GENGGONG

Posted by ibnarendra on Juli 17, 2018
Tak Berkategori / No Comments

Sejarah Genggong Sebagai Gamelan Repertoar

Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sudah kita warisi sejak jaman yang lampau. Sebagai sebuah isntrumen musik yang tua, genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan nampaknya sangat sederhana. Meskipun demikian, alat musik yang mudah untuk dibawa ini sebenarnya memiliki akustuk dan teknik yang cukup rumit. Tambahan pula bahwa genggong atau alat musik yang mempunyai prinsip yang hampir sama dengan genggong, tidak saja dapat kita jumpai di bali, melainkan hampir terdapat di seluruh dunia, misalnya di india di kenal dengan nama morsing, di eropa atau amerika populer dengan sebutan jew’s harp, dan sebagainya. Hal yang juga sangat menarik dari genggong itu adalah keberadaan atau kelangsungan hidupnya di masyarakat. Ia memang merupakan sebuah instrumen tua, namun genggong tetap bertahan hingga sekarang. Genggong tidak saja merupakan obyek yang menarik bagi para komposer, namun ia mendapat perhatian yang sangat serius dari para cendekiawan. Sebagai mana kita singgung di atas bahwa genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sangat menarik. Alat musik ini tebuat dari pelapah enau (bhs. Bali pugpug), berbentuk segi empat panjang, dengan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Di tengah-tengahnya dibuat sebuah pelayah sepanjang kurang lebih12 cm pada ujung kanan dari instrumen ini dibuat lubang kecil tempat tali benang yang panjangnya 17 cm kemudian benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu atau kayu kecil sepanjang 7 s/d 10 cm. Sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain atau daun rontal sebagai tempat pegangan ketika bermain. Untuk memainkan sebuah genggong, pertama-tama memegang ujung alat kiri yaitu bagian yang diikatkan dengan kain atau daun rontal dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang potongan bambu atau kayu kecil yang diikat dengan benang. Selanjutnya isntrumen ini di kulum dengan bagian pelayah yang paling tipis berada di tengah-tengah. Untuk membunyikannya maka dengan perantaraan lidi tadi benang itu ditarik-tarik agak menyudut ke kanan atas. Dengan adanya tarikan benang tadi maka pelayah genggong itu akan bergetar di antara gigi atas dan bawah, dan disini rongga mulut akan berfungsi sebagai resonator. Possisi bibir, pipi, gigi dan rongga kerongkongan akan sangat menentukan jenis nada yang dihasilkan atau ditentukan. Menurut Bapak Anak Agung Raka Cameng, seorang seniman genggong dari ubud, gianyar, mengatakan bahwa untuk dapat menghasilkan nada-nada, dipergunakan teknik yang di sebut “ngengkahin” (menghembusi)

Perkembangan genggong sebagai seni pertunjukan

Genggong yang semula merupakan instrumen tunggal dalam perjalanan sejarah kemudian berkembang menjadi sebuah barungan (ensembel). Adanya perubahan seperti ini merupakan  suatu bukti bahwa seniman kita tetap menginginkan adanya kemajuan, dan selanjutnya akan memberikan dampak tertentu baik kepada instrumenasi, komposisi gending, teknik dan sebagainya. Perubahan ini disebabkan karena adanya motivasi dari dalam (internal) maupun dari luar (external). Faktor dorongan dari dalam terjadi karena adanya keinginan dari anggota sekaa atau masyarakat setempat, sedangkan faktor luar itu terjadi berkat adanya motivasi dari luar sekaa atau masyarakat itu sendiri. Sebagai salah satu contoh dari adanya dorongan dari luar ini dapat kami kemukakan berdirinya sekaa genggong Catur Wangsa Budaya Ubud. Seka genggong yang didirikan sekitar tahun 1939 ini bermula dari anjuran salah seorang touris atau seniman asing yang bernama Rudolf Bonnet yang sering dipanggil dengan nama Tuan Bonnet adalah seorang seniman (pelukis) berkebangsaan belanda, tinggal di puri kantor ubud sekitar tahun 1930-an. Ia yang menempati sebuah bangunan yang disebut “loteng” sering sekali mendatangkan teman-temannya (orang asing) ke ubud untuk acara pesta. Dalam acara makan-makan tersebut biasanya selalu dilengkapi dengan acara hiburan baik berupa gambelan maupun tarian. Pada suatu ketika Tuan Bonnet mendengar suara genggong, yang dimainkan oleh Anak Agung Raka Cameng. Bermula dari sini kemudian Tuan Bonnet menyarankan agar  Anak Agung Raka Cameng bisa mengumpulkan beberapa buah genggong dilengkapi dengan beberapa jenis instrumen lainnya, sehingga terwujudlah barungan gamelan genggong beserta sekaanya.

