Sejarah Gamelan Angklung Kebyar Sekhe Sekar Emas Banjar Tegeh

SEJARAH GAMELAN ANGKLUNG KEBYAR SEKHE SEKAR EMAS BANJAR TEGEH GAMELAN ANGKLUNG

 

GAMELAN ANGKLUNG

 Gamelan Angklung adalah gamelan berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari krawang, kadang-kadang ditambah angklung bambu kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat-alat gamelan yang relatif kecil dan ringan (sehingga mudah dimainkan sambil berprosesi). Permainan gamelan angklung biasanya dilakukan saat upacara-upacara yadnya di Bali. Gamelan Angklung bagi masyarakat Bali memiliki arti yang sentimental dan tidak dapat tergantikan untuk memberi arti pada upacara adat Bali. Kata angklung sendiri adalah untuk menyebut alat berupa bambu yang digunakan sebagai media keluarnya bunyi-bunyian.

SEJARAH GAMELAN ANGKLUNG DI SEKHE SEKAR EMAS

Sekhe angklung sekar emas merupakan salah satu  sekhe yang ada di kecamatan Baturiti kabupaten Tabanan. Menurut, Bapak I Wayan Semur selaku ketua Sekhe Angklung Sekar Mas sejarah gamelan angklung yang di ada sekhe sekar emas dulunya berada di sanggar seni mas putra baru yang bertempat di kecamatan marge kabupaten tabanan, angklung tersebut pertama kalinya muncul di sanggar seni mas putra baru sekitar tahun 2002. Awalnya sekitar tahun 1980, sanggar seni mas putra baru hanyalah sekhe tarian saja. Setelah berselang beberapa tahun kemudian permintaan msyarakat atau pengupah mencari  tarian langsung penabuh untuk melaksanakan upacara panca yadnya ,supaya gamelan tersebut bisa di guakan pada semua upacara yadnya, untuk mengiringi tarin-tarian tersebut maka, sanggar sanggar seni mas putra baru berinisiatip membeli angklung kbyar. mengapa sanggar seni mas putra baru memilih angklung kbyar karana    angklung kbyar bisa digunakan untuk mengringi tarian walau lebih sulit,dapat digunakan di pura dan juga dapat di gunakan di tempat orng yang sedang melaksanakan upacara pitra yadnya atau manusia yadnya. Penabuh angklung yang ada di sanggar seni mas putra baru lebih dominan bersal dari banjar tegeh maka pada  tahun 2005 angklung tersebut di bawa ke banjar tegeh dan di bentuk lah  sekhe sekar emas. Dulunya penabuh sekhe angklung sekar emas adalah orng dewasa, tetapi mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tidak dapat melanjutkan ikut dalam sekhe tersebut, maka digantilah oleh anak-anak pada tahun 2007.

FUNGSI GAMELAN ANGKLUNG SEKHE SEKAR EMAS

1. Fungsi Upacara

Fungsi gamelan angklung Sekhe Sekar Emas dibanjar Tegeh adalah  mengiringi upacara pitra yadnya manusia yadnya dan selain itu  juga dipakai mengiringi upacara Dewa Yadnya serta tari-tarian gong selendro yang sering juga menghidangkan gending-gending perangklungan 4 nada.

Satu barungan angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali menggunakan  alat-alat gamelan dan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat Bali sebagian besar mengenal bahwa angklung dipergunakan dan berfungsi mengiringi upacara Pitra Yadnya (Ngaben).

Di desa adat Tegeh, gamelan angklung didukung oleh sebuah organisasi yang bersifat tradisional yang bertujuan sosial.  Sekee angklung Sekar mas nama organisasi yang menaungi kebersamaan sekee angklung ini dengan anggota kurang lebih 50 orang. Sekee ini berada di lingkungan Banjar Tegeh Desa Angseri, Kec Baturiti, Kab Tabanan. Rasa kebersamaan dan memiliki sesama anggota sekhee dengan tujuan membantu tanpa pamrih terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan bila memiliki kepentingan upacara untuk mengupah (menyewa) angklung. Tapi seiring dengan perkembangan modernisasi dan terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berkembang pula struktur sekaa angklung menjadi lebih professional dan mulai ada perjanjian ataupun sewa menyewa untuk kegiaan pentas dan sebagainya yang tentunya di luar konteks Ngayah.

