TUGAS LITERATUR, MERINGKAS BUKU DENGAN TEKNIK CUTING AND GROWING

Mei 1st, 2012
by nyomansaskara

JUDUL BUKU : BEBERAPA CATATAN TENTANG SENI PERTUNJUKAN BALI

DIKUTIP OLEH : DR. I WAYAN RAI S.

PENERBIT : PALAWASARI 1998

 

GAMBELAN GAMBANG DI SEMPIDI

DESKRIPSI, FUNGSI DAN STRUKTUR GENDINGNYA

Gambelan gambang adalah sebuah barungan musik Bali yang menggunakan laras pelog tujuh nada, terdapat dua jenis instrumen, yaitu gangsa atau sering disebut dengan saron dan instrumen yang satu lagi disebut gambang. Jumlah penabuh gambelan gambang berkisar antara 5 sampai 6 orang, tergantung dari banyaknya tungguhan dalam satu barungan. Gangsa atau saron (selanjutnya disebut gangsa saja) merupakan salah satu instrumen berbilah dengan bahan bilah yang terbuat dari bahan perunggu, sebaliknya gambang, meskipun juga merupakan instrumen berbilah, namun bahan bilahnya terbuat dari bahan bamboo. Dalam barungan gambelan gambang, gangsa bertugas sebagai pembawa melodi, sedangkan gambang bertugas untuk membuat kotekan (interlocking figuration).

            Dilihat dari segi sejarahnya, gambelan gambang merupakan salah satu music yang tergolong kedalam jenis gambelan tua yang ada di bali.dari data-data peninggaln sejarah dapat diketahui bahwa gambar-gambar instrumen gambang telah terdapat pada relief candi penatara di jawa timuryqng diduga berasal dari abad ke- XIV.  Selain itu nama gambang juga disebut-sebut pada sebuah literature seperti: malat, panji kuda narawangsa, babad blahbatuh, tambahan pula bahwa gambang telah disinggung pada lontar prakempa.

Penelitian tentang gambelan gambang yang merupakan salah satu musik ritual kita ini telah pernah dilakukan oleh beberapa orang peneliti misalnya: Mc phee (1966), Schlager (1976), Schareman (1980), Bandem (1982/83), Astita dan Rai (1988), dan oleh beberapa orang mahasiswa ASTI denpasar dalam rangka pembuatan skripsi untuk melengkapi salah satu syarat dalam ujian sarjana muda Karawitan.

GAMBELAN GAMBANG DI SEMPIDI

            Gambelan yang dijadikan obyek dalam rangka penulisan ini terletak di Banjar Tengah, kelurahan Sempidi, Kabupaten Badung. Dikalangan masyarakat luas gambelan ini lebih dikenal dengan sebutan gambelan gambang sempidi saja. Gambelan itu kini disimpan di rumahnya Guru Gede Janem. Salah seorang tokoh (guru) dari Gambang sempidi yang telah banyak dikenal oleh masyarakat sempidi, kushusnya pencita gambang bernama I Gede Rai jadi, yang dilahirkan kira-kira pada tahun 1960 dan sampai kini masih aktip memimpin sekaa gambang itu.

 

Instrumentasi

            Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa gambelan gambang terdiri dari dua jenis instrumen, yaitu gangsa dan gambang, masing-masing sebagai pembawa melodi dan pembuat kotekan.

            Gangsa : merupakan sebuah instrumen yang berbilah, dengan bahan bilah yang terbuat dari perunggu. Tiap tungguh terdiri dari tujuh bilah, dipasang dengan cara dipatol pada sebuah pelawah yang terbuat dari kayu dan dimainkan dengan sebuah panggul yang terbuat dari kayu atau dari tanduk kerbau. Wujud dari instrumen ini menyerupai gangsa jongkok yang terdapat pada barungan gambela Gong Gede yang ada di bali.

