SEJARAH GAMBELAN ANGKLUNG DI DESA MUNGGU,MENGWI BADUNG

                 SEJARAH GAMBELAN ANGKLUNG                     

br.pengayahan desa munggu,mengwi,badung

ANGKLUNG KEBYAR SATYA BUDAYA

 

Awal mulanya 4 orang pendiri gambelan seke angklung,yaitu :

  1. I made puja
  2. Pekak anik
  3. Rai darsana
  4. Made madya

Ke 4 orang ini pertama mendirikan seke angklung tersebut.dan mengenai gambelan angklung ini mulanya terbuat dari besi. Proses pembuatan pertama kali dilakukan dengan cara bergotong royong. Berangkat dari niat dan kesungguhan, bahan dan beralatan seadanya, bilah demi bilah tercipta oleh tangan terampil atau pembuat gambelan itu, akhirnya jadi 4 tungguh gangsa, yang masing-masing terdiri dari 4bilah, 1 tawa-tawa, 1 buah kempur dan 1 buah gong. Semuanya terbuat dari besi.

Setelah adanya seperangkat gambelan seadanya tersebut, munculah keinginan untuk mengupulkan sekhe. Ternyata banyak dari keluarga yang satu darah berminat bergabung menjadi sekhe angklung, akhirnya terciptalah sekhe demen pada waktu itu

Setelah adanya sekhe mereka memulai latihan,akan tetapi pada waktu itu sangat sulit mencari pelatih tabuh, sehingga latihan dilakukan dengan kemampuan sendiri. Beberapa gending-gending sederhana, yang dipergunakan dlm upacara ke agamaan,

Ternyata keberadaan skhe ini mendapat dukungan yang sangat antusias dari masyarakat sekitar, hal ini dibuktikan dengan seringnya mereka kupah untuk menabuh jika ada suatu upacara baik Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya.

Mulai bertambahnya wawasan dan tau akan pentingnya keberadaan angklung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, akhirnya muncul keinginan untuk membeli seperangkat gambelan angklung yang terbuat dari bahan kerawang.

Menurut bukti yang tertulis diatas daun lontar yang menggunakan tulisan Bali/aksara Bali, disana disebutkan bahwa keempat orang ini yang membeli dan sekaligus sebagai pendiri atau perintis sekhe pada tahun 1950, tetapi tanggal dan bulannya tidak tertulis

Barungan angklung dibeli seharga 400 ringgit, pada waktu itu belum ada uang rupiah, bisa dikatakan cukup mahal  pada jaman itu. Sumber dananya adalah dari ketujuh pendiri tersebut dengan cara patungan. Instrument yang dibeli antara lain : 4 tungguh gangsa, 4 tungguh kantilan ( masing-masing tungguh terdiri dari 4 bilah ), 2 tungguh gangsa pemetit, 2 tungguh jegog, 1 buah kempur, 1 buah tawa-tawa,

Setelah sarana lengkap, sekhe ini sudah ada, tetapi pada waktu itu belum adanya sistim kepeggurusan sekhe, hanya berpedoman kepada para pendirinya. Tetapi pada waktu itu sudah memiliki aturan-aturan/ awig-awig bagi sekhe angklung dan pendirinya yang terlihat pada bukti tertulis ada 5 aturan, diantaranya :

  1. Barang siapa yang ingin masuk sebagai sekhe ini, boleh menjadi sekhe angklung, asalkan taat dengan awig-awig, istilah balinya bani ngutang gae, sing madengang payuk jakan jumah atau dengan kata lain skhe ini adalah cenderung pada kegiatan social.
  2. kalau ingin berhenti boleh, dan tidak ada unsur paksa. Dengan terus terang dihadapan sekhe.
  3. kalau ada hasil uang, ia dapat bagian, dari jumbelah hasil yang dibagi rata, bagi anggota yang berhenti.
  4. Setelah berhenti dengan terus terang, tidak boleh memperhitungkan barang angklung yang ada, sebab yang membeli barang angklung itu terdiri dari 4 orang
  1. Bagi anggota 3 kali berturut-turut tidak hadir tanpa alasan, diadakan pendekatan.Bagi pemilik angklung yang berhenti sama sekali tidak boleh meminta bagian berupa barang angklung yang ada, maupun uang yang ada, walaupun mereka yang ikut membelinya.

Begitulah aturan menurut bukti tertulis tersebut.

