tradisi

SEJARAH GAMELAN GONG KEBYAR DI DESA ADAT KEDONGANAN

SEJARAH GAMELAN GONG KEBYAR DI DESA ADAT KEDONGANAN

 

Ada sekitar 30 jenis barungan gamelan salah satunya adalah Gamelan Gong Kebyar yang hingga kini masih aktif dimainkan oleh masyarakat Bali. Barungan-barungan ini didominir oleh alat-alat musik pukul, tiup dan beberapa instrumen petik. Instrumen-instrumen ini ada yang dibuat dari bambu, kayu dan perunggu (krawang). Gamelan-gamelan ini sebagian besar milik kelompok masyarakat, hanya beberapa saja diantaranya merupakan milik pribadi/perorangan. Berdasar jumlah pemain atau penabuhnya, gamelan Bali dapat dikelompokkan barungan alit (kecil), madya (sedang) dan barungan ageng (besar). Baruangan gamelan alit pada umumnya dimainkan oleh 4-10 orang, ruangan madya antara 11-25 orang, sedangkan barungan ageng memerlukan diatas 25 orang. Dilihat dari usia barungan dan latar belakang sejarahnya, para pakar karawitan Bali membagi jenis-jenis gamelan yang ada didaerah ini kedalam 3 (tiga) kelompok yaitu gamelan golongan tua, gamelan golongan madya, gamelan golongan modern.

Gamelan kebyar merupakan satu bentuk karya dari gamelan golongan madya  seni budaya yang ekspresif dan dinamis diterima masyarakat dan berkembang ke seluruh Bali, bahkan sampai keluar Bali. Sebagai karya baru, kebyar mampu menampung berbagai inspirasi yang muncul sari bentuk-bentuk seni tradisional yang telah ada. Pemberian nama “Kebyar” terhadap karya seni tersebut tepat, karena perangkat gamelan baru itu betul mampu mengekspresikan karakter kebyar, yaitu keras, lincah, cepat, agresif, mengejutkan, muda, enerjik, gelisah, semangat, optimis, kejasmanian, ambisius, dan penuh emosional.

 

Adapun awal mula berdirinya gamelan gong kerbyar di Desa Adat Kedonganan :

Di Desa Kedonganan dahulu pada tahun 1986-an, pada saat itu Desa Kedonganan hanya memiliki instrument geguntangan, dimna geguntangan itu hanya dapat digunakan pada saat sesuunan menari tepatnya di Pura Puseh Desa Adat Kedonganan. Karena gamelan itu sangat di sakralkan oleh masyarakat Desa Kedonganan dan hanya digunakan pada saat upacara-upacara tertentu.

Maka dari itu, masyarakat kedonganan bersama pengurusnya berembug/rapat desa untuk membeli satu barungan gamelan, yaitu gamelan Gong Kebyar yang nantinya dapat digunakan di pura mana saja. Sekitar tahun 1989, Desa Kedonganan telah membeli barungan gamelan gong kebyar, sehingga masyarakat tidak lagi kebingungan mencari gamelan. Dan sekaa-sekaanya pun semua berasal dari Desa Kedonganan. Ada odalan gede baru gamelan itu di tedunkan atau di keluarkan. Dan harga gamelan pada waktu itu,saya sudah keliling bertanya di Desa Kedonganan yang menjadi sekha gong yang masih hidup sampai sekarang sudah lupa dengan harganya,yang menjadi ketua sekaa gong di desa adalah kakek saya sendiri I Wayan Wiji, beliau pun sudah lupa dengan harganya, maklum lah yg namanya orang tua pastinya sudah pikun, tetapi saya sudah sempat bertanya kepada beliau.

 

Gamelan gong kebyar yang baru itu memiliki berbagai macam instrument yaitu:

–          Terompong

–          Dua buah giying/ugal

–          Empat buah gangsa

–          Empat buah kantil

–          Dua buah penyahcah

–          Dua buah jublag/calung

–          Dua buah jegog

–          Riyong

–          Kajar + kempli

–          Kendang ( lanang,wadon )

–          Ceng-ceng ricik

–          Ceng-ceng kopyak

–          Empat suling besar + satu suling kecil

–          Bende

–          Gong (lanang,wadon)

–          Kempur

Pada tahun 1990, sekaa gong pertama kali menabuhkan tari lepas seperti,tari oleg tamulilingan, taruna jaya, wiranata, tenun, margapati, nelayan, dengan penarinya juga dari Desa Kedonganan yang penguruknya atau Pembinanya juga kakek saya sendiri IWayan Wiji, pada waktu itu pentas di Balai Desa Adat Kedonganan. Tahun 1992 mulai lagi latihan gamelan drama gong yang membina juga sama yaitu I Wayan Wiji.  Pementasan drama gong sangat apik, pementasannya Pada zaman itu di berikan upah 500 rupiah perorangan,berarti penabuh 30 orang keseluruhan mendapatkan 10 rupiah dan sisa upah tersebut di jadikan khas.

