Sejarah Barungan Gamelan Genggong Di Desa Batuan

BAB I
ASAL MULA, ORGANISASI DAN PERANAN GENGGONG
DI DESA BATUAN

1.1 Asal Mula
Kalau ditelusuri mengenai asal mula Genggong di Desa Bantuna ini, maka tak seorang informanpun dapat memberikan keterengan yang pasti mengenai asal-usul instrumen in idi Desa Bantuan yang menjadi obyek penelitian. Begitu pula data-data secara tertulis juga tidak dapat penulis temui. Namun untunglah beberapa orang pendukung tertua dari seniman pewaris Genggong di Desa Bantuan dapat memberikan beberapa keterangan yang penulis dapatkan dari hasil wawan cara pada Tanggal 7 oktober 2012, dengan nara Sumber I Wayan Sore.
Dari keterangan informan yang dapat dikumpulkan dikatakan. Bahwa Genggong yang ada di Desa Bantuan sudah ada sejak dahulu (sekitar awal abad 19-an). Instrumen yang dalam organisasi dikenal dengan sebutan jaw’s harp ini memang tersebar hampir di seluruh Nusantara. Pada jaman dulu, para petani di Desa Bantuan sehabis bekerja di sawah beristirahat sambil minum tuak. Pada umumnya para petani yang suka minum tuak itu, biasanya mempunyai tempat-tempat berkumpul tertentu, misalnya di warung, di rumah pedagang tuak atau di bawah pohon besar yang rindang. Sambil minum tuak mereka ngobrol kesana kemari tanpa tujuan, di samping sering mereka melakukan kegiatan yang dapat menghibur dirinya sendiri seperti bernyanyi, “Mececimpedan” dan sebaiknya. Para petani di Desa Bantuan itu banyak melakukan permainan Genggong sebagai selingan. Permainan Genggong yang dimaksud adalah dengan meniup sebilah pupug kecil dan tipis yang telah di bentuk sedemikian rupa, hingga menimbulkan duara yang merdu dan dapat memberikan kepuasan pada rohani mereka.
*Uraian dari Bahasa
Genggong kalau diuraikan menurut suku katanya adalah terdiri dari geng dan gong menurut wargan aksara/wiad¬nyanan aksara maka genggong berasal dari geng dan gong yang berarti ge = gae, gong (goh pala = pengangon), ng = ngaran sehingga penulis simpulkan bahwa genggong bahwa genggong berarti ge=gaen dari pengangon (suatu hasil karya dari pengembala) yang kira-kira sama dengan dengan terciptanya Rare Angon yang bernama I Tapak (Tapak Mada Bali).

*Uraian dari segi nama :
Timbulnya Genggong mungkin dari alat instrumen terse¬but waktu dihembus menimbulkan bunyi ngeng dan ngorig sehingga alat instrumen itu dinamai Genggong”

Kalau kita tarik kesimpulan dari pengertian tersebut di atas jelaslah bahwa Genggong adalah alat musik yang tergolong tua dan telah tersebar di seluruh dunia dengan bermacam bentuk dan versi. Khususnya di Desa Batuan, musik primitif ini muncul dan dikembangkan melalui pertemuan tidak resmi atau waktu-waktu tarluang oleh para petani Desa Batuan zaman dulu melalui acara minum tuak.
Menurut informan, pada dasarnya permainan Genggong pada za¬man dulu memang hanya bertujuan untuk sekedar mengisi waktu-waktu terluang pada saat istirahat. Tetapi karena seringnya berkumpul dan melakukan kegiatan seperti itu, semakin hari semakin banyak pula orang belajar main Genggong melalui pertemuan itu.
Kekhasan suara Genggong itu membawa pengaruh bagi yang mendengarkannya kalau dimainkan oleh orang yang betul-betul dapat memerankan atau memainkannya. Karena sering kita mendengar atau meli¬hat orang bermain Genggong, Maka mereka ingin meniru dan belajar bermain Genggong. Kemudian munculah kelompok-kelompok peniup Genggong yang saling menunjukan kemahirannya dalam bermain Genggong. Hal ini bukan saja terjadi di arena minum tuak, kebiasaan bermain genggong di Desa Batuan oleh para petani zaman dulu itu, juga di¬lakukan di sawah, di balai Banjar, di rumah atau di tempat-tempat tertentu. Bahkan dulu para pemuda di Desa Batuan sering menunjuk¬kan kebolehannya dalam bermain Genggong didalam menarik perhatian gadis dalam hatinya.
Menurut informan, Genggong pada dasarnya berbentuk seni, tabuh. Tetapi sejak kapan Genggong dipergunakan untuk mengiringi ta¬ri, tidak seorang informan pun dapat memberikan keterangan yang pasti. Menurut informan I Wayan Sore (60 th) diungkapkan Genggong: sebagai pengiring tari terjadi secara tidak sengaja. Ini terjadi sekitar tahun 1935.
Ketika itu, di suatu tempat, sekelompok orang sedang berkum¬pul sambil bermain Genggong. Tat kala permainan Genggong sedang berlangsung, datang Ida Bagus Putu Renteh sambil menari berimpro¬visasi mengikuti irama Genggong. Gerak-gerik tarian Ida Bagus Pu¬tu Renteh mengekspresikan tingkah Godogan (katak). Karena tarian ini dianggap menarik, maka atas prakarsa pemuka masyarakat setempat, tarian Ida Bagus Putu Renteh ini dipentaskan sebagai klimak setelah didahului dengan beberapa tahuh renggong, bertempat di Jabe Pura Desa Batuan. Tarian Godogan pada waktu itu kostumnya sa¬ngat sederhana dan tidak mempergunakan tapel (topeng) seperti yang ada sekarang. Tarian ini pada awal munculnya dulu juga tidak terikat oleh cerita. Hanya merupakan tari lepas yang melukiskan Godo¬gan memburu mangsanya yaitu capung yang diperankan oleh Ni Wayan Raji. Rudolf Bonnet dan Walter Spies tertarik sekali dengan kesenian ini. Kedua orang inilah menganjurkan agar barungan Genggong dilengkapi dengan Kendang, Kajar, Kempur dan instrumen lainnya. Sebelumnya barungan Genggong hanya terdiri dari beberapa Genggong.

