Skip to content


Petisi Mendesak Revisi Perpres 88 Tahun 2013 dan Perpres 65 tahun 2007

Kepada Yang Terhormat

Presiden Republik Indonesia

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan

 Pada tanggal 11 Desember 2013 telah disahkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2013 (selanjutnya disebut Perpres 88/2013) mengenai Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selanjutnya, dalam Pasal 3.1.f. Perpres ini menyatakan bahwa dosen dikecualikan sebagai penerima Tunjangan Kinerja di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lahirnya Perpres 88/2013 menunjukkan ketidakadilan pemerintah terhadap profesi dosen di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  Padahal di saat yang sama dosen-dosen di Indonesia dituntut untuk memacu produktivitas dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi agar dunia pendidikan tinggi Indonesia bisa berkompetisi secara global.

Berkaitan dengan lahirnya Perpres 88/2013 tersebut, ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan:

1. Perpres 88/2013 pasal 3.1.f menyandingkan ”Dosen dan Guru“ sebagai pihak yang dikecualikan sebagai penerima Tunjangan Kinerja. Dalam pandangan kami, Perpres ini gagal memahami status kepegawaian dosen sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pusat dan guru sebagai PNS daerah. Seharusnya dosen sebagai PNS pusat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki hak yang sama dengan PNS lainnya yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Pusat. Sementara guru sebagai PNS yang berada di bawah naungan Pemerintah Daerah.

2. Salah satu alasan yang paling sering didengar mengenai dikecualikannya dosen di bawah kewenangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk mendapatkan Tunjangan Kinerja adalah karena adanya Tunjangan Profesi berupa Sertifikasi Dosen. Menurut hemat kami, Tunjangan Kinerja dan Tunjangan Profesi (Sertifikasi) Dosen berbeda dalam banyak hal. Pertama, Tunjangan Kinerja menempel pada status PNS secara otomatis, lantas diukur aspek pengurangnya (ketidakhadiran, dsb). Sedangkan Sertifikasi Dosen didapatkan secara bertahap, melalui antrian panjang dan proses yang semakin lama semakin sulit (TOEFL, TPA, dsb.). Pertanyaan kami, apakah seluruh dosen di bawah Kemdikbud sudah lolos Sertifikasi Dosen? Jika ya, berapa persen yang sudah? Kedua, dosen yang sudah tersertifikasi tidak mendapatkan Tunjangan Sertifikasi Dosen ketika Tugas Belajar. Padahal di banyak instansi yang pegawainya mendapat Tunjangan Kinerja, ketika Tugas Belajar, tunjangan kinerjanya tetap dibayarkan (dengan prosentase beragam). Ketiga, besaran Sertifikasi Dosen setara setiap dosen, dalam arti sesuai gaji pokok pangkat/golongan. Beda satu golongan dengan golongan lain sedikit saja. Sementara besaran Tunjangan Kinerja berdasarkan kelas-kelas tertentu (Job Class) secara bertingkat.

3. Perpres 88/2013 menunjukkan bahwa di kalangan Pemerintah Pusat pun, rupanya para dosen di bawah Kemdikbud mengalami perbedaan perlakuan. Dosen di instansi lain seperti STIA LAN dan APP Kementerian Perindustrian misalnya, sebagaimana PNS Pusat yang lain, mendapatkan tunjangan kinerja berdasarkan job class sesuai Tunjangan Fungsional yang dimiliki. Walaupun kami paham bahwa dosen tidak akan mendapatkan Tunjangan Kinerja dan Sertifikasi Dosen secara bersamaan, namun mendapatkan selisihnya.  Lalu, mengapa dosen di Kemdikbud mesti didiskriminasi?

4. Selanjutnya, mengapa tidak diatur saja seperti penerima Tunjangan Profesi lain bahwa yang dibayarkan selisih antara Tunjangan Profesi dan Tunjangan Kinerja? Bagi negara ini juga tidak membebani anggaran terlalu besar, namun memberi keadilan terutama bagi dosen-dosen yang belum tersertifikasi dan dosen-dosen yang sedang Tugas Belajar.

Dengan disahkannya Perpres 88/2013, kami, dosen di bawah naungan Kemdikbud, merasa kawatir dengan dampak buruk sistemik kebijakan ini terhadap kualitas pendidikan tinggi Indonesia ke depan, seperti: orientasi berlebih pada jabatan struktural, enggannya anak-anak bangsa terbaik untuk menjadi dosen, dan motivasi kerja yang melemah. Sedangkan pada saat yang sama kita semua sedang berupaya keras mewujudkan World Class University.  Bukankah ini sebuah ironi?

Oleh sebab itu, kami mendesak dua hal berikut:

1. Pemerintah agar merevisi Perpres 88/2013 dengan mencabut pengecualian dosen di bawah Kemdikbud sebagai pihak yang tidak berhak mendapatkan Tunjangan Kinerja. Hal ini juga untuk membangun kesetaraan antara dosen Kemdikbud dengan dosen di instansi pemerintah pusat lainnya.

2.  Pemerintah agar merevisi Perpres 65/2007 tentang Tunjangan Dosen. Perpres tersebut sudah berumur enam tahun dan menempatkan Tunjangan Fungsional Dosen jauh berada di bawah Jabatan Fungsional yang lain. Padahal dosen dituntut untuk berpendidikan sampai jenjang doktor dan selain mengajar juga harus melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kenaikan Tunjangan Fungsional ini juga relevan dengan semakin sulitnya mendapatkan kenaikan jabatan fungsional dosen dengan adanya Permenpan 17/2013. Setidaknya Tunjangan Fungsional Dosen bisa setara atau lebih dari Tunjangan Fungsional Peneliti.

Demikian petisi ini kami sampaikan, untuk pendidikan tinggi Indonesia yang berkualitas.

Salam,

Dosen Indonesia

Bagi saudara yang kebetulan membaca, kemudian ingin menandatangani petisi ini silahkan klik link di bawah ini

Sumber: change.org

Posted in Lainnya.

Tagged with .


Tahun 2015 Indonesia Bisa Pecah

Tulisan antara ini tidak begitu mengagetkan, tapi kayaknya perlu perhatian pemerintah dengan baik

majapahit2Indonesia pada 2015 diperkirakan bisa pecah menjadi sedikit-dikitnya 17 negara bagian, dan sebagai induknya, Negara Republik Jamali yang terdiri atas Jawa-Madura dan Bali, sebagai cermin imperium Majapahit zaman dulu.

“Sudah merupakan suratan Tuhan Yang Maha Kuasa, setiap 70 tahun berjalan, suatu kerajaan atau negara kebanyakan terjadi perpecahan. Mungkin juga termasuk di Indonesia,” kata Direktur Utama Komite Perdamaian Dunia (The World Peace Committe), Djuyoto Suntani, dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Kamis.

Lembaga Swadaya Internasional, kata Djuyoto, membuat garis kebijakan mendasar pada patron penciptaan tata dunia baru. Peta dunia digambar ulang. Uni Soviet dipecah menjadi 15 negara merdeka, kemudian Yugoslavia dipecah menjadi enam negara merdeka, dan demikian juga Cekoslowakia.

“Di Irak saat ini sedang terjadi proses pemecahan dari masing-masing suku,” katanya.

Indonesia, kini juga sedang digarap untuk dipecah-pecah menjadi sekitar 17 negara bagian oleh kekuatan kelompok kapitalisme dan neoliberalisme yang berpaham pada sekularisme.

