Sekilas tentang Banjar Pekandelan.

Sekilas tentang Banjar Pekandelan.

            Berawal dari kisah sejarah Desa Sading pada Tahun 1730, dimana Desa Sading mengalami disintegrasi dimana penduduk di masing masing Banjar terpecah belah maka pada saat itu pula terjadi sebuah keajaiban yang saat itu adalah beberapa warga mendapatkan pawisik di sebuah pura yang pada saat itu bertepatan dengan berlangsungnya sebuah upacara. Pada saat itulah muncul sebuah Pawisik agar masyarakat mencari seseorang yang bertujuan untuk di jadikan PACEK JAGAT. Kemudian bergegaslah warga untuk mencari seseorang yang di maksud. Mengawali perjalanan tersebut warga bergegas menuju ke Klungkung sesuai dengan pawisik tersebut. Setibanya warga di Klungkung yang di tuju adalah Ida Dalem Klungkung, maka Ida Dalem Bersabda agar warga mendatangi Puri Mengwi, dengan perasaan gembira karena telah mendapatkan suatu kejelasan maka wargapun langsung mohon pamit untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke Puri Mengwi. Setibanya warga di Puri Mengwi, keinginan warga tidak dapat terpenuhi karena Prameswari kerajaan Mengwi saat itu belum memiliki putra maka beliaupun kembali mengutus warga untuk mendatangi saudara beliau yang berada di Desa Sibang tepatnya kakak beliau memiliki lima orang putera, yang pada saat itu beliau ingin mengambil salah satu putera dari kakanya untuk di peras, maka beliaupun memberikan puteranya untuk di iring ke Mengwi. Setelah tiba di Mengwi di adakanlaah sebuah upacara pemerasan. Setelah upacara tersebut selesai maka beliau pun menyerahkan puteranya kepada warga Sading untuk di iring ke Sading dan akan dijadikan PACEK JAGAT. Setelah beliau di Desa Sading beliau mampu mempersatukan  kembali Desa Saading yang terdiri dari beberapa banjar yang dulunya terpecah belah kini bersatu kembali. Mengingat akan pentingnya warga akan keberadaan beliau maka warga mengangkaat beliau untuk menjadi seorang raja,dengan di dukung oleh beberapa Banjar yaitu : Banjar Puseh, Banjar Pengalasan, Banjar Jeroan, Banjaar Pasekan, Banjar Sengguan, Banjar Desa, Banjar Negara dan Banjar Umah Anyar. Karena Pentingnya sebuah kerajaan memiliki orang kepercayaan maka Raja pun memilih orang orang yang dapat di handalkan pada saat itu, maka Raja pun memerintahkan untuk membagi dua Banjar, Banjar Desa yang satunya menjadi Banjar Pekandelan dan yang satunya lagi menjadi Banjar Karang Suwung .

Seiring berlalunya waktu, adalah Banjar pekandelan yang sampai saat ini memiliki jumlah anggota sebanyak 190 orang kepala keluarga yang kemudian didalam Banjar Pekandelan itu pun di pecah menjadi dua bagian yaitu Banjar Pekandelan bedanginan dan Banjar Pekandelan bedauhan. Adapun saat ini Banjar Pekandelkan memiliki seprerangkat gamelan gong kebyar yang asal mulanya adalah kesepakatan keseluruhan anggota warga banjar pengarep   di dalam sebuah acara rapat yang di selenggarakan rutin pada setiap bulan yaitu bertepatan dengan hari tumpek yang jatuhnya bertepatan selalu dengan hari sabtu, kemudiaan memiliki sebuah kesepakatan untuk membeli gamelan tersebut berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat. Didalam menjalankan hasil musyawarah tersebuit maka warga  banjarpun membuat sebuah susunan panitia kecil yang pada saat itu adalah warga banjar pengarep yang bernama I Made Rai Wiratmaja dan Anak Agung Gede Oko Pustaka yang di tunjuk oleh warga banjar untuk menjadi seorang ketua dan wakil ketua guna untuk memimpin rekan-rekan se paanitia yang pada saat itu memiliki jumlah anggota kepanitiaan berjumlah berkisar 20 orang diantaranya I Ketut Kariana, I Wayan Sumarya, I Ketut Leder, I Nyoman Budiasa, dan beberapa orang lainnya. Setelah terbentuknya anggota kepanitiaan itu maka panitia tersebut langsung bergerak menuju tempat membeli gamelan, karena didalam sebuah proses pembuatan gamelan tersebut membutuhkan waktu yang agak lama maka gamelan tersebut rampung dalam kurun waktu satu tahun setelah bergeraknya panitia tersebut yang tepatnya pada tanggal 18-Maret-2013. Jumlah baarungan gamelan yang di adakan saat itu adalah jumlah barungan jangkep di dalam barungan gong kebyar yaitu : 1 Tungguh Trompong, 1 Tungguh Reong, 2 Tungguh Ugal/Giying, 4 Tungguh Pemade, 4 Tungguh Kantilan, 2 Tungguh Kenyur,  2 Tungguh Calung, 2 Tungguh Jublag, 2 Tungguh Gender Rambat, 1 tatakan Ceng-ceng rincik, 8 Cakep Ceng-ceng Kopyak, 1 Buaah Kempli, 2 Buah Gong, 1 Buah Kempur, 1 Buah Bende, 1 Buah Klemong, 4 Pasang Kendang, Sepasang Gayor/Tungguh Gong, dan sebagai penggenap sarana bilamana ada sebuah upacara tertentu maka panitiapun memutuskan untuk membeli sepasang Gender Wayang. Sebagai seorang warga yang berpijak/bertempat tinggal di Banjar tersebut saya sangat bangga karena saya diberikan kesempatan untuk ikut terlibat di dalam sebuah kepanitiaan tersebut dan mungkin nantinya hal ini akan di  kenang oleh regenerasi anggota Banjar Pekandelan berikutnya, dan taidak kalah pentingnya rasa hormat saya kepada anggota Banjar Pekandelan yang telah memberikan saya kepercayaan untuk membina/melatih anggota Banjar yang akan memainkan gamelan tersebut kendatipun telah di ketahui kemampuan saya didalam memainkan gamelan masih sangat kurang. Demikian sekilas tentang Banjar Pekandelan ,Desa Sading, Kec, Mengwi, Kab Badung.***Yang kami cintai.***