Dan setelah seke ini meremug dan seke ini menamakan seke agklung satya budaya.

Tahun 2000 seke ini pernah di panggil ke kuta untuk megambel upacara ngaben ngerit.mungkin di mata masyarakat seke ini sangat aktif,beberapa orang ingin masuk dalam seke ini,dan bertambahlah seke ini,

Setelah lama kmudian dengan perkembangan zaman,kira-kira tahun 2002 seke mengubah yang dulunya angklung keklentangan,seke ini mengubah menjadi angklung kebyar,,seke ini membeli 1 buah gong,2 buah kendang,yaitu kendang lanang dan kendang wadon dan 1 buah kendang cetutan,,sebelum menemukan pelatih angklung, seke ini pada awalnya mencari gending-gending tarian dari kaset dan dituangkan di angklung.namun tidak lama ,karena sangangt sulit mnuangkan gending tarian di angklung,dan akhirnya seke ini mencari pelatih dan akhirnya ditemukanlah pelatih yang handal dalam menuangkan gending tarian di dalam angklung,,pelatih ini bernama I ketut ramug.beliau aslinya dari dawas,mengwi badung

Beliau melatih dari tahun 2002 beliau pertama menuangkan gending-gending petegak.dan berapa hari kemudian ada seorang pengusaha dari kuta mnyuruh seke ini menampilkan tari-tarian dari gambelan angklung,dan akirnya seke ini latian mencari gambelan tari-tarian yang di tuangkan oleh I ketut ramug tersebut,

Pada tgl 21 agustus 2002 seke ini pentas pertama kali mengiringi tarian dengan gambelan angklung,pada waktu itu tarian yang ditampilkan adalah tari puspanjali,panyembrahma dan gopala. Tarian itu berjalan dengan lancar meskipun ada yang hampir putus.tp bisa berjalan,

Pada tahun 2011 seke ini lagi disuruh ke kuta yaitu tepatnya di hotel masaiin,disuruh mepadu dengan seke angklung yang dari kuta, akhirnya mepadulah gambelan angklung kebyar tersebut dengan membawakan 1 gambelan kreasi dan tarian legong kraton,sekar jepun,margapati,

Tahun 2011 seke angklung ini sangat jaya,seke ini kemana-mana disuruh megmbel tarian,dan akhirnya nama angklung itu di tambah nama kebyar yaitu menjadi

seke angklung kebyar satya budaya

 

BIOGRAFI SENIMAN I NYOMAN WIJA WIDASTRA

TOKOH SENIMAN SERBA BISA

 

profil

  • Nama : I Nyoman Wija Widastra
  • Tgl lahir : 12 januari 1962
  • Alamat : Desa Munggu,Mengwi Badung
  • Nama istri : Ni luh Sitiari
  • Anak : Putu Wiwin Antari


Wija widastra

Wija widastra adalah seniman alam,adapun  bidang  seni yang dikuasainya antara lain seni wirama,drama gong,bebondresan, arja,pedalangan dan beragam seni lainnya.

Beliau menyebutkan dirinya mengenal dunia seni saat masih terbilang anak-anak melalui tatapan-tatapan yang ada di berbagai kahyangan di desanya

Beliau menyebutkan dirinya mengenal dunia seni saat masih terbilang anak-anak melalui tatapan-tatapan yang ada di berbagai kahyangan di desanya ,hidup sebagai anak-anak yang ada di desanya menjadikanya menjadi akrab

 

MULAI BELAJAR MEWIRAMA,
GEGURITAN DAN MEKIDUNG

ž  Adapun orang yang  dijadikan seorang gurunya tiada lain tetangganya sendiri yang bernama Dewa Putu Resik yang kini duduk sebagai seorang sulinggih,tidak puas belajar dari satu orang iapun melanjutkan menimba ilmu di grya dalem yakni kepada ida bagus subita yang kini telah duduk sebagai sulinggih

ž  Dalam waktu yang relatif singkat dan didasari bakat  dan keinginan yang kuat,seni wirama,geguritan dan mekidung tadi,wija widastra mulai menunjukan kemampuan terhadap seni yang diminatinya menginjak remaja,ia menunjukan bakatnya di desa pada tahun 1980an,iapun mengikuti ustawa dharma gita sejenis event untuk seni wirama geguritan dan kidung

 

Seni yang digelutinya

ž Pemain Drama

ž  Pemain Arja RRI

ž  Topeng Carang Sari

ž  Seni pedalangan

ž  Akah Canging

 

Bergabung di seke arja

—  Pada tahun 1985 wija widastra pertama kalinya bergabung di seke arja desa adat munggu,dengan peran sebagai wijil,

—  Dua tahun aktif di seke pertamanya,ia bergabung di seke arja bandana budaya badung binaan pemda badung,ia pun direkrut di drama gong sebagai arja muda .