            Gambang : merupakan instrumen yang berbilah juga, dengan bahan bilah yang terbuat dari bahan bambu, umumnya terbuat dari jenis kayu yang bernama tiing pentung atau bisa juga tiing tali. Pada barungan gambelan gambang sempidi, terdapat empat buah tungguh gambang yang digunakan masing-masing dari besar ke kecil disebut : pengenter, pemero, penyelat dan pemelit. Tiap tungguh instrumen terdiri dari 14 bilah dan dipasang dengan urutan nada-nada yang sangat khas.

Teknik Pukulan

            Teknik pukulan dalam gambelan gambang disebut dengan istilah gegebug. Adapun gegebug dari setiap instrumen adalah sebagai berikut :

Gangsa : sebagai instrumen pemegang melodi, gangsa menggunakan gegebub kekenyongan atau sawitan dan gegebug agal atau nagntung. Kekenyongan merupakan gegebub yang jatuhnya tepat pada ketukan (on beat), sedangkan agal adalah sebaliknya.

Contoh:

                        .    .   X  .   X   .    .   X   .   X

                                   A      K            A        k

A= Agal                                  K= kekenyongan

Gambang : gegebug pengenter, pemero, penyelat, dan pemelit dapat dikemukakan secara singkat sebagai berikut:

Pengenter : teknik pukulannya disebut gegebug penganter atau gegebug, megending (bernyanyi), penganter dikatakan memiliki gegebug megending, karena rangkaian-rangkaianya menyerupai seolah-olah sedang bernyanyi.

Pemero : teknik pukulnya disebut gegebug pemero. Berfungsi nyangsot dalam oncang-oncangan.

Penyelat : menggunakan gegebug penyelat dan berfungsi sebagai pemolos dalam oncang-oncangannya.

Pemelit : teknik pukulnya disebut gegebug pemelit. Dan berfungsi nyandet dalam oncang-oncangan.

Laras dan Gending

Laras adalah rangkaian nada-nada dalam satu oktaf dan mempunyai jarak nada (sruti atau interfal) tertentu. Gambelan gambang mengguanakan laras pelog saptanada atau di bali dikenal dengan sebutan Saih Pitu.dari laras pelog saih pitu ini kemudian dapat diturunkan menjadi tiga saih, yaitu saih lima, saih nem dan saih pitu.

 

Posted in Lainnya | Comments (0)

TUGAS LITERATUR 2

April 17th, 2012
by nyomansaskara

KEKAWIN RAMAYANA “UTARA KANDA”

Tan kacerita kakawonin punika yadnya sang prabu maruta olih sang rawana. Meled raris kayun ipune, jage ngasoran sekatah pare agunge, ten wenten sane tan arep rsi punika sami-sami karauhin olih ipun. Wenten raris sang prabu, harania pesengan idane panggih ipun. Ida ketantangin jagi meperang tanding, nanging nenten kebukan pikayun ida sang prabu pageh ngajerihin medal sang prabu rsi wadue miwah palinggihanne, magutin pangamuk prajurit raksasane ane purusa, ane sakti, ade ane ngabe sompret, sungu. Semalihe sang prabu punika tusing pradnyan sakti purusa. Punika mawinane tanjangkenyang ring kapurusan wirosa niwakun panah wibekin telaga payudan nenten kirang ring kajumbuhan.

Ngeraris katamplak duur idane antuk telapakan tangan kiwe. Macepuk raris sang prabu tan sida malawanan raris ida. Karang sarang raris niwakan pemastu pangandikan idane: “e ibe sang rawana tuara pesan kalah di pasiatan ban kai ya diastun ban kesaktian ento dewane katiman mapikayun maileh lakar ngelawan ibe. Pagentosne seda ne sang prabu narania tuara len tuah dadi sarana arawatne kasinahannyane”. Tuara nyidayang ngalahang prebawan kai ne, mawinan ngewales manira ngardi pemastu kamatian ibane. Tuara katurunan manire dogen ngewales teken ibene pioleh ibene ngerusak tusing katurunan ibane.

