Eksistensi gong gede

SEJARAH DAN PENGENALAN
GONG GEDE

Oleh
I Putu Jerry Kartika
2016 02 053
Karawitan

Fakultas Seni Pertunjukan
Institut Seni Indonesia
Denpasar

2018

Sejarah
Gambelan Gong Gede

Pengenalan gamelan gong gede
Gamelan Gong ini dinamakan Gong Gede (besar) karena memakai sedikitnya 30 (tiga puluh) macam instrumen berukuran relatif besar (ukuran bilah, kendang, gong dan cengceng kopyak adalah barung gamelan yang terbesar yang melibatkan antara 40 (empat puluh) – 50 (lima puluh) orang pemain. Gamelan gong gede merupakan gamelan golongan madya yang terdapat di bangali tepatnya di batur. Gamelan zang bersuara agung ini dipakai untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan klasik yang cenderung formal namun tetap dinamis dimainkan untuk mengiringi upacara-upacara besar di pura-pura(dewa yadnya), termasuk mengiringi tari Baris, Topeng, Rejang,dan Pendet.
Beberapa upacara besar yang diadakan oleh kalangan warga puri keturunan raja-raja zaman dulu juga diiringi gamelan gong gede. Akhir-akhir ini gamelan gong gede juga ditampilkan sebagai pengiring upacara formal tertentu yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan untuk mengiringi sendratari.
Sesuai dengan fungsinya sebagai pengiring upacara agama di pura-pura , pengiring tarian upacara, dan pengiring upacara istana, gong gede memiliki sejumlah tabuh-tabuh petegak dan iringan tari. Tabuh-tabuh petgak yang biasa di mainkan adalah
: tabuh pat semarandhana
:tabuh pat jagul
:tabuh pat segara madu
:tabuh kutus lasem
:tabuh pat bandasura
Dan lain-lain.
(“http://senitradisionalbali.blogspot.co.id/2012/05/gamelan-gong-gede.html”

Eksistensi gamelan gong gede

Gamelan gong gede berarti gamelan dengan barungan besar atau barungan yang berjumlah banyak adalah salah satu gamelan yang ada di bali untuk kepentingan upacara di bali,khususnya di pura-pura. Gaya music yang di ambil dalam gong gede adalah music yang tenang, amggum dan gagah. Ini berfluktuasi dalam siklus, satu cepat, satu lambat, satu keras, dan satu lembut.
Selama kolonisasi bali pada akhir abad ke semilan belas, belanda membubarkan pengandilan. Pengguanaan gong gede menjadi terbatas pada music candi. Ia kemudian digantikan oleh gong kebyar, untuk lebih up-tempo gamelan dimainkan dengan gong kecil, yang berasal dari desa-desa bali pada akhir abad ke Sembilan belas dan menjadi sangat popular di tahun 1920-an dan 1030-an (asepmusik.blogspot.com)

Fungsi utama gong gede
Gamelan gong gede adalah barungan gamelan yang berjumlah besar yang kehadirannya masih di dukung oleh masyarakat sebagai warisan dari luluhur. Berfungsi sebagai persembahan dalam berbagai keperluan pada kehidupan masyarakatnya, yaitu sebagai persembahan untuk keperluan upacara agama khusunya upacara dewa yadnya.
Adapun upacara puja wali yang dapat diirngi barungan gong gede adalah:
Upacara puja wali di pura jati di laksanakan tiga hari sebelum purnama kasa dengan penyajian gamelan gong gede yang lebih di istilahkan sebagai tedun tromping
Upacara puja wai pada purnama kalima dilangsungkan tiga hari di pura kental gumi atau pura ulun danu, dengan disajikan gamelan gong gede lengkap atau tedun tromping.
Upacara puja wai pada purnama kaulu dilangsungkan di pura ulun danu selama tiga hari denga disajikan gamelan gong gede atau tedun trmpong.
Upacara puja wali pada purnama kadasa dilangsungkan di pura ulun danu batur yang merupakan puncak upacara. Menurut jero gede duuran dan jero gede alitan, kata upacara ini disebut dengan bhatara turun kabeh yang dilangsungkan selama 11 hari sampai 14 hari dengan penyajian gong gede (tedun tromping), dengan gamelan bebonangan. Pada saat terakhir upacara (penyineban) gamelan gong gede turun dari bale gong ( tempat penyimpenan) tempat penyajiannya menuju madya mandala utnuk mengiringi tari baris perang-perangan, metiti suara dan, menampilkan tabuh-tabuh lelambatan klasik.

