Sejarah Gamelan Pendro Di Desa Tunjuk Kabupaten Tabanan

This post was written by kumarajanardhana on Oktober 9, 2012
Posted Under: Tak Berkategori

                    Bagi orang yang tergolong “kasta” pengerawit sebutan istilah pelog dan selendro tidak asing lagi. Dan ini merupakan “makanan” bagi pengerawit di dalam kiblatnya untuk berkesenian. Bahkan seorang seniman terutama yang memiliki latar belakang karawitan, yang dikategorikan sebagai komponis, dimana, di dalam berkreatifitasnya dia juga memerlukan alat/instrument baik yang berlaras pelog maupun yang berlaras selendro dipakai sebagai media ungkap. Atau, dengan tidak menutup kemungkinan dia(komponis), memerlukan alat atau instrument di luar dari kedua laras tersebut diatas sebagai medium. Artinya, disini seorang komponis ada semacam kebebasan menentukan atau memilih alat/instrument yang digunakan untuk mengungkapkan karyanya.

                              Berdasarkan pengalaman I Made Arnawa (Pencipta Gamelan Pendro) sebagai pratisi maupun sebagai penata (komponis) tidak pernah terlepas dari dipakainya gamelan yang berlaras pelog dan selendro. Ini membuktikan bahwa apa yang telah diwariskan oleh pendahulu patut kita syukuri,pelihara,dan mengembangkan terus-menerus sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki. Sebagai pratisi, I Made Arnawa sering terlibat dalam kegiatan pergelaran baik yang bersifat daerah,nasional, maupun international dengan melibatkan gamelan yang berlaras pelog dan selendro. Pengalam yang menarik buat Bapak I Made Arnawa sebagai pratisi karawitan, ketika Sekolah Tinggi Seni Indonesia(STSI) Denpasar membuat garapan spektakuler musik mandiri yang diberi judul “Merajut Tali Keragaman” dengan melibatkan kurang lebih 10 barungan gamelan Bali baik yang berlaras pelog maupun yang berlaras selendro. Apa yang disajikan pada saat itu, menunjukan, bentuk karya yang belum mencerminkan karya yang benar-benar menghasilkan sesuatu yang baru dari hasil penggabungan berbagai jenis gamelan yang digunakan. Bahkan menimbulkan kesan pameran gamelan, dan masih mencerminkan karakteristik dari masing-masing gamelan itu sendiri. I Made Arnawa mengatakan demikian, karena ditinjau dari judul garap, semestinya ada benang merah yang menghubungkan dari satu ensemble (Barungan) ke ensemble lainnya yang digunakan untuk mengutarakan bahasa musikal, sehingga, akan muncul sesuatu yang baru setidak-tidaknya mengenai laraskah, atau dapat menghasilkan genre baru dari pertunjukan itu. Jadi, apa yang dikerjakan pada waktu itu, baru sebatas penggunaan dari masing-masing seperangkat gamelan secara maksimal. Semestinya, dengan menggunakan sekian banyak barungan gamelan dapat digarap secara maksimal dengan tetap mempertimbangkan  judul sehingga terjadi kesatuan garap dan tidak memiliki kesan terpotong-potong. Dengan sajian seperti itulah, menurut I Made Arnawa belum mencerminkan sesuatu yang baru yang dapat dihasilkan dan masih memperlihatkan karakteristik dari masing-masing barungan gamelan itu sendiri. Lain daripada itu, bahwa sebelum dan sesudahnya , karya semacam ini pernah dikerjakan, hanya saja jumlah barungan gamelan yang digunakan lebih sedikit, kurang lebih dua sampai tiga barungan gamelan. Namun apa yang terjadi masih tetap belum dapat menghasilkan sesuatu yang baru, dan masih pula mencerminkan karakteristik dari masing-masing gamelan itu sendiri. Dari pengalaman inilah akhirnya hati I Made Arnawa terketuk untuk meneruskan pekerjaan rekan-rekannya hingga akan dapat menghasilkan sesuatu yang baru dari hasil penggabungan kedua laras gamelan yang digunakan.

