RSS Feed
Okt 24

BIOGRAFI INENGAH BADRI

Posted on Rabu, Oktober 24, 2012 in Tak Berkategori

  I Nengah Badri
 Seniman Karawitan dari Br.Pegubengan Kauh Kerobokan Kelod.

 

Sebagai salah seorang seniman karawitan Bali yang sudah sempat melanglang buana, nama I Nengah Badri termasuk punya kelas tersendiri. Pilihannya pada profesi penabuh sekaligus pengajar seni tabuh pilihan yang tak bisa ditawar bagi pria umur 68 Tahun   kelahiran Badung, 30 november 1946  ini. Didukung sang istri,I Nengah Kuneng , bpak empat anak ini seakan menjadikan dunia seni tarbuh sebagai pegangan hidupnya.

 

DULU, Bapak  yang menekuni seni tabuh secara intens kemudian menjadikannya sebuah profesi, amat langka. Bagaimana ceritanya Anda bisa tertarik dengan dunia seni tabuh?

Saya belajar menabuh  berawal dari rumah sendiri. Guru saya, wayan Dendi (salah seorang seniman tabuh dan tari Bali terkenal,  sudah melatih saya sejak umur empat tahun — sekitar 1950-an. Sekitar umur tujuh tahun, saat mulai SD, saya sering duduk menunggui orang belajar manabuh Setelah melihatnya, saya langsung menabuh sendiri.

 

Berarti Anda belajar menabuh bukan dari orangtua?

Ya. Saya belajar menabuh dari guru saya. Maklum, ayah saya hanya pecinta seni tabuh,  ayah selalu memperhatikan dan mendorong saya untuk bisa menabuh. Ketika paman melihat saya bisa menabuh, ia menyuruh saya ikut-ikutan di belakang. Mulai saat itulah saya merasakan pertama kali belajar menabuh. Di situ saya rasakan bagaimana tangan saya di pegang Saya sungguh merasa senang dapat belajar menabuh.

 

Setelah belajar menabuh, kapan Anda mulai mempraktikkan gending itu?

Sekitar kelas IV SD, tahun 1963. Ketika diadakan perpisahan di SD 24 kerobokan, saya diberikan kesempatan tampil. Saat itu saya menabuh gender wayang  gending yang saya cari pada saat itu antara lain:

1. Crucuk Punyah

2. Paspra

3. Cecek  Megelut

4. Licu

5. Dalang Ngidih nasi

 

 

Okt 24

I Nengah Badri Seniman Karawitan dari Br.Pegubengan Kauh Kerobokan Kelod.

Posted on Rabu, Oktober 24, 2012 in Tak Berkategori

 

 

Sebagai salah seorang seniman karawitan Bali yang sudah sempat melanglang buana, nama I Nengah Badri termasuk punya kelas tersendiri. Pilihannya pada profesi penabuh sekaligus pengajar seni tabuh pilihan yang tak bisa ditawar bagi pria umur 68 Tahun   kelahiran Badung, 30 november 1946  ini. Didukung sang istri,I Nengah Kuneng , bpak empat anak ini seakan menjadikan dunia seni tarbuh sebagai pegangan hidupnya.

 

DULU, Bapak  yang menekuni seni tabuh secara intens kemudian menjadikannya sebuah profesi, amat langka. Bagaimana ceritanya Anda bisa tertarik dengan dunia seni tabuh?

Saya belajar menabuh  berawal dari rumah sendiri. Guru saya, wayan Dendi (salah seorang seniman tabuh dan tari Bali terkenal,  sudah melatih saya sejak umur empat tahun — sekitar 1950-an. Sekitar umur tujuh tahun, saat mulai SD, saya sering duduk menunggui orang belajar manabuh Setelah melihatnya, saya langsung menabuh sendiri.

 

Berarti Anda belajar menabuh bukan dari orangtua?

Ya. Saya belajar menabuh dari guru saya. Maklum, ayah saya hanya pecinta seni tabuh,  ayah selalu memperhatikan dan mendorong saya untuk bisa menabuh. Ketika paman melihat saya bisa menabuh, ia menyuruh saya ikut-ikutan di belakang. Mulai saat itulah saya merasakan pertama kali belajar menabuh. Di situ saya rasakan bagaimana tangan saya di pegang Saya sungguh merasa senang dapat belajar menabuh.

 

Setelah belajar menabuh, kapan Anda mulai mempraktikkan gending itu?

Sekitar kelas IV SD, tahun 1963. Ketika diadakan perpisahan di SD 24 kerobokan, saya diberikan kesempatan tampil. Saat itu saya menabuh gender wayang  gending yang saya cari pada saat itu antara lain:

1. Crucuk Punyah

2. Paspra

3. Cecek  Megelut

4. Licu

5. Dalang Ngidih nasi

Okt 11

SEJARAH ANGKLUNG DESA KEROBOKAN

Posted on Kamis, Oktober 11, 2012 in Tak Berkategori

 

 

 

 

Kerobokan dulunya pemerintahanya  menggunakan istilah “ Perbekel” dan kebanyakan  mata pencaharian masyarakatnya sebagai petani. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, maka pemerintahanyapun tidak lagi menggunakan istilah Perbekel, dengan sebutan “Kepala desa” dan dengan diberlakukanya Undang- undang Otonomi Daerah, desa kerobokan dibagi menjadi tiga pemerintahan yaitu: “Kerobokan Kaja, Kerobokan dan Kerobokan Kelod”, dengan status Pemerintahanya memakai status “ Kelurahan”, namun tetap menjadi satu Desa Adat yakni “ Desa adat Kerobokan”.