Pokok pikiran tersebut, kata Djuyoto, “Saya tuangkan pada Bab II yang juga memberikan jalan keluar agar Indonesia tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI”.

Peluncuran buku yang dihadiri para tokoh nasional, seperti Djafar Assegaf itu, Djuyoto memaparkan, adanya konspirasi global yang berupaya memecah dan menghancurkan Republik Indonesia.

Upaya memecah-belah Indonesia itu dilakukan melalui strategi “Satu dolar Amerika Serikat/AS menguasai dunia”, yang digarap oleh organisasi tinggi yang tidak pernah muncul di permukaan, namun praktiknya cukup jelas, yakni berbaju demokratisasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Jika pecahnya itu menuju kebaikan rakyat, tidak menjadi soal, tetapi pecahnya NKRI itu justru akan menyulitkan rakyat karena semua aset penting dan berharga dikuasai investor asing di bawah kendali organisasi keuangan internasional,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Bina Sosial di Departemen Sosial, Prof DR Gunawan Sumodiningrat, yang mewakili Menteri Sosial (Mensos), Bachtiar Chamsyah, menyatakan bahwa ancaman perpecahan NKRI tersebut kini tampak nyata.

“Saya sendiri sampai saat ini merasa bingung, mengapa rakyat Indonesia dapat bersatu, padahal banyak perbedaan, di antara suku-suku yang ada,” katanya.

Perbedaan itu dapat disatukan, menurut dia, lantaran adanya Pancasila, di antara sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa, kemudian dibingkai dalam lambang Burung Garuda, yakni Bhineka Tunggal Eka.

“Atas nama Tuhan Yang Maha Esa, kita dapat disatukan, melalui simbol Pancasila. Oleh karena itu, saya mendorong pemerintah sebaiknya melakukan kaji ulang untuk menerapkan Penataran Pedoman Penghayatan Pancasila (P4),” katanya.

Jika dulu cara penyampaiannya menggunakan model indoktrinasi, ia mengusulkan, saat ini perlu diubah melalui diskusi dan membuka wacana luas, dengan substansi Pancasila masih diperlukan untuk mempererat NKRI.

Ia menilai, pada dasarnya Indonesia ini mudah akan terjadi perpecahan, jika generasi penerus tidak menyadari adanya pihak asing yang ingin membuat Indonesia tidak kuat.

Buku berjudul “Indonesia Pecah” yang terdiri atas 172 halaman, termasuk foto-foto, kata Gunawan, menarik untuk dibaca karena sedikit-dikitnya ada tujuh penyebab Indonesia terancam pecah, seperti siklus sejarah tujuh abad atau 70 tahun.

Kemudian, tidak adanya figur atau tokoh pemersatu yang berperan menjadi Bapak Seluruh Bangsa, pertengkaran sesama anak bangsa yang terus terjadi, upata stategis dari konspoirasi global, dan adanya nama Indonesia yang bukan asli dari Nusantara.

“Semua itu perlu diteliti lebih lanjut, apakah ada relevansinya dengan kejadian saat ini dimana banyak daerah ingin memisahkannya,” katanya menambahkan.

Sumber: antaranews.com

Posted in Lainnya.

Tagged with .


Seni Raja Dogar

DSCF1054Raja Dogar adalah sebuah seni pertunjukan yang berasal dari Kabupaten Garut. Kabupaten Garut terkenal dengan hasil ternaknya yaitu Domba Garut atau disingkat dengan DoGar. Seni pertunjukan ini mengadopsi dari ketangkasan tarung domba atau dikenal dengan adu domba Garut. Domba Garut sendiri merupakan salah satu domba yang berkualitas baik.

Pertunjukan seni Raja Dogar membutuhkan waktu hanya sekitar 20 menit yang terdiri dari pembukaan dengan menampilkan 2 atau tiga pemain silat perempuan, setelah itu kemudian dilanjutkan dengan adu raja Gomba Garut. kenapa disebut Raja Domba Garut, Karena ukuran dari propertinya yang cukup besar yang dimaikan oleh 2 orang, mirip dengan pertunjukan Barong di bali maupun pertunjukan Barong Say. dalam adu Raja Domba Garut ini diikuti oleh beberapa orang bobotoh seperti pada ketangkasan adu domba biasa, tetapi pada pertunjukan Raja domba Garut ini ada tambahan fungsi disamping sebagai penyemangat, juga tugasnya adalah sebagai pembawa lawakan.

DSCF1062Dalam pertunjukan yang memakan waktu sekitar 2 Jam, pertunjukan Raja dogar terdiri dari beberapa jenis pertunjukan seperti yang dipertunjukan dalam pertunjukan lintas budaya di aula RRI jalan Melati Denpasar yang bekerja sama dengan Bamus Sunda Bali, antara lain:

1. Longser yang memakan waktu sekitar 30 menit, dan sekaligus menjadi pengantar pada pertunjukan selanjutnya. Yang menarik, Longser ini di mainkan oleh 3 orang kakek-kakek yang umurnya lebih dari 60 tahunan.

2. Silat dimainkan oleh 3 orang penari putri yang terdiri dari Jurus kembangan, keterampilan memainkan senjata golok, dan yang terakhir atraksi perkelahian.

3. Selanjutnya adalah pertunjukan Calung Sunda,

4. Kemudian Pertunjukan Kacapi Jenaka yang dimainkan oleh 3 orang Kakek-kakek yang cukup mengocok perut. Kacapi janaka ini diberi nama dengan ABG (aki-aki baru Gelo).

5. Adu Raja Domba Garut.

DSCF1065Pergelaran yang dilaksanakan pada tanggal 30 Nopember 2013 di RRI pada jam 20.00 wita ini, cukup mendapat perhatian yang signifikan dari kalangan masyarakat Sunda di Bali. Buktinya penonton dalam pertunjukan ini lumayan banyak sekitar 300 orang yang terdiri dari warga sunda di Bali teruma warga asal Garut yang terhimpun dalam perkumpulan Asgar dan Pasgar. Sebagai penyelenggara, Bamus Sunda mengharapkan kerjasama yang intensif antara bumus dengan kabupaten Garut dalam segala bidang, seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Bamus Sunda Bapak Agus Hamijaya, SH., MH dalam sambutannya. Bapak Mlenik selaku Kadis kebudayaan dan pariwisata, juga mengharapkan masukan dan kerjasamanya bagi perkembangan pariwisata di Garut.

Selain di pentaskan di Aula RRI, Seni Raja Dogar juga memberikan workshop untuk mahasiswa-mahasiswa ISI Denpasar yang diselenggarakan di Gedung Candra Metu, yang diikuti oleh sekitar 70 orang mahasiswa dari fakultas seni Pertunjukan. Dalam sambutannya Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Bapak I Wayan Suharta, SSKar., MSi., mengharapkan kerja sama yang berkelanjutan dan diharapkan bahwa pertunjukan Seni Raja Dogar dapat berpartisipasi di PKB tahun 2014.

Pelaksanaan worshop sendiri sangat menarik terutama bagi mahasiswa Jurusan Seni karawitan dan mahasiswa Jurusan seni Tari. Mahasiswa Seni Karawitan dapat mencoba permainan kendang pencak yang terdiri dari instrumen terompet, kendang anak, kendang indung dan sebuah bende. Sedangkan untuk mahasiswa seni Tari mereka mempelajari jurus kembangan tepak tilu, selanjutnya bagi mahasiswa yang terpilih sebanyak 8 orang langsung ikut dalam pertunjukan Raja Dogar. Mahasiswa sangat senang dengan kehadiran rombongan, dan mereka mengharapkan kedatangannya kembali di masa yang akan datang.

