proses pembuatan kendang

I Wayan Widastra atau yang sering di kenal Yan Tas, seorang seniman dan sekaligus pengerajin kendang yang berasal dari Banjar Getas Kawan Belahbatuh. Yan Tas yang lahir pada tanggal 11 agustus 1981, belajar membuat kendang dari Ayahnya sendiri yang bernama Bapak Weka. Dimana pengerajin kendang yang ada di Banjar Getas Kawan merupakan satu keluarga yang berumah pokok di rumah I Wayan Jendra. Kecintaan beliau terhadap instrumen kendang memberikan kesan akan bagaimana kendang gaya Gianyar. Banyak pengalaman beliau dalam berkarya membuat kendang, seringkali mengalami masalah terutama pada bagian bahan yang akan dijadikan kendang. Yan Tas mempunyai prinsip akan bagaimana menjalani bisnis yang sudah turun temurun dari buyut sampai sekarang dengan menjaga kualitas agar konsumen merasakan kepuasan yang baik.

 

BAHAN KENDANG

  1. Kayu

Dalam proses pembuatan instrumen kendang, kayu memberikan pengaruh dominan jika kayu tersebut tidak bagus akan mempengaruhi suara yang dihasilkan. Kayu yang di pakai dalam pembuatan kendang memakai kayu tewel lombok, tewel jawa, tewel sulawesi, tewel lampung, dan tewel bali. Dari kelima jenis kayu tersebut tewel bali merupakan bahan yang paling bagus untuk membuat kendang. Adapun jenis-jenis kayu tewel :

  • Tewel kuning yang menghasilkan suara yang standar.
  • Tewel hijau yang menghasilkan suara yang sangat bagus.
  • Tewel lolos merupakan kayu yang sangat besar tapi yang dicari isi dari tengah kayu tersebut tetapi tewel ini gampang pecah.

Bahan kayu biasanya dibuat berbentuk bulat dan dilobangi secara manual. Pengerjaan kayu membutuhkan waktu yang cukup lama karena dikerjakan dengan cara yang berbelit-belit seperti melubangi kayu dengan menggunakan parang dan dihaluskan menggunakan amplas. Dimana dalam melobangi kayu tergantung dari jenis kendang seperti :

  • Kendang gede
  • Kendang barong
  • Kendang krumpung

Perbedaan lobang kendang krumpung lebih kecil dari kendang barong, begitu juga kendang barong lobangnya lebih kecil dari kendang gede. Kendang gede yang mempunyai dua jenis yaitu lanang dan wadon perbedaannya berada pada lobang yaitu kendang wadon yang lobangnya lebih kecil dari pada kendang lanang.

 

 

  1. Kulit

Kulit adalah hal yang sangat penting yang bisa mempengaruhi bagus atau tidaknya suara kendang tersebut.  Kulit yang sering dipakai untuk membuat kendang bali adalah kulit sapi. di beberapa jenis kendang yang ada di bali kulit sapi yang di pakai juga berbeda menurut besar dan kecilnya kendang tersebut. Jenis-jenis kulit yang dipergunakan adalah sebagai berikut :

 

 

 

  • Kulit sapi betina besar

Kulit sapi betina biasanya digunakan untuk membuat kendang besar seperti kendang cedugan. Menurut narasumber kulit sapi betina sangat pas digunakan dikarenakan kulit sapi wanita cenderung lebih lembut dari sapi jantan.

  • Kulit godel (anak sapi)

Kulit godel atau anak sapi biasanya digunakan untuk membuat       kendang bebarongan.

  • Kulit ijug (anak sapi yang mati dalam kandungan)

Kulit ijung atau anak sapi yang mati dalam kandungan biasanya digunakan untuk membuat kendang krumpung atau kendang geguntangan.

Proses awal pengolahan kulit :

  1. Membersihkan bulu dengan memakai obor atau api.
  2. Mencuci bersih kulit
  3. Serut ( jika dipakai di mukak kendang diserut memakai penyerutan kayu yang kecil, jika dipakai tali jangat tidak diserut)
  4. Rendam tiga sampai empat jam
  5. Penyetelan dari mukak setelah itu baru menyetel bagian belakang

 

Pembuatan kendang biasanya memerlukan waktu paling cepat dua minggu. Dijaman sekarang perkembangan kendang sangat pesat, sekarang sudah ada kendang yang di ukir dan di beri prada untuk menambah kesan indahnya tampilan kendang tersebut.