Etnomusikologi

Etnomusikologi

Etnomusikolgi adalah ilmu yang mepelajari tentang musik etnik(asli) yang ada di daerah tertentu dengan berbagai aspek musik dan budaya yang dimiliki masyarakat di masing masing daerah tersebut. Istilah etnomusikologi yang digunakan sebagai subtitle dalam buku yang dituli oleh jaap kunst yang berjudul “musicological: a study of the nature of ethnomusicology, its problem, methods, and represemmtative personalities, (Amsterdam, 1950) Dan didalam edisi-edisi berikutnya buku itu disebut “ Etnomusikologi”. Dalam dewasa ini” etnomusikologi” diknal sebagi disiplin ilmiah di berbagai universitas yang ada di Amerika, Kanada, dan prancis dan sementara itu di Jerman, Belanda Inggris dan negri lainnya mengatakan bahwa ilmu etnomusikologi sangat terbatas, mungkin dikarenakan ilmu ini merupakam cbang dari ilmu musikologi dan antropologi dikarenakan data yang di kumpulkan selalu bberkaitan dengan pola fikir manusia.
Berhubungan dengan sejarah, perhatian terhadap ilmu musik mulai muncul di abad ke-18, dimana didalamnya terdapat musik etnik yang diindentifikasi sebagai musik rakyat cina, musik suku Indian Kanada, dan musik orang finladia. Pada tahun 1980(bukan 1889,seperti sering disebutkan), J.Walter Fewkes pertama kali merekam musik Indian passamaquody di maine, kemudian masyarakat musik zuni di new mexico yang dilakukan di lapanagn menggunakan fonograf hasil penemuan Ediso. Kemudian rekaman – rekaman tersebut ditulis dalam notasi barat oleh Benyamin Ives Gilman yang terbit pada tahun 1892. Seiring berjalannya waktu alat perekam pun berkembang dan pada tahun 1950-an perekam tape recorder pun digunakan sebagai alat perekam. Hasil rekaman tersebut disimpan di American Museum of Natural History di New York. Tahun 1901 didirikan Musical Ethnographic Commission di Universitas Moscow yang kegiatannya yaitu mengenai studi musik – musik tradisional dan lagu-lagu rakyat Negara lain.
Kesimpulan dari materi yang saya baca adalah etno musikologi merupakan ilmu yang mepelajari tentang musik etnik(asli) yang ada di daerah tertentu yang yang berisi aspek musik dan budaya di masing-masing masyarakat tersebut.etnomusikologi juga memiliki buku yang ditulis oleh jaap kunst dengan judul “musicological: a study of the nature of ethnomusicology, its problem, methods, and represemmtative personalities, (Amsterdam, 1950) yang pada edisi berikutnya disebut sebagai etnomusikologi dan dikenal sebagai displin ilmiah di universitas yang ada di Amerika, Kanada, dan Prancis sedangkan di Jerman dan Inggris etnomusikologi mengatakan ilmu tersebut sangat terbatas.kemudian sejarah dari ilmu musik itu muali muncul pada abad ke-18dimana musik etnik yang Diindentifikasi adalah musik rakyat cina, musik Indian dan musik orang finlandia. Orang yang pertama kali merekam musik Indian adalah J.Walter Fewkes yang menggunkan alat yang bernama fonograf. Kemudian rekaman tersebut di tulis dalam notasi musik barat oleh Benyamin Ives Gilman.kemudian alat rekam menjadi berkembang yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama tape recorder yang digunakan merekam pada tahun 1950 dan disimpan di American Museum of
Natural History di New York. Demikian yang bisa saya review dari buku entnomusikologi dari halaman 1-8 pada sub materi 1 dan 2.

Gamelan semara pagulingan di Desa sading

SEJARAH GAMELAN SEMAR PEGULINGAN DI DESA SADING

Nama kelompok:
I Ketut Kariana ( 201302032)
I Putu Danika Pryatna ( 201302033)
I kadek guna wisnawa ( )
Ade putra
2014
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Idha Shanghyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa tugas paper ini dapat diselesaikan. Penyusun paper ini termasuk pengumpulan dan pengolahan data di lakukan dengan waktu relative singkat, dikarenakan hanya mendapatkan waktu dua minggu hingga terselesaikannya paper ini.
Paper ini merupakan beberapa analisis dan kajian serta temu bicara/ wawancara terhadap beberapa narasumber yang berkecimpung di dalam pengkajian materi ini.
Paper ini terselesaikan oleh kami mahasiswa ISI Denpasar semester 3 dengan memiliki jumlah anggota 3 orang yang masing-masing beralamat : Desa Sading dan Desa Carang sari. Adapun tema yang kami angkat adalah sejarah adanya ensambel semara pegulingan saih pitu yang dulunya adalah ensambel samara pegulingan saih lima/ pelegongan.
Kami menyadari bahwa hasil kajian ini masih jauh dari kata sempurna, karena itu melalui prakata ini kami mohonkan harapan,semoga para ahli dan cerdik- cendikiawan dapat memberikan saran-saran demi sempurnanya kajian kami ini.
Akhirnya atas bantuan semua pihak, terutama atas bimbingan dan wawancara kami kepada pengempon pura Dalem Kediri Sading dan sesepuh puri Sading tak lupa kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.

Badung, 7 Desember 2014

BAB I

Latar belakang

Sejarah singkat gambelan semar pagulingan di pura dalem kediri sading,badungGambelan semar pagulingan ini adalah barungan madya yang berlaras pelog 7 nada. Asal mula gambelan semar pagulingan ini adalah milik keluarga Tangkas Kori Agung Jeroan yaitu I Gusti Agung Anom Putra dan Si Luh Tangkas mempunyai putra yang bernama I Gusti Agung Anom Tangkas putra beliau inilah yang senang dan mendalami seni kemudian dihaturkan gambelan Semar Pagulingan ke Puri. Kemudian I Gusti Agung Anom Tangkas menikah dengan I Gusti Ayu Rai dan mempunyai putra dan putri yang bernama I Gusti Agung Gede Anom Jelatik dan I Gusti Ayu Rai ini yang melanjutkan seni tersebut.
Ketika Gambelan Semar Pagulingan ini sudah di Jero lalu terjadi perang Badung -Mengwi pada tahun 1891 akhirnya I Gusti Agung Anom Jelatik dan I Gusti Agung Ketut Anom dan putra-putranya mengungsi ke Desa Angantaka disamping anak-anak beliau juga banyak orang-orang Sading, orang-orang Tegal dan orang- orang Kekeran Mengwi Tani kemudian gambelan di tinggalkan di puri lalu orang-orang di Banjar Pekandelan mengambil daun-daun gambelan agar tidak dijarah oleh orang-orang Badung. Setelah puputan badung dengan kalahnya Badung oleh Belanda I Gusti Agung Ketut Anom bersama anak cucunya di ajak kembali ke sading karena kepentingan di Pura Dalem Kediri. Kemudian setelah sampai di Sading beliau membangun Pura Dalem Kediri, karena pura memerlukan gambelan maka gambelan Semar Pagulingan yang dulunya di ambil oleh masyarakat pekandelan di kembalikan ke puri dan gambelan tersebut di pergunakan untuk kepentingan Pura Dalem Kediri sampai sekarang.

