biografi made daweg sang bebotoh

BEBOTOH

Made daweg alias mangku

Tajen, cap jiki, cekian, bola adil, togel adalah serpihan permainan remeh tameh tapi bila dijadikan taruhan menjadi serius. Serius membuat pelakunya kalah jutaan atau sekalian menang jutaan. Orang Bali menyebut mereka bebotoh. Dan biasanya sekali seseorang menjadi bebotoh konon sulit menarik diri dari belitannya. Mirip orang yang kecanduan narkoba, karena merasakan nikmatnya susah melepaskan ketergantungan.

Ketika tajen dilarang, banyak yang bersungut, karena ada rantai ikutan tajen yang juga hilang. Seperti dagang lawar, dagang kopi dagang sate penyu yang biasanya selalu hadir di setiap tajen.Juga tukang asah taji, tukang ramal, dagang obat juga ikut belingsatan, tutur Made Daweg, 48 tahun bebotoh tangguh dari Canggu. Dia sudah lebih dari separo usianya jadi bebotoh. Awalnya cuma ikut dengan teman lama kelamaan dia sendiri jadi pekembar.Saya sudah menjual 25 are sawah peninggalan kakek untuk modal, kalau dihitung mungkin bisa untuk membeli 4 kijang terbaru,. Tapi Bapak Made Daweg mengaku tidak menyesal dengan pilihannya.Daripada korupsi, merugikan negara dan menyengsarakan rakyat, berjudi itu menghabiskan harta sendiri, bukan harta negara,” ujarnya. Yang lebih menyedihkan sebenarnya kalaupun menang uangnya tidak bisa digunakan untuk modal usaha, atau membiasabantu ekonomi istrinya yang jadi dagang canang di pasar Kerobokan.Kalau menang di tajen biasanya bapak made daweg mengajak teman-temannya langsungb berfoya-foya, minum sama nyari perempuan, bebotoh kan juga manusia, yang perlu hiburan di café atau larut dalam minuman keras,ungkapnya tentengdirinya.Dan bebotoh yang bernasib seperti bapak Made Daweg tidaklah sedikit di setiap kampung pasti ada, dan biasanya mereka tidak menyesali nasib jadi bebotoh. Apalagi ada yang menjadikannya sebagai pembenaran.Di Bali ada yang disebut karma, kalau karmanya memang miskin dengan menjadi bebotoh ya berarti mesti diterima jangan menghindar apalagi bersembunyi dari kenyataan, tambahnya berteori.Kebanyakan bebotoh memang memiliki prinsip yang keliru seperti itu, ingin memutar uang dengan cepat, menang dan untung cepat tanpa peduli sebaliknya, mereka juga bisa kalah dan rugi secepat kilat juga.Di kalangan bebotoh, kalah itu adalah kebanggan, mereka akan bangga mengungkapkan bisa kalah sampai puluhan juta. Tapi ketika menang mereka tak akan menanggapinya dengan gembira karena kemenangan dalam jumlah banyak sekalipun tak akan bisa menutup kekalahan yang sudah menumpuk sejak dulu.Bebotoh sejati itu tak gentar bila kalah, atau tak akan menangisi kekalahannya juga tak akan berbangga hati bila menang, semuanya biasa saja, ungkap Daweg lagi. Bebotoh menurut mereka juga bagian dari kebesaran dan kedewasaan jiwa. Mereka tak merengek kepada lawannya untuk menunda kekalahan.Bila taruhannya mobil ya kalau kalah siap – siaplah pulang naik ojek, atau bila taruhannya sawah warisan harus merelakan sertifikatnya berpindah tangan,” ungkap Daweb. Selain melampiaskan hobby main tajen, maceki dan main togel, bebotoh itu juga ikut mengajegkan Bali.Dari semenjak jaman dulu leluhur kami memang suka metajen dan jadi bebotoh, kami cuma melanjutkannya demi ajeg Bali,” ungkap Daweg .
Istilah-istilah yang dipakai di dalam kegiatan tajen hanya bisa dipelajari oleh seseorang yang berminat untuk menekuninya dan sama sekali tidak diwariskan atau diturunkan dari generasi sebelumnya dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Begitu juga cara menentukan lawan ayam aduannya, biasanya diajarkan oleh para bebotoh yang sudah lebih banyak dan lama makan garam dalam dunia tajen. Contoh lain yang d dipelajari made daweg adalah cara mengikat taji /atau istilah bali disebut masng taji(senjata untuk mematikan musuh). Bapak Made Daweg terus berlatih agar bisa memasang senjata atau taji pada kaki ayam yang akan siap bertarung dan dalam memasang taji harus dilatih dan memiliki keahlian khusus untuk mengerjakannya sehingga tidak semua bebotoh bisa melakukannya.Dimana kalu kita belajar memasang taji kita tidak boleh ngawur atau tidak mengikuti aturannya,kata bapak made daweg , dimana kalau kita mau belajar memasang taji kita harus berhati-hati dimana kalau kita tidaak hati-hati akibatnya akan sangat fatal,kalau terkena sedikit dari senjata itu atau taji tersebut akan bisa mengakibatkan imfeksi bahkasn bisa membuat kelumpuhan pada bagian tubuh ,seperti kaki ,tangan ,dan lainya.