 

Analisa tentang laras genggong.

            Ada tiga buah rekaman Genggong yang dipergunakan untuk kepentingan penelitian, yaitu:

  1. Rekaman Genggong dari tenganan dimainkan oleh bapak Mudita Adnyana.
  2. Rekaman Genggong dari Ubud dinaibkan oleh bapak Anak Agung Raka Cemeng.
  3. Rekaman Genggong yang dimainkan oleh Bapak I Made Budi dari Batuan.

Dari hasil rekaman tersebut menunjukkan hasil yang berbeda dan sehingga membuat perbandingan laras tersebut sangat jelas.

 

Nada terendah dari Genggong, nada Ndeng, berkisar antara 452.8 Hz. Dan 492.2 Hz. Sama dengan A+52 cents dan Bd+94 cents. Nada terendah Ndeng dari Angklung desa Mas adalah 420.5 Hz sama dengan G+80 cent. Nada angklung UMBC sedikit lebih rendah, 391.3 Hz sama dengan G-3 cent, meskipun secara umum masih berkisar pada register yang sama.

Penelitian ini membuktikan bahwa laras genggong memang benar mempunyai hubungan yang erat dengan laras slendro empat nada di Bali, khususnya laras gamelan Angklung. Dengan demikian penelitian ini telah memperkuat pendapat para seniman dan ahli karawitan kita.

PERBEDAAN GAMELAN GONG KEBYAR BALI SELATAN DENGAN BALI UTARA

Posted by ibnarendra on Juli 17, 2018
Tak Berkategori / No Comments
  1. PERBEDAAN BENTUK BILAH DAN PENCON GAMELAN GONG KEBYAR BALI UTARA DAN BALI SELATAN

Bersumber dari pengalaman saya berlatih di kampong halaman saya di Singaraja dan pengalaman saya menempuh pendidikan  di kampus ISI DENPASAR, dapat saya jelaskan bahwa bentuk bilah dari gamelan Bali Utara dengan gamelan Bali Selatan sangat berbeda. Perbedaannya antara lain, gamelan Bali Utara bentuk bilah gangsenya bulat tanpa sudut atau istilah balinya puleh. Sedangkan, bentuk bilah gamelan Bali selatan bila di kaitkan dengan bangun datar bentuknya menyerupai trapesium yang memiliki dua sudut dibagian atasnya. Berikut adalah foto-foto yang saya peroleh di pusat dokumentasi ISI DENPASAR menyangkut bukti perbedaan bentuk bilah gamelan gong kebyar bali selatan dengan Bali Utara.

 

 

Tidak hanya pada bilah gangse saja, perbedaan gamelan gong kebyar bali utara dan bali selatan juga terdapat pada pencon di instrumen reong dan terompongnya. Dari apa yang saya lihat, pencon reong gamelan bali utara cenderung pendek dan bulatnya persis seperti benjolan pada umumnya. Sedangkan pencon gamelan bali selatan cenderung penconnya lebih tinggi, yang tingginya hanya beberapa senti dan kemudian baru dihiasi dengan setengah bulatan yang menjadi ujung dari pencon reong tersebut. Berikut foto-fotonya.

 

 

  1. PERBEDAAN BENTUK BARUNGAN GAMELAN GONG KEBYAR BALI UTARA DENGAN BALI SELATAN

Dari apa yang saya amati, dapat saya jelaskan bentuk barungan gong kebyar Bali Utara dengan Bali Selatan sangat berbeda. Gamelan Bali Utara memiliki jumlah barungan diantaranya 2 ugal, 4 gangse pengenter, ada juga yang memiliki 6 gangse pengenter, dan ada juga yang memiliki 8 gangse pengenter, 4 kantil, ada juga yang memiliki 2 kantil, 1 terompong, 2 reong (reong pengenter dan reong  kantil), sepasang penyacah (ada juga yang tidak menggunakan penyacah), sepasang jublag, sepasang jegog, 1 buah kempur, 2 buah gong lanang wadon, 2 pasang kendang (kendang jedutan dan kendang pepanggulan, 1 buah petuk, 1 buah kempli, 1 buah kemong, dua buah kecek (ada juga yang hanya mempunyai satu kecek)dan 1 buah bende.

Sedangkan gamelan Bali Selatan yang saya tau jumlah barungannya antara lain 4 buah gangse pengenter, 4 buah kantil, 2 buah ugal, sepasang penyacah, sepasang jublag, sepasang jegog, sepasang gong lanang wadon, satu kempur, satu kempli, satu petuk, satu buah kecek, dua pasang kendang (kendang jedutan dan pepanggulan), 1 buah terompong, dan 1 buah reong. Berikut adalah foto bentuk barungan gamelan Bali Utara dan Bali Selatan.

