Categories
Tulisan

Manusia dan pandangan hidup

  • Dalam berbagai kepustakaan, khususnya yang menelaah sikap manusia, dan semacam kesepakatan bahwa sikap tidak lain merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang-rangsang yang diterimanya. Ini berati bahwa sikap seseorang terhadap obyek tertentu pada dasarnya merupakan hasil penyesuaian dari seseorang terhadap obyek yang bersangkutan dengan dipengaruhi oleh lingkungan sosial serta kesediaan untuk bereaksi terhadap obyek tertentu.
  • Dalam kurun waktu setengah abad terakhir ini pengkajian terhadap sikap manusia , khususnya yang dilakukan oleh disiplin psikologi sosial, boleh dikatakan cukup menggebu-gebu. Hasil yang segera tampak adalah, munculnya berbagai pengertian tentang sikap itu sendiri. Sikap manusia bukanlah suatu konstruk yang berdiri sendiri, akan tetapi paling tidak ia mempunyai hubungan yang erat dengan konstruk-konstruk lain, seprti dorongan motivasi, atau bahkan dengan nilai-nilai tertentu. T.M. Newcomb mencoba membagankan hubungan tersebut sebagai berikut ini:

Nilai-nilai

Sikap

Motivasi

Dorongan

Dengan dorongan dimaksudkan adalah keadaan organism yang menginisiasikan kecenderungan kea rah aktifitas umum :

Ø  Motivasi adalah kesiapan yang ditujukan pada sasaran dan di pelajari  untuk suatu tingkahlaku bermotifasi.

Ø  Nilai nilai adalah sasaran atau tujuan yang bernilai tarhadap mana berbagai pola sikap dapat diorganisir.

Bagan tersebut melukiskan perkembangan seleksi dan degenerasi  tingkahlaku seseorang yang berpangkal pada dorongan dan akhirnya mencapai puncak pada nila-nilainya. Secara demikian dapat dikatakan, bahwa sikap manusia senantiasa berhadapan dengan kekuasaan-kekuasaan yang ada di sekitarnya. Dengan kata kekuasaan di sisni dimaksudkan adalah segala sesuatu yang menyodorkan diri kepada kita dan yang mempengaruhi kita. Kekuasaan itu ada di alam sekeliling, dalam pola-pola social, dalam teknik, seksualitas, kebahagiaan, lingkungan agama, dan segala sesuatu yang tidak termasuk dari pribadi kita naamun justru mempengaruhi kita.

Dalam buku stategi kebudayaan, Van Peursen melihat adanya tiga periode peralihan yang dialami oleh manusia pada umumnya. Ketiga periode itu adalah :

  • Tahap mistis
  • Tahap ontologism
  • Dan tahap fungsional.

-Yang dimaksud tahap mistis adalah, sikap manusia yang merasa dirinya terkepung oleh kekuatan –kekuatan gaib disekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan keseburan, sebagaimana dipentaskan dalam mitologi-mitilogi bangsa primitive.

-yang dimaksud dengan tahap ontologis adalah sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mistis, melainkan yang secara bebes yang ingin meneliti  segala hal ikhwal.

-yang dimaksud dengan tahap fungsional adalah sikap manusia yang merasa didrinya memiliki fungsi  bahwa penguasa atau raja dalam pandangan banyak masyarakat kita dianggap sebagai sumber dan tempat berlalunya keadilan bagi masyarakatya.