Berikut ini adalah cara-cara untuk taruhan atau metoh dalam istilah Bali yang biasa di lakukanb bapak mkade daweg.
Cok dan gasal merupakan bahasa yang sangat lazim didengar di tajen. Sehingga sangat jelas bahwa ada komonikasi verbal maupun non verbal di antara para petaruh ayam. Selain itu, keberadaan tajen sangat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan jaman. Jenis ayam yang diadu mulai dari ayam kampung biasa, meningkat ke ayam keker, bekisar dan bahkan sampai ayam Bangkok. Begitu juga alat pertaruhannya, kalau dulu mungkin saja bertaruh dengan pis bolong, tetapi sekarang menggunakan uang yang berlaku seperti Rupiah. Makanan ayam jagonya juga demikian. Dulu ayamnya hanya dikasi makan singkong tetapi sekarang sudah berubah diberikan nasi, jagung dan konsentrat yang memiliki kandungan gizi tinggi dan lebih bagus. Dan bahkan, beberapa ayam jago diberikan obat kuat tambahan (supplement/doping) sebelum diadu di arena tajen sehingga mampu mematikan lawannya dalam sekejap

SEJARAH GONG KEBYAR BANJAR TAG-TAG TENGAH PEGUYANGAN

SEJARAH GONG KEBYAR
BANJAR TAG-TAG TENGAH PEGUYANGAN

Oleh :
NAMA : I KADEK INDRA SUSILA
NIM : 201202047
JURUSAN : SENI KARAWITAN

SEJARAH GONG KEBYAR DI BANJAR TAG-TAG TENGAH PEGUYANGAN
 Nama : I Nyoman Murka
 TTL : Br.Tag-Tag Tengah 26 Agustus 1948
 Pekerjaan : Kelihan Adat di Br.Tag-Tag Tengah, Peguyangan Kaja, Dps
 Umur : 65 tahun
Awal mula pembuatan Gambelan Gong Kebyar di Br.Tag – Tag Tengah pada tahun 1951
Sebelum menjadi gambelan gong kebyar dimana ada gambelan saron atau gambang yang diebur menjadi sebuah bilah gangsa atau pemade, dimana pada saat pembuatan gambelan tersebut sangat memerlukan waktu yang sangat lama, dalam pembuatan gambelan gong kebyar ini sangan inisiatif untuk membuat gambelan ini karena di dalam agama hindu gambelan itu sangat penting untuk kegiatan seperti upacara agama dan upacara lainnya yang sangat perlu dengan gambelan ,dan di banjar tag-tag sangat banyak Pura dan leluhur saya sangat inisiatif dalam pembuatan gambelan ,dan gambelan di banjar saya di pasupatikan setiap 6 bulan sekali tepatnya pada hari buda cemeng kelau ,dimana gambelan ini sangat lain dari pada sebelumnya dimana pada gambelan ini otonannya tidak sama dengan gambelan gambelan yang lainnya .
Tempat pembuatan gambelan
Pada tahun 1951 pembuatan gambelan gong kebyar dikerja di pura panti sari yang di sebut punduhan gong ,yang tempatnya di br tag-tag tengah . kenapa disebut punduhan gong, karena disanalah pertama kali adanya gambelan itu ,pada saat itu masyarakat bergilir untuk memberikan konsumsi berupa makanan dan minuman disetiap keluarga .
Orang yang membuat gambelan
