PRAKEMPA

April 24th, 2012
  1. A.    Prakempa Sebagai Seni Sastra

Prakempa sebagai salah satu dari karya seni sastra yang menguraikan tentang gambelan Bali tak dapat dipisahkan eksistensinya dari karya seni sastra yang lain. Dilihat dari segi bentuknya Prakempa merupakan sebuah prosa yang menggunaka bahasa Jawa Kuna (Kawi) dan ditulis dengan huruf Bali yang bagus ujudnya. Sebelum menguraikan Prakempa sebagai karya seni  sastra yang bermutu tinggi, penting kiranya diuraikan karya seni sastra lainnya untuk memperoleh gambaran tentang  kedudukan Prakempa di tengah-tengah seni sastra  Bali lainnya.

Seni sastra Bali purba yang berkembang pada zaman Pra-Hindu merupakan seni sastra rakyat yang bersifat tradisi lisan dan dipelajari turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Seni sastra rakyat ini walaupun mengalami perubahan zaman, ia tetap berkembang subur dikalangan masyarakat Bali. Adapun jenis-jenis  sastra (kesusastraan) ini meliputi I Buta teken I Bongol (Si Buta dan Si Tuli), Pan Sugih teken Pan Tiwas (Pak Kaya dan Pak Miskin),  Men Bekung (Ibu Mandul), Men Bunting (Ibu Hamil) dan lain sebagainya (Bagus, 1952: 55).

Adanya hubungan Bali dan Jawa yang dimulai sejak abad ke-8 menyebabkan seni sastra Bali dipengaruhi oleh seni sastra Hindu Jawa yang dinamakan Pracasti Bebetin. Pracasti Bebetin sendiri dibuat atas nama Raja Ugrasena di Bali (Goris, 1952: 55. Pada pemerintahan raja-raja di Bali, kecuali munculnya seni sastra yang mengandung isi filsafat, astronomi, etnik dan lainsebagainya, berkembang juga seni sastra Ithihasa, yaitu seni sastra yang terdiri dari bermacam-macam tembang.

Dewasa ini hampir seluruh seni sastra yang disebutkan di muka masih terpelihatra baik di Bali, tersimpan dalam perpustakaan perseorangan, maupun dalam perpustakaan lontar yang terbesar di Bali yaitu di Gedong Kirtya di Singaraja. Menurut katalog yang diterbitkan oleh Gedong Kirtya yang klasifikasinya disusun oleh Nyoman Kajeng, maka dari ribuan lontar yang menjadi milik perpustakaan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Weda (Weda, Mantra dan Klapasastra)
  2. Agama (Palakerta, Sasana, dan Niti)
  3. Wariga (Wariga, Tutur, Kanda dan Usada)
  4. Ithihasa (Parwa, Kakawin, Kidung dan Uwug)
  5. Babad (Pamancangah, Usana dan Uwug)
  6. Tantri (Tantri dan Satua)
  7. Lelampahan (memuat lakon Gambuh, Arja, Wayang dan lain-lainnya)

 

 

B. Empat Unsur Pokok

Seperti hipotese yang diajukan pada penelitian ini, sudah mulai jelas bahwa lontar Prakempa memiliki empat unsur pokok yaitu :

– Filsafat atau Logika

– Etika atau Susila

– Estetika (Lango)

 – Teknik menabuh dalam gambelan Bali (Gegebug)

Filsafat atau Logika di dalam lontar Prakempa ini  diawali demgan sebuah manggala yaitu permohonan maaf dari pengarangnya sendiri atas kelancangan dan keberanian menulis naskah Prakempa itu.

 Orang Bali, di mana pun ia berada dan apa pun yang ia perbuat, konsep keseimbangan hidup ini akan menjadi dasar filsafat atau logika yang tercantum dalam lontar Prakempa, konsep keseimbangan hidup manusia itu dapat terwujud dalam beberapa dimensi, yaitu :

  1. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi tungal.
  2. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi dualistis.
  3. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi tiga.
  4. Keseimbangan hidup manusia dalam empat dimensi.
  5. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi lima.
  6. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi enam.
  7. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi tujuh.
  8. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi delapan.
  9. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi sembilan.
  10. Keseimbangan hidup manusia dalam dimensi sepuluh.