Kemudian timbullah prakarsa dari Jero Mangku Desa Batuan untuk memetik beberapa babak ceritera Godogan ini yang kemudian di¬gabungkan dengan musik Genggong, sedangkan tariannya diciptakan oleh I Nyoman Kakul. Petikan dramatari ini pertama kali didukung oleh sekaa Genggong Batuan. Kemudian pada tahun 1970 diambil alih olth sekaa Genggong Batur dari pimpinan I Nyoman Artika dan I Made Jimat. Eksistensi sekaa Genggong Batur Sari mendapat per¬hatian dari pemerintah, tepat pada tanggal 5 Agustus 1971, sekaa Genggong Batur Sari memperoleh Pramana Fatram dari Gubernur Bali saat itu.
1.2 Organisasi
Secara tradisional di Bali terdapat bermacam bentuk organi¬sasi yang disebut dengan sekaa. Sekaa-sekaa ini sampai sekarang hidup dan terus berkembang. Seperti sekaa manyi, sekaa teruna teruni, sekaa kidung, sekaa gong dan sebagainya. Organisasi tradisional ini biasanya mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama bagi setiap anggotanya. misalnya anggota sekaa gong terdiri dari orang-orang yang berbakat atau berminat pada seni gambelan dan ingin mengembangkan keterampilannya. Begitu iuga sekaa Genggong Batur Sari di Desa Batuan memiliki hampir sama bagi setiap anggotanya. Sekaa Genggong Batur Sari Terdiri,dari 21 orang laki-laki berkisar antara 17 tahun hingga 50 tahun.Pekerjaan mereka hari terdiri dari beberapa latar belakang. Sepuluh orang petani, sembilan orang negeri dan selebihnya sudah berkeluarga.
Tugas masing-masing anggota secara garis besar dapat dibagi 2 (dua): sebagai penari dan sebagai penabuh. Sebagai penari 10 (se¬puluh) orang dan sebagai penabuh 20 (dua puluh) orang.

1.1 Peranannya dalam Masyarkat
Keberadaan suatu bentuk kesenian tentu karena dibutuhkan oleh suatu komunitas. minimal ia memiliki suatu peranan di masya¬rakatnya. Begitu pula kesenian Genggong di Desa Batuan memang ke¬hadiarannya mempunyai peranan dalam masyarak. Misalnya melesta¬rikan salah satu kesenian Bali yang termasuk langka, karena Geng¬gong merupakan seni karawitan Bali yang hanya hidup dibeberapa tempat saja seperti di Desa Batuan ini.
Disamping memiliki peranan melestarikan salah satu seni karawitan Bali eksistansi Genggong di Desa Batuan juga mempunyai peranan mempererat hidup kekeluargaan. Seni Genggong melalui sekaa¬nya merupakan media yang dapat memperkokoh rasa persatuan, solidaritas dan mempererat persaudaraan. Sekaa Genggong Batur Sari umumnya anggotanya masih mempunyai hubungan keluarga, hubungan darah atau hubungan dadia.Siklus kehidupan masyarakat Bali banyak disertai dengan upacara-upacara adat dan agama. Dan hampir dalam peristiwa-peristiwa ritual seperti itu kesenian; seni karawitan dan seni tari selalu ikut serta. Genggong di Desa Batuan sering dipentaskan sebagai rangkaian dari upacara-upacara itu sebagai seni peratunjukkan. Dan sebagai seni yang tergolong seni balih-balihan, Genggong juga da¬pat dipentaskan lepas dari upacara adat dan agama seperti untuk wisatawan misalnya.