Orang yang membuat gambelan tersebut berasal dari banjar lambing dan banjar lebah dan dibantu oleh masyarakat banjar saya sendiri , dalam pembuatan plawah gangsa dan gambelan linnya kayu yang dibuat adalah kayu tewel atau kayu nangka, yang di cari di desa sengguan , dan bahan yang digunakan membuat gambelan gong kebyar ini adalah berupa kerawang dan di campur sedikit emas asli
Tujuan pembuatan gambelan
1 utuk melestarikan seni budaya bali , dimana di bali sangat kuat dengan kekayaan seni budayanya dan supaya bisa dilihat oleh anak cucu kita bahwa gambelan yang di buat bertujuan untuk melestarikan budaya .

2 untuk ngayah di setiap pura ,karena banjar tag tag sangat banyak pura.
3 dipaki untuk mengiri sebuah tari tarian ,dimana saat itu banyak seniman tari yang tersia sia ,karena pada saat itu belum ada gambelan,dan setelah adanya gambelan gong kebyar ,barulah disana terbentuk sebuah sanggar tari .
PEMBENTUKAN SEKEHE GONG
Setelah pembuatan gambelan ,lalu dibentuklah sebuah sekehe pada tahun 1953 (generasi 1 )sampai dengan tahun 1962 (generasi 2 ). Sekehe gong pertama kali bernama sekehe gong Suara Jaya, dimana sekehe sekehe gong pada tahun itu sekarang sudah banyak yang almarhum dimana pada saat itu sekehe gong suara jaya hanya menabuh pada hari hari tertentu seperti piodalan di pura-pura berikut orang orang yang pertama kali membentuk sekehe gong :
– Pan Rengi
– Kak Dul
– Pan Renten
– Kak lueng
– Kak mangkin

Pada tahun 1970-2000 terbentuk sekehe gong generasi ke 3-4 dimana pada saat itu sekehe gong suara jaya sudah pentas diluar daerah seperti di hotel- hotel .dimana pada saat itu gambelan gong kebyar ini sangat lain pada gambelan gong kebyar ada umumnya. Pada tahun 1970 di mana gambelan gong kebyar ini masih terlihat klasik ,dimana pada instrumen gangsenya ini jumblah bilahnya adalah 11, lain pada gambelan gong kebyar pada umumnya, begitu juga kantilnya juga berjumlah 11, instrumen jublag dan jegogannya juga berbeda pada gambelan pada umumnya, perbedaannya adalah di mana jublag dan jegogan pada gambelan gong kebyar yang ada pada jaman modern ini nada yang digunakan berurutan seperti ,NDING,NDONG ,NDENG,NDUNG, NDANG, sedangkan pada gambelan yang ada di banjar saya nada ada pada instrumen jublag dan jegogng adalah NDANG, NDING ,NDONG,NDENG,NDUNG,. Begitu juga instrumen gambelan gong kebyar ini pada tahun 1970 belum di prade atau belum di cat ,tetapi gambelan tersebut sudah di ukir. Seperti foto yang dibawah ini ,dimana gambelan ini ,pada tahun itu sudah terlihat sangat bagus tetapi dengan perkembangan zamaan ,masyarakat banjar tag-tag tengah berinisiatif untuk mengecat atau di pprade tetapi ,tidak tersampaikan karena pada waktu itu ada upacara yadnya ,jadi pada saat itu tidak jadi di cat atau di prada.