MAKNA DAN FUNGSI REJANG SUTRI DI PURA SAMUANTIGA BEDUL

FUNGSI TARI REJANG SUTRI

Tari Sutri memiliki beberapa fungsi: (1) fungsi ritual, yaitu tarian ini bertujuan untuk penyucian palinggih-palinggih dan areal pura dalam rangkaian Bhatara-bhatari akan tedun untuk kembali ke yogan (tempat berstana) masing-masing. (2) Fungsi sosial, pelaksanaan Tari Sutri yang terkait dengan pelaksanaan piodalan (ngusabha) di Pura Samuantiga dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap masyarakatnya karena mampu menumbuhkan kerjasama yang baik antar warga, mengikat solidaritas masyarakat, menumbuhkan rasa kebersamaan, menumbuhkan rasa pengabdian yang tinggi, dan juga dapat memberikan hiburan bagi warga masyarakat. (3) Fungsi Estetika, pelaksanaan tarian ini dapat memberikan fungsi estetika karena tarian ini memenuhi beberapa unsur estetika yang dapat membangkitkan rasa keindahan. (4) Fungsi pelestarian, tarian ini wajib dan harus dilaksanakan pada pelaksanaan upacara piodalan (ngusabha) di Pura Samuantiga Bedulu yang bertujuan menyucikan palinggih-palinggih serta areal pura dalam rangkaian Bhatara-bhatari tedun dan masih tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Pentingnya tarian ini dalam menunjang jalannya upacara piodalan (ngusabha) di Pura Samuantiga menyebabkan kehidupan tarian ini tetap langgeng dan diteruskan oleh generasi penerusnya sehingga tarian ini dapat mempertahankan kearifan lokal dalam globalisasi.(5) Fungsi Pengobatan, yaitu pengobatan secara spiritual yang berkaitan dengan upacara piodalan (ngusabha) di Pura Samuantiga. Tari Sutri yang dilaksanakan dalam upacara piodalan (ngusabha) di Pura Samuantiga mampu menambah keyakinan warga masyarakat tentang adanya kekuatan di luar dirinya serta mampu sebagai sarana pengikat solidaritas, kebersamaan, kesatuan dan persatuan sehingga dalam masyarakatnya terjadi suatu keseimbangan dan mencegah terjadinya konfli

MAKNA TARI REJANG SUTRI
Dari pelaksanaan Tari Sutri di dalamnya mengandung makna religius, makna solidaritas, makna estetika dan makna simbolis. Makna religius, dengan melaksanakan tarian ini dalam pelaksanaan upacara piodalan ngusabha warga masyarakat khususnya permas sepert
memperoleh keselamatan dan perlindungan serta mengalami pengalaman-pengalaman yang religius seperti merasakan sangat gembira, tidak punya rasa malu, dapat melakukan gerakan dengan ringan, tidak merasa lelah. Pengabdian yang tulus ikhlas yang dilakukan dalam melaksanakan upacara mengandung makna kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin bagi kehidupan masyarakatnya. Makna solidaritas, pelaksanaan tarian ini dalam upacara mengandung makna kebersamaan, kesatuan dan persatuan, kesabaran dan hiburan sehingga menimbulkan rasa solidaritas yang tinggi. Makna estetika, memberikan rasa senang, gembira, puas, nyaman, tidak merasa malu, tidak merasa lelah bagi pelaku maupun penikmat sehingga mereka mendapatkan kepuasan lahir batin. Makna simbolis, dapat dilihat dari gerak, busana dan properti. Makna gerak secara spiritual gerak-gerak yang dilakukan mengandung beberapa makna antara lain makna penyucian secara lahir batin, makna kebersamaan, kesadaran, kesatuan dan persatuan, makna penyucian palinggih-palinggih beserta areal pura. Makna busana terdapat pada warna putih yang menyimbolkan kesucian dan warna hitam menyimbolkan Dewa Iswara yaitu dewanya air.

Filsafat Tari Legog Raja China

2.2 Filasafat Bentuk Tari Legong Raja Cina

Tari legong Raja Cina merupakan sebuah tarian yang bersifat hiburan atau balih-balihan. Menurut A.A Rai Serama Semadi tarian legong Raja Cina merupakan sebuah bentuk artikulisi sebuah kebudayaan yaitu budaya hindu bali dengan cina yang diperkirakan diciptakan pada tahun 1930-an. Pada intinya tari legong Raja Cina dikisahkan Raja Bali menikah dengan orang Cina. Tarian ini direkonstruksi pada bulan juni tahun 2012, dengan data-data yang diperoleh dari beberapa informan baik informan seni tari maupun seni tabuh.

