Nama : Ida Bagus Gede Mandala Giri

Nim : 200802001

Jurusan Karawitan

SAIH DAN PATUTAN DALAM

KARAWITAN BALI

Pengertian saih dan patutan

Istilah saih atau patutan atau tetekep hakekatnya mengandung pengertian yang sama yaitu tugas-tugas nada (fungsional) dalam laras, yang pengertiannya dapat disejajarkan dengan patet di Jawa. Tetapi kadang-kadang antara istilah saih dan patutan (pepatutan = tetekep; tetekep juga mengandung menutup bilah gamelan setelah atau sebelum dipukul) dikacaukan pemakaiaannya. Jadi ketiga istilah (saih, patutan, dan tetekep) ini masing-masing mempunyai dua pengertian seperti terlihat dalam penjelasan di bawah ini.

Saih

Pengertian pertama asalah tentang tugas nada-nada (fungsionalnya) dalam laras tertentu, atau dapat disejajarkan pengertian dengan kunci ( C, atau G, atau F ) pada musik diatonis. Sama pengertiannya dengan patutan atau tetekep.

Pengertian yang kedua adalah untuk menunjukan saih atau bandingan untuk maksud bunyi / suara suatu barungan yang sejenis; seperti saih gedenan, saih ccenikan, nyalah berdasarkan atas kecakapan telinga untuk menunjukan suatu ombat barungan ( perbedaan seruti-seruti sari nada-nada satu gamelan dengan gamelan yang lain ) lebih rendah, sama atau lebih tinggi.

Patutan

Pengertian yang pertama sama dengan pengertian saih dalam fungsi nada-nadadalam satu laras.

Pngertian kedua ialah patutan( patut-patut = ialah yang benar). Jadi disini dimaksudkan bahwa nada-nada dari barungan gamelan hendak yang benar (tidak fals/bero), maka kalau fals/bero, ia harus dipatut = dibenarkan suara nadanya. Mematut gamelan di Bali ialah membenarkan ombak ( ngumbang – ngisep) dari seluruh kesatuan barungan gamelan.

Tetekep.

Pengertian yang pertama sama dengan pengertian saih dan patutan.

Pengertian yang kedua adalah menutup bilah gamelan apabila habis di pukul atau akan dipukul menurut kepentingan praktek menabuh. Istilah inilah dasar-dasar pengertian dari 3 istilah di atas yang dalam pemakaianya oleh masyarakat sering dikacaukan dan mengacaukan bagi yang belum mengerti maksudnya; namun dengan istilah-istilah itu sistim karawitan Bali mempunyai cukup dasar-dasar untuk diilmukan.

Terjadinya saih atau patutan atau tetekep.

Untuk mendapatkan gamaran tentang fungsi atau saih, patutan dan tetekep dan pula terjadinya kunci-kunci atau dalam urutan nada-nada gamelan, maka dengan memakai jenis gamelan yang bersistem susun 7 nada nampak jelas.

Patutan NO NADA

Tetekep saih 1 2 3 4 5 6 7

1. TEMBUNG U

dung A

dang –

daing I

ding O

dong E

deng –

deung

2. SELISIR I

ding O

dong E

deng –

deung U

dung A

dang –

daing

3. SUNDAREN –

deung U

dung A

dang –

daing I

daing O

dong E

deng

Pada yang berjenis gamelan yang bersistem lima nada ( pelog atau selendro ) tidak mungkin dibuat sistem patutan , tetekep atau saih ini. Kalau kembalikan bahwa seni di Bali adalah seni yang di[eraktekan, maka terjadinya saih, patutan dan tetekep dalam hubungan ini bersama-sama terjadi ( adntara bentuk susunan pada, gambelan jenis yang bersistem tujuh nada dengan teorinya sekali sekali ), meskipun sifat atau teorinya menyusul dibicarakan.

Macam saih, patutan atau tetekep.

Di Bali ada dikenal 5 patut yang ada pada semua sistem susunan gamelan 7 nada. Tetapi 3 diantaranya popular yaitu Selisir, Tembung dan sundaren ; 2 lagi lebeng dan baro. Tetekep/pukulan/saih Lebeng hanya dipakai apabila si pemain karawitan sudah mahir mempergunakannya. Contoh ini jelas dalam suling pegambuhan. Tetekep baro jarang dipakai. Tetekep lebeng (lebeng = masak ) adalah campuran dari tetekep – tetekep, semua dimainkan sedemikian rupa tidak terasa lagi penonjolan salah satu tetekep.

LARAS DAN PATET PADA LONTAR PRAKEMPA

Pembahasan tentang laras dan tetekep pada lontar Prakempa terdapat pada pembahasan tentang etika. Pada lontar Prakenpa berintikan unsur – unsur laras (tangga nada) dan tabuh ( setruktur atau komposisi lagu. Menurut naskah ini, gamelan bali memiliki 4 (empat) jenis laras yaitu laras pelog 5 ( lima ) nada, laras pelog 7 ( tujuh ) nada, laras selendro 5 ( lima ) nada dan laras selendro 4 (empat ) nada, semua laras-laras itu bersumber pada seprangkat gamelan yang bernama gamelan Genta Pinara Pitu .

Selanjutnya naskah ini menyebutkan adanya 3 ( tiga ) jenis patet dalam gamelan pelog, seperti patet Demung, patet Selisir dan patet Sundari. Beranalogi dengan kenyataan sekarang patet yang terdapat dalam gamelan Semarpagulingan ( Genta Pinara Pitu ) meliputi bentuk – bentuk sebagai berikut :

No Bilah:

I II III IV V VI VII VIII Keterangan :

3 4 5 – 7 1 – 3 Patet selisis

1 2 3 – 4 5 – 1 Patet nem

3 4 5 – 7 1 – 3 Diatonis kunci C

7 1 – 3 4 5 – 7 Patet tenbung (demung)

1 2 – 4 5 6 – 1 Patet lima

3 4 – 6 7 1 – 3 Diatonis kunci C

– 7 1 – 3 4 5 – patet Sundaren ( sundari )

– 2 3 – 5 6 7 – Patet Barang

– 4 5 – 7 1 2 – Diatonis kunci C

– 5 7 1 – 3 4 – selendro ageng

– 2 3 4 – 6 7 –

– 4 5 6 – 1 2 – Diatonis kunci C

4 – 5 7 1 – 3 4 selendro alit

1 – 3 4 5 – 7 1

3 – 5 6 7 – 2 3 Diatonis kunci C

Di kutip dari buku perkembangan seni karawitan IWM. Aryasa. Ba. Denpasar 1976/1977 dan lontar Prakempa sebuah lontar gamelan Bali, oleh Dr. I Made Bandem.

Leave a Reply