Pada tahun 2002 barulah gambelan gong kebyar ini di renovasi seperti poto di bawah ini

Dimana pada tahun 2002 barulah gambelan gong kebyar ini direnofasi atau diperbaiki ,dimasna pada saat itu saya ikut serta dalam memperbaiki gambelan tersebut,kira-kira pada saat saya SD dari perkembangan jaman pada saat itulah gambelan itu dirubah ,hanya ensambel jegog dan jublagnya saja yang di rubah dulu yang nadanya NDANG,NDING,NDONG,NDENG,NDUNG,NDANG ,menjadi nada pada seperti sekarang yaitu NDING,NDONG,NDENG,NDUNG,NDANG, Dan pada saat itu juga insttrumen lainnya juga seperti gfangsa, kantil,ugal, trompong,riong,danlainya, dimana gambelan gong kebyar ini tidak isi instrumrn penyacah, karena pada saat itu belum ada instrumen yang namanya penyacah,jadi gambelan tersebut tidak berinstrumen penyacah , dlam berkembangnya jaman apada tahun 2005 sudah pernah mengikuti lomba-lomba dari tingkat desa. Dan sekehe gong di banjar saya juga sudah pernah mengikuti beberapa parade seperti parade yang di adakan oleh pemerintah kota denpasar pada tahun ,2007,2008,2009 dan pernah mendapatkan 10 besar pada tahun 2008 . dimana pada saat itu saya ikut serta dalam kegiatan lomba tersebut ,demikian sejarah gambelan gong kebyar yang berada di DESA PEGUYANGAN TEPATNYA DI BANJAR TAG-TAG TENGAH PEGUYANGAN.

TABUH RAH

TAJEN DI BALI

Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, perjudian sabung ayam sudah dikenal dan cukup digemari sebagian masyarakat di beberapa daerah. Di Bali perjudian sabung ayam dikenal dengan istilah Tajen, yang berasal dari kata taji yang artinya benda tajam dan telah berkembang cukup mengakar di dalam kehidupan masyarakat Bali. Pada awalnya “Tajen” merupakan bagian dari acara ritual keagamaan tabuh rah atau prang sata dalam masyarakat Hindu Bali. Yang mana tabuh rah ini mempersyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol / syarat menyucikan umat manusia dari ketamakan/ keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.
Sejalan dengan dinamika kehidupan sosial masyarakat Bali, telah terjadi pergeseran makna ritual dan bagian tabuh rah, yang mana makna tabuh rah atau prang sata telah dimanipulasi dan diterminologikan sebagai Tajen. Padahal bila dikaji, tabuh rah dan tajen merupakan suatu pengertian yang berbeda, namun pada kenyataannya tabuh rah dipakai tameng untuk menyelenggarakan tajen.

Ironisnya tajen ternyata mampu berperan sebagai medium interaksi dan komunikasi lintas strata sosial. Latar belakang status sosial menjadi cair dan kabur, masyarakat membaur dan melebur secara fisik dan emosional, semua pihak terfokus pada pertarungan kedua ayam adu. Bahkan tajen oleh masyarakat juga sudah dipandang sebagai salah satu bentuk hiburan dan permainan utnuk menghilangkan kejemuan dan kelelahan fisik setelah melakukan kegiatan berat.

Pada dekade belakangan ini posisi dan peran tajen semakin mengemuka dan seolah-olah mendapat legitimasi dari berbagai kalangan masyarakat. Beberapa oknum masyarakat beragurmentasi bahwa tajen yang digelar semata-mata ditujukan untuk kepentingan pembangunan atau pengembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat adat. Dari perspektif antropologi hukum fenomena sosial ini merupakan proses dekriminalisasi tajen sebagai perjudian. Meskipun ditinjau dari sudut agama khususnya agama Hindu, didalam kitab suci Wedha tidak ada satu ayatpun yang membenarkan adanya berbagai bentuk dan jenis kegiatan perjudian.