BAB II
Pembahasan

Sejarah legong kraton secara umum
Adapun kemungkinan, tari legong itu di kembangkan dari sebuah tarian upacar, terutama dari Shyangyang. Bahkan kata “ Legong” ini acapkali dikaitkan dengan kata” Shanghyang” itu sendiri seperti Shanghyang legong.
Pada mulanya tari legong itu merupakan suatu jenis tari improvisasi,tapi dalam pertumbuhan selanjutnya gerak-gerak tarinya di komposisikan berdasarkan salah satu tarian yang ada dalam gambuh. Jika di lihat dari perbendaharaan gerak, nampaknya gerak-gerak yang sukar ( intricate) yang terdapat dalam pegambuhan, disempurnakan(dihaluskan,distilisasikan), disesuaikan dengan gamelannya cepat dinamis, sehingga menjadilah lengong seperti yang ada sekarang.
Gerak gerak tari dalam pelegongan sangat dinamis, indah dan abstrak, walaupun pada akhirnya di balik gerak-gerak itu tersembunyi gerak-gerak yang bersipat dramatis.
Ada beberapa cerita di Bali yang menyebut-nyebut legong, yang oleh beberapa seniman di anggap sebagai sumber ide penciptaan legong. Cerita-cerita itu adalah sebagai berikut:
Betara siwa suatu ketika ingin menguji kesaktian istrinya, Bhatari Giriputri, bliau pura-pura sakit. Dan baru akan sembuh apabila meminum susu Giriputri sanggup mengobatinya dengan air susu lembu ( empehan lembu ). Istrinya bertekat untuk mencari air susu lembu seperti yang di magsud sampai dapat, demi sembuhnya Bhatara ciwa. Bhatari Giriputri turun ke bumi kemudian melihat seorang pemuda pengembala lembu yang kebetulan lembunya sedang menyusui. Bhatari Giriputri segera mendekati pengembala itu selanjutnya minta dengan sangat agar pemuda pengembala itu memberikan sepenuh batok kelapa( acagak) air susu lembunya untuk pengobatan Bhatar ciwa yang sedang sakit. Pengembala sanggup memberikan air susu lembunya dengan syarat apabila Bhatari Giriputri mau membalas cinta asamaranya disitu. Pada mulanya Bhatari Giriputri menolak persyaratan itu. Tapi akhirnya terpaksa diterima, demi sembuhnya Bhatar ciwa, sesungguhnya pemuda pengembala itu adalah Bhatar ciwa sendiri yang menjelma sebagai pengembala lembu. Disini Bhatara ciwa bermagsud menguji keteguhan iman istrinya yang ternyata demikian lemahnya. Dengan pertemuan ini, Bhatari Giriputri melahirkan melalui kedua belah kakinya 2 orang anak perempuan. Selanjutnya kedua anak perempuan ini diperintahkan untuk tetap tinggal di bumi dan menjadi Dewa tari-tarian dalam hal ini tari legong. Setelah mendapatkan air susu lembu, Bhatari Giriputri kembali ke sorga dan menyerahkan air susu lembu itu kepada Bhatar ciwa. Tetapi Bhatara ciwa belum mau menerimanya sebelum di uji tentang kesucian air susu yang di bawa istrinya itu. Untuk itu, di panggilah Bhatara Ghana agar memasang nujumnya dan kemudian menerangkan latar belakang dari pada usaha Bhatari Giriputri berhasil memperoleh air susu lembu. Betara Ghana membuka lontar nujumnya, kemudian dapat menerangkan, bahwa Bhatari Giriputri mendapat air susu lembu dengan pengorbanan diri dalam perbuatan mesum. Mendengar keterangan yang demikian itu, Bhatari Giriputri marah dan membakar lontar nujum itu. Kemudian Bhatara ciwa mengutuk isrinya BHatari Giriputri menjelma menjadi Durgha dan bertempat tinggal sebagai penghuni kuburan. Ia baru akan boleh kembali ke sorga, apabila kelak sudah di ruat oleh salah seorang keluarga pandawa- Saha Dewa.

Ensambel gamelan semar pegulingan
Semar Pagulingan adalah sebuah gamelan yang berasal dari Bali, Indonesia. Gamelan ini dekat hubungannya dengan gamelan Gambuh, di mana juga merupakan perpaduan antara gamelan Gambuh dan Legong. Semar Pagulingan merupakan gamelan rekreasi untuk istana raja-raja zaman dahulu. Biasanya dimainkan pada waktu raja-raja akan kepraduan (tidur). Gamelan ini juga dipergunakan untuk mengiringi tari Leko dan Gandrung yang semula dilakukan oleh abdi raja-raja kraton. Semar Pagulingan memakai laras pelog 7 nada, terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pamero. Repertoire dari gamelan ini hampir keseluruhannya diambil dari Pegambuhan (kecuali gending Leko) dan semua melodi-melodi yang mempergunakan 7 nada dapat segera ditransfer ke dalam gamelan Semar Pagulingan.