Sinopsis

DSCF0076Seperti nama dan ukuran tubuhya melebihi Domba yang sebenarnya. Seni Raja Dogar diciptakan oleh Sdr. Entis Sutisna diilhami oleh keberadaan serta ketenaran Domba Garut yang menjadi kebanggaan masyarakat Garut akan salah satu hewan ternak yang diakui sebagai ras domba dengan kualitas terbaik di dunia.

Seni Raja Dogar (Rajanya Domba Garut) salah satu jenis kesenian yang hidup dan berkembang di Kecamatan Wanaraja  Kabupaten Garut dan menjadi salah satu kesenian Unggulan Kabupaten Garut. Seni Raja Dogar pernah mewakili Provinsi Jawa Barat tampil di Singapura.

Bentuk pertunjukan Seni Raja Dogar adalah ketangkasan laga domba yang saling beradu kekuatan dengan mengandalkan beradu kepala layaknya ketangkasan domba yang sebenarnya.

Bobotoh, Wasit permainan dan musik pengiring adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap event ketangkasan adu domba. Begitu pula di Seni Raja Dogar ini identik dengan keberadaan Bobotoh dan wasit selalu hadir sebagai penggembira.

DSCF1045Seni Raja Dogar dalam pertunjukannya diiringi oleh seperangkat Kendang Pencak dengan jumlah personil sebanyak +  40 orang. Seni raja Dogar ini dipimpin oleh Bapak Entis Sutisna

 

 

 

Nama Grup

Pimpinan

Alamat

Materi Tampilan

Durasi Waktu

Jumlah Pemain

Contak Person

:

Raja Dogar

Entis Sutisna

Ds. Pakemitan Kec. Wanaraja Kab. Garut

Pagelaran Seni

20 – 30 Menit

25 Orang

1. Wawan Somarwan, S.Sn (Disbudpar Garut)

2. Entis Sutisna (Seniman)

Posted in Kasundaan, Lainnya, Pengetahuan Karawitan.

Tagged with .


Dilema Pariwisata Bali dan Seni Pertunjukan III

HanomanPerubahan seni pertunjukan dari sistem arena kedalam sistem panggung maupun televisi telah membawa dampak yang luas dalam kehidupan seni pertunjukan Bali. kemasan-kemasan seni pertunjukan dengan sistem panggung banyak bermunculan. Hal inipun berdampak pada dinamika penonton. Di era sebelum tahun 1970-an seniman tertantang untuk mencapai potensi terbaiknya karena ada penonton-penonton yang datang untuk menguji. Kedekatan jarak antara penonton dan penari karena panggung yang kecil menciptakan kondisi untuk komunikasi saling apresiasi, komunikasi rasa mecingak.

Peneliti berpendapat bahwa seni pertunjukan tradisional Bali mengalami penurunan dari segi kualitas karena berkurangnya intensitas pelatihan, perenungan dan pendalaman. Taksu atau daya pikat yang terpancar dari para penari generasi sekarang tidak sekuat para penari generasi tua. Hal ini sedikit banyak disebabkan faktor-faktor yang serba instan, dan siap saji. Perlu kiranya di buatkan sebuah standar jelas tentang berbagai seni tradisional untuk sajian pariwisata yang berkualitas. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keajegan Bali itu sendiri.

Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Bali Sejalan dengan berkembangnya wacana Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) maka berkembang pula wacana pariwisata berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan yang didefinisikan sebagai pembangunan untuk pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi penerus untuk memenuhi kebutuhan mereka (lihat WCED, Our Common Future 1987) mengandung tiga prinsip yaitu keberlajutan secara ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi (Pitana., 53-54). Pariwisata yang diyakini dapat mengakomodasi konsep-konsep Pembangunan Berkelanjutan adalah Pariwisata Berbasis Masyarakat (PBM) atau bersinonim dengan Ekowisata; bukan pariwisata massal seperti sekarang ini. Konsepsi dasar dari PBM adalah pariwisata yang menitikberatkan pada pemeliharaan mutu dan kelanjutan sumberdaya alam dan budaya; pariwisata yang mengemban misi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dengan tetap menjaga keseimbangan antara sumber daya alam dan budaya dengan kepuasan wisatawan. Pariwisata di Bali seharusnya dicapai dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari perencanaan, pembangunan, pelaksanaan, pemeliharaan, keberlanjutan, penjaminan kualitas/mutu pariwisata, dan yang paling penting adalah mengevaluasi pariwisata itu sendiri.

Pariwisata yang berkembang selama ini di Bali memang kurang sekali melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal. Usaha-usaha yang mengarah pada pariwisata berbasis masyarakat masih minim. Sepengetahuan penulis hanya Yayasan Wisnu dengan program Jaringan Ekowisata Desa-nya bekerjasama dengan empat desa yaitu Tenganan, Nusa Ceningan, Pelaga dan Sibetan yang secara serius menggarap PBM. Walau usaha yang dirintis lima tahun belakangan diakui oleh Yayasan Wisnu belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan yang berarti karena para pelaku masih gamang akan tugas dan peran masing-masing; salah menafsirkan keinginan turis; alasan klise permasalahan SDM; dan kurang totalnya para pelaku didalam melaksanakan program. Kurang keberhasilan ini tentunya tidak lepas dari kurangnya perhatian pemerintah, pelaku pariwisata dan masyarakat sendiri terhadap ekowisata atau PBM, karena rumit, memerlukan proses panjang sehingga dianggap tidak menguntungkan dalam jangka pendek. Namun Yayasan Wisnu tetap bertekad untuk melanjutkan proses yang sudah dijalani (Ardika. p. 22).

Terkait dengan konsep PBM maka pemberdayaan seni pertunjukan atau budaya secara umum perlu dilakukan. Perlu ada kajian-kajian tentang sejauh dampak pariwisata terhadap seni pertunjukan. Perlu adanya dialog antara pemerintah melalui instansi terkait seperti dinas kebudayaan, LISTIBIYA, dinas pariwisata dengan para pelaku kesenian, para penyedia pertunjukan pariwisata, serta institusi atau insan-insan yang peduli terhadap kualitas seni pertunjukan termasuk kesejahteraan para senimannya.

Kajian-kajian tentang kepariwisataan Bali yang sudah berjalan hampir satu abad pada umumnya masih tergolong terbatas tidak sebanding dengan keberadaan pariwisata yang sudah begitu dominan di Bali. Hal yang sama terjadi pada seni pertunjukan tradisional dalam hubungannya dengan pariwisata. Pariwisata yang berkonsekwensi sangat besar terhadap tatanan kehidupan masyarakat Bali perlu mendapat kajian-kajian yang serius terutama dampak-dampak jangka pendek dan panjangnya terhadap kesinambungan alam dan kebudyaan Bali.

Globalisasi seni pertunjukan terutama di bidang musik haruslah kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk menegakan kesinambungan kesenian Bali. Alit Bona dengan beragaio garapannya telah membuat sebuh nuansa baru dalam seni Pertunjukan Bali. dengan sentuhan-sentuhan Bali yang kuat dalam ciptaannya. Nuansa World music sangat kental. Musik merupakan sebuah media penyampaian atas keinginannya tentang Bali. Pendapatnya tentang sesuatu yang telah ada dan berkembang di lingkungan masyarakat Bali biarlah demikian adanya. Tetapi dia ingin sesuatu yang baru dibuat dan disesuaikan dengan latar belakang budaya Balinya. Kembali ke Bagian I

Posted in Lainnya, Literatur karawitan, Pengetahuan Karawitan.