TAJEN, SABUNG AYAM ALA BALI
March 29, 2011 12 Comments

Sabung ayam, alias Gocekan, alias tajen, sudah lama tumbuh dan berkembang di Pulau Dewata. Sejak belasan generasi sebelumnya hingga kini, tajen telah merasuk ke sebagian warga bali , terutama laki-laki. Dulu tajen biasa dilakukan di tempat khusus, yakni sebuah arena yang dilengkapi dengan panggung penonton yang terbuat dari bambu. Namun sejak ada larangan pemerintah terhadap segala bentuk perjudian di tahun 1981, tajen tak lagi dilakukan pada tempat khusus tersebut. “Adu jotos” ayam jago pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rerimbunan kebun kopi, kebun kelapa, ladang jagung, tumpukan jerami usai panen, bahkan sudut pekuburan yang terpenting sulit dari pantauan pihak kepolisian.

Datangnya era reformasi memberi angin segar. Tajen tak lagi perlu “mengungsi”. Malah, belakangan tajen menjadi sarana untuk
“Aba abaan Siap ” Bawaan Ayam
Sebagaimana tak sembarang jagoan bisa terjun di ring tinju, demikian pula ayam aduan. Ia harus memiliki ciri dan syarat khusus. Selain bentuk kaki, jambul, atau jejuangan (keturunan), juga dilihat apakah ia berasal dari trah ayam berkualitas. Warna bulu, bentuk leher, bahkan komposisi warna bulu (ules) pun dipertimbangkan.
Malah ada kepercayaan mistis berkaitan dengan ayam seperti apa saja yang diizinkan masuk ring tajen. Tapi asal daerah ayam bukan masalah. Tak heran saat ini ayam aduan dalam tajen tidak melulu ayam lokal bali, tetapi juga ayam lombok, jawa, jepang, filipina, bahkan … amerika! Yang penting ia tidak mempunyai satu flek hitam di kakinya yang disebut raja wilah, atau tidak bercirikan warna merah di seluruh urat, lidah, maupun kulit, yang disebut ayam camah (Brahma). Kedua ayam itu pantang diadu dalam tajen.
Bila pemilik ayam nekad, risikonya bisa berupa perkelahian, atau serangan penyakit dadakan. Tak hanya si pemilik, anggota keluarganya pun bisa menjadi korban.
Dalam kitab anutan bebotoh (petaruh), disebut sebagai Lontar Pengayam-ayam, banyak disinggung tentang ayam yang dijamin tidak keok saat diadu. Selain ciri bawaan ayam yang mendatangkan keberuntungan, hari pertandingan pun berpengaruh. Siapa sangka, setiap jenis ayam memiliki hari baik tersendiri?
Soal perawatan menjadi faktor penting lainnya. Menjelang hari bertarung perhatian ekstra dicurahkan mulai soal makanan, perawatan dengan cara memandikan, mengurut, membedaki kakinya, menjemur, serta melatih si jago agar siap tempur di arena tajen.
Yang unik, arena aduan membedakan ayam berdasar warna dan keadaan bulu sekaligus. Buik (bulunya berwarna-warni), kelau (berbulu abu-abu), bihing (berbulu merah), wangkas (dadanya berbulu putih, sayapnya berwarna merah). Brumbun untuk “petarung” dengan kombinasi bulu merah, putih, dan hitam. Ayam berbulu putih disebut sa.
Sedangkan berdasarkan keadaan bulu, ayam dengan bulu leher sangat lebat dinamai ook. Bila tumbuh bulu (jambul) di kepala, disebut jambul. Godek, untuk ayam yang berbulu di … kaki!
“Kode Metoh” bertaruh
Konon, keberadaan bebotoh amat menentukan ramai-tidaknya tajen. Bahkan tajen dan bebotoh ibarat dua sejoli yang tak terpisahkan.
Betapa tidak, karena arena tajen sering diramaikan teriakan-teriakan istilah yang tak lazim, antara lain gasal, cok, pada, telude, apit, dan kedapang. Gasal adalah sistem taruhan dengan perbandingan lima banding empat. Cok, sistem taruhan tiga lawan empat, pada (sama) adalah taruhan satu lawan satu. Telude, dua banding tiga, apit menggunakan satu banding dua, sedangkan kedapang sembilan banding sepuluh.
