GONG GEDE

Posted in Tulisan on Maret 21st, 2018 by krsnadarma

Gong Gede juga termasuk barungan ageng namun langka, karena hanya ada di beberapa daerah saja. Gamelan Gong Gede yang terlihat memakai sedikitnya 30 (tigapuluh) macam instrumen berukuran relatif besar (ukuran bilah, kendang, gong dan cengceng kopyak adalah barung gamelan yang terbesar yang melibatkan antara 40 (empatpuluh) – 50 (limapuluh) orang pemain. Gamelan yang bersuara agung ini dipakai untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan klasik yang cenderung formal namun tetap dinamis, dimainkan untuk mengiringi upacara-upacara besar di Pura-pura (Dewa Yadnya), termasuk mengiringi tari upacara seperti Baris, Topeng, Rejang, Pendet dan lain-lain. Beberapa upacara besar yang dilaksanakan oleh kalangan warga puri keturunan raja-raja zaman dahulu juga diiringi dengan gamelan Gong Gede. Akhir-akhir ini Gamelan Gong Gede juga ditampilkan sebagai pengiring upacara formal tertentu yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan untuk mengiringi Sendratari. Sebagai seni karawitan, dijelaskan dalam kutipan artikel ISI Denpasar, Gamelan Gong Gede merupakan perpaduan unsur-unsur budaya lokal yang sudah terakumulasi dari masa ke masa. Barungan gamelan Gong Gede dipandang sangat penting karena dapat memenuhi kebutuhan warga masyarakat secara moral dan spiritual sehingga terwujud rasa kesehimbangan. Keseimbangan yang mencakup persamaan dan perbedaan dapat terefleksi dalam beberapa dimensi. Refleksi keseimbangan yang banyak ditemukan dalam kesenian Bali adalah refleksi estetis yang dapat menghasilkan bentuk-bentuk simetris yang sekaligus asimetris atau jalinan yang harmonis sekaligus disharmonis yang lazim disebut dengan rwa bhineda. Dalam konsep rwa bhineda terkandung pula sernangat kebersamaan, adanya saling keterkaitan, dan kompetisi mewujudkan intraksi dan persaingan. Konsep rwa bhineda oleh seniman Pengrawit dituangkan dalam gamelan Bali (Gong Gede). Hal ini dapat diamati pada sistem pelarasan ngumbang-isep dan instrumen yang berpasangan (lanang wadon). Unsur budaya Bali tercermin pada penggunaan instrumen dari perangkat gamelan Bali dan busana yang dipergunakan oleh para penabuh (jero gamel).Kalau dilihat dari fungsinya semuanya ini berarti tukang gamel, yang sudah melekat sebagai bagian dari identitas diri seseorang. Instrumen Bentuk instrumen gamelan Gong Gede ada dua jenis yakni : Berbentuk bilah,Berbentuk (moncol). Menurut Brata, instrumen yang berbentuk bilah ada dua macam : bentuk bilah bulig, dan bilah mausuk. Bentuk bilah bulig bisa disebut dengan : metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin. Untuk instrumen yang berbilah seperti bilah metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin dan bulig terdapat dalam instrumen gangsa jongkok penunggal, jongkok pengangkem ageng, dan jongkok pengangkep alit (curing). Instrumen-instrumen ini bilahnya dipaku atau sering disebut dengan istilah gangsa mepacek. Sedangkan bentuk bilah yang diistilahkan merai, meusuk, dan meakte terdapat pada instrumen pengacah, jublag, dan jegogan. Instrumen-instrumen ini bilahnya digantung yaitu memakai tali seperti jangat. Instrumen yang bermoncol dapat dikelompokan menjadi dua yakni : Moncol tegeh (tinggi),Moncol endep (pendek). Contoh instrumen yang berpancon tinggi seperti; riyong ponggang, riyong, trompong barangan, dan tropong ageng (gede). Sedangkan instrumen yang berpencon pendek (endep) antara lain kempli, bende, kempul, dan gong. Begitu juga halnya dengan bentuk reportoar gending Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, berbentuk lelambatan klasik yang merupakan rangkaian dari bagian-bagian gending yang masing-masing mempunyai bentuk urutan sajian. Gong Gede berlaras Pelog lima nada, dengan patutan atau patet tembang.

