Laporan Apresiasi Seni Pertunjukan Tari Kreasi Bhisama

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

 

Dalam bahasa inggris, seni pertunjukan dikenal dengan istilah performace art. Seni Pertunjukan merupuka bentuk seni yang cukup kompleks karena merupakan gabungan dari berbagai bidang seni. Sebuah pertunjukan seni seperti teater ataupun sendratari  biasanya mencakup seni musiik, dialog, kostum, tari, panggung, pencahayaan, dan tata rias. Dalam seni pertunjukan, manusia ditempatkan sebagai dua objek pelaku yaitu sebagai actor/aktris dan sebagai produser. Seni pertunjukan dapat digolongkan menjadi dua yaitu seni pertunjukan tradisi dan seni pertunjukan modern atau yang hadir belakangan ini. Apabila dilihat dari perkembangannya bahwa seni pertunjukan tradisi kalah perkembangannya dengan seni modern karena pada seni tradisi sebuah kebaharuan tidak dibiarkan untuk berkembang, sebaliknya dalam seni pertunjukan modern sebuah kebaharuan merupakan hal yang paling diincar untuk menciptakan sebuah karya yang inovativ daan menghasilkan seniman-seniman yang produktif. Apabila tidak diantisipasi dengan baik, bukan tidak mustahil lagi jika seni pertunjukan tradisional akan ditinggalkan.

Didalam pementasan seni pertunjukan tradisi membawa beberapa misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misi dan pesan tersebut dapat bersifat social, politik, moral dan sebagainya. Seni pertunjukan tradisional secara umum memiliki empat fungsi yaitu, fungsi ritual, fungsi pendidikan sebagai media tuntunan, fungsi atau media penerangan atau kritik social dam fungsi hiburan atau tontonan. Dalam istilah bali disebutkan ada tiga penggolongan seni pertunjukan antaralain Wali, Bebali, dan Balibalihan. Dalam arti sempit Wali merupakan tarian yang bersifat sakral yang dipergunakan untuk upacara keagamaan. Bebali merupakan tarian semi sakral yang digunakan sebagai pelengkap dalam upacara keagamaan. Sedangkan Balibalihan merupakan jenis pertunjukan hiburan yang diperuntukan kepada wisatawan ataupun sebagainya. Untuk memenuhi fungsi ritual, seni pertunjukan yang ditampilkan masih berpijak pada aturan-aturan tradisi atau yang sudah ada. Misalkan disiapkannya sesaji sebelum berlangsungnya pentas. Pada masa sekarang seni pertunjukan tradisional cukup efektif sebagai media penerangan ataupun kritik sosial baik dari pemerrintah ataupun dari rakyat. Misalnya pesan-pesan pembangunan, penyampaian informasi, dan lain-lain. Sebaliknya rakyat dapat mengkritik pimpinan atau pemerintah secara tidak langsung lewat adegan yang diperankan dalam lakon.  Sedangkan contoh seni pertunjukan modern antara lain drama, opera, fragmen, teater, dan film. Seni pertunjukan modern banyak ditampilkan di media elektronik dan televise.

Berlangsungnya pertunjukan seni tidak terlepas dari adanya pelaku seni peretunjukan, seperti seniman, konsumen atau penikmat, kritikus seni/pengamat seni. Dalam berlangsungnya pertunjukan ketiga hal tersebut merupakan hal yang mendasar. Seniman merupakan sekolompok orang atau pribadi yang berusaha untuk menciptakan sebuah karya seni. Tentu saja dalam menciptakan suatu karya seni, seorang seniman harus mempeehitungkan karya yang akan dibuat dan dampak dari karya tersebut. Konsumen atau penikmat merupakan sekelompok orang yang memberikan reaksi dan apresiasi terhadap suatu pertunjukan seni. Sekelompok orang tersebut dating ke sebuah pertunjukan untuk menyaksikan pertunjukan yang sedang berlangsung sehingga mereka dapat disebut penonton. Tentu saja dalam sebuah pementasan terdapat pro dan kontra dimana dalam hal ini kritikus atau pengamat seni berperan penting dalam mengamati proses dari pembuatan hingga penyajian karya seni dan membuat ulasan tentang bobot karya yang telah disajikan. Seorang kritikus diharapkan dpat menjembatani seniman dan penonton. Terciptanya suatu karya seni tentunya tidak terlepas dari peran seorang koerografer dan komposer. Koreografer atau panata tari merupakan orang yang ahli dalam bidang penataan gerak. Dalam menjalankan tugasnya koreografer dibantu oleh beberapa pelatih tari. Komposer merupakan orang yang ahli dalam bidang menciptakan suatu karya musik baik mberupa music ilustrasi maupun music iringan.

Seni Pertunjukan di Bali hingga saat ini masih memiliki tempat yang istimewa di kalangan masyarakat Hindu-Bali. Hal ini disebabkan oleh pentingnya peranan seni pertunjukan dalam bergai aspek kegiatan sosial dan keagamaan. Di Bali hamper tidak ada upacara agama yang tidak menyertakan seni pertunjukan. Berdasarkan fungsi ritual dan sosialnya seni pertunjukan Bali dibagi menjadi dua yaitu seni upacara/seni wali, dan bebali, serta seni tontonan atau bali balihan. Dalan pelaksanaannya, seni wali tidak boleh dilaksanakan di sembarang tempat dan waktu-waktu tertentu. Seni bali balihan meliputi jenis-jenis kesenian yang lebih menonjilkan nilai-nilai entertaimen dan estetis yang bersifat sekuler atau bisa dipentaskan dimana saja tanpa ada hal yang mengikat. Berbagai jenis pertunjukan ini dalam kurun waktu yang cukup panjang telah mengalami perubahan.perubahan ini menyangkut isi, bentuk, dan tata penyajian. Hal ini terjadi karena para seniman dan praktisi seni pertunjukan bali secara sadar, kreatif dan terus-menerus memasukkan ide-ide baru kedalam kesenian mereka.

 

PEMBAHASAN

 

      Pada Pesta Kesenian Bali yang ke 40 tahun 2018 kali ini, team Dinas Kebudayaan Bali mengangkat tema Api Spirit Penciptaan atau “Teja Dharmaning Kauripan”. Tema ini diharpakan mampu membangun dan mengobarkan semangat masyarakat serta menciptakan iklim kondusif, inovatif, kreatif dan arif dalam menyikapi berbagai perkembangan seni. Pemaknaan semangat ini selain menciptakan karya inovatif yang tetap berpijak pada sumber seni klasik dan tradisi juga dimaksud semangat dalam menjaga kelestarian ciptaan karya seniman-seniman pada masa lalu yang hingga kini masih diakui kehadirannya sebagai kekayaan seni budaya Bali. Pesta Kesenian Bali sebagai wahana penggalian, pelestarian, dan pengembangan seni budaya telah memberikan kontribusi bagi masyarakat dalam mengapresiasi damn meningkatkan minat masyarakat terhadap kesenian maupun budaya Bali. Peran dan komitmen Pemerintah dalam menjaga keberlangsung event besar ini patutlah diacungi jempol, karena selain dapat meningkatkan minat masyarakat juga dapat meningkatkan daya saing dam peradaban daerah dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melali ajang ini, diharapkan dapat menjaga peradaban Bali yang adi luhung dan berdampak positif bagi generasi muda penerus bangsa.