 

 

Namun kini jumlah barungan gamelan gong kebyar Bali Utara dengan Bali Selatan sudah sama karena sudah dipatenkan dan tidak boleh melebihi atau mengurangi sebagai bentuk aturan untuk mengikuti event gong kebyar mebarung.

PENGARUH GONG KEBYAR TERHADAP GAMELAN ANGKLUNG DAUN 7

Posted by ibnarendra on Juli 17, 2018
Tak Berkategori / No Comments

Gong kebyar merupakan salah satu alat musik tradisional Bali yang paling banyak digemari oleh para seniman maupun para penikmat seni. Hal tersebut bukan berarti tanpa  alasan, melainkan karena selain gamelan ini masih bisa dikatakan baru, gamelan ini juga memiliki sifat yang sangat dinamis. Sifat dinamis gamelan gong kebyar, tercerminkan dari cita rasa tabuh yang dimainkan yang mana tabuh yang dimainkan dominan temponya cepat. Sedangkan, sifat elastis gamelan gong kebyar tercermin dari adanya penambahan partitur repertoar gamelan golongan tua ke dalam gong kebyar, seperti contoh; gegenderan (gender wayang), gegambangan(gambang), dan leluangan(gong luang). Selain itu, gong kebyar juga mampu memberikan pengaruh terhadap barungan gamelan yang lainnya seperti; gamelan samara pagulingan, gamelan angklung daun 7, dan lain-lain. Namun, yang akan saya bahas di sini adalah pengaruh gamelan gong kebyar pada gamelan angklung daun 7.

Gamelan angklung daun 7 merupakan salah satu barungan gamelan golongan tua yang juga dengan gong kebyar berasal dari Buleleng (Singaraja). Gamelan angklung daun 7 pada umumnya dipergunakan untuk mengiringi upacara pitra yadnya sama halnya seperti gamelan angklung klentangan. Namun, menurut penglihatan saya, kini gamelan angklung sedikit terpengaruh dengan keberadaan gong kebyar saat ini. Dari yang saya lihat, Hal-hal yang dipengaruhi dari gamelan angklung diantaranya; fungsinya, gaya tabuh, dan bentuk gamelannya. Pengaruh yang pertama adalah dari segi fungsi. Dulu kita ketahui bahwa gamelan angklung sangat identik dengan upacara pitra yadnya. Namun kini, gamelan angklung sudah sering ditemui pada prosesi upacara dewa yadnya, manusia yadnya, dan lain-lain. Hal itu beralasan lantaran masih banyak, banjar dinas yang ada ditempat saya berasal belum memiliki barungan gamelan gong kebyar, dan suatu kebetulan hanya ada gamelan angklung di tempat tersebut dan akhirnya gamelan angklunglah yang digunakan untuk mengiringi prosesi upacara tersebut.

Selanjutnya pengaruh dari segi gaya tabuhnya. Dari yang saya ketahui, gaya tetabuhan gamelan angklung identik pada temponya yang lambat dan kadang sedang. Namun, sejak gamelan gong kebyar menguasai panggung pagelaran seni karawitan bali, hal itu pun membuat gamelan angklung meniru sedikit ciri khas dari gong kebyar, dengan adanya teknik-teknik rumit layaknya tabuh gong kebyar pada komposisi gamelan angklung. Selain itu, tabuh-tabuh gamelan angklung pun mulai memakai tempo cepat dan hingga yang terbaru, gamelan angklung dapat digunakan untuk mengiringi tari lepas seperti; puspanjali, cendrawasih, truna jaya, dan lain-lain. Dan yang terakhir adalah pengaruh dari segi bentuk gamelan. Dahulu gamelan angklung sebagian besar bentuk pelawah dari gamelan tersebut mengambil motif lelengisan (tidak memakai motif ukiran). Namun kini dengan jaman yang semakin berkembang serta tuntutan dari sebuah pagelaran, memaksa gamelan angklung mengalami perubahan pada pelawahnya yang hingga saat ini mulai memakai motif-motif ukiran, bahkan kini ada juga barungan angklung yang memakai instrument ugal serta memakai kendang size besar pepanggulan. Sekian penjelasan mengenai pengaruh gong kebyar terhadap barungan gamelan lainnya, terima kasih.