BAB II
INSTRUMENTASI DAN BENTUK PENYAJIAN

2.1 Instrumentasi
Penggolongan musik Indonesia, Bali pada khususnya dibagi menjadi 4 (empat) golongan yakni yang bersifat Idiofoon, Aerofoon, Membranofoon dan Kordofoon. Gamelan Bali sampai saat ini belum ada yang bersifat Elektrofoon.
Genggong yang tergolong Instrumen aerofoon ini, bentuknya ada 3 (tiga) yaitu Genggong besar, Genggong menengah dan Genggong kecil. Genggong kecil sama dengan anak Genggong; dalam istilah di Desa Batuan sering disebut dengan “enggung” karena suaranya me¬nyerupai suara enggung (kodok).

2.2 Proses Pembuatan Genggong
Bahan yang diperlukan untuk membuat Genggong adalah sebuah “papan pupug” kering dan benang. “Papan pupug” ialah kulit pele¬pah daun enau yang sudah tua (kering) yang dalam bahasa $alinya disebut “papah jaka”.
Di dalam memilih atau menentukan bahan Genggong yang baik bagi seniman Genggong di Desa Batuan telah mempunyai suatu keper¬cayaan tertentu yang sering dijadikan ukuran untuk menentukan kwalitas bahan Genggong yang akan dikerjakan. Dikatakan bahwa bahan Genggong yang baik, apabila pelepah enau itu sudah cukup tua (ka¬lau dapat biar daunnya supaya kering di pohon). Jika ada pelepah yang sudah menunjukkan tanda-tanda suara nyaring ketika bergesekan satu pelepah dengan pelepah yang lainnya, itulah bahan Geng¬gong yang baik.
Memang secara logika hal itu banyak menunjukan kebenaran. Sebab kalau pelepah enau itu belum cukup umur, jelas ia masih ba¬nyiak mengandung kadar air. Sudah tentu suara yang dihasilkan tidak akan nyaring dan kalau dikeringkan kadang-kadang ia akan “kisut” (mengkerut).
Untuk mengerjakan bahan-bahan tersebut hingga menjadi Geng¬gong, diperlukan alat-alat sebagai berikut :
1. Gergaji, belakas dan Timpas.
2. Pahat pemukul dengan segala ukuran.
3. Pengutik, pusut dan pangot dengan segala ukuran.
Proses pembuatan Genggong tersebut cukup rumit serta sulit menjelaskannya. Secara singkat dapat ditxraikan yaitu pelepah daun enau itu diiris-iris memanjang hingga men,jadi papan pupug yang tipis, kemudian dipotong-potong dengan panjang kira-kira 20 cm dan lebar 212 cm, lalu diproses dengan beberapa tahapan yang rumit de ngan teknik tertentu hingga berbentuk. sebuah Genggong.
Di dalam membuat Genggong, dibutuhkan harus mempunyai pengalaman yang baik dibidang itu ketekunan serta kesabaran yang tinggi,karena resikonya kalau sipembuat Genggong kurang sabar dan kurang hati-hati menghadapi benda kecil lagi tipis yakni akan sering berakibat patah. Untuk menghindari kegagalan tersebut seorang seniman pembuat Genggong memerlukan suasana tenang dalam menger¬jakannya. Karena sulit dan rumitnya membuat Genggong, di Desa Ba¬tuan kini hanya ada beberapa tukang Genggong.

2.3 Teknik Bermain Genggong
Yang dimaksud teknik bermain Genggong di sini yaitu bagai mana cara “menabuh” alat itu sehingga menimhul.kan bunyi sesuai dengan kondisi alat dan kehendak serta kemampuan pemainnya, mengingat instrumen ini mempunyai cara permainan yang unik.
Ketika hal ini penulis coba selidiki, tidak seorang pemain Genggong pun dapat memberikan metode atau definisi yang pasti ba¬gaimana cara bermain Genggong. Menurut mereka, di dalam belajar bermain Genggong mereka tidak dibekali dengan metode tertentu. Ka¬rena sering mendengar dan melihat orang bermain Genggong, mereka coba-coba meniru, karena tekun dan berbakat, akhirnya bisa.
Namun menurut I Dewa Aji Man Ubud Dan Dewa Sandi, teknik bermain Genggong menurutnya adalah sebagai berikut :
1. Buka mulut sesuai dengan lebar Genggong yang dimainkan.
2. Tempelkan Genggong pada mulut yang terbuka tadi secara horisontal. Tangan kanan memainkan talinya sementara ta¬ngan kiri memegang alatnya.
3. Keluarkan nafas secara “ngangkihin”, mainkan bentuk mu¬lut maka lidah Genggong itu akan bergetar menimbulkan bunyi yang khas.

