Mengintip Keunikan Pasar Sasen

This post was written by madeyudastra on Desember 9, 2019
Posted Under: Berita

Sekitar 30 km dari pusat kota Yogyakarta, di desa Minggir, Kabupaten Sleman, beberapa orang berkumpul di bawah po hon bambu yang menjulur tinggi. Datang dari berbagai usia, mulai dari orang tua hingga anak­anak, mereka semua duduk di atas matras warna­-warni.

Orang-­orang itu baru selesai menonton dua buah film, berju­ dul Boncengan dan IncangInceng, hasil kerjasama Pasar Sasen dengan Bioskop Kecil. Kebetulan hari itu Minggu ketika sebagian besar orang libur kerja. Cuaca juga terasa sejuk meski telah lewat pukul 12.00.

Awal bulan adalah waktu bagi Pasar Sasen melapak. Di depan sebuah rumah kayu sederhana, Andreas Bimo Wijoseno (44) dan Imelda Sunu Kristanti (43), duo pasangan pendiri Pasar Sasen, menggelar dagangan. Alih­alih dengan meja atau kursi, pasutri itu meletakkan saja dagangannya di atas batu bata yang ditumpuk menyerupai alas meja. Sebuah besek yang dicat warna cokelat tua menjadi semacam etalase kecil, tempat bagi anting dan kalung dipajang.

Anting dan kalung dengan bandul bergambar daun itu adalah karya mereka sendiri yang terbuat dari tanah liat. Gambar daun yang melekat di bandul merupakan cetakan dari tanaman liar yang ditemu­ kan tak jauh dari tempat melapak. Tak jauh dari barang­barang aksesori itu, sebuah wadah pendingin berwarna abu­abu menyimpan berbotol­botol air bandek. Dalam bahasa Indonesia, bandek populer disebut nira atau cairan yang berasal dari batang tanaman aren, sagu, siwalan, kelapa, atau nipah.

Jika diolah nira dapat menjadi sirup dan jika difermentasi berubah menjadi tuak. Bandek yang dijual Bimo dan Imelda berasal dari pohon kelapa. Rasanya manis dan baunya sedikit menyengat. Satu botol dihargai Rp6.000. Selain aksesori etnik dan bandek, beberapa jengkal dari wadah pendingin terdapat dua buah termos hijau. Satu termos isinya air putih, satu lagi minuman dari telang dan kayu manis. Silakan diminum gratis, bagi pengunjung Pasar Sasen.

Sasen berasal dari kata sasi yang dalam bahasa Jawa berarti bulan. Pasar Sasen memang cuma digelar sebulan sekali. Bimo dan Imelda mendirikannya empat tahun silam, tepatnya 6 April 2014. Bertempat di desa Brayut, Sleman, Yogyakarta, untuk kali pertama mereka melapak bersama dengan tiga kawan lain: Nugroho, Kuncoro, dan Tri. Nugroho menjual yoghurt, Kuncoro berdagang tahu, Tri menjual kerajinan dari barang bekas, sementara Bimo dan Imelda menjual goni.

Lima orang pedagang ini lantas secara rutin melapak bersama setiap awal bulan. Tak banyak pembeli yang datang karena pasar hanya digelar di lokasi yang dekat dengan rumah dan sering kali jauh dari pusat keramaian. OKTOBER 2018 Bahkan jika pun ada yang datang berkunjung ke Pasar Sasen, kebanyakan adalah kawan­ kawan sendiri sehingga tak jarang barang berpindah tangan secara cuma­cuma alias gratis. Namun, Bimo dan Imelda mengaku tak mempersoalkannya. Awalnya sepi, sampai sekarang juga sepi. Lha wong yang datang teman­teman sendiri. Kadang­ kadang juga enggak jualan. Ambil aja dah, ujar Bimo diiringi tawa ketika ditemui secara terpisah. Imelda yang duduk di depannya juga ikut tertawa.

Bagi mereka berdua, Pasar Sasen menjadi semacam tempat bereksperimen dengan barang dagangan yang bisa dicoba calon pembeli secara gratis. Bukan sebuah masalah besar bagi mereka karena dari eksperimen ini lambat laun Pasar Sasen justru berubah menjadi sebuah komunitas untuk bertukar ide, belajar, dan sekaligus beristirahat dari rutinitas pekerjaan. “Semacam recharge saja akhirnya, lanjut Bimo.

Comments are closed.