Yen kasuecan sube ento pamuputan bacakan sunia, buine yen sube mekadi yadnya ajakian sube ngelarang tapa brata. Apa buin nia jakti-jakti patut baan manire ngerakse jagat, tuara pocol pemstune teken ibe. Ade sang rama putran sang dasa rata pesengan ide manian. Mangresti dittos ike siakune. Ide lakar ngematiang manian. Jakti-jakti tuara dadi lenyok pemastune kanyekan sapunika pengandikan ide sang prabu arania. Kapireng raris suaran langite marupe tatit lan grudugan, maduluran saber sekar nyiknayang pemargin sang prabu ngungsing ring suarga lokane.

TERJEMAHANNYA

Diceritakan ada upacara, ditinggalkan sebuah upakara yadnya sang prabu maruta oling sang sang rawana, kemudian malu perasaan dia, maunya menjajahi semua raja-raja yang ada diwilayah tersebut tidak ada yang tidak sapakat untuk tidak mengikuti ajakan mereka. Kemudian diceritakan seorang raja yang bernama raja Arania namanya dilihat oleh mereka, kemudian dia ditantang untuk beryudha Tapi tidak masalah bagi dia, dipikir oleh raja tersebut. Kemudian tanpa perasaan yang takut sedikitpun dari rakyatnya semua, mereka semuanya mau berperang melawan bala pasukannya.

Disana raja tersebut berbicara sangat keras sekali. “ hahaha, kamu rahwana, kamu ridak pernah mau mengalah ditempat bertempur mengadu kesaktian, walaupun kesaktiannya seperti dewata, iya mau bantai juga karena tidak ada yang bisa mewaspadai kesaktiannya dia. Disanalah seorang kekecewaan seorang pandita lebih-lebih ia mengutarakan kata-kata mengutuk. Ia berkata “ tidak akan nada keturunannya yang akan membalas, tetapi semua yang ada di negeri tersebut akan membalasnya juga. Tetapi kalau masih ada kasihsayangnya mereka kepada mereka semua niscaya dia mampu berbuat seenaknya, apalagi sudah berbuat yang baik yang disebut tapa bratha, apalagi sungguh-sungguh berbuat seperti kehendak alam dan tidak rugi dia mengutarakannya.

Ada raja yang bernama Sang Rama putra anak dari Sang Dasaratha dari ayodya. Menjelma kembali diwangsanya tersebut dia akan mau membunuh dihari-hari berikutnya, benar-benar tidak boleh lepas dari kutukannya, setelah lepas dia berkata demikian Sang Prabu Arania.terdengar kemudian suara Gambelan diangkasa diikuti hujan bunga, itu membuktikan bahwa perjalanan Sang Raja mengungsi ke suarga loka.

 

Posted in Lainnya | Comments (0)

Cengkok Gambang ( Wasitodiningrat )

April 17th, 2012
by nyomansaskara

Judul buku : Cengkok Gambang ( Wasitodiningrat )

Dikutip oleh : Suyono

    Buku yang berjudul Cengkok Gambang ini sangat bagus untuk di baca kususnya bagi seniman-seniman karawitan yang ingin memperluas pengetahuannya tentang cara-cara memainkan instrument gambang. Di dalam buku ini banyak terdapat tentang pengertian gambang secara umum. Di dalam buku ini juga dimuat sistim pelarasannya juga. Intinya jika orang yang membaca buku yang berjudul Cengkok Gambang ini akan memperoleh banyak informasi-informasi secara mendetail tentang instrumen Gambang.