Identitas diri

Sekilas tentang I Ketut Kariana.

            Nama Saya I Ketut Kariana, lahir Tanggal 27 Juli 1977 beralamat di Banjar Penebel,Desa Tolai,Kecamatan Parigi, Kabupaten Donggala Palu,Sulawesi Tengah. Kemudian pada Tahun 1983 saya mulai menimba ilmu di pendidikan Sekolah Dasar no 1 Balinggi. Setelah menginjak di kelas 2 SD saya sudah mulai tertarik dengan musik gamelan yang pada saat itu Bapak saya membuatkan saya seperangkat gamelan tingklik yang terbuat dari pohon aren yang sudah tua dan telah di keringkan terlebih dahulu, pada saatn itulah saya mulai belajar memainkan instrument tersebut hingga saya dapat mengetahui letak-letak nada instrument gamelan yang secara kebetulan instrument yang di buat oleh Bapak saya menyerupai laras gamelan gong kebyar tepatnya bernada pelog dengan berjumlah 10 bilah di dalam satu gemyangannya yakni nada rendah dong,deng,dung,dang,ding,dan nada tinggi dong,deng,dung,dang,ding. Memainkan gamelan tingklik hampir setiap hari saya mainkan tatkala saya sedang beristirahat disore menjelang malam hari yang bertujuan pula untuk menghilangkan lelah setelah usai membantu orang tua di sawah setelang pulang dari sekolah. Saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 1989, kemudian melanjutkan di endidikan sekolah menengah pertama tepatnya SMP Saraswati Tolai, Kecamatan Parigi, Kabupaten Donggala. Disela-sela kegiatan belajar sayapun mulai berkeinginan untuk memainkan gamelan gong kebyar yang pada saat itu adalah sebuah desa yang bernama Desa Sukasada Suli, Kecamatan Parigi, Kabupaten Donggala yang tempatnya yang tidak jauh dari tempat tinggal saya yang pada saat itu telah memiliki satu barung gamelan gong kebyar dan sering kali mengiringi pementasan drama gong di setiap adanya acara piodalan dibeberapa pura yang berada disekitar wilayah tempat tinggal saya. Disanalah saya mulai mendaftarkan diri untuk ikut memainkan gamelan dan sayapun disetujui untuk ikut bergabung di setiap adanya pementasan drama gong. Kegiatan itu saya lakukan hingga tamat dipendidikan SMP pada tahun 1992. Saya melanjutkan pendidikan saya di SMAN 2 Parigi dikarenakan ketiadaan biaya sayapun mengambil kerja sampingan disebuah bengkel mobil yang terletak tidak jauh dari rumah guna untuk mendapatka biaya dan sekaligus menimba ilmu dibidang perbengkelan kususnya dibidang mesin. Hal itu saya lakukan hingga saya dapat menyelesaikan study saya pada tahun 1995.