2. Fungsi Sosial Ekonomi

Sebuah organisasi seperti Sekee Angklung Sekar Mas ini bersifat tradisional dan dibentuk untuk tujuan-tujuan sosial pada awal pendiriannya. Warga yang memiliki kepentingan terhadap jasa penggunaan gamelan ini untuk kepentingan upacara hanya mendapat sekedar minum atau makanan sebagai ungkapan terima kasih serta sesari banten gong atau batu-batu, disediakan sekedarnya

Hal ini merupakan cerminan rasa kebersamaan dan gotong royong serta kerukunan interaksi sosial masyarakat Banjar Tegeh. Namun seiring dengan perkembangan globalisasi dan perubahan budaya akibat arus modernisasi serta system teknologi yang canggih menggeser juga nilai serta fungsi sosial dari Sekee angklung ini. Tuntutan kehidupan bermasyarakat yang semakin kompleks mengubah pula pola perkembangan kesenian sekee angklung ini.  Saat ini untuk kegiatan ngayah tanpa upah seperti dulu sangat jarang didengar lagi, namun dalam kenyataannya kini mulai diberlakukan sistem sewa atau memberi upah untuk sekali pelaksanaan menggunakan gamelan angklung untuk kegiatan yadnya dan lainnya.

3.Fungsi Hiburan

Sekhee  Angklung Sekar Mas selain menampilkan tabuh-tabuh juga menampilkan tarian-tarian. Adapun tari-tarian yang dipentaskan dengan iringan angklung kebyar skhee Sekar Mas antara lain, Tari Barong, Baris tunggal, Jauk manis, Panyembrahma,dan tari Calonarang dll. Respon masyarakat pendukung dan penikmat seni cukup besar dalam pentas kesenisn tersebut . Hal ini dibuktikan dengan kehadiran penonton yang membludak.

Selain itu ditemukan pula angklung sering digunakan untuk mengiringi wayang kulit di beberapa daerah di Bali. Jadi kesenian angklung sampai saat ini memiliki arti penting baik dalam konteks kebutuhan masyarakat yang menunjang atau berfungsi upacara maupun sosial ekonomi dan hiburan.

Instrumen Gamelan Angklung yang ada di  Sekhe Sekar Emas banjar Tegeh

  • Barungan gambelan angklung kebyar sekhe Sekar Emas :
  • KopyakGending-gending Angklung Kebyar Sekee Sekar Emas antara lain :
  • 4-5 Pemade
  • 4  kantil
  • Sepasang Suir
  • Sepasang tungguh reong
  • Sepasang jegogan
  • Sebuah tungguh kempul
  • Sebuah kelenang
  • Sebuah tawa-tawa
  • Sebuah suling atau lebih
  • Satu tungguh kecek
  • Sepasang kendang lanang,wadon.
  • 6-9 buah ceng-ceng
  • Sekar Harum,
  •  Singa Murti,
  • Galang Kangin,
  • Telu Kebyar,
  • Tabuh Telu,
  • Semara Murti
  • Dll.

Di era belakangan ini gamelan angklung mengalami perubahan yang saja dari bentuk fisik instrumentasi, tetapi juga terjadi perkembangan repertoar dan fungsi, di dalam konteks kehidupan sosial masyarakat di Bali. Dan saat ini gamelan angklung telah diangkat untuk ajang sebuah kreativitas, lahan seni artistic bagi seniman-seniman kreatif dengan tampil sebagai angklung kebyar dan angklung dengan kreativitas seni modern.apalagi angklung kebyar kini sering di-paradekan atau bahkan dilombakan dalam ajang bergengsi seperti di  Pesta Kesenian Bali. Antusias masyarakat pendukung dan peminat seni  akan tumpah ruah bila ada pertunjukan angklung apalagi tampil “ mebarung” mengiringi tari lepas yang diiringi angklung kebyar.

 

Tari Leko Di Tunjuk Kelod Tabanan

TARI LEKO DI TUNJUK KELOD

TABANAN

 

SEJARAH TARI

Tari leko yang ada di Banjar  Tunjuk Kelod sekarang ini adalah merupakan lanjutan dari warisan nenek moyang masyarakat setempat dimana kehadirannya adalah merupakan tarian pergaulan.