2.4 Barungan Genggong
Pada dasarnya Genggong sebenarnya merupakan suatu alat mu¬sik yang berdiri sendiri, yaitu hanya terdiri dari beberapa Geng¬gong saja, tetapi dalam perkembangannya lebih lanjut, Genggong di¬lengkapi dengan alat-alat lain hingga berbentuk suatu kesatuan set gambelan dan Genggong yang dapat mengiringi suatu tarian. Jum¬lah instrumen yang dijadikan barungan gambelan Genggong secara umum di Bali belum ada keseragaman..
Pada mulanya, barungan gambelan Genggong di Desa Batuan sebelumnya cukup sederhana dibandingkan dengan sekarang, yaitu ter¬diri dari :
1. Genggong 4-8 buah,
2. Sepasang kendang angklung.
3. Sebuah keleritit (guntang kecil).
4. Sebuah kempur (guntang besar).
5. Sebuah suling kecil.
6. Sebuah kecek (dari botol bir).
Setelah mengalami beberapa fase perkembangan, gambelan Geng¬gong di Desa Batuan pada umumnya, khususnya pada sekaa Genggong Batur Sari di bawah pimpinan I Nyoman Artika, sekarang instrumen¬nya terdiri dari :

1. Genggong 4-8 buah
2. Beberapa seruling kecil dan menengah.
3. Kelentit (guntang kecil).
4. Gong Pulu.
5. Sebuah kelenang.
6. Sebmah kelenong Atau Tawa-Tawa.
7. Sepasang cengceng.
8. 1 Buah kendang “nyalah” (ukuran menengah).

2.5 Tugas Masing-Masing Instrumen
Barungan gembelan Genggong yang pada awalnya sangat seder¬hana kini sudah mengalami beberapa perubahan, diantaranya dengan alat yang bahannya dari kerawang seperti cengceng,kelenong, kele¬nang. Suatu perkembangan kecil yang perlu dicatat, umumnya baru¬ngan gambelan Genggong di Desa Batuan dilengkapi dengan sepasang kendang “lanang wadon”, tetapi pada sekaa Genggong Batur Sari da¬lam pementasan-pementasannya sering hanya mempergunakan sebuah kendang saja. Kendang yang bertugas sebagai pemurba lagu dimainkan secara “nunggal” (sendiri). Tugas masing-masing instrumen lainnya adalah sebagai berikut :
1. Genggong sebagai instrumen pokok dalam barungan ini,ber¬tugas membawa lagu dan membuat jalinan-jalinan.
2. Suling bertugas mengawali gending, memperseru suasana dan memperindah ruas-ruas gending yang lirih.
3. Kelentit bertugas memagang matra.
4. Gong Pulu bertugas sebagai pemangku lagu dan mengakhiri gending.
5. Kelenang dan kelenong atau Tawa -tawa juga bertugas sebagai pemangku lagu.
6. Genggong bertugas untuk membuat. Ansel sesuai dengan variasi kendang disamping untuk memperkaya ritme.
7. Kendang bertugas sebagai mengatur cepat lambatnya namika yang telah ditentukan.

2.6 Hal Laras
Laras Genggong di Desa Batuan adalah laras seledro dengan nada pokok ada 4 (empat), antara lain: ndeng, ndung, ndang dan nding, sama dengan laras angklung, maka : “Kesenian Genggong banyak me¬ngambil bentuk lagu angklung.

2.7 Komposisi Gending
Komposisi gending-gending sekaa Genggong di Desa Batuan khususnya pada sekaa Genggong Hatur sari umumnya lagu-lagunya diawali dengan bunyi suling seperti pada tabuh Angklung Dentiyis (ter¬lampir). Komposisi gending itu adalah sebagai berikut
1. Pengawit : diawali dengan suling kemudian diikuti Geng¬gong dan seluruh, instrumen langsung menuju pengawak.
2. Untuk mengulang pengawak diulang lagi dari pengamit.
3. Pengecetnya juga diawali dengan suling,dan bisa diulang¬ulang kembali.

