Artikel Tari Topeng Sidekarya Di Bali dan sejarahnya

Tari Topeng merupakan seni pentas tertua di jagat ini. Hampir semua bangsa di belahan dunia  mempunyai  benda seni penutup wajah dalam berbagai wujud dan watak. sehingga kini  topeng-topeng itu masih menjadi bagian tradisi atau

ekpresi estetik masyarakat manusia. juga pada masyarakat yang masih lekat tingkat kepercayaan animisme dan dinamisme, topeng bukan hanya dipandang sebagai sekedar penutup wajah namun dianggap memiliki kekuatan magis sehinga ada yang dipentaskan pada upacara besar, Sedangkan keberadaan topeng pada masyarakat modern selain tetap diusung sebagai benda seni juga dikembangkan sebagai bentuk seni pertunjukan tari atau teater juga tarian-tarian kreasi lainnya yang bisa menghibur. Bali adalah sumber seni banyak tarian-tarian sacral maupun tari kreasi yang sering dipentaskan ,dan  kita sudah sering mendengar dan kadang sering melihat bebepa tari pertunjukan khusnya tarian topeng sidekarya yang di adakan pada upacara upacara besar seperti ngaben, tawur agung, dan lain lainya, namun sudahkah kita tahu kenapa kita mementaskan tari topeng sidekarya. sebenarnya saya juga baru baru memahami makna tari tupeng sidekarya ini tarian ini tidak bisa di pentaskan pada tempat tari-tarian biasa karna maknanya religious untuk menyelesaikan suatu upacara –upacara besar hindu perlu dipentaskan tarian Topeng Sidakarya. Read More…

PENGERTIAN BUDAYA DAN KESENIAN BALI

Propinsi Bali adalah suatu daerah yang memiliki luas 5.632,86 km2 yang terbagi atas delapan kabupaten.Masing-masing kabupaten terbagi dalam kecamatan-kecamatan yang seluruhnya berjumlah 50 buah di dalamnya tercakup 546 buah desa dinas, sedangkan desa adatnya berjumlah 1456 buah yang terdiri dari 3627 banjar adat. Sedangkan secara geografis desa-desa di Bali dapat diklasifikasikan atas (1).desa pegunungan yang terdiri desa dataran dan desa pantai,(2)desa perkotaan yang terdiri dari desa pinggiran kota dan desa pedalaman,(3) desa nelayan yang terdiri dari desa pertanian dan desa kerajinan. Pulau yang luasnya hanya 0,29 persen dari keseluruhan wilayah daratan Indonesia, maskipun penduduknya hanya sekitar 3,4 juta jiwa Bali memiliki kekuatan yang tidak tersaingi oleh daerah-daerah di kawasan Indonesia timur lainnya (Kompas,9 Juli 2004). Potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh setiap kabupaten mendapat perioritas utama untuk dijadikan objek andalan untuk mendapatkan sumber devisa daerahnya.Seperti daerah-derah Kabupaten Badung yang terkenal dengan objek pariwisata pantai Kutanya dengan hiruk pikuk kehidupan malamnya dengan banyaknya berdiri hotel dari kelas yang berbintang maupun kelau melati Kota wilayah Denpasar juga memiliki objek andalan yang terkenal dengan pantai matahari terbitnya yaitu Sanur. Sanur merupakan suatu daerah yang pada awalnya sangat subur dengan pertaniannya sehingga dengan kedatangan preseiden pertama Indonesia ke daerah ini, maka segeralah mulai di bangun hotel yang tertinggi di Bali pada saat itu. Dulu nama hotel tersebut adalah Bali Beach dan sekarang sudah berubah menjadi Grand Bali Beach. Disamping itu sekarang sudah mulai banyak berdiri hotel yang berkelas maupun tidak .
Gianyar dengan objek andalannya sebagai pusat kerajinan dan keseniannya. Daerah Gianyar ini telah menjadi tempat yang menyenangkan bagi wisatawan asing yang menyukai “ART” Karena daerah ini di samping barang kesenian dan kerajinannya juga banyak seniman-seniman hebat baik tari, lukis, patung, karawitan dan crafnya. Sedangkan daerah kabupaten yang lainnya juga memiliki objek andalan namun untuk kunjungan wisatawan asing baik luar maupun domistik sebagai sumber devisa daerah masih dibawah tiga derah yang disebutkan di atas. Sebagai daerah kunjungan wisata Bali telah menempatkan posisinya sebgai pintu gerbang utama untuk pergaulan dunia, hal ini bisa terlihat pada tahun 1920-an Bali sudah melakukan interaksi kebudayaan secara intensif dengan kebudayaan Barat. Kontak dengan kebudayaan Barat telah memberikan semacam sentuhan impulsif untuk lebih membangkitkan potensi serta menjadi landasan bagi perkembangan kebudayaan Bali di masa-masa selanjutnya. Prodak kebudayaan Bali setelah mengalami interaksi dengan kebudayaan Barat tampak agak beda dengan produk-produk sebelumnya,misalnya dalam seni rupa, arsitektur, tari dan lain-lainnya. Read More…

