Drama musical

Drama musickal
Dramamusikal adalah garapan yang menggabungkan music barat dengan alat music Bali Gong gede dan gambelan diatonic yang dimiliki oleh Bapak Inyoman Winda selaku penggarap iringan dari drama musical ini, selama menjalani proses latihan kurang lebih 1 bulan ini sangat banyak pengalaman penting yang dapat saya petik dari proses memadukan music barat dengan gambelan Bali tersebut, untuk memadukan nada gambelan bali dengan music barat terebut penggarap memadukan nada-nada tertentu yang bisa untuk dikombinasikan, disna semua alat music dan gambelan bermain bersama dengan memadukan nada-nada yang dekat dengan nada dari alat music barat tersebut, selain itu pada saat bermain bergiliran antara music dengan gambelan diatonic dan gambelan diatonic dengan gong gede tersubut saya banyak melihat gending yang ketukannya genp dan ganjil. dari proses ini saya sebagai pendukung awalnya mendapatkan posisi di bagian Gong gantung, dari kebyar-kebyar yang terdapat di babak pertama sampai babak terakhir tersebut saya sebgai pemain Gong harus bisa peka pada jatuh-jatuhnya pukulan gong dengan nada gambelan yang dipergunakan, dari sana juga saya sangat banyak mendapatkan pengalaman menjadi juru pukul gong agar bisa peka untuk bagaimana mencari pukulan gong yang bisa mencari alur nada gong dengan music/gambelan yang diperlukan didalam garapan tersebut. dan yang paling saya suka pada saat pesiat raksasa tersebut, disaat gending kebyar pesiat raksasa tersebut terdapat gending-gending yang itungannya yang genap dan ganjil, darisana saya dapat belajar banyak tentang menyesuaikan suara gong lanang dan wadon agar jatuhnya gong dapat mengikuti alur gending yang sedang dimainkan, setelah itu terdapat gilak yang menggunakan 4 pukulan kempul dan 2 pukulan gong didalam 1 putaran gending tersebut. Dari permainan music kami pemain gambelan pernah kesulitan untuk menyamakan tempo dari perminan pada saat tempo dari gambelan dengan tempo dari music yang digabungkan tidak menyatu dengan sempurna karena tempo dari gambelan dngan music belum sama, setelah lama kami trus dengan giat berlatih untuk menyatukan rasa dengan musik akhirnya rasa tersebut bisa menyatu dari alur music ke gambelan dan dari gambelan bisa menyatu ke music. dan pada gladi kotor disana kembali tempo/rasa yang kita mainkan dengan music tidak mau menyatu lagi karena kendala dari soun kami dari pemain gambelan tidak mendengar permainan tempo dari music dan sebalikannya pemain music juga tidak mendengar permainan dari gambelan, dan dari pementasan perdana kampus ISI Denpasar membawakan garapan Drama musical yang menggunakan alat music barat,gambelan gong gede dan gambelan diatonic, sangatlah memuaskan karena latihan yang berbulan-bulan untuk menyatukan rasa dengan semua pemain gambelan dan pemain music kami sudah bisa terlewati dengan sempurna darisanalanh rasa kebanggaan kami sangat menggebugebu karena garapan perdana dari kami sudah berjalan dengan lancer dan apa yang kita harapkan bersama.