Dilihat dari bentuk dan konsep tarian ini menggunakan kosep tari pelegongan, ditarikan oleh tiga orang penari putri dengan mengguakan cirikhas legong saba yaitu, gerakan nyeregseg, dan agem yang lebih rendah. Tarian ini menggambarkan tiga tokoh yaitu raja Jaya Pangus, Kang Cing Wie dan Dewi Danu. Tarian ini menceritakan kisah cinta raja jaya pangus dengan Kang Cing Wie. Diceritakan raja Jaya Pangus dan Kang Cing Wie dalam pernikahannya tidak dikaruniai seorang anak, dalam hal tersebut Raja Jaya Pangus memutuskan untuk melakukan pertapaan untuk memperoleh keturunan. Setelah lama Jaya Pangus melakukan pertapaan Kang Cing Wie memutuskan untuk mencari Raja Jaya Pangus. Akhirnya Kang Cing Wie menemukan Raja Jaya Pangus  di dalam hutan Gunung Batur. Dalam pertemuan yang penuh kasih tersebut Raja Jaya Pangus mengatakan bahwa dirinya sudah melakukan pernikahan dengan Dewi Danu. Dalam pertemuan tersebut dewi danu melihat suaminya bercinta dengan Kang Cing Wie, melihat hal tersebut Dewi Danu marah dan membakar Kang Cing Wie dan Raja Jaya Pangus.

Dilihat dari bentuk tabuhnya, tarian ini memakai pakem-pakem tarian legonng yaitu terdiri dari kawitan, pengawak dan pengecet. Tarian ini menggunakan ansambel semare pagulingan saih lima. Bentuk tabuh ini diperoleh dari buku yang deberikan oleh maestro kesenian di Bali yaitu I Wayan Berata dalam bentuk pengawak yang diaransemen oleh I Gusti Ngurah Jaya Kesuma.

Pada intinya tarian ini merupakan sebuah artikulasi budaya Bali dengan Cina yang menghasilkan sebuah kebuadayaan yang baru. Menurut A.A Rai Serama Semadi penggambaran barong landung dalam tarian ini bukanlah perubahan wujud dari Raja Jaya Pangus dengan Kang Cing Wie, tetapi merupakan sebuah artikulasi budaya antara budaya Bali dan Cina.

2.3 Tujuan Dari Karawitan Pendukungnya

Musik sebagai iringan tari sangat memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu banyak ungkapan yang mengatakan bila ibarat musik ibaratkan sayur tanpa garam, ibarat siang tanpa malam. Dan ungkapan lainnya sesuai dengan aspirasi maupun selera setiap orang untuk mengungkapkan perasaan mereka. Melihat pengalaman yang ada di iringan tari atau koreografi secara mendasar dapat dibagi menjadi dua iringan yang bersifat Konvensional dan nonKonvensional.

 

 

  • Iringan Tari Konvensional

Mengutamakan unsur-unsur tradisi baik dalam pemanfaatan instrumennya maupun pengolahan unsur-unsur musikalnya termasuk aturan-aturan yang menyangkut struktur atau komposisinya

 

 

 

  • Iringan Tari non Konvesional

Sebaliknya tidak terlalu terkait pada aturan tradisi baik dalam pemanfaatan alat-alat musiknya maupun pengolahan unsur-unsur musikalnya dengan kata lain seorang koreografi boleh lebih bebas dalam menata iringannya dengan tidak mengabaikan keindahan dan makna dari sebuah iringan.

Media yang digunakan dalam iringan Tari Legong Raja Cina adalah gamelan palegongan. Gamelan palegongan sesungguhnya dekat gamelan semare pegulingan baik secara mode maupun secara instrumentasinya biasanya memakai pelog nada, gamelan ini khusus mengiringi tari palegongan yang merupakan tari klasik warisan raja- raja zaman pemerintahan dalem dari kerajaan Semarapura Klungkung. Kemudian untuk komposisi musikal dari iringan Tari Legong Raja Cina berawal dari keinginan untuk merekonstruksi tarian oleh I Gusti Ngurah Serama Semadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Tari legong Raja Cina merupakan hasil dari rekonstruksi tari lenggong yang pernah ada pada tahun 1930-an yang mengangkat cerita tentang pernikahan Raja Jaya Pangus dengan Kang Cing Wie, tarian ini direkostruksi pada tahun 2012 di Art Center oleh A.A Rai Serama Semadi.

Tarian ini ditarikan oleh tiga penari putri, dengan bentuk tari palegongan yang terdiri dari pepeson, pengawak dan pekaad. Tarian ini diiringi menggunakan ansambel semare pagulingan saih lime yang diaransemen oleh I Gusti Ngurah Jaya Kesuma.