Pada tahun 2004 gamelan tersebut di rubah/di lebur istilah Balinya, pelawah mau di isi ukir-ukiran, dari dulu pelawahnya cuma dengan dari kayu saja tidak berisi pariasi ukir-ukiran sedikitpun. Saya bertanya lagi kepada kakek saya, karena kata I Wayan Wiji kakek saya yang menjadi ketuanya, minggu yang lalu langsung saya mewawancarai beliau mengenai pelawah yang mau di ukir. Kata beliau pelawah gong kebyar tersebut di ukir di pura, tukang ukirnya berasal dari Gianyar, mengapa di ukir di Pura, kata kakek saya karena aura-aura gamelan yang dulu masih menyatu dan tetap sacral.

Fungsi dari gamelan gong kebyar tersebut :

–          Mengiringi pada saat ada Upacara Agama

–          Upacara Ngaben

–          Di pakai ngayah ke luar Desa untuk mengiringi tari-tarian,prembon, dll.

 

Kalau dulu pada waktu sebelum di ukir, gamelan di Desa Donganan jarang mendapatkan perawatan, tpi dari tahun 2004 gamelan Desa Kedonganan sangat terurus. Sebulan sekali pasti adanya pembersihan gamelan dan setiap selesai latihan atau selesai pementasan langsung di bungkus dengan kain supaya tetap bersih dan gamelannya bisa awet.

Konflik

Dimana-mana ada kegiatan pasti ada yang namanya konflik, seperti di desa saya tahun 2012 yang lalu pada saat kegiatan pawai di Pusat Pemerintahan Badung ( Puspem Badung ), saya bersama teman-teman saya di sanggar mau mulai latihan gamelan Baleganjur, tiba-tiba tidak menyangka ada orang meninggal, karena beberapa temen saya yang halangan. Karena halangan, saya dan beberapa temen saya tidak boleh mengambil gamelan di purat, tetapi ada temen-temen yang tidak berhalangan mau mengambilkan gamelan itu ke pura, kata orang-orang yang tua mengatakan tidak boleh masuk ke pura di saat ada orang yang meninggal tetapi ada juga yang mengatakan boleh. Dan setelah kita selesai latihan, gamelan itu langsung di upacarakan (di berikan prasita). Langsung di izinkan pada waktu itu latihan gamelan Baleganjur.

Dan sampai sekarang tahun 2013 kalau ada orang meninggal di bolehkan menyentuh gamelan tetapi selesai menyentuh gamelan itu langsung di upacarakan, mengapa demikian karena Awig-Awig/Undang-Undang di Desa saya seperti itu. Dan dengan itu mari kita jaga Awig-Awig yang ada di Bali ini dan jangan pernah kita melanggar Awig-Awig itu.

 

NARASUMBER

I Wayan Wiji

Kedonganan, 10 Desember 2013

Kamis, Desember 12th, 2013 tradisi Tidak ada Komentar

Tradisi Omed-omedan

http://intsoftscape.files.wordpress.com/2010/03/102_17711.jpg

  • Omed-omedan atau juga disebut Med-medan rutin digelar setiap tahun, sehari setelah hari raya Nyepi atau yang disebut sebagai hari Ngembak Geni. Konon, acara ini sudah diwariskan sejak tahun 1900-an dan hanya bisa ditemukan di Banjar Kaja Sesetan. Warga setempat meyakini, bila acara ini tak diselenggarakan, dalam satu tahun mendatang berkah Sang Dewata sulit diharapkan dan berbagai peristiwa buruk akan datang menimpa.
    Pernah pada 1970-an ditiadakan, tiba-tiba di pelataran Pura terjadi perkelahian dua ekor babi. Mereka terluka dan berdarah-darah, lalu menghilang begitu saja. Peristiwa itu dianggap sebagai pertanda buruk bagi semua warga Banjar.