akustik ruang

AKUSTIK RUANG DAN AKUSTIK TERBUKA

Menurut I MADE SUDARIANA,ST Akustik Ruang terdefinisi sebagai bentuk dan bahan dalam suatu ruangan yang terkait dengan perubahan bunyi atau suara yang terjadi. Akustik sendiri berarti gejala perubahan suara karena sifat pantul benda atau objek pasif dari alam. Sistem Akustik Ruang sangat mempengaruhi desain arsitektur pada ruang dalam, terutama pada hall, auditorium, studio, dan ruang-ruang yang sering dipakai untuk kegiatan yang mengeluarkan suara besar. Akustik ruang sangat berpengaruh dalam reproduksi suara, misalnya dalam gedung rapat akan sangat mempengaruhi artikulasi dan kejelasan pembicara.
Akustik ruang banyak dikaitkan dengan dua hal mendasar, yaitu :
• Perubahan suara karena pemantulan dan
• Gangguan suara ketembusan suara dari ruang lain.
Yang pada intinya sistem akustik ruang adalah cara menata suatu ruang agar suara tidak terjadinya gangguan suara pada ruangan-ruangan seperti hal, panggung, auditorium, atau studio. Menurut narasumber diatas ada beberapa cara mendesain akustik ruang yaitu dengan material penutup dinding, bentuk dinding dan ceilling, pengaturan tata suaranya sendiri, tekstur permukaan dinding, dan lain-lain.
pantulan dinding : merupakan bidang masiv yang akan memantulkan jika tidak terdapat bahan yang bisa menyerap gelombang cahaya pada dinding tersebut. untuk menghindari suara pantul yang bisa mengaburkan suara langsung maka diperlukan bahan penyerap suara untuk melapisi dinding, contohnya pada gambar dibawah menggunakan lapisan peredam suara :
• bahan dan material bisa bermacam-maca seperi gypsum, kalsiboard, polyester.
Selain material, tekstur juga bisa digunakan untuk mengakali pemantulan suara, menggunakan tekstur bergerigi bisa membuat bias pemantulan suara menjadi pecah dan tidak terdengar lagi di telinga. Dan bentuk ceilling, jika anda pernah memasuki ruangan dengan fungsi teater, maka anda tidak akan melihat plafond yang datar, melainkan dengan lekukan dan sudut-sudut tajam, ini berfungsi untuk memantulkan suara ke tempat yang jauh dr pendengar/penonton teater.
Penataan ruang gedung Bioskop meliputi: pemilihan bentuk ruang rectangular, penataan area penonton yang dimiringkan (grazing incidence), penaikan sumber suara, telah sesuai dengan teori, tetapi letak area sirkulasi di tengah area tempat duduk penonton kurang sesuai dengan teori karena berada di posisi duduk terbaik. Penggunaan material dinding dengan bahan selimut akustik, karpet dan kain, pelapisan lantai dengan karpet tebal dan hardboard , serta plafond dari bahan gypsumboard dan disusun secara zigzag untuk menyebarkan bunyi ke seluruh ruangan, telah menunjang kualitas akustik dan estetik. Tempat duduk penonton berupa sofa tebal berlapis kain bertekstur dapat menyerap bunyi dan meredam gema. Ditinjau dari aspek estetika, pemiringan lantai yang dibuat bertangga memberi kesan menyatu dengan layar (sumber suara) yang dinaikkan, dan pemilihan bahan/material memberikan keindahan, keamanan serta kenyamanan pada penonton.
Permasalahan getar dari luar yang masuk ke ruangan disebabkan oleh posisi dinding samping ruangan yang posisinya paralel saling berhadapan dan rata sehingga terjadi pemantulan kembali suara yang tak diinginkan ke sumber bunyi. Solusinya adalah dengan memberikan dinamika pada permukaan dinding dan pelapisan dengan bahan penyerap suara yang dipasang pada dinding yang berongga. Kata Kunci: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penataan ruang Bioskop. Penggunaan material dinding dengan bahan selimut akustik, karpet dan kain, pelapisan lantai dengan karpet tebal dan hardboard , serta plafond dari bahan gypsumboard dan disusun secara zigzag untuk menyebarkan bunyi ke seluruh ruangan, telah menunjang kualitas akustik dan estetik.
Ditinjau dari aspek estetika, pemiringan lantai yang dibuat bertangga memberi kesan menyatu dengan layar (sumber suara) yang dinaikkan, dan pemilihan bahan/material memberikan keindahan, keamanan serta kenyamanan pada penonton. Permasalahan getar dari luar yang masuk ke ruangan disebabkan oleh posisi dinding samping ruangan yang posisinya paralel saling berhadapan dan rata sehingga terjadi pemantulan kembali suara yang tak diinginkan ke sumber bunyi. Solusinya adalah dengan memberikan dinamika pada permukaan dinding dan pelapisan dengan bahan penyerap suara yang dipasang pada dinding yang berongga.
