Tokoh Seniman di Banjar Batubidak

This post was written by madesujendra on Desember 28, 2011
Posted Under: Tak Berkategori

SENIMAN/ TOKOH

 

NAMA: I NENGAH KUNDRA . LAHIR, DI KEROBOKAN, TAHUN 1942.


Dalam kesempatan ini, sehubungan dengan beberapa tokoh seni atau seorang tokoh seni, saya akan mengangkat sosok seorang seniman lokal dari desa  Kerobokan. Adalah bapak I Nengah Kundra, lahir di Kerobokan tahun 1942, pada masa penjajahan Jepang.  Kecintaanya terhadap seni merupakan warisan bakat yang turun- temurun dari kakeknya yang ketika itu sebagai penabuh tari barong di Pura Batur Desa Adat Kerobokan, kira-kira tahun 1920-an pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Sekitar tahun 1954, ketika masih duduk dikelas II Sekolah Rakyat / SR Bapak I Nengah Kundra sudah aktif sebagai penabuh batel suling, yang waktu itu digunakan dalam acara piodalan di Pura-pura di lingkungan desa setempat. Setelah itu berkembang menjadi sekehe batel wayang yang terdapat di Banjar Gadon Kerobokan dan sampai sekarang masih dipergunakan untuk mengiringi perunjukan wayang kulit, oleh beberapa Dalang di kabupaten Badung dan Kota Denpasar.

Setelah tamat SR tahun 1958, mulai menjadi penabuh barong di Pura Batur Kerobokan, yang dilatih oleh Bapak I Nyoman Rideg dari Legian. Ketika itu pelatih masih dijemput memakai sepeda dayung. Sempat belajar gender wayang, namun tidak berlangsung lama karena, uang teman-temanya  dicuri oleh pelatihnya, akhirnya terjadi kesalah fahaman. Latihan tidak bisa dilanjutkan lagi. Bapak I Nengah Kundra juga berguru kendang kekrumpungan di beberapa tempat di Denpasar, antara lain: di Bantang Pejuh, Sesetan pada Bapak I Wayan Garus, di Muding Kerobokan Pada Bapak I Wayan Redug, di Legian  Pada Bapak I Nyoman Rideg, di Pemedilan Denpasar pada Bapak I Nyoman Dendi ( alm ) pada tahun 1960, sebagai seniman janger yang pada waktu itu disebut janger Marhaen karena di bentuk oleh  Partai Nasional Indonesia Marhaenisme yang merupakan suatu organisasi politik, pada waktu itu dilatih oleh Bapak Pikul dari banjar Gaji Dalung.

Pada tahun 1960-an ini juga ikut aktif dalam organisasi pencak silat Bakti Negara. Latihanya ketika itu di pantai Sanur, pelatihnya waktu itu adalah  bapak Wirsana dari banjar Kaliungu,Denpasar. Pada waktu itu juga menjadi anggota GOP ( Gabungan Organisasi Pencak silat ) dengan pelatih Bapak Glebus dari Gerenceng Denpasar. Pada tahun 1960-an ini, juga ikut membentuk Legong gabungan Kerobokan, di rumah Bapak Deger yang sering dipanggil Bapak Sangket dari Banjar Petingan Kerobokan, bersama bapak I Wayan Badoh yang ketika itu bekerja di URIL, yang sekarang menjadi AJENDAM.            Di tahun yang sama juga ikut dalam membentuk LKN, Kuta Utara. LKN adalah Lembaga Kesenian Nasional Kuta Utara yang dibentuk oleh Partai Nasional Indonesia, yang latihanya di Dalung bertempat di rumah Anak Agung Ngurah Oka.

Pada tahun 1963, juga aktif di Sekehe Gong Br. Kulibul, bersama Bapak I Nyoman Kurdana ( mantan Lurah Canggu , Alm ) dan Bapak I Nyoman Kawantara juga dari Canggu. Pada saat itu Juga turut dalam  Sekehe Gong Br. Batuculung Kerobokan, mencari gending- gending untuk mengiringi Legong dan tari lepas.

Bapak I Nengah Kundra  juga merintis berdirinya legong angklung Purnama Budaya yang resmi berdiri pada bulan Oktober 1963 dan dibekukan pada tahun 1965, karena adanya peristiwa pemberontakan G-30-S, PKI.

ª      Setelah itu pada tahun 1967, membuat tabuh drama dari angklung kebyar, di Banjar Tegeh Sari, Desa adat Kerobokan, Kodya Denpasar.

ª      Pada tahun 1969, ikut merintis berdirinya Sekehe Gong Candra Metu Br. Gadon, Kerobokan.