Semula tarian ini mempunyai kondisi yang sangat sederhana baik iringannya maupun perlengkapan lainnya yang ada hubungannya dengan pertunjukan. Munculnya tarian ini yang di peroleh dari sejarah adalah :

  1. Karena perkembangan tari legong, tari gambuh, tari topeng, wayang kulit di lingkungan Puri Kerajaan Tabanan seperti kerajaan Kediri, Kerajaan Buahan, Kerajaan Beng cukup baik, dimana antara ketiga kerajaan itu mempunyai hubungan antara satu sama lainnya,
  2. Adanya perkembangan tari tersebut di atas yang mana dikuasi oleh lingkungan Puri yang mana berarti bahwa tari tersebut adalah milik puri,
  3. Adanya bantuan materi/ pecatu yang berupa sawah oleh raja kepada pamong desa yang berwenang mengurus masalah itu, dengan tujuan agar hasil dari pecatu itu dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri.

Berdasarkan hasil dari pecatu, almarhum Nang Seruni( pamong desa saat itu ) bersama dengan pamong lainnya merintis kembali Tarian Leko yang telah ada, dengan tujuan agar jangan peninggalan menjadi sirna.

Akhirnya ide almarhum mendapat banyak dukungan dari masyarakat dan sehubungan dengan keputusan itu almarhum Nang Seruni berusaha berusaha mendapat seorang pelatih tari, untuk menangani semua keputusan yang telah disepakati secara musyawarah oleh para pamong desa.

Setelah mengadakan penilaian terhadap beberapa pelatih tari untuk menangani tari Leko itu, maka ditetapkan seorang pelatih yang bernama  I Aseman (sudah Almarhum) yang berasal dari Desa Kerambitan, Tabanan, dimana menurut pengamatan yang telah dilakukan oleh almarhum Nang Seruni terhadap pelatih tari tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Karena pelatih tari itu memiliki profesi menari sebelum menjadi pelatih tari,
  2. Pengalaman-pengalamannya menangani penari-penari di daerah Gianyar, Tabanan, termasuk Puri Kerambitan, Puri Kaleran, Puri Buahan serta Puri Beng.

Besar harapan masyarakat setempat dengan mendatangkan pelatih tari tersebut akan dapat di gali atau diwujudkan suatu tarian yang mengandung unsure-unsur tari Legong dan Gambuh dimana tarian itu pernah dikuasai oleh pihak puri.

Suatu kenyataan apa yang diharapkan oleh masyarakat setempat pada pelatihan tari tersebut menjadi kenyataan, suatu bukti pelatih itu dapat memadukan unsur-unsur tarian yang dikuasai oleh pihak puri kepada tari leko yang telah ada. Usaha mana yang telah dirintis oleh almarhum Nang Seruni tersebut di atas dimana suatu kenyataan tarian itu masih bertahan dari berkembang sampai saat ini.

Memang merupakan suatu kewajiban bagi masyarakat pendukung bahwa segala bentuk keenian yang sudah dimiliki perlu ditingkatkan dan disempurnakan. Berkat dukungan dari masyarakat setempat  ditambah tidak ada hiburan lainnya saat itu maka tari leko menjadi kegemaran masyarakat sehingga tarian ini pernah mengalami masa kejayaan.

PERKEMBANGANNYA

Dari tahun 1919 sampai tahun 1933 tari Leko ini mengalami perkembangan yang cukup baik, sehingga tarian ini sempat mengadakan pegelaran ke desa-desa dikawasan Kabupaten Tabanan, seperti misalnya Desa Payangan, Desa Marga, Desa Belayu, Desa Penebel dan desa-desa lainnya.

Dari tahun 1933 sampai tahun 1959 perkembangan tari Leko ini mengalami masa surut. Hal ini disebabkan datangnya penjajah Jepang dimana kegiatan organisasi tari Leko itu terpaksa dibekukan, untuk menghindari segala kemungkinan yang dilakukan oleh penjajah Jepang. Di samping itu dengan adanya perjuangan patriotic bangsa Indonesia dimana pendukung-pendukung organisasi tari itu banyak yang ikut berpatisipasi dalam perjuangan. Sehingga kemungkinan untuk mengaktifkan kembali kegiatan dibidang organisasi tari tersebut sangat terbatas.