Barong landung yang biasanya merupakan sebuah perubahan wujud dari Raja Jaya Pangus dengan Kang Cing Wie dibantah oleh A.A Rai Serama Semadi. Sesungguhnya barong landung tersebut merupakan sebuah artikulasi budaya antara budaya Bali dan Cina yang menghasilkan sebuah kesenian barong landung, bukan perubahan wujud Jaya Pangus dan Kang Cing Wie.

Saran

Saran saya kita sebagai orang bali kita harus melestarikan kesenian yang ada di pulau Dewata ini. Seperti tarian legong klasik yang dibahas diatas ini, karena banyak kesenian Bali yang sudah hilang karna jarang di rekontruksikan kembali, sebaiknya kita harus mempelajari dan mendalami kesenian Bali.

Tabuh Kreasi Manyi

MANYI

Komposer : I Putu Suwarsa S.Sn

 

Manyi adalah sebuah seka yang bekerja di sawah untuk mendapatkan gabah yang akan didaur ulang supaya bisa menjadi beras. Garapan ini adalah ucapan rasa terima kasih untuk para leluhur yang berada di Br. Palak Sukawati, karena berkat adanya Seka Manyi terbentukalah gamelan gong kebyar. Seka Manyi ini menjalankan seni tradisi, khususnya seni karwitan dengan iklas tanpa pamrih. Sedikit demi sedikit mereka membeli alat gamelan, sehingga terbentuklah sebuah barungan gamelan gong kebyar.

Warisan leluhur patut kita jaga dan lestarikan, maka dari itu penata menggarap sebuah karya seni tabuh kreasi. Selain menjaga warisan tersebut, kita juga harus mempunyai sekehe gong anak-anak supaya nantinya ada yang menjaga warisan jika kita sudah tiada nantinya. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan musik dari barat yang sudah mempengaruhi musik tradisi kita, penata memadukan juga pola-pola tersebut dalam karya tabuh kreasi ini, seperti: polyrythm, polymeter.

Walaupun zaman sudah berkembang jauh akan tetapi penata tidak lupa dengan adanya sebuah landasan yang dipakai untuk menciptakan sebuah karya seni, khususnya seni karawitan. Dalam penggarapan karya ini penata menggunakan pola Tri Angga. Tri Angga berarti tiga bentuk yang digabungkan sehingga menjadi sebuah karya. Tiga bentuk ini dibagi, diantaranya: kawitan, pengawak dan pengecet, tetapi urutannya berbeda dengan biasanya, penata menggarap dengan urutan, yaitu: kawitan, pengecet dan pengawak. Adapun analisa gending yang menginspirasi penata:

Kawitan

Pada bagian kawitan adalah bagian pertama dari garapan ini. Bagian ini terinspirasi dari persatuan seka manyi yang sangat kuat, sehingga bisa mempunyai gamelan yang utuh.

Pengecet

Terinspirasi dari keiklasan seka manyi ini, penata menggarap alunan melodi yang harmoni, sehingga banyak terdengar nada yang harmoni. Harmoni menandakan adanya hubungan yang harmonis satu sama yang lain, dimbangi dengan sentuhan ritme yang dipadukan dengan melodi hingga terwujud kesan atau suasana yang bergembira.

Pengawak

  1. Gegenderan

Pada bagian ini penata menggarap sebuah kelincahan dari tangan pemain instrumen pemade. Hal ini menginspirasi kelincahan seka manyi yang sedang ‘menebuk’ padi.

  1. Bapang

Keras, tegas, tetap pendirian, itulah sifat dari seka manyi ini. Jika tanpa sifat ini, tidak mungkin akan terwujudnya keinginan yang kita inginkan.