ª      Pada tahun yang sama juga ikut Nanginin Petapakan Barong Bangkal ( Dewa Ayu Batan Pempatan ), di Pura Tegeh Sari, yang berada di depan balai Br. Batubidak.

ª      Antara tahun 1969 sampai tahun 1970, juga memberi pelajaran menabuh anklung  di Br. Uma Klungkung, Desa Padang Sambian Kaja.

Memasuki tahun 1970, ikut begabung di yayasan Eka Satya Budaya Kerobokan.

Yayasan Eka Satya Budaya adalah, sebuah yayasan yang ber-anggotakan seniman-seniman inti dari seluruh banjar yang ada di Desa Kerobokan, ynang dipusatkan di Jero Kelodan Kerobokan ( moncol Lanang Wayahan Celuk ) merupakan salah satu dari 33 ke- Moncolan yang ada di “Puri Agung Pemecutan Denpasar”. Anggota yayasan yang I aktif kurang lebih 18 tahun selanjutnya dibubarkan, tahun 1988 dan digantikan oleh generrasi sekarang. Selama waktu tersebut, beberapa kali telah mengikuti festival gong kebyar, dan bebrapa kali membuat garapan sendratari. Pertama menggarap sendratari Ramayana dengan pelatih A A Ngurah Yadnya dari Taman Punggul, dalang oleh Bapak Made Persib. Sendratari  Durma, Nara Kesuma dan terakhir Watu Gangga. Festival I tahun 1975 di Pemedilan Denpasar dengan Desa Sanur, ke II di Art Centre dengan desa Sesetan dan yang terakhir festval Legong antara Kerobokan dengan desa Bualu Br. Peken di banjar Buni Kuta, dimenangkan oleh Kerobokan. Pelatih yang biasa melatih di Kerobokan waktu itu adalah, Bapak I Ketut Gede Asnawa, Bapak Komang Astita, Bapak Nyoman Suarsa dan Bapak I Nyoman Catra.

Pada waktu itu sekehe gong Eka Satya Budaya, cukup dikenal karena paling pertama memiliki PATREM untuk bisa pentas di Hotel-hotel Sanur, Kuta dan Legian. Waktu itu tidak ada istilah Gong mini , barunganya harus lengkap tidak seperti sekarang ini.

Kembali lagi ke TOKOH, pada tahun 1980-an  juga memberi pendidikan menabuh di Banjar- banjar dilingkungan desa maupun di luar desa antara lain;

ª      Di Banjar Tiying Tutul, Tumbakbayuh, barungan angklung bilah 5, di tutup latihanya dengan pementasan prembon Bapak Kadek Moleh, masih menggunakan penerangan lampu  petromak.

ª      Di Jero  banjar Tiying Tutul, Pererenan, barungan Gong Kebyar.

ª      Di banjar Pengembungan desa Buduk, barungan Gong, dengan tabuh Lelambatan.

ª      Di banjar Dukuh Pandean, desa Munggu, barungan Angklung, tabuh Keklentangan.

ª      Di banjar Aseman Kangin, desa Canggu, kegiatan Pemuda-pemudi, Tari lepas dan Drama gong.

ª      Di banjar Kangkang, desa Buduk, batel wayang.

ª      Di banjar Uma Candi, Buduk , barungan Angklung.

ª      Di banjar Kung desa Dalung , angklung Keklentangan.

ª      Di banjar Kelakahan Kaja, desa Buwit Tabanan, gong kebyar bilah 9.

ª      Di banjar Delod Uma, desa Kaba-kaba, Tabanan, barungan angklung.

ª      Di banjar Merta Sari, Buwit, Tabanan, barungan Angklung.

ª      Di banjar Celuk ,Desa Padang Luah, Dalung, angklung dan gong kebyar PKK.

ª      Di banjar Kuwum , kerobokan, barungan gong.

ª      Di banjar Babakan ,kerobokan , barungan angklung.

ª      Di banjar Umalas Kauh , kerobokan barungan angklung.

ª      Di banjar Pengubengan Kauh  kerobokan , Angklung, Baleganjur dan Gong kebyar.

ª      Di banjar Pengipian  kerobokan, Baleganjur dan angklung.

ª      Di banjar Petingan kerobokan, barungan Gong Kebyar.

ª      Di banjar Muding Kaja kerobokan, barungan Gong Kebyar.

ª      Di banjar Muding Kelod kerobokan, barungan Gong Kebyar.

ª      Di banjar Kelan desa Adat Kelan barungan angklung Kebyar, milik perorangan.

ª      Pada tahun 1982, membuat  tabuh drama gong untuk kegiatan muda-mudi di Br. Jambe, Kerobokan sebanyak dua kali , Jaya prana dan Gede Basur.