Biasanya sebelum pertarungan dimulai, dua pakembar, “petugas” yang melepas ayam sebelum bertarung, terlebih dahulu memperkenalkan setiap ayam dengan cara meletakkannya dalam sebuah segi empat di tengah wantilan. Saat itu, akan tampak mana ayam yang pantas diunggulkan dan mana yang tidak. Misalnya seorang pakembar membawa ayam jambul, sedangkan yang lain membawa ayam kelau. Jika ada bebotoh yang menjagokan ayam jambul, ia berteriak menyambut. Jika hingga pakembar selesai dengan acara perkenalan itu tidak ada bebotoh yang mengunggulkan ayam kelau, otomatis ayam jambul menjadi unggulan. Selanjutnya, para bebotoh riuh menawarkan taruhan.
Bebotoh yang ingin mendapatkan “musuh” biasanya meneriakkan sistem taruhan yang dipilih dari tempatnya, tanpa perlu berkeliling arena. Maka, yang menimpali teriakannya akan menjadi lawan taruhan. Bebotoh pun dapat menggunakan jari tangan sebagai isyarat sistem taruhan yang ia inginkan. Maka lawan yang berminat pun membalas dengan isyarat serupa.
Setelah seekor ayam dinyatakan sebagai “petarung unggulan”, seseorang yang meneriakkan “cok” berarti memegang ayam yang menjadi lawan si unggulan. Syaratnya, kalau menang ia akan mendapatkan uang sebesar taruhan, sedangkan kalau kalah ia hanya membayar tiga perempat dari jumlah taruhan yang disepakati.
Dalam tajen pun ada wasit, yang disebut saya. Di setiap tajen ada empat saya yang bertugas yakni saya kemong, ketek, garis, dan lap. Saya kemong biasanya selalu didampingi gong kecil yang disebut kemong, paling tinggi jabatannya. Ia menentukan kapan memulai dan mengakhiri pertarungan.
Jika salah seekor ayam aduan sudah terkapar, bebotoh yang kalah akan menghampiri lawan untuk menyerahkan uang taruhan.
Sejak zaman Majapahit
Dalang wayang kulit sekaligus pelaku tajen IB Eka Darma Laksana menuturkan, tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain.
Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai). Sebelumnya pun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.
“Tradisi ini sudah lama ada, bahkan semenjak zaman Majapahit. Saat itu memakai istilah menetak gulu ayam. Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200,” ujar Gus Eka, panggilan akrab IB Eka Darma Laksana.
Serupa dengan berbagai aktivitas lain yang dilakukan masyarakat Bali dalam menjalani ritual, khususnya yang berhubungan dengan penguasa jagad, tabuh rah memiliki pedoman yang bersandar pada dasar sastra. Tabuh rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yad-nya pun banyak disebut dalam berbagai lontar. Misalnya, dalam lontar Siwa Tattwapurana yang antara lain menyebutkan, dalam tilem kesanga (saat bulan sama sekali tidak tampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali – Red.), Bathara Siwa mengadakan yoga, saat itu kewajiban manusia di bumi memberi persembahan, kemudian diadakan pertarungan ayam dan dilaksanakan Nyepi sehari. Yang diberi kurban adalah Sang Dasa Kala Bumi, karena jika tidak, celakalah manusia di bumi ini.
Sedangkan dalam lontar Yadnya Prakerti dijelaskan, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet dengan kelengkapan upakara. Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.
Macam-macam tajen