sistem Akustik harus memiliki 3 komponen, yaitu Sumber Suara, Medium Penghantar Energi dan Penerima Suara. Apabila salah satu dari 3 hal tersebut tidak ada, maka sistem tidak bisa disebut sebagai sistem akustik. Misalnya saja, didalam sebuah ruangan yang dirancang sedemikian hingga seluruh permukaannya berfungsi secara akustik, tidak akan menjadi ruang akustik apabila tidak ada sumber suara yang dimainkan dalam ruangan tersebut atau tidak ada penonton atau sensor penerima energi suara (microphone-red) yang berada didalam ruangan tersebut. Akustika Ruang merupakan kondisi audial yang nilainya ditentukan oleh fungsi ruangan atau space itu sendiri. Misalnya, sebuah ruangan kelas memerlukan kondisi akustik ruang yang berbeda dengan ruangan konser musik klasik atau musik pop/rock. Perbedaan berdasarkan fungsi itu, kondisi akustik diimplementasikan dalam bentuk: geometri ruangan dan material penyusun permukaan ruangan. Geometri dan material ruangan inilah yang kemudian akan berinteraksi dengan sumber suara yang dimainkan dalam ruangan tersebut, yang pada akhirnya diterima oleh pendengar yang ada dalam ruangan, bisa orang yang memiliki telinga (live listening) ataupun microphone sebagai simulator telinga (recording). Interaksi ketiga komponen akustik ini ditunjukkan dengan sebuah fenomena yang disebut sebagai transmisi, absorpsi, refleksi (termasuk diffusi) dan difraksi gelombang suara yang dihasilkan sumber suara.
Dari fenomena akustik tersebut muncullah istilah-istilah seperti level suara (SPL), waktu dengung (RT), intelligibility (D50), Clarity (C80), spaciousness (IACC, LF, ASW, dsb). Nilai-nilai parameter itulah yang kemudian dikenal sebagai Kondisi Akustik Ruang, yang kembali ditegaskan merupakan kondisi mendengar SESUAI dengan fungsi ruangan. Sumber suara yang terlibat disini bisa berupa suara natural dari sumber suara apapun (percakapan manusia, alat musik, dsb) atau dari komponen Sound System yang kita kenal dengan nama Loudspeaker.
Sound System disisi lain, pada dasarnya merupakan sebuah sistem yang pada awalnya dirancang untuk mengatasi KURANG nya energi suara yang sampai ke pendengar karena besarnya volume space atau jauhnya jarak pendengar dari sumber. Itu sebabnya mengapa disebut sebagai Sound Reinforcement System sebagai nama dasarnya, dan disingkat sebagai Sound System. Pada saat sebuah sound system diaplikasikan di dalam ruangan atau space, dia berfungsi untuk meningkatkan energi suara yang dihasilkan oleh sumber suara natural dan mendistribusikan energinya kepada seluruh pendengar di dalam space atau ruangan tersebut.
Faktor pendengar di dalam ruangan atau space menjadi kunci dalam menjawab pertanyaan awal.
Telinga manusia yang berada dalam ruangan atau space akan menerima 2 komponen akustik dari sumber suara, yaitu suara langsung (energi suara yang menempuh jalur langsung dari sumber ke telinga) serta suara pantulan (energi suara yang sampai telinga setelah menumbuk satu atau lebih permukaan di dalam ruangan). Interaksi 2 komponen ini yang akan menentukan nyaman tidaknya kondisi mendengar di telinga pendengar tadi. Bila suara langsung dan suara pantulan bercampur dengan baik (misalnya tidak ada delay yang berlebihan), maka pendengar akan nyaman merasakan medan akustik di sekitar telinganya. Desain permukaan ruangan yang menghasilkan pola pemantulan yang berinteraksi positif dengan suara langsung dari sumber menjadi sisi krusial dalam desain Akustik Ruang. Suara pantulan ini tidak boleh lebih dominan dari suara langsung. Itu sebabnya level energi suara dari sumber memegang peranan penting bagi pendengar.
Apabila level suara sumber memungkinkan untuk mencapai seluruh bagian ruangan (atau seluruh posisi pendengar) maka ruangan tersebut pada dasarnya TIDAK MEMERLUKAN Sound System, karena problemnya adalah bagaimana perancang ruangnya mendesain karakteristik pemantulan yang dihasilkan permukaan dalam ruangan untuk memperkaya suara langsung yang sampai ke telinga pendengar. Sedangkan bila level energi suara dari sumber tidak mungkin mengcover seluruh area pendengar, pada saat itulah diperlukan Sound System. Dalam kondisi ini, problemnya bergeser dari perancangan karakterisasi pantulan ruang menjadi perancangan posisi sumber suara non-natural.
Jadi, Sound System dan Akustik Ruangan sebenarnya adalah satu sistem yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya memegang peranan penting dalam porsinya masing-masing. Sound System memerlukan Akustik Ruangan yang minimal baik untuk bekerja secara optimal, dan Akustik Ruangan memerlukan Sound System bila energi sumber suara natural tidak mencukupi levelnya. Dan satu hal yang perlu diingat adalah Sound System tidak boleh mengubah karakter sumber suara yang dia layani, karena fungsinya adalah menjaga kualitas suara sumber supaya tetap terdengar baik di telinga pendengar.
Jadi akustik terbuka merupakan suatu system yang sangat berlainan dengan akustik ruang yang dapat dilihat dari segi tekstur atau bahan, tetapi salah satu system ini tidak dapat dipisahkan.