KEBUDAYAAN BALI

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya Bali adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh masyarakat Bali dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni.
Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya memiliki sifat yang tidak kekal, seiring perkembangan jaman suatu dapat berubah-ubah sesuai dengan pengaruh atau atau kemajuan ilmu dan teknologi.

  1.   Budaya Bali yang Sudah Hilang

Adapun budaya Bali yang telah menghilang, antara lain sebagai berikut.

  1.    Desain bangunan

Desain rumah masyarakat Bali dahulu terlihat bahwa bentuk rumah yang sangat sederhana. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembutan rumah juga sangat sederhana. Bahan-bahan yang digunakan anatara lain tanah yang ditumpuk-tumpuk sehingga berwujud tembok dan atap rumahnya menggunakan rumput lalang atau daun kelapa. Tradisi rumah ini mulai ditinggalkan saat ada pengaruh dari luar dan pengaruh jaman dan teknologi seperti sekarang ini. Saat ini masyarakat khususnya di Bali menganggap bangunan seperti itu sudah “ketinggalan jaman”. Masyarakat seolah-olah berlomba membuat bangunan rumah senyaman mungkin. Mengenai tata ruang bangunanpun saat ini sudah tidak diperhatikan lagi. Masyarakan sekreatif mungkin membuat bangunan yang menarik tanpa memperhatikan tata ruang yang biasa dibuat oleh masyarakat jaman dulu.

  Read More…

TRADISI BUDAYA BALI

Pelaksaan Upacara Melasti dilakukan tiga hari (tilem kesanga) sebelum Hari Raya Nyepi, Upacara Melasti bisa juga sebut upacara Melis atau Mekilis, dimana pada hari ini umat Hindu melakukan sembahyangan di tepi pantai dengan tujuan untuk mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya kelaut,ini dilaksanakan sebelum merayakan Tapa Brata penyepian. Dalam lontar Sundarigama berbunyi seperti ini:”….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.”. Sementara Melasti dalam ajaran Hindu Bali berbunyi nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumberTirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Melasti sebagai rangkaian pelaksanaan perayaan Hari Raya Nyepi. Selain melakukan sembahyang, Melasti juga adalah hari pembersihan dan penyucian aneka benda sakral milik Pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya) benda benda tersebut di usung dan diarak mengelilingi desa, ini bertujuan menyucikan desa, selanjutnya menuju samudra, laut, danau, sungai atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan sembahyangan bersama menghadap laut, seluruh peserta upacara mengenakan baju putih. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, seluruh benda dan perlengkapan tersebut diusung ke Balai Agung Pura desa. Sebelum Ngrupuk dilakukan nyejer dan selamatan. Umat Hindu di Bali berharap mendapat kesucian diri lahir batin serta mendapatkan berkah dari Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Untuk menyambut Hari Raya Nyepi, pelaksaan upacara Melasti ini di bagi  berdasarkan wilayah, di Ibukota provinsi dilakukan Upacara Tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Read More…

CV

Nama saya I Putu Indra Pradita, alamat rumah saya di Br. Pondok, Peguyangan Kaja, Jalan Antasura, Denpasar Utara.