Sejarah dan Perkembangan Gong Kebyar di Banjar Telabah Sukawati Gianyar

Begitu juga dengan sejarah gong kebyar yang ada di Banjar Telabah Sukawati, Kecamatan Sukawati. Menurut hasil dari penelitian yang dilakukan sampai sekarang dengan keterbatasan informasi belum diketahui dengan pasti pada tahun berapa gambelan gong kebyar tersebut lahir di Banjar Telabah Sukawati.Namun Pekak Turun mangatakan gambelan tersebut sudah ada semasa kakek beliau masih hidup. Sebelum gambelan gong kebyar tersebut dimiliki oleh Banjar Telabah Sukawati, gambelan tersebut pertama kali dimiliki oleh sekeha demen-demenyangada di lingkungan Banjar Telabah Sukawati. Sekeha demen-demen itu dalam istilah di Bali yang artinya sekeha yang terbentuk karena dasar suka atau senang untuk membuat sekeha atau organisasi tersebut. Selain anggotanya berasal dari lingkungan Banjar Telabah, anggota sekeha tersebut ada juga yang berasal dari Banjar Gelumpang Sukawati dan dari Banjar Palak Sukawati. Tempatgambelannyabertempat di sebelah utara Bale Los Banjar Telabah yang ada sekarangyang merupakan rumah nenek Kandung saya sendiri yang bernama Korti. Gambelan tersebut alat atau instrumennya di beli di Tiyingan, Klungkung, dengan satu per satu sesuai kemampuan sekeha tersebut membeli salah satu instrumen tersebut hingga menjadi setengah barungan. Tempat untuk menaruh bilahan gambelan (plawah) tersebut dulunya terbuat dari kayu Pohon Timbul yang belum berisi ukiran.

Gambelan tersebut awalnya merupakan gambelan semarpegulingan yang semua instrumen gangsa atau yang berbilah hanya memakai lima (5) nada saja. Yang bentuk daripada bilah gangsa tersebut berbentuk seperti bilah gong gede. Karena hanya memakai lima (5) nada, pada saat itu mereka belum memainkan tabuh kakebyaran melainkan hanya bisa memainkan tabuh lealambatan saja. Namun karena keterbatasan informasi, tabuh-tabuh yang mereka mainkan itu tidak diketahui nama-nama daripada tabuh tersebut oleh narasumber.

Instrumen gong dari gong kebyar tersebut diketahui sangat angker (tenget), karena ke angkeran gong tersebut, jika tidak dihaturkan banten atau sesaji pada waktu hari rahinan kajeng kliwon maka gong tersebut bergerak ber ayun-ayun dengan sendirinya yang gong tersebut di tempatkan di jineng (jineng dalam istilah di Bali yaitu tempat untuk menaruh beras). Tetapi gong yang angker itu di curi. Saking cerdiknya pencuri tersebut, sampai-sampai masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa gong tersebut di curi. Namun Orang tua dahulu mengatakan gong yang di curi tersebut berada di Desa Tegak namun tidak diketahui sekarang gong tersebut masih disana atau tidak.

Setelah gong tersebut di curi, sekeha tersebut bubar atau tidak aktif lagi. Karena sekeha itu bubar atau tidak aktif lagi, gambelan tersebut diserahkan atau di jual ke banjar. Dengan hasil kespakatan Banjar, akhirnya gambelan tersebut pun di beli oleh krama atau masyarakat Banjar Telabah. Dari sinilah masyarakat Banjar Telabah baru mempunyai gambelan.

Setelah gambelan tersebut di beli oleh banjar, gambelan tersebut langsung di perbaiki dengan ditambahkannya bilah dari gangsa tersebut hingga menjadi sepuluh bilah gambelan dan gambelan tersebut yang dulunya gambelan tersebut merupakan gambelan semarpegulingan dirubah menjadi gambelan gong kebyar. Ditambahkannya bilah gambelan tersebut juga ditambahkannya instrumen yang disebut penyacah. Gambelan tersebut diperbaiki oleh pande atau tukang yang sama yang berasal dari Tiyingan, Klungkung. Karena krama banjar takut bilah dari gambelan pada waktu perbaikan bilahnya di tukar oleh pande tersebut maka gambelan tersebut di perbaiki tidak di bawa ke Klungkung, melainkan gambelan tersebut di perbaiki langsung di bale banjar Telabah Sukawati.Sekaligus plawahnyadigantikan dengan kayu dari Pohon Timbul. Dan plawahnya juga digantikandengan plawah yang baru yaitu plawah yang terbuat dari Pohon Sentul yang kayu dari plawah tersebut nunas(minta) di Pura buda Manis yang berada di sebelah timur Bale Banjar Telabah Sukawati sekarang. Namun bilah daripada gambelan tersebut masih menyerupai gambelan gong kebyar yang ada di Buleleng atau seperti bilah gambelan gong gede.

Dan perbaikan yang berikutnya kembali dilakukan guna mendapatkan hasil suara gambelan yang bagus. Setelah plawahnya terbuat dari kayu Pohon Sentul, kali ini plawah tersebut diganti dengan plawah yang terbuat dari Kayu Tewel (kayu pohon nangka). Pada saat perbaikan ini, bilah gambelan tersebut yang dulunya berbentuk seperti bilah gambelan gong kebyar yang ada di Buleleng atau seperti bilah gambelan gong gede, bilah gambelan tersebut juga di rubah bentuknya seperti gong kebyar yang ada di Bali Selatan sekarang.