Bentuk dari gamelan Semar Pagulingan mencerminkan juga gamelan Gong, tetapi lebih kecil dan lebih manis disebabkan karena hilangnya reong maupun gangsa-gangsa yang besar. Demikian berjenis-jenis pasang cengceng tidak dipergunakan di dalam Semar Pagulingan. Instrumen yang memegang peranan penting dalam Semar Pagulingan ialah Trompong. Trompong lebih menitik beratkan penggantian melodi suling dalam Gambuh yang dituangkan ke dalam nada yang lebih fix. Gending-gending yang dimainkan dengan memakai trompong, biasanya tidak dipergunakan untuk mengiringi tari. Di samping trompong ada juga 4 buah gender yang kadang-kadang menggantikan trompong, khususnya untuk gending-gending tari. Dalam hal ini Semar Pagulingan sudah berubah namanya menjadi gamelan Pelegongan. Instrumen yang lain seperti gangsa, jublag dan calung masing-masing mempunyai fungsi sebagai cecandetan ataupun untuk memangku lagu. Semar Pagulingan juga memakai 2 buah kendang, satu buah kempur, kajar, kelenang, suling. Kendang merupakan sebuah instrumen yang sangat penting untuk menentukan dinamika dari pada lagu.

Deskripsi ensambel dan Pengungkapan sejarah

Instrumentasi Gambelan Semar Pagulingan

4 tungguh Gender Rambat, yaitu alat musik wilahan yang terbuat dari bahan perunggu yang diletakkan di atas tungguh kayu dengan resonator bamboo. Fungsinya sebagai pembawa lagu menggantikan terompong. Panjang wilahannya lbh kurang 13 -15 cm, lebarnya lebih kurang 3 – 4,5 cm, tipisnya lbh kurang 2 – 3 mm.
2.

1 tungguh Trompong, 14 pencon, yaitu instrument musik menyerupai gong yang terdiri dari 14 buah yang diletakkan di atas rak.  Diameternya beragam mulai dari ukuran yang paling kecil hingga terbesar, yaitu  mulai dari 12 – 20 cm, dengan tinggi permukaannya lbh kurang 10 cm.

3.

4 tungguh gangsa Pemadih atau Pemade, 7 bilah, istrumen wilahan yang di pasang dengan di gantung. Panjang wilahannya lebih kurang 15 – 25 cm, lebar 3 – 4,5 cm dengan ketebalan 2 – 3 mili meter.

4.

4 tungguh gangsa Kantil, 7 bilah, yaitu alat musik wilahan yang terbuat dari bahan perunggu yang terdiri dari tujuh wilahan yang diletakkan di atas rak yang terbuat dari bahan kayu, dengan resonator dari bambu. Panjang wilahannya adalah beragam dari yang kecil hingga yang besar, yaitu sekitar  panjang 15 – 25 cm, lebar lebih kurang 4 – 5 cm, dan ketebalan lebih kurang 2 – 3 mili meter. Alat ini dimainkan dengan menggunakan sebuah alat pemukul (stik) dengan tangan kanan dan tangan kiri berfungsi sebagai damper, untuk memute suaranya.

5.

2 buah Jublag/jegogan, 7 wilahan, yaitu alat musik wilahan yang terbuat dari bahan perunggu yang diletakkan di atas rak atau tungguhan yang terbuat dari bahan kayu dengan tinggi lebih kurang 40 – 45 cm dan di pasang dengan cara di gantung. Panjang wilahannya lebih kurang antara 40 – 45 cm, lebar 4 – 6 cm dan ketebalannya lebih kurang 3 – 4 cm,  dan diletakkan di atas resonator bambu.

6.

2 tungguh Penyelah , 7 bilah yaitu alat musik wilahan yang lebih kecil dari Jublag, yaitu wilahan yang terbuat dari bahan perunggu yang diletakkan di atas rak atau tungguhan yang terbuat dari bahan kayu dengan tinggi lebih lkurang 30 – 40 cm. Panjang wilahannya lebih kurang antara 30 – 35 cm, lebar 4 – 5 cm, dan ketebalan 2 – 3 mili meter. Wilahan tersebut diletakkan di atas resonator bamboo. Dimainkan dengan dua buah stik (tangan kiri dan kanan).

7.

1 buah Gong Gayor  yaitu gong yang diletakkan di rak yang terbuat dari bahan perunggu dengan diameter 45 – 55 cm, dengan tinggi permukaan 5 – 7 cm. Alat ini biasanya biasanya berpasangan dengan kenong dan Kempur.

8.

2 buah Kendang Krumpungan lanang wadon, yaitu kendang lanang dan kendang wadon, yaitu gendang dua sisi. Kedua gendang ini pada prinsipnya ukurannya sama, hanya fungsinya dalam ensambel musik yang dibedakan serta pelarasannya. Panjangnya lebih kurang 60 cm, dengan diameter sisi kiri 20 cm, dan sisi kanan 24 cm. Gendang ini terbuat dari bahan kayu dan membrannya terbuat dari kulit sapi. Gendang ini dipukul dengan menggunakan satu buah alat pemukul (stik) untuk tangan kanan, dan tamparan tangan untuk tangan kiri.

9.

2 buah Kendang Bebarongan, gendang kecil, ukurannya lebih kurang 55 cm, diameter membrannya lebih kurang 20 cm sebelah kiri dan 24  cm sebalah kanan.
10.

1 buah Ceng-Ceng Rucik, ceng-ceng yg lebih kecil dari biasanya, yaitu sejenis simbal dengan diameter lebih kurang 8 – 9 cm, dengan ketebalan lebih kurang 1 – 2 mm.

11.

1 buah Gentorak, sejenis genta yang terdiri dari beberapa buah genta kecil. Cara memainkannya dengan menggoyangkannya, sehingga suaranya gemerincing. biasa dipakai dalam upacara, terbuat dari perunggu. Diameter gentanya lebih kurang 2 – 4 cm, dengan tinggi permukaannya sekitar 3 – 4 cm, dan ketebalannya lebih kurang 1 mili meter.

12.

1 buah Kajar/kempluk, yaitu sejenis gong kecil yang berpencu yang berfungsi sebagai tempo. Biasa juga disebut kethuk. Diammeternya lebih kurang 15 cm, dengan tinggi permukaannya lbih kurang 10 cm, dan ketebalan lbh kurang 1 – 2 mili meter.