Sejak tahun 1959 sampai saat kegiatan organisasi tari Leko di Banjar Tunjuk Kelod tersebut aktif kembali, lebih-lebihan dengan munculnya tenaga atau seniman muda yang sangat berbobot seperti Bapak I Nyoman Sumandi MA, yang banyak menyumbangkan buah pikiran dan fasilitas lainnya, juga adanya bantuan dari pihak listibnya, baik berupa moral maupun material maka sangat  besar artinya bagi kelanjutan perkembangan tarian itu.

FUNGSI

           Bila ditinjau dari segi fungsinya, tari Bali itu dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan antara lain: Golongan tari  Wali ( sacred religios dance ), Tari Bebali ( ceremonia ) dan Tari Balih-balihan ( secular dance ) .

Berdasarkan klasifikasi tari tersebut diatas maka Tari Leko ini dapat digolongkan ke dalam klasifikasi yang ketiga yaitu sebagai seni tari Balih-balihan, dimana tarian ini lebih banyak berfungsi sebagai seni hiburan. Ini berarti bahwa tari Leko ini dipentaskan untuk hiburan masyarakat, baik yang berpartisipasi didalam suatu upacara suatu upacara keagamaan di pura-pura maupun dalam kegiatan sosial, misalnya “Bayar Kaul”, “Tiga Bulan Bayi”,” Upacara Adat Potong Gigi “ dan lain sebagainya.

Walaupun tarian ini banyak berfungsi sebagai seni hiburan namun dalam aktivitasnya mempunyai sangkut paut yang erat dengan nilai-nilai keagamaan seperti misalnya bila mengadakan suatu pementasan selalu di dahului dengan upacara persembahyangan sesajen, upacara ini dilakukan pada tempat pementasan, pada alat-alat gamelan serta perlengkapan pakian misalnya gelungan dimana ada beberapa gelungan yang dikeramatkan.

Secara singkat  susunan pementasan tari Leko di Banjar Tunjuk Kelod itu dapat diuraikan sebagai berikut :

Sesaat setelah tabuh pembukaan, muncullah tari pertama yang disebut tari Condong, kemudian dilanjutkan dengan peran Legong atau peran lainnya yang sudah mulai membawakan suatu lakon. Peran Legong inilah oleh masyarakat Banjar Tunjuk Kelod disebut dengan istilah Leko ( wawancara dengan I Nyoman Rajeg, umur 66 tahun )

Selesai pementasan tari berlakon itu, penari dan penabuh istirahat sebentar untuk menikmati hidangan ala kadarnya yang disuguhkan oleh anggota keluarga yang tarian itu. Setelah istirahat sejenak, barulah pertunjukkan dilanjutkan ke fase berikutnya yaitu dengan paibingan dimana acara ini adalah merupakan acara penutup dari pada pertunjukan Leko. Dalam paibingan-ibingan ini para penari menari dengan lincahnya mencari pasangan untuk diajak menari bersama dengan pasangan untuk diajak menari bersama dan pasangan itu terlebih dahulu dipilih keluarga yang mengupah atau orang yang diupacarai oleh keluarga pengepuh. Kalau ada anak kecil (bayi) yang diupacarai ketika mementaskan tarian ini, bayi itu digendong lalu diibingkan secara simbolik oleh orang tua maupun salah satu dari anggota keluarga yang mengadakan upacara itu. Begitu pula kalau umpamanya tarian ini dipentaskan dalam rangka upacara adat pemotongan gigi, maka orang yang potong itu dijawat oleh penari Leko untuk diajak menari bersama. Selanjutnya paibingan ini diteruskan pada penonton dimana ada pengibing yang muncul dengan sendirinya dan juga ditunjuk atau ‘Dijawat’. Disini tidak terdapat unsure-unsur seperti rabaan maupun pegang-pegangan bagi penari sebagaimana lazimnya yang terdapat di dalam adegan paibingan Joged Bumbung. Kontak-kontak yang diadakan hanya dalam bentuk gerak dan penari Leko dengan pengibing dibatasi oleh lampu yang dipasang di tengah arena pertunjukkan. Lampu itu di sekitar tahu 1919  dari lampu minyak kelapa dengan sumbu kaps sebanyak 6 sumbu ( wawancara dengan Ni Wayang Rengkung, umur 55 tahun ). Tetapi sekarang tidaklah demikian halnya mengingat dengan adanya kemajuan teknologi lampu itu tidak masih dipertahankan sudah diganti dengan lampu Gasolin ( sejenis lampu patromak) dimana tempat minyaknya terpisah, yang cara penyaluran minyaknya itu dengan melalui pompa.