megic reong “balawan”

Balawan adalah salah satu musisi yang namanya sudah terkenal sampai manca Negara, Balawan mempunyai perpaduan music barat dengat alat music bali/ gambelan Bali. Awalnya Balawan juga pemain music bali/ gamblan Bali dari sejak balawan duduk di bangku SMP Balawan sudah mahir bermain Gambelan Bali tersebut dan juga sudah ikut serta dalam skha Gong dan beliau menduduki posisi giying atau ugal, lain dari pada bermain gambelan Bali pada saat itu beliau juga sudah mahir dalam bermain Gitar. Dan jugaa beliau menggemari ke dua hobi yang beliau miliki. Seiring berjalanmya waktu balan juga memilih apakah harus bermain gambelan Bali atau menjadi pemain gitar. Setelah beliau lulus dari bangku SMA beliau sangat ingin mendapatkan biasiswa di Australia yaitu Institut of music dengan menggunakan jalur tes dan sampai beliau berhasil setelah itu beliaupun mengasah kemampuannya di Institut of music tersebut.
Dan pada saat sekitar tahun 90 an beliau mengatakan persaingan music pada saat itu sangat ketat dan permainan music pada saat itu sanggat di perlukan dari perbandingan jaman sekarang dengan era 80 an, persaingan music sangatlah ketat tehnik-tehnik permainan music menjadi sangat ketat, maka dari itu beliau pun sangat berkeinginan menciptakan suatu karya music yang baru dan berbeda dari yang ada pada saat itu, dan beliau mengolaborasikan musiknya dengan menggunakan gambelan jawa namun seiring berjalannya waktu beliau kurang puas dengan perpaduan gambelan jawa tersebut karena gambelan jawa permainannya terkesan lambat. Setelah beliau lulus dari sekolah di Australia beliau kembali lagi k tanah kelahirannya yaitu Bali, dan dari situ muncul lagi keinginan beliau untuk menciptakan music yang berbeda, dan beliau pun mengubah permainan gitarnya yang sudah biasa menjadi permaianan gitar yang mengikuti melodi gambelan Bali. Ketika ciri khas dari grup Balawan sudah di dapatkan barulah beliau menambahkan beberapa instrument dari gambelan Bali.