13.
1 buah Klenong, merupakan gong kecil yang diletakkan di atas rak yang terbuat dari bahan perunggu, dengan ukuran diameter lebih kurang 15 – 17 cm, dan tinggi 8 – 10 cm dengan ketebalan lebih kurang 1 – 2 mm;
14.

1 buah Klenang, adalah juga sejenis gong kecil  yang terdiri dari satu buah terbuat dari bahan perunggu berfungsi sbg pemanis tempo atau penyela. Bentuknya hampir sama dengan Kajar, demikian juga ukurannya.

15.

2 buah Rebab, yaitu alat musik gesek bersenar dua, dengan panjang lebih kurang 70 – 100 cm. Terbuat dari bahan kayu nangka, dengan senar dari bahan metal, dan membrane dari kulit, dan terdiri dari alat penggesek (bow).

16.

7 buah Suling, yaitu end blown flute, yaitu suling yang terbuat dari bahan bambu dengan panjang lebih kurang 25 – 30 cm, dengan diameter 1 – 1,5 cm.

HAK MILIK GAMBELAN SEMAR PAGULINGAN

Gambelan Semar Pagulingan ini sekarang menjadi hak milik Pura Dalem Negari Sading, Badung.

KEPENGURUSAN GAMBELAN SEMAR PAGULINGAN

Ketua : I Nengah Sawit

Sekretaris : I Wayan Selamet

Bendahara : I Wayan Arwita

REFORTOARE GAMBELAN SEMAR PAGULINGAN DI PURA DALEM KEDIRI SADING, BADUNG

Layar Samak
Sekar Gendot
Pantun Gede
Kincang Kincung/Petegak
Batel Maya
Kesiaran
Simbar
Katak Ngongkek
Gambang
Crucuk Punyah
Jedugan Layon
Jagul
Dongkrak
Tabuh Pisan
Bebarongan
Legong Lasem
Legong Kuntul
Legong Jobog
Legong Playon
Legong Kuntir
Legong Terong
Legong Subraba Duta
Legod Bawa
Tapa Tangis
Legong Goak Macok
Telek
Ampil Ukun/Ngalap base
Sekar Mas
Tari Baris
Tari Jauk
Tabuh Telu/sekar Lelet

Sumber Informasi :

Prejuru Pura Dalem Kediri Sading Mengwi, Badung

I Wayan Witra

I Nengah Siden

I Wayan Weno

I Nengah Sawit

Bali spirit festival

PENDAHULUAN
Bali Spirit Festival adalah sebuah acara yang dimana didalam acara tersebut menyajikan festival yoga paling inspiratif di dunia, merayakan komunitas nasional, musik dunia dan kesejahteraan, yang di adakan di Bali. Dalam Bali spirit Festival kali ini berlangsung selama satu minggu yaitu pada tanggal 2 sampai 8 april yang bertempat di Ubud sangat meriah karena artist yang terlibat di dalamnya berasala dari berbagai belahan dunia. Bali Spirit Festival telah bekerja sama dengan organisasi mitra di Bali, serta guru yoga dan musisi internasional yang bertujuan untuk mengumpulkan dana lebih dari USD$ 100.000 untuk inisiatif tahunan yaitu festival Karma, selain itu juga akan disalurkan ke program anak-anak, pendidikan, dan pertunjukan musicultural, klinik kesehatan kesadaran akan HIV&AIDS dan juga untuk perlindungan sosial.
Pada tahun 2008, industri pariwisata dibali belum pulih dari dampak sosial dan ekonomi yang mengahncurkan pemboman tahun 2002 dan 2005. Dibangun atas cinta mereka untuk pulau dan semangat kreatif yoga, menari, dan musk, para pendiri mengumpulkan sumber daya mereka untuk mengembangkan acara tahunan yang berkelanjutan.
Tema yang di usung dalam Bali Spirit Festival tahun ini adalah “ KEMBALI KE SUMBER” Bali Spirit adalah pengakuan akan kehidupan batin yang bersatu dari semua makhluk hidup, makhluk dari mana semua makhluk itu muncul, kesadaran yang melihat melalui setiap pasanag mata. Ini adalah keheningan sakral yang ditemukan dalam meditasi terdalam. Dan itu adalah musik yang mengalir dari kesadaran yang terpusat pada hati untuk memberkati semua orang dengan telinga untuk mendengar. Didalam acara Bali Spirit Festival tersebut banyak dimeriahkan oleh artis-artis dari baanyak belahan dunia
Berikut adalah nama-nama artis yang turut memeriahkan acara Bali Spirit Festival, antara lain:
Jah’Mila (Jamaica)
Jemmita (Australia)
Kamau Abayomi (USA)
Amma Sophia Rose (USA)
Tina Malia (USA)
Amaru Pumac Kuntur (Peru)
Dub FX & Sahida Apsara (Australia)
Fanna-fi-Allah (USA)
Estray (Serbia)
Matiu Te Huki (New Zealand)
Minuk (Colombia)
Raio (USA/Bali)
Haribhakti Dey (India)
Samuel J (UK)
Sebatierra and the Earth Keepers (Chile)
Zat Kimia (Indonesia)
Temple Step (Australia)
Sophia Sofree (Singapore)
I Wayan Sudirana (Bali)
Cacao Ceremony (Bali)
Putu Adi Septa Suweca Putra (Bali)
Kadek Dewi Aryani (Bali)