 

Instrumen Reong

INSTRUMEN REONG

 

Pengertian Reong

Reyong adalah salah satu instrumen yang berbentuk pencon/bermoncol. Umumnya reyong dibuat dari bahan kerawang (campuran timah murni dan tembaga) namun ada juga yang dibuat dari bahan besi atau pelat. Warna pencon reyong umumnya berwarna keemasan tergantung bahan yang digunakan.

plosinstrumen gamelan, satu tungguh reyong terdapat beberapa pencon reyong menyesuaikan dengan banyak nada yang digunakan oleh instrumen gamelan tersebut. Tinggi rendahnya nada yang dihasilkan sebuah pencon reyong ditentukan oleh besar kecil pencon dan cembung cekungnya pencon reyong. Semakin besar pencon reyong maka semakin rendah nada yang dihasilkan, dan semakin cembung pencon reyong maka semakin tinggi nada yang dihasilkan.

Pada gong kebyar, satu tungguh reyong menggunakan dua belas pencon reyong dengan wilayah nada 3 oktaf, dengan susunan nada dari nada 5, 7, 1, 3, 4, 5, 7, 1, 3, 4, 5, 7, dibaca ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, dan ndung. Dua belas pencon reyong tersebut diletakan pada sebuah penyangga yang biasa disebut “Pelawah”. Semua pencon reyong tersebut diikat dengan tali pada lubang “gegorok” (lubang yang ada pada bagian bawah pencon). Penempatan nada-nada reyong berjejer dari nada rendah ke nada tinggi (dari kiri ke kanan), sesuai dengan ukurannya besar ke kecil (nirus).

Reong dimainkan oleh empat orang penabuh dengan mempergunakan masing-masing dua buah panggul pada tangan kanan dan kiri. Teknik permainan yang diterapkan adalah tehnikubit-ubitan yang dalam barungan gamelan sepadan dengan cecandetan, kotekan, tetorekan yang mengacu pada teknikpermainan polos dan sangsih yang dalam lontar Prakempa disebut “Gagebug” .(Bandem:1991:16). Gagebug rereongan disebut I gajah mina namanya. Pemain reyong pertamadan ketiga (dari kiri) memainkan pukulan polos, sedangkan pemain kedua dan keempat memainkan pukulan sangsih. Setiap pemain reong memiliki wilayah nada untuk dapat memainkan tehnik-tehnik di atas.

Ciri – ciri Instrumen Reong

  • Pelawahnya berbentuk memanjang.
  • Instrumen yang berbentuk pencon/bermoncol.
  • Dimainkan atau dipukul oleh empat orang penabuh

Fungsi Instrumen Reong

  • Memberi angsel-angsel pada suatu gending
  • Membuat jalinan motif
  • Mengisi rongga-rongga pukulan penyacah dan jublag

 

Jenis – jenis pukulan Instrumen Reong

  1. Pukulan Ngeremteb

Yaitu pukulan yang menggunakan pola pukulan yang lebih mementingkan pada pola ritme dari pada pola nada.

  1. Pukulan Nerumpuk

Yaitu pukulan reong yang memukul satu moncol atau satu nada yang dipukul oleh tangan kanan dan kiri secara beruntun

  1. Pukulan Norot, Ngosot, Ngodot

Yaitu pukulan tangan kanan dan kiri salah satu pemain (penyorag) yang memukul sambil menutup/nekes. Pukulan norot, ngosot, dan ngodot dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :

o   Norot Cepat (gencang)

Yaitu pukulan tangan kanan dan kiri salah satu pemain (penyorag) yang memukul sambil menutup/nekes yang pelaksanaannya bergantian dan tangan kanan lebih sering memukul.

o   Norot Pelan (adeng)

Yaitu pukulan tangan kanan dan kiri salah satu pemain (penyorag) yang memukul sambil menutup/nekes dimana pelaksanaannya bergantian.