Lantas bagaimana ritual suci semacam tabuh rah berubah menjadi tajen? Menurut Gus Eka, itu tidak lepas dari daya pikat yang ditampilkan dari seni bertarung dua ayam jagoan. Asal tidak melampaui batas secara hukum adat, tajen tidak dilarang. Apalagi aturan main antarsesama bebotoh harus dipatuhi. Aturan itu ternyata juga disebutkan dalam lontar Darma Pajuden. Kalaupun ada yang curang, otomatis tidak akan ada yang mengajaknya bertaruh lagi.
Maka, muncul pemahaman, ada perbedaan jelas antara tabuh rah dan tajen, meski awal mula tajen memang dari pelaksanaan tabuh rah. Tabuh rah adalah rangkaian upacara, berbeda dengan tajen atau krecan (dari kata ica yang artinya tertawa). Jadi, falsafah tabuh rah dan tajen tidak boleh dibaurkan agar tidak menimbulkan degradasi tatwa (nilai).
Meski tergolong sebagai ritual upacara, ternyata tabuh rah tidak dilakukan di semua daerah di Bali. Tapi bila suatu daerah sudah berkeyakinan harus melaksanakan upacara tabuh rah, maka mutlak pula dilakukan. Kalau tidak, justru akan mendatangkan musibah (sima) bagi daerah tersebut.
Pakar hukum adat dari Universitas Udayana Prof. Dr. Nyoman Sirtha, M.S. menyatakan, tajen berawal dari kebiasaan yang bersumber dari pelaksanaan upacara agama saat ada odalan (perayaan tahunan) di pura, yang selalu menghadirkan caru (kurban). Contohnya, upacara pada Dewa Yadnya diikuti dengan persembahan caru, salah satunya dengan menyembelih ayam yang ditujukan kepada butha kala.
Perkembangan selanjutnya, beberapa daerah menyimbolkan penyembelihan ayam dengan mengadu kelapa dengan telur, sampai telurnya pecah. Namun, ada daerah yang mengganti kebiasaan itu dengan cara mengadu ayam, yang akhirnya berkembang menjadi tajen, berasal dari kata tajian, karena setiap kaki kiri ayam aduan selalu dipasangi taji.
Namun secara sosiologis, lanjut Nyoman Sirtha, pelaksanaan tajen ada tiga macam. Pertama, tajen dalam ritual tabuh rah yang lazim diadakan berkaitan dengan upacara agama. Tabuh berarti mencecerkan dan rah adalah darah. Pelaksanaan tajen dalam tabuh rah dianggap sebagai bagian dari rangkaian pelaksanaan upacara sehingga pelaksanaannya tidak dilarang.
Kedua, tajen terang sengaja digelar desa adat untuk menggalang dana. Berdasarkan hukum adat, tajen terang tidak dilarang, bahkan setiap desa adat memiliki awig-awig yang mengatur tata cara tajen meski tidak tertulis. Tajen terang dilakukan terbuka dengan melibatkan pecalang, saya. Bahkan didahului dengan upacara kepada Dewa Tajen agar tidak terjadi perselisihan selama acara berlangsung.
Ketiga, tajen branangan yang tanpa didahului izin kepala desa adat serta semata-mata berorientasi judi.
“Ada perbedaan mendasar. Kalau tajen terang, meski memakai taruhan, soal menang dan kalah bukan hal terpenting. Yang utama, mendapat hiburan. Berbeda dengan tajen branangan yang bisa disebut pelalian (bermain), karena rata-rata yang terlibat lebih mengutamakan berjudi, bahkan sampai lupa diri,” ujar Nyoman lagi.
Terlepas dari pandangan serta sorotan tentang tajen, sebenarnya kegiatan ini telah mengacu kepada aktivitas budaya yang rasanya amat sulit untuk dilepaskan dari dinamika kehidupan masyarakat Bali. Beberapa waktu lalu, tajen bahkan telah dikemas sebagai atraksi wisata bagi wisatawan asing. Nyatanya wisatawan asing yang disuguhi atraksi langka itu sangat antusias sewaktu menyaksikannya. Agar lepas dari pendapat pro dan kontra, tajen memang lebih pas bila diteropong dari kacamata budaya Bali.