Iapun berkesenian dengan seke lainnya seperti seke arja payuk prumpung,sanggar dewa ruci,ikut ngebon di RRI,hingga hakirnya membentuk seke arja akah canging

 

MENGGELUTI SENI PEDALANGAN

—  Kini selain dikenal sebagi pemain bondres dan arja kelas papan atas sebali,wija widastra juga dikenal sebagai sosok wayang kulit,adapun wayang kulit ini pimpinanya dinamakan wakul kacang ini didirikan pada tahun 2009 lalu

 

PENGHARGAAN

Penghargaan sebagai pembina seni kerti budaya kabupaten badung tahun 2000 bidang seni drama tradisi

kabupaten badung tahun 1999
Sebagai dalang festival gong kebyar kab badung tahun 1994

Tim penilai kekawin sloka palawakia di puputan tahun 1993

Pemain gegitan kab badung pada tahun 1996

Pemain drama gong kab baung pda tahun 1995

Pemain pria terbaik festival darama gong tahun 1999

Pembina gong kebyar vokal paa tahun 2003

Pemain arja terbaik di bali

 

SENI DAN SENIMAN HARUS ABADI

Wija Widastra mengaku prihatin dengan nasib dunia seni dan para seniman di bali.hal ini karena dirinya melihat banyak bidang seni dan seniman yang terkesan mati suri dari kabupaten atau kota di bali,meski demikian ia mengaku salut dengan perhatian pemkab

Gambelan baleganjur

Difinisi:

Ini merupakan Tabuh baleganjur sayan dalam upacara pelebon  puri bongkasa 22 oktober 2011

Yang diciptakan oleh bapak wijaya

Komentar:

Suara:

Menurut saya suara dalam barungan gamelan baleganmjur ini sangat kurang jelas antara instrument satu dengan yang lainnya Karena pementasan ini dilakukan pada ruang terbuka dan tidak memakai microphone yang dapat memperjelas jenis pukulan dan melodi dari barungan gamelan tersebut.

Komposisi gamelan ;

Penataan gambelan ini tidak jelas karena dipentaskan untuk meniringi acara ngaben dan dimainkan dengan cara berjalan/ tidak diam dalam satu tempat sehingga menyembabkan komposisi gerak dan tatanan gamelan tidak terlihat jelas.

Gambelan ini memakai instrument:

–          2 kendang

–          2 gong

–          3 kajar

–          1 kempur

–          Beberapa ceng ceng

–          Dan beberapa riong

Barungan gambelan ini memakai alat music yang disebut bleganjur dan diditambahkan dengan memperbanyak instrument lainnya seperti:

–          Bende yang diperbanyak yang bertujuan untuk memperkeras suara dan mungkin untuk menonjolkan bebrapa bait lagu yang banyak menggunakan bende yang diciptakan oleh penggarapnya.