Nama orang tua saya :

Bapak : I Made Pujawan

Ibu       : Ni Made Ernawati

Pendidikan  saya sebagai mahasiswa tamatan SMA Negeri 8 Denpasar

Pengalaman Saya :

            Pengalaman saya dimasa SMA saya pernah mengikuti lomba makendang tunggal untuk mewakili sekolah saya dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang maksimal . Tetapi kenyataan berkata lain apa yang saya impikan tidak sesuai dengan harapan saya pada saat itu. Padahal saat itu saya sudah mencoba untuk berlatih dengan keras, dengan tekun dan tidak lupa saya berdoa agar pada saat lomba saya bisa di berikan tuntunan yang baik saat itu. Pada saat hari perlombaan itu tibalah giliran saya dengan no undi 8. Diatas panggung saya mencoba untuk tenang agar peerlombaan ini berlangsung dengan harapan saya. Teman teman dan Pembina dari sekolah saya sudah sangant semangat untuk mendukung saya di atas panggung. Saya tampil dengan maksimal. Menurut saya, saya teah melakukan dan menunjukkan hal yang terbaik untuk para dewan juri. Hati dan perasaan saya sangat terasa ringan karena telah dapat menunjukkan penampilan saya yang semaksimal mungkin. Namun saya sempat merasa down karena banyak diantara saya yang sudah berusaha untuk tampil semaksimal mungkin untuk memperoleh juara pertama dan saya yakin diantara para peserta yang mewakili sekolahnya banyak yang telah memahami bagaimana teknik permainan kendang sebenarnya. Sekarang tibalah saatnya pengumuman juara perlombaan tersebut hati dan perasaan saya menjadi gemetar dan deg – degan. Inilah yang harus saya terima dengan iklas ternyata kenyataan tidak sesuai dengan apa yang saya harapakan. Saya mendapat juara Harapan 1 rasa kecewa yang saya rasakan cukup mendalam pada saat itu. Namun teman –  teman dan Pembina saya selalu memberikan dukungan agar saya dapat menerima keputusan para dewan juri tersebut. Mulai dari saat itulah saya terus berlajar dan berusaha agar dapat memahami teknik permainan kendang yang sebenarnya. Dan yang ada alam benak saya saat itu hanya “Jadikan ini sebuah pengalaman yang berarti untuk terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kedepannya.” Yang menjadikan saya saat ini berada disini semua itu karena pengalaman saya. Saya bertekad untuk menggali ilmu disini agar nantinya saya dapt meraih semua impian saya yang masih tertinggal di belakang sana. Dengan cita – cita tersebut yang akan mampu membawa saya ke masa depan yang lebih cerah yang dapat melestarikan seni dan budaya khususnya daerah Bali yang mempunyai kebudayaan, adat dan istiadat yang beraneka ragam macam. Pengalaman saya yang kedua saat saya dipilih untuk menjadi perwakilan duta Taman Budaya Bali. Pada saat itu Taman Budaya ada acara Temu Karya Taman Budaya Se-Indonesia di Jambi dan saat itulah saya diajak untuk menjadi perwakilan duta Taman Budaya Bali, saat itu Taman Budaya Bali mengambil judul garapan “Dewi Sri” saya berperan sebagai sekaa gong bersama dengan teman – teman. Sebelum acara puncak pementasan dimulai, diawali dengan pawai ke 25 Taman Budaya se-Indonesia. Saya mendapat tugas sebagai duta daerah Bali untuk menampilkan Payas Pengantin mendampingi Kepala Taman Budaya Bali. Taman Budaya Bali mendapat kesempatan tampil pertama kali untuk mengisi acara tersebut. Masing – masing perwakilan Taman