengingat seseorang yang sudah jauh dari kita atau yang sudah meninggal, karena video ini menceritakan seseorang yang kita cintai pergi jauh meninggalkan kita/sudah mati.

 

  1. Penggunaan alat music didalam video ini tidak di perlihatkan, padahal saya mendengar suara gitar yang sangat dominan terdengar dalam video ini, jadi menurut saya instrument gitar perlu di munculkan di dalam viseo ini.

 

 

  1. Kostum yang dipakai oleh personil grup band ini masih terbilang sederhana, mungkin itu dikarenakan grup band ini mengambil konsep yang begitu sederhana untuk masalah kostumnya.

 

Demikian sedikit komentar saya menganai video ini, jika ada kekurangan dan salah kata, mohon dimaakan, sekian dan terimakasi.

 

Posted in Lainnya | Comments (22)

Salah satu tokoh seni yang multi talenta di desa keramas

Desember 29th, 2011

I Gusti Agung Wiyat S. Ardi atau sering di sapa dengan panggilan Gung Wiyat adalah salah satu dari beberapa tokoh-tokoh seniman asal desa keramas. Beliau lahir dan besar di Puri Anyar keramas gianyar pada tanggal 03 februari 1946. Beliau mulai berkeluarga pada tahun 1967. Beliau memiliki dua istri yang bernama A.A. Oka suadi dan A.A. Manik. Istri pertama berasal berasal dari puri anyar keramas, sedangkan istri ke dua berasal dari puri taman bali bangli. Istri pertama adalah seorang guru SD di desa keramas, dan istri kedua adalah seorang kepala sekolah di TK Negeri Internasional bangli. Dari pernikahan pertama, beliau di karuniai 3 orang anak, dan dari pernikahan ke dua beliau di karuniai seorang anak. Adapun nama-nama anak I Gusti Agung Wiyat S. Ardi  di antaranya bernama :

  • Anak pertama bernama I Gusti Agung Kimfajar Wiyati Oka
  • Anak kedua bernama I Gusti Agung Kasturi Wiyati Oka
  • Anak ketiga bernama I Gusti Agung Adistana Awiyata
  • Anak ke empat bernama I Gusti Agung GD Adi Laksmana Awiyata

Pada tahun 1965, beliau ikut di dalam klompok Drama yang cukup popular di Bali yaitu ‘Drama Gong Bali Dwipa’. Di dalam Drama Gong Bali Dwipa ini, beliau berperan sebagai Raja Bagaspati. Rja Bagaspati ini memiliki karakter antagonis. Beliau sangatlah piawai dalam memerankan karakter sebagai Raja Bagastati ini. Seiring berjalannya waktu, karena beliau ingin lebih memperdalam ilmu di bidang seni dan ingin menjadi seorang seniman yang professional, Beliau memulai pendidikan seninya di ASTI pada tahun 1972, dan lulus sebagai sarjana muda pada tahun 1977.

Di STSI beliau mengambil jurusan seni tari. Tapi beliau juga piawai dalam bermain gambelan, salah satunya beliau sangatlah piawai dalam memainkan instrument suling. Beliau adalah salah satu penari yang cukup dikenal pada masanya. Pada tahun 1989 beliau melanjutkan pendidikan di bidang agama hindu, dan lulus pada tahun 1997 dengan gelar sarjana agama hindu. Beliau juga adalah seorang penulis ternama. Hobby menulis ini sudah di geluti dari tahun 1965. Berbagai jenis penghargaanpun sudah pernah di raih  oleh beliau. Adapun beberapa tulisan dan penghargaan yang sudah pernah beliau peroleh, diantaranya adalah :