Dari tahun ke tahun Pesta Kesenian Bali selalu mengundang banyak masyarakat untuk menonton dan terlibat langsung dalam perhelatan akbar di pulau dewata ini. Sama seperti Pesta Kesenian Bali sebelumnya, pada tahun ini Pesta Kesenian Bali tetap melibatkan ribuan insan seni dan sanggar-sanggar seni yang terdapat dibali maupun dari luar daerah seperti Yogyakarta, Papua dan lain sebagainya. Tidak lupa juga institusi yang berada dibali ikut diundang untuk menampilkan karya seninya seperti Intitut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Universitas Udaya, Universiras Warmadewa, dan tentunya Institut Seni Indonesia Denpasar yang selalu ikut berpartisipasi dalam Pesta Kesenian Bali. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya ISI Denpasar tetap ditunjuk sebagai pengisi acara pembukaan Pesta Kesenian Bali baik dalam pembukaan pawai maupun acara seremonial. Dalam pawai pembukaan Pesta Kesenian Bali kali ini, ISI Denpasar tetap menampilkan tari kebesarannya yaitu tari Siwa Nata Raha yang masih diiringi oleh ensamble Ketug Bumi. Saya sebagai mahasiswa dalam ajang Pesta Kesenian Bali kali ini sangat merasa kecewa karena tidak bisa terlibat langsung dalam pementasan ketug bumi. Dikarena dua minggu sebelum berlangsung pembukaan Pesta Kesenian Bali saya pergi ke luar negeri untuk mengikuti Internasinal Gamelan Musik Festifal di Munchen selama satu bulan. Namun walupun saya tidak bisa ikut terlibat langsung sebagai pemain dalam pergelaran ini, saya selalu menyaksikan pementasan-pementasan yang berlangsung di Pesta Kesenian Bali pada live streaming Bali TV di youtube.

Pada tanggal  30 Juni 2018, tepatnya pukul 14.00 di Denmark dan pukul 20.00 wita di Bali. Saya langsung menyambungkan ke youtube untuk menonton live streaming Pesta Kesenian Bali. Pada waktu itu sedang berlangsung pementasan Parade Gong Kebyar Dewaasa anatara Gong Kebyar Dewas Duta Kabupaten Jembrana dan Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Bangli, yang kebetulan saudara saya sebagai komposer  dari Duta Kabupaten Bangli dengan Tari Kreasi yang berjudul “Bhisama”. Seperti yang saya lihat dalam live streaming, para duta masing-masing Kabupaten menyuguhkan karya-karya yang sangat inovatif dan atraktif sehingga membuat penonton bersorak-sorak sembari menikmati penampilan kedua penampil. Pada pergelaran kali ini Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Bangli menampilkan 4 karya yaitu, Tabuh lelambatan Parianom Anyar, Tari Kebyar Duduk Style Peliatan, Tari Kreasi Bhisama, dan Fragmentari dengan judul Gugurnya Jaya Drata. Pada penampilan kedua, Duta Kabupaten Bangli menampilkan Tari Kreasi Bhisama. Sebelum ditampilkannya tari kreasi bhisama, seluruh penonton masih terdengar rebut da nada juga penonton yang hanya duduk diam kiranya menanti pementasan tersebut dimuali. Tiba saat yang ditunggu-tunggu, MC pun memasuki panggung dengan membawa selembar kertas synopsis dari tari tersebut. Penontonpun sepontan untuk bertepuk tangan sembari berteriak pada saat MC memasuki panggung. Pada synopsis yang diceritakan, Tari Kreasi Bhisaka menceritakan tentang janji atau sumpah Raja Bangli yang ditemukan dalamn prasati Pura Kehen. Dalam cerita tersebut, disebutkan bahwa daerah Bangli pada masa itu terjangkit wabah kekeringan atau gerubug yang membuat masyarakat kekurangan air sampai warga meninggalkan daerah tersebut secara masal. Dan pada masa pemerintahan Raja Ida Bhatara Guru Sri Adi Kunti Ketana pada tahun caka 1126, tanggal 10 tahun Paro Terang, hari Pasaran Maula, Kliwon, Candra (Senin), Wuku Krulut. Namun berkat keyakinan Sang Raja, dan di bantu oleh putra putri beliau (Dhana Dewi Ketu) wabah tersebut dapat dihilangkan, dan memerintahkan kepada masyarakat untuk kembali menempati desa mereka dan bersama-sama membangun desa Bangli serta melaksanakan upacara-upacara yadnya guna menolak bala atau kejadian buruk seperti wabah penyakit ataupun kekeringan terjadi kembali. Hal yang menjadi tonggak berkembangannya daerah Bangli adalah adanya Bisama atau sumpah Raja yang berbunyi;

Barang siapa yang tidak tunduk dan melanggar perintah, semoga orang itu disambar petir tanpa hujan atau mendadak jatuh dari titian tanpa sebab, mata buta tanpa catok, setelah mati atmanya disiksa oleh Yamabala, dilempar dari langit yturun jatuh kedalam api neraka.

Bertitik tolak dari Bhisama Sang Raja, maka pada tanggal 10 Mei ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Bangli. Adapun selaku ide garapannya adalah Ida Bagus Gede Giri Putra (Sekda Kabupaten Bangli). Selaku Sumber cerita yaitu Anak Agung Bagus Ardana (Penglingsir Puri Bangli). Adapun koreografer yaitu Gede Krisna Dwipayana dan composer I Wayan Diana Putra.

Selama berlangsungnya pementasan Tari Kreasi Bhisaka saya lebih fokus mengamati komposisi iringannya. Dimana dalan komposisi tari tersebut terdapat pengembangan-pengembangan pola permainan dalam memainkan gamelan gong kebyar. Adanya teknik-teknik pukulan keklenyongan dalam instrument gong gede yang ditransformasikan kedalam tabuh tersebut dan banyak menggunakan gedig-gedig gong luang pada pengawak dan gilak bebaturan pada akhir pementasan yang berisikan tarian bebarisan. Dalam iringan juga disisipkan nyanyian baik nyanyian oleh gerong dan para penabuh. Nyanyian tersebut digunakan pada saat penari berperan sebagai rakyat yang menggambarkan sauna suka cita pada saat bercocok tanam dan terdapat nyanian dasa aksara pada bagaian akhir yang menggambarkan Sang Raja sedang menyampaikan Bhisamanya. Saat berlangsungnya pementasan penonton sangat serius menyaksikannya, terlihat gerakan penari yang sangat lincah dan didukung dengan properti yang bagus. Penampilan dari Tari Krasi Bhisama sangat atraktif dan sarat akan filsafat. Setelah pementasan Tari Kreasi Bhisama berakhir. Saya langsung mematikan siaran langsung tersebut karena akan mengikuti latihan bersama grup Gamelan Salukat untuk persiapan pementasan esok harinya di Roskilde Festival, Kopenhagen, Denmark.