Dan akhirnya seiring berjalannya waktu, perbaikan yang terakhir untuk plawah daripada gambelan tersebut digantikan dengan plawah yang terbuat dari kayu tewel juga, namun kali ini plawah tersebut sudah memakai ukiran dan ukiran atau plawahnya sudah ditambahkannya prada. Sedangkan plawah yang terbuat dari kayu tewel yang sebelumnya, plawah tersebut di jual ke griya yang ada di Banjar Gelumpang seharga dua juta rupiah.

 

2.2       Pengorganisasian (bagaimana pemakaian daripada gambelan tersebut).

 

Pekak Turun merupakan orang yang pertama kali yang ikut dalam organisasisekeha gong tersebut dengan teman-teman beliau yang bernama Ketut Rukun, Kondreg dan teman-teman beliau yang lainnya yang beliau tidak ingat satu persatu. Ketut Rukun dan Kondreg tersebut merupakan tukang kendang lapisan kedua, setelah tukang kendang yang pertama yaitu bernama Ida Bagus Gede Kenyir atau Ida Kakyang Kenyir yang griya Ida bertempat di sebelah utara Perantenan Banjar Telabah yang ada sekarang. Dan Ida berpasangan dengan Ida Pedandha yang sudah mantuk dari Griya Anyar yang ada di Banjar Telabah. Mereka merupakan pasangan tukang kendang yang pertama kali sejak mulainya terbentuk sekeha gong di Banjar Telabah. Namun karena pada saat itu ida kakyang dan ida perandha tidak termasuk masyarakat Banjar Telabah lgi karena sesuatu hal, jadi ida kakyang dan ida pedandha mengundurkan diri dari sekeha gong tersebut.

Setelah pasangan tukang kendang Ketut Rukun dengan Kondreg tersebut, mereka digantikan oleh Pekak Turun yang berpasangan dengan teman beliau yang bernama Krudut. Namun sebelum pasangan Pekak Turun, beliau mengatakan ada lagi sepasang tukang kendang namun beliau lupa nama dari tukang kendang tersebut. Sistem latihan yang digunakan oleh sekeha tersebut yaituditetapkan oleh sekeha dan pelatih waktu itu. Dengan latihannya setiap hari dari pagi jam 8 sampai jam 12 siangdan waktu latihan tergantung pada pelatih. Kemudian lanjut latihan pada malamnya mulai dari jam 7 sore sampai jam 11. Dan kadang-kadang latihan malam selesai hingga jam 12. Karena saking malamnya selesai latihan, sekeha tersebut sampai nangkil di Pura Banjar yang dijadikan tempat untuk latihan tersebut. Masyarakat Banjar Telabah dahulu membalas dari pelatih tersebut, setiap tempekan yang ada menyumbangkan pemuunan untuk diberikan kepada palatih.Pelatih sekeha gong saat itu berasal dari Banjar Pinda, Saba yaitu Krempang, Senen (Alm), Kromod,Gatra. Selain itu ada pula pelatih yang pertama kali melatih di Banjar telabah yaitu bernama Granyam dari Banjar Babakan Sukawati. Beliau saat itu menuangkan lelambatantabuh 3 (yang tidak ingat narasumber judul dari tabuh tersebut). Juga pernah ada pelatih yang berasal dari Banjar Saba yaitu sring dipanggil Gung Kak Saba beliau merupakan Ayah dari I Gusti Ngurah Serama Semadi, SSP.,M,Si. Dan Pekak Sueca.

Adapun nama-nama dari penabuh dari sekeha gong Banjar Telabah yang pertama kali yaitu:

  • Ida Bagus Kenyir,
  • Ida Pedandha Griya Anyar,
  • Turun,
  • Krudut,
  • Rukun,
  • Kondreg (Kumpi dari peneliti),
  • Wates,
  • Raju,
  • Radjem,
  • Limun,
  • Data,
  • Grudut,
  • Sukada,
  • Regep,
  • Tinggal,
  • Mangkrong / kakek kandung peneliti (Alm),
  • Wenten,
  • Mangku dari Pura Tumpek (Alm),
  • Dudit,
  • Awig,
  • Karmana,
  • Cidra,
  • Jorog,
  • Jawi,
  • Kantor,
  • Wareg,
  • Cager,
  • Suji,
  • Pugeg,
  • Juma,

Dari sekian tahun lamanya dari sekeha itu berdiri adapun jenis kegiatan yang pernah mereka lakukan untuk periode sekeha gong di atas yaitu:

  • Ngayah nabuh di pura-pura sekitar (Desa Camenggaon, Desa Guang, d.l.l. .),
  • Ngayah drama gong di Klungkung,
  • Ngayah tari lepas di pura pura sekitar,
  • Mebarungan dengan Pengosekan, dalam rangka penggalian dana Banjar Palak Sukawati,
  • Mewakili Kecamatan Sukawati dalam PORCAM atau festifal seni yang diadakan di Desa Batuan yang di damping oleh Banjar Camenggaon,
  • Membuat arja,
  • l.l. .