2.8 Nama-nama Gending
Gending-gending yang sering dimainkan oleh sekaa Genggong Batur Sari, antara lain :
1. Gegindeman
2. Tabuh Telu
3. Tabuh Angklung Dentiyis
4. Tangis
5. Tabuh Angkiung Kuta
6. Dongkang Menek Hiyu
7. Sekar Saridat
8. Sekar Sungsang .
9. Sekar Gendot
10. Elag Elog
11. Janger.
12. Konokan Ngoyong
13. Konokan Mejalan
14. Giagah Puun
Gending-gending yang dikemukakan di atas adalah gending-gen¬ding yang masih aktif dimainkan oleh sekaa Genggong Batur Sari. Sebenarnya masih banyak gending-gending Genggong yang terdapat di Desa Batuan, tapi sudah banyak dilupakan.
2.9 Komposisi Gambelan
Komposisi barungan Genggong dalam mengiringi tarian, secara konvensional dan tradisional berada di sebelah kiri.Tetapi kadang-¬kadang karena situasi dan kondisi tepat pementasan, komposisi itu pun mengadakan penyesuaian. Namun walaupun demikian, yang jelas instrumen yang dianggap penting berada pada deretan paling depan. Untuk lebih jelasnya lihat komposisi barungan Genggong saat me¬ngiringi tarian.

Gambar

Keterangan :
1. Kelenang
2. Gong Pulu
3. Tawa – Tawa
4. Ceng –Ceng Ricik
5. Kelentit
6. Kendang
7. Suling
8. Genggong

BIOGRAFI I KETUT WIKA

I KETUT WIKA (NYONG)

I Ketut Wika lahir di Desa Batuyang tepatnya di Banjar Dajan Rurung Sukawati Gianyar Bali,Tanggal 18 November 1973.
Nama Orang Tua :
*Bapak :I Nyoman Bajra
*Ibuk :Ni Ketut Madri

I Ketut Wika Adalah anak ke empat dan riwayat pendidikan dari nya yaitu SD 7 Batubulan Kangin Dan SLPT Dharma Sentana.Dalam berumah tangga nama istrinya Ni Made Sudarmini .Anak Pertamayna bernama Pande Putu Gek Candra Dewi Dan Anak Keduanya bernama Pande Kadek Agus Wika Adi Candra

Sejak berumur 7 tahun I Ketut Wika sudah menggeluti bidang kesenian yaitu seni karawitan (tabuh). Kepiawaiannya dalam bermain kendang dan gender wayang sudah diakui oleh kalangan masyarakat seni. Demikianlah sekilas latar belakang I Ketut Wika sebagai seniman tabuh dan seniman alam.

Sebagai Seorang seniman Iketut Wika Mulai melatiuh di masing- masing Banjar yang ada di Batubulan Kangin ( Batuyang ) Pada Tahun 2001,terutama Melatih Tabuh Lelambatan Dan Tarian-tarian.

• EXPLORASI :
Dalam mencari inspirasi atau ide, I Ketut Wika selalu melihat suasana disekitarnya. Ide – ide yang timbul biasanya terjadi pada saat beliau melakukan aktivitas diluar rumah, misalnya pada saat mancing ikan dilaut, minum sedikit arak bersama teman – temannya, dan pada saat melihat kejadian – kejadian menarik dijalanan.

• IMPROVISASI :
Dalam penuangan ide atau konsep, yang pertama dilakukan oleh I Ketut Wika adalah memilih media atau instrumen apa yang cocok dalam penuangan tersebut. Setelah terpilih, selanjutnya beliau mulai menuangkan apa yang ada dalam inspirasinya dan idenya tersebut dengan cara melakukan percobaan – percobaan.

• FORMING :
Setelah terbentuk sebuah gending yang utuh, yang dilakukan I Ketut Wika selanjutnya adalah memberikan hasil akhir dalam gending tersebut seperti penekanan – penekanan, keras lirih, dan rasa (bayun gending) pada setiap bagian yang perlu menurut beliau.

Selain Sebagai Pelatih I Ketut Wika Jua sering mengikuti Festival Maupun Parade Gong Kebyar Sebagai Pemain Kendang Duta Kabupaten Gianyar.