Karena keinginan saya untuk mengetahui temtang gamelan maka bapak sayapun mengantarkan saya pulang ke Bali guna untuk melanjutkan penimbaan ilmu dibidang karawitan. Setibanya saya di Bali sadarlah saya akan ketiadaan biaya yang saya alami karena itu sayapun harus bekerja jadi seorang kuli bangunan demi mencukupi kebutuhan saya. Dalam kurun waktu itu pula saya menemukan jodoh saya, dan sayapun menikah pada tahun 1996 dan sampai saat ini sudah dianugrahi tiga orang anak. Berkaitan dengan cita-cita saya ingin mengetahui lebih jauh tentang karawitan maka keluarlah sebuah ide untuk membuat seperangkat alat music gamelan bali. Berbekal sedikit tentang ilmu perbengkelan maka sasapun merakit subuah mesin pemotong kayu yang dikenal dengan nama senso dengan type 070. Setelah memiliki alat pemotong kayu barulah saya mencari pohon kayu yang akan digunakan sebagai bahan tungguh gamelan yang pada lazimnya kayu tersebut adalah kayu tewel atau kayu nangka. Setelah saya mendapatkan kayu tersebut akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak cukup memiliki ilmu dibidang pembuatan gamelan tersebut karenanya saya mendatangi seorang pengerajin gamelan yang beralamat di Desa Blahbatuh Gianyar yang bernama I Made Rindi dan putranya bernama I Wayan Suparta dengan berlogokan Gong Bali. Disanalah kami berceritra panjang lebar hingga pada akhirnya saya dimintai bahan-bahan gamelan kususnya bahan kayu yang kebetulan saya telah memilikinya maka sayapun memberikan bahan tersebut dan pada akhirnya kamipun menjadi relasi bisnis dibidang pensuplaian bahan baku kayu gamelan. Disela-sela itulah saya melihat betapa lihainya kawan-kawan disana membuat gamelan dan muncul pula niat saya ingin belajar membuat gamelan tersebut, atas restu rekan-rekan sayapun diajari membuat gamelan tersebut mulai dari pemilihan bahan-bahan, membentuk hingga finising. Mengetahui betapa inginnya saya mempelajari tentang hal ini maka orang Tua,Istri dan anak-anak sayapun menyarankan saya untuk mempelajari lebih rinci tentang karawitan yang suatukebetulan anak saya yang pertama bernama I Putu Jerry Kartika saat itu mulai menimba ilmu di sebuah sekolah menengah kejuruan yang secara khusus di bidang karawitan yakni di SMK 3 Sukawati Gianyar, maka sayapun menyanggupi saran-saran dari mereka .Maka dengan membuang rasa malu demi sebuah ilmu maka sayapun bergegas mendatangi sebuah Universitas yang telah di kenal pencipta seniman-seniman karawitan maupun yang lainnya, yakni Institut Seni Indonesia Denpasar, maka sayapun menjadi Mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar pada tahun 2013.

Identitas Diri

TEHNIK MEMBUAT GAMELAN GONG KEBYAR

TEHNIK MEMBUAT GAMELAN GONG KEBYAR

 

Di dalam pembuatan gamelan Gong Kebyar ada beberapa hal yang perlu di siapkan diantaranya :

  1. Perapen
  2. Menyiapkan bahan-bahan bilah gamelan
  3. Menyiapkan bahan-bahan tungguh gamelan
  4. Menyiapkan bahan resonator
  5. Bahan finising untuk tungguh gamel

1.1.Perapen

Perapen dalah sebuah sebuah tempat tungku api atau perapian yang akan di gunakan untuk melakukan pencampuran atau pengecoran logam kerawang yang akan di jadikan bilah gamelan tersebut. Adapun kerawang tersebut adalah kombinasi campuran antara Timah dengan Tembaga yang campurannya telah di sesuaikan sehingga mendapatkan lentingan suara bilah gamelan yang bagus dan nyaring. Disamping itu untuk mendapatkan hasil suara yang baik juga tergantung dari keras dan tidaknya sebuah sepuhan atau pemanasan yang di lakukan di dalam sebuah perapian tersebut. Dalam pengecoran akan memerlukan alat yang akan di panggang bersama dengan bahan timah dan tembaga tersebut sebagasi alat pengecoran yaitu di namakan musa, musa tersebut terbuat dari tanah liat. Selanjutnya bahan yang di butuhkan untuk membuat bara api adalah terbuat dari arang kayu maupun dari batok kelapa, adapun bahan kayu yang biasanya di gunakan untuk pembuatan arang yang akan di jadikan bahan bara adalah kayu kamboja,kayu mangga,kayu badung, kayu cemara. Adapunkeunggulan kayu yang dipilih tersebut adalah agar bara api yang telah menyala jika di tumpukkan dengan material coran tidak mudah mengempes. Kemudian untuk membuat api agar tetap terjaga daya bakarnya maka akan di butuhkan sebuah alat yang sering di sebut pengelamusan yangmana pengelamusan ini sejenis pompa angin yang dapat menghasilkan semburan angin untuk meniup bara api tersebut sehingga baranya tidak pernah mati selama pengecoran berlangsung. Kemudian selanjutnya jika matrial yang di campur tersebut telah berada pada titik pencairan yang di tentukan maka beberapa alatpun di perlukan untuk mengangkat yaitu sebuah sepit yang terbuat dari besi, kemudian campuran tersebut di tuangkan ke sebual alat pencetakan yangmana alat ini biasanya terbuat dari lempengan tanah/paras yang ukurannya telah di tentukan sesuai dengan jenis bilah gamelan yang akan di buat. Akan tetapi setalah proses tersebut selesai pekerjaan di tungku perapian belumlah usai karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus di lakukan di perapian tersebut diantaranya adalah melakukan penyepuhan terhadap bilah coran kerawang tersebut untuk membuat bentuk dan sekaligus menjadikan coran kerawang tersebut menjadi memadat karena didalam proses itu harus menggunakan alat pemukul lempengan yang lasim di sebut hamer/palu yang ukurannya agak besar. Jika lempengan tersebut telah usai di kerjakan maka usailah pekerjaan di perapian itu, dan akan di lanjutkan dengan proses berikutnya.