B. Pembahasan
“Megic reong” adalah salah satu karya cipta Balawan yang permainannya yang enerjik, ritmis, dan cepat. Beliau menciptakan music megic reong ini terinspiasi dari ritmisnya permainan reong tersebut

C. Ide Garap
Ide garap dalam suatu berkarya sangatlah di perlukan karena ide garap sangat menentukan apa yang mau kita garap, begitu juga dengan Balawan dari ide gsrsp tersebut sudah banyak karya-karya yang berhasil beliau ciptakan. Karya-karya yang beliau ciptakan sudah banyak orang yang mendengarkan sampai ke seluruh dunia, salah satunya karya beliau yang berjudul “ Megic Reong” dari kata megic reong tersebut sudah terlihat untuk menyulap permainan reong yang dulunya ketradisian menjadi music kekinian seperti judul yang saya angkat dalam tugas ini music “Megic Riong” ini dilahirkan oleh beliau kurang lebih tahun 2005. Dalam karya beliau ini terinspirasi dari permainan riong dari gambelan Bali yang alurnya harmonis yang beliau sulap menadi music kontenporer seperti music kekinian, yang permainan riong tersebut tidak lepas dari tehnik-tehnik permaianan yang sudah ada pada umunya seperti ngewilet,norot dan tehnik-tehnik permainan yang lain.

D. Peroses garap
Dalam proses garap music “ Megic Reong” tersebut beliau membutuhkan tidak sedikit waktu untuk menggarap musiknya tersebut, dan juga beliau banyak menemukan masalah dalam menyatukan permainan reong tersebut dengan permainan instrumen-instrumen yang lain.
I. Nama penggarap
Nama : I Wayan Balawan
Alamat : Br. Dentiyis,Batuan,Sukawati,Gianyar Bali
TTL : Gianyar, 9 September 1973
Pekerjaan : Musisi
II. Prabot garap : 1 Angkep reong
: 1 pasang kendang jeditan lanang dan wadon
: 1 kecek
: 1 Drum
: 1 piano
: 1 Bass
: 1 buah guitar yang menggunakan system dabel neek
III. Tujuan Garap
Tujuan beliau menggarap misik “ Megik Reong “ ini untuk membuat suatu karya baru yang menonjolkan salah satu alat music Bali yaitu Reong. Dengn cara beliau menyatukan alat music Bali tersebut dengan alat music barat tersebut, dan dengan kerja keras beliau terciptalah suatu music kontemporer yang beliau beri judul yaitu “ Megik Reong”

E. Pertimbangan Garap
Pada karya “ Megic Reong “ tersebut , bagimana karya tersebut bisa menarik penonton?.
Balawan berusaha keras agar karya yang beliau hasilkan dapat menarik penonton dan sesuai dengan keinginannya, meskipun menemukan beberapa kendala waktu latian karena proses penggarapan music tersebut yang membutuhkaan wktu yang lama, namun dengan kreativitas beliau karya tersebut bisa beliau proses dengan lancer dan menemukan hasil yang baik, karya ini bisa menarik bnyak penikmat music dari Bali maupun manca Negara.

F. Hasil garap
Dengan kerja keras yang tinggi, ketelitian dan ketekunan gerup dalam latian, Balawan dapat menampilkan hasil karya tersebut dan dapat dinikmati oleh semua masyarakat Bali dan manca Negara dari hasil kerja keras, ketelitian, dan ketekunan gerup tersebut untuk meraih hasil yang diinginkan dari penggarap tersebut.