ensambel angklung

Gambelan angklung
Gambelan angklung adalah gambelan khas bali yang sering digunakan dalam prosesi/upacara kematian. Gambelan angklung menggunakan laras selendro dan tergolong barungan madya yang di bentuk oleh instrument berbilah dan berpencon dari krawang, kadang-kadang ditambah dengan angklung kocok (yang ukuran keci).
Di bali selatan gambelan ini hanya menggunakan 4(empat) nada sedangkan di bali utara menggunakan 5(lima) nada. Berdasarkan konteks penggunaan gambelan ini serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :
Angklung klasik : Di mainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
Angklung kebyar : Di mainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun drama
Satu barung gambelan angklung bias berperan sebagai keduanya, karena sering kali menggunakan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat yang luas gambelan ini di kenal sebagai pengiring upacara Pitra Yadnya(ngaben). Di sekitaran Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan mayat di iringi dengan gambelan angklung yang menggantikan fungsi gambelan gong gede yang di pakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadya (odalan) atau juga upacara lainnya.
instrument gambelan angklung terdiri dari : *6-8 pasang alat yang terdiri dari sepasang jegogan, jublag, dan selebihnya pemade dan kantilan
* 3-4 pencon, reong angklung kebyar menggunakan 12 pencon
* 2 buah kendang kecil klasik dan 2 buah kendang besar jika memainkan angklung kebyar
* 1buah tawa-tawa
* 1 buah kempur kecuali angklung kebyar menggunakan gong
Gangsa angklung adalah suatu instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari (neng,ndung,ndang, nding) dengan gaya nada selendro. Salah satu gangsa angklung biasanya bisa langsung berfungsi sebagai pengugal atau pemimpin dalam barungan angklung itu. Instrument gangsa ini biasanya menggunakan alat pukul panggul atau juga panggul gender. Cara memainkannya adalah satu nada di pukul kemudian d tutup sesuai dengan irama yang kita inginkan.
Kantialan angklung adalah instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada (ndeng, ndung,ndang, nding)tetapi dengan nada lebih tinggi dengan gaya selendro. Kantilan ini berfungsi sebagai pemanis dalam permainan atau gending angklung tersebut. Instrument ini juga menggunakan alat pukul panggul atau juga menggunakan panggul gender
Jublag angklung adalah instrument yang juga mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada(ndeng,ndung,ndang,nding) tetapi nadanya lebih rendah dengan gaya selendro. Jublag ini berfungsi sebagai penandan dalam gending angklung itu sendiri. Insterument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi ukurannya lebih besar dan d bawah panggul itu menggunakan karet agar suara jublag terdengar lebih merdu
Reong angklung adalah instrument yang berpencon dengan gaya nada selendro dan dimainkan oleh 4(empat) orang pemain atau penabuh. Instrument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi panggul itu di lilit dengan benang dengan tujuan agar suara reong tersebut bisa lebih merdu
Kendang angklung, biasanya kalau untuk mengiringi upacara kematian kendang angklung yang digunakan adalah kendang yang berukuran kecil karena lagu yang dimainkan adalah lagu ysng bersifat sedih tetapi dalam angklung kebyar biasanya menggunakan kendang yang ukurannya lebih besar karena bentuk lagunya lebih bersemangat dan juga berbentuk kekebyaran. Instrument ini dimainkan oleh 2(dua) orang penabuh. Kalau menggunakan kendang berukuran kecil cara memainkannya hanya memukul bagian samping kanan yang diameternya lebih besar atau mukaknya saja, tetapi kalau menggunakan kendang besar cara memainkannya menggunakan 2(dua) tangan dengan memukul bagian samping kendang dengan motif pukulan seperti gegilak, dll
Tawa-tawa angklung merupakan alat sebagai tempo yang membawa lagu itu cepat atau pelan.
Kempur angklung merupakan suatu alat untuk menunjukkan lagu itu sudah habis, tetapi kalau angklung kebyar biasanya menggunakan gong, karena jenis lagunya berbentuk kekebyaran. Ada juga instrument kecek dan suling yang menjadi bagian dari barungan gambelan angklung tersebut.

tabuh rah