1.2. Proses pembentukan suara

Di dalam proses ini adalah suatu proses yang amat penting didalam pembuatan bilah gamelan, karena dalam proses ini akan di lakukan proses pembentukan jenis suara/saur bilah yang mana didalam catatan gamelan Bali pada khususnya memiliki beberapa jenis nada diantaranya nada Pelog dan Selendro, Sedangkan dimasing-masing nada tersebut juga ada bermacam macam jenis tinggi rendah nadanya. Berkaitan dengan hal itu maka didalam proses ini amatlah penting karena dalam prosesini kita dapat menentukan jenis suara gamelan yang kita inginkan. Adapun proses tersebut adalah : Jika kita ingin membuat nada yang agak rendah maka kita harus mengikis bilah gamelan tersebut agar menjadi menipis dan apabila kita menginginkan nadanya meninggi atau tinggi maka bilah tersebut kita potong agar bilahnya menjadi lebih pendek. Pada proses ini juga terdapat proses menjadikan bilah gamelan agar menjadi mengkilap maka di dalam proses ini akan di butuhkan sebuah alat yaitu alat penggosok bila yang pada saat ini lasimnya di gunakan gerinda. Perlu di ketahui di dalam proses ini bagi siapapun yang akan melakukan pekerjaan  ini harus menggunakan masker penutup hidung hal ini dilakukan karena debu dari matrial yang beterbangan akibat proses ini sangat berbahaya terhadap kesehatan halini telah diakui oleh beberapa narasumber yang mengetahui akan hal ini. Setelah terbentuknya suara di masing-masing bilah ini maka proses selanjutnya dilaksanakan didalam proses pembuatan tungguh gamelan.

2.1. Menyiapkan bahan-bahan bilah Gamelan

Seperti yang telah terurai di atas, di dalam pembuatan bilah gamelan ada beberapa hal yang harus di perhatikan didalam menyiapkan bahan-bahan bilah tersebut diantaranya, Bahan Tembaga yang akan digunakan hendaknya tembaga yang memiliki kualitas yang bagus atau sering di sebut jenis tembaga T.S /Tembaga Super. Demikian pula Timah yang akan dijadikan campurannya hendaknya timah yang masih baru atau belum pernah digunakan suatu alat atau timah bekas yang biasanya terdapat pada accu kendaraan. Halini perlu di perhatikan agar didalam sebuah pencampuran bahan baku tidak terjadi kesalahan yang dapat menyebabkan kualitas suara bilah gamelan kurang maksimal.

3.1. Menyiapkan bahan-baahan Tungguh Gamelan

Dalam hal menyiapkan tungguh gamelan ada beberapa hal yang perlu di perhatikan antara lain bahan kayu yang akan di gunakan sebagai tungguh gamelan. Adapun bahan kayu yang digunakan hendaknya memiliki kualitas yang bagus,keras,padat,memiliki serat tidak mudah pecah dan mudah untuk di kerjakan di dalam proses pembuatannya. Menurut keterangan narasumber yang bernama I Made Rindhi bersama puteranya I Wayan Supartha yang berprofesi sebagai pengerajin gamelan yang beralamatkan di Desa Belahbatuh Gianyar mengatakan kayu yang di pergunakan untuk membuat tungguh gamelan adalah kayu nangka/tewel, hal ini dikatakan bahwa kayu tersebut memiliki kualitas serat yang amat padat dan tidak mudah pecah bilamana kayu tersebut di ukir nantinya. Adapula nara sumber yang bernama I Made Arjo yang beralamatkan di Desa Belahbatuh yang saat ini berprofesi sebagai tukang kayu yang secara khusus menggarap tungguh gamelan mengatakan bahwa kayu nangka tersebut lebih mudah di kerjakan dan memiliki kualitas bagus dalam artian kayu tersebut tidak mudah beruba ukuran pada saat dalap proses pengeringan dan pembentukan tungguh tersebut. Di sisilain ada pula narasumber lain yakni  I Ketut Kumara(alm), yang beralamat di Desa Sading, Badung, yang memahami akan filsafat tentang kayu nangka mengatakan bahwa kayu nangka layak di jadikan pelinggih dan sejenisnya, Beliau juga mengatakan bahwa barungan gamelan merupakan periangan Ida Bhatara atau ada yang ngelinggihin, Hal ini terungkap pula dalam sebuah buku salinan dari sebuah Lontar yang bernama PRAKEMPA yangmana buku ini di terbitkan oleh Dr. I Made Bandem. Di katakannya pula oleh I Ketut Kumara (alm) kayu nangka tersebut adalah seorang Maha Patih diantara kayu-kayu yang ada, kemudian beliau pula mengatakan kayu nangka memiliki ikatan sumpah dengan rayap, oleh karena itu kayu nangka jika di letakkan di tanah tak termakan oleh rayap. Oleh karena itu mulai sejak dahulu hingga saat ini kayu nangka di jadikan sebagai bahan dasar pembuatan tungguh gamelan. Akan tetapi ada pula beberapa pengerajin menggunakan kayu lain yang mungkin memiliki dasar pertimbangan-pertimbangan lain seperti lebih ringan jika diangkat dsb.