  1. Pukulan Memanjing

Yaitu pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian yang letak pukulannya di bagian muka (mue) dan sering juga disebut “lambe” pada saat akan membuat angsel-angsel.

  1. Pukulan ubit-ubitan

Tehnik pukulan yang dihasilkan dari perpaduan sistem on-beat (polos) dan off-beat (sangsih). Ubit-ubitan adalah pukulan polos dan sangsih yang dipadukan sehingga menimbulkan perpaduan bunyi (Inter Loking). Di dalam literatur ubit-ubitan sebuah tehnik permainan gamelan Bali yang disusun oleh Bapak Dr. I Made Bandem,ada menyebutkan jenis-jenis pukulan ubit-ubitan diantaranya :

o   Ubit-ubitan Nyalimput

Perpaduan antara pemain “penyorog” yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan pemain “pengenter” juga dilakukan oleh tagan kanan dan tangan kiri sehingga membentuk suatu jalinan atau kotekan.

o   Ubit-ubitan Gegelut

Perpaduan antara pemain “penyorog” yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kirisedangkan pemain “pengenter” juga melakukan dengan tangan kanan dan tangan kiri sehingga membentuk suatu jalinan atau kotekan.

  1. Pukulan Beburu

Yaitu memukul empat buah nada yang berbeda dan dipukul oleh dua orang pemain dengan memakai tangan kanan dan tangan kiri

 

Gamelan Jegogan

GAMELAN JEGOGAN

Jegogan adalah gamelan kas Kabupaten Jembrana. Sumber suara jegogan berasal dari bilah yang terbuat dari bambu yang berbentuk tabung yang langsung berfungsi sebagai resonator. Setiap instrument memiliki 8 bilah bambu dengan nada yang berbeda, yang digantung pada pelawah menggunakan 4 kaki yang terbuat dari kayu. Bentuk tiap instrumen jegogan adalah sama, yang membedakan hanya segi ukuran instrumen dan nada yang dimiliki. Semakin rendah nada yang dimiliki maka diameter dan panjang bambu pun semakin besar.

Satu ensamble gamelan jegogan terdiri dari 14 buah instrumen. Adapun nama dan fungsi instrumen tersebut sebagai berikut:

  1. Satu buah Patus Barangan, berfungsi untuk memulai gending, memberi aba-aba atau memimpin seluruh penabuh, pukulannya mengikuti matra.
  2. Dua buah Pengapit Barangan, berfungsi untuk nyandetin Patus Barangan.
  3. Satu buah Patus Kancil, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan, oncang-oncangan,bermain polos.
  4. Dua buah Pengapit Kancil, berfungsi untuk nyandetin Patus Kancil.
  5. Satu buah Patus Suir, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan, oncang-oncangan, bermain polos, menguatkan suasana gending karena nadanya tinggi.
  6. Dua buah Pengapit Suir, berfungsi untuk nyandetin Patus Suir.
  7. Dua buah Celuluk/Kuntung, berfungsi sebagai pembawa melodi.
  8. Dua buah Undir, berfungsi sebagai pembawa melodi, tetapi pukulannya lebih jarang dari Kuntung.
  9. Satu buah Jegog, berfungsi sebagai pembawa melodi hanya saja pukulannya lebih jarang dari Undir dan dimaninkan oleh dua orang penabuh.

Untuk mengiringi tari-tarian digunakan bebarapa instrument tambahan seperti:

  1. Dua buah kendang
  2. Satu buah suling
  3. Satu buah tawa-tawa
  4. Satu buah ceng-ceng

Setiap instrumen memiliki 8 bilah nada dengan 2 oktaf nada dimana terdapat 4 nada dalam satu oktafnya kecuali kuntung, undir dan jegogan yang hanya terdiri dari satu oktaf saja. oktaf nada setiap instrumen pun berbeda pula, mulai dari suir yang memiliki oktaf nada tertinggi, kemudian kantil 1 oktaf lebih rendah dari suir, kemudian barangan dan kuntung lebih rendah 1 oktaf dari kantil, kemudian undir lebih rendah 1 oktaf dari barangan, kemudian jegogan yang memiliki nada terendah. Apabila kita perhatikan laras Jegogan itu maka kita akan mendapatkan hal yang sangat unik, kita bertitik tolak pada laras pelog, akan didapatkan susunan jarak nada sebagai berikut.