Desa adat Kerobokan, terdiri dari : dua puluh lima Banjar Dinas dan empat puluh delapan Banjar Adat.  Mengempon “ satu Pura Desa Puseh, satu Dang Kahyangan ( Pura Petitenget ) dan lima pura Kahyangan”, termasuk salah satu di dalamnya Pura Dalem Kerobokan.

Mayoritas kehidupan masyarakat pada saat itu sebagai petani, sehingga mereka bebas menentukan waktu mereka bekerja tanpa adanya ikatan jam kerja. Pada umumnya mereka pagi-pagi buta sudah berangkat ke lahan mereka masing-masing dan ketika hari sudah mulai agak panas biasanya mereka akan segera beranjak pulang. Sisa waktu biasanya dimanfaatkan berkumpul diluar rumah sambil membawa ayam aduan mereka masing-masing. Hiburan pada saat itu agak jarang ,tidak seperti sekarang.

Berawal dari kecintaan mereka terhadap seni, akhirnya mereka sepakat membuat seperangkat gamelan angklung, melalui kelompok pemetik padi, yang dalam istilah balinya disebut “ sekehe manyi ,mereka membeli seperangkat gamelan sedikit demi sedikit sehingga menjadi seperangkat angklung “ keklentangan”. Setelah seperangkat gamelan terbentuk , karena di Bali tidak bisa terlepas dari yang namanya upakara untuk kesucian barungan gamelan tersebut.

Keinginan untuk mendapatkan  taksu, atas kesepakatan akhirnya mereka mohon taksu atau  mendak Pregina di Pura Dalem Kerobokan. Sebagai rasa sujud bakti  sekehe angklung akan selalu siap ngayah setiap ada keperluan gamelan, mulai dari Pujawali, Melasti, Caru atau Tawur Agung termasuk juga acara pengabenan masal yang diselenggarakan oleh Pura Dalem Kerobokan dan ini masih tetap berlaku sampai pada saat ini.Mengingat luasnya wilayah Desa Adat Kerobokan, banyaknya Pura-pura Paibon, dan minimnya jumlah Gamelan pada saat itu  maka keberadaan Sekehe Angklung sangat membantu kegiatan adat di Desa kerobokan , mulai dari ; upacara Pitra Yajna, Dewa Yajna, Manusa Yajna dan lain-lainya. Adapun gending –gending yang disajikan pada saat itu , hanyalah tabuh-tabuh keklentangan.

Pada tahun 1989, Gambelan angklung di pentaskan untuk mengiringi Wayang Kulit bekerja sama dengan Dalang Bapak I Made Kembar dari Padang Sumbu Kelod. Pementasan tersebut terbilang sukses karena, mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat, sehingga  undangan untuk pentas sangat padat sekali hingga hampir menjangkau semua kabupaten di Bali, disebabkan untuk pertama kalinya pertunjukan wayang kulit dikemas dalam bentuk lain yang biasanya hanya diiringi oleh gender dan batel saja.

Di periode ini juga untuk pertama kalinya pak Made Kembar menggunakan iringan Gong Kebyar, yaitu gong Padang Sumbu, selanjutnya memakai pelegongan ( gender rambat ),oleh sanggar Candra metu Br. Gadon kerobokan dan terakhir berkembang memakai gamelan Semar Pegulingan yang dipopulerkan oleh wayang kulit Cenk Blong Belayu. Namun ketika itu hanya yang memakai instrumen angklung yang paling berkembang sampai saat ini.

Selanjutnya iringan wayang kulit dengan angklung juga dipakai oleh: Ida Bagus Sudiksa ,S.E., M.M,  (Griya Telaga, Kerobokan ), Ida Bagus Baskara ( Griya Buduk, alm ), Ida Bagus Bawa ( Griya Sibang ), Ida Bagus Alit Arga Patra , S.Sn., ( Griya Buduk ),  Dalang Putra (Kepaon  Denpasar ),  I ketut Nuada ( Wayang Joblar ABG, dari Tumbak Bayuh , mengwi Badung )  dan  I ketut Gina, S.Sn dari Kerobokan.

 

 

 

 

 

 

DALANG BAPAK I MADE KEMBAR, TAHUN 1989

DI BALAI BANJAR BATUBIDAK, KEROBOKAN

.

 

 

Okt 9

SEJARAH GAMBELAN ANGKLUNG DI DESA KEROBOKAN

Posted on Selasa, Oktober 9, 2012 in Tak Berkategori
Mei 22

Komentar Video Tabuh paksi Mangiber

Posted on Selasa, Mei 22, 2012 in Tak Berkategori
YouTube Preview Image

TABUH PAKSI MANGIBER

Paksi Mangiber “adalah penciptaan musik Bali disusun oleh I Made Agus Wardana (2006, Belgia) musik ini menggambarkan burung bahwa pada hari pertama musim semi menyebar sayapnya dan berdebar gembira, menyambut dan waktu musim semi ucapan.. Dilakukan oleh saling Asah (Belgia) & Dwi Mekar (Bali) di Antwerpen, 2006.

KOMENTAR VIDEO

Dalam pementasan tabuh Paksi Mangiber  pada menit awal suara jublag dan gong,kempur, kempli tidak kedengaran .karena disana tidak berisi Mix corphone.

Penataan Cahaya : 1. Terlalu terang.

2. Tidak ada efek cahaya yang lain.