Tagged with .


Dilema Pariwisata Bali dan Seni Pertunjukan II

GowaksaKiranya idealisme untuk tidak mengkomersialkan tari wali dan bebali tidak bisa dijalankan sepenuhnya. Sekarang pertunjukan-pertunjukan untuk pariwisata sudah mulai mempertontonkan imitasi tari Sang Hyang Dedari; Sang Hyang Jaran, Calonarang, dan sebagainya. Dan yang terakhir berkembang adalah istilah pertunjukan kemasan baru sebagai gabungan aspek prosesi ritual dengan pagelaran berbagai jenis pertunjukan secara simultan seperti wayang, tari cak api, joged bungbung, dan pertunjukan selama makan malam berupa legong, beberapa tari lepas dan drama tari barong. Pertunjukan seperti ini kerap dilakukan dalam paket wisata puri (keraton) berupa royal dinner seperti yang dilakukan di puri Mengwi, Kerambitan dan ditiru oleh puri-puri lain. Hotel-hotel besar ketika menyelengarakan konvensi atau gala dinner juga kerap memakai pertunjukan kemasan baru. Tekanan pasar untuk senantiasa menawarkan sesuatu yang baru akhirnya berpengaruh pada penciptaan jenis-jenis pertunjukan baru.

Disamping permasalahan komodifikasi dan penggerusan, masalah yang sering menjadi pembicaraan adalah kurangnya penghormatan atau apresiasi para pengusaha pariwisata terhadap para seniman tradisional. Disamping pembayaran yang diberi tergolong masih rendah seni pertunjukan sering diposisikan sebagai suatu pelengkap acara, biasanya makan malam di hotel/restoran. Seniman diberi fasilitas sekedarnya dan sering tidak diperkenalkan dengan semestinya. Bagaimana apresiasi mendalam bisa terjadi ketika perhatian penonton harus terbagi antara menyantap makanan dan menonton pertunjukan? Sudah menjadi rahasia umum bahwa di tempat-tempat pertunjukan pariwisata guide atau supir yang mengantar wisatawan mendapat komisi 25-50% dari harga tiket masuk. Demikian pula para makelar kesenian (perantara antara seniman dan pemesan) mengambil persentase yang tinggi dari harga yang ditawarkan sehingga upah yang diterima oleh seniman sangat minim. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya jumlah seniman /kelompok keseniann di Bali (supply yang tinggi), ditambah dengan rendahnya pengetahuan dan kemampuan manajerial kebanyakan seniman/kelompok seniman, dan karena faktor tradisi budaya ngayah (pertunjukan sebagai sebuah persembahan dan kepuasan batin) yang masih kental di kalangan penggiat seni. Posisi tawar para seniman di hadapan pengusaha pariwisata menjadi rendah, tercermin dengan adanya persaingan dalam menurunkan harga antara kelompok satu dengan yang lain.

Memang ada segelintir hotel dan tempat tontonan pariwisata yang berusaha memposisikan seni pertunjukan tradisioanl sebagai suatu yang istimewa kepada tamunya. Seniman yang ditampilkan adalah seniman yang berkualitas atau seniman-seniman ternama; pementasan dilakukan tidak pada saat makan; ada usaha-usaha untuk memberi informasi yang baik (pendidikan) kepada tamu; dan mereka bersedia memberi harga yang disodorkan seniman. Seniman-seniman yang sudah yakin dengan kualitasnya biasanya berani mematok harga; mereka mempunyai posisi tawar yang tinggi. Semua ini bisa terjadi tidak lepas dari adanya keberagaman jenis wisatawan yang datang. Ada wisatawan yang puas dengan sekedar melihat pertunjukan, ada juga yang mau melihat yang terbaik.

Ada usaha-usaha Pemda Bali melalui LISTIBIYA-nya untuk melindungi seniman dari eksploitasi dan sebaliknya memberi dukungan dan bimbingan kepada mereka agar menjaga atau malah meningkatkan kualitas. LISTIBIYA mengeluarkan semacam lisensi layak pentas untuk umum/pariwisata yang bernama Pramana Patram Budaya kepada kelompok-kelompok kesenian. Pemerintah terus menghimbau agar para pelaku usaha pariwisata memberi penghargaan yang lebih baik kepada seniman, baik secara finansial maupun perlakuan. SK Gubernur No. 394 dan 395 tahun 1997 misalnya membuat patokan-patokan upah bagi berbagai jenis kelompok kesenian yang ada. Seberapa jauh implementasi dari upaya ini memang masih perlu ditelusuri. Penulis masih mengamati banyak pementasan yang dilakukan di hotel-hotel/restoran yang terkesan seadanya, dan membaca di media massa tentang keluhan kurangnya penghargaan pariwisata kepada para seniman. Barangkali pementasan yang rutin bisa jadi membuat sang penari mengalami kejenuhan, disamping ada anggapan bahwa wisatawan toh tidak bisa membedakan antara pertunjukan yang berkualitas dengan yang tidak.

Dampak positif pariwisata bisa dihubungkan dengan peningkatan kuantitas jenis kesenian dan jumlah seniman, dan umumnya peningkatan penghasilan. Para seniman berharap untuk dapat kesempatan pentas di hotel karena lebih sering atau rutin ketimbang pertunjukan untuk adat/upacara. Perlu diketahui bahwa seni pertunjukan tidak pernah lepas dari ritual-ritual yang dipercaya harus dilanjutkan. Ritual-ritual melibatkan beberapa bentuk pertunjukan seperti Sang Hyang, wayang lemah, topeng pajegan, pendet, berbagai jenis tari baris sakral; dan masih dalam konteks ritual tetapi juga untuk hiburan seperti Wayang Kulit pada malam hari, Calon Arang, atau Gambuh. Meningkatnya daya beli masyarakat secara umum memungkinkan desa adat atau banjar untuk membeli perangkat gamelan yang biasanya juga merangsang terbentuknya kelompok drama/tari.

Dalam penelitian terdahulu di kuta, pariwisata memberi lebih banyak dampak positif dari pada dampak negatif. Pertunjukan yang rutin memberi kesempatan lebih banyak untuk berlatih sehingga menjadikan kesenian lebih kreatif dan bervariasi. Dia tidak mempermasalahkan misalnya pertunjukan yang dilakukan saat dinner karena percaya bahwa wisatawan otomatis akan lebih memperhatikan pementasan dari makanan bila pertunjukannya berkualitas. Letak permasalahan utama ada pada si seniman—apakah dia memang seniman yang berkualitas sehingga berani mematok harga atau seniman rata-rata yang mau dihargai rendah. Ia menyarankan memang perlu adanya fasilitator yang mempertemukan pengusaha pariwisata dengan seniman untuk berdialog: bahwa mereka saling membutuhkan. Pemerintah juga bisa memfasilitasi dengan membuat batasan-batasan atau rambu-rambu. Perihal tudingan bahwa telah terjadi profanisasi pertunjukan sakral dia menyarankan agar definisi sakral itu dipertegas.