3.2. Proses Pembuatan Tungguh Gamelan

Selanjutnya setelah terkumpulnya bahan-bahan tungguh gamelan, maka mulailah memproses daripada tungguh itu sendiri, yakni mulai dari membersihkan bahan dengan cara di serut,dan kemudian di buatkan sebuah mal untuk membuat suatu garis agar dasar-dasar/tegak ukiran dari tungguh tersebut sama dengan yang lainnya . Hal ini dilakukaan karena di dalam barungan gamelan gong kebyar ada beberapa jenis ukuran dan bentuknya yang sama diantaranya,dua buah giying dengan ukuran yang sama, duabuah jegogan yang ukurannya sama,dua buah jublag dengan ukuran yang sama,empat buah pemade dengan ukuran yang sama, empat buah kantilan dengan ukuran yang sama,dua buah kenyur/penyacah dengan ukuran yang sama, dan beberapa aadeg-adeg reong beserta trompong yang ukurannya sama. Selanjutnya setelah jadi dalam bentuk kekupakan/lelengisan maka proses selanjutnya adalah proses semi finising atau yang lasim di sebut dengan proses pengukiran tungguh tersebut. Untuk menjadikan suasana dari barungan gamelan itu maka proses inilah yang selanjutnya berperan, dimana para penggarapnya menuangkan seluruh inspirasinya agar barungan gamelan tersebut nantinya terlihat megah dan mengandung berbagai arti jenis ukirannya tersebut, hal ini terhimpun ungkapan dari seorang narasumber yang bernama I Made Rawa yang berpropesi sebagai tukang ukir tungguh gamelan yang beralamat di Desa Belahbatuh. Mengingat lamanya daripada proses ini maka di sela-sela waktu tersebut dapat kita gunakan untuk mempersiapkan atau mengerjakan proses yang lain.

4.1. Menyiapkan bahan Resonator

Kalimat Resonator belakangan ini banyak kita jumpai di berbagai jenis buku kajian para seniman yang khususnya membahas tentang gamelan, akan tetapi pada zaman dahulu Resonator yang dimaksud adalah bumbung reng yang lasimnya di sebut pelawah. Pada tahapan ini juga perlu di ketahui agar kita memilih bahan yang baik, hal ini harus dilakukan dengan teliti dan tepat karena suara yang dikeluarkan oleh bilah gamelan merupaakan satu kesatuan organ dengan pelawah itu sendiri. Bahan-bahan dari resonator yang di maksud adalah Bambu yang sudah tua dan yang telah di keringkan terlebih dahulu. Setelah mendapatkan bahan tersebut kita akan menginjak pada suatu proses penentu suara yangmana pada proses ini kita harus memiliki ketajaman suatu pendengaran. Ada apa dengan pendengaran kita ??.