  1. 1.     Pengertian umum tentang Gambang

Gambang merupakan salah satu instrumen gambelan jawa yang tidak kalah penting peranannya dalam sajian karawitan jawa. Ditinjau dari bahannya, instrumen gambang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni gambang gangsa dan gambang kayu. Tidak semua perangkat gambelan jawa terdapat gambang gangsa, dan sebaliknya semua perangkat gambelan ageng jawa terdapat gambang kayu. Gambang gangsa hanya terdapat pada gambelan jawa yang berasal dari keraton yogyakarta dan keraton surakarta. Gambang gangsa berbentuk bilahan yang terbuat dari bahan logam, sedangkan gambang kayu berbentuk bilah dan terbuat dari kayu.gambang gangsa kurang berkembang dan tidak banyak diketahui oleh masyarakat banyak layaknya seperti instrumen – instrumen gambelan yang lainnya. Hannya sedikit para pengerawit yang mampu memainkan gambelan gambang gangsa ini, bahkan dewasa ini tidak ada satupun para pengerawit yang mampu memainkan secara benar dan baik instrumen gambang gangsa ini. Gambang gangsa pada gambelan kraton terdiri dari dua rancak  yang masing – masing berjumlah 14v bilah.baek laras pelog maupun selendro.

  1. 2.     Bagian-bagian Instrumen Gambang

Instrumen gambelan pada gambelan jawa dibuat dari bahan kayu, baik rancakan atau bilahnya yang sebagai sumber bunyi. Untuk memperoleh suara yang baek, kayu yang akan digunakan sebagai bilah gambang hendaknnya dipilih bahan berkualitas. Pada umumnya kayu – kayu yang digunakan antara lain adalah kayu sawo, kayu jati lengki, kayu berlean dan kayu slangking. Diantara kayu – kayu tersebut, kayu yang paling bagus digunakan adalah kayu slangking dan berliyan. Instrumen gambang kayu terdiri dari bilah dan rancakan yang mempunyai bagian – bagian angtara lain : grobongan, bantalan,  plancak, tumbengan dan tabuh. Bagian – bagian tersebut merupakan kesatuan yang utuh, apabila ada salah salah satu yang rusak atau cacat akan mempengaruhi suara yang dihasilkan.

  • Bilahan dibuat dari kayu, berfungsi sebagai sumber bunyidan tempat untuk ditabuh.
  • Grobongan adalah nama rancakan instrumen gambang terbuat dari kayu berbentuk  e         mpat persegi panjang.
  • Bantalan adalah alas untuk ganjalan bilah di atas grobogan , terbuat dari ijuk.
  1. 3.     Fungsi instrument Gambang dalam sajian gending

v Penghias lagu

Masing – masing instrumen gambelan jawa dalam sajian gending pada dasarnya mempunyai tugas dan fungsi sendiri – sendiri. Tugas dan fungsi setiap instrumen menjalankan lagu sesuai dengan balungan gending. Rahayu Supanggah dalam makalahnya yang berjudul “balungan” yang disampaikan pada simposiun festival gambelan instrumental di vanccover Canada.

v Pengisi irama

Pengertian pengisi irama disini pada pelaksanaan jalannya gending yang menyangkut cepat lambatnya sajian gending. Soedarsono dalam buku kamus istilah Tari dan Karawitan jawa menyebutkan bahwa irama adalah cepat lambatnya pukulan balungan pada suatu gending. Salah satu instrumen yang paling penting berperan dalam pengaturan irama adalah kendang dengan menggunakan sekaran atau pupuh-pupuh tertentu. Namun jika diperhatikan secara seksama, sebenarnya instrumen gambang dalam sajian gending ikut berperan sertan dalam menegakan irama.

  1. Jenis-jenis cengkok
  • Cengkok umum ialah cengkok yang digunakan untuk menggarap susunan balungan gending berdasarkan seleh gatra (balungan ke empat pada gatra).
  • Cengkok khusus ialah cengkok pada susunan balungan tertentu yang menggunakan garap khusus,
  • cengkok gantungan ialah cengkok yang digunakan untuk menggarap susunan balungan gantungan (balungan kembar) dalam satu gatra.