 Sistem laras
Yang dimaksud laras Gamelan Bali ialah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang sudah ditentukan tinggi rendah dan jarak nadanya. Di dalam karawitan Bali baik berupa instrumental (gamelan) maupun vocal (tembang) terdapat dua jenis laras (tangga nada) yaitularas pelog dan laras slendro. Di dalam memainkan gamelan Bali biasanya dijumpai dua jenis laras pelog yaitu laras pelog panca nada (lima nada) dan pelog sapta nada (tujuh nada). Jadi Gong Gede termasuk gamelan yang berlaras pelog panca nada (lima nada) yang menggunakan lima nada pokok disebut saih lima.

 Periodisasi
Periodisasi Gambelan Bali digolongkan menjadi tiga, yaitu :
1) Gamelan Golongan Tua
2) Gamelan Golongan Madya
3) Gamelan Golongan Baru
Jadi Gong Gede termasuk Gamelan Golongan Madya, Barungan Madya yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX, merupaka barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrument-instrumen bermoncol (berpencon). Dalam barungan ini kendang sudah mulai memainkan peranan penting. Ciri-cirinya : ditandai dengan masuknya “kendang” (ukuran menengah) yang berfungsi sebagai :
 Pemurba irama
 Pengatur dinamika dan tempo tabuh
 Memulai dan mengakhiri tabuh
 Menentukan ukuran panjang pendek tabuh

BARIS GEDE

Posted in Tulisan on Maret 13th, 2018 by krsnadarma

Tari Baris Gede merupakan salah satu dari berbagai jenis tarian baris yang ada di Bali. Tarian ini biasa dipentaskan saat adanya upacara di pura dan menjadi salah satu bagian pelengkap dari upacara.

Tari Baris Gede masuk dalam kategori tari sakral yang dipentaskan di pura-pura. Tarian ini juga hampir tersebar di seluruh daerah di Bali. Tari Baris Gede diperkirakan telah ada sejak abad ke-8, namun sayang hingga kini tidak diketahui siapa penciptanya.

Peneliti Tari dari Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar Prof. Wayan Dibia, menuturkan Tari Baris Gede merupakan jenis kelompok baris massal yang dapat dipentaskan dalam berbagai versi. Dimana tarian sakral ini ditarikan secara berkelompok dalam jumlah tertentu sesuai arti di masing-masing daerah.

“Ada yang satu kelompok delapan penari, bahkan ada sampai 40 penari, ada yang diikat dengan simbul-simbul tertentu, misalnya ditarikan oleh 9 orang karena menggambarkan arah mata angin, senjata-senjatanya itu adalah senjata nawa sanga,” papar Prof. Wayan Dibia.

Menurut Dibia, senjata yang biasanya dipakai dalam Baris Gede juga beragam, dimana ada yang menggunakan tombak, cakra atau tamiang (tameng). Hal ini karena Baris Gede menggambarkan Widyadara (pengawal) yang mengiringi para dewa atau menyambut kedatangan para dewa. Namun di sisi lain Baris Gede ini juga diartikan sebagai tarian prajurit perang.

 

Baris Gede, tarian yang melengkapi tari Rejang, adalah sebuah tarian yang dipentaskan oleh sekelompok pria dewasa dalam rangkaian odalan di lingkungan desa yang bersangkutan. Baris Gede biasanya dipentaskan di siang hari beberapa saat sebelum atau sesudah pementasan tari Rejang, walaupun kedua bentuk tarian ini tidak sesalu berhubungan. Seperti halnya penari Rejang yang secara khusus mengenakan hiasan kepala bunga semi melingkar, Baris Gede dikenal dari mahkota berbentuk segitiga yang di pakai para penarinya, yang terdiri dari susunan keeping-keping kerang laut yang menunjuk ke atas seperti pyramid; yang disematkan pada pir-pir yang menyebabkannya bergetar seiring gerakan sang penari.

 

Para penari Baris Gede dianggap sebagai pengawal para Dewa yang intuk sementara waktu akan menempati pretima. Para penari membawa senjata pusaka yang sacral seperti tombak, panah, tameng, keris atau di beberapa desa bahkan senapan. Setiap penari membawa senjata dengan jenis yang sama, dan tari Baris yang dibawakan identic dengan jenis senjata yang dibawa.

 

Menurut Babad Bali, tari baris merupakan tarian pasukan perang. Baris, berasal dari kata “bebaris”, yang dapat diartikan sebagai pasukan. Oleh karena hal tersebut, maka tari baris menggambarkan ketangkasan prajurit. Keberadaan tari baris gede ini, masih terpelihara dengan baik, karena tari baris gede tergolong kedalam jenis seni sakral.