 

  1. Komunitas Budaya Sanggar Seni Rare Angon, Duta Kabupaten Bangli 2018

 

 

  1. Tari Kreasi “Bhisama” Duta Kabupaten Bangli 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Pada pementasan malam itu Duta Kabupaten Bangli membawakan garapan Tari Kreasi Bhisama dengan sangat baik dengan permainan teknik pukulan yang sangat menghayati, begitu juga dengan kelincahan gerak penari yang membuat penonton terbawa cerita, dan lantunan nyanyian yang memberi semangat terhadap garapan tersebut melengkapi pementasan malam itu.

 

SARAN

Saya harap dari keberlangsungan Pesta Kesenian Bali ini masyarakat semakin antusias dalam mengikuti perhelatan tahunan ini kedepannya. Dan para seniman-seniamn muda agar diberi ruang dalam nerkreasi menampilkan karyanya di pementasan Pesta Kesenian Bali.

OLAH ANGGIT, TABUH 4 GONG GEDE SAIH PITU

  1.  LATAR BELAKANG

Musik adalah kekuatan hidup bagi setiap insan manusia yang juga dapat mempengaruhi hampir semua orang dan pengaruh tersebut sangat dalam. Kebanyakan orang yang memiliki waktu untuk mendengarkan music di sela-sela pekerjaannya. Sebagaian orang merasa, hidupnya sehari-hari harus diisi dengan music yang beranekaragam, sehingga music menjadi titik perhatian utama dalam kehidupannya. Bicara tentang Musik Gamelan Baru.   Musik Gamelan Baru merupakan ragam karya “kontemporer” yang bersumber dari kekayaan seni tradisi. Dimana Gamelan Musik Baru merefleksikan semangat kreatifitas yang telah dilakukan oleh seniman-seniman kini, yang mencoba berpijak kembali kepada akar kultur seraya membuka kemungkinan penciptaan sebebas-bebasnya. Tradisi bukan hanya dipandang sebagai wujud sebagai kesenian yang bersifat baku serta tertutup dari eksplorasi inovasi, melainkan dinilai dapat terus dihidupkan melalui interpretasi, kreasi serta panduan dengan langgam kesenian dewasa ini. Hal ini telah pula dilakukan oleh berbagai kreator, baik didalam maupun luar negeri, yang berkeyakinan bahwa lewat usaha-usaha seperti ini maka seni tradisi dapat tumbuh seiring dengan perubahan dan perkembangan tatanan masyarakat. Eksplorasi gamelan bali ke dalam wujud seni komntemporer atau ragam musik barat sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa seniman, diantaranya Colin Mc Phee dengan komposisinya sekitar tahun 1930, bertajuk “Taboeh Teloe”. Terdapat pula sederetan komponis bali yang mengkolaborasikan instrument music bali dengan music EDM, serta ditampilkan diberbagai festival dan ruang kebudayaan didalam maupun luar negeri. Gamelan bali dengan kekhasan musikalnya kini dikenal dan menjadikannya sebagai salah satu bidang seni yang diapresiasi di dalam maupun luar negeri.

Gamelan memang sudah menjadi sebuah penemuan Timur, khususnya di Jawa dan di Bali, dalam orkestrasi sebagaimana musik barat sebagaimana juga menemukan orkestrasi pada musik klasik. Penemuan gamelan sebagai music merupakan sesuatu yang sangat sempurna. Oleh sebab itu, akan menjadi tantangan tersendiri bagi para composer di masa kontemporer dalam memperlakukan gamelan. Mereka harus menemukan sebuah cara atau metode yang baru didalam memainkan instrument gamelan. Hampir disetiap orkestrasi kontemporer melibatkan musik tradisi, gamelan hanya menjadi instrument penderita. Ia hanya dibutuhkan untuk meberi warna, seolah-olah musik kontemporer itu memiliki gayutan yang erat dengan gamelan. Menurut I Wayan Gede Yudana dan Dewa Ketut Alit membuktikan bahwa gamelan bisa dimainkan secara berbeda, tetapi tetap berkiblat pada gamelan dan memberi sentuhan baru, dimana gending atau lagu tidak direspon dengan penayangan video art sebagai tafsiran terhadap komposisi musik. Dengan hadirnya Musik Gamelan Baru ini diharapkan dapat memberikan tawaran penciptaan lain, dan semoga dapat mendorong kreasi dan apresiasi seniman muda terhadap gamelan secara lebih luas dan berkelanjutan.

Dalam menciptakaan suatu karya musik baru, tentu saja kita harus paham dengan hal-hal tentang mengkompose atau mengatur, menyusun merangkai, menata sebuah karya musik. Dalam pengertian dasar, komposisi adalah sebuah catatan, dokumen seorang komponis dalam berkarya. Catatan dalam berkomposisi bukan hanya diperlukan sebagai suatu untuk mengingat, menyimpan, menampung semua kehendak, gejolak hati, curahan pikiran, angan-angan, fantasi, semua gagasan, konsep, ide dan sebagainya, tetapi juga adalah suatu cara untuk menyampaikan pesan-pesan hasil karya tersebut kepada orang lain. Tanpa adanya catatan tertulis, sebuah komposisi yang rumit akan sulit untuk dimainkan kembali oleh orang lain, bahkan dalam banhyak hal tidak menuntut kemungkinan karya tersebut disebarluaskan dalam konteks musik yang bisa direproduksi. Seiring dengan perkembangan seniman-seniman muda dalam hal bereksplorasi, berkomposisi dan

 

 

menciptakan suatu karya musik baru. Pengusul juga tertantang dengan perkembangan teknik-teknik permainan gamelan yang bersifat kebaharuan dalam menciptakan tabuh 4 “Olah Anggit” gong gede saih pitu . Olah Anggit merupakan suatu karya gamelan lelambatan gong gede yang bersifat baru dalam hal konsep, teknik permainan, maupun sistem dalam komposisinya. Kata olah anggit digunakan dalam tabuh ini karena mempunyai arti yang sangat mendalam terhadap poses berkesian. Terdapat 2 suku kata yaitu “olah” yang berarti mengolah atau merekonstruksi dan “Anggit” berarti pikiran atau nalar. Jadi Olah Anggit dalam artian merupakan sutu proses pengolahan pikiran atau penalaran dalam menciptakan maupun memainkan suatu karya musik. Penalaran disini diartikan sebagai proses befantasi seseorang dalam menciptakan karya music maupun menuangan ide atau hasil karyanya dan bagi pemain music tentu saja pengolahan pikiran sangat berpengaruh dalam suatu proses penerimaan ide dari sang komposer. Tentunya dalam hal ini pasti terjadi gejolak yang sangat rumit dalam proses berpikir seorang komposer maupun pemainnya.