Disisi lain generasi tua melihat telah terjadi penurunan kualitas atau nilai-nilai. Ini tidak terlepas dari perkembangan jaman yang semakin modern dimana banyak hal yang menyita perhatian baik si seniman maupun masyarakat (penonton), ditambah lagi dengan berkembangnya sindrom cepat jadi, instan, tercermin pada keinginan murid-murid (termasuk orang tuanya) agar cepat bisa menari dan dipentaskan. Tantangan untuk seniman-seniman sekarang tidak seberat yang dulu. Jarang ada guru-guru yang mengajar sekeras dan seintensif dulu. Lanjut bagian III

Posted in Lainnya, Literatur karawitan, Pengetahuan Karawitan.

Tagged with .


Dilema Pariwisata Bali dan Seni Pertunjukan I

Kapi AnggadaDilema pariwisata terhadap kelangsungan hidup alam dan budaya Bali sudah dikhawatirkan oleh para sarjana sejak tahun 1930-an. Selama ini Pariwisata Bali berkonotasi dengan intervensi pihak luar: di jaman kolonial pihak Belanda dan segelintir orang asing lainnya, dan di jaman kemerdekaan pihak Pemerintah Pusat (dibantu para birokrat lokal) bersama para pemodal besar luar Bali. Penduduk lokal beserta budayanya dipandang sebagai obyek atau komoditas semata: penyedia atraksi budaya menjadi tontonan dan penyedia pelayanan. Perencanaan dan pengelolaan tidak menjadi porsi keterlibatan lokal. Sampai sekarang pun pola-pola ini tetap berjalan. Contoh termutakhir adalah pembabatan daerah kawasan hutan lindung di daerah Bedugul untuk hotel yang mengantongi ijin dari Jakarta tanpa sepengetahuan orang lokal; juga rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang dicurigai sebagai bagian dari skenario penguasaan lahan luas untuk pengembangan resort walau jelas-jelas mendapat penolakan luas dari masyarakat (Berbagai koran lokal memberitakan penolakan).

Tidak dipungkiri bahwa hingga saat ini pariwisata membawa berkah ekonomi kepada Bali, walau tidak merata karena ada sekelompok kecil orang lokal yang mendapat porsi yang besar. Namun secara umum, karena efek multiplier, terjadi peningkatan pendapatan perkapita atau daya beli masyarakat. Masuknya pemodal besar berpengaruh pada meningkatnya jumlah dan kualitas sarana pariwisata serta sarana pendukung termasuk perbaikan jalan-jalan di Bali yang memperlancar kegiatan ekonomi secara umum. Demikian juga industri pendukung atau ikutan berkembang pesat.

Peningkatan pendapatan perkapita oleh masyarakat Bali dialokasikan pada pemenuhan kebutuhan penunjang kehidupan modern, seperti biaya pendidikan, sarana transportasi, dan produk-produk modern lainnya. Sebagaimana manusia umumnya orang Bali juga tergiur godaan barang-barang konsumerisme. Dan tentu saja sebagian dialokasikan pada kegiatan ritual adat dan keagamaan, termasuk juga di dalamnya seni pertunjukan. Pola kehidupan dalam dua dunia ini menekan orang Bali untuk senantiasa memiliki uang. Ketergantungan Bali pada pariwisata untuk kelangsungan hidup Bali modern sudah sedemikian besar. Pariwsata sudah menjadi andalan utama, menggantikan pertanian dan industri kecil.

Dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan Bali oleh para peneliti dikatakan sebagai negatif dan positif. Dampak negatif adalah terjadinya komersialisasi, komodifikasi dan profanisasi yang mengarah pada penggerusan; sedang dampak positif adalah terpacunya kreativitas seni budaya penduduk lokal untuk memenuhi kepentingan pariwisata (Ruastiti, lihat pula Ardika). Dalam konteks seni pertunjukan tradisional pengaruh positif dan negatif juga terjadi. Munculnya kreativitas nyata sekali terlihat pada berkembang pesatnya berbagai jenis seni pertunjukan di Bali termasuk meningkatnya jumlah penggiat kesenian, namun pada saat yang sama beberapa tarian sakral termasuk elemen prosesi ritual mengalami profanisasi karena mulai dipertunjukkan kepada wisatawan.

Sementara itu orang Bali juga menyaksikan dan merasakan perubahan-perubahan drastis yang terjadi di sekitar mereka terutama sejak boom pariwisata tahun 1980-an. Dampak-dampak yang mereka lihat adalah berubahnya lahan-lahan pertanian menjadi kawasan wisata dan pemukiman; laut, danau dan sungai yang terpolusi; volume sampah terutama yang anorganik meningkat tajam; energi dan air bersih terhambur-hamburkan; meningkatnya kepadatan penduduk sebagian oleh masuknya migran dari luar Pulau Bali, domestik maupun asing; serta meningkatnya kriminalitas, penyalah-gunaan alkohol dan narkoba, dan penyebaran HIV/AIDS. Belum lagi permasalahan-permasalahan lain, dan yang masih terpendam di bawah permukaan. Jumlah orang Bali yang mulai terjerumus ke dalam perilaku yang membahayakan dan melanggar hukum juga bertambah banyak.

Belakangan ini, sejak tahun 2003 menyusul Bom Bali 2002, muncul wacana yang sekarang tersebar luas yang disebut Ajeg Bali. Wacana yang pada intinya muncul dari kekhawatiran atau kebingungan orang Bali melihat berbagai situasi negatif yang terjadi di Bali, termasuk kekhawatiran orang Bali menjadi minoritas di pulaunya akibat serbuan pendatang dari pulau-pulau lain, terutama Jawa dan Lombok. UU No. 22/ 1999 dan PP No. 25/ 2000 tentang otonomi daerah yang berfokus pada daerah Tingkat II juga dikhawatirkan bisa menggoyahkan Bali sebagai satu kesatuan alam dan budaya karena interpretasi dan kepentingan yang berbeda dari kabupaten-kabupaten yang ada di Bali. Sehingga masih ada wacana-wacana agar Bali mendapat otonomi khusus yaitu otonomi di tingkat provinsi (Lihat Tim Perumus Bali Post 2004, dan pemberitaan berbagai koran daerah lainnya).

Budaya Seni Pertunjukan Tradisional adalah elemen budaya yang paling konkret yang bisa segera ditawarkan kepada wisatawan karena sifat universal seni tari dan musik sebagai pengiringnya lebih mudah untuk dinikmati (diapresiasi) wisatawan tanpa perlu keterlibatan yang mendalam; dan mudah dipaket/dikemas untuk didatangkan ke hotel-hotel, termasuk dipertontonkan ke luar negeri dalam wujud misi kesenian untuk promosi pariwisata. Reputasi seni pertunjukan tradisional Bali sudah diakui secara luas baik oleh para spesialis maupun wisatawan kebanyakan. Seni pertunjukan adalah salah satu aset terpenting bagi citra pariwisata budaya.

Secara umum seni pertunjukan Bali dapat dikatagorikan menjadi tiga: wali (seni pertunjukan sakral) yang hanya dilakukan saat ritual pemujaan; bebali pertunjukan yang diperuntukkan untuk upacara tetapi juga untuk pengunjung; dan balih-balihan yang sifatnya untuk hiburan belaka di tempat-tempat umum. Pengkatagorian ini ditegaskan pada tahun 1971 oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (LISTIBIYA) Bali sebagai respon dari semakin merambahnya pertunjukan untuk pariwisata ke seni-seni yang sifatnya sakral. Pertemuan ini merekomendasikan agar kesenian yang sifatnya wali dan bebali tidak dikomersialkan. Bandem dan deBoer dalam bukunya Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition secara rinci mengklasifikasi berbagai seni pertunjukan yang ada di Bali hingga awal tahun 1980-an. Tergolong ke dalam wali misalnya: Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede; bebali seperti: Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong; dan balih-balihan diantaranya: Legong, Parwa, Arja, Prembon, dan Joged.