  1. Dong ke deng adalah pendek.
  2. Deng ke dung adalah panjang, karena melewati satu pamero.
  3. Dung ke ding paling panjang, karena melewati nada dang dan pamero.

Dong, deng, dung, ding merupakan urutan nada Jegogan yang biasa diucapkan di Jembrana. Karena keunikannya inilah laras Jegog cenderung disebut laras Pelog.

Penataan instrumen-instrumen jegogan disusun menjadi 4 barisan dengan urutan sebagai berikut:

  1. Barisan pertama terdiri dari 3 instrumen, yaitu 1 buah patus barangan di tengah dan 2 buah pengapit barangan di sisi kanan dan kiri. Patus barangan diletakkan di tengah-tengah dengan maksud agar mudah ketika memberi aba-aba.
  2. Barisan kedua terdiri dari 3 instrumen yaitu, 1 buah patus kancil di tengah dan 2 buah pengapit kancil di sebelah kanan dan kiri.
  3. Barisan ketiga terdiri dari 5 instrumen, yaitu 1buah patus suir di tengah, 2 buah pengapit suir di sebelah kanan dan kiri patus suir, dan 2 buah kuntung di sisi kanan dan kiri.
  4. Barisan terakhir terdiri dari 3 instrumen, yaitu 1 buah jegog di tengah, dan 2 buah undir di sisi kanan dan kiri.

Dari jumlah personilnya, Jegogan merupakan jenis ansamble sedang yang dimainkan oleh 15 orang. Setiap orang memukul 1 instrumen kecuali instrumen jegogan, karena ukurannya yang besar mengharuskan instrumen ini dimainkan oleh 2 orang. Cara memainkan gamelan jegogan adalah dengan dipukul dengan menggunakan dua buah alat pemukul/panggul yang terbuat dari kayu dengan bentuk memanjang dan pada ujungnya berbentuk bundar menyerupai roda. Khusus pada instrument jegogan, undir, dan barangan yang dipegang oleh tangan kiri, ujung pemukulnya terbuat dari bahan karet. Pemainnnya pun berdiri karena pelawahnya yang tingginya sekitar 1meter. tapi berbeda dengan  instrumen undir dan jegogan, ukuran pelawahnya yang memiliki tinggi 1,5meter mengharuskan pemainnya untuk duduk di atas instrumen tersebut.

Kesenian Jegogan hanyalah berupa tabuh (barung tabuh) yang fungsi awalnya sebagai hiburan para pekerja bergotong royong membuat atap rumah dari daun pohon rumbia, dalam istilah bali bekerja bergotong royong membuat atap dari daun pohon rumbia disebut “nyucuk”, dalam kegiatan ini beberapa orang lagi menabuh gambelan jegogan. Dalam perkembangan selanjutnya Gambelan Jegogan juga dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan, resepsi pernikahan, jamuan kenegaraan, dan kini sudah dilengkapi dengan drama tarian-tarian yang mengambil inspirasi alam dan budaya lokal seperti yang namanya Tabuh Trungtungan, Tabuh Goak Ngolol, Tabuh Macan Putih dengan tari-tariannya seperti Tari Makepung, Tari Cangak Lemodang, Tari Bambu, sebagai seni pertunjukan wisata.

 

Banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar

Banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar

 

Menulis segala hal yang berhubungan dengan Bali tidak akan ada habisnya, hal ini disebabkan keunikan yang dimiliki oleh masyarakat di pulau dewata ini. Masyarakat Bali yang dari dulu sangat terkenal akan adat istiadat ataupun budayanya sangat menyadari untuk tetap mampu menjaga dan melestarikannya walaupun ditengah himpitan antara kepentingan hidup dalam kemajuan jaman yang serba modern ini.

 

Salah satu warisan peninggalan para leluhur masyarakat Bali yang sangat berperan penting dalam menjaga keajegan budaya Bali yaitu adanya bale banjar.