Berkiblat dari Tabuh Gong Gede Parianom  Pura Ulun Danu Batur, pengolahan struktur dari tabuh tersebut diolah kembali tanpan mengurangi dasar dalam tabuh 4 pagongan yaitu dalam pengawak berpijak pada siklus gongan yang panjang tetapi dengan mengolah patet dalam gamelan 7 nada dengan mengkalikan ukuran dengan pola palet lain sehingga titik temu hasil kalinya merupakan jatuhnya gong selayaknya sisrem klotomik pagongan. Dalam motif bebaturan digarap ulang durasi dan ritmenya dengan system ketukan ganjil dan tetap menggunakan teknik keklenyongan dalam memainkannya. Adapaun gilak dibuat berbeda strukturnya dengan yang asli tetapi tetap berkiblat pada uger-uger gilak pada umumnya. Garapan dengan teknik-teknik dan pola gegedig yang baru belum ada yang mengolahnya, sehingga penata merasa tertarik untuk mengangkatnya dalam program kreativitas mahasiswa dalam bentuk kegiatan karsa cipta.

 

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana bentuk dari tabuh lelambatan “Olah Anggit” gong gede saih pitu yang bersifat baru dalam hal konsep, teknik permainan, maupun sistem dalam komposisinya?

 

 

 

  1. TUJUAN

 

Tujuan yang diharapkan yakni :

  • Untuk dapat mengetahui dan memahami bentuk dari tabuh lelambatan “Olah Anggit”

gong gede saih pitu yang bersifat baru dalam hal konsep, teknik permainan, maupun

system dalam komposisinya sebagai referensi dalam berkarya dikemudian hari.

 

  • Menginterpretasi kembali tabuh gong gede Parianom ke dalam tabuh lelambatan gong

gede saih puitu guna menciptakan sebuah karya baru dan diharapkan menginspirasi

seniman-seniman muda dalam berkarya menciptakan gamelan musik baru.

 

 

  1. LUARAN

Bila dilihat dari struktur gending masih berkiblat pada Tabuh Gong Gede Parianom  Pura Ulun Danu Batur tetapi diolah kembali tanpan mengurangi dasar dalam tabuh 4 pagongan yaitu dalam pengawak berpijak pada siklus gongan yang panjang tetapi dengan mengolah patet dalam gamelan 7 nada dengan mengkalikan ukuran dengan pola palet lain sehingga titik temu hasil kalinya merupakan jatuhnya gong selayaknya sisrem klotomik pagongan. Dalam motif bebaturan digarap ulang durasi dan ritmenya dengan system ketukan ganjil dan tetap menggunakan teknik keklenyongan dalam memainkannya. Adapaun gilak dibuat berbeda strukturnya dengan yang asli tetapi tetap berkiblat pada uger-uger gilak pada umumnya. Sehingga diharapkan dapat menjadi suatu perenungan dalam menciptakan suatu karya musik baru tanpa terpaku dalam pakem-pakem yang ada dalam proses berkomposisi.

 

 

  1. MANFAAT
  • Bagi seniman yakni, dapat mengembangkan ide-ide dan gagasan dalam

berkomposisi tanpa takut menciptakan suatu hal yang baru.

  •          Bagi masyarakat, dapat menjadikan sebuah hiburan maupun sarana pelengkap

upacar yadnya dalam kaitannya dengan Panca Gita yakni dapat membangkitkan rasa suka

cita pada saat sebelum upacara dimulai ataupun saat upacara berlangsung.

  •         Bagi pemain gamelan, dapat menambahkan wawasan dalam bermusik, menambah

pengalaman, dan mengasah daya ingat dalam penerimaan suatu ide yang

dituangkan oleh si pencipta.

  • Bagi pengusul, dalam program kreativitas mahasiswa ini dapat menjadi ajang

pengembangan diri maupun pengembangan kreatifitas dalam menciptakan suatu karya

musik baru dan dapat mempertanggungjawabkan karya yang diciptakan secara akademik.

 

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA
  • Corat-coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini, Suka Hardjana. 2003. Diterbitkan

atas kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni  Pertunjukan Indonesia. Buku

ini digunakan sebagai sumber acuan dalam membahas cara-cara berkomposisi secara

umum.

  • Wawancara bersama Dewa Ketut Alit membahas tentang cara-cara berkomposisi

dan perkembangan gamelan musik baru di Pondok Salukat, Pengosekan, Ubud,

Ginyar.

  • Alma M, Hawkins. Metode forming yang digunakan sebagai acuan dalam program

kreativitas mahasiswa.

  •         Imagi-nation Membuat Musik Biasa Menjadi Luar Biasa, Prof Vincent McDemortt.
  1. Diterbitkan oleh Art Musik Day. Buku ini digunakan sebagi sumber acuan dalam

memahami music lebih  mendalam dan tips dalam berkomposisi.

 

 

  1. METODE PELAKSANAAN

Metode yang digunakan dalam program ini yakni metode forming dan pengembangan garap. Metode forming merupakan metode pembentukan garapan yang baru dalam menciptakan suatu karya musik dan metode pengembangan garap merupakan metode dalam menciptakan suatu karya musik secara ekspresif kemudian diolah kedalam bentuk yang baru. Dari kedua metode tersebut menjadi sebuah karya penciptaan tabuh lelambatan “Olah Anggit” gong gede saih pitu.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hardjana, Suka. 2003. Corat-coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini. Jakarta: Arti ISBN

McDermott, Vincent. 2013. Imagi-nation Membuat Musik Biasa Menjadi Luar Biasa.

Yogyakarta: Art Musik Today

Alma M, Hawkins. Pemaparan tentang metode forming.

Alit, Dewa Ketut. 2018. Perkembangan Gamrlan Musik Baru dan Metode Penotasian.