SEJARAH OMED-OMEDAN

  • Awalnya Raja Puri Oka marah besar melihat rakyatnya menggelar omed omedan (saling cium). Tak dinyana Raja yang sakit justru sembuh setelah melihat upacara hot tersebut. Kini tradisi itu dijadikan ajang mencari jodoh.
    Wayan Sunarya menceritakan, tradisi omed omedan itu merupakan tradisi leluhur yang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya ritual ciuman massal itu dilakukan di Puri Oka. Puri Oka merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, pada suatu saat konon raja Puri Oka mengalami sakit keras. Sang raja sudah mencoba berobat ke berbagai tabib tapi tak kunjung sembuh.
    Pada Hari Raya Nyepi, masyarakat Puri Oka menggelar permainan omed omedan. Saking antusiasnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda mudi. Raja yang saat itu sedang sakit pun marah besar.Dengan berjalan terhuyung-huyung raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Anehnya melihat adegan yang panas itu, tiba-tiba raja tak lagi merasakan sakitnya. Ajaibnya setelah itu raja kembali sehat seperti sediakala.
    Raja lalu mengeluarkan titah agar omed omedan harus dilaksanakan tiap Hari Raya Nyepi. Namun pemerintah Belanda yang waktu itu menjajah gerah dengan upacara itu. Belanda pun melarang ritual permainan muda mudi tersebut. Warga yang taat adat tidak menghiraukan larangan Belanda dan tetap menggelar omed omedan. Namun tiba-tiba ada 2 ekor babi besar berkelahi di tempat omed omedan biasa digelar. “Akhirnya raja dan rakyat meminta petunjuk kepada leluhur. Setelah itu omed omedan dilaksanakan kembali tapi sehari setelah Hari Raya Nyepi

 

TUJUAN ADANYA OMED-OMEDAN

  • Tujuannya pertama adalah saling maaf-memaafkan, karena dalam setahun warga disini ada yang bekerja dan bersekolah di berbagai tempat,  pada saat datang Tahun Saka mereka berkumpul dan mengadakan acara saling-memaafkan dan tujuannya adalah untuk persahabatan.”Pada jaman dulu “Omed-Omedan” ini konon berawal dari inisiatif warga setempat mengadakan sebuah permainan yang bertujuan saling memaafkan antara muda-mudi pada saat perayaan Nyepi. Omed-Omedan ini berlangsung seru dan suaranya terdengar oleh seorang raja yang pada saat itu sedang sakit keras. Karena terusik oleh suara ribut warga, sang raja menjadi marah dan menyuruh menghentikan Omed-Omedan tersebut. Namun setelah Sang Raja kembali ke rumah, sang raja berangsur-angsur sembuh dari sakitnya. Melihat kejadian itu, sang Raja akhirnya memerintahkan untuk meneruskan permainan itu. Warga setempat mewarisinya sampai sekarang.

 

PELAKSANA OMED-OMEDAN

  • Tahun ini, sedikitnya 50 muda-mudi yang telah beranjak dewasa turut serta dalam festival warisan leluhur ini. Festival diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Banjar dan seluruh peserta wajib mengikuti prosesi ini supaya diberi kelancaran dan keselamatan saat ciuman nanti. Usai sembahyang para muda-mudi ini dibagi dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok pria, dan satunya lagi adalah kelompok wanita.
  • Para “tetua” atau orang yang dituakan di desa tersebut menjadi “wasit” festival ciuman ini. Jika para “tetua” memberi aba-aba mulai! maka kedua kelompok yang saling berhadap-hadapan ini menunjuk salah satu wakilnya untuk diarak ke depan dan beradu ciuman dengan wakil dari kelompok lain. Biasanya jika sudah terjadi adu mulut, peserta pria lebih bernafsu melumat bibir “lawan”nya yang tampak malu-malu tapi mau.
  • Untuk menghindari ciuman semakin panas, para tetua dibantu panitia mengguyurkan air kepada seluruh peserta omed-omedan ini. Namun, tak hanya peserta, para penonton, fotografer dan kamerawan yang mengambil gambar terlalu dekat juga harus rela untuk diguyur dengan air satu ember.
  • Baku cium antar muda-mudi ini dilakukan berulang-ulang hingga “wasit” menghentikannya. Sekitar satu jam festival yang ditonton ribuan wisatawan dan warga ini akhirnya usai. Seluruh peserta kembali ke Pura Banjar untuk diperciki air tirta.

 

Senin, April 22nd, 2013 tradisi Tidak ada Komentar