G. Kesimpulan
Balawan adalah salh satu pemain gitar yang namanya sudah terkenal di Bali maupun manca Negara , Latar belakang berdirinya grup Balawan ini adalah untuk memadukan alat-alat music tradisional Balidengan music barat tersebut, dari beliau kecil sudah senang bermain music, dan juga beliau sudah senang bermain gambelan Bali dari beliau SMA, setelah tamat dari bangku SMA beliau melanjutkan sekolahnya ke Australia yaitu Institut of music untuk mengasah kemampuannya bermusik, setelah beliau menyelesaikan sekolahnya di Australia tersebut beliau kembali ke tanah air yaitu Bali disana beliau memulai untuk mengumpulkan pemain-pemain yang akan diajak untuk membentuk suatu perkumpulan yang bernama Balawan. Setelah cirri khas balawan terlihat darisitulah muali muncul ide-ide untuk menggarap music-misic yang beliau ciptakan dengan cara memadukan instrument-instrumen bali dalam berperoses garapan-garapan music yang beliau inginkan, seperti mengembangkan permainan-permainan gitar yang sudah ada dan memadukan melodi- melodi instrumen Bali ke dalam music-music yang beliau garap.

sistem adasuling gambuh pedungan

Sistem Nada
Apabila kita berbicara tentang sistem nada dalam kaitannya dengan gambelan Gambuh di Desa Pedungan, maka perhatian kita tentunya akan tertuju kepada kelompok instrument pemegang melodi, yakni suling Gambuh dan Rebab. Kedua instrument ini dengan teknik permainnannya masing-masing dapat mewujudkan laras pelog saih pitu dengan beberapa modus atau patet yakni:
1. Selisir
2. Tembung
3. Sundaren
4. Baro
5. Lebang
Menurut I Nyoman Kaler (almarhum) patet-patet tersebut memiliki komposisi sebagai berikut:
1. Tembung : I II – IV V VI –
2. Selisir : I II III – V VI –
3. Sunaren : – II III – V VI VII
4. Baro : I – III IV V – VII
5. Pengantar : – II III IV – VI VII
Patet-patet ini apabila dipraktekkan didalam suling Gambuh, maka akan mempunyai komposisi tetekep sebagai berikut:
Komposisi Tetekep Suling Gambuh Pedungan
1. Tetekep Tembung
Tangga Nada
A I O B U A E O E

X X X X X O X X X
X X X X O O X X O
X X X X O O X O O
X X X O O X O O O
X X O O O X O O O
X O O O O X O O O
2. Tetekep Selisir
Tangga Nada
E U A I O E U A I O

X X X X X O X X X X
X X X X O X X O X O
X X X O O X O O O O
X X O O O X O O O O
X X O X X X O O X X
X O O X X X O O X X
3. Tetekep Sudaren
Tangga Nada
O I O E U A I O E U A I O

X X X X O O X X X O O X X
X X X X X X X X X X X X O
X X X O O X X X X O X O X
X X X O O X X X O O X O X
X X O X X X X O X X X O X
X O O X X X O O X X X O X
4. Tetekep Lebang
Tangga Nada
O E U A E O E U A I O E E