Wawancara pribadi di Pondok Salukat. Ubud, 20 Mei 2018

 

 

 

Tari Sang Hyang sebagai Tari Pemujaan

 

TARI SANG HYANG

 

Masyarakat Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu sangat percaya adanya roh halus dan jahat serta alam yang mengandung kekuatan magis. Untuk mengimbangi dan menetralisir keadaan tersebut masyarakat mengadakan upacara yang dilengkapi dengan tari-tarian yang bersifat religius. Salah satu dari sekian banyak tarian religius yang ada pada masyarakat Bali adalah Tari Sang Hyang. Tari Sang Hyang adalah suatu tarian sakral yang berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa atau daerah. Selain untuk mengusir wabah penyakit, tarian ini juga digunakan sebagai sarana pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magi hitam (black magic). Tari yang merupakan sisa-sisa kebudayaan pra-Hindu ini biasanya ditarikan oleh dua gadis yang masih kecil (belum dewasa) dan dianggap masih suci. Sebelum dapat menarikan sanghyang calon penarinya harus menjalankan beberapa pantangan, seperti: tidak boleh lewat di bawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh mencuri. Tari sanghyang ini merupakan tarian komunikasi spritual dari warga masyarakat dengan alam gaib dengan menyanyikan tembang-temban pemujaan dengan iringan tetabuhan. Didalam tarian ini selalu ada tiga unsur penting yaitu; api, gending sanghyang dan penari. Sanghyang sebagai tarian khas orang Bali, jika dicermati, tidak hanya mengandung nilai estetika (keindahan) sebagaimana yang tercermin dalam gerakan-gerakan tubuh para penarinya. Akan tetapi, juga nilai ketakwaan kepada Sang Penciptanya. Hal itu tercermin dari asal-usulnya yang bertujuan untuk mengusir wabah penyakit yang menurut kepercayaan mereka disebabkan oleh ganggungan roh jahat.
Ada satu hal yang sangat menarik dalam kesenian ini, yaitu pemainnya akan mengalami trance (tidak sadarkan diri) atau dalam masyarakat bali sering disebut kerauhan pada saat pementasan. Dalam keadaan seperti inilah mereka menari-nari, kadang-kadang di atas bara api dan selanjutnya berkeliling desa untuk mengusir wabah penyakit. Biasanya pertunjukan ini dilakukan pada malam hari sampai tengah malam.

Ada beberapa tahap dalam penyelenggaraan tari Sang Hyang, yaitu :
1. Nusdus
Upacara penyucian medium dengan asap/api
2. Masolah
Penari yang sudah kemasukan roh mulai menari
3. Ngalinggihang
Mengembalikan kesadaran medium dan melepaskan roh yang memasuki dirinya
untuk kembali ke asalnya

Dalam hal ini tari Sanghyang diirngi dengan nyanyian-nyanyian tentang tarian tersebut dan juga bisa diiringi dengan gamrelan.

Macam-macam Tari Sanghyang
Tarian sanghyang yang menjadi ciri khas orang Bali ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:

Sanghyang Dedari, adalah tarian yang dibawakan oleh satu atau dua orang gadis kecil. Sebelum mereka mulai menari, diadakan upacara pedudusan (pengasapan) yang diiringi dengan nyanyian atau kecak dengan musik gending pelebongan, hingga mereka menjadi trance. Dalam keadaan tidak sadar itu, penari Sanghang diarak memakai peralatan yang lazimnya disebut joli (tandu). Di Desa Pesangkan, Karangasem, penari sanghyang menari di atas sepotong bambu yang dipikul, sedang di Kabupaten Bangli penari sanghyang menari di atas pundak seorang laki-laki. Jenis tari Sanghyang seperti ini juga dikenal dengan nama tari Sanghyang Dewa.

Sanghyang Deling, adalah tarian yang dibawakan oleh dua orang gadis sambil membawa deling (boneka dari daun lontar) yang dipancangkan di atas sepotong bambu. Sanghyang deling dahulu hanya terdapat disekitar daerah Danau Batur, namun saat ini sudah tidak dijumpai lagi di tempat tersebut. Tarian yang hampir sama dengan sanghyang deling dapat dijumpai di Tabanan dan diberi nama sanghyang dangkluk.

Sanghyang Penyalin, adalah tarian yang dibawakan oleh seorang laki-laki sambil mengayun-ayunkan sepotong rotan panjang (penyalin) dalam keadaan tidak sadar (trance). Di Bali bagian utara tarian ini bukan dibawakan oleh seorang laki-laki, melainkan oleh seorang gadis (daha).

Sanghyang Cleng (babi hutan), adalah tarian yang dimainkan oleh seorang anak laki-laki yang berpakaian serat ijuk berwarna hitam. Ia menari berkeliling desa sambil menirukan gerakan-gerakan seekor celeng (babi hutan), dengan maksud mengusir roh jahat yang mengganggu ketenteraman desa.

Sanghyang Memedi, adalah tarian yang dimainkan oleh seorang anak laki-laki yang berpakaian daun atau pohon padi sehingga menyerupai memedi (makhluk halus).

Sanghyang Bungbung, adalah tarian yang dimainkan oleh seorang perempuan sambil membawa potongan bambu yang dilukis seperti manusia. Tari sanghyang bungbung ini terdapat Di Desa Sanur, Denpasar, dan hanya dipergelarkan pada saat bulan purnama.

Sanghyang Kidang, yang hanya dijumpai di Bali utara, ditarikan oleh seorang perempuan. Dalam keadaan tidak sadar, penari menirukan gerakan-gerakan seekor kidang (kijang). Tarian ini diiringi dengan nyanyian tanpa mempergunakan alat musik.

Sanghyang Janger. Dahulu tarian ini dimainkan dalam keadaan tidak sadar dan bersifat sakral. Namun kemudian mengalami perubahan dan menjadi tari Janger dengan iringan cak. Tari ini tersebar luas di seluruh pelosok Pulau Bali dengan makna yang sudah berbeda.

Sanghyang Sengkrong, adalah tarian yang dimainkan oleh oleh seorang anak laki-laki dalam keadaan tidak sadar (trance) sambil menutup rambutnya dengan kain putih (sengkrong). Sengkrong adalah kain putih panjang yang biasa digunakan oleh para leyak di Bali untuk menutup rambut yang terurai.

Sanghyang Jaran, adalah tarian yang dimainkan oleh dua orang laki-laki sambil menunggang kuda-kudaan yang terbuat dari rotan dan atau kayu dengan ekor yang terbuat dari pucuk daun kelapa. Di Bali utara, penari sanghyang jaran sambil menunggang kuda-kudaan juga mengenakan topeng dan diiringi dengan kecak. Sedangkan, di Desa Unggasan, Kuta, Kabupaeten Badung, Tari sanghyang jaran ditarikan secara berkala (lima hari sekali) pada bulan November sampai dengan Maret, dimana pada bulan-bulan tersebut diperkirakan wabah penyakit sedang berkecamuk. Selain itu, sanghyang jaran juga sering ditarikan sebagai kaul setelah sembuh dari suatu penyakit. Bentuk tari sanghyang jaran yang meniru gerakan kuda, hampir mirip tarian kuda lumping atau kuda kepang yang ada di Jawa.