Bisa dibayangkan bahwa pertunjukan drama dan tari sering tidak sepenuhnya bisa difahami oleh para wisatawan terutama karena faktor bahasa; disamping pada umumnya jadwal tour wisatawan yang padat. Karena itu intervensi dilakukan oleh agen perjalanan wisata agar pertunjukan bisa dipersingkat ke format yang lebih bisa dimengerti dan dinikmati oleh wisatawan. Genre-genre campuran mulai bermunculan yang mengkombinasikan genre satu dengan yang lain, misalnya Cak sebagai perpaduan cerita Ramayana dengan vokal dari Sang Hyang Dedari yang dilakukan oleh Spies dan seorang penari bernama Limbak; atau tari Barong dan Kris dengan cuplikan dari Mahabarata. Pertunjukan yang biasanya berdurasi satu jam. Disamping itu juga bermunculan tari-tari lepas (tari yang berdiri sendiri, tidak merupakan bagian dari drama); dan paket pementasan yang menggabungkan berbagai tari lepas dari genre topeng, baris, legong dan lainnya. Seni pertunjukan Bali yang sifatnya sakral biasanya memiliki nilai eksotisme dan magis sehingga dicari-cari oleh wisatawan. Ada ketergiuran para penyedia jasa pariwisata pun kemudian menawarkan paket-paket tiruan seni sakral tersebut. Pertunjukan barong-rangda dengan unying (tari keris) adalah salah satu contoh klasik profanisasi yang terjadi (Bandem, I Made dan deBoer, F.E. (1981) Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition, Oxford University Press, Kuala Lumpur, New York, Melbourne. P. 145-150). Lanjut bagian II

Posted in Lainnya, Literatur karawitan, Pengetahuan Karawitan.

Tagged with .


Feel Asli Milik Musisi Tradisi

CalonarangErwin Gutawa juga melakukannya dalam sejumlah kegiatan, antara lain bersama Aminoto Kosin – yang ini project officernya 2 Warna di RCTI (sayang kini raib) sedang Erwin berkarya lewat album Chrisye, termasuk album Badai Pasti Berlalu. Di situ Erwin memakai alat musik tradisi, antara lain saluang dari Padang yang juga dimainkan oleh pemain Padang asli, didukung gendang Bali-nya Kompiang Raka di pergelaran Chrisye di JHCC awal tahun ini. “Saya menganggap penggalian musik etnik Indonesia itu penting, karena rasanya agak mustahil kita memainkan musik diatonis sebaik musisi penemunya, dalam hal ini orang Barat. Itu pula sebabnya, sewaktu Karimata mau berangkat ke North Sea Jazz Festival tahun 1987, Karimata perlu mempersiapkan diri melatih lagu fusion komposisi sendiri yang merupakan eksplorasi musik Barat dan etnik Indonesia, tapi memakai instrumen konvensional macam keyboards, bas, gitar, drum dan saxophone. Eksplorasi itu kami rekam lewat album Jezz Karimata. Artinya, Karimata Etnik, “ penjelasan Erwin Gutawa, bassist Karimata, sebuah band wakil ke North Sea Jazz tahun 1987. Karimata akhirnya merekam repertoar eksperimennya itu pada tahun 1988-1989, dengan bintang tamu musisi jazz dari GRP ( Amerika ), antara lain Lee Ritenour, Bob James, Dave Grusin, Phil Perry dan sejumlah nama tenar lainnya. “Terus terang, waktu itu eksperimen Karimata masih mentah, karena merupakan bagian dari persiapan ke North Sea saja. Tapi kami malah surprise, karena direspons positif oleh musisi dan gitaris Amerika sekaliber Lee. Dia mainin komposisi saya yang berbasis musik Dayak, “ tambah Erwin. Arranger ini lantas berpendapat, idealnya melakukan eksplorasi memadukan musik Barat – Timur tak hanya lewat alat musik daerah aslinya, tapi juga bisa dimainkan lewat alat musik Barat, tapi ‘soulnya’ tetap dapat, “Hal ini bisa didengar lewat album Yani, atau Kitaro. Mudah-mudahan hal yang sama juga terdengar waktu orang menikmati album Jezz Karimata untuk lagu Sing Ken-ken, Take Off to Padang atau yang bernuansa Sunda, Pady Field, “ tambah Erwin Gutawa lagi. 

Tentang kekayaan budaya Nusantara ini, NewsMusik mencatat banyaknya musisi luar mulai memperhatikan bahkan mempelajari-nya dengan cermat. Hal tersebut suatu ketika pernah juga diakui oleh salah satu dosen tamu di IKJ, perkusionis, Ron Reeves dari Australia. Buat Ron Reeves, faktanya memang musik tradisi kita begitu kaya, mungkin malah salah satu yang terkaya. Hal senada diakui pula oleh Brian Batie, bassist asal Amerika yang biasa bergaul dengan kelompok Elfa Secioria. Bagi Ron Reeves yang belakangan digandeng Sawung Jabo membangun Genggong, tradisi yang begitu kaya adalah aset yang tiada terhingga nilainya. Tapi biar bagaimana pun dipelajari, tetap butuh waktu sangat panjang. Menurut Oppie Andaresta, Ron Reeves pernah berucap, “Kalau butuh pemain kendang Sunda, jangan pakai saya. Meski pun saya juga belajar musik Sunda.” Kenapa? “Karena feel-nya nggak dapat. Feel-nya asli milik musisi tradisi setempat,” ucap Oppie menirukan pernyataan Ron Reeves.

Begitulah, untuk musisi Barat, gamelan, gendang, rebab dan sejenisnya, bisa saja dipelajari sekian waktu. Tapi ada satu hal yang sulit dipelajari dan dikuasai dengan seketika, ya urusan feel atau soul (jiwa) tadi. Harus bergaul di dalam masyarakat, berbicara dengan bahasa mereka, makan bersama kalau perlu, bahkan sampai pada urusan tinggal bersama. Dan itu harus dalam jangka waktu panjang. Soal itu diakui dan disetujui pula oleh Baron dan Gilang Ramadhan, dua nama yang berkolaborasi menghasilkan sebuah album rekaman pop, dengan nuansa etnik (perkusi) cukup kental.