Dan adapun musik iringan (tabuh) dan iringan tari yang dimiliki oleh sekeha pada periode tersebut yaitu:

  • Tabuh Kembang Koning,
  • Tabuh Kreasi Sekarini,
  • Tabuh 6 lelambatan Galang Kangin,
  • Tabuh Kembag Koning,
  • Tari Oleg Tamulilingan,
  • Tari Margapati,
  • Tari Panji Semirang,
  • Tari Nelayan,
  • Tari Legong Saba,
  • Iringan Arja,
  • Dan iringan Drama Gong.

Sistem yang dipakai dalam sekeha tersebut dalam memainkan gambelannya yaitu dengan sistem roling. Pada suatu ketika ada sekeha yang tidak kuat untuk menangkap lagu atau tidak kuat untuk ikut dalam sekeha tersebut, mereka langsung digantikan oleh salah satu dari sekeha tersebut dengan sistem roling tersebut. Namun terkadang pula mengambil ulang dari kalangan masyarakat.

Setelah sekeha tersebut melalui berbagai pengalaman, hingga terjadi penyisihan dan pengambilan sekeha dari masyarakat,sehingga terbentuklah sekeha periode yang kedua yang aktif sampai sekarang. Seperti halnya ayah saya sendiri yang pernah ikut dalam sekeha gong periode ini, namun seiring berjalannya waktu pada akhirnya ayah saya mengundurkan diri dari sekeha tersebut. Tidak saja beliau, banyak teman-temannya yang mengalami hal serupa yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.Sekeha periode ini pernah dilatih oleh bapak Lanus, Widya (penarungan), Dewa Beratha, Marca, Kumpul, dan Bapak Ketut Cater.

Berbagai pengalaman juga didapatkan oleh sekeha tersebut di atas yaitu:

  • Ngayah nabuh setiap ada odalan di pura banjar dan kahyangan tiga ataupun di upah untuk mengiringi upacara ke-agamaan masyarakat setempat,
  • Ngayah Calonarang di Pura Dalem Gede Sukawati,
  • Membuat drama yang di pentaskan saat kegiatan Karya di pura banjar,
  • Membuat Tari Janger,
  • Ngayah di Banjar Guming Penarungan,
  • Ngayah tari lepas di pura kahyangan tiga,
  • Mengikuti lomba balaganjur se Desa Sukawati pada tahun 1989.

 

 

Adapun nama-namasapaan dan tanggup jawab dari organisasi penabuh dalam periode ini yang aktif sampai sekarang yaitu:

  • Sukadana,
  • Mudita,
  • Kade,
  • Nik Ketib,
  • Lancar,
  • Kaik,
  • Balik Sero,
  • Dana,
  • Lekus/Marioto (Penyarikan),
  • Koming,
  • Jirna,
  • Rasma,
  • Jelas,
  • Komag Tarka,
  • Madya,
  • Sangra,
  • Suarda
  • Wayan Joni,
  • Badung,
  • Gambrong,
  • Surita,
  • Nyoman Parsa,
  • Warika (Penyarikan),
  • Tagel,
  • Budiarta/Dek Jog,
  • Konco,
  • Wira,
  • Balik Pungguh,
  • Balok,
  • Mambo,
  • Tempeh,
  • Totog,
  • Mang daweg,
  • Kencu (Penyarikan),
  • Muncul,
  • Adik,
  • Liong,
  • Epo,

Dan adapun musik iringan (tabuh) dan iringan tari yang dimiliki oleh sekeha pada periode tersebut yaitu:

  • Tabuh Kembang Koning,
  • Tabuh 4 Semarandhana,
  • Tabuh 6 Galang Kangin,
  • Gilak,
  • Dan Tabuh Sarwa Manis.