Perkembangan Kebudayaan Di Desa Ubud

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pada awal tahun 1930an, banyak wisatawan asing yang datang ke Bali, terutama mengunjungi wilayah Ubud. Kenapa hanya di Ubud? Hal ini dikarenakan kemampuan dari Tjokorde Gede Agung Sukawati yang memerintah Ubud (saudara Raja Sukawati – Tjokorde Gede Raka Sukawati) dalam bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Selain itu karena kemampuan dan pengetahuan raja Ubud akan bisnis, maka di bangunlah guest house untuk tempat wisatawan menginap di Ubud. Perkembangan pariwisata Ubud juga tidak lepas dari peran Raja Sukawati, kakak dari Raja Ubud yang mengundang seniman lukis Walter Spiers ke Ubud untuk tinggal dan melukis di Ubud.Tinggalnya Walter Spiers di Ubud menjadikan trend di kalangan seniman lukis asing untuk berkarya di Ubud. Melalui lukisan inilah, Ubud mulai terkenal ke mancanegara, karena lukisan dari pelukis asing, mengambarkan tentang kehidupan di Ubud, serta pelukis asing melakukan pameran lukisan di luar negeri.
Sebuah asosiasi seni lukis didirikan oleh Tjokorde Gede Agung (raja Ubud), Walter Spies dan Rudolf Bonnet, serta beberapa seniman lokal yang diberi nama Pita Maha. Tujuan dari asosiasi seni lukis ini adalah mengumpulkan para seniman Bali, untuk mengajarkan kesenian kepada para muda-mudi di daerah Ubud. Oleh sebab itu, sampai saat ini, objek wisata Ubud menjadi pusat museum di Bali. Museum yang ada di Ubud seperti Arma Museum Ubud dan Museum Puri Lukisan Ubud.

1.2 Rumusan Masalah

Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam tugas ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Beberapa masalah tersebut antaralain :
1. Apa pengertian kebudayaan
2. Apa fungsi dari mempelajari kebudayaan di daerah masing-masing
3. Bagaimana metode-metode yang dilakukan dalam mencari informasi kebudayaan

1.3 Tujuan Menganalisa
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam penulisan tugas ini sebagai berikut.
– Untuk mengetahui apa itu kebudayaan
– Untuk menemukan dan mendapatan jawaban dan kebenaran dari suatu kebiasaan masyarakat yang ditelusuri.
– Mengetahui langkah-langkah sistematis dalam memecahkan suatu pertanyaan atau masalah terhadap suatu kebudayaan yang ada.

1.1 Manfaat Analisa
Agar kita dapat mengetahui dan mengenal suatukebudayaan di daerah kita masing-masing, dalam artian kita tidak hanya tahu bahwa di daerah kita memiliki kebiasaan kebiasaan unik atau membudaya, tetapi kita memahami budaya tersebut dari segala sisi. Yang nantinya bisa kitawarisi secara turun temurun dari generasi ke geneasi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan Seni Lukis di Ubud

Ubud disamping memiliki alam yang indah, daerah ini juga merupakan sebuah desa budaya yang kaya dengan warisan sejarah para seniman besar, terutama para pelukis terkenal, misalnya I Gusti Nyoman Lempad (1862-1978), Anak Agung Gde Sobrat (1919-1992), I Gusti Made Deblog (1910-1986), kemudian disusul oleh yang lain seperti, I Gusti Ketut Kobot, Ida Bagus Made, Dewa Putu Bedil, Ida Bagus Rai dan lain sebagainya. Ketenaran para pelukis tersebut di atas ikut memberikan inspirasi terhadap para pelukis barat untuk berdomisili di desa Ubud.

Sekitar tahun 1920-an, dua pelukis Eropa yaitu Rudolf Bonnet dari negeri Belanda, dan Walter Spies dari Jerman menggoreskan sejarah baru perkembangan seni lukis di daerah Ubud. Kedua pelukis Eropa tersebut memperkenalkan teknik estetika Eropa terutama di bidang pencahayaan, bayangan, perspektif dan anatomi. Para pelukis lokal menyerap tehnik-tehnik baru yang sesuai dengan nilai dasar dan pikiran lokal dengan tetap mengambil tema tradisional sehingga mampu memberi identitas tersendiri dengan nama gaya Ubud atau Style Ubud.
Desa Ubud menjadi semakin terkenal sebagai daerah kelahiran para seniman lukis berkat adanya kerjasama antara Tjokordo Gde Agung Sukawati dengan Rudolf Bonnet untuk membentuk sebuah perkumpulan seniman dengan nama Pita Maha, yang juga ikut membidani lahirnya Pita Maha adalah Tjokordo Gde Raka Sukawati, I Gisti Nyoman Lempad pada tahun 1936. Pita Maha merupakan sebuah perkumpulan dan wadah untuk mendiskusikan masalah dan perkembangan seni lukis, serta untuk saling bertukar pikiran dan memperkenalkan hasil seni yang mereka miliki.
Dalam perkembangannya kemudian, atas prakarsa Ida Tjokordo Gde Agung Sukawati yang didukung oleh Rudolf Bonnet, pelukis kelahiran Nederland dan juga para pelukis setempat merencanakan mendirikan sebuah musium Yayasan Ratna Wartha.

Ubud yang kini dikenal sebagai desa internasional tempat bertemunya bangsa dari berbagai negara di belahan dunia itu tahun 1920-an telah mengembangkan satu motif wayang baru, di mana pakem ikonografis wayang yang demikian ketat mengurai ke pakem personal. Tema tetap diangkat dari Kisah Ramayana, Mahabrata, namun dalam konsepsi seni ritual seperti rerajahan, tumbal tetap dipertahankan. Lukisan corak wayang baru itu dirintis oleh Tjokorda Oka Gambir dari Puri Peliatan setelah belajar gambar di Banjarangkan (Klungkung) dan Ketewel (Gianyar). Teknik, warna alam, dan prinsip-prinsip seni lukis Wayang tetap dipegang teguh.Motif wayang yang dirintis oleh Tjokorda Oka Gambir lebih realistis dengan garis arsiran rapi dan mantap, namun tetap memakai warna alam seperti gambar wayang menghias busana pura dan atribut ritual lainnya seperti parba, tedung, kober dan jempana.Tjokorda Gambir sempat bagi pengalaman dan pandangan dengan Walter Spies dan Bonnet bahkan sebelum lembaga Pita Maha (1936) dibentuk, sejumlah seniman setempat seperti Baret, Kobot, Turas, Ida Bagus Made dan Gerudug sempat saling belajar di Puri Peliatan.
Agung Rai yang museumnya memiliki koleksi 248 lukisan itu menjelaskan, tumbuh variasi corak personal pada generasi 1980-an di Ubud sangat dipengaruhi oleh kegeniusan I Gusti Made Lempad (alm) mengolah ilham seni pahat relief Yeh Pulu, yang mengalir lewat jari-jari ke kesan garis tinta Tiongkok yang kuat, sederhana terkesan kosong namun padat berenergi.Almarhum berhasil menggubah citra wayang menurut selera pribadi sehingga melahirkan style Lempad yang sangat personal, anggun, keramat dan berkarakter.Kepiawaian olah rasa hingga kini tak tertandingi termasuk oleh cucundanya Sudara. Dalam karya, kedua maestro ini sering membubuhkan nama dalam karya, tidak seperti wayang Kamasan yang komunal sifatnya.Mereka kemudian menjadi guru lokal di wilayahnya masing-masing sehingga lahir berbagai motif wayang Padang Tegal seperti stail Sobrat, Turas, Ketut Ding, Ketut Rungun, Moleh, Pengosekan seperti Wayang Kobot, Baret, Liyer, wayang stail Grudug, Taman dengan tokohnya pelukis Meja .