Suatu ketika bahkan majalah sebesar Newsweek, pernah mengetengahkan kekayaan musik tradisi kita. Dan merekapun mengakui, lewat omongan dengan para profesor etnomusikolog di Eropa dan Amerika, bahwa ada perkara soul dan feel yang tidak mudah disentuh ‘orang-orang Barat’. Perkara balutan serba mistis atau spiritual Jawa misalnya, mengenai memandikan gamelan atau upacara-upacara ritual sebelum tari-tarian atau musik tradisional tertentu. Hal tersebut tetap menjadi misteri bagi para praktisi musik Barat. Misteri yang pada akhirnya, sampai sekarang, menjadi sebuah eksotika yang sangat unik. Unik dan tentu sangat berbeda dengan apa yang terjadi di musik-musik industri buatan barat. Karena adanya misteri yang tak tertangkap itulah, akhirnya Eberhard Schoener dari Jerman memutuskan berkolaborasi dengan Agung Raka waktu membuat album Bali Agung yang beredar tahun 1975, hampir setahun mendahului eksperimen musik Guruh Gipsy. Tapi menurut pendapat Kompiang Raka, sebenarnya ‘roh’ eksperimen Guruh Gipsy lebih bagus dibanding Bali Agung, “Karena Eberhard Schoener tak menguasai budaya Balinya, seperti Guruh dan kebetulan saya bantu, “ ujar Kompiang, yang kini Wakil Direktur Gedung Kesenian Jakarta, dan diajak Ian Antono membuat musik eksperimen Gong 2000 untuk penampilan Gong di BASF Award 1995 di GKJ dilanjutkan dengan rekaman Gong 2000 menghasilkan album Barat Timur, dengan memakai format pemain gamelan 18 orang untuk live performance dan 32 orang untuk setting orkestra gamelan besar.

Posted in Literatur karawitan, Materi Pengetahuan multimedia, Pengetahuan Karawitan.

Tagged with .


Bali dan Musik Kontemporer

Arik wirawanDi Bali masih ada nama Igor Tamerlan. Seniman musik idealis ini bahkan sedang berkreasi lebih maju, membuat apa yang disebutnya Techno-Gong. Wujudnya berupa alat musik berbentuk vibes atau kolintang besi tapi electric dan ‘setengah’ synthesizer. Alat ini masih harus disempurnakan lagi, seperti penuturan Igor Tamerlan sendiri. Sementara proyek rekaman kontemporernya tengah dijajaki lagi, dan tetap berdekatan dengan aroma etnik Bali. Sekedar mengingatkan, pada awal 90-an, Igor pernah melejit dengan Bali Vanilli, yang berbau rap dan bercerita tentang turis asing dan Bali. Dan dari Pulau Dewata masih ada juga, I Wayan Balawan. Solois dengan dua gitar yang barusan tour di Eropa. Ia juga mempunyai kelompok musik etnik, Batuan Etnik Fusion. Di sana fusion dipadukan dengan musik tradisi Bali. Dari generasi muda musisi kita, boleh dicatat olah kreasi Tipe-X yang pernah mengajak Bandung Percussion Society untuk tampil di salah satu acara di stasiun teve swasta. Atau Naif, yang sampai mengajak orkes tanjidor terlibat dalam rekaman bahkan konser mereka.

Cuplikan wawancara seorang wartawan Bali Post dengan Belawan mengutarakan pandangannya terhadap “world music” karena dia telah banyak menggeluti bidang spiritual, mau tidak mau, akhirnya musik saya juga sangat berdampingan dengan hal-hal atau nuansa spiritual. Musik dan spiritual itu sama. Menyuguhkan suatu musik, sama dengan mantra. Untuk pembuatan musik dimotivasi dari konsep Tri Hita Karana. Hal ini dilakukan dengan cara tidak sengaja, baik dalam membuat musiknya, liriknya, atau yang lainnya. Intinya, musik Belawan lebih banyak mengarah ke kemanusiaan. World music adalah musik yang mengarah ke universalitas, global, cinta, dan kemanusiaan. Pada saat ini muncul nama-nama seperti Nyoman Winda, Gede Yudana, Agus teja, dengan karya-karyanya yang cukup monumental.

Posted in Literatur karawitan, Materi Pengetahuan multimedia, Pengetahuan Karawitan.

Tagged with .


Surat Terbuka Untuk Ketua FPI (Dari Umat Muslim Bali)

DSC_0574Ketua FPI yang kami hormati…

Belakangan ini ramai pemberitaan di Media Massa terkait aksi penolakan terhadap penyelenggaraan Miss World di Bali. Dari sekian banyak yang melakukan aksi penolakan, terlihat FPI sebagai garda terdepan untuk menggagalkan event ini. Berbagai alasan dikemukakan tanpa mengenal nego. Alasan tersebut diungkapkan dengan nada emosi berlebihan sekaligus mengancam, siap “perang”. Pernyataan tersebut sekali lagi memunculkan kesan bahwa agama (Islam) berwajah sangar, beringas, keras, tak kenal dialog, dan tak menghormati siapapun. Akibatnya, agama sekaligus penganutnya menjadi korban, sebagaimana keberadaan kami, Umat Muslim di Bali.

Pernyataan Anda sebagai pimpinan Ormas yang mengatasnamakan Islam, telah melukai keberadaan Umat Hindu di Bali. Kata-kata Kafir selalu Anda ungkapkan untuk menyerang bagi mereka yang tak sejalan dengan Anda. Bahkan anda secara terang-terangan mengatakan jika Gubernur kami, Bapak Made Mangku Pastika sebagai Gubernur Kafir.

Rakyat Bali, baik Hindu maupun Islam seperti kami ini, sama sekali tidak pernah sedikitpun mempermasalahkan Event ini. Walaupun juga tidak sedikit yang tidak sepakat dengan acara ini, tapi bukan berarti ingin menggagalkan. Selain sebagai wujud toleransi keberagaman, juga diakui atau tidak, acara ini jelas akan berdampak pada pertumbuhan Pariwisata Bali (termasuk Indonesia), dimana rakyat Bali sebagaian besar menggantungkan hidupnya pada sektor ini.

Jika kemudian event ini terganggu dengan aksi-aksi anarkis, apalagi sampai digagalkan dengan paksa, maka sebenarnya yang dirugikan secara langsung adalah rakyat Bali yang menggantungkan hidupnya di Pariwisata. Dengan liputan yang luas dari hampir semua Negara di dunia ini, kejadian yang semua kita tak harapkan tersebut, nantinya akan memperburuk citra Pariwisata Bali yang belum saja pulih pasca ledakan Bom Bali beberapa tahun lalu.

Dari pernyataan-pernyataan Anda yang ingin menang sendiri tersebut, secara otomotis telah memancing rakyat Bali untuk melakukan hal yang sama dengan ungkapan anda. Mencemooh dan caci maki terhadap diri Anda dan Ormas yang Anda pimpin. Lebih parahnya, rakyat Bali yang mayoritas beragama Hindu, bagi mereka yang belum paham, terpancing juga untuk mencaci maki agama Islam.

Perlu diketahui, hubungan Hindu dan Islam di Bali selama ini berjalan Harmonis. Kami saling menghargai, menghormati, dan kami bersama-sama menjaga keberagaman ini sudah sejak Nenek Moyang kami. Permasalahan ini jangan sampai meretakkan hubungan toleransi yang sudah kami jaga sejak lama.

Kita bisa saksikan berbagai tulisan di berbagai media jejaring social yang mendiskriditkan Islam. Kami disini hanyalah minoritas yang akan dijadikan luapan emosi akibat pernyataan Anda. Kami tidak menyalahkan mereka yang sudah terlanjur menghina Islam. Pernyataan anda yang berlebihan, tentunya akan ditanggapi juga dengan berlebihan. Dan semua kena getahnya.

Sebagai orang awam, terus terang kami tidak mengerti apa sebenarnya yang Anda perjuangkan melalui FPI ini. Kalau Anda ingin membela Islam, justru Anda telah memperburuk citra Islam. Jika Anda mengaku Islam dan mengikuti Nabi Muhammad SAW, kenapa cara berbicara dan metode dakwah Anda sama sekali jauh dari prilaku Rasul. Jika Islam hadir sebagai Rahmatal Lil Alamin, justru Anda dan FPI hadir untuk memperkeruh suasana, memperbelah umat.

