SEJARAH GAMBELAN ANGKLUNG DI DESA MUNGGU,MENGWI BADUNG

This post was written by kadeksugiarta on November 6, 2012
Posted Under: Tak Berkategori

                 SEJARAH GAMBELAN ANGKLUNG                     

br.pengayahan desa munggu,mengwi,badung

ANGKLUNG KEBYAR SATYA BUDAYA

 

Awal mulanya 4 orang pendiri gambelan seke angklung,yaitu :

  1. I made puja
  2. Pekak anik
  3. Rai darsana
  4. Made madya

Ke 4 orang ini pertama mendirikan seke angklung tersebut.dan mengenai gambelan angklung ini mulanya terbuat dari besi. Proses pembuatan pertama kali dilakukan dengan cara bergotong royong. Berangkat dari niat dan kesungguhan, bahan dan beralatan seadanya, bilah demi bilah tercipta oleh tangan terampil atau pembuat gambelan itu, akhirnya jadi 4 tungguh gangsa, yang masing-masing terdiri dari 4bilah, 1 tawa-tawa, 1 buah kempur dan 1 buah gong. Semuanya terbuat dari besi.

Setelah adanya seperangkat gambelan seadanya tersebut, munculah keinginan untuk mengupulkan sekhe. Ternyata banyak dari keluarga yang satu darah berminat bergabung menjadi sekhe angklung, akhirnya terciptalah sekhe demen pada waktu itu

Setelah adanya sekhe mereka memulai latihan,akan tetapi pada waktu itu sangat sulit mencari pelatih tabuh, sehingga latihan dilakukan dengan kemampuan sendiri. Beberapa gending-gending sederhana, yang dipergunakan dlm upacara ke agamaan,

Ternyata keberadaan skhe ini mendapat dukungan yang sangat antusias dari masyarakat sekitar, hal ini dibuktikan dengan seringnya mereka kupah untuk menabuh jika ada suatu upacara baik Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya.

Mulai bertambahnya wawasan dan tau akan pentingnya keberadaan angklung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, akhirnya muncul keinginan untuk membeli seperangkat gambelan angklung yang terbuat dari bahan kerawang.

Menurut bukti yang tertulis diatas daun lontar yang menggunakan tulisan Bali/aksara Bali, disana disebutkan bahwa keempat orang ini yang membeli dan sekaligus sebagai pendiri atau perintis sekhe pada tahun 1950, tetapi tanggal dan bulannya tidak tertulis

Barungan angklung dibeli seharga 400 ringgit, pada waktu itu belum ada uang rupiah, bisa dikatakan cukup mahal  pada jaman itu. Sumber dananya adalah dari ketujuh pendiri tersebut dengan cara patungan. Instrument yang dibeli antara lain : 4 tungguh gangsa, 4 tungguh kantilan ( masing-masing tungguh terdiri dari 4 bilah ), 2 tungguh gangsa pemetit, 2 tungguh jegog, 1 buah kempur, 1 buah tawa-tawa,

Setelah sarana lengkap, sekhe ini sudah ada, tetapi pada waktu itu belum adanya sistim kepeggurusan sekhe, hanya berpedoman kepada para pendirinya. Tetapi pada waktu itu sudah memiliki aturan-aturan/ awig-awig bagi sekhe angklung dan pendirinya yang terlihat pada bukti tertulis ada 5 aturan, diantaranya :

  1. Barang siapa yang ingin masuk sebagai sekhe ini, boleh menjadi sekhe angklung, asalkan taat dengan awig-awig, istilah balinya bani ngutang gae, sing madengang payuk jakan jumah atau dengan kata lain skhe ini adalah cenderung pada kegiatan social.
  2. kalau ingin berhenti boleh, dan tidak ada unsur paksa. Dengan terus terang dihadapan sekhe.
  3. kalau ada hasil uang, ia dapat bagian, dari jumbelah hasil yang dibagi rata, bagi anggota yang berhenti.
  4. Setelah berhenti dengan terus terang, tidak boleh memperhitungkan barang angklung yang ada, sebab yang membeli barang angklung itu terdiri dari 4 orang
  1. Bagi anggota 3 kali berturut-turut tidak hadir tanpa alasan, diadakan pendekatan.Bagi pemilik angklung yang berhenti sama sekali tidak boleh meminta bagian berupa barang angklung yang ada, maupun uang yang ada, walaupun mereka yang ikut membelinya.

Begitulah aturan menurut bukti tertulis tersebut.

Dan setelah seke ini meremug dan seke ini menamakan seke agklung satya budaya.

Tahun 2000 seke ini pernah di panggil ke kuta untuk megambel upacara ngaben ngerit.mungkin di mata masyarakat seke ini sangat aktif,beberapa orang ingin masuk dalam seke ini,dan bertambahlah seke ini,

Setelah lama kmudian dengan perkembangan zaman,kira-kira tahun 2002 seke mengubah yang dulunya angklung keklentangan,seke ini mengubah menjadi angklung kebyar,,seke ini membeli 1 buah gong,2 buah kendang,yaitu kendang lanang dan kendang wadon dan 1 buah kendang cetutan,,sebelum menemukan pelatih angklung, seke ini pada awalnya mencari gending-gending tarian dari kaset dan dituangkan di angklung.namun tidak lama ,karena sangangt sulit mnuangkan gending tarian di angklung,dan akhirnya seke ini mencari pelatih dan akhirnya ditemukanlah pelatih yang handal dalam menuangkan gending tarian di dalam angklung,,pelatih ini bernama I ketut ramug.beliau aslinya dari dawas,mengwi badung

Beliau melatih dari tahun 2002 beliau pertama menuangkan gending-gending petegak.dan berapa hari kemudian ada seorang pengusaha dari kuta mnyuruh seke ini menampilkan tari-tarian dari gambelan angklung,dan akirnya seke ini latian mencari gambelan tari-tarian yang di tuangkan oleh I ketut ramug tersebut,

Pada tgl 21 agustus 2002 seke ini pentas pertama kali mengiringi tarian dengan gambelan angklung,pada waktu itu tarian yang ditampilkan adalah tari puspanjali,panyembrahma dan gopala. Tarian itu berjalan dengan lancar meskipun ada yang hampir putus.tp bisa berjalan,

Pada tahun 2011 seke ini lagi disuruh ke kuta yaitu tepatnya di hotel masaiin,disuruh mepadu dengan seke angklung yang dari kuta, akhirnya mepadulah gambelan angklung kebyar tersebut dengan membawakan 1 gambelan kreasi dan tarian legong kraton,sekar jepun,margapati,

Tahun 2011 seke angklung ini sangat jaya,seke ini kemana-mana disuruh megmbel tarian,dan akhirnya nama angklung itu di tambah nama kebyar yaitu menjadi

seke angklung kebyar satya budaya

 

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address