Banjar adalah suatu tempat dimana berlangsungnya kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan warga dan terdapat organisasi-organisasi di dalamnya. Fungsi daripada banjar adalah sebagai tempat berkumpulnya warga untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan banjar atau Desa, contohnya seperti, kegiatan Posyandu, “Sangkep” Anggota, kegiatan pelestarian kesenian Bali (Gamelan, Tari, Utsawa Darmagita, dsb.).. Nah kali ini saya akan membahas tentang banjar saya sendiri yang bernama Banjar Tanjung Bungkak kelod. Banjar Tanjung Bungkak Kelod berada di desa adat Tanjung Bungkak, jalan Pandu, kecamatan Denpasar Timur. Banjar Tanjung Bungkak Kelod lokasinya tidak terlalu jauh dari Kampus ISI Denpasar, yaitu sekitar 500 meter dari kampus ISI Denpasar. Banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar memiliki KK (Kepala Keluarga) Sebanyak 129 jiwa.

 

Dalam suatu banjar juga tersusun kepengurusan atau istilahnya pemerintahan terkecil. Banjar di Bali dipimpin oleh seorang Kelian Adat/Banjar yang sangat bersifat sosial atau ngayah (tanpa gaji bulanan). Dia akan dibantu oleh beberapa ‘prejuru’ banjar seperti; Petajuh (wakil kelian), Petengen (Bendahara), Penyarikan (sekretaris), Kelian Sekaa (ketua kelompok spt; kesenian gamelan, dsb.) dan yang terpenting yaitu Kesinoman (komunikasi ke anggota atau penghubung dalam basa Bali juga disebut “juru arah”).

 

Struktural Pengurus Banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar

 

  • Kelihan banjar (pemimpin banjar)
  • I Nengah Aryana
  • Penyarikan (skretaris)
  • I Ketut Suwirya
  • Petengen (bendahara)
  • I Ketut Susana
  • Petajuh (pembantu umum)
  • I Nyoman Yuda
  • I Wayan Sukarta
  • Kesinoman (pembantu banjar)
  • Gd Astawa Yana
  • Wisnu
  • Abi
  • Putra

 

Banjar Tanjung Bungkak Kelod memiliki barungan gamelan Gong Kebyar dan Baleganjur. Barungan gamelan gong kebyar yang ada di banjar Tanjung Bungkak Kelod yakni :

 

–          Satu ugal

–          Empat gangsa

–          Empat kantilan

–          Sepasang penyacah

–          Sepasang  jublag

–          Sepasang  jegog

–          Gong lanang wadon

–          Kempur

–          Kempli kajar

–          Kemong

–          Kecek

–          Kendang lanang wadon

–          Reong

–          terompong

 

Seka gong yang sangat berkembang di banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar adalah seka gong PKK karena sempat mewakili kota Denpasar dalam parade gong kebyar wanita pada saat Pesta Kesenian Bali yang ke 39. Diawali pada saat Seka gong PKK banjar Tanjung Bunngkak Kelod Denpasar sempat mengikuti parade gong kebyar di Puputan pada tahun 2012 lalu, yang akhirrnya lolos untuk mewakili kota Denpasar dalam parade gong kebyar wanita. Sungguh pengalaman yang luar  byasa waktu itu dari beberapa banjar yang ada di Denpasar, banjar Tanjung Bungkak Kelod yang mendapat kesempatan mewakili kota Denpasar dalam parade gong kebyar wanita.

 

Selain seka gong kebyar wanita ada juga seka baleganjur di banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar. Seka gong baleganjur di banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar pernah mengikuti lomba balegajur se-kota Denpasar pada tahun 2010 di Puputan Denpasar. Pada waktu itu Seka Baleganjur Tanjung Bungkak Kelod tidak mendapat juara atau lolos untuk mewakili konta Denpasar di ajang Parade Baleganjur. Namun sekali lagi itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dari abnjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar.

 

Barungan Gamelan Baleganjur Banjar Tanjung Bungkak Kelod Denpasar :

 

–          Kendang lanang wadon

–          Ceng-ceng kopyak 10 buah

–          Gong lanang wadon

–          Reong

–          Kempur

–          Kempli

–          Kajar