Tari baris gede, diketahui keberadaannya sejak abad ke-8, namun sayangnya tidak diketahui, siapa gerangan yang menciptakan tarian ini. Baris Gede merupakan jenis tarian masal, yang dapat dipentaskan sesuai versi masing-masing daerah. Secara umum, tari baris gede difungsikan sebagai tari wali, untuk melengkapi sebuah upacara yadnya..

Selain menggambarkan ketangkasan prajurit, baris gede ini juga merupakan tari penyambutan, yang melukiskan para pengawal, sebagai pengiring para Dewa, atau dengan kata lain, untuk menyambut kehadiran para dewata.
BUSANA TARI BARIS GEDE

Komponen lain dalam pementasan baris gede, yang menarik adalah tata kostum, atau busana yang digunakan oleh para penari. Busana yang digunakan oleh para penari baris, secara umum sama. Sesuatu yang membedakan antara tari baris yang satu, dengan yang lainnya adalah senjata, atau atribut yang dibawa oleh penari, yang biasanya menjadi identitas dari tarian yang bawakan.

Pakaian yang dikenakan antara lain

  • badong,
  • awir,
  • lamak,
  • celana panjang putih,
  • baju,
  • stewel,
  • gelungan kepala, serta
  • senjata yang dibawa.

 

Baris Gede, warna bajunya merah serta celana panjang putih. Kain awiran yang dipergunakan 16 biji. Penari dalam pementasannya membawa tumbak warna merah dengan makna sebagai pencipta (hidup-mati). Diiringi intonasi gong longgor gilak. Tarian ini dipersembahkan kepada Ida Hyang Widi Wasa sebagai utpeti-stiti. Selanjutnya, Baris Bajra menggunakan baju warna hitam dengan celana warna putih. Kain awiran yang dipergunakan juga 16 biji. Tumbak yang dipergunakan ujungnya berisikan bajra lancip, ujungnya menghadap angkasa dan ke bawah. Untuk yang ke bawah mencirikan ibu pertiwi. Tujuan pementasannya adalah untuk Ibu Pertiwi dan luhuring akasa.

 

GERAK TARI BARIS GEDE

– papeson(gilak), pangadeng, menarikan pekaad.
– gilak jerih
dapat dilakukan : mungkah lawang, mangem kanan dan kiri, nayong, ngopak lantang, ngalih pajeng, malpal
Gerak-gerak dalam tari baris menceritakan ketangguhan para prajurit Bali di masa lalu. Kedua pundak penari diangkat hingga hampir setinggi telinga. Kedua lengan yang nyaris selalu pada posisi horizontal dengan gerak yang tegas. Gerak khas lainnya yang ada pada tari baris adalah selendet atau gerak delik mata penari yang senantiasa berubah-ubah. Gerak ini menggambarkan sifat para prajurit yang senantiasa awas terhadap situasi di sekitarnya.

Hal lain yang unik dari tari baris gede, adalah adanya seruan-seruan, atau suara yang diserukan oleh para penari baris gede. Seruan-seruan tersebut, seolah menjadi penyemangat bagi para penari. Secara niskala, suara seruan itu, seperti memanggil atau menyambut kehadiran para Dewa,yang turun ke mayapada ini. Adakah makna khusus, dari seruan-seruan ini?

Begitu luhur warisan kesenian, para tetua Bali, yang sarat nilai-nilai edukasi, serta religius. Keberadaan tari baris gede, harus diwariskan kepada generasi berikutnya, agar tari baris gede ini tidak punah.

Tidak hanya kegitan ritual, yang bisa dijadikan jembatan komunikasi, antara manusia dengan Sang Maha Pencipta. Tumbuhnya kreativitas berkesenian orang Bali, yang begitu artistic, juga dijadikan sadhana, atau sarana, untuk mengungkapkan rasa syukur kehadapan Hyang Widhi.

Tari baris gede, yang menggambarkan nilai-nilai patriotisme ini, mengingatkan kepada kita semua, bahwa seni juga merupakan salah satu metode yang baik dan tepat, untuk menurunkan berbagai ilmu pengetahuan, etika, maupun estetika.

 

FUNGSI TARI BARIS GEDE

Keunikan dan kesakralan tari baris gede batur yang ada di Desa Pekraman Batur hanya dipentaskan ketika upacara yang mempersembahkan binatang kurban suku pat (hewan berkaki empat). Saat upacara-upacara besar yang di adakan di Pura Batur seperti pada saat upacara Danu Kertih, tarian ini berfungsi sebagai pelengkap yadnya (upacara).