budaya terdiri dari 15 personil baik penari dan penabuh dengan jalan ceritanya. Diceritakan pada saat padi mulai menguning para petani pemilik sawah menghalau burung ke sawah dengan membawa peralatan (kerpuakan) ditengah sawah dipasanglah 2 orang – orangan sawah yang tujuannya untuk menghalau burung. Setelah pada menguning pemilik sawah membuat upakara (banten) pebiukukungan disutulah dibuat simbolis Dewi Sri berbentuk cili dengan cara mengetam beberapa helai padi kira – kiranya segenggam tangan dewasa, lalu diisikan prerari atau wajah sang dewi yang terbuat dari janur dan kemudian dihias. Kegembiraan petani pada saat itu menandakan keberhasilan panennya sehingga para pengiringnya bersorak sorai yang ditarikan oleh beberapa gadis dan ada juga yang berperan sebagai burung untuk mengganggu hasil disawah. Sinopsis cerita sebelum memasuki panggung diawali dengan ritual oleh yang berperan sebagai pemangku dengan berpakaian putih, keluar bersamaan dengan mengucapkan nyanyian rohani berupa kidung dan masing – masing penari membawa dupa sampai kepanggung pertunjukan. Setelah dilakukan ritual dipanggung barulah pementasan dimulai. Duta Bali setiap penampilannya selalu mendapat perhatian dari audien karena Bali menjadi ikon seni di Indonesia. Masyarakat penonton dari awal sampai akhir sangat antusias untuk mengikuti lakon yang dimainkan dalam 15 menit penampilan masing – masing Kepala Taman Budaya dimantai pendapatnya oleh pembawa acara tentang keadaan pulaunya mengapa seni bisa eksis dan bagaimana kiat – kiatnya untuk memajukan taman budaya di masing – masing daerah. Setelah selesai pertunjukan baik para pelajar mahasiswa dan masyarakat umum berbondong – bondong ingin berfoto bersama dengan para pendukung tampilan tadi. Keesokan harinya dilakukan acara evaluasi dari tampilan sebelumnya dengan mengambil tema Temu Sastra, masing – masing taman budaya diwakili oleeh 5 personil 2 orang dari unsure seniman penabuh dan 1 orang dari unsure penari, dan 1 orang lagi dari unsure kriya serta 1 orang lagi dari Kepala Taman Budaya. Permasalahan yang diangkat adalah kritik yang dilakukan oleh 2 orang unsure independen 1 orang dari pemkab Jambi dan 1 orangnya lagi dari Kemetrian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat. Masing – masing provensi mempertahankan ketika adanya suatu kritikan dari penampilan kemarin. Setelah acara evaluasi dilanjutkan dengan meninjau pameran berupa foto, lukisan, dan patung. Program temu karya Taman Budaya se-Indonesia diadakan setiap tahun di provinsi dengan selalu berpindah – pindah dari satu provinsi ke provinsi yang lain. Tema yang biasa diangkat disesuaikan dengan daerah masing – masing untuk provinsi Bali pada saat Prof.Dr. Ida Bagus Mantra sebagai Direktur Jendral Kebudayaan Taman Budaya Bali sudah pernah terpilih sebagai tempat penyelenggaran Temu Karya Taman Budaya. Untuk menentukan lokasinya biasanya diawali dengan rapat awal ditempat penyelenggaran kegiataan saaat itu. Dengan diadakannya Temu karya tersebut dapat diketahui potensi kesenian masing – masing daerah dan sebagai pertukaran budaya sehingga kita semua tahu seni di masing – masing daerah itu. Pada saat itulah saya melihat keakraban dan rasa persaudaraan sesama taman budaya selama berlangsungnya kegiatan tersebut.