X X X X X O X X X X O X X
X X X X O X X X X X X X O
X X X X O X X X X O X X O
X X O O O X X O O X X O O
X X O X X X X O X X X O O
X O O X X X O O X X X O O
5. Tetekep Baro
Tangga Nada
A I O E U
X X O O O X O O X X
X O O X O O O X X X
X O O X X O O X X X
Keterangan Nada :
X = Lubang nada tertutup.
O = Lubang nada terbuka.
O = Lubang nada tertutup setengah (tetekep mipit).
A = Ndang rendah.
I = Nding.
O = Ndong.
E = Ndeng.
U = Ndung.
A = Ndang ngelik.
I = Ndaing.
U = Ndeung.
Patut diketahui bahwa dalam memainkan suling Gambuh adalah mempergunakan sistem pengaturan nafas yang tidak terputus-putus atau di Bali dinamakan “ngunjal angkian”. Untuk dapat mewujudkan nada-nada menjadi 3 (tiga) atau 4 (empat) oktaf, maka tiupan nafas dapat dibedakan menjadi: tiupan halus (coloh), tiupan menengah (sedang), tiupan agak keras dan tiupan sangat keras sekali (ngelik).
1.3. Tugas Instrumen
Gambelan Gambuh merupakan warisan seni yang bersifat klasik tradisional, bentuk orkestrasinya adalah memiliki unsure-unsur melodis disamping juga ritmis.
Dari unsure melodisnya, dalam barungan gambelan Gambuh ini kita dapat melihat 2 macam alat yaitu suling dan rebab yang berfungsi sebagai pembawa lagu dan tekniknya masing-masing.
Dari unsur ritmisnya, masih dapat dibedakan menjadi:
v Instrumen Pemangku Lagu
1 (satu) buah kempur, berfungsi sebagai Gong dan menentukan akhir dari gending.
1 (satu) buah kajar, berfungsi sebagai pemegang matra dan memperkaya ritme didalam beberapa lagu. 1 (satu) buah klenong, bermain imbal dengan kajar. 1 (satu) buah kenyir, bermain imbal dengan klenong.
2 (dua) pasang gumanak, berfungsi untuk memperkaya ritme.
v Instrumen Pemurba Irama
2 (dua) buah kendang, berfungsi sebagai pemurba irama, mengatur cepat lambatnya lagu.
1 (pangkon) ricik, yaitu cengceng kecil yang berfungsi untuk memperkaya ritme.
1(satu) tungguh genta urag yang berfungs untuk memperkaya ritme.
2 Laras yang Digunakan
Laras yang dipakai dalam gambelan Gambuh disebut laras pelog, laras pelog pegambuhan disebut juga pelog saih pitu, yaitu terdiri dari 5 (lima) nada pokok dan 2(dua) nada pemero. Di dalam gambelan Gambuh laras pelog itu bisa di turunkan kedalam 5(lima) patetan / tetekep atau modes.
Pepatutan yang terdapat di dalam gambelan Gambuh di Pedungan Denpasar ialah:
Ding Dong Deng Dung Dang
1. Selisir : 146 176 379 131 168
2. Baro : 117 204 409 94 376
3. Tembung : 107 200 372 98 423
4. Sunaren : 123 175 391 75 346
5. Lebeng : up 243 76 305 102 463
Down 400 76 305 102 305