  1. Warsa 1965, ngawit ngripta “cerpen” mabhasa Indonesia, kaunggahang ring BALI POST, puisi-puisi taler wenten kamuat ring Majalah KARTINI Jakarta.
  2. Warsa 1989, molihang juara 1 penulis “cerpen” mabhasa Bali mamurdha TOH, sinarengan molihang juara 1 penulis “puisi” mabhasa bali mamurda SIBAK PETENGE MANADI GALANG.
  3. Warsa 1991, juara II penulis penulis “cerpen” mamurda KAMBEN POLENG MAURAB GETIH, sinarengan molihang juara harapan “cerpen” mamuerdha AAS.
  4. Warsa 1995, juara II ngripta “cerpen” mamurdha ACINTYA
  5. Warsa 1997, juara I ngripta “cerpen” mamurdha BOGOLAN
  6. Warsa 1999, Penulis Terbaik Naskah Drama Gong mamurdha GUSTI AYU KLATIR
  7. Warsa 2000, polih anugrah WIJA KESUMA saking pemerintah kabupaten Gianyar
  8. Warsa 2001, polih penghagaan GANCAGE saking Yayasan Rancage Badung risampune nerbitang lan ngwedarang buku mamurdha GENDING GIRANG SISI PAKERISAN
  9. Warsa 2001, ngripta buku mamurdha KIDUNG GURIT KSATRIYA MARUTI, marupa satua babad matembang Sekar Alit. Ping tiga molihang juara III, apisan juara harapan menulis lagu pop mabhasa Bali ring Pesta Kesenian Bali
  10. Warsa 2002, nerbitang mimah ngewedarang pupulan ‘sandiwara’ mabhasa Bali mamurda BOGOLAN. Sandiwara sane mamurda Bogolan sampun naenin kasolahang ring KSHIRARNAWA sareng Theater PALGUNA , asapunika taler ‘sandiwara’ sane mamurda MANDOR BAWAK, sampun naenin kasolahang TVRI Denpasar, taler sareng Theater PALGUNA
  11. Warse 2004, nyalin lan negesin PRASNIKA PARWA lan SWARGA ROHANA PARWA ngangge aksare Bali
  12. Warsa 2004, nyalin miwah negesin KAPI PARWA lan TANTRI KAMANDAKA (palawakya), ngangge aksara Bali
  13. Warsa 2004, ngripta miwah nerbitang ‘novel’ mabhasa Bali mamurda BUKIT BUUNG BUKIT MENTIK
  14. Warsa 2006, nyalin miwah negesin WIRATA PARWA ngangge aksara Bali
  15. Warsa 2008, nyali lan negesin UTARA Kanda NGANGGE Aksara Bali
  16. Warsa 2009, ngripta lan nerbitang ‘antologi cerpen’ mabhasa Bali mamurdha DA NAKONANG ADAN TIANGE. (molihang RANCAGE 2010)

Demikian beberapa penghargaan yang sudah pernah di raih oleh I Gusti Agung Wiyat S. Ardi dari tahun 1965-2009. Beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala SPG Saraswati Gianyar dari tahun 1989-1991, dan juga pernah menjabat sebagai Kepala SMA Saraswati Gianyar dari tahun 1993-1997. Dan sekarang  Beliau juga adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMK Saraswati Gianyar.

Posted in Lainnya | Comments (22)

Gambelan gong kebyar tertua di desa keramas

Desember 29th, 2011

Nara sumber :

  1. Wayan Sogok (penabuh generasi pertama)
  2. I Gusti Agung Kt Wali (penglingsir puri)
  3. I Gusti Agung Nyoman Putra Winaya. Dr.G. (salah satu pendiri sanggar seni viatikara Surabaya).

Menurut nara sumber I Gusti Agung Kt Wali yang saya temui di kediamannya pada tanggal 18 september 2011, Awal mula keberadaan gambelan ini diketahui sekitar tahun 1940an. Menurut I Gusti Agung Kt Wali selaku penglingsir puri sareng kangin keramas, gambelan ini awal mulanya adalah pemberian dari penglingsi-penglingsir dulu. Adapun gambelan ini dulunya tidak lengkap atau dulu di bilang gambelan sibak hanya setengahnya saja. Adapun instrument yang pertama kalinya ada antara lain adalah:

  • 1 gong
  • 1 kempur
  • 2 pemade
  • Riong sibak

Gambelan ini dulunya di taruh di ancak saji. Di lingkungan puri, ancak saji adalah sebuah tempat untuk mengistirahatkan keluarga puri yang sudah meninggal sebelum di laksanakan prosesi pelebon. Karena dulu di lingkungan puri tidak ada yang memiliki bakat seni ususnya seni karawitan, maka seiring bajalanya waktu supaya gambelan ini tetap terawat, maka di piceyang atau di berikanlah gambelan tersebut kepada sebuah kelompok manyi yang masih sebagai parekan di puri, karena disana banyak terdapat orang-orang yang memiliki bakat seni ususnya seni karawitan.

Karena kekurangan instrument gamelan, para kelompok atau sekee manyi ini berinisiatip untuk mengumpulkan uang dari hasil manyi mereka itu untuk membeli kekurangan-kekurangan gambelan yang di perlukan untuk melengkapi barungan gambelan tersebut. Seiring berjalannya waktu, sekitar tahu 1960an pada era pemerintaha suharto yang pada saat itu menjadi presiden ke dua di Indonesia setelah bung karno.