Posted in Lainnya | Comments (0)

SAAT TERAKHIR by: ST 12

Desember 29th, 2011
by nyomansaskara
  • ST 12 adalah grup band indonesia yang didirikan di bandung, jawa barat pada tahun 2004. Grup ini didirikan oleh Ilham Febry alias pepep (drum), Dedy Sudrajat alias pepeng (gitar), Muhammad Charly VanHouten alias Carly (vokalis), dan Iman Rush (gitaris). Nama ST 12 sendiri merupakan kepanjangan dari jl. Stasiun Timur no. 12 yang merupakan markas berkumpulnya band ini. Sampai saat ini ST 12 telah menghasilkan 5 album musik.

Adapun beberapa hal yang perlu saya komentari

  • Backrond dalam video
  • Penggunaan alat musik
  • kostum
  1. backround dalam video ini menggunakan latar sebuah taman. Menurut saya, latar atau backround yang cocok untuk video ini adalah backround yang berhubungan dengan sesuatu tempat yang membuat kita mengingat seseorang yang sudah jauh dari kita atau yang sudah meninggal, karena video ini menceritakan seseorang yang kita cintai pergi jauh meninggalkan kita/sudah mati.

 

  1. Penggunaan alat music didalam video ini tidak di perlihatkan, padahal saya mendengar suara gitar yang sangat dominan terdengar dalam video ini, jadi menurut saya instrument gitar perlu di munculkan di dalam viseo ini.

 

 

  1. Kostum yang dipakai oleh personil grup band ini masih terbilang sederhana, mungkin itu dikarenakan grup band ini mengambil konsep yang begitu sederhana untuk masalah kostumnya.

 

Demikian sedikit komentar saya menganai video ini, jika ada kekurangan dan salah kata, mohon dimaakan, sekian dan terimakasi.

 

Posted in Lainnya | Comments (0)

Salah satu tokoh seni yang multi talenta di desa keramas

Desember 29th, 2011
by nyomansaskara

I Gusti Agung Wiyat S. Ardi atau sering di sapa dengan panggilan Gung Wiyat adalah salah satu dari beberapa tokoh-tokoh seniman asal desa keramas. Beliau lahir dan besar di Puri Anyar keramas gianyar pada tanggal 03 februari 1946. Beliau mulai berkeluarga pada tahun 1967. Beliau memiliki dua istri yang bernama A.A. Oka suadi dan A.A. Manik. Istri pertama berasal berasal dari puri anyar keramas, sedangkan istri ke dua berasal dari puri taman bali bangli. Istri pertama adalah seorang guru SD di desa keramas, dan istri kedua adalah seorang kepala sekolah di TK Negeri Internasional bangli. Dari pernikahan pertama, beliau di karuniai 3 orang anak, dan dari pernikahan ke dua beliau di karuniai seorang anak. Adapun nama-nama anak I Gusti Agung Wiyat S. Ardi  di antaranya bernama :

  • Anak pertama bernama I Gusti Agung Kimfajar Wiyati Oka
  • Anak kedua bernama I Gusti Agung Kasturi Wiyati Oka
  • Anak ketiga bernama I Gusti Agung Adistana Awiyata
  • Anak ke empat bernama I Gusti Agung GD Adi Laksmana Awiyata

Pada tahun 1965, beliau ikut di dalam klompok Drama yang cukup popular di Bali yaitu ‘Drama Gong Bali Dwipa’. Di dalam Drama Gong Bali Dwipa ini, beliau berperan sebagai Raja Bagaspati. Rja Bagaspati ini memiliki karakter antagonis. Beliau sangatlah piawai dalam memerankan karakter sebagai Raja Bagastati ini. Seiring berjalannya waktu, karena beliau ingin lebih memperdalam ilmu di bidang seni dan ingin menjadi seorang seniman yang professional, Beliau memulai pendidikan seninya di ASTI pada tahun 1972, dan lulus sebagai sarjana muda pada tahun 1977.