Tahun Mengikuti Festival Atau Parade Gong Kebyar :

• Pada Tahun 1997 ,Sekaa Gong Astiti Dhama Sukawati.
• Pada Tahun 1999 ,Sanggar Genta Sari Peliatan Ubud
• Pada Tahun 2003 ,Sanggar Chandra Agung Batuyang
• Pada Tahun 2004 ,Banjar Tegalinggah
• Pada Tahun 2007 ,Sekaa Gong Pendawa,Tarukan mas Ubud

TABUH LELAMBATAN KREASI”Taru Kencana”

PENATA : I Wayan Jebeg Dan I Wayan Darya,S.Sn
SEKAA GONG PANDAWA
Br. Tarukan,Mas,Ubud,Gianyar

 DIFINISI TABUH LELAMBATAN KREASI”Taru Kencana”
Festival Gong Kebyar PKB-XXIX 2007 Duta Kabupaten Gianyar Tabuh Lelambatan ” Taru Kencana” merupakan tabuh kreasi baru yang di ciptakan oleh I Wayan Jebeg Dan I Wayan Darya,S.Sn .Tabuh ini dituangkan ke dalam barungan gong kbyar yang mengambil cerita ” Taru Kencana” yang artinya seorang yang mengagumi hadirnya seorang gadis.
 INSTRMEN YANG DIGUNAKAN DALAM TABUH LELAMBATAN KREASI”Taru Kencana”
 2 tungguh jegogan, yang sumber suaranya pada bumbungan.
 2 tungguh juglag, yang sumber suaranya pada bumbungan.
 2 tungguh penyacah, yang sumber suaranya pada bumbungan.
 2 tungguh ugal, yang sumber suaranya pada bumbungan.
 4 tungguh pemade, yang sumber suaranya pada bumbungan.
 4 tungguh kantilan, yang sumber suaranya pada bumbungan.
 1 tungguh reong, yang sumber suaranya terletak di bawah pencol reong.
 1 tungguh trompong, yang sumber suaranya terletak di bawah pencol trompong.
 1 pasang gong lanang wadon, yang sumber suaranya terletak di belakang pencol gong.
 1 pasang kendang lanang wadon, yang sumber suaranya di tengah badan kendang atau di muka kanan dan muka kiri kendang.
 1 kempur, yang sumber suaranya di belakang pencol kempur.
 1 bende yang sumber suaranya di belakang pencol bende.
 1 kemong, yang sumber suaranya terletak di belakang pencol kemong.
 1kempli, yang sumber suaranya terletak di bawah pencol kempli.
 1 kajar, yang sumber suaranya terletak di bawah pencol kajar.
 1 tungguh cengceng ricik, yang sumber suaranya pada pertemuan bilah cengceng yang di pukul.
 Suling kurang lebih berjumlah 6, yang sumber suaranya di tanggkai atas suling atau sering disebut lubang pe manis.
 2 buah rebab , yang sumber suaranya pada kulit rebab, bila di gesek menggunakan alat penggesek rebab.

 KOMENTAR DARI TABUH LELAMBATAN KREASI
“Taru Kencana”
1) Sound System :
Dari Segi Sound System, dalam video ini kita bisa melihat keseimbangan suara antar instrumen digunakan. Sound System sangat berpengaruh dalam pengaturan suara dalam video ini, jadi apabila dalam pengaturan sound system orang yang mengaturnya kurang handal atau menguasai teknik – teknik dalam pengaturan ini, maka akan sangat berpengaruh dalam pengaturan suara instrumen yang bisa membuat sebuah pertunjukan tidak baik dan kurang enak didengar. Dalam video ini, instrument gong sangat kurang kedengaran. Sebaiknya microphone diletakkan dekat instrument tersebut agar nanti suaranya bisa seimbang dengan instrument yang lain. Selain itu juga suara riong saat tergabung dimainkan dengan semua instrumen jadi kurang begitu kedengaran,maka dari itu,setiap adanya kelemahan suara yang kurang jelas masuk ke sound sistem maka seorang yang mengawasinya harus jeli dalam hal-hal seperti itu.contohnya yang saya amanti pada menit ke 13 suara riong dari nomor satu sampai tiga kurang begitu jelas ditangkap oleh soundnya namun di riong yang nomor empat ( pemetit) suaranya terlalu menonjol,maka dari itu seorang pengatur sound sistem agar menambahkan beberapa sound lagi di sela-sela tungguhan riong itu.
2) Lighting :
Dari segi Ligthing, video ini terlihat sangat kurang sinaran yang terang. Karena saya lihat pada video ini, hanya menggunakan satu sumber cahaya. Dan dalam saat ending atau pementasan gebyar saat tabuh mau berahir itu kurang adanya efek-efek cahaya yang lain. Kalau disertai efek-efek cahaya yang lain, kemungkinan pementasan ini akan terasa lebih kelihatan hidup.
3) Pengambilan Gambar :
Dari segi pengambilan gambar, dalam video ini terlihat kurang bagus. Sebab kurang fokusnya gambar yang mau diambil. Misalnya mengambil gambar antar pemain gamelan. Di samping itu juga si pengambil gambar kurang kreatif untuk menyoroti wajah-wajah si pemain. Saya lihat pada video ini si pengambil gambar hanya diam di satu tempat Dan untuk kedepannya alat yang digunakan mengambil vidio tidak ditempatkan hanya satu titik saja agar tampak gambar samping dan depan jelas kelihatan.