Pada tahun1960an inilah awal mula terbentuknya sekee gong generasi pertaman yang dulunya bernama skee gong bengkudu, bengkudu diambil dari nama tempat atau wilayah tempat tinggal sekee atau klompok manyi tersebut. Untuk menjaga dan merawat agar gambelan ini tidak cepat rusak, dari pihak puri-puri yang ada di desa keramas berinisiati ikut dalam merawat gambelan ini supaya tidak rusak. Hal ini di lakukan dengan cara setiap ada kerusakan atau perbaikan-perbaikan, dari pihat puri memberikan dana untuk segala macam jenis perbaikannya,tp dengan syarat yaitu bila di lingkungan puri-puri yang ada di keramas, dari pihak puri berhak memakai gambelan serta sekeenya tanpa imbalan, tapi hanya dikenakan batu-batu sebagai sesari.

Dari generasi pertama ini adapun beberapa nama pelatih yang berjasa dalam melatih sekee generasi pertama ini, salah satunya bernama Kak senen yang berasal dari pinda belahbatuh gianyar. Beliau adalah tipikal pelatih yang ulet dan sedikit tempramen. Dari hasil didikan khas Kak senen inilah sekee generasi pertama bisa menjadi sekee yang cukup di perhitungkan pada waktu itu. Karena pada saat itu Kak senen melatih kedesa keramas hanya dengan berjalan kaki dari desa pinda ke desa keramas, maka sekee berinisiatip membelikan beliau sebuah sepeda gayung piyonik yang ngetren pada saat itu untuk membalas jasa-jasa beliau sebagai pelatih. Seiring berjalannya waktu sekitar tahun 1970an, terbentuklah sekee generasi ke dua.

Pada saat itu sekee benggkudu berubah nama menjadi sekee gong bedanyah, itu dikarenakan adanya rapat subak yang menginginkan agar terjadinya perubaahan nama dari sekee generasi pertama ke generasi ke dua. Pada generasi ke dua ini, bisa dikatakan sebagai sekee yang sukses pada era itu karena pada waktu itu sekee generasi ke dua ini sangat sering mendapatkan undangan-undangan pemerintah untuk melakukan pementasan di wilayah jember, Surabaya, malaisya dan yang terakhir adalah undangan untuk pertukaran budaya ke Bangkok.

Pada waktu skee megambel ke jember, ada kejadian yang mungkin bisa dikatagorikan kedalam kejadian unik, yaitu pada saat berangkat ke jember, salah satu istri dari sekee yang ikut berangkat ke jember sedang hamil tua, dan pada saat suaminya pulang dari jember, dia sudah mengtahui bahwa anaknya sudah lahir, tapi belum memiliki nama. Nah karene dia baru datang dari jember maka dia berinisiatip memberikan nama jember kepada anaknya itu. Dan sampe sekrang pun anaknya itu masih mengingat kejadian unik  itu.

Menurut nara sumber yaitu I Gusti Agung Nyoman Putra Winaya. D.r.G, beliau adalah adik dari I Gusti Agung Kt Wali. Beliau  bisa di bilang sebagi orang yang sangat berpengaruh dalam kesuksesan sekee generasi ke dua pada saat itu, karena beliau adalah seorang penari propesional yang mengajak sekee generasi kedua untuk melakukan pertukaran budaya ke beberapa daerah di Indonesia sampai ke mancan Negara. I Gusti Agung Putra Winaya. D.r.G juga adalah salah satu pendiri sanggar seni Viatikara pusat yang bertempat di Surabaya. Beliau belajar menari secara otodidat, Karena niat dan keinginan beliau yang sangat besar ingin menjadi seorang penari professional.

Menurut I Wayan Sogok yang saya temui di rumahnya pada tanggal 20 september 2011,  beliau sedikit memaparkan bahwa Pada saat itu juga, sekitar tahun 70an, arja RRI dps juga pernah melakukan rekaman pertama mereka di desa keramas dengan iringan dari sekee gong bedanyah generasi ke dua. Arja RRI dps yang pada saat itu di pelopori oleh Kak Monjong yang berperan sebagai wijil. Arja RRI sangatlah terkenal dikalangan arja-arja yang ada di bali kususnya di gianyar. Atas saran Kak Monjong, setiap ada pementasan arja RRI ini, harus selalu di iringin oleh gambelan sekee bedanyah ini.

Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1990an, berdirilah sekee gong generasi ke tiga. Pada saat itu juga sekee gong bedanyah berganti nama lg dengan nama sekee Gong Wardita Kumala. Nama ini diberikan oleh salah satu tokoh seni di keramas yaitu I Gusti Agung Wiyat s.ardi. Beliau adalah salah satu tokoh seni yang membidangi di seni tari olah vocal dan  pedalangan. Beliau juga mengajar sebagai guru bahasa inggris di smk saraswati gianyar. sampek sekarang sekee gong wardita kumala masih tetap berjalan seperti mana biasanya.