BIOGRAFI ARTIST
Tina Amalia
Tina Amalia adalah seorang visioner musikal di dunia pop. Pandangan dunia dan perspektif artistiknya telah membawa Tina kolaborasi dengan seniman ikonik seperti India Arie, Deva premal&Premal, Omar Faruk Tekbilek dan Indian Rachel, Bassnectar, dan Keny Loggins. Bakat Tina yang luar biasa dibuktikan oleh katalog album yang diproduksi sendiri: Pesisir Avalo, Jaya Bhagawan, Kebangkitan diam, Frotier yang hilang, Jembatan ke Vallabha dan Anahata.
Senang akan membawa inspirasi musiknya ke Bali Spirit Festival, Melia merefleksikan,”musik,Melalui keindahan yang menakjubkan, memiliki kekuatan untuk membebaskan hati, mengangkat jiwa dan menghubungkan komunitas diseluruh dunia. Ketika kita berkumpul bersama untuk bernyanyi,menari,berdoa dan mengingat hubungan kita dengan kehidupan dan satu sama lain, klita tersentuh oleh tindakan cinta yang sederhana yang bergerak melalui suara. Saya tidak bisa memikirkan cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu daripada berbagi kegembiraan ini.
Pemenang penghargaan lagu perdamaian global, musik malia telah diakui oleh khalayak di seluruh dunia, radio, pers, dan pencipta industri, termasuk echoes’ john dillberto, kenny loggins, jai utal, bassnectal, jurnal yoga, pelapor musik zona, koneksi musik dan huffington post.

ULASAN PEMENTASAN
Sedikit ulasan dari pementasan yang saya saksikan di Bali Spirit Festival ialah penampilan dari artist yang bernama Tina Amalia yang membawakan lagu dengan judul “ Wahai Guru” yang dimana dari awal lagu tersebut hanya dilantunkan lirik yang sama dengan judul lagunya, Pada penampilannya beliau tidak tampil sendiri, melainkan diiringi oleh beberapa alat musik yang saya ketahui diantaranya; gitar akustik (yang langsung dimainkan oleh beliau), Hang Drum, Ukulele, Bass Betot, cajon, marcacas, dan ada lagi satu alat berbentuk bulat berwarna kuning yang saya tidak ketahui apa itu namanya.
Dalam penampilannya tersebut,beliau hanya menampilkan lagu dengan lirik wahai guru entah apa yang hendak disampaikan didalam lagu tersebut, tetapi dari segi komposisi dari musiknya sangat menarik dan asik didengar.

Tanggapan Mengenai Acara Bali Spirit Festival.

Menurut saya tanggapan saya, memang acara Bali Spirit Festival ini sangat menarik, karena didalam acara ini kita dapat menemukan keseimbangan fikiran melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada acara tersebut, seperti Yoga, Mendengarkan musik spiritual, serta menyaksikan berbagai macam tarian khas berbagai negara.
Kritik Dan Saran.

Krtik dan saran saya dalam acara Bali Spirit Festival, saya kira kekurangan yang saya rasakan dari berlangsungnya acara tersebut, yaitu tentang kebersihan tempat berlangsungnya acara. Di tempat tersebut juga saya sedikit terganggu dengan nyamuk-nyamuk yang ada di tempat tersebut mengingat dalam acara tersebut di adakan ditempat yang sangat teduh dan banyak tumbuhan yang bisa menjadi tempat hinggap nyamuk dan parkir yang disediakan sedikit sehingga banyak teman-teman sayang yang ikut berkunjunhg ke acara tersebut tidak mendapatkan parkir
Saran saya terhadap Acara Bali Spirit Festival agar menetralisir gangguan nyamuk yang sangat berbahaya tersebut agar pengunjung yang hadir dalam acara tersebut dapat menikmati acara dengan hikmat, serta agar menambah lahan parkit bagi pengunjung agar kendaraan yang dibawa pengunjung tidak parkir di opinggir jalan karena dapat menyebabkan kemacetan.

Perkembngan kalangan generasi muda dalam menggarap musik gamelan bali

Perkembangan Kalangan Generasi Muda
Dalam Menggarap Musik Gamelan Bali

Oleh:
I GEDE MEKEL EKALAWAYA (201602040)
I WAYAN ARYA ADIANA (201602049)
I PUTU JERY KARTIKA (20I602053)
I MADE ADJUS PRADIPTHA SEDANA (201602041)

Prodi Seni Karawitan
Fakultas Seni Pertunjukan
Institut Seni Indonesia Denpasar
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gamelan Bali adalah salah satu jenis alat musik gamelan tradisional yang khas dari Bali. Gamelan Bali ini memiliki beberapa perbedaan dengan alat musik gamelan pada umumnya, baik dalam bentuk maupun cara memainkannya. Gamelan Bali ini biasanya di tampilkan sebagai pengiring suatu pertunjukan kesenian di Bali, baik bersifat sakral maupun hiburan. Asal mula adanya Gamelan Bali,menurut beberapa sumber sejarah yang ada Gamelan Bali ini sudah ada sejak jaman dahulu kala. Hal tersebut bisa di lihat dari Prasasti Bebetin yang ada di Bali, yang menyebutkan bahwa gamelan sudah ada sejak tahun 896 masehi, yaitu pada masa pemerintahan Raja Ugrasena di Bali. Namun dikatakan pada masa itu gamelannya sedikit lebih sederhana daripada yang sekarang. Dimulai dari abad ke VIII saat terjadinya hubungan-hubungan antara kerajaan jawa dan Bali, membawa beberapa kesenian seperti gamelan jawa masuk ke Bali meskipun masih berupa instrumen terpisah. Hal ini lah yang membuat Gamelan Bali sekilas hampir mirip dengan gamelan jawa. Namun walaupun begitu Gamelan Bali tetap memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya berbeda dengan gamelan jawa, salah satunya adalah cara memainkan instrumentnya. Bila di bandingkan dengan permainan gamelan jawa, Gamelan Bali dimainkan dengan tempo yang lebih cepat. Definisi jenis Gamelan Bali ini dikelompokan menjadi tiga kelompok, diantaranya gamelan tua, gamelan madya dan gamelan baru. Dalam kelompok gamelan tua terdapat instrument seperti gambang, saron, selonding kayu, gong besi, gong luwang, selonding besi, angklung kelentang dan gender wayang. Kemudian untuk gamelan madya terdapat instrument seperti pengambuhan, semarpagulingan, pelegongan, bebarongan, joged pingitan, gong gangsa jongkok, babonangan, dan ringdik gandrung. Sedangkan pada gamelan baru terdapat instrument seperti pengarjaan, gong kebyar, pejangeran, angklung bilah 7, joged bung-bung,dan gong suling.

