indahsuputra


Gamelan Balaganjur dalam konteks Tri Hita Karana

Bunyi gamelan merupakan salah satu media informasi adanya suatu prosesi ritual. Dengan mendengarkan bunyi gamelan kita dapat mengetahui adanya prosesi ritual di suatu tempat, bahkan banyak orang dapat mengetahui dari jauh tentang proses atau urutan dan tahapan-tahapan pelaksanaan ritual itu melalui bunyi gamelan. Salah satu contohnya yaitu saat seseorang dari kejauhan mendengar bunyi gamelan Baleganjur, maka ia dapat mengetahuai bahwa telah dilaksanakanya sebuah prosesi ritual, melis, mecaru atau upacara Bhuta yadnya.

Mendengar bunyi gamelan Baleganjur, kadang kala memotifasi kita untuk melihat atau menyaksikan prosesi ritual yang berlangsung yang diiringi dengan gamelan Baleganjur. Gamelan Baleganjur merupakan salah satu jenis barungan gamelan Bali yang mempunyai karakter yang keras, mendebarkan sehingga mampu membangkitkan suasana hati yang pada umumnya dipakai untuk mengiringi prosesi ritual.

Didalam setiap pelaksanaan prosesi ritual hindu di Bali selalu disertai oleh suara gamelan. Suara gamelan merupakan salah satu dari konsep Panca Gita diantaranya : Kidung/lagu-lagu pujaan, Suara Genta, Mantra, Kulkul dan Suara gamelan. Terkait dengan konsepsi Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab kesejahteraan materi dan rohani manusia, maka kesejahteraan adalah hasil integrasi dari hubungan harmoni dari tiga variabel yakni : pertama, hubungan harmoni antara insan manusia dengan Tuhan (Parhyangan). Kedua, hubungan harmoni antara insan manusia yang satu dengan insan manusia yang lainnya tanpa memandang ras, agama dan kebangsaan (Pawongan). Ketiga, hubungna harmoni antara insan manusia dengan alam dengan jaminan bahwa pemamfaatan alam oleh manusia untuk kesejahteraan bersama, tetap menjaga keseimbangan di alam itu sendiri (Palemahan). Dalam setiap aspek tersebut selalu diikuti suara gamelan, dan tak dapat dipungkiri gamelan Bleganjur juga kadang kala digunakan untuk mengiringi setiap jenis kegiatan baik yang sifatnya ritual maupun presentasi estetis.

Gamelan Bleganjur, pada kenyataannya sampai saat ini masih difungsikan sebagai gamelan pengiring prosesi. Gamelan ini, bila dikaitkan dalam konsep Tri Hita Karana dapat dilihat dari sudut fungsi yang didalamnya berhubungan dengan konteks upacara (Parhyangan), konteks sosial (Pawongan) dan konteks lingkungan, budaya dan pariwisata (Palemahan).

Konteks Upacara (Parhyangan)

Bila dimasukan dalam konteks Tri Hita Karana iringan gamelan Bleganjur tidak boleh terlepas dari kontek parhyangan yang digunakan untuk mengiringi upacara ritual keagamaan. Misalnya : dalam konteks upacara dewa yadnya menggunakan gamelan bleganjur sebagai musik iringan prosesi seperti upacara melasti, mendak ida betara dan sejenisnya. Dalam konteks upacara manusa yadnya, gamelan baleganjur digunakan untuk mengiringi upacara ngaben. Gamelan bleganjur yang digunakan saat pelaksanaan upacara bhuta yadnya diyakini berfungsi sebagai sarana pengundang para bhuta, dengan karakter tabuh yang keras yang berbeda dengan upacara dewa yadnya. Menurut Indiani Ni Made. 1997. “Konsepsi Tri Hita Karana”, dalam Vidya Wertta, Konsep Tri Hita Karana juga merupakan konsep yang melandasi segala pelaksanaan ritual, misalnya pada upacara bhuta yadnya, yang pada hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan Bhuta Kala menjadi Bhuta Hita, Bhuta Hita artinya menyejahterakan dan melestarikan alam lingkungan beserta isinya. Semua kegiatan ritual diatas sebagian besar diiringi dengan tetabuhan gamelan Bleganjur. Dalam memainkan tetabuhan gamelan Bleganjur diatas harus disesuaikan dengan etika. Etika dimaksud disini ialah bagaimana Bleganjur yang digunakan dalam dewa yadnya dengan bhuta yadnya harus dibedakan baik dari unsur garap musikalnya maupun tata penyajiannya. Semua itu tidak terlepas dari apa yang disebutkan dalam lontar Prakempa yang salah satu berhubungan dengan aspek filsafat, etika, estetika, dan teknik menabuh gamelan Bali. Beberapa hal tersebut, harus diperhatikan dalam memainkan gamelan Bleganjur yang difungsikan sebagai musik prosesi ritual.

