Skip to content


Kaset dan Studio Rekaman

Kaset

Dalam mempersiapkan rekaman, yang perlu diperhatikan adalah level. Level yang dianjurkan adalah 0 db karena menghindari ketidakmampuan pita kaset untuk menampung besarnya gain. Apabila akan melakukan rekaman yang harus diperhitkan pula adalah kaset apa yang akan dipergunakan untuk mastering hasil produksi, dianjurkan menggunakan kaset tipe pita II untuk instrumen, sedangkan untuk vokal maupun instrumen bisa dipergunakan pita tipe I dan tipe II yang hasilnya akan sama karena kecenderungan vokal manusia mempunyai range midle yaitu antara 75 – 10.000 HZ.

Jenis-jenis pita kaset seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya juga tergantung Type I yang mempunyai dynamic range 50 – 52 db, type II dinamic range 55-60 db, DAT dinamyc range – 98 db, MD dinamyc range – 80 db, CD dinamic range – 90 db.

Studio Rekaman

Sebuah studio minimal mempunyai dua ruangan yaitu ruang rekaman dan ruang kontrol/ruang operator, namun adakalanya yang mempunyai ruang reverbation. Pemakaian ruang reverbation pada saat ini jarang di buat karena sudah ada peralatan yang berhubungan dengan efect suara, dan jika dibuat akan menjadi kurang ekonomis dan efisien dari segi pemanfaatannya.

Dalam proses pengambilan suara untuk suatu produk audio, yang diinginkan adalah suara yang benar-benar berkarakter seperti di dalam ruangan yang kita inginkan (tempat pertunjukan). Tetapi hal ini sangat sulit di dapat karena berbagai kendala karena rekaman harus diselenggarakan di tempat yang sesngguhnya, namun terkadang faktor keadaan dari berbagai sudut keinginan yang sulit diatur dan memakan biaya yang relatif cukup besar.

Studio adalah sebuah solusi untuk mencapai target efisiensi ekonomi dan idealisme yang dibantu dengan peralatan rekaman dan ruangan yang bervariasi. Menurut karakter akustiknya, studio dikelompokan menjadi 5 jenis yaitu:

  1. Studio dengan semua dinding memantulkan suara, yang sering disebut sebagai live room. Ruang ini mempunyai daya pantul atau reverbation time antara 0,4 – 0,5 second.
  2. Studio dengan semua dinding tidak memantulkan suara, yang sering disebut dengan dead room. Getaran suara yang terjadi di studio akan diserap oleh peredam yang dipasang di dinding. Dinding yang dibuat semakin berlekuk-lekuk, akan semakin baik daya serapnya dan untuk katagori dead room ini mempunyai reverbation time kurang dari 0,2 second.
  3. Live end dead end room yang disebut juga dengan LEDE yaitu karakter dinding  bagian depan memantulkan suara sedangkan dinding bagian belakang menyerap suara.
  4. Dead end live end room yang disebut juga dengan DELE yaitu dinding bagian depan memantulkan suara sedangkan bagian belakang menyerap suara. Biasanya ruangan ini dipakai sebagai ruang untuk operator rekaman.
  5. Reverbation room merupakan ruang yang menghasilkan pantulan-pantulan bunyi yang menghasilkan gema-gema. Untuk saat ini reverbation room sudah banyak ditinggalkan karena telah digantikan dengan alat-alat menghasil efect.

Posted in Materi Pengetahuan multimedia.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

You must be logged in to post a comment.