Fungsi Gamelan Bali, Gamelan Bali ini sangat sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Karena apabila dilihat dari fungsinya, Gamelan Bali sering digunakan untuk mengiringi upacara keagamaan dan hiburan. Dalam hal keagamaan, Gamelan Bali sering ditampilkan untuk mengiringi berjalannya upacara keagamaan atau mengiringi tarian tradisional yang bersifat sakral. Sedangkan dalam hal hiburan, Gamelan Bali sering ditampilkan sebagai pertunjukan musik maupun pengiring berbagai kesenian yang bersifat hiburan yang ada di Bali. Perkembangan Gamelan Bali merupakan salah satu alat kesenian yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Bali. karena bila dilihat dari fungsinya, selain sebagai pengiring pertunjukan bersifat hiburan, Gamelan Bali juga menjadi bagian dari upacara keagamaan di sana. Sehingga kesenian gamelan ini masih terus dilestarikan dan diajarkan secara turun temurun oleh masyarakat disana. Sekian pengenalan tentang “Gamelan Bali Kesenian Musik Tradisional dari Bali”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang ragam kesenian tradisional di indonesia.

Musik merupakan salah satu penyemangat hidup, tanpa musik kehidupan kita akan terasa sangat sepi dan pastinya membosankan. Karena musik bisa memberikan warna baru di dunia dan juga bisa menjadi penghibur diri kita. Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian. Walaupun musik adalah sejenis fenomena intuisi, untuk mencipta, memperbaiki dan mempersembahkannya adalah suatu bentuk seni. Mendengar musik pula adalah sejenis hiburan. Musik adalah sebuah fenomena yang sangat unik yang bisa dihasilkan oleh beberapa alat musik. Musik adalah hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya, melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu dan ekspresi.
Pada masa sekarang ini ada kecenderungan perbedaan persepsi yang dilakukan oleh generasi-generasi muda melalui berbagai atraksi kebudayaan yang pada segi-segi lain kelihatan agak menonjol, tetapi ditinjau dari segi yang lain lagi merupakan kemunduran, terutama yang menyangkut gerak-gerak tari dan penyuguhan gendhing-gendhing yang dikeluarkan. Anak muda terlihat tak tertarik gamelan karena tidak ada yang mengenalkan. Selain itu tidak ada yang mengajarkan. Itu tidak bisa disalahkan karena mayoritas orang tua, bahkan lingkungan sekolah, tidak mendukung anak mengenal gamelan. Bagi generasi muda, gamelan sulit diminati kalau dibunyikan seperti masa-masa dulu pada era orang tua atau kakek dan nenek mereka. Anak muda sekarang lebih menyukai jika membunyikan gamelan sesuka mereka dan dipasangkan dengan alat musik dan seni apa saja. Walaupun begitu, lewat cara-cara inilah gamelan mendapat jalan untuk lestari. Gamelan bukan sekadar alat musik tradisional atau obyek, namun ada spirit di dalamnya, yakni kebersamaan. Yang penting di sini adalah manusianya, yaitu bagaimana mereka merasa dekat dengan gamelan.
Perlu dipikirkan pula demi kelestarian kebudayaan kita sendiri yang sungguh-sungguh Adhi Luhur, penuh dengan estetika, keharmonisan, ajaran-ajaran, filsafat-filsafat, tatakrama, kemasyarakatan, toleransi, pembentukan manusia-manusia yang bermental luhur, tidak lepas pula sebagai faktor pendorong insan dalam beribadah terhadap Tuhan, yaitu dengan sarana kerja keras dan itikat baik memetri atau menjaga seni dan budaya sendiri. Jangan sampai ada suatu jurang pemisah atau gap dengan sesepuh yang benar-benar mumpuni (ahli). Bahkan komunikasi perlu dijaga sebaik-baiknya dengan sesepuh sebagai sumber atau gudang yang masih menyimpan berbagai ilmu yang berhubungan dengan masalah kebudayaan itu sendiri, terutama para empu-empu karawitan, tari dsb.
1.2 Rumusan Masalah
1. Generasi Muda Dalam Musik Tradisional
2. Kompeser Muda Di Bali
1.3 Tujuan
Agar kalangan generasi muda tetap melestarikan budaya yang telah ada, dan terus dikembangkan agar kesenian musik gamelan bali terus dikenal dalam manca negara.