Untuk diketahui, kondisi Bali sekarang sedang siaga ekstra ketat untuk mengamankan event yang saat ini sedang berlangsung. Polisi, Pecalang, dan masyarakat Bali ikut terlibat dalam pengamanan ini. Di berbagai media bahkan banyak yang menyatakan pendapatnya untuk perang “puputan” bagi mereka yang ingin menggagalkan acara di Bali Selatan tersebut. Semua waspada, dan tentunya yang mereka curigai adalah penganut Islam.

Senada dengan ungkapan Pimpinan GP Ansor NU, bahwa jangan lekas-lekas menganggap Miss World sebagai kegiatan negative. Banyak juga hal positif dari penyelenggaraan ini, terutama bagi Bali dan rakyat Bali, baik efek langsung, maupun tak langsung.

Melalui surat ini, kami, Umat Muslim Bali sama sekali tidak terganggu, sekaligus tidak pernah mempermasalahkan penyelenggaraan Miss World di Bali. Bahkan kami sangat berharap bahwa event ini dapat berjalan lancar dan sukses.

Kami mohon dengan hormat kepada Anda dan Ormas yang Anda pimpin, untuk tidak membawa-bawa label Islam sebagai tameng dari ketidak setujuan Anda terhadap event ini. Bukan pada event ini saja, pada aktivitas FPI lainnya yang terbiasa main hakim sendiri, untuk tidak lagi mengatasnamakan Islam. Sekali saja anda bertindak, yang lain kena getahnya.

Kemudian untuk menghindari “perang” saudara sesama anak bangsa, urungkan niat Anda dan Ormas yang anda pimpin untuk menggagalkan event ini. Jika Anda tidak setuju tidak masalah, namun  bukan berarti harus menggagalkannya. Pro-kontra ini akan meluas menjadi konflik Agama, dimana rakyat Bali yang mayoritas beragama Hindu setuju dan siap mengamankan, sedangkan kelompok yang selama ini berkoar-koar tidak setuju mengatasnamakan Islam. Secara jelas Hindu Bali yang menyatakan siap perang “puputan” bagi mereka yang ingin menggagalkan event ini, sebenarnya secara tersirat Hindu Bali siap melawan Islam (oknum). Yang dirugikan adalah KAMI UMAT MUSLIM DI BALI, yang menjadi sasaran caci maki dan sebagainya.

Dan semua berharap, semoga anda sadar bahwa di negeri ini bukan hanya anda dan kelompok anda saja yang hidup. Jangan merasa di negeri ini Islam adalah agama mayoritas kemudian semena-mena terhadap minoritas, yang kerjaannya selalu main hakim sendiri tanpa menghormati penegak hukum. Sadarlah, setiap ucapan dan tindakan anda selalu menyisakan “getah” bagi orang lain. Dan ingat, Anda hidup di Bumi Pancasila!.

Salam Damai dari Bali!

Sumber: Kompasiana

Posted in Lainnya.

Tagged with .


Tekhnik Pemakaian Microphone

Penempatan Microphon yang tidak tepatKadang orang tidak pede ketika memegang, atau berhadapan langsung dengan microphone. Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam menggunakan microphone dengan benar.

Berhati – hatilah dalam menangani mic anda pada saat anda melakukan rekaman dilapangan. Peganglah mic tersebut + 15 cm dari bibir anda, tepat didepan bibir anda (sekitar 1 jangkauan telapak tangan). Jika terlalu dekat maka akan mempengaruhi hasil rekaman anda (menjadi meledak – ledak hasil suara anda). Jika anda terlalu jauh mengarahkan mic anda dari sumber suara yang anda rekam maka suara tersebut akan menjadi timbul tenggelam atau jauh. Jangan segan meminta pembicara anda untuk bersuara lebih keras lagi.

Pertahankan posisi mic anda setiap saat.

Selalu memegang mic anda. Jangan menaruhnya diatas meja atau diatas buku. Walaupun anda menggunakan dudukan mic, suara anda dan pembicara anda akan terdengar “off mic”.

Pakailah mic anda sebaik pembicara anda. Anda pasti tidak ingin terdengar terlalu diam atau terlalu keras daripada pembicara anda.

Bila terdapat suara berisik dari mic atau kabel, kurangilah suara tersebut dengan memindah mic anda secara perlahan – lahan dan semakin pelan sesuai waktu bertanya dan menjawab.

Jika suara berisik yang timbul semakin banyak dan terus menerus, hilangkan bunyi tersebut dengan memeriksa kabel koneksinya. Menahan kabel tersebut dengan tangan anda juga akan menolong.

Tahan posisi tangan anda pada tangkai mic anda untuk mengurangi suara berisik tersebut.

Test semua peralatan anda sebelum anda pergi menuju tempat interview.

Jika anda melakukan interview dalam posisi duduk dibawah/berjongkok, duduklah sedekat mungkin dengan pembicara anda dengan menggunakan sudut meja untuk menahan siku anda. Apakah anda sedang duduk atau berdiri, janganlah berdiri terlalu jauh dari pembicara anda bila tidak maka tangan anda akan cepat menjadi capai, sangat cepat capat.

Hal Penting Yang Harus Diingat

SELALU kenakan headphones pada saat anda merekam. Hal ini akan membantu anda untuk mengenali suara latar yang mengganggu dengan lebih jelas, pastikan level suara anda dalam posisi yang baik. Jika anda tidak mengenakan headphones maka anda tidak dapat mendengar adanya gangguan pada mic yang buruk atau hal lain yang mengganggu hasil rekaman. Jika anda menggunakan headphones anda akan selalu dapat mendengarnya dan akan dapat menanganinya dengan tetap menggunakan alat tersebut atau mengganti dengan yang baru.

SELALU merekam suara – suara latar sebelum dan setelah anda melakukan interview untuk keperluan editing. Pastikan anda memberitahukan pembicara anda bahwa mereka harus DALAM KEADAAN TENANG pada saat anda melakukan hal ini. Paling tidak anda memerlukan waktu 1 menit untuk merekam suara latar yang jernih. Jika ada banyak suara kendaraan di jalan pada saat anda melakukan interview tetapi mereda pada saat anda selesai interview, tunggulah beberapa saat sampai suara kendaraan itu ada lagi dan rekamlah. Sepertinya hal ini akan merepotkan tetapi anda akan sangat bersyukur telah melakukan hal tersebut pada saat anda mengedit berita itu.

SELALU minta pembicara anda untuk mengenalkan dirinya dan memberitahukan posisi/jabatan mereka pada permulaan interview. Hal ini akan amat membantu anda untuk menyebutkan nama mereka dan tidak perlu mendapatkan informasi ini dibelakang hari.

Jika ada suara latar yang menarik disekitar anda pada saat interview dilaksanakan (seperti halnya suara anjing menggonggong, anak – anak bermain, suara mobil, massa yang berteriak – teriak dsb), pikirkan bagaimana suara – suara tersebut akan menambah warna dan corak dari cerita anda dan rekamlah. Anda mungkin akan atau tidak akan menggunakan suara – suara tersebut, tetapi paling tidak anda telah merekamnya sehingga anda memiliki beberapa pilihan pada saat editing.

Sumber: dari berbagai sumber

Posted in Lainnya, Materi Pengetahuan multimedia.

Tagged with .