                              Keinginan I Made Arnawa ini dapat diperkuat ketika membaca buku Prakempa Sebuah Lontar Gamelan Bali. Dalam buku Prakempa tersebut ada suatu pernyataan yang menyebutkan bahwa, “Kalau gamelan pelog dan selendro digabungkan akan membuat hati yang mendengarkan menjadi tersentuh”. Pernyataan ini kemudian beliau coba merealisasikan ke dalam sebuah bentuk komposisi karawitan/musik. Hasil kerja beliau  ini akhirnya dapat menghasilkan genre baru dalam seni pertunjukan. Apa yang beliau kerjakan dan apa yang beliau temukan lewat karya itu secara jujur beliau dapat katakana adalah merupakan kerja lanjutan dari apa yang sudah pernah dikerjakan oleh rekan-rekannya sebelumnya. Menurut I Made Arnawa, hasil kerja rekan-rekannya itu belum dapat menghasilkan sesuatu yang baru, sedangkan apa yang beliau kerjakan dan temukan lewat penggabungan kedua gamelan tersebut dapat menghasilkan laras yang baru. Disini I Made Arnawa sama sekali tidak bermaksud meremehkan hasil kerja dari rekan-rekannya, bahkan beliau dapat gunakan sebagai acuan untuk bisa lebih digarap untuk memenuhi harapan kita bersama. Hal senada, beliau juga tidak pernah bermaksud menyombongkan diri dari hasil kerja yang beliau kerjakan, justru, beliau bisa memperkaya pembendaharaan dunia seni Bali. Berangkat dari sinilah beliau ingin terus mengembangkan hasil temuan ini, dan terus bekerja….bekerja..tanpa pernah berhenti berpikir untuk menemukan sesuatu yang baru lagi. Menurutnya, itulah tanda kreativitas.

                           “Pendro” merupakan akronim dari Pelog dan Selendro. Karena barungan gamelan Pendro ini terdiri ddari instrumen yang berlaras pelog dan selendro. Ini maksudnya untuk menggabungkan kedua kutub yang berbeda menjadi satu kesatuan garap. Barungan ini dibentuk pada bulan Mei 2004. Adapun alasan-alasan yang menyebabkan Bapak I Made Arnawa membuat barungan gamelan ini yaitu, pertama, adalah untuk menjawab pernyataan yang ditulis di Lontar Prakempa seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Kedua, ingin melanjutkan kerja dari rekan-rekannya sebelumnya. Ketiga, untuk menentukan jati diri (sikap individual) dalam berkesenian. Keempat, untuk memacu kreatifitas diri.

                Mengenai genre, genre lagu-lagu dari gamelan Pendro ini adalah kontemporer, yaitu suatu bentuk karya yang menekankan kebebasan dalam komposisi musiknya. Mengenai tekniknya tetap mengacu pada konvensi yang ada pada karawitan Bali itu sendiri dan ada sedikit tambahan diluar konvensi karawitan Bali. Dengan kebebasan seperti ini Bapak I Made Arnawa berharap dapat mengeksplor kemungkinan garapan-garapan baru yang belum pernah ada, sehingga diharapkan muncul karakteristik yang menonjol yang tidak nampak pada garapan karawitan lainnya. Gaya musik dalam gamelan Pendro ini menggunakan gaya kekebyaran yang baru dan juga memasukan gaya atau unsur dari aliran minimal musik (aliran musik di Amerika pada tahun 60-an) seperti “Clapping Music” (1972) atau “Tehilim” (1979) karya Steve Reich, karya “Crosscurents” (2000) dari Dieter Marck.

Instrument yang digunakan dalam barungan gamelan Pendro ini yaitu, dua tungguh gangsa pemade dan dua tungguh jublag dari gong kebyar (laras pelog lima nada), dua tungguh gangsa pemade dan dua tungguh gangsa curing dari gamelan Angklung (laras selendro empat nada), dua tungguh jublag dan jegogan dari gamelan Angklung, lima buah kajar, empat pencon reong dari gamelan Angklung, dan dua pencon reong dari gamelan Gong Kebyar. Tapi dalam pementasannya di Jakarta 2 tahun lalu, instrument dari Gong Kebyar digantikan dengan instrument selonding (pelog tujuh nada). Mengenai struktur gendingnya dari aspek kompositoris, gending-gending gamelan Pendro tidak menggunakan struktur yang sudah umum berlaku dalam dunia karawitan Bali seperti kawitan, pengawak, pengecet. Dari pola hitungan/ketukan, disamping menggunak pola hitungan/ketukan genap, juga dimasukan pola hitungan/ketukan ganjil. Teknik pukulan konvensi dalam karawitan Bali masih tetap dipertahankan, hanya dibeberapa bagian gending perlu teknik pukulan yang keluar dari konvensional karawitan Bali dan dalam penyajiannya penabuh memukul instrument secara ganda.

YouTube Preview Image

Reader Comments

Trackbacks

  1. A片  on Agustus 19th, 2022 @ 4:30 am