Demikianlah sedikit pemaparan saya tentang  gambelan gong kebyar tertua di desa keramas, jika ada kekurangan dalam penyampaiannya, mohon di permaklumi dan di maafkan. Sekian dan terimakasi.

Posted in Tulisan | Comments (31)

MENGOMENTARI GARAPAN YANG BERJUDUL KUALIT

Desember 28th, 2011

 

 

 

 

 

Judul garapan : Kualit

Penata                  : I Gusti Ngurah Alit Supariawan

NIM                      : 2007 02 011

Program Studi : Seni Karawitan

Sinopsis :

Kualit berasal dari kata kual dan alit, kual berarti nakal dan alit berarti kecil, kualit yang dimagsud adalah sebuah tingkah laku anak – anak sering memberikan kenangan yang indah. kenakalan masa kanak – kanak terserbut menjadi inspirasi yang cukup menarik bagi penata untuk digarap kedalam komposisi karawitan. Garapan ini menggunakan media ungkap angklung kebyar dengan mengolah unsur – unsur musikal seperti melodi ritme dan tempo sehingga melahirkan komposisi karawitan tradisi baru yang berjudul kualit.

Pendukung Karawitan : Sekaa Angklung Guna Karya, Br. Adat Pangsan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung

 

Instrument yang digunakan : Angklung kebyar

Jenis garapan : kreasi angklung kebyar

Hal-hal yang perlu di rivew menurut saya antara lain adalah :

  1. Tata panggung
  2. Lighting/tata cahaya
  3. Penggunaan audio
  4. Kekompaan gerak penabuh
  5. Penggunaan pakaian penabuh pendukung dengan pakean yang ujian

 

 

v Tata panggung, sangatlah penting di dalam mendukung kesuksesan suatu pementasan di panggung, itu dikarenakan dalam penataan panggung yang baik akan memepengaruhi kekompaan dalan melakukan pementasan tersebut. Dalam garapan *kualit*, disini saya melihat penataan panggungnya sudah bagus, karena dengan menggunakan barungan gambelan angklung yang tidak begitu banyak, penatata bisa memanfaatkan penataan panggung semaksimal mungkin, jadinya didalam pementasan para penabuh akan merasa nyaman dalam melakukan pementasan, tapi ada sedikit kekurangan gangsa dengan reong, tempat reong kurang tinggi dari tempat ganggsa, jadinya pemain reong kurang kelihatan.

v Lighting / tata cahaya dalam suatu pementasan tata lampu/cahaya(lighting) sangatlah penting dalam mendukung kesuksesan suatu pementasan, kalau tanpa tata cahaya dalam suatu pementasan, maka pementasan itu tidak akan kelihatan menarik karena semua’n akan tarlihat gelap gulita. Dalam garapan *kualit* saya melihat tata cahaya yang digunakan adalah yang cahaya yang general,  jadinya semuanya kelihatan dengan pembagian cahaya yang sama rata.tapi ada sedikit kekurangan dalam  penggunaan cahayannya, karena penggunaan cahayanya terlalu terang, sehingga penonton menjadi silau dalam menonton pementasan itu.

v Penggunan audio, dalam garapan yang berjudul *kualit* ini, saya dapat menyimpulkan bahwa penggunaan audionya sangatlah kurang dan penempatannyapun kurang bagus, itu menyebabkan banyak instrument dari barungan gambelan angklung yang digunakan menjadi tidak terdengar semuanya, pemerataan suaranya menjadi tidak balance. Misalnya dapat kita dengar pada instrument gong, disini saya tidak mendengar jelas suara gong yang di mainkan, itu mungkin dikarenakan kurangnya pemakaian mikrofon di samping gonk. 

v Kekompakan penabuh, dalam pementasan ini, saya melihat kekompakan terutama kekompakan dalam gerak tubuh penabuh sangatlah kurang, karena saya melihat ada beberapa gerakan yang kurang seragam, itu mungkin dikarenakan kurangnya waktu latihan untuk memantapkan gerak-gerak yang akan digunakan pada saat pementasan, tapi penabuh menyiasati kekurangan itu semua dengan cara selalu tersenyum.

v Penggunaan pakaian penabuh pendukung dengan pakaian yang ujian, disini saya melihat penggunaan pakaian antara penabuh pendukung dengan penabuh yang ujian sama persis, menurut saya pakean penabuh pendukung dengan pakaian penabuh yang ujian musti di bedakan, karena didalam penilaian, para penilai atau para penguji akan lebih mudah mengetahui mana mahasiswa yang ujian dengan yang tidak ujian.

 

 

Demikian sedikit review dari saya tentang garapan TA mahasiswa isi denpasar tahun 2011 yang berjudul *kualit*, sekian dan terimakasi.

Posted in Tulisan | Comments (28)