 Saran –Saran
Kami sebagai masyarakat pengamat seni,untuk nantinnya agar hasil video lebih baik lagi maka kedepannya seorang yang menjadi pengatur sound sistem sebelum melakukan rekaman atau pementasan itu dimulai, diharapkan soundnya di cek dengan baik dan dalam penempatannya juga diperhatikan.Namun untuk penatatan lampu juga jangan satu arah saja.
Sekian komentar video tabuh lelambatan kreasi “Taru Kencana “ yang saya sempat hamati.apabila ada kesalahan kata dan kekurangan dalam penyampaian ini,saya sebagai pengamat mohon maaf sebesar-besarnya.

Terima Kasih.

Barungan Gambelan Joged Bumbung Desa Batubulan

I.1   Asal Mula Timbulnya Gambelan Joged Bumbung

Asal mula timbulnya gambelan joged bumbung diperkirakan sudah ada sejak tahun 1950. Namun proses terjadinya gambelan joged bumbung tersebut masih sulit diungkapkan secara positif dan adapun faktor penyebab terhambatnya penulis memperoleh data maupun daftar informasi tentang sejarah atau timbulnya gambelan joged bumbung ini.

I.2   Difinisi Gambelan Joged Bumbung

Gambelan joged bumbung adalah sebuah barungan gambelan yang dipergunakan untuk mengiringi tari joged bumbung. Gambelan ini biasanya sering disebut dengan gerantangan namun istilah yang biasa diberikan untuk gambelan joged bumbung dalam buku evolusi tari bali disebutkan bumbung yang berarti tabung. Barungan gambelan joged bumbung memiliki instrumen grantang ,pemade dan grantang kantil, sepasang grantang jegogan, sebuah kendang gupekan, seruling, ceng-ceng kecil, kelenang, kemong, gong pulu, dan bumbung kpyak. Pembuatan instrumen gambelan joged bumbung ini memakai laras selendro 5 nada.

I.3   Ulasan Dari Masing-Masing Instrumen Barungan Gambelan Joged Bumbung

1.  Instrument gerantang enam buah, yang terdiri dari empat gerantang pamade dan dua gerantang kantil. Gerantang pamade berfungsi sebagai pembawa melodi pokok yang mempunyai teknik pukulan sejenis gender wayang .

2.  Sebuah kendang gupekan yang berfungsi sebagai pemurba irama, mengatur tinggi rendah dan cepat/lambat gending-gending joged bumbung.

3.  Empat buah suling berfungsi untuk memaniskan dan melembutkan bagian gending yang lirih, merupak susunan menjadi sedih dan marah.

4.  Cengceng kecil berfungsi untuk  memperkaya ritme, membuat ansel-ansel dan pariasi gending bersama gendang.

5.  Klenang sejenis kajar berfungsi sebagai penimbal kemplung (kajar).

6.  Kenong sebuah instrument sejenis gong(kecil bentuknya) berfungsi mempertegas jatuhnya pukulan gong.

7.  Gong pulu, dibuat dari kerawang bentuknya seperti jegogan didalam gambelan gong, berbilah dua nada ngumbang dan ngisep, berfungsi sebagai finalis dalam gending joged bumbung.

8.  Bumbug kepyak, dibuat dari bambu berfungsi mengikuti angsel-angsel gending joged bumbung.

9.  Tawa-tawa adalah instrument yang terbuat dari kerawang yang gunanya untuk membawa mantra dan meningkatkan tempo gending.

 

v  Cara memainkan gerantang pamade bagian polos yaitu tangan kanan memainkan pukulan ngotek dan tangan kiri membawakan gending melodi dengan pukulan ngaluh.sedangkan gerantang pamade yang disebut nyangsih yakni cara pukulan tangan kanan nyantet dan tangan kiri memainkan gending melodi dengan pukulan ngaluh.

v  Cara memainkan gerantang kantil dimainkan dengan 2 tangan mempunyai teknik atau cara pukulan sejenis gegambangan yaitu pukulan tetap berulang datang, gerantang kantilan ini hanya memainkan gending melodi dengan cara pukulan polos saja untuk nada bilah gambelan gerantang pamade dan kantilan dimulai dari nada :

 