Agung Rai mengibaratkan, sosok Bonnet menjadi guru terbang bebas bea bagi pelukis Ubud, mengukuhkan kesenian sebagai “life style”, karena secara gigih membimbing pencapaian kualitas karya yang berkarakter dengan memberi panutan bagaimana seorang seniman profesional, terdidik mesti bersikap terhadap kekayaan lokal yang adiluhung.

Selain itu menumbuhkan rasa saling menghargai karya masing- masing. Bonnet dikenal sebagai sosok sensitif dan peduli akan realita seni sebagai seni, seni sebagai ritual, seni sebagai sumber penghidupan seperti seni wali, “wewalen” dan “balih-balihan”.Dengan demikian ada sekat konotasi fungsi berkesenian kapan ngayah (diamalkan) kapan bayah (dibayar). Rupanya sejak era pesatnya perkembangan pariwisata tahun 1970-an sampai saat ini realita terakhir semakin menyenangkan.Di antara langkah promosi kekayaan seni budaya Bali yang paling signifikan pengaruhnya terhadap perkembangan seni lukis Bali adalah pameran di Paris, tahun 1931. Beberapa karya lukis Wayang Bali juga misi seni tari Bali (Peliatan Ubud) digelar dalam pameran internasional.
Dalam hal itu misi kesenian Bali mewakili kerajaan Belanda sebelum Indonesia meraih kemerdekan. Gaung kesuksesan pameran Bali membawa pengaruh besar terhadap meningkatkan motivasi Barat untuk mereguk kenikmatan di paradiso Bali.Bukan saja di kalangan seniman Peliatan Ubud, masyarakat secara keseluruhan merasa bangga atas penghargaan itu. Apalagi diizinkan mendirikan monumen di di halaman masing-masing saat perayaan jubileum (1933) ratu Belanda waktu itu, yang dipandang sebagai prestasi seni semata, tanpa tendensi politis atau lainnya.Tonggak perubahan sangat menentukan, bukan hanya mengobarkan semangat dalam perkembangan dan perluasan segala aktivitas berkesenian, melainkan sumbangan nyata terhadap kekayaan seni Bali yang dengan apik disajikan lembaran masa berikutnya.Sampai akhirnya Pariwisata Budaya membuka keran interaksi masyarakat Bali dan Barat, saling menguntungkan tidak terbatas pada wawasan seni Bali yang semakin marak tetapi segi ekonomi masyarakat yang semakin meningkat.

2.2 Bahasa Keseharian
Sebagai salahsatu hal terpenting dalam kehidupan bermasyarakat, bahasa merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari para pelaku kehidupan. Begitu juga dengan masyarakat di Bali. Masih menjunjung tinggi kebudayaan asli, masyarakat disana masih menggunakan bahasa Bali pada kesehariannya. Keberadaan bahasa Bali memiliki variasi yang cukup rumit karena adanya sor-singgih yang ditentukan oleh pembicara, lawan bicara, dan hal-hal yang dibicarakan. Secara umum, variasi bahasa Bali dapat dibedakan atas variasi temporal, regional, dan sosial. Dimensi temporal bahasa bali memberikan indikasi kesejarahan dan perkembangan bahasanya meski dalam arti yang sangat terbatas. Secara temporal bahasa Bali dibedakan atas bahasa bali Kuno yang sering disebut deengan bahasa Bali Mula atau Bali Aga, bahasa Bali Tengahan atau Kawi Bali, dan bahasa Bali Keparayang sering disebut Bali Baru atau bahasa Bali Modern.
Secara regional, bahasa Bali dibedakan atas dua dialek, yaitu dialek Bali Aga (dialek pegunungan) dan dialek Bali Dataran (dialek umum, lumrah) yang masing-masing memiliki ciri subdialek tersendiri. Berdasarkan dimensi sosial, bahasa Bali mengenai adanya sistem sor-singgih atau tingkat tutur bahasa Bali yang erat kaitannya dengan sejarah perkembangan masyarakat Bali yang mengenal sistem wangsa (warna), yang dibedakan atas golongan triwangsa (Brahmana, Ksatriya, Wesia) dan golongan Jaba atauSudra (orang kebanyakan). Berdasarkan strata sosial ini, bahasa Bali menyajikan sejarah tersendiri tentang tingkat tutur kata dalam lapisan masyarakat tradisional di Bali. Di sisi lain, dalam perkembangan masyarakat bali pada zaman modern ini terbentuklah elite baru yang termasuk kelas kata yang tidak lagi terlalu memperhitungkan kasta. Elite baru (golongan pejabat, orang kaya) selalu disegani dan dihormati oleh golongan bawah dan ini tercermin pula dalam pemakaian bahasanya. Bahasa Bali juga digunakan selain di Bali, juga di Mataram bagian barat dan Jawa bagian Timur seperti Banyuwangi.

2.3 Sistem Religi

Masyarakat Pulau Bali sudah sejak dulu terkenal sebagai penganut agama Hindu. Konsep ini sudah ada sejak turun temurun nenek moyang masyarakat Bali. Pokok ajaran Hindu adalah ketercapaian keseimbangan dan kedamaian hidup secara lahir batin. Konsep Ketuhanan Hindu mempercayai Tuhan dalam 3 wujud atau TRIMURTI yakni Brahmana, Wisnu, Siwa. Selain itu Hindu menganggap hal penting yaitu Atman : roh yang abadi, Karmapala : buah dari setiap perbuatan, Purnabawa : kelahiran kembali jiwa. Tempat ibadah agama Hindu disebut pura. Masing masing pura memiliki sifat sendiri. Pura Besakih sifatnya umum untuk semua golonga, Pura Desa (kayangan tiga) khusus untuk kelompok sosial setempat, Sanggah khusus untuk leluhur. Tiap kawasan di Bali pasti memiliki Pura. Dan tentunya masing masing Pura memiliki makna filosofi sendiri.