7 Unsur Kebudayaan Universal Menurut Koentjaraningrat

Posted by ibnarendra on April 16, 2018
Tak Berkategori / No Comments

kebudayaan bangsa bangsa di dunia. Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal yaitu

  1. Bahasa
  2. Sistem Pengetahuan
  3. Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial
  4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
  5. Sistem Mata Pencaharian Hidup
  6. Sistem Religi
  7. Kesenian

 

#1 Bahasa

Bahasa adalah suatu pengucapan yang indah dalam elemen kebudayaan dan sekaligus menjadi alat perantara yang utama bagi manusia untuk meneruskan atau mengadaptasi kan kebudayaan. Bentuk bahasa ada dua yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan.

 

#2 Sistem Pengetahuan

Sistem pengetahuan itu berkisar pada pegetahuan tentang kondisi alam sekelilingnya dan sifat sifat peralatan yang dipakainya. Sistem pengetahuan meliputi ruang pengatahuan tentang alam sekitar, flora dan fauna, waktu, ruang dan bilangan, sifat sifat dan tingakh laku sesama manusia, tubuh manusia.

 

#3 Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial

Organisasi Sosial adalah sekelompok masyarakat yang anggotanya merasa satu dengan sesamanya. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi: kekerabatan, asosiasi dan perkumpulan, sistem kenegaraan, sistem kesatuan hidup, perkumpulan.

 

 

 

#4 Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

Yang dimaksud dengan teknologi adalah jumlah keseluruhan teknik yang dimiliki oleh para nggota suatu masyarakat, meliputi keseluruhan cara bertindak dan berbuat dalam hubungannya degnan pengumpulan bahan bahan menta, pemrosesan bahan bahan itu untuk dibuat menjadi alat kerja, penyimpanan, pakaian, perumahan, alat trasportasi dan kebutuhan lain yang berupa benda meterial.

 

Unsur teknologi yang paling menonjol adalah kebudayaan fisik yang meliputi, alat alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan serta alat alat transportasi.

 

#5 Sistem mata pencaharian hidup 

Sistem mata pencaharian hidup merupakan segala usaha manusia untuk mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi yang meliputi, berburu dan mengumpulkan makanan, bercocok tanam, peternakan, perikanan, perdagangan.

 

#6 Sistem Religi

Sistem religi dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang terpadu antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal hal suci dan tidak terjangkau oleh akal. Sistem religi yang meliputi, sistem kepercayaan, sistem nilai dan pandangan hidup, komunikasi keagamaan, upacara keagamaan.

 

#7 Kesenian

Secara sederhana eksenian dapat diartikan sebagai segala hasrat manusia terhadap keindaha. bentuk kendahan yang beraneka tagam itu timul dari permainan imajinasi kreatif yang dapat memberikan kepuasan batin bagi amnusia. Secara garis besar, kita dapat memetakan bentuk kesenian dalam tiga garis besar, yaitu seni rupa, seni suara dan seni tari.

 

Dikutip dari LKS IPS Modul Mitra terbitan CV Media Citra Pratama

 

Dampak Penyalahgunaan Iptek Pada Kehidupan

Posted by ibnarendra on April 16, 2018
Tak Berkategori / No Comments

Semestinya, semakin tinggi penguasaan tinggi  penguasaan terhadap Ipteks, harusnya manusia semakin kritis dalam berpikir, semakin disiplin dalam bekerja, dan semakin efisien dalam bertindak. Akan tetapi, pada kenyataannya kebanyakan manusia justru semakin merasa dibuai dengan semua fasilitas dan produk yang dihasilkan oleh Ipteks sekarang ini.

Dampak langsung dari kemajuan Ipteks adalah kemudahan-kemudahan dalam beraktifitas. Memang Ipteks diciptakan dengan tujuan untuk memberikan berbagai kemudahan dan memperingan beban pekerjaan manusia yang tadinya sangat melelahkan menjadi ringan. Namun, dampak negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, dapat mengakibatkan masyarakat semakin terbuai, karena mereka hampir tak sadar bahwa ternyata dirinya telah berada dalam situasi pola hidup konsumtif, hedonistik, dan materialistik.

 

Perkembangan Ipteks yang demikian pesat mampu menciptakan perubahan-perubahan yang berpengaruh yang demikian pesat mampu menciptakan perubahan-perubahan yang berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya dalam elemen-elemen sebagai berikut:

  1. Perubahan di bidang intelektual;masyarakat meninggalkan kebiasaan lama atau kepercayaan tradisional, mereka mulai mengambil kebiasaan serta kepercayaan baru, setidaknya mereka telah melakukan reaktualisasi.
  2. Perubahan dalam organisasi sosial yang mengarah pada kehidupan politik.
  3. Perubahan dan benturan-benturan terhadap tata nilai dan tata lingkungannya.