 

Namun pada periode ini pernah terjadi pembubaran penabuh karena masalah tanggung jawab dan bermasalah pada kepengurusan sekeha. Krama Banjar melakukan ulang penabuh. Dan hasilnya tidak seperti apa yang diharapkan. Karena kejadian tersebut, masyarakat banjar mengadakan peparuman banjar. Dan hasil dari keputusan menyatakan bahwa, sekeha yang bubar tersebut di rangkul kembali dengan kebijakan banjar bagi masyarakat yang tergabung dalam sekeha gong banjar, maka orang tersebut tidak dikenakan kewajiban seperti pepeson ketika odalan pura banjar atau pura kahyangan tiga dan sebagainya. Mereka hanya ditugaskan menabuh mengiringi segala upacara ke agamaan yang ada di masyarakat sekitar. Pada akhirnya sekeha tersebut kembali normal dan dipilihlah pengurus sekeha yang baru yang aktif sampai sekarang.

 

2.3       Instrumen.

Seperti gambelan gong kebyar pada umumnya, gambelan Gong Kebyar Banjar Telabah Sukawati ini memiliki barungan gambelan yang hampir sama dengan barungan gong kebyar pada umumnya.

Adapun alat atau instrumen gambelan Gong Kebyar yang dimiliki oleh Banjar Telabah sampai saat ini yaitu:

  • Dua pasang kendang cedugan Lanang dan Wadon,
  • Dua pasang pemade, polos dan sangsih,
  • Dua pasang kantilan, polos dan sangsih,
  • Dua tungguh ugal atau giying,
  • Dua tungguh penyacah,
  • Dua tungguh calung,
  • Dua tungguh jegogan,
  • Dua tungguh gong lanang dan wadon,
  • Satu tungguh bende,
  • Satu tungguh kempur,
  • Satu tungguh kentong atau kemong,
  • Satu tungguh reong,
  • Satu tungguh terompong,
  • Satu buah ceng-ceng,
  • Satu buah kajar,
  • Satu buah kempli,
  • Sebelas cakup ceng-ceng kopyak,
  • Dan lima belas batang suling.

 

2.4       Fungsi

 

Seperti kegunaan atau fungsi daripada gong kebyar pada umumnya, gambelan gong kebyar yang dimiliki oleh Banjar Telabah ini mempunyai fungsi yang berkaitan dengan keagamaan. Disamping itu, gambelan gong kebyar ini juga digunakan dalam ajang lomba kesenian, media hiburan dan pengembangan bakat untuk masyarakat atau generasi Banjar Telabah Sukawati.

Gambelan tersebut dikatakan berfungsi yang berkaitan dengan ke-agamaan karena setiap odalan di pura kahyangan tiga atau odalan di pura banjar, gong kebyar Banjar Telabah selalu ngayah nabuh untuk menambah suasana spiritual dan mengiringi dan menyambut turunnya para dewa dengan memainkan tabuh lelambatan. Dan juga digunakan untuk mengiringi tarian yang menyambut kedatangan para dewa yaitu Tari Rejang Dewa dan Baris Gede. Selain mengiringi tarian tersebut, juga digunakan untuk mengiringi tari Topeng Pajegan yang tarian tersebut memiliki hubungan erat dengan upacara keagamaan. Disamping itu juga, Sekeha Gong Remaja Banjar Telabah ikut mengambil bagian untuk kegiatan ke-agamaan dengan gong kebyar tersebut. Karena belakangan ini sekeha Gong Remaja Banjar Telabah sangat aktif dalam kegiatan ke-agamaan di pura kahyangan tiga maupun di pura banjar dengan ngayah tetabuhan.

Seperti layaknya gambelan gong kebyar yang di gunakan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Gong kebyar Banjar Telabah juga memiliki fungsi sebagai ajang lomba kesenian, karena seperti yang di jelaskan di atas, Gong Kebyar Banjar Telabah Pernah Mengikuti Festifal yang dilaksanakan di Desa Batuan dan yang dilaksankan di Banjar Palak Sukawati. Selain itu juga, pada tahun 2012 lalu, sekeha gong anak-anak Banjar Telabah ini ditunjuk oleh PEMKAB Gianyar untuk seleksi gong kebyar yang berhadapan dengan sekeha gong anak-anak Banjar Palak Sukawati yang di menangkan oleh sekeha gong anak-anak Banjar Palak tersebut.

Dan juga dikatakan sebagai media hiburan, karena hampir setiap odalan di pura banjar atau di pura kahyangan tiga dan kegiatan yang lain sekeha gong remajanya selalu aktif mengisi hiburan seperti tari lepas. Belakangan ini Sekeha Gong Remaja Banjar Telabah saat odalan di pura banjar mengadakan mebarungan dengan sekeha gong dari Banjar Pinda, Saba.

Suatu saat nanti peneliti percaya bahwa gong kebyar yang ada di Banjar Telabah Sukawati akan digunakan oleh generasi berikutnya secara maksimal dan berkembang seiring berjalannya zaman dan waktu.