2.4 Perkembangan Ekonomi
Pariwisasta mempunyai andil besar dalam pertumbuhan ekonomi di Desa Pakraman Ubud. Berkembanganya pariwisata di ubud menyebabkan bergesernta mata pencaharian masyarakat di ubud yang pada mulanya merupakan masyarakat agrarism dengan mata pencaharian pokok adalah petani. Mata pencaharian pokok masyarakat di ubud pada umunya telah berubah dari agraris ke industry pariwisata, hadirnya industry pariwisata di desa pakraman ubud membuat perkembangan atau kebudayaan baru. Peralihan pekerjaan ke sector pariwisata tidak bisa lepas dari karakteristik isndustri pariwisata, yakni bercorak “people to people business” yang artinya pariwisata sebagai suatu ndustry banyak menyerap tenaga kerja.
Masuknya indurstri pariwisata ked dalam desa pakraman ubud tidak saja terkait dengan mata pencaharian tetapi juga terkait dengan aspek-aspek kebudayaan. Ini sesuai dengan konsep perubahan kebudaya dari (soekamto 2012) yang mengatakan kecendrungan terjadinya perubahan budaya merupakan gejala yang wajar timbul dari pergaulan manusia di dalam masyarakat.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Ubud adalah sebuah tempat peristirahatan di daerah kabupaten Gianyar, pulau Bali, Indonesia. Ubud terutama terkenal di antara para wisatawan mancanegara karena lokasi ini terletak di antara sawah dan hutan yang terletak di antara jurang-jurang gunung yang membuat alam sangat indah. Selain itu Ubud dikenal karena seni dan budaya yang berkembang sangat pesat dan maju. Denyut nadi kehidupan masyarakat Ubud tidak bisa dilepaskan dari kesenian. Di sini banyak pula terdapat galeri-galeri seni, serta arena pertunjukan musik dan tari yang digelar setiap malam secara bergantian di segala penjuru desa.
Sudah sejak tahun 1930-an, Ubud terkenal di antara wisatawan barat. Kala itu pelukis Jerman; Walter Spies dan pelukis Belanda; Rudolf Bonnet menetap di sana. Mereka dibantu oleh Cokorda Gede Agung Sukawati, dari Puri Agung Ubud. Sekarang karya mereka bisa dilihat di Museum Puri Lukisan, Ubud.

Teks Deskriptif tentang “UBUD”

 

TEKS DESKRIPTIF
UBUD

Oleh
I KadekJanurangga
NIM : 201702048
MahasiswaKarawitan 1B
InstitutSeni Indonesia Denpasar

Ubud adalah sebuah desa kelurahan, membawahi 14 (empatbelas) banjar yaitu Br. Ubud Kelod, Br. Ubud Kaja, Br. Ubud Tengah, Br. Sambahan, Br. Bentuyung, Br. Junjungan, Br. Tegallantang, Br. Taman Kaja, Br. Taman kelod, Br. Padangtegal kaja, Br. Padangtegal Mekarsari, Br. Padangtegal Tengah, Br. Padangtegal Kelod, dan Br. Padang Kencana, yang terdiri dari 6 (enam) desa adat, termasuk kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar dengan jarak 20 km dari kota Denpasar, Ubud dapat dicapai dalam 30 menit atau 15 menit dari kota Gianyar. Dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut, Ubud memiliki udara lebih sejuk dari daerah dataran Bali asli selatan. Kelurahan Ubud berpenduduk sekitar 9.800 jiwa. Dengan lingkungan yang masih alami, daerah ini merupakan daerah sumber inspirasi bagi para seniman, termasuk seniman luarnegeri, terutama seniman Eropa. Ubud disamping memiliki alam yang indah, daerah ini juga merupakan sebuah desa budaya yang kaya dengan warisan sejarah para seniman besar, terutama para pelukis terkenal, misalnya I Gusti Nyoman Lempad (1862-1978), Anak Agung Gde Sobrat (1919-1992), I Gusti Made Deblog (1910-1986), kemudian disusul oleh yang lain seperti, I Gusti Ketut Kobot, Ida Bagus Made, Dewa Putu Bedil, Ida Bagus Raidan lain sebagainya. Ketenaran para pelukis tersebut di atas ikut memberikan inspirasi terhadap para pelukis barat untuk berdomisili di desaUbud.

Sekitar tahun 1920-an, dua pelukis Eropa yaitu Rudolf Bonnet dari negeri Belanda, dan Walter Spies dari Jerman menggoreskan sejarah baru perkembangan seni lukis di daerah Ubud. Kedua pelukis Eropa tersebut memperkenalkan teknik estetika Eropa terutama di bidang pencahayaan, bayangan, perspektif dan anatomi. Para pelukis lokal menyerap tehnik-tehnik baru yang sesuai dengan nilai dasar dan pikiran local dengan tetap mengambil tema tradisional sehingga mampu member identitas tersendiri dengan nama gaya Ubud atau Style Ubud. Desa Ubud menjadi semakin terkenal sebagai daerah kelahiran para seniman lukis berkata dan bekerjasama antara Tjokorda Gde Agung Sukawati dengan Rudolf Bonnet untuk membentuk sebuah perkumpulan seniman dengan nama Pita Maha, yang jugaikutmembidanilahirnya Pita Maha adalah Tjokorda Gde Raka Sukawati, I Gisti Nyoman Lempad pada tahun 1936. Pita Maha merupakan sebuah perkumpulan dan wadah untuk mendiskusikan masalah dan perkembangan seni lukis, serta untuk saling bertukar pikiran dan memperkenalkan hasil seni yang mereka miliki.

Dalam perkembangannya kemudian, atas prakarsa Ida Tjokordo Gde Agung Sukawati yang didukung oleh Rudolf Bonnet, pelukis kelahiran Nederland dan juga para pelukis setempat merencanakan mendirikan sebuah musium. Yayasan Ratna Wartha yang dibentuk sebelumnya diberikan tugas untuk melaksanakan pembangunan dan pengelolaan museum tersebut. Padatahun 1945 mulailah pembangunan museum itu yang mana peletakan batu pertama dilakukan oleh Perdana Menteri Ali Sustroamidjoyo. Dalam kurun waktu dua tahun, tepatnya pada tahun 1956 museum tersebut dibuka oleh Menteri Pendidikandan Kebudayaan Mr. Moh. Yamin
Sebagai daerah tujuan wisata, Ubud memiliki banyak objek yang menarik bagiwisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Beberapa diantara objek tersebut adalah Puri Saren, yang terletak di Puri Ubud, pasar seni tradisional, Monkey Forest (Wenara Wana), Musium Blanco, Musium Puri Lukisan, dan banyak makanan khas ubud seperti babi guling yang wajib dicoba bila berkunjung ke ubud.