BAB II
PEMBAHASAN

Generasi Muda Dalam Musik Tradisional

Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, musik tradisional juga adalah musik yang berkembang secara tradisional dikalangan suku-suku dan daerah tertentu. Tetapi dijaman serba modern seperti sekarang ini membuat musik tradisional mulai dilupakan oleh generasi muda. berkembangnya musik modern yang berimbas pada semakin tergerusnya musik tradisional karena berkurangnya minat generasi muda terhadap musik tradisional yang mereka anggap ketinggalan jaman dan tidak modern. Walaupun sekarang sudah banyak seniman yang memadukan alat musik tradisional dengan alat musik modern. Semua itu juga tidak lepas dari peranan pemerintah dan masyarakat yang kurang memperhatikan musik tradisional sebagai salah satu identitas budaya bangsa. Selain faktor pemerintah dan masyarakat juga ada faktor lain yang mempengaruhi kurangnya minat generasi muda terhadap musik tradisional, seperti arus globalisasi yang mengakibatkan masuknya kebudayaan luar yang lebih digemari oleh generasi muda sehingga kurangnya mengurai minat generasi muda terhadap musik tradisional. karena hal itu pula lah pemerintah harus ikut peran serta dalam menarik kembali minat generasi muda terhadap musik tradisional, selain pemerintah harus juga harus ada peranan dari seniman musik tradisional untuk berinovasi dan menciptakan musik tradisional yang kontemporer atau kekinian yang disenangi oleh generasi muda.
2.2 Kreatifitas dan Komposer Muda Di Bali
Bagi seseorang yang digolongkan ke dalam kelompok komposer, melakukan kreativitas merupakan sesuatu yang amat penting bagi dirinya. Ia akan merasa kehidupannya lebih hidup hanya dengan berkreativitas. Sebaliknya, ia akan merasa kehidupannya menjadi hampa tanpa berkreativitas. Kreativitas dilakukan dalam rangka mewujudkan potensinya, untuk mewujudkan dirinya, untuk berkembang dan menjadi matang, serta untuk mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas dalam dirinya, sehingga dengan demikian ia akan dapat menemukan jati dirinya sebagai seorang komposer. Umumnya di dalam berkreativitas, hal pertama yang menjadi keinginan batiniah seorang komposer adalah ingin mengolah inspirasi. Inspirasi yang diperoleh menyebabkan gerak hati, sehingga terjadi proses kreasi dan merupakan kekuatan yang memelihara proses penciptaan1. Setiap komposer memiliki metode tersendiri untuk meningkatkan ketrampilan, ketajaman musikal, dan daya kreatif yang mendukung proses penciptaan. Menurut Primadi, kreativitas adalah kemampuan manusia yang dapat membantu kemampuan-kemampuan yang lain, hingga secara keseluruhan dapat mengintegrasikan rangsangan luar dengan rangsangan dalam, sehingga tercipta suatu kebulatan yang baru2. Pernyataan tersebut menjelaskan, bahwa manusia pada dasarnya memiliki respon terhadap peristiwa yang terjadi untuk berbuat sesuatu dengan kemampuan kreatifnya, sehingga tercipta sesuatu yang baru, misalnya : pikiran-pikiran baru, penemuan-penemuan baru, dan lain sebagainya. Rangsangan luar yang mempengaruhi seorang komponis untuk melakukan proses kreativitas berupa peristiwa atau situasi tertentu yang mengilhaminya, kemudian mendapat rangsangan dari dalam berupa rangsangan ide/gagasan, merumuskan konsep, dan menghasilkan karya musik melalui proses penciptaan. Jika dicermati, dewasa ini hasil kreativitas para komposer telah menunjukkan kondisi yang semakin mapan. Salah satu hal yang dapat dicermati dari hal tersebut adalah tidak sedikit para komposer yang idealis dan ingin berkreativitas secara maksimal mulai mengembangkan bentuk-bentuk musik kontemporer sebagai wujud ekspresi kesenian. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kebebasan berekspresi dan bereksperimen secara maksimal tanpa dibelenggu oleh suatu peraturan-peraturan konvensional yang berlaku pada umumnya. Eksperimen-eksperimen yang dilakukannya bertujuan untuk mencari pembaharuan atau inovasi musik. Eksplorasi yang dilakukannya menghasilkan karya-karya baru dalam hal garap musiknya maupun konsep musiknya. Keinginan batin seorang komposer dalam proses kreativitas memperkuat sikap mereka dalam melakukan eksperimen secara terus menerus tanpa bertujuan untuk orientasi memenuhi kebutuhan industri.
Generasi muda di Bali terutamanya menggarap sebuah musik gamelan Bali, diantara yang paling digemari adalah Baleganjur. Baleganjur kini sudah eksis dikalangan generasi muda dalam berkreatifitasnya di bidang melestarikan budaya Bali. Dalam musik gamelan Bali dari setruktur bagian aliran musik, adanya pakem tradisi “Tri Angga” pengawit, pengawak dan pengecet. Komposer muda di Bali begitu banyak dan selalu ada di setiap Desa, Banjar ataupun suatu kelompok kesenian musik gamelan (Komunitas,Sanggar,Dll). Para komposer muda terbiasanya sudah melakukan sedikit perubahan dari segi tehnik maupun pola gending, kenapa bisa? Mungkin karena perkembangan dari musik barat yang mempengaruh daya pikiran atau gaya bahasa masa kini yaitu inspirasi yang terjadi, mungkin karena seringnya mendengarkan lagu barat. Dalam cara praktek dari kalangan muda kini yaitu adanya suata tenaga atau berenegik yang jelas dalam menuangkan sebuah karyanya dan mungkin tau keadaan disekitar mungkin sang musisi yang sebaya, tapi ada kesalahan dalam proses penuangan di kalangan generasi muda. Keakraban karena faktor sebaya atau umurnya yang tak beda jauh, dari sana terletaknya suatu kendala dalam berproses seperti bercanda, tidak menghiraukan, tidak dianggap serius dan bisa dibilang meremehkan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesenian tradisional merupakan salah satu bentuk budaya yang hidup dan berkembang dalam sebuah kelompok masyarakat atau kelompok etnis menjadi salah satu ciri khas. Kreatifitas muda dalam bereksperimen membuat sebuah karya baru, agar mengembangkan kesenian tradisi gamelan bali, apresiasinya melestarikan kesenian musik tradisinya dengan itu akan dapat memperoleh kepuasan berupa kesenangan dan kegembiraan.