ª      Di tahun 1989, ikut mendukung ujian tugas akhir, Bapak I Made Marajaya, S.SP., M,Si,.wayang kulit diiringi angklung kebyar.

ª      Tahun 1991 dan 1992, mengkoordinir, angklung Purnama Budaya Br. Batubidak, dalam rangka lomba angklung keklentangan tingkat Kabupaten dan Propinsi.

ª      Pada tahun 1992,juga turut membantu menyukseskan Drama Gong sekehe Truna-truni  Br. Ayar Kaja Kerobokan, karena ada alasan politis waktu itu menjelang PEMILU 1992, gamelan yang ada di banjar tidak dikasi memakai terpaksa  meminjam gamelanya di Jero Tiying Tutul, waktu akan pentas di desa Gablogan Tabanan.

ª      Tahun 1997-1998, turut serta dalam pembentukan sanggar Candra Metu,Br. Gadon Kerobokan dan ikut membantu ujian tugas akhir Kadek Sunatra, yang sekaligus menjadi pimpinan sanggar saat ini.

ª      Pada tahun 1999, berkesempatan mengikuti Pekan Wayang Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, bersama Dalang Ida Bagus Sudiksa di  Jakarta dari tanggal  7 –14, agustus 1999 yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Bali

ª      Pada tahun 2002, mengisi acara PKB yaitu Parwa Kabupaten Badung bersama sanggar dari desa Kapal, pimpinan A A. Rai Sudarma dan A A Ngurah Windia dari Carang Sari.

ª      Di usianya yang mau menginjak 70 tahun, masih aktif sebagai penabuh batel untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit dan menabuh geguntangan.

Karena lahir dilingkungan keluarga yang miskin secara finansial ,sehingga tidak bisa menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun demikian bapak I Nengah Kundra juga bekerja ,karena sebagai seniman ketika itu tidak banyak yang bisa diharapkan tidak seperti sekarang ini, semata-mata hanya untuk pengabdian serta gotong royong. Bapak I Nengah Kundra dan istri  bekerja sebagai tukang bangunan dari tahun 1967 seiring dengan bangkitnya jaman ORBA, banyak terdapat proyek-proyek yang waktu itu disebut INPRES yang waktu itu berlokasi di SD Penatahan Tabanan, selanjutnya ikut pryek PP yang waktu itu mengerjakan Gedung Keuangan Negara di Renon Denpasar, setelah itu sekitar tahun 1970-an bekerja di proyek pembangunan Taman Budaya ( Art Centre ) waktu itu diangkat sebagai mandor sambil bekerja , mengerjakan Gedung Perpustakaan, mengerjakan kalangan –kalangan Cak sebutanya ketika itu oleh, seorang arsitek Ida Bagus Soba dari Griya Sangeh yang waktu itu beliau tinggal di Jalan Suli Denpasar, yang sekarang beliau sudah menjadi seorang Sulinggih ( Peranda ) dan kembali ke Griya Sangeh. Akhir –akhir pembangunan Taman Budaya pernah ditawari menjadi pegawai Art Centre waktu itu memasang sepanduk pengepakan Gamelan yang akan di bawa ke luar negeri, tapi Bapak I Nengah Kundra tetap memilih profesinya yang sekarang. Pada tahun 1980-an mulai bekerja di proyek proyek PT Tunas Jaya Sanur, waktu itu sedang gencar-gencarnya pembangunan kawasan Legian dan Kuta ,membangun beberapa hotel antara lain : Rama Garden, Ramayana, Rama Beach, Rama Palace, Bali Rani, Puri Bali, Keraton, Bali Regent, Bali Niksoma, Bali Imperial, Sanur Beach, Palm Beach, Pasar Ketapian, Bank Pasar Umum, Bank Dagang Bali,dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan secara rinci, dan berkabung di C.V. Sadhu Karya terakhir mengerjakan SMP DarmaPraja Lumintang Denpasar, juga bekeja di C.V. Cakra Bhuana, C.V. Karmalan Jaya, terakhir mengerjakan Restaurant Laluciola Petitenget Badung, C.V. Singasana, dan mencoba mandiri mengerjakan bangunan – bangunan pribadi sampai tahun 2003, pada tahun 2004 bergabung di PT. Nuansa Puri Bali, tahun 2006 sampai sekarang masih bekerja mengerjakan bangunan-bangunan milik pribadi, namun tidak bisa bekerja langsung namun hanya membantu mengawasi pekerjaan sambil mengisi hari tua disamping juga masih aktif sebagai seniman khususnya pesantian dan Batel wayang, sebagaimana diketahui orang tua kuno tidak mungkin bisa diam semasih mereka mampu untuk berbuat.

Reader Comments

Trackbacks

  1. A片  on Agustus 22nd, 2022 @ 4:07 am