TARI JOGED

TARI JOGED
Seni tari tidak bisa terlepas dari budaya yang menghasilkannya. seni tari mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia, seperti dalam konteks ritual, dalam hal ekspresi estetik murni, maupun sebagai media komunikasi personal maupun kolektif. Namun dinamika budaya masyarakat ikut membawa perubahan – perubahan pada seni tari. Perubahan itu terjadi, baik pada aspek bentuk, fungsi, maupun maknanya.
Ragam dan gaya seni tari adalah kristalisasi dari nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya. Seni tari Bali dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu :
1.Tari Wali, yaitu tari yang berfungsi sebagai sarana atau pelaksana upacara agama. Contohnya : Tari Rejang dan Tari Sanghyang.
2.Tari Bebali, yaitu tarian yang berfungsi sebagai penunjang jalannya upacara yang dalam pementasannya memakai lakon. Contohnya : Tari Topeng.
3.Tari Balih – balihan, yaitu tarian yang tidak tergolong tari Wali dan Tari Bebali yang khusus dipertunjukkan untuk hiburan. Contohnya : Tari Joged.
Tari jogged merupakan tari pergaulan di Bali. Asal mula Joged bumbung ini sebenarnya adalah dari para petani yang saat itu sedang melepas lelah. Lalu mereka memainkan rindik, ada pula yang menari. Inilah yang berkembang menjadi Joged Bumbung. Tari jogged biasanya dipentaskan dalam acara-acara sosial kemasyarakatan di Bali, seperti acara pernikahan. Tarian ini ditarikan oleh penari wanita, yang kemudian mencari pasangan pria dari para penonton untuk diajak menari bersama. Tarian ini awalnya adalah sebuah tarian pergaulan yang diciptakan oleh para petani kala itu untuk menghibur dikala sedang istirahat setelah bekerja di lumbung. Tarian ini pun banyak diminati oleh masyarakat dan menjadi sebuah kelompok-kelompok seni. Persaingan yang bain dan sehat mengakibatkan para kelompok-kelompok tari berinovasi dengan berbagai hal termasuk memasukkan unsur goyangan mengajak pengibing menarik dan seni yang sangat menarik kedalam tariannya. Biasanya ada suara gamelan bedug di pertengahan yang menandakan pengibing dan penari siap siap melakukan candaan . Tarian ini biasanya diiringi dengan seperangkat musik dari bambu.
Jenis-Jenis Tari Joged Tari Joged ini dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
1.Joged Pingitan Joged Pingitan ini pada awalnya merupakan tari pergaulan yang diayomi di lingkungan istana dan sekarang menjadi tarian yang disakralkan. Misalnya di banjar Pekuwudan Sukawati.
2.Adar, Tokohan, Udegan Merupakan tari pergaulan yang sudah dipelihara oleh masyarakat banyak.
3.Andir Merupakan sejenis tari pergaulan yang pementasannya dikaitkan dengan ritual keagamaan atau kepercayaan.
4.Gandrung Merupakan sejenis tari pergaulan yang ditarikan oleh kaum laki-laki, namun pada saat sekarang tarian ini berkembang menjadi tarian yang ditarikan oleh kaum perempuan.
5.Joged Bungbung Suatu tari pergaulan yang berfungsi sebagai hiburan dimana penyebarannya sangat luas hampir di seluruh Bali.
Joged bumbung di Bali pertama kali muncul di daerah Bali utara sekitaran tahun 1940 yang kemudian berkembang dengan cepat keseluruh pelosok pulau Bali. Tarian ini dinamakan joged bumbung karena mempunyai gerakan tari yang aksentuasinya diikat oleh aksentuasi gambelan tingklik bumbung yang belaraskan selendro. Barungan gamelan ini disebut gambelan gegrantangan. Gerak tari joged bumbung sangatlah lincah dan dinamis yang kadang kala terkesan eksotis. Meskipun demikian, dalam joged bumbung ini masih ada unsur-unsur gerak tari bali klasik seperti ngeleyog, ngeleyer, gelatik mapah dan lain sebagainya namum sudah diterjemahkan kedalam unsur pejogedan.
Penari Joged bumbung biasanya mengenakan busana yang terdiri dari kain, sabuk, baju kebaya, ikat pinggang, oncer dan gelungan joged. Di beberapa tempat busana joged bumbung sudah ada yang disamakan dengan busana legong kraton. Untuk para pengibing umumnya berpakaian bebas hanya saja sesaat sebelum mulai ngibing penari joged akan menyerahkan selembar saput atau selendang untuk dikenakan oleh pengibing. Pada bagian peibing-ibingan banyaknya pengibing yang boleh dijawat oleh penari joged tidak ada batasnya, tetapi mereka akan saling bergantian mengibing satu persatu. Penari joged yang cantik dan lincah akan dapat menarik pengibing yang lebih banyak dibandingkan dengan penari joged yang tidak begitu cantik.
Mengenai Gambelan pengiringnya yang di namakan gambelan gegrantangan, instrument-instrumennya terdiri dari :
• 6 atau 8 buah gerantang
• atau 4 buah suling
• Sebuah kendang gupekan
• Sebuah jegoan
• Setunguh ceng-ceng
• Sebuah gong pulu
Namun dengan perkembangan kesenian yang begitu pesat maka pada saat ini gambelan tersebut biasa ditambahkan instrument-instrumen lainya sperti ceng-ceng kopyak, kendang sunda, kempul, bass, simbal dan instrument lainya. Tari Joged Bumbung merupakan tarian yang tidak berlakon ini dapet di jumpai hampir di seluruh Bali. Dalam perkembangan kepariwisataan seperti sekarang ini, fungsi joged bumbung sudah bertambah bahwa selain sebagai hiburan di rakyat desa-desa, Joged Bumbung kini sudah biasa dipergunakan untuk mengibur para wisatawan yang berkunjung ke Bali.