gong suling

GONG SULING

Gong Suling pada dasarnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, teknik tabuh yang digunakan hampir semuanya berasal dari Gong kebyar, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda. Gong Suling diperkuat dengan melodi bersifat unisono oleh ricikan rebab dengan memiliki dua utas dawai yang disebut wadon dan lanang. Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kebyar, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. kesenian ini adalah salah satu kesenian tua yang ada di kabupaten Jembrana. kesenian ini hanya ditampilkan pada saat ada upacara keagamaan saja. Namun dengan perubahan jaman, kesenian ini berubah menjadi sebuah seni umum yang dipertontonkan.
Sajian Gong Suling didominasi oleh suling. Diawali dengan ber­jajarnya para pemain suling dengan pemain Rincik, klenang dan klenyir di dalam sajiannya. Para pemain saling mengisi dalam sajian yang secara tidak langsung mengambil pola dari gong kebyar tersebut. Terjadinya per­kembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.
Gamelan Gong Suling adalah barungan gamelan yang didominir oleh alat-alat tiup suling bambu yang didukung oleh instrumen-instrumen lainnya. Gamelan ini berlaraskan pelog lima nada.
Gong Suling pada hakekatnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, tabuh – tabuh yang dibawakan hampir semuanya berasal dari Gong Kakebyaran, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda.
Salah Satu instrumen alam Gong Suling adalah terdapatnya suling bambu yang besar ukurannya. Panjangnya ada sekitar 35 inci dan berdiameter 1,7 inci. Wilayah nadanya lebih sedikit dari dua oktaf dan bermula pada nada B, di bawah nada C pusat. Ini adalah jenis suling vertikal dengan tiup ujung dan merupakan suling bass. Suling tersebut pada bagian bawah jika sedang dimainkan dalam kedudukan vertikal maka akan terbuka. Pada bagian bawah diraut atau diiris sedikit dari buku ruasnya. Lubang-lubang jari yang dinamakan song, terdapat pada bagian atas dari suling dan jumlahnya diselaraskan dengan tangga nada yang diperlukan. Ukuran suling pada kesenian Gong Suling yang panjang tersebut, mengharuskan pemainnya merentangkan tangannya dalam memainkan atau meniupnya dan ujungnya yang terbuka harus ditopangkan ke tanah.
Instrumen-instrumen yang digunakan dalam Gamelan Gong Suling ialah:
1.    2 (dua) buah kendang
2.    1 (satu) buah kajar
3.    1 (satu) buah kemong
4.    1 (satu) buah ceng-ceng kecek
5.    1 (satu) buah gong pulu
6.    1 (satu) buah kempur
7.    2 (dua) buah suling berukuran kecil
8.    4 (empat) buah suling berukuran sedang
9.    2 (dua) buah suling berukuran besar.

Lagu yang dimainkan dalam Gamelan gong Suling terdiri dari:
Gending petegak
Gending petegak yang dimaksud ialah gending-gending yang disajikan secara instrumental. Garis yang tegas untuk menyatakan cirri-ciri ini memang belum mengikat dalam hubungan praktik karawitan dalam masyarakat luas dewasa ini. Pengaruh kreasi local dimana instrument yang bersangkutan hidup sangat sering mempengaruhi fungsi atau tugas-tugas dari sebuah ansambel/barungan gamelan. Gending-gending petegak ini disajikan saat-saat diadakannya upacara adat-keagamaan. Sering juga karawita tari disajikan sebagai gending-gending petegak.
Penyajian gending-gending petegak seperti disinggung diatas, bentuknya bentuknya termasuk jenis-jenis tabuh. Ada bagian-bagian tertentu cara memainkannya diulang-ulang dan bagian penghubung yang berfungsi sebagai perantara dari bagia-bagian yang dihubungkan. Bagian yang harus diulang tidak diharuskan dengan satu perhitungan pasti, tetapi tergantung berapa kali pemain ingin mengulang bagian tertentu itu, kemudian beralih dengan kode-kode tertentu dari satu atau lebih alat yang berfungsi mengendalikan irama (biasanya instrument kendang) dan yang mengendalikan melodi (biasanya instrument terompong) atau kalau tidak memakai instrument terompong biasanya yang mengendalikan melodi adalah instrument gangsa giing. Alat pengendali irama dengan pengendali melodi bekerjasama untuk memimpin tempo, dinamika, dan tujuan penyajian pada waktu lagu itu beralih. Demikian juga kerjasama antara kedua tugas alat pengendali irama dan pengendali melodi selalu dibutuhkan dalam menyelesaikan lagu.
Adapun tabuh petegak yang dimainkan dalam barungan Gamelan Gong Suling diantaranya:
1.    Sinom ladrang
2.    Lengker
3.    Selisir.
4.    Sekar gadung
5.    Bapang gede, dll
Gending untuk mengiringi tari
Sistim penyajian gending-gending jenis ini disesuaikan dengan kepentingan penyajian tarian yang diiringi. Jumlah dan jenis gending-gending ini sangat banyak, sama banyak dengan jumlah dan jenis  tari-tarian yang ada. Hampir semua jenis barungan gamelan Bali dapat dipakai untuk mengiringi tari-tarian, kecuali barungan gamelan Gambang belum popular untuk kepentingan musik iringan tari. Dalam hubungan dengan gending-gending iringan tari, maka gending yang termasuk jenis gending pengilak memegang posisi yang menonjol. Sering juga beberapa jenis gending untuk satu iringan tari, meskipun dimainkan hanya dengan satu barungan gamelan saja.

Contoh pertunjukan Gong Suling :

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!