Konteks Sosial (Pawongan )

Gamelan Bleganjur kendatipun masih eksis digunakan dalam konteks prosesi ritual, juga tak luput dari hukum perubahan baik bentuk garap, nuansa musikal yang tentunya disebabkan orientasi fungsi dan penggunaannya. Bentuk dan tata penyajiannya juga akhirnya berkembang, yaitu tidak hanya sebagai musik pengiring prosesi ritual, melainkan juga sebagai musik instrumental dan iringan seni pertunjukan. Perkembangan tata garap ini bahkan lebih menekankan pada penciptaan musik yang lebih artistik, baik dari segi suara musikal maupun penampilan pemainnya yang mengutamakan penampilan estetis

Terkait dengan konsep Tri Hita karana, konsep ngayah juga memberi peluang pada gamelan Bleganjur dalam konteks sosial disamping ada juga hubungannya dengan konteks parhyangan.Dalam konteks pawongan disini, juga dapat dilihat dari hubungan gamelan Bleganjur yang difungsikan sebagai presentasi estetis disejajarkan dengan konsep pawongan yang terdapat dalam Tri Hita Karana.

Hubungan Pawongan disini menyangkut tentang sosial masyarakat, yang didalamnya memuat tentang gamelan Bleganjur yang dilihat dari segi fungsi yaitu gamelan Bleganjur digunakan dalam perlombaan (festival Bleganjur), pengiring lomba layang-layang maupun pengiring ogoh-ogoh, baik yang dilombakankan maupun yang sifatnya pawai.

Dalam hubungan gamelan Bleganjur dengan pawongan, yang paling menarik disini ialah gamelan Bleganjur telah mampu memikat hati generasi muda khususnya dalam mempelajari, memainkan dan melombakan Bleganjur. Lomba Bleganjur dewasa ini merupakan salah satu pertunjukan yang populer, sebab dengan tata garap musikal yang baru, penampilan yang lihai dengan aktingnya atau dengan kata lain Bleganjur yang ditarikan, dilengkapi dengan berbagai atribut keindahan telah mampu menampilkan tontonan yang indah baik secara audio maupun visual.

Konteks lingkungan, Budaya dan Pariwisata (Palemahan)

Hubungan Bleganjur terkait dengan konteks lingkungan dan budaya termasuk dalam konsep palemahan dalam Tri Hita karana, mempunyai peranan yang sangat penting. Bila dilihat dari hubungannya dengan lingkungan, gamelan Bleganjur digunakan sebagai musik prosesi pada upacara mecaru dan tawur agung, yang ada hubungannya dengan keseimbangan alam semesta dan lingkungan sekitar. Disamping itu konsep lingkungan dalam hubungannya dengan palemahan juga dilihat dari lingkungan budaya dan pariwisata. Gamelan Bleganjur bila dilihat dari segi budaya, juga berperan dalam uapaya pelestarian budaya karena gamelan Bleganjur merupakan salah satu warisan budaya yang patut kita jaga kelestariannya.


is | Topic: Ringkasan | Tags: None

No Comments, Comment or Ping

Reply to “Gamelan Balaganjur dalam konteks Tri Hita Karana”

You must be logged in to post a comment.