Di STSI beliau mengambil jurusan seni tari. Tapi beliau juga piawai dalam bermain gambelan, salah satunya beliau sangatlah piawai dalam memainkan instrument suling. Beliau adalah salah satu penari yang cukup dikenal pada masanya. Pada tahun 1989 beliau melanjutkan pendidikan di bidang agama hindu, dan lulus pada tahun 1997 dengan gelar sarjana agama hindu. Beliau juga adalah seorang penulis ternama. Hobby menulis ini sudah di geluti dari tahun 1965. Berbagai jenis penghargaanpun sudah pernah di raih  oleh beliau. Adapun beberapa tulisan dan penghargaan yang sudah pernah beliau peroleh, diantaranya adalah :

  1. Warsa 1965, ngawit ngripta “cerpen” mabhasa Indonesia, kaunggahang ring BALI POST, puisi-puisi taler wenten kamuat ring Majalah KARTINI Jakarta.
  2. Warsa 1989, molihang juara 1 penulis “cerpen” mabhasa Bali mamurdha TOH, sinarengan molihang juara 1 penulis “puisi” mabhasa bali mamurda SIBAK PETENGE MANADI GALANG.
  3. Warsa 1991, juara II penulis penulis “cerpen” mamurda KAMBEN POLENG MAURAB GETIH, sinarengan molihang juara harapan “cerpen” mamuerdha AAS.
  4. Warsa 1995, juara II ngripta “cerpen” mamurdha ACINTYA
  5. Warsa 1997, juara I ngripta “cerpen” mamurdha BOGOLAN
  6. Warsa 1999, Penulis Terbaik Naskah Drama Gong mamurdha GUSTI AYU KLATIR
  7. Warsa 2000, polih anugrah WIJA KESUMA saking pemerintah kabupaten Gianyar
  8. Warsa 2001, polih penghagaan GANCAGE saking Yayasan Rancage Badung risampune nerbitang lan ngwedarang buku mamurdha GENDING GIRANG SISI PAKERISAN
  9. Warsa 2001, ngripta buku mamurdha KIDUNG GURIT KSATRIYA MARUTI, marupa satua babad matembang Sekar Alit. Ping tiga molihang juara III, apisan juara harapan menulis lagu pop mabhasa Bali ring Pesta Kesenian Bali
  10. Warsa 2002, nerbitang mimah ngewedarang pupulan ‘sandiwara’ mabhasa Bali mamurda BOGOLAN. Sandiwara sane mamurda Bogolan sampun naenin kasolahang ring KSHIRARNAWA sareng Theater PALGUNA , asapunika taler ‘sandiwara’ sane mamurda MANDOR BAWAK, sampun naenin kasolahang TVRI Denpasar, taler sareng Theater PALGUNA
  11. Warse 2004, nyalin lan negesin PRASNIKA PARWA lan SWARGA ROHANA PARWA ngangge aksare Bali
  12. Warsa 2004, nyalin miwah negesin KAPI PARWA lan TANTRI KAMANDAKA (palawakya), ngangge aksara Bali
  13. Warsa 2004, ngripta miwah nerbitang ‘novel’ mabhasa Bali mamurda BUKIT BUUNG BUKIT MENTIK
  14. Warsa 2006, nyalin miwah negesin WIRATA PARWA ngangge aksara Bali
  15. Warsa 2008, nyali lan negesin UTARA Kanda NGANGGE Aksara Bali
  16. Warsa 2009, ngripta lan nerbitang ‘antologi cerpen’ mabhasa Bali mamurdha DA NAKONANG ADAN TIANGE. (molihang RANCAGE 2010)

Demikian beberapa penghargaan yang sudah pernah di raih oleh I Gusti Agung Wiyat S. Ardi dari tahun 1965-2009. Beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala SPG Saraswati Gianyar dari tahun 1989-1991, dan juga pernah menjabat sebagai Kepala SMA Saraswati Gianyar dari tahun 1993-1997. Dan sekarang  Beliau juga adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMK Saraswati Gianyar.

Posted in Lainnya | Comments (0)