4.2. Proses pembuatan Ressonator/Pelawah

Ketika memasuki proses pembuatan Resonator ini, maka telah sampailah pada proses yang terpenting setelah beberapa proses yang telah terurai di atas. Maka dari itu didalam proses ini dapat dikatakan juri pinal di dalam pembuatan gamelan karena disamping memiliki pengetahuan yang cukup didalam memahami suatu nada, maka diperlukan pula ketajaman pendengaran untuk mendeteksi ketepatan nada yang di kehendaki. Di dalam proses ini pula amat riskan terjadinya kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan tidak berhasilnya di dalam suatu pembuatan gamelan, oleh karena itu hendaklah memiliki kesabaran penuh di dalam proses ini. Di dalam proses ini pula akan terbentuknya suatu nada yang sering di sebut nada PENGUMBANG dan PENGISEP, karena didalam nada-nada barungan gamelan Bali yang pada khususnya Gamelan Gong Kebyar memiliki nada Pengumbang dan Pengisep. Nada pengumbang dan pengisep jika di bunyikan bersamaan maka akan menghasilkan alunan suara yang bergetar seperti orang merintih, demikian pula sebaliknya jika nada yang di pukul memiliki nada sama atau yang di pukul hanya nada pengisep atau hanya nada pengumbang maka alunan nada yang akan di hasilkan adalah bergelombang seperti suara sangka yang terdengar dari kejauhan. Pada saat pembentukan nada/reng gamelan ada beberapa hal yang dapat di lakukan yaitu, jika ingin merendahkan suara maka Resonator yang kita buat agak panjang yang artinya volume dari pada resonator itu di perluas dengan cara menggeser sekatan lubang jika membuat resonator dari paralon, demikian pula sebaliknya jika ingin membuat suara lebih tinggi maka volume resonator itu di per kecil dengan menggeser balik sekatan tersebut. Hal lain yang perlu juga di ketahui adalah masing-masing bilah gamelan tersebut memerlukan lubang yang berbeda pula, yang pada prinsipnya semakin kecil bilah tersebut maka semakin sedikit pula volume yang di perlukan demikian pula sebaliknya jika semakin lebar atau besar bilah tersebut maka semakin besar pula volume resonator yang di butuhkan. Di dalam pembuatan resonator ini terkadang pula menemukan kesulitan yaitu pada bilah gamelan yang ukurannya paling besar dan lebar dimana kesulitan itu adalah tidak tercapainya nada resonator yang di butuhkan oleh bilah itu sendiri karena kehabisan jarak volume yang tersedia dalam artian untuk membuat nada rendah, karena sekatan dari resonator tersebut telah sampai pada titik rendah yang maksimal sehingga sekatan tersebut tidak dapat di geser lagi/mentok pada tungguh gamelan bagian bawah. Kemudian masalah ini dapat di selesaikan dengan cara membuatkan suwer bumbung pada bagian atas resonator tersebut yang tepatnta di bawah bilah gamelan tersebut. Hal itu dilakukan agar mempersempit lubang tampung dari resonator tersebut sehingga dapat menghasilkan nada yang amat lebih rendah, dengan catatan seberapa tebal kita harus membuatkan suwer tersebut agar tercapainya suat nada yang sama dengan bilah itu sendiri. Pada proses ini yang memerlukan ketajaman atau kepekaan suatu pendengartan akan di perlukan pada saat pembentukan nada pengisep dan pengumbang, karena nada pengisep dan pengumbang sangat tipis perbedaannya seperti contoh nada pengumbang deng maka nada pengisep yang di butuhkan adalah diantara nada deng?????deung. Demikian pula jarak nada pengumbang dan pengisep pada bilah yang lainnya. Setelah usai dalam proses pembuatan Resonator ini maka selanjutnya adalah proses pemasangan resonator di masing-masing tungguh gamelan tersebut, dan dalam tahapan ini perlujuga di perhatikan tali yang akan di gunakan untuk menggantung bilah gamelan tersebut agar tali yang di gunakan sesuai dengan besar kecilnya bilah gamelan yang akan di gantung, hal itu di perlukan jika akan membuat suatu gamelan dengan posisi bilahnya di gantung,dan jika ingin membuat gamelan yang pada khususnya menyangkut stiil Singa Raja maka hal yang perlu di ketahui adalah mengukur jarak lubang bilah tersebut karena pada umumnya barungan gamelan yang berasal dari Singa Raja menggunakan paku sebagai pegangan bilah gamelan tersebut, haaaal ini perlu di perhatikan agar bilah gamelan tersebut tida tertekan adanya yang artinya dapat bergetar dengan bebas sehingga dapat menghasilkan suatu nada yang memiliki nada panjang. Jika bilag gamelannya di pasang dengan cara di gantung maka di butuhkan ancang atau potongan bambu yang telah di bentuk bulat panjang hal ini di gunakan atau di selipkan pada lipatan tali yang di masukkan di lubang bilah tersebut kemudian di tarik dan di kencangkan guna untuk di ikatkat pada sisi kiri dan kanan tungguh tersebut, demikian sebaliknya jika bilah tidak di gantung maka diperlukan bahan yang terbuat dari karet guna untuk menahan bilah yang terletak di bawah bilah tepatnya pada paku penyangga bilah tersebut.

 

5.1.Bahan Finising Untuk Tungguh Gamelan

Tahap akhir dari pada proses pembuatan gamelan ini adalah tahap Finising yaitu memberikan warna pada tungguh gamelkan tersebut agar menambah semaraknnya warna barungan gamelan gong kebyar ini. Membicarakan tentang warna yang mana telah kita ketahui bersama, bahwa barungan gamelan Bali padaumumnnya dan gong kebyar pada khususnnya menggunakan warna emas atau yang sering di sebut Prade. Dalam hal ini perlu di ketahui, mewarnai sebuah tungguh gamelan harus mengetahui sedikitnya tentang ukiran itu sendiri, karena ukiran yang bentuknya tidak sama atau memiliki ciri khas berbeda antara ukiran barungan yang satu dengan yang lainnya. Mengenai ukiran, sedikit di singgung dalam tulisan ini yaitu tentang beberapa jenis ukiran antara lain jenis ukiran Patra Sari, jenis ukiran Patra Punggel, Patra Sai, dsb. Di dalam ukiran tersebut adalah yang dikatakan tampak side yang artinya di dalam sebuah proses finising yang khususnya memberikan warna jenis prade hendaknya tidak mengenai tampak side tersebut yang bertujuan untuk memperjelas corak ukirannya jika di lihat dari jarak yang agak jauh. Untuk memperjelas tampak side tersebut biasanya di berikan warna dasar prade yang menjolok atau yang memiliki warna berbeda dengan warna prade itunsendiri seperti yang telah banyak di gunakan yaitu warna merah atau biru. Sebagai akhir pemberian warna untuk menjadikan warna prade tersebut menjadi mengkilap maka tahapan yang paling akhir dalam proses ini adalah menyemprotkan cairan yang sering di sebut CLEAR FINIS yang juga berguna untuk pelindung  warna.