Panggul yang digunakan adalah 2 batang yang panjang panggul lebih kurang dari 40cm tangkainya dibuat dari bambu maupun fiber sedangkan ujungnya yang akan mengenai bilahan gambelan bentuknya bundar pipih yang dibuat dari karet yang agak keras. Yang berbahan karet biasanya digunakan sebagai pemukul gerantang pamade, namun yang bahannya dari kayu yang agak lunak untuk memukul gerantang kantilan. Untuk panggul gong pulu biasanya menggunakan dua buah panggul jegogan yang disatukan yang terbuat dari kain yang dibungkus dan bertangkaikan kayu namun untuk panggul tawa-tawa sama juga bentuk dan bahannya seperti panggul gong pulu namun lebih kecil dan cuma satu penggunaannya. Kalau panggul yang digunakan sebagai pemukul kelenang dan kenong digunakan panggul riong yang terbuat dari kayu yang dibentuk dan dicat,dihiasi dan diikatkan benang kemong.

I.4   Gending-Gending Yang Sering Dimainkan yakni:

  1. Tabuh Pengalang
  2. Tabuh Telu Pengawit
  3. Gegineman
  4. Tabuh Angrek Angelo
  5. Tabuh Jaipongan

I.5   Cara Pembuatan Instrumen Grantang

Untuk bilahan gerantang ini dipasang dengan digantung. Yang dilubangi hanya bilahan ujungnya saja yang cara menggantungnya sama dengan pada rindik gandrung. Sedangkan bagian pangkal atau bungbungnya hanya diikat saja sedemikian rupa dengan tali berupa jalinan yang teratur, kemudian digantung pada selewahnya.

Cara membuat lubang pada bilahannya yaitu dengan memegang pada titik yang berjarak kira-kira seperempat bagian panjang bambu keseluruhannya, terhitung dari ujung bilahan. Cara memegangnya dengan mengepit memakai ujung dua jari, biasanya jari manis dari jari ibu. Setelah dipegang, dicoba suaranya. Bila semuanya bagus titik yang dipegang itulah dilubangi. Bila suarannya masih kurang baik maka pegangan bisa dioper ke  arah ujung atau pangkal sampai mendapatkan suara yang diinginkan.

Selawah gambelannya dibuat dari kayu berkaki empat seperti kaki meja. Karena bilahannya yang terpasang dari kiri ke kanan makin lama makin pendek sesuai dengan tinggi rendah nadanya, maka baik penampang bawah maupun atas yang kita andaikan ada, yang dibuat oleh kaki-kai pelawah tersebut berupa trapezium. Jadi badan pelawah itu berupa prismatrapesium terpacung. Biasanya juga pelawah itu di cat, digambari, atau kadang-kadang diukir.

 

  • Ukuran Bilah Instrumen Grantang Pemade
  1. Nada nding

Panjangnya                               :    85 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    52 dan 33 centimeter

  1. Nada dong

Panjangnya                               :    80,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    47 dan 33,5 centimeter

 

  1. Nada deng

Panjangnya                               :    75,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    41 dan 34,5 centimeter

  1. Nada dung

Panjangnya                               :    71 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    36 dan 35 centimeter

  1. Nada dang

Panjangnya                               :    65,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    30 dan 35,5 centimeter

  1. Nada nding

Panjangnya                               :    63 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    27 dan 36 centimeter

  1. Nada dang

Panjangnya                               :    60,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    24 dan 36,5 centimeter

  1. Nada deng

Panjangnya                               :    58 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    21 dan 37 centimeter

  1. Nada dung

Panjangnya                               :    55,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    18 dan 37,5 centimeter

  1. Nada dang

Panjangnya                               :    50 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    16 dan 34 centimeter

  1. Nada nding

Panjangnya                               :    47 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    13 dan 34 centimeter

 

 

  • Ukuran Bilah Instrumen Grantang Kantil
  1. Nada nding

Panjangnya                               :    75 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    27 dan 30 centimeter

  1. Nada dong

Panjangnya                               :    54 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    24 dan 30 centimeter

  1. Nada deng

Panjangnya                               :    50 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    22 dan 36 centimeter

  1. Nada dung

Panjangnya                               :    48,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    21 dan 27,5 centimeter

  1. Nada dang

Panjangnya                               :    46 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    18,5 dan 20 centimeter

  1. Nada nding

Panjangnya                               :    43 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    16 dan 26 centimeter

  1. Nada dang

Panjangnya                               :    39,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    14,5 dan 24 centimeter

  1. Nada deng

Panjangnya                               :    36 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    12 dan 23 centimeter

  1. Nada dung

Panjangnya                               :    32 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    10 dan 22 centimeter

  1. Nada dang

Panjangnya                               :    30,5 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    16 dan 34 centimeter

  1. Nada nding

Panjangnya                               :    27 centimeter

Panjang bumbung dan bilah     :    8 dan 17 centimeter

 

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!