Keseluruhan dimensi (konsepsi) keseimbangan hidup manusia di atas menjadi dasar falsafah dari perwujudan lontar Prakempa itu dan konsepsi keseimbangan itu akan muncul secara satu-persatu dalam lontar itu.

            Menurut filsafah Prakempa bahwa bunyi (suara) mempunyai kaitan yang erat dengan konsepsi lima dimensi yang dinamakan Panca Mahabhuta, yaitu Pertiwi, Bayu, Apah, Teja dan Akasa. Bunyi dengan warna masing-masing menyebar keseluruh penjuru bumi dan akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang disebut Lingkaran Pengider Bhvana. Pencipta dari bunyi itu bernama Bhagawan Wiswakarma dan ciptaan beliau mengambil ide dari bunyi (suara) 8 (delapan) penjuru dunia yang sumbernya berada pada dasar bumi. Suara-suara (bunyi) itu dibentuk menjadi 10 (sepuluh) nada yaitu 5 (lima) nada Pelog dan 5 (lima) nada Slendro. Nada-nada itu mempunyai kaitan dengan Panca Tirta dan Panca Geni, dua sumber keseimbangan hidup manusia.

            Laras Pelog mempunyai hubungan dengan Panca Tirta dan laras Slendro berkaitan dengan Panca Geni. Panca Tirta merupakan manisfetasi dari Bhatara Smara dan Panca Geni merupakan manisfetasi dari Bhatari Ratih. Dari 10 (sepuluh) nada yang dijiwai Smara dan Ratih sebagai Dewa Percintaan bersumber pada 7 (tujuh) buah nada yang urutan nadanya sebagai berikut : ding, dong, deng, deung, dung, dang, daing. Ketujuh nada di atas merupakan sumber bunyi dalam gambelan Bali dan menurut Prakempa bunyi (suara) itu disebut Genta Pinara Pitu (bunyi berjarak tujuh) (alenia : 7-10).

Etika atau Susila sebagai sebuah hasil kesusastraan, Prakempa merupakan sumber etika  masyarakat dan dapat dijadikan bahan pelajaran etika bagi masyarakat Bali. Etika adalah suatu kebiasaan, adat atau tata susila tentang kehidupan  masyarakat. Dibahasnya berjenis konsep keseimbangan hidup manusia dalam berbagai dimensi di atas, member petunjuk pada kita bahwa Prakempa ini mempersoalkan masalah etika, khusunya dipandang dari sudut perbuatan baik dan buruk manusia.

Estetika (lango) pembahasan mengenai estetika gambelan dalam lontar Prakempa berintikan unsure-unsur laras (tangga nada) dan tabuh (struktur lagu). Menurut naskah ini, gambelan Bali memiliki 4 (empat) jenis laras Pelog 5 (lima) nada dan laras Slendro 4 (empat) nada. Semua laras-laras itu bersumber pada separangkat gambelan yang bernama gambelan Genta Pinara Pitu (alenia 26, 27, 28, 29, 30). Disamping menguraikan laras dalam gambelan Prakempa juga menguraikan laras dalam vocal, dan laras-laras itu disebutnya sebagai suara mantra, sruti, agosa, anugosa, undantya, anudantya, adana sika dan bhuh loka. Kedelapan laras tersebut digunakan dalam tembang-tembang seperti tembang Gede : Weda, Sruti, Mantra, Wirama dan tembang Tengahan : Kidung atau Malat, sedangkan laras yang terdapat dalam macapat : Dhurma, Sinom, Adri, Ginada dan lain-lainnya.

Gegebug (teknik) aspek terakhir yang menjadi sorotan yang cukup tajam dari pengarang lontar Prakempa ini adalah gagebug atau teknik menabuh gambelan. Gagebug merupakan suatu hal pokok dalam gambelan Bali. Gagebug atau teknik permainan bukan hanya sekedar keterampilan memukul dan menutup bilahan gambelan, tetapi mempunai konotasi yang lebih dalam daripada itu. Gagebug mempunyai kaitan yang erat dengan orkestrasi dan menurut Prakempa bahwa hmpir setiap instrument mempunyai gagebug tersendiri dan mengandung aspek “physical behavior” dari instrument tersebut. Sifat fisik dari instrument-instrumen yang terdapat dalam gambelan member keindahan masing-masing pada penikmatnya.

Leave a Reply