 

 

Rumusan Masalah.

  1. Alat-alat pembuatan gamelan.
  2. Bahan-bahan secara keseluruhan.
  3. Prosers Pembentukan secara keseluruhan.
  4. Proses pembentukan nada.
  5. Proses finising.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  1. Buku Sekelumit cara-cara pembuatan Gamelan Bali, oleh I Nyoman Rembang, dkk.
  2. Buku Salinan Lontar Prakempa, oleh Dr.I Made Bandem, ASTI 1986.
  3. Narasumber, I Made Rindhi,I Wayan Suparta, I Ketut Kumara (alm), I Made Arjo.
  4. Analisis dan praktek oleh I Ketut Kariana.

Drumband bergaya tradisional

Drumband bergaya tradisional

            Adalah sebuah barungan alat musik Bali yang jumlahnya cukup banyak dimainklan pada saat upacara kenegaraan, selanjutnya barungan ini di namakan Adi Merdangga. Nama Adi Merdangga di ambil dari bahasa Sansekerta. Adi berarti besar dan Merdangga berarti kendang. Jadi Adi Merdangga berarti kendang besar, atau kendang dalam jumlah banyak. Sedangkan sebutan Drumband tradisional adalah untuk membedakan dengan Drumban yang di kenal selama ini.

Kekhasan drumband tradisional Adi Merdangga ini dapat dengan jelas di lihat pada alat-alat bunyi atau instrumen yang di pergunakan. Kalau dalam Drumban modern biasanya instrunentasinya antaralain terdiri dari alat-alat musik modern seperti bassdrum, tenordrum, snaredrum, trombone, saxsophone, vibraphone dan lain-lain, maka pada Adi Merdangga instrumentasinya terdiri dari alat-alat musik Gamelan Bali seperti kendang, cengceng, reong, gong, kempur, kemong, bende, dan instrumen Gamelan Bali lainnya.

Drumband bergaya tradisional ini lahir pada taahun 1984 di ASTI/STSI/ Denpasar. Drumband ini merupakan jawaban dari Dr. I Made Bandem atas gagasan atau idea mantan Gubernur Bali yakni Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, yang menginginkan sebuah musik pengiring upacara kenegaraan yang di kembangkan dari berbagai jenis instrument tradisional. Proses terealisasikan Drumband tradisional ini secara garis besar di bagi menjadi tiga tahap yaitu tahap eksplorasi, tahap improvisasi, dan tahap forming.

Pada tahap eksplorasi, sebuah tim yang terdiri dari pengerawit atau komposer ASTI/STSI Denpasaar melakukan sebuah penelitian terhadap seni Rebana di Desa Nyuling Kab. Karangasem, Seni Okokan di Desa Atapan Kab. Tabanan, dan seni Beleganjur sebagai materi utama dari Adi Merdangga ini.

Setelah melewati tahap eksplorasi, kemudian di lanjutkan pada tahap improfisasi. Materi atau bahan yang di peroleh pada tahap pertama tadi, pada tahap ke dua ini di seleksi, di  pilih, di pertimbangkan sesuai dengan kebutuhan ide.eksprimen-eksprimenpun sudah mulai di lakukan.

Tahap Forming atau tahap pembentukan adalah proses yang cukup penting. Sebab pada tahap inilah wujud dari pada Drumband tradisional ini mulai kelihatan, baik mengenai instrumentasinya, komposisi dan struktur lagunya, termasuk pula unsur-unsur dinamika,ritme, tempo, melodi, dan unsur-unsur musik lainnya yang tetap menunjukkan karakter Karawitan Bali.

Dalam Drumband modern, instrumentasinya didominasi oleh alat-alat musik yang bersifat membraanphone (alat musik yang mempergunakan semacam kulit yang di kencangkan). Dalam Drumband Adi Merdangga pun demikian juga, yaitu puluhan pasang kendang Bali. Namun kalau dalam Drumband modern cendrung di dominasi oleh pukulan-pukulan serempak, sebaliknya dalam Adi Merdangga agak berbeda.

Kendang Bali mempunyai bentuk yang dapat dibunyikan dari dua sisi. Dan secara tradisional, kendang Bali memiliki sistem Lanang (laki) dan Wadon (perempuan). Artinya ada kendang lanang dan ada kendang wadon. Pemain yang membunyikan kendang lanang dengan pemain yang membunyikan kendang wadon dalam prakteknya selalu berpasangan. Dan perpaduan pukulan bunyi kendangnya membuat suatu jalinan atau Kotekan  (interlocking figuration), baik pukulan di sisi kanan yang mempergunakan Panggul maupun bunyi pukulan di sisi  kiri yang mempergunakan telapak tangan kiri. Begitu juga jalinan bunyi kendang besar, menengah, dan kecil memiliki variasi sendiri-sendiri namun tetap terikat dalam keterpaduan.

Alat-alat gambelan lain yang dipergunakan dalam drumband Adi merdangga, pada perinsipnya tidak berbeda dengan gambelan Bleganjur. Misalnya kalau dalam ensabel karawitan Bali umumnya dan kususnya dalam gambelan Bleganjur hanya mempergunakan dua kendang  (lanang dan wadon), tetapi pada Adi Merdangga bisa sampai 25 pasang  (50 kendang lanang wadon) atau lebih. Begitu juga cengceng dan reong juga ditambahkan jumblahnya. Yang tetap bertahan adalah beberapa instrumen  Pemangku seperti gong, kempur ,kempli, tawa-tawa dan lain-lainnya. Instrumentasi Adi Merdangga ini juga memasukan suling yang bertugas mempermaniskan melodi.

Daasar utama dari penggarapan Adi Merdangga ini adalah Gilak. Gilak adalah semacam bentuk kompesisi yang secara tradisional banyak dipakai dalam karawitan Bali. Secara konvensional gilak terdiri dari delapan ketukan, di mana tekanan terberat jatuh pada hitungan kedelapan, yang biasanya ditandai dengan jatuhnya pukulan instrumen gong.

Pada gilak yang sudah disisipi melodi tertentu itulah masing-masing instrumen mengambil peranannya sesuai dengan tugasnya. Kendang sebagai pemurba irama(memimpin dan mengendalikan lagu), cengceng membuat aksen-aksen tersendiri, reong membuat jalinan melodi, gong , kempur, kempli   memangku, suling mempermaniskan dan menjaga kesinambungan melodi, dan sebagainya. Begitu pula tentang unsur kreativitas penggarapan dan inovasi penampilan juga berorientasi dari gilak ini . Misalnya ditrnasfernya pukulan ala drumband modern pada instrumen kendang. Begitu juga diterapkannya peraturan baris berbaris juga mengacu pada gilak ini

Adi Merdangga juga dilengkapi dengan penari dan pembawa umbul-umbul serta tombak, untuk mendukung drumband ini bila melakukan Display (semacam peragaan atau demontrasi) sseperti halnya drumband modern. Mayorette dari drumband tradisional ini adalah dua orang pemain kendang. Pada umumnya musik Bali dan seni pertunjukan bertolak dari filsafat tubuh manusia yaitu kepala, badan dan kaki. Hal ini dalam seni pertunjukan di Bali di sebut dengan pengawit, pengawak, den pengecet, atau bisa di analogikan dengan pendahuluan, isi, dan penutup. Begitu pula Adi Merdangga di bagian dalam tiga tahapan ini yakni di awali dengan gilak pemalpal kemudian di sambung dengan gilak pengadeng dan diakhiri dengan pe kaad. Sudah menjadin ciri khas seni pertunjukan Bali, tata busananya banyak di warnai dengan ornamen warna kuning emas. Pada Adi Merdangga pun demikian , dimana kostumnya di dominasi dengan warna merah api, baik destar, rompi, dan kamben yang di hiasi dengan prade/cat kain yang berwarna emas,  dengan motif-motif bali yang di sederhanakan. Sedangkan pinggang para pemain di lilit dengan kain poleng,kain kotak-kotak khas Bali yakni berwarna hitam dan putih. Keseluruhan itu di kenakn secara kreatif namun tetap menunjukkan styl Bali. Akan tetapi yang kurang lasim di dalam seni pertunjukkan Bali adalah dimana para pemainnya memakai sepatu kungfu berwarna hitam.

Pertama kali munculnnya Adi Merdangga pada pesta kesenian Bali pada tahun 1984, Drumband ini mendapatkan sambutan yang hangat dari penonton dan masyarakat umum, oleh karena itu drumband ini pun sering di pentaskan pada saat hari-hari penting seperti acara pembukaan parade drumband dan marching band Langgam Indonesia, pada bulan juni 1986 di Denpasar. Adi Merdanmgga ini pun sempat pula mendemontrasikan kebolehannya pada pembukaan fetival film Indonesia tahun 1987 yang sebagian acarannya diadakan di Bali. Kemudian puncaknya ketika berlaga di